X-World, Side Story (6) : Logan – Coincidence (Pt.3)

“PREPARE YOURSELF… FIGHT!”

Dengan gesit Rugal melesat dan langsung melontarkan pukulan ke dada Logan. Sang host yang masih berada di dalam arena cukup terkejut dengan hal itu, dan ia pun buru-buru pergi dari dalam arena.

Serangan pertama yang dilayangkan Rugal berhasil membuat Logan terpental ke sudut arena. Saat-saat yang ditunggu oleh Logan, Zhao, dan Lidya akhirnya tiba. Orang yang sedari babak kedua berusaha mengeluarkan mereka dari turnamen kembali mencoba mengeluarkan mereka di babak kelima, dan kali ini dengan tangannya sendiri.

“Jadi kau yang bernama, Rugal?” Logan perlahan-lahan bangkit di sudut arena, “Aku sempat mengira kau seorang pengecut karena tidak berani melakukan pekerjaan kotormu dengan tanganmu sendiri, tapi sepertinya aku salah.”

Logan mengangkat kepalanya, dan ia terkejut saat mendapati Rugal sudah berdiri tepat di hadapannya. Kurang dari 5 detik, 3 pukulan dan 5 tendangan telah mendarat di tubuh Logan hingga membuatnya kembali terjatuh di sudut arena.

Rugal mencekik leher lawannya, kemudian ia mengangkatnya dan melempar Logan ke sisi arena dimana kedua rekan timnya berada. Sepertinya Rugal ingin bermain adil dengan ketiga orang itu.

Zhao dengan cepat menepuk tangan Logan dan menyeretnya keluar arena lewat bawah tali pembatas. Zhao melompat masuk ke dalam arena dan segera melancarkan serangan baliknya pada Rugal. Kedua orang itu saling beradu pukulan di tengah arena. Walaupun terlihat seimbang, sebenarnya Zhao memaksakan dirinya untuk mengimbangi Rugal.

“COUNTER-TIMER… START!”

“Akhirnya…” Ucap Zhao dalam hati. Zhao menarik goloknya dari punggung dan langsung melayangkan serangan terbaiknya.

Zhao sudah tidak peduli lagi dengan aturan turnamen. Rugal ingin membunuh dirinya dan kedua rekan timnya, jadi ia memutuskan untuk melakukan hal yang sama pada Rugal.

Saat ia kira serangan terbaiknya akan segera membuat Rugal terkapar tanpa nyawa di tengah arena, ia mendapati kalau Rugal ternyata ‘lebih’ dari apa yang ia kira.

“Itu hal terbaik yang bisa kau lakukan saat counter-timer? Aku merasa kasihan pada rekan-rekan tim mu,” Ujar Rugal meremehkan Zhao.

Sebuah sarung tangan besi berwarna merah telah melapisi lengan kiri Rugal. Dengan benda tersebut, Rugal sukses menahan golok Zhao sebelum menyentuh dirinya.

Zhao terkejut. Sejak kapan Rugal mengenakan benda itu di lengannya? Padahal beberapa menit yang lalu hanya jas merah dan cincin berlian yang menutupi tangan kirinya. Rugal memutar tangan kirinya, kini ia mendapatkan golok Zhao.

Zhao berusaha membuat Rugal melepaskan genggamannya dari senjatanya, tapi malah genggamannya yang lebih dulu lepas setelah Rugal menendang dagunya.

“Aku penasaran, berapa yang bisa aku dapat dari senjata ini di pasar loak?” Rugal memperhatikan senjata milik Zhao dengan detil.

“Sepertinya tidak terlalu banyak.” Rugal pun membuang senjata Zhao keluar arena.

Counter-timer masih berjalan. Zhao buru-buru merangkak ke pinggir arena untuk bertukar dengan Lidya. Setelah berhasil menepuk tangan Lidya, Zhao berguling keluar dari arena sambil memegangi perutnya.

“Lid… Hajar dia habis-habisan. Ugh… 30% dari jatah uang hadiahku boleh kau pakai untuk makan sepuasmu.” Senyum mengembang di bibir Lidya. Setidaknya 30% jatah uang hadiah milik Zhao bisa ia gunakan untuk menghemat pengeluarannya selama 2 minggu.

“Hoi, lo punya asuransi kan?” Tanya Lidya pada lawannya.

“Lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri nona,” Rugal mengangkat tangan kanannya. Kemudian muncul banyak potongan-potongan armor kecil dari belakang Rugal. Potongan-potongan armor itu satu persatu memasangkan diri mereka dengan sendirinya pada tubuh Rugal.

What the…?” Lidya terkejut.

“Lidya, jangan beri dia kesempatan!” Teriak Logan tiba-tiba. Lidya pun memberi dorongan kuat pada kakinya. Lalu ia melakukan lompatan lurus ke depan. Berkat dorongan itu, tubuhnya kini melesat kuat ke arah Rugal seperti misil.

“Percuma…”

*BUM!!!*

Dengan satu tangan, Rugal berhasil menghentikan Lidya. Tangan kanan Rugal kini menggenggam kepala Lidya. Karena terlalu menganggap remeh lawannya, Rugal malah mendapat serangan balik yang sama sekali tidak ia duga. Tidak diketahuinya, Lidya saat itu tengah tersenyum.

Kedua tangan Lidya dengan cepat mencengkram tangan kanan Rugal yang ia gunakan utnuk menahan kepalanya. Kemudian ia meremukkan kepingan armor yang menyelimuti tangan kanan Rugal.

Armor Rugal mengalami malfungsi di bagian lengan kanan, dan ia pun tidak sengaja melepaskan Lidya. Hal ini membuat Lidya kembali mendapat celah untuk menyerang Rugal.

Pukulan berdaya setara 10 pukulan dilayangkan Lidya ke perut Rugal. Setelah lengan kanan, kini armor bagian perut yang mengalami malfungsi. Lidya tidak berhenti melakukan serangannya. Satu persatu, armor milik Rugal ia preteli hingga menyisakan helm yang melindungi kepala Rugal.

Tepat saat ia hendak mempreteli bagian terakhir itu, pasokan protein di tubuhnya telah menipis sehingga ia terpaksa meninggalkan lawannya untuk bertukar dengan Logan yang telah siap di pinggir arena.

Begitu Logan masuk, counter-timer habis. Bagian helm yang melindungi kepala Rugal melepaskan dirinya secara otomatis dan terbang keluar arena.

Logan menghampiri Rugal yang sudah tidak berdaya di tengah arena. Walaupun wajahnya tidak mengalami memar, tapi tubuhnya telah banyak menerima banyak serangan dari Lidya dan tenaga proteinnya.

“Hehehe… Aku tidak mengira turnamenku bisa membuat seorang mantan anggota X-Men sepertimu tertarik.” Ucap Rugal dengan nada lemas.

“Ya, hadiah yang kau janjikan cukup menarik menurutku. Selain itu… Siapa yang memberimu baju besi itu? Stark Industries?” Rugal mengangguk pelan.

“Mereka termasuk sponsor. Memang kau tidak lihat bannernya di depan pintu masuk?”

“Oh… Aku baru sadar bagian kecil dari multiverse-ku ternyata turut ambil bagian dalam acara ini.” Rugal tertawa pelan mendengar ucapan Logan.

“Kau menarik Logan. Aku sebenarnya tidak ingin mengeluarkanmu, karena berkat kau rating acaraku naik.”

“Lalu kenapa kau menginginkan aku keluar dari turnamenmu?” Tanya Logan.

“Sponsorku… G-Corporation… Kazuya Mish–”

*SPRAT!!!*

“HGHH…!!”

Ucapan Rugal terpotong. Sebuah sinar laser yang datang entah darimana berhasil membuat dada Rugal berlubang. Beruntung bagi Rugal, sinar laser tersebut tidak menembus jantung ataupun organ dalam lain di tubuhnya.

Seluruh penonton terkejut melihat kejadian mendadak yang terjadi di tengah arena. Di tengah kebingungan, salah seorang kru di pinggir arena berteriak sambil menunjuk ke atas stadium.

“I-Itu dia…” Ucap Rugal pelan. Semua perhatian di dalam stadium tertuju pada benda terbang misterius yang berada di atas stadium. Tidak ada yang tahu benda apa itu sampai beberapa lampu sorot akhirnya bergerak menyorot benda tersebut.

“I-Itu kan…” Ucap Zhao terbata-bata.

………………….

“Aku muak dengan jaminanmu Rugal. Kau bahkan tidak bisa memberiku hasil yang aku inginkan.” Ucap benda… Bukan… Makhluk menyerupai iblis yang tengah terbang di atas stadium. Iblis dengan tubuh berwarna ungu itu turun ke tengah arena dan berubah wujud menjadi manusia.

