Silat Boy : Yang Sebenarnya Part 37

CnJGPUtWgAEeomp

Malamnya, para pemberontak berpencar keluar rumah. Ada yang berjaga
diluar, ada yang berjaga jauh di tengah hutan, dan ada pula beberapa
orang yang berada di dalam rumah.

Ada yang memasak, menyiapkan senjata, dan lain-lain. Rusdi, Boim dan
Yupi sedang mengobrol di ruang tengah. Dan dua ajudan Yupi pergi entah
kemana, mungkin sedang berjaga diluar rumah.

“Aku akan menceritakan semuanya pada kalian berdua, semoga kalian
mengerti posisi kami sebagai pemberontak. Kasus kami ini hampir sama
seperti kasusmu sebelumnya, Rusdi.” Yupi menatap Rusdi.

“Jadi beberapa minggu lalu desa kami kedatangan orang luar yang
membeli lahan yang sangat luas di desa ini. Para penduduk tergiur
dengan uang yang ditawarkan, lalu mereka menjual tanah mereka.” Yupi
menghela napas.

“Orang itu perlahan mendesak penduduk desa lain menjual tanahnya, dan
jika tidak mau maka ia akan menembak mati penduduk desa.” Yupi geram,
ia menggigit bibirnya.

“Astaga, kejam sekali.” ucap Rusdi.
“Ya, ini memang lebih kejam dari pada kasusmu itu. Dan kami pun tidak
bisa berbuat apa-apa selain pasrah.” Yupi tertawa.

“Apa kalian tidak lapor polisi?” tanya Boim.
“Tidak bisa, ini pedesaan yang letaknya jauh di dalam hutan. Jadi
tidak ada polisi disini. Dan disini pun tidak ada sinyal, jadi semua
penduduk tidak menggunakan handphone.” jawab Yupi.

“Diluar desa memang ada polisi, tapi kami tidak ada yang berani keluar
dari hutan ini. Diluar sana pasti masih ada banyak orang jahat. Kami
hanya bisa menguburkan mayat yang sudah tewas, polisi sama sekali
tidak tau.” sambungnya.

“Apa membunuh disini tidak apa-apa?” tanya Boim.
“Ya, tidak ada yang akan menghukummu disini.” jawab Yupi, ia lalu
terdiam sejenak.

“Pasti ada cara lain untuk menghentikan orang itu…” Rusdi memikirkan sesuatu.
“Tentu saja ada, kami harus berani melawan. Itulah tujuanku merekrut
mereka dan membuat kelompok pemberontak.” jawab Yupi antusias.

“Sabtu kami akan menyerang orang itu dimarkasnya. Dan kami sangat
membutuhkan bantuan sukarelawan. Itulah kenapa kami tidak membiarkan
kau membawa Reza, karna kami sangat membutuhkan kekuatannya.”
jelasnya.

“Besok kami akan kembali berlatih. Latihan keras sudah kami jalani,
senjata sudah lengkap, anggota sudah banyak, hanya tinggal kesiapan
mental dan keberanian yang harus dipersiapkan!” Yupi kemudian berdiri.

“Maukah kalian membantu kami?” tanyanya.
“Kelompok pemberontak? Tujuannya untuk melawan dan memberontak yang
salah. Baiklah, aku ikut!” balas Boim.

“Aku juga!” Rusdi antusias.
“Baiklah! Mulai besok kita akan mulai latihan keras. Lalu jumat kita
akan berdoa seharian penuh untuk kelancaran peperangan ini. Dan sabtu
kita akan mulai menyerang mereka!” Yupi menyeringai.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s