Pengagum Rahasia 2, Part 16

 

“Kak Ve!” Deva berteriak

“Minggir semua minggir!” ucap seseorang

Deva pun melihat ke belakang.

“P..Polisi,” ucap Deva pelan

Deva kemudian mengangkat tubuh Ve. “T..Tolong teman saya pak!”

Kini seluruh tubuh Deva berlumuran darah.

“Ayo cepat bawa dia ke rumah sakit,” Polisi itu membuka jalan untuk Deva

Disana pun terdapat ambulan yang sudah di siapkan.

“T..Terimakasih pak!”

Singkat cerita, Deva pun pergi ke rumah sakit dengan menaiki ambulan itu.

~oOo~

“Cepat-cepat!”

“Masuk ke ruang UGD!”

Mereka semua membawa Ve ke ruangan UGD.

“Tunggu sebentar pak, anda tidak boleh masuk ke dalam,” ucap Suster itu

“Eh, T..Tapi sus!”

“Maaf, tapi kami tidak bisa mengizinkan anda masuk,” ucap Suster itu lagi

“Em, Baik Sus,”

            Pintu ruang UGD itu pun di tutsup rapat.

“Kak ve…,”

Dert! Dert!

Deva menjawab panggilan di handphonenya.

“Hallo Dev! Kamu kemana!? Sekarang udah jam 9 malam!”

“Jawab Dev!”

Tet!

            Deva menutup panggilan itu tanpa berkata apapun.

Kini ia duduk di kursi itu sambil  melihat kedua tangannya yang penuh dengan darah.

“Kak Ve…,”

Yang bisa Deva lakukan hanyalah menunggu sampai seseorang keluar dari ruang UGD itu.

~oOo~

Satu jam telah berlalu, Deva juga masih menunggu di depan ruang UGD.

Jam dinding menunjukan pukul 22.30 dan koridor itu tampak sepi.

Ceklek!

“Eh!?” Deva mendengar suara pintu itu

Tampaknya seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.

“Gimana keadaan teman saya dok!”

“Kondisinya kini sedang kritis,” Jawabnya

“Kri-Tis!?” ucap Deva

“Ya kritis. Dia kehilangan banyak sekali darah akibat kecelakaan itu. Tapi kecelakaan itu di akibatkan oleh dirinya sendiri. Mungkin dia lelah dan tidak bisa menahan kantuk, atau mungkin terjadi sesuatu pada motornya sehingga ia bisa mengalami kecelakaan,” Jelas Dokter itu

“Em,” Deva terdiam

“Untuk itu, Kami membutuhkan donor darah secepat mungkin,”

“Ah!? Yaudah biar saya aja dok! Saya yang akan jadi pendonor darahnya!” Deva memaksa

“Tidak bisa seperti itu. Darah yang kami butuhkan adalah AB dan apa golongan darah anda?” ucap Dokter

“S..Saya juga AB dok!” ucap Deva

“Tapi apa anda sudah berumur 17 tahun?” tanya Dokter itu lagi

“Eh…S-Sudah, Iya sudah dok,” Jawab Deva lagi namun tampak ragu

“Baik kalau begitu kita akan melakukan donor malam ini juga,”

“B..Baik dok!” ucap Deva

Deva pun di bawa ke suatu ruangan untuk melakukan donor darah.

~oOo~

Klok! Klok! Klok!

“Umm,”

Suara jam dinding itu membangunkan Deva dari tidurnya.

Perlahan ia membuka matanya sambil sedikit meregangkan badan.

“Gw…Gw masih di rumah sakit…,” ucapnya ketika melihat kesekitar

Ruangan itu terlihat seperti ruangan pasien.

“Eh!? Baju gw! A..Apa jangan-jangan mereka semua telanjangin gw!?” pikir Deva saat melihat bajunya yang menjadi baju pasien rumah sakit

“Kalau suster sih gak apa-apa, lah kalau dokter? HIIIIH!”

“Hmm?”

Deva sedikit aneh ketika melihat tirai di seberang

Apakah ada seseorang di balik tirai itu? Ataukah tirai itu hanya untuk menutupi sesuatu disana.

Begitulah yang ada di pikiran Deva sekarang dan ia masih melihat ke arah tirai tersebut.