“Akhirnya aku mendapatkanmu… Bukan… Kalian bertiga!” Ucap pria itu.

“Kazuya Mishima? Hooh… Pantas saja aku merasa familiar dengan nama G-Corporation. Eh, tapi tadi kau bilang kalian? Jadi kau juga kenal dengan Zhao dan Lidya?” Tanya Logan.

“Tentu saja… 3 Buronan dengan harga mahal. Bayangkan berapa banyak uang yang akan Killjoy berikan saat aku mengirim mayat kalian ke pintu depan rumahnya.” Ucap Kazuya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Ayolah Kazuya, kau punya semuanya. Kekuatan, harta, tahta, dan kau masih mau menjadi anjing peliharaan yang setia bagi sebuah organisasi yang nasibnya sekarang sudah tidak pernah terdengar lagi?”

“Ini bukan tentang loyalitas, tapi kepuasan pribadi.” Ucap Kazuya enteng.

“Kau tidak jauh berbeda dengan Erron Black.”

“Jangan samakan aku dengan SAMPAH seperti DIA!!” Kazuya berubah ke wujud iblisnya dan menembak Logan dengan laser yang keluar dari dahinya. Logan dengan sigap menghindar ke samping sambil menyeret tubuh Rugal dan melemparnya ke luar arena.

“Maaf soal lemparannya Rugal, tapi setidaknya lebih baik daripada kau mati di dalam arena bukan?” Gumam Logan.

Situasi di dalam stadium berubah drastis. Teriakan euforia yang keluar dari para penonton berganti menjadi teriakan ketakutan. Para kru berusaha mengevakuasi para penonton sebelum ada kejadian buruk yang menimpa mereka. Kazuya menembakkan laser dari dahinya secara membabi buta, membuat banyak kerusakan properti di dalam stadium.

Melihat beberapa penonton masih terjebak di dalam stadium, Logan bergerak menyerang Kazuya untuk mencegah perusakan properti yang dilakukan orang itu lebih jauh.

Kazuya berhasil menghindari serangan Logan dan membalasnya dengan cekikan. Ia mengangkat tubuh Logan dan mengencangkan cengkramannya dengan menancapkan kuku-kuku tajamnya pada leher Logan. Darah dari luka-luka di leher Logan mulai keluar dan membasahi tangan Kazuya.

“Kau mungkin kebal dari luka, tapi tidak dari rasa sakit.” Ucap Kazuya.

“Hhkk! Apa kau puas hanya dengan ini?” Rintih Logan.

“Tentu saja belum!” Kazuya menekan kukunya lebih dalam masuk ke leher Logan.

“Ba… Gus…” Rintihan Logan terdengar janggal bagi Kazuya, tapi ia terlambat menyadari kejanggalan tersebut.

Dari belakang Kazuya, Zhao melompat dan menyerang Kazuya dengan goloknya. 3 buah luka sabetan tercipta di punggung iblis itu, membuatnya melepaskan cengkraman tangannya dari Logan.

Lidya datang dengan cepat, dan langsung menyeret Logan jauh-jauh dari Kazuya. Sementara perhatian Kazuya teralih pada Zhao, Lidya dan Logan memanfaatkan waktu untuk mengisi ulang tenaga mereka.

“Om, lo butuh berapa menit?” Tanya Lidya.

“Maksudmu? Kau ingin melawan Kazuya? Sebaiknya kau urungkan niatmu dan manfaatkan kesempatan ini untuk lari.” Kurang dari 10 detik, luka-luka di leher Logan sudah menghilang dan Logan kembali pulih seperti semula.

“Zhao juga tidak akan kuat melawannya. Dengar, kalau kau ingin membantu, saat aku menyibukkan iblis itu kau bawa Zhao keluar dari stadium.” Ucap Logan pada Lidya.

“Om, lo sakit yak? Gue tau lo bisa nyembuhin luka-luka lo, tapi nggak ada jaminan lo bisa bikin iblis itu mati kan? Lo yang bilang di backstage, kalo kita udah ketemu sama orang yang pengen kita bertiga keluar dari turnamen ini, kita bakalan bales dia dengan pantas. Dia udah ada di arena sekarang, trus setelah nunggu lama-lama, kita biarin dia berbuat liar begitu aja?”

