Silat Boy : Latihan Bersama Part 38

CnJGPUtWgAEeomp

Esok siang, setelah mereka mempersiapkan segalanya. Mereka bersiap
untuk latihan, mempersiapkan mental untuk perang dua hari lagi. Dua
hari? Itu juga batas waktu mereka untuk membawa pulang Reza.

Para pemberontak memulai latihan kerasnya. Ada yang latihan menembak
dari jarak jauh, ada yang latihan bergulat, dan ada pula yang berlatih
menikam dengan pisau belati. Boim ikut dalam latihan itu.

Rusdi hanya melihat saja ditemani Yupi disebelahnya. Ia memperhatikan
Boim dengan serius. Boim benar-benar serius berlatih, ia melakukannya
dengan baik. Rusdi perlahan tersenyum melihat kegigihannya.

“Ada apa?” tanya Yupi.
“Tidak ada.” Rusdi menutup matanya, angin berhembus menerpa
ujung-ujung rambutnya.
“Ayo lihat yang lain.” ajak Yupi.

Mereka kemudian pergi ke sisi lain rumah tua itu. Di sisi itu ada
beberapa orang sedang bergulat. Sepertinya mereka sedang mengadakan
turnamen gulat sederhana.

Tanpa berkata apapun lagi, Rusdi berlalu meninggalkan Yupi. Yupi hanya
melihatnya bingung, Rusdi nampak sedikit bersemangat. Rusdi kemudian
menghadap orang-orang itu.

“Kalian semua hentikan!” Rusdi sedikit berteriak.
“Kalian semua lawan aku! Keluarkan semua kemampuan kalian, tangan
kosong!” Rusdi menantang orang-orang itu.

Yupi terkejut dengan keberanian Rusdi menantang mereka semua
sekaligus. Yupi kemudian tersenyum menatap Rusdi. Tidak salah lagi,
itu memang Si Pendekar Silat.

Orang-orang itu terlihat kesal, mereka merasa diremehkan sebagai
seorang pemberontak. Mereka marah, lalu mulai mengeroyok Rusdi tanpa
ampun. Rusdi berusaha menghindari, dan menunggu kesempatan untuk
menyerang balik.

Tiga detik, tiga gerakan. Tiga orang pula yang tumbang dihajar
habis-habisan. Masih banyak lagi, Rusdi berusaha melawan mereka satu
per satu. Ia perlahan memisahkan mereka dan melawannya satu per satu.

Dalam waktu sepuluh menit, Rusdi berhasil mengalahkan setengah dari
jumlah para pemberontak itu. Sepuluh menit berikutnya ia berhasil
mengalahkan mereka semua.

Yupi melotot, sama sekali tidak berkedip.Ia kagum melihat kehebatan
Rusdi. Yupi perlahan mengangkat tangannya, lalu bertepuk tangan seraya
tersenyum melihat Rusdi.

Rusdi kemudian menghampirinya, ia hendak melewati Yupi. Tapi Yupi
menahannya, dan mendekatkan wajahnya. Lalu perlahan berbisik padanya.

“Jumlah mereka masih sedikit jika dibandingkan musuh kita nanti, jadi
jangan dulu puas.” bisiknya.
“Aku tahu!” Rusdi kemudian berlalu meninggalkan Yupi.

Keringatnya masih bercucuran dan membasahi tangan Yupi. Yupi hanya
tersenyum, lalu salah seorang pemberontak mengelap tangannya yang
terkena keringat Rusdi.

Esok hari, tepatnya hari jum’at. Setelah selesai ibadah jum’at, para
pemberontak menyiapkan segala macam senjata untuk perang besar besok.
Mereka sudah benar-benar siap fisik dan mental.

Tiba-tiba sore hari terjadi sebuah kerusuhan di rumah itu. Addyn
dikeroyok oleh beberapa orang, Boim salah satunya. Rusdi dan Yupi lalu
menghampiri kumpulan orang-orang itu.

“Ada apa ini? Kenapa kalian memukulinya?” tanya Yupi, Rusdi hanya
melihatnya bingung.
“Ternyata selama ini dia mata-mata!” jawab salah seorang pemberontak.

“Tadi kami memergoki dia sedang memberitahu rencana penyerangan besok
pada seseorang. Kami hendak mengejar orang itu, tapi dia lolos. Tak
apa, yang penting dia sudah kami tangkap!” jelas Boim.

“Kenapa? Kenapa kau tega sekali melakukan ini pada kami? Jadi selama
ini kau memberitahu rencana kami pada mereka? hah?” Yupi terlihat
marah, Addyn hanya diam seraya menundukkan kepalanya.

“Tembak dia, eksekusi dia hingga mati!” perintah Yupi, seketika salah
seorang pemberontak memompa senjatanya dan hendak menembak mati Addyn
yang masih tersungkur.

Saat pemberontak itu hendak menembak Addyn, Rusdi menahan senjata
laras panjangnya. Lalu merebutnya secara perlahan, dan melemparkan
senjata itu ke tanah.

“Tunggu dulu!” potong Rusdi, Yupi hanya menatapnya datar.
“Kalian tidak perlu melakukan ini, suatu saat dia pasti akan berguna
bagi kita.” sambungnya.

“Terserah kau saja, sekarang dia bukan urusanku lagi!” Yupi kemudian
berlalu meninggalkan mereka.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Rusdi, tapi Addyn tidak menjawabnya.

Boim berjaga-jaga seandainya Addyn menyerang Rusdi, maka ia akan
melemparkan pisau belatinya dan menghunus Addyn hingga mati. Addyn
kemudian berdiri, lalu berlari dan pergi meninggalkan rumah tua itu.

Orang-orang hanya melihatnya aneh. Satu dua ada yang berbisik
membicarakan keburukannya sebagai mata-mata musuh. Penyerangan besok
tidak akan berjalan lancar, itu semua karna pengkhianatan Addyn.

Sementara itu Reza hanya menonton diantara para pemberontak. Rusdi dan
Boim melupakan tujuan mereka datang ke Sukabumi, melupakan Reza
sebagai target utamanya.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s