“Ah, Kamu sudah bangun yah, nak Deva,”

“Eh, Dokter…,” ucap Deva

“Proses donor darahnya berjalan dengan lancar. Temanmu juga sekarang sudah siuman,”

“AH! Y..yang bener dok!” ucap Deva

Dokter itu mengangguk. “Ya, itu semua berkat bantuanmu nak Deva,”

“Wah! Kalau gitu saya mau langsung lihat keadaan teman saya dok!”

Deva langsung turun dari ranjang itu.

“Eh-Hey! Infusannya jangan di cabut paksa!” ucap Dokter

Namun Deva menghiraukannya dan ia terlihat membuka pintu.

“Tunggu nak Deva!” ucap Dokter itu lagi

“Apalagi dok?” ucap Deva

“Kamu mau kemana?”

“Saya mau ke ruangannya Ve dok!” Jawab Deva

“Sekarang kamu ini ada di ruangannya Ve, Coba buka tirai itu,” ucap Dokter

“Ah? Em, gitu ya. terimakasih dok!” Deva menutup pintu itu kembali

“Tunggu sebentar!” ucap Dokter itu lagi

“Ada apa lagi sih, pak dokter!” ucap Deva yang sudah mulai bosan

Dokter itu menghampiri Deva. “Kondisi Ve memang sudah membaik, tapi psikis dan mentalnya masih sedikit terganggu. Jadi…Jangan sampai kamu mengatakan suatu hal yang bisa membuat kondisinya kembali drop,”  ucap Dokter itu sedikit pelan

“Apa kamu paham?”

“Em, Baik dok,” ucap Deva

“Baik, kalau gitu saya permisi dulu,” Dokter itu keluar dari ruangan Deva

Setelah itu, Deva mulai berjalan ke tirai tersebut.

BRENG!

            Tirai itu terbuka.

“K..Kak Ve,”

“Eng, De-Va…,” Ve yang berbaring di ranjang itu terlihat masih lemas

Di dahinya terdapat plaster, tangannya pun di perban dan tubuhnya di selimuti.

Deva membawa kursi itu lalu duduk di samping ranjang Ve. “S..Syukurlah kak Ve udah baikan,”

“A..Aku minta maaf, Aku malah bikin kamu khawatir,” Ve tiba-tiba mengelus pipi Deva

“I-Iya, dan jangan bahas lagi soal itu. Yang terpenting sekarang kak ve harus cepet pulih,” ucap Deva

“Aku pasti pulih dev. Aku udah kangen sama kamu, aku pengen jalan-jalan lagi sama kamu sayang,” ucap Ve

“Eng!? S..Sayang!?” Batin Deva sedikit terkejut

“Emm, Kenapa dev? Kita udah jadian kan?” ucap Ve seperti tidak tau apa-apa

“Be…,”

(………………………………………………….)

“Kondisi Ve memang sudah membaik, tapi psikis dan mentalnya masih sedikit terganggu. Jadi…Jangan sampai kamu mengatakan suatu hal yang bisa membuat kondisinya kembali drop,”

(………………………………………………….)

“Gw gak boleh bikin kondisinya drop lagi.,” batin Deva

“Be…apa dev?” ucap Ve

“Ah, Be-Bener Hehe…,” Deva tersenyum

Ve kemudian memegang tangan Deva. “Dev, bawa aku pulang. Aku gak mau ada di rumah sakit,”

“Lagipula aku udah gak apa-apa kok,”

“J..Jangan, kondisi kamu kan belum bener-bener pulih, V…V-Ve,” ucap Deva terbata-bata

“Karena kamu ada disini, sekarang kondisi aku udah membaik kok sayang,” ucapnya dengan manja

“Duh…I-Iya nanti kita tanya dokter dulu yah,” ucap Deva seperti kebingungan

“Aku gak mau ada disini Dev, dan juga…,”

“AH!? Apa itu yang warna merah di tangan kamu dev!” Ve tiba-tiba menjadi shock

“EH!? A..Apa!?” Deva langsung melihat tangannya

Ternyata kulitnya seperti sobek dan darah itu bercucuran dari tangannya.

“Jangan!” Ve membelakangi Deva

“Cepet bersihin dev!” teriak Ve semakin shock

“AH! Eng…Eh,” Deva mencari sesuatu untuk mengelap darah itu

Sampai akhirnya ia menemukan sebuah perban disana.

Lalu deva menutupi luka itu dengan perban tersebut.