Belum sempat Logan menjawab, Lidya sudah kembali memotong ucapannya, “Kita bales dia, BERTIGA, DENGAN PANTAS. TITIK!” Logan kalah argumen dengan Lidya.

Di satu sisi, ia merasa risih dengan sikap keras kepala Lidya, tapi di sisi lain, mungkin ia harus bersyukur masih ada orang yang ingin membantunya dalam keadaan seperti ini.

“Baiklah kalau kau memaksa, tapi kau ikuti setiap aba-abaku dan jangan bertanya selama iblis itu masih hidup. Paham?” Lidya mengangguk. Kemudian, Logan mulai memberitahu Lidya tentang rencananya.

Lidya pergi entah kemana, sementara Logan berlari ke sisi arena yang lain untuk mengambil posisi. Tidak seperti dugaan Logan, ternyata Zhao mampu bertahan lebih lama dari yang ia prediksi. Walaupun Zhao hanya sekedar menghindar tanpa menyerang balik, tapi itu tetap tidak mudah. Apalagi dengan lawan berupa makhluk aneh bertanduk, bersayap, bertubuh ungu, dan bisa menembakkan laser dari mata ketiga yang ada di dahinya.

Saat lewat di samping arena, pandangan Logan dan pandangan Zhao saling bertemu. Lewat pandangan sesaat itu, Logan memberi isyarat pada Zhao. Tidak terlalu jelas, isyarat apa yang dimaksud oleh Logan, tapi Zhao mengerti apa yang harus ia lakukan.

Zhao berguling ke samping. Ia memungut senjatanya yang sempat terjatuh, dan langsung melayangkan pedangnya ke arah kepala Kazuya. Sebelum besi tajam itu dapat menyentuh kulit Kazuya, mata ketiga di dahinya sudah terlebih dahulu menembakkan laser yang mengenai tangan Zhao.

Tangan kanan Zhao terluka dan mengeluarkan darah akibat serangan Kazuya. Akibat luka tersebut, Zhao secara tidak sengaja menjatuhkan senjatanya. Dengan cepat Kazuya mencengkram leher Zhao dan membawanya terbang ke atas arena.

“Sima Zhao… Aku heran mengapa mereka mencantumkan namamu pada daftar target dengan harga mahal. Kau bahkan tidak spesial.” Ucap Kazuya.

“Hghh… Hehehe… Aku tidak perlu hal spesial atau apapun itu. Aku hanya perlu diriku dan senjata kesayanganku… Oh, dan mungkin sebuah matras berukuran besar untuk menahan jatuhku saat ini.”

Jelas ada kode tersembunyi dalam ucapan Zhao yang barusan. Walaupun Kazuya secara fisik jauh lebih kuat dibanding Zhao, tapi jalan pemikiran Kazuya tidak secepat yang Zhao harapkan. Ia terlambat menyadari kode tersembunyi dalam ucapan lawannya.

Seperti yang biasa dilakukan oleh para tokoh-tokoh jahat saat mengetahui sang tokoh utama memiliki kejutan untuknya, Kazuya menoleh ke belakang.

“Euwh… Muka lo ternyata lebih jelek kalo diliat close-up….”

“HAH?!!” Kazuya terkejut melihat Lidya sudah berada di belakangnya dengan mengepalkan kedua tangannya menjadi satu.

“Beri salam pada temanku yang punya masalah protein.” Setelah meledek Kazuya, Zhao mengangkat kedua kakinya dan langsung menendang dada Kazuya hingga membuat cengkraman iblis itu pada dirinya lepas. Zhao berhasil melepaskan dirinya dari Kazuya dan kini dirinya jatuh bebas ke arena.

*BHUAAK!!!!!*

Kedua kepalan Lidya mendarat mulus di leher belakang Kazuya. Tentunya kedua kepalan itu mengandung tenaga protein dari tubuhnya. Kalau tidak, mana mungkin suara tulang leher yang retak itu tidak akan terdengar jelas di dalam stadium?

Tepat di bawah Kazuya, tepatnya di tengah-tengah arena, Logan telah siap dengan kedua cakarnya. Selain berhasil membuat leher iblis itu patah, pukulan Lidya juga membuat jatuh Kazuya lebih cepat dibanding Zhao.

