Zombie…, Part1

SMA Harapan Bangsa, Jakarta. 09.00 WIB.

Wabah DBD yang sedang marak akhir-akhir ini menjadi penyebab banyaknya murid-murid SMA Harapan Bangsa tidak masuk sekolah. Bisa dihitung dari setiap kelas mungkin ada tujuh sampai sembilan murid yang tidak hadir. Pemerintah pun menghimbau untuk semua warga agar menggunakan pakaian yang melindungi tubuh dari gigitan nyamuk, penggunaan jaket serta celana panjang sangat dianjurkan.

“Shan… kok bengong?” tanya seorang cewek yang menggunakan jepit rambut berwarna ungu.

“Tiba-tiba kepikiran sama adek aku aja yang dirawat di Rumah Sakit,” jawab Shani.

“Ya udah pulangnya kita ngejenguk adek kamu aja, entar aku temenin deh,” ucap Gracia yang biasa dipanggil Gre itu.

“Gracia! Shani! perhatikan kalau saya lagi menerangkan!” ucap guru Fisika yang sedang mengajar dikelas itu.

“Ah, I..iya maaf pak.” Gracia dan Shani pun menundukan kepalanya.

“Hey Santo! Kamu juga malah lihat terus ke arah jendela, perhatikan kalau saya lagi bicara didepan!”

Santo masih saja fokus melihat ke arah jendela, seakan ia menghiraukan perkataan gurunya itu. Padahal guru yang sedang mengajar dikelasnya terkenal killer seantero sekolah.

“Hey Santo!” namun Santo tidak sedikitpun melirikan matanya ke arah guru.

“Lihat ke arah luar jendela pak, ada yang aneh disana.” Santo menunjuk sesuatu dari luar jendela.

“Sudah biarkan saja yang ada diluar,” ucap pak guru.

“Serius pak itu ada yang aneh diluar, ada orang gila masuk ke area sekolah,” ucap Santo.

“Eh… iya ya, kok ga ditutup gerbangnya?” tanya Shani.

Guru Fisika itu pun kemudian melihat ke arah jendela. Kini dilapangan ada seorang lelaki tua dengan pakaian yang sangat kotor berjalan sambil menyeret kakinya. Hal aneh yang sangat jarang terjadi di SMA Harapan Bangsa.

Tidak lama kemudian seorang petugas keamanan mencoba mengamankan lelaki tua itu, namun apa daya si petugas didorong hingga terjatuh. Seorang guru lelaki yang sedang mengajar pelajaran olahraga dilapangan pun ikut membantu sang petugas keamanan. Si guru olahraga berusaha untuk menggiring lelaki tua itu untuk meninggalkan sekolah. Sialnya lelaki tua itu melawan dan menggigit telunjuk milik sang guru olahraga.

“Aaaaaa!!!!!”

Jeritan itu memancing perhatian warga sekolah. Murid-murid yang sedang berolahraga dilapangan pun mendadak berhamburan dan pergi ke dalam gedung sekolah. Terlebih saat melihat kenyataan telunjuk guru olahraga mereka digigit sampai putus oleh seorang pria yang tidak tahu asalnya darimana.

Tak jauh dari tempat guru olahraga yang sedang kesakitan, seorang petugas keamanan bersiap memukul pria tua itu. Tongkat pun diayunkan dan bersarang dipipi kiri si pria tua. Petugas keamanan itu pun langsung menendang si pria tua tadi hingga tersungkur cukup jauh. Sama halnya seperti tadi, pria itu bangkit dan berusaha menghampiri si petugas keamanan dan si guru olahraga.

“Ada ribut-ribut apaan ini?” tanya seorang petugas kemanan yang baru datang ke gerbang depan.

“Cepat bawa Pak Harry ke ruang UKS!” perintah si petugas keamanan yang tadi melawan si pria tua.

“Eh… Eh… tapi ada apa?” tanya si petugas keamanan yang baru datang.

“Lihat jarinya! Pokoknya jangan banyak tanya lagi! Sekalian panggil pak Jono yang ada ditaman belakang, suruh datang kesini!” ucap si petugas keamanan yang hendak melawan si pria tua yang entah dari mana asal-usulnya.

“Ba… Baik!”

Petugas yang baru datang itu langsung membopong si guru olahraga pergi menuju UKS. Insiden aneh yang terjadi pagi ini benar-benar mengundang penasaran warga sekolah, dari gedung sekolah yang menghadap ke arah lapangan kini murid-murid sedang asik melihat kejadian yang dirasa tidak wajar ini.

Tak hanya kelas Santo, Shani dan Gracia saja tapi beberapa kelas lainnya pun ikut menonton kejadian ini. Semua murid berkerumun didekat jendela, mencoba melihat setiap kejadian aneh itu. Tapi mereka semua hanya bisa diam setelah melihat salah seorang guru mereka digigit hingga jari telunjuknya terputus.

“Rawrrrr!!!!” teriak si pria tua itu.

Tanpa tinggal diam si petugas keamana langsung berlari dan kembali memukul pria tua itu hingga terpental, berharap ia bisa terus memukulnya hingga keluar gerbang sekolah. Beberapa kali mendapat pukulan dan terpental tapi pria tua itu tetap bangkit dengan gelagat yang sama, berjalan dengan mulut terbuka lebar sambil berteriak-teriak tidak jelas.