“V..Ve, lukanya udah di tutup pake perban,” ucap Deva pelan

“Eng!?” Ve sedikit berbalik

Matanya terlihat berkaca-kaca dan ketika ia berkedip, air mata itu keluar.

“K..Kamu gak apa-apa kan! Kamu gak kenapa-kenapa kan!” Ve sangat khawatir sekarang

“Eng…enggak kok, hehe…,” Deva hanya tersenyum

“Ni luka pasti gara-gara infusan yang tadi,” batin Deva

“Kamu tau dev, aku itu gak suka liat darah,” ucap Ve

“Emm, kalau gitu maafin aku yah,” Deva mengelap air mata di pipi Ve

“Aku pengen pulang dev! Bawa aku pulang sekarang juga!” ucap Ve memaksa

“T..Tapi, Kata dokter kamu…,”

“Kata dokter-kata dokter, kamu lebih milih kata dokter atau percaya sama aku dev!” Ve semakin memaksa sambil memegang tangan Deva

“Aku bakal langsung bayar biaya rumah sakitnya terus pulang!” Ve beranjak dari ranjangnya

“Eh-Hey, Ssssttt…udah-udah kamu istirahat dulu, nanti sore aku tanya dokter deh,” ucap Deva menahannya

“Sore!? Masih lama dev! Aku gak mau lama-lama disini!” ucap Ve

“S..Sayang!” Deva langsung menekan kedua pipi Ve

“Sa-Yang…,” ucap Ve pelan

“Aku janji bakal bawa kamu pulang hari ini juga,” Lanjut Deva

“Sa-Yang…,” ucap Ve lagi

“Emm, kenapa? Ada yang aneh yah?” tanya Deva

“Eh…Aku…seneng dev…,”

“Aku seneng banget karena kamu bilang sayang sama aku,” ucap Ve

Ve langsung memeluk Deva.

“Eh,” Deva terdiam

“Jangan tinggalin aku dev!” ucap Ve

“I..Iyah,” ucap Deva

“Emm, Oh iya! Almamater aku mana?” tanya Ve

“Eng, Eh…Mungkin lagi di cuci sama suster,”

Ve berhenti memeluk Deva. “Di cuci? Emangnya kotor yah?”

“I-Iya mungkin,” Jawab Deva

Ceklek!

“Ah, ternyata kalian udah mulai ngobrol lagi yah,”

“Eh, Dokter,” ucap Deva

“DOK!” ucap Ve dengan keras

“EH!?” Srontak dokter itu pun terkejut

“Saya mau pulang hari ini juga! Saya juga bakal langsung bayar biaya rumah sakitnya!” ucap Ve

“S-Sebentar Ve, kondisimu masih belum pulih dan harus menjalani beberapa…,”

“Enggak! Aku gak mau di rumah sakit! Dev, bawa aku pulang dev!” Ve semakin memaksanya

“Kamu janji bakal bawa aku pulang hari ini kan!” Ve tiba-tiba menangis

“Eng, Dok…,” Deva seperti membisikan sesuatu

“Gimana nih dok, dia gak mau di rawat,” bisiknya

“Sepertinya dia punya pengalaman buruk di rumah sakit,” balas Dokter itu berbisik

“Terus sekarang gimana nih dok!”

“Emm, Oke-oke hari ini kamu boleh pulang,” ucap Dokter itu

“AH! M..Makasih dok!” ucap Ve

“Tapi kamu harus rutin minum obatnya, karena itu akan membantu memulihkan kondisimu lagi,” Jelas Dokter

“B..Baik dok! Saya bakal abisin obatnya!”

“Sekarang nak Deva tunggu di luar, saya akan membuka infusannya dulu,” ucap Dokter

“I-Iya dok,” balas Deva

“Oh iya, kamu bisa ambil pakaian kamu ke suster yang ada di depan lobby,”

“Em, Baik dok terimakasih,” ucap Deva kembali

Singkat cerita, Deva pun membawa pakaiannya dan juga pakaian milik Ve ke suster yang di katakan oleh dokter tadi.

~oOo~

“Terimakasih sus,”

“Iya sama-sama,” balas Suster

Deva terlihat membawa sebuah tas di tangannya.

“Luka di tangan gw juga udah di obatin ama suster tadi, oke aman!”

