Zombie…, Part2

Kawasan Cihampelas Bandung, Jawa Barat. 13.00 WIB.

Pikiran Sinka mulai tidak karuan. Jam sudah menunjukan pukul satu siang, tapi jalan Cihampelas yang dilaluinya mendadak macet total. Jarang sekali dihari kerja kawasan ini terjadi kemacetan sampai mobil dan motor pun tidak bergerak sedikitpun. Padahal jam setengah dua nanti ia akan dihadapkan dengan tugas presentasi yang diberikan dosennya minggu lalu. Pengorbanan Sinka setelah begadang selama beberapa hari mungkin akan menjadi sia-sia.

Argo taxi yang ia tumpangi terus berjalan, ingin meminta mencari jalan lain tapi sayang ia sudah terjebak ditengah kemacetan, ingin putar balik sayangnya jalan ini hanya satu arah saja. Pemandangan kali ini tidak begitu berbeda jauh ketika sedang terjebak macet saat menuju ke daerah Puncak, Bogor.

Beberapa pengendara ada yang sudah keluar dari mobilnya dan mengobrol dengan pengendara disampingnya. Disebelah kiri taxi yang Sinka tumpangi, seorang supir angkutan umum sudah keluar dari mobilnya dan memilih untuk duduk di warung pinggir jalan sambil menikmati sebatang rokok yang baru dinyalakannya. Sedangkan para penumpang diangkutan umum itu beberapa ada yang terlelap tidur, ada yang asik memainkan handphonenya ada juga yang asik kipas-kipas karna kepanasan. Sementara disebelah kanan Sinka, seorang pemuda yang mengedarai motor sedari tadi asik memainkan smartphonenya sambil mendengarkan musik lewat earphone yang disambungkan ke smarphonenya.

“Pak kok ga jalan-jalan sih?” kesal Sinka.

“Ga tau saya juga Neng, biasanya ga pernah kaya gini,” jawab si supir taxi.

Untuk membunuh kebosanan itu Sinka mengambil handphonenya yang ada di dalam tas. Ia membuka aplikasi browser di handphonenya itu dan memasukan alamat web berita yang sering ia kunjungi di kolom url. Narkoba, DBD, menjadi berita terahangat akhir-akhir ini, tapi ada satu berita yang membuatnya tertarik, ‘Zombie menyerang Jakarta’ itu lah judul dari berita tersebut.

“Zombie, yang benar saja,” kata Sinka.

Sinka pun merefresh browsernya itu dan kini malah muncul satu berita terbaru, ‘Beberapa Pasien yang Dirawat Di Rumah Sakit yang Ada Di Kawasan Cihampelas Bandung Melarikan Diri’.

“AAAAA!!!!!!”

Suara teriakan tiba-tiba terdengar, tidak lama kemudian disusul dengan suara gemuruh langkah kaki yang makin sini makin mendekat ke arah taxi yang ditumpangi Sinka.

Pengendara motor yang berada disamping Sinka pun wajahnya mendadak berubah saat pandangannya melihat lurus kedepan, entah apa yang sudah dilihatnya. Si supir angkutan umum yang ada duduk-duduk diwarung pun tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, dan melihat ke arah yang sama seperti si pengendara motor. Tidak lama kemudian terlihat beberapa orang sedang berlarian melawan arus, wajah mereka sama-sama menunjukan kepanikan dan ketakutan.

“Disana ada apa?” Sinka pun menoleh ke arah si supir angkutan umum yang bertanya kepada salah satu anak SMA.

“Pokoknya ada beberapa orang ngamuk, mereka nyerang supir Bis sampe lengannya putus,” jawab si anak SMA.

“Heh! Putus?” tanya supir angkutan umum itu.

“Iya pak, mendingan buruan lari juga, dari pada ga selamet,” ucap si anak SMA itu lalu pergi meninggalkan si supir.

Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca sebelah kanan taxi yang ditumpangi Sinka, kaca pun dibuka oleh Sinka.

“Mba… mendingan lari, keadaan udah ga kondusif,” ucap si supir taxi yang ternyata sedari tadi sudah diluar mobil. Setelah berkata seperti itu, si supir taxi malah langsung lari meninggalkan Sinka.

Akhirnya Sinka pun keluar dari taxi, pandangannya melihat kedepan ke arah bis yang tidak jauh dari tempatnya sekarang berdiri. Didalam Bis nampak terjadi kericuhan, entah itu kericuhan seperti apa, yang jelas kaca belakang bis itu terlihat berwarna merah.

Bukannya pergi menjauh, Sinka malah berjalan mendekati bis itu. Dari tempatnya Sinka berdiri sekarang, ia bisa melihat beberapa suster dan pasien yang keluar dari Rumah Sakit. Pasien itu berjalan tidak seperti layaknya orang normal. Mereka lebih menyeret kedua kakinya dari pada mengangkatnya.

“AAAA!!!!” Teriakan dari arah Bis itu mengalihkan fokus Sinka, entah apa yang terjadi didalam Bis sana, nampaknya itu bukan lah hal wajar.

Beberapa suster yang kabur dari Rumah Sakit itu kini sudah berlari melewati Sinka. Suster itu pun memerintahkan Sinka untuk cepat-cepat lari menyelamatkan diri. Kini Sinka perlahan berjalan mundur dengan mata yang masih terfokus ke sekitar Bis.