“Rasakan ini!” si petugas keamana kembali mengayunkan tongkatnya dan benar saja, kini si pria tua itu langsung terpental hingga keluar gerbang sekolah.

“Ada apa ini Pak Tono!” tanya seorang petugas keamanan yang berbadan cukup besar.

“Cepat tutup gerbangnya pak Jono, jangan biarkan orang itu masuk lagi!” ucap si petugas keamanan yang berhasil memukul pria tua itu sampai keluar gerbang.

Dengan cepat petugas keamanan yang bernama Jono itu langsung menutup gerbangnya rapat-rapat tapi setelah gerbang ditutup, pria tua tadi kembali bangkit dan mencoba mendekati Pak Tono serta Pak Jono. Meskipun tidak bisa masuk ke dalam area sekolah, tapi pria tua itu terus meronta-ronta dan berteriak-teriak dari luar gerbang.

Kini bercak darah menghiasi lapangan dan juga seragam putih milik pak Tono. Pak Tono dan Pak Jono terus berdiam diri depan gerbang sekolah sambil melihat ke arah pria tua yang mencoba masuk kedalam area sekolah lagi.

“Sebenenarnya dia siapa?” tanya Pak Jono.

“Mana saya tahu, dia mendadak masuk ke area sekolah, dan juga gara-gara dia Pak Harry jadi korbannya,” ucap Pak Tono.

“Pak Harry!?” heran Pak Jono.

“Ya, anda lihat noda darah yang ada diseragam saya? Ini noda darah Pak Harry juga, jari telunjuk dia digigit oleh pria tua itu sampai putus dan darahnya menyemprot ke arah seragam saya ini,” ucap Pak Tono.

“Gila! Sebenarnya dia ini siapa?” tanya Pak Jono.

“Saya juga tidak tahu, yang pasti kita berdua harus berjaga disini dulu jangan sampai dia atau pun orang seperti dia, kembali masuk area sekolah,” ucap Pak Tono.

“Baik!”

Tanpa sepengetahuan guru Fisika mereka, Gracia dan Shani pergi keluar kelas. Disetiap kelas yang mereka lalui, semua murid masih saja melihat ke arah jendela dan jarang sekali ada murid yang berjalan dikoridor sekolah.

“Aneh-aneh segala kamu Gre, padahal kan aku mau lihat kejadian itu,” ucap Shani.

“Gimana lagi udah kebelet pengen ke toilet, yuk cepet!” Gracia pun menarik tangan Shani.

“Jangan lari-lari Gre!” ucap Shani.

Saat didalam toilet cewek, Shani pun memainkan handphonenya dan membuka beberapa sosial media miliknya.

“Ada apaan Shan?” tanya Gracia.

“Ah engga, lagi twitteran aja, tapi ga ada yang menarik di timeline,” ucap Shani.

“Rawwwrrrr!!!!!”

Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar sampai kedalam toilet cewek. Shani dan Gracia pun saling berpandangan, mereka berdua pun buru-buru pergi meninggalkan toilet cewek itu. Saat ingin menuju tangga langkah mereka berdua tiba-tiba terhenti, dari ruang UKS sebelah tangga keluar Pak Harry dengan dandanan acak-acakan, jaket training putihnya dihiasi noda darah.

“Cepat kalian lari! Jangan dekati Pak Harry!” ucap seorang perawat yang merangkak keluar dari UKS.

“Tunggu apalagi, cepat lari!” ucap perawat itu.

Pak Harry yang bersikap aneh itu mulai mendekati Shani dan Gracia, dengan perlahan mereka berdua pun berjalan mundur. Kini kondisi Pak Harry benar-benar mirip pria tua yang mengamuk dilapangan sekolah, gigi yang terbuka lebar dengan mata yang tidak menampakan bentuk pupilnya menjadi keanehan tersendiri.

“Gre sekarang kita harus gimana?” tanya Shani pelan.

“Hitungan ketiga kita langsung lari kebelakang.” Shani hanya menjawab dengan anggukan.

“Satu… dua… tiga!”

Secepat kilat mereka berdua berusaha lari meninggalkan Pak Harry. Gracia dan Shani pun berlari ke arah tangga disudut lain gedung ini, mereka berdua terus berlari sampai tiba dikelas mereka.

“HAH… HAH…”

“Hey…. Gracia dari mana saja kamu?” tanya guru fisika, nampaknya pelajaran kembali dilanjutkan.

“Hah… Pak Harry mulai kaya pria tua yang tadi! Hah…,” ujar Gracia.

“Jangan bercanda kamu,” jawab si guru fisika.

“Hah… Hah… serius pak, Gracia ga bohong,” bela Shani.

“AAAAA!!!!!”

Tiba-tiba jeritan seorang cowok terdengar sampai lantai dua gedung sekolah itu. Murid-murid dikelas Gracia tiba-tiba saja terdiam, mereka mendadak seperti percaya dengan perkataan Shani dan Gracia tadi. Wajah guru fisika yang menentang perkataan Gracia juga menjadi ikut ciut, terlebih setelah peristiