Silat Boy : Pemimpin Pemberontak Part 36

CnJGPUtWgAEeomp

Esoknya Rusdi terbangun di sebuah rumah tua yang cukup besar, disana
ada dua lantai. Mungkin ada banyak kamar di rumah itu. Ia dikelilingi
oleh orang asing yang menatapnya tajam.

Ia terbangun dalam posisi berdiri dan kedua tangannya diikat ke
belakang tiang kayu. Orang-orang itu memegang senjata. Entah siapa
mereka sebenarnya. Apa mungkin mereka teroris? Entahlah.

“Reza…” Rusdi mendengus pelan melihat Reza dipojokan sana.
“Siapa kau?” tanya seorang wanita yang bernama Ghaida.
“Kalian teroris!” Rusdi sedikit berteriak.

“Kami bukan teroris! Kami adalah pemberontak yang menentang
ketidakadilan di kampung ini! Orang luar dilarang masuk kesini lagi!”
Ghaida balas berteriak.

“Kami tidak akan membiarkan salah satu teman kami mati ataupun
disakiti. Kau akan kami eksekusi karna telah menghina kami dengan
berbuat kasar pada teman kami, Reza!” Ghaida memompa senjatanya.

Ghaida bersiap menembak Rusdi, sementara yang akan ditembak hanya diam
dan tidak melawan. Wajar saja, ia sama sekali tidak bisa bergerak.
Tangannya diikat amat kuat, sementara kakinya tidak bisa apa-apa
selain menendang udara.

“Kau akan mati, dan temanmu itu pun akan kami tangkap. Lalu dia akan
berakhir sepertimu, ditembak mati olehku.” Ghaida tertawa, lalu
bersiap menembak Rusdi.

“Hentikan!” potong Reza, lalu ia menghadap Ghaida.
“Kenapa? Kenapa kau menggangguku?” Ghaida terlihat marah, sementara
Reza hanya diam dihadapannya.

Tujuan Reza adalah menghentikan eksekusi itu. Ia tidak mau Rusdi mati,
ia ingin pulang bersamanya. Lalu memeluk adik dan kedua orang tuanya
yang telah lama ia tinggalkan.

“Kenapa? Kenapa kau diam saja!” teriak Ghaida.
“Aku…” Reza terbata-bata.
“NONA DATANG!!!” teriak seseorang, mereka terkesiap.

Lalu mereka semua bersiap menyambut pemimpin mereka. Pemimpin
pemberontak akhirnya menampakkan dirinya. Mereka lalu menghormat saat
pimpinan mereka membuka pintu.

Pemimpin mereka mengenakan jubah hitam beserta kupluk. Lalu ia
menghadap Ghaida dan Reza yang masih menghormat. Lalu pimpinan itu
membuka kupluknya, disertai dengan semua orang tidak menghormat lagi.

Ternyata pimpinan mereka seorang wanita cantik, ia terlihat imut
sekali. Ia datang didampingi dua ajudannya yang berbadan besar. Yap,
dua orang itu adalah orang yang pernah Rusdi dan Boim kalahkan waktu
itu.

“Lepaskan dia!” perintahnya.
“Tapi… dia kan…” Ghaida terlihat bingung.
“Sudahlah lepaskan saja ikatannya, biarkan dia bebas.” Ghaida lalu
melepaskannya.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian semua.” ucapnya.
“Tapi sebelum itu, perkenalkan namaku Yupi. Aku adalah pemimpin
pemberontak!” Rusdi kemudian berjabat tangan dengan Yupi.

“Nona Yupi! Hati-hati dengannya! Dia jauh lebih hebat dariku!” Ghaida
khawatir, sementara Yupi hanya tersenyum simpul.
“Tidak apa-apa Ghaida, dia sebenarnya orang baik.” balas Yupi.

“Aku tau kau yang sebenarnya. Jadi kau itu adalah pahlawan desa kan?
Penyelamat penduduk dari kelicikan Taipan, iya kan?” tanya Yupi
disertai senyum manisnya.

“Bagaimana mungkin kau mengenalku?” Rusdi terlihat bingung, sementara
Yupi kembali tersenyum kemudian menatap para pemberontak.
“KALIAN SEMUA DENGARKAN AKU!!!” teriaknya.

“MULAI SEKARANG TIDAK ADA LAGI TAWANAN! DIA ADALAH PAHLAWAN DARI LUAR
DESA YANG TELAH MENYELAMATKAN SATU DESA DARI KELICIKAN TAIPAN!!!”
teriak Yupi.

“DAN MULAI SEKARANG DIA AKAN MENYELAMATKAN DESA KITA INI DAN
MENGULANGI AKSI HEROIKNYA!!!” teriaknya.
“Apa-apaan ini?” Ghaida semakin terlihat bingung.

“Bagaimana mungkin kalian tidak tau beritanya? Dia sudah sangat
terkenal, pahlawan dari Jakarta yang pernah mengalahkan petinju
raksasa dari Amerika dan menyelamatkan satu desa.” Yupi tidak
berteriak lagi.

“Pendekar Silat ini harus diberi apresiasi, malam ini aku akan
menjelaskan semua kejadian itu padanya. Dia pasti akan membantu kita.
Bagaimana? Apa kau mau membantu kami?” tanya Yupi.

“Aku hanya punya waktu 3 hari untuk kembali. Mereka tidak akan
membiarkanku membawa Reza dengan mudah. Baiklah, aku akan bermain-main
sedikit dengan mereka.” gumam Rusdi dalam hati.

“Kenapa kau diam? Oh baiklah, mungkin aku harus menjelaskannya dulu.”
Yupi tertawa.
“Akhirnya dia selamat!” gumam Reza dalam hati.

Tiba-tiba ada seseorang menendang pintu Rumah itu dengan sangat kuat,
hingga pintunya terbanting keras. Dan ternyata dia adalah Boim.
Seketika para pemberontak memompa senjatanya, lalu mengarahkan senjata
itu pada Boim.

“Hentikan! Dia pasti rekan Rusdi, jadi jaga sikap kalian.” ucap Yupi,
lalu mereka kembali menurunkan senjatanya.
“Boim?” Rusdi terlihat kacau, lalu Boim menghampirinya.

“Ini tas milikmu! Maaf lama menunggu, aku harus mengambil tas itu
dulu.” balas Boim.
“DIA YANG MEMUKULIKU!!!” teriak Addyn, lalu ia menghadap Yupi.

“Nona Yupi, kau pernah bilang kita semua adalah saudara. Kau tidak
akan membiarkan seseorang membunuh ataupun berbuat kasar pada kami.
Dan dia berbuat kasar padaku, kenapa kau membiarkannya?” Addyn
terlihat marah, sementara Boim hanya menatapnya tajam.

“Nanti dulu ya, dia mungkin bisa membantu kita saat ini.” Yupi kembali
tersenyum.
“Tapi…” saat Addyn hendak berkata, tiba-tiba Yupi mencium pipinya.

“Nona… kau?” sebelum Addyn menyelesaikan kalimatnya, Yupi lebih dulu
memukulnya hingga pingsan.
“Astaga, dia kuat sekali!” gumam Rusdi, Boim pun terkejut karenanya.

Semua orang hanya diam, mereka tidak berani berkata apapun lagi.
Mungkin itulah alasan kenapa ia menjadi pemimpin pemberontak. Karena
ia sangat kuat. Atau mungkin ada alasan lain, entahlah.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s