Tiba-tiba dari dalam Bis itu keluar seorang pria dengan kemeja putih yang penuh akan noda darah, sedang berjalan sempoyongan. Mata yang berwarna putih tidak menampakan pupilnya, dan mulut yang menganga lebar spenuh akan noda darah, cukup membuat bulukuduk Sinka merinding. Pria itu pun kini menatapnya, dengan perlahan ia berjalan mendekati Sinka. Sinka terus melangkah mundur dengan mata yang terfokus pada si pria itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” pikir Sinka.

“Kak! LARI!” Sinka pun melirik ke arah sumber suara, nampaknya itu berasal dari seorang anak yang berada di lantai dua gedung sekolah yang berada tidak jauh dari tempat Sinka berdiri.

“LARI KAK!”

Sinka pun segera membalikan badannya, dan berlari sekencang mungkin meninggalkan pria tadi. Tapi si pria itu malah menambah kecepatannya juga, Sinka mencoba bersembunyi ke salah satu sekolah yang berada disana tapi gerbang sekolah itu pun nampaknya sudah dikunci. Karna sudah tidak kuat berlari Sinka pun pergi ke arah mini market yang berlambangkan huruf K didaerah sana.

Sialnya mini market itu juga dikunci oleh kasir, terlihat dari luar si kasir mini market itu sedang bersembunyi didekat rak-rak makanan. Sinka terus-terusan memohon untuk dibukakan pintunya. Akhirnya pintu mini market itu terbuka. Setelah Sinka masuk, mini market itu pun kembali dikunci.

“Hah… Hah… hampir aja aku mati.” Sinka mencoba mengatur nafasnya.

“Mba… ga kenapa-kenapa?” ucap seorang penjaga kasir mini market itu.

“Hah… Hah… iya, ga apa-apa Mas,” jawab Sinka.

“Sorry ya mba, soalnya tadi saya liat banyak orang-orang yang lari kaya ketakutan gitu, makanya saya tutup aja mini market ini takutnya ada apa-apa,” ucap kasir mini market itu.

“Iya Mas gak apa-apa, oiya saya beli air minumnya.” Sinka pun mengambil sebotol air mineral dan menyerahkan uang kepada kasir mini market itu.

Dari cara meminumnya terlihat Sinka sangat kehausan. Terbukti botol berisi 1500ml air itu langsung habis.

“Hah… lega,” ucap Sinka.

“Oiya mba, kenalin nama saya Vito,” ucap si kasir mini market.

“Sinka,” jawab Sinka sambil membalas jabatan tangannya.

“Kalau boleh tau, emang ada apaan sih mba? Sampai orang-orang pada lari ketakutan gitu?” Muka Vito berubah menjadi sangat penasaran.

“Yang saya liat ada orang kaya Zombie gitu, mulutnya penuh darah, terus jalannya juga nyeret kakinya, sama matanya putih semua ga ada item-itemnya,” jawab Sinka.

“Zombie? Ah mba bercanda aja,” ucap Vito.

“Ngapain saya bercanda dikeadaan lagi serius gini mas,” ucap Sinka.

“Jadi beneran Zombie?” Sinka pun hanya mengangguk, muka Vito berubah seperti ketakuan. Vito langsung beranjak pergi kesalah satu rak dan mencoba menggeser rak makanan itu ke arah pintu masuk.

“Mas mau ngapain?” tanya Sinka.

“Bantuin saya geser ini mba.” Sinka pun hanya mengangguk lalu membantu Vito mengeserkan rak yang penuh akan makanan ringan itu ke arah pintu. Tidak lama setelah rak itu ditempatkan ke arah pintu masuk, tiba-tiba zombie yang mengejar Sinka itu baru saja melewati mini market. Sinka dan Vito hanya berusaha diam sembari menunggu zombie itu pergi menjauh. Setelah zombie itu pergi menjauh, Sinka pun buru-buru mengeluarkan handphonenya lalu menekan beberapa nomor.

“Ah sial! kenapa ga bisa?” gerutu Sinka.

“Pake handphone saya aja mba,” tawar Vito.

Sinka pun menerima tawaran Vito lalu mulai mengetikan beberapa nomor di handphone itu, tapi hasilnya sama saja.

“Emang mau ngehubungi siapa mba?” tanya Vito.

“Kakak saya mas, tapi ga diangkat-angkat, handphone saya mendadak error lagi,” ucap Sinka kesal.

“Oiya mba sekalian telfon polisi suruh selamatin kita,” ucap Vito.

“Ide bagus.” Sinka pun mulai menelfon polisi tapi tidak ada yang mengangkat telfonnya. “Pada kemana sih ini polisi, gila aja ga ada yang ngangkat,” kesal Sinka.

“Stsss…. diem dulu mba,” ucap Vito pelan. Vito pun menunjuk ke arah luar mini market. Sekarang diluar mini market sudah ada beberapa orang yang bertingkah seperti zombie. Berjalan dengan menyeret kakinya, mulut dan pakaian yang penuh akan noda darah, orang-orang itu tak henti-hentinya berjalan melewati mini market tempat persembunyian Sinka, entah jumlahnya ada berapa tapi sedari tadi jumlah mereka tidak ada habis-habisnya.

“Gila kita kejebak.”

*to be continued

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Zombie…, Part2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s