“Dev!” ucap seseorang dari kejauhan

“Ah V..V-Ve,” ucap Deva sedikit kaku

Ve berlari ke arah Deva dan setelah itu langsung memeluknya.

“A..Ah!” Ve merintih

“Jangan lari-lari, kan luka kamu masih belum sembuh,” ujar Deva

“Biarin!”

“Loh!? Kok biarin sih!?” ucap Deva tidak mengerti

“Kamu tau kenapa? Karena kalau aku sakit, kamu keliatan lebih perhatian sama aku,” balas Ve

“Huuu!” Deva mencubit pipinya

“Hihi…,” wajah Ve memerah

“yuk pulang,” ucap Ve sambil memeluk tangan Deva

~oOo~

Di Perjalanan…

“Hemm, Sayangnya aku udah gak punya motor lagi sekarang,” ucap Ve

“Gak usah mikirin motor juga deh, beruntung kamu masih di kasih kehidupan selepas kecelakaan kemarin,” ucap Deva

“Eng, Yah…yang penting sekarang aku bisa terus berada di samping kamu, Dev,” ucap Ve lalu memeluk Deva

“E..Eh, Hehe…,” Deva sedikit risih di peluk oleh Ve

“Kenapa sayang?” ucap Ve

“Ah, Eng..Enggak apa-apa kok,” Jawab Deva

“Oh iya, Kamu punya uang buat bayar taksi ini Ve?”

“yah, dompetku ada di dalem tas ini kok,” Ve terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu

Dan ternyata ia mengeluarkan dompetnya.

“Ternyata di dalem tas ini isinya pakaian kita semua,” ucap Ve

Brem!

Taksi itu kembali melaju setelah traffic light itu berubah menjadi hijau.

“Eh!?” Deva terlihat kebingungan

“Kenapa dev?” tanya Ve

“Kok kita belok kesini Ve? Bukannya rumah kamu tuh lurus yah,” pikir Deva

“Oh iya aku lupa bilang. Sekarang kita bakalan ke rumah kamu,” Jelas Ve

“Hah!? Tapi kan…,”

“Sebenarnya aku gak mau kalau keluargaku tau soal kejadian ini Dev. Aku harap kamu bisa nyembunyiin ini dari siapapun, terutama keluarga aku,” ucap Ve

“Tapi Ve…,”

“Tujuan kita sekarang ke rumah kamu karena aku mau minjem beberapa baju punya kakak kamu,” lagi-lagi Ve memotong pembicaraan

“Loh, Tadi kamu bilang jangan sampai ada yang tau kalau kemarin kamu…,”

“Aku percaya sama melody,” potong Ve lagi

“Em,” Deva terdiam

“Lagipula lama kelamaan dia bakal tau segalanya dari kamu, iya kan sayang?” ucap Ve melirik

“Aku?” ucap Deva

“Aku tau kamu mungkin bisa jaga rahasia ini dari orang-orang, tapi aku yakin kamu gak akan mungkin bisa jaga rahasia ini dari kakak kamu sendiri, Dev,”

“Terlebih lagi kemarin kamu gak pulang ke rumah kan? Dia pasti tanya-tanya kenapa kamu sampai gak pulang, karena aku tau sifat melody yang bakal cari tau kebenaran sampai ke akar-akarnya,” Jelas Ve

Deva terdiam sambil melihat Handphonenya.

Disana tertulis (50 Missed Call From Melody).

“Kak ve benar. Kita gak mungkin nyembunyiin ini dari kak melody,” ucap Deva

“Hah? Maksud kamu nyembunyiin hubungan kita dari melody?” ucap Ve

“E-EH, Bukan. Maksudnya kak melody pasti bakalan tau semuanya nanti,” ucap Deva kembali

“Oh, aku pikir kamu mau nyembunyiin hubungan kita dari siapapun. Padahal aku juga suka pacaran sembunyi-sembunyi,” ucap Ve

Plek! Deva mengusap wajahnya.

“Huh, Bukan itu maskud aku ve,”

“Haha…Kamu ini, aku kan cuma bercanda,” Ve tersenyum

“Eng…,”

Wajah Deva tiba-tiba memerah dan ia memalingkan pandangannya dari Ve.

“Yaudah lupakan, yang terpenting sekarang kita sampai dulu di rumah kamu,” ucap Ve

“Iya,” balas Deva

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

4 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s