*SRAAAT!!!*

“Skakmat, iblis!” Cakar-cakar tajam di kedua tangan Logan menancap manis di titik-titik tubuh Kazuya. Darah berwarna biru mengalir keluar sedikit demi sedikit di cakar Logan. Tidak mau membuat cakarnya lebih kotor, Logan segera menurunkan kedua tangannya berikut tubuh Kazuya ke lantai arena.

Kalau kalian berpikir Logan telah selesai dengan Kazuya, kalian salah besar. Masih dengan cakar yang menancap di tubuh si iblis, Logan mengerahkan seluruh tenaganya pada kedua lengannya dan….

*SRAAAK!!!*

….Tubuh iblis itupun terbelah menjadi 2 bagian, atas dan bawah. Selesai dengan Kazuya, tentu Logan tidak lupa dengan temannya. Logan segera menarik matras terdekat yang ada di sisi arena untuk menahan pendaratan Zhao.

“UGH! Arghh… Punggungku…” Rintih Zhao yang baru mendarat di atas matras.

“Ayo bangun! Kau masih ingin uang hadiah itu atau tidak?!” Logan mengulurkan tangannya pada Zhao.

“Sabar sedikit orang tua. Kau tidak lihat aku baru saja jatuh dari ketinggian?” Logan membantu Zhao berdiri.

Tak lama kemudian, menyusul Lidya yang jatuh ke tengah arena. Tidak perlu bantuan untuk Lidya. Wanita itu mendarat dengan mulus di tengah arean dengan kedua kakinya. Selain itu ia juga terlihat baik-baik saja.

Mereka bertiga menatap potongan tubuh Kazuya, orang yang menjadi sumber masalah mereka dalam turnamen bela diri ini. Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba muncul asap dari potongan tubuh Kazuya. Tak berselang lama, tubuh Kazuya mulai hancur perlahan-lahan, hingga akhirnya tidak tersisa apapun kecuali darah berwarna biru yang sempat keluar dari tubuh iblis itu.

**

Kemarin adalah hari yang panjang bagi Logan, Zhao, dan Lidya. Berawal dari satu tujuan yang sama, ketiga orang itu berakhir berurusan dengan hal yang bahkan sama sekali tidak terlintas dipikiran mereka.

Untuk seorang manusia, Rugal Bernstein adalah orang cukup kuat (Atau mungkin beruntung). Lubang di dadanya mungkin dapat tertutup oleh perban dan pakaian yang ia kenakan, tapi apa rasa sakit dari luka tersebut tidak membuat dirinya, umm… terganggu?

Kalau dari situasi saat ini, mungkin ia tidak terganggu dengan rasa sakit itu atau malah tidak merasakannya. Kini ia berdiri di atas podium yang ada di depan stadium yang menjadi tempat terlaksananya turnamen Dead or Alive.

Walaupun turnamen tahun ini berakhir dengan sedikit insiden yang mengejutkan bagi komite penyelenggara, tapi bagi Logan dan kedua rekan tim dadakannya, ini adalah akhir yang sangat mereka nantikan. Yap, mereka dinyatakan sebagai pemenang sah turnamen tahun ini, karena secara teknis mereka bertiga memenangkan kelima tahapan dalam turnamen.

Selaku ketua komite penyelenggara, Rugal menyerahkan hadiah berupa uang tunai yang sudah dibagi ke dalam 3 buah koper, dan juga hadiah tambahan misterius rahasia yang diberikannya di dalam sebuah box.

“Zhao, jangan lupa…” Ucap Lidya mengingatkan Zhao.

“Iya-iya. 30%,” Zhao mengambil sejumlah uang dari dalam koper miliknya, dan memberikannya langsung kepada Lidya, “Tuh… Dasar….”

Salah satu penonton yang hadir dalam acara serah terima hadiah itu berteriak dari dalam kerumunan. Penonton itu ingin agar para pemenang membuka hadiah misterius yang ada di dalam box. Berawal dari keinginan satu orang, penonton yang lain pun ikut-ikutan. Logan, Zhao, dan Lidya berdiskusi singkat, dan mereka pun sepakat untuk membuka hadiah misterius itu.

Lidya memulai hitungan. Saat bibirnya mengucap ‘tiga’, ketiga pemenang itu membuka tutup box. Zhao mengambil isi box itu dan mengangkatnya dengan kedua tangan di depan kerumunan penonton.

“Hah? Apaan tuh? Helm?” Tanya Lidya penasaran.

“Sepertinya begitu.” Ucap Logan. Hadiah misterius itu adalah sebuah barang antik berupa helm yang terbuat dari batu dan dihiasi kristal-kristal berwarna hijau neon menyala.

“Sudah jangan mengeluh. Kita bisa jual helm ini di pasar loak dan bagi hasilnya jadi 3 nanti, tapi untuk sekarang, sebaiknya kita jangan buat fotografer itu menunggu.” Ujar Zhao.

Logan, Lidya, dan Zhao berpose mengangkat koper masing-masing dengan tangan kanan mereka, sementara kiri masing-masing bersama-sama mengangkat hadiah misteri yang baru mereka buka bersama.

Fotografer pun mulai menghitung mundur, “1… 2… 3… Senyum!”.

Cahaya flash yang keluar dari lampu kamera fotografer tersebut membuat ketiga pemenang turnamen berkedip untuk sesaat. Sepertinya posisi fotografer itu terlalu dekat saat mengambil foto. Pandangan mereka bertiga menjadi pusing untuk sesaat. Mereka mencoba untuk fokus agar pandangan mereka kembali normal.

Saat pandangan mereka telah kembali normal, kerumunan penonton yang tadi berada tepat di depan mereka kini telah menghilang. Bukan hanya itu saja. Mereka juga tidak lagi berada di atas panggung di depan stadium, tapi mereka berada di tengah-tengah gurun yang dipenuhi sisa-sisa fondasi dan juga bagian-bagian bangunan.

“Lah, kok? I-Ini dimana?” Tanya Lidya.

Belum sempat pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba hembusan angin kuat datang dari kanan mereka. Saat mereka menoleh, ternyata angin tersebut adalah sebuah badai pasir besar. Dengan sigap, Logan menarik Zhao dan Lidya dan menyuruh mereka membungkuk membelakangi badai pasir itu bersama dirinya.

Aneh… Badai pasir itu hanya melewati mereka seperti angin biasa. Tidak ada satupun pasir yang masuk ke dalam hidung ataupun telinga mereka. Merasa keadaan sudah aman, mereka berhenti membungkuk, dan sebuah kejutan kembali tersaji di depan mata mereka.

Puluhan mayat tergeletak di sekeliling mereka. Keadaan mayat-mayat tersebut buruk, sangat-sangat buruk, bahkan Logan yang sudah terbiasa melihat mayat pun terdiam dan membeku dalam posisi berdiri melihat mayat-mayat tersebut.

Lain orang, lain respon. Kedua kaki Lidya bergetar hebat, dan tak butuh waktu lama, ia langsung terjatuh. Untuk menghindari dampak buruk lebih jauh yang dapat ditimbulkan pemandangan ini terhadap pikirannya, Lidya langsung menutup matanya dan kedua tangannya bergeraik naik untuk menutupi wajah berikut kedua matanya.

Sementara Zhao… Entah apa yang terjadi padanya, tapi yang jelas pandangan matanya saat ini benar-benar kosong ibarat orang yang sedang kesurupan.

“STOP! UDAH, CUKUP! INI BUKAN LO YANG GUE KENAL!!!”

Sebuah suara teriakan yang sangat familiar di telinga Logan menggema di tengah gurun itu. Dengan refleks, Logan menoleh ke arah suara yang berasal dari belakangnya itu.

“GARY?!!”

………………….

“Tolong maafin gue… HYAAAA!!!!”

Terlihat sosok Gary Muller di belakang Logan mengangkat senjata yang digenggamnya. Kemudian ia mengayunkannya ke arah sosok humanoid yang sekujur tubuhnya ditutupi oleh cahaya menyilaukan. Terjadi sebuah ledakan besar yang diakibatkan benturan senjata Gary dengan sosok humanoid misterius itu.

Setelah ledakan besar itu, Gary menghilang. Entah apa yang terjadi padanya, tapi kalau dilihat dari kejadian yang baru saja terjadi, tampak jelas Gary menjadi korban dari ledakan besar tersebut.

Debu dan asap akibat ledakan mulai menghilang. Sosok humanoid misterius itu kembali terlihat dan kali ini penampilannya terlihat lebih jelas, tidak samar-samar seperti seblumnya.

Logan menerima sebuah tatapan mematikan dari sosok humanoid bercahaya itu. Entah benar atau tidak sosok itu memang menatap Logan atau mungkin ada orang lain di belakang Logan. Logan menengok sebentar ke belakang, dan ia mendapati tidak ada siapapun di belakangnya.

Saat ia kembali menghadap ke depan, ia langsung terkejut mendapati sosok humanoid yang sebelumnya berada jauh darinya kini berada persis melayang di depannya. Tatapan mematikan sosok itu dari jarak yang cukup dekat membuat Logan terkejut dan refleks berteriak.

“HUAAAAAAAH!!!”

………………….

“HEI!”

Tepukan Rugal pada pundak Logan membuat ia berhenti berteriak. Akan tetapi, karena refleks, Logan menarik tangan kirinya dan secara tidak sengaja membuat helm kuno yang dipegangnya bersama kedua rekannya terjatuh dan hancur.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Rugal. Logan menolak menjawab. Ia hany memberi sebuah anggukan kecil sambil terus berusaha mengatur nafasnya.

Shock bukan hanya dialami Logan, tapi juga Zhao dan Lidya. Tidak seperti Logan yang terengah-engah, Zhao hanya berdiri mematung dengan tatapan kosong ke depan, sama halnya Lidya. Hanya saja, tatapan kosong Lidya mengarah ke bawah.

Rugal mengambil alih acara, sementara kru-krunya membawa Logan dan rekan-rekannya turun dari panggung.

**

Acara serah terima hadiah telah selesai. Rugal menyempatkan dirinya menemui Logan di tenda belakang panggung untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Setelah menemui Logan, Rugal pamit pergi karena dia harus menghadiri pertemuan dengan klien bisnisnya.

Shock yang sempat melanda pikiran Logan sudah hilang. Teringat sesuatu, Logan segera bangun dari tempat duduknya dan pergi untuk mencari Lidya dan Zhao. Saat tengah mencari Lidya, salah satu kru di tenda mengatakan bahwa Lidya telah pergi sesaat setelah mereka turun dari panggung.

Logan pun menanyakan kru itu dimana Zhao berada saat ini, dan ia mengatakan bahwa Zhao ada di depan tenda. Logan berlari keluar tenda dengan terburu-buru dan disana ia menemukan Zhao tengah duduk santai dengan sebuah cup mie instan dan juga sebotol air putih di sampingnya. Melihat Logan datang dengan terburu-buru menghampirinya, Zhao pun menjadi sedikit curiga.

“Ada apa? Uang hadiahmu dicuri orang?” Tanya Zhao.

“Uh… Tidak. Zhao, saat sesi foto tadi, kau juga merasakan hal janggal itu bukan?”

“Pemandangan gurun pasir itu? Iya. Memang kenapa?”

“Hal yang kita lihat di gurun itu, itu bukan halusinasi atau mimpi biasa.”

“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Tanya Zhao sambil menanggak sisa-sisa isi cup mie instan miliknya.

“Aku mengenal kedua orang yang tengah bertarung di gurun itu. Mungkin ini terdengar sedikit gila, tapi terakhir kali aku mengabaikan sebuah halusinasi yang terasa nyata, aku kehilangan semua rekan-rekan seperjuangan di domainku. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,” Ujar Logan.

“Zhao, aku butuh bantuanmu.” Tambahnya.

Zhao berdiri dan melempar cup mie instan yang telah kosong di tangannya ke dalam tong sampah. Kemudian ia berbalik dan menatap Logan dengan serius.

“Tidak ada halusinasi yang terdengar gila bagiku, orang tua. Aku juga pernah mengalami hal yang sama sepertimu. Kita sedang membicarakan Beyonders bukan?” Logan mengangguk pelan.

“Oh ya, bagaimana dengan Lidya?” Tanya Zhao.

“Dia sudah pergi duluan.” Jawab Logan.

“Oh, Oke… Jadi, darimana kita harus mulai? Kau ingin aku membantumu mencari anak itu bukan?” Logan pun mengangguk pelan.

**

“Ckh! Itu anak mana sih?” Gerutu seorang perempuan.

Jarang sekali pemandangan seperti ini terlihat di stasiun kereta kota. Tepat pukul 4 sore, tapi jumlah penumpang yang baru turun dan akan naik kereta dapat dihitung dengan jari.

Di bangku umum dekat peron, terlihat seorang wanita dengan kemeja merah dan celana jeans selutut nampak gelisah. Perempuan itu terus menggerutu semenjak ia tiba di stasiun ini. Jelas sekali dari ucapan-ucapannya, ia tengah kesal karena seseorang terlambat menemuinya di stasiun ini.

“Oy! Lid!” Teriak seorang pria dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.

“RIZAAAAL!!! KOK LO LAMA BANGET?!! KAN GUE UDAH BILANG JEMPUT GUE JAM 3!!!” Pria itu beruntung, teman perempuannya berteriak saat keadaan stasiun tengah sepi. Beberapa penjaga tampaknya tidak terlalu peduli dengan sikap perempuan itu.

Rizal, pria berjaket hitam yang menenteng tas golf itu masuk ke peron dan menghampiri teman perempuannya yang bernama Lidya.

“Lid, lain kali jangan teriak-teriak kenapa? Lo mau disangka pasien RSJ trus diringkus sama satpam sini?” Ucap Rizal.

Lidya tidak membalas perkataan Rizal dengan mulutnya, tapi ia membalasnya dengan sebuah jeweran pada telinga kanan Rizal.

“ADUDUDU! LID! ANJIR! SAKIT, LID! SAKIT!” Lidya tidak menghiraukan Rizal.

Mereka berdua berjalan keluar dari stasiun dan masuk ke dalam mobil van hitam milik Rizal yang terparkir di lapangan parkir stasiun. Begitu mereka sudah di dalam mobil, barulah Lidya melepaskan jewerannya.

“Lagi PMS lo ya? Jir, sakit banget.” Keluh Rizal.

“Zal,”

“Apaan?”

“Lo masih inget anak yang waktu itu ngancurin Juubi kan?”

“Oh… Gary? Emang kenapa?”

“Kita harus cari dia dan temen-temennya sebelum terlambat.”

“Hah?” Rizal bingung melihat Lidya yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Padahal biasanya Lidya terlihat santai. Apa yang tiba-tiba merubah Lidya yang dikenalnya?

“Lid, lo beneran nggak lagi PMS kan?” Kedua tangan Lidya langsung mencengkram kerah jaket Rizal dan ia menarik wajah Rizal mendekati wajahnya.

“Serius, Zal. Kalo bukan karena apa yang baru aja gue alamin, gue nggak bakalan mendadak jadi paranoid begini!” Rizal menelan ludahnya melihat sisi lain Lidya yang biasanya hanya ia tunjukkan di tengah sebuah pertarungan.

“Kita harus bisa nemuin Gary, DAN CEPET! Kalo kita terlambat, nggak ada lagi yang namanya kehidupan di Battleworld!”

……………..

~To Be Continued… In The NEXT SEASON~

By : @ahmabad25

Note from Author :

Heyhow! Sori untuk keterlambatan akhir-akhir ini. Muncul-ngilang, muncul-ngilang, mulu ya? Udah kayak tukang bakso kompleks XD wkwkwk. Mau ada sedikit pengumuman nih dari gue. Sesuai dengan tulisan di atas, gue bakalan vakum dari dunia tulis menulis dalam jangka waktu yang tidak menentu. Bisa beberapa bulan, tahun, atau mungkin selamanya. Pokoknya nggak pasti. Jam terbang gue di dunia nyata udah lebih padet dari pas jaman-jaman gue SMA. Kuliah, part-time, istirahat, dan waktu untuk melakukan hobi dan nulis terpaksa gue korbanin.

Kayaknya itu aja. Mungkin season 2 bakalan gue lanjut sampai jam terbang gue udah nggak terlalu padet kayak sekarang dan mungkin juga nggak bakalan update di blog ini lagi, tapi di tempat lain. Sekian dari gue, untuk pembaca setia X-World dan orang-orang yang udah terlibat selama pembuatan FF ini gue ucapkan terima kasih banyak. Special thanks untuk owner dan admin blog KOG. And… Farewell!~

Iklan

2 tanggapan untuk “X-World, Side Story (6) : Logan – Coincidence (Pt.3)

  1. JANGAN THOR JANGAN !! nih cerita ff action adventure paling seru keren menegangkan mengerikan mengenaskan penasaran pokoknya bagus deh .gue doain deh biar ada sedikit waktu luangnya buat nulis di sela-sela kesibukannya .ge berharap sih enggak putus si tengah jalan biar vakum nya lama sih gakpapa lagian gue bacanya juga selalu ketinggalan sama updetnya. . jangan sampai gk tamat thorr semangat !! kasian kan idenya nanti membusuk di otak loe hehehe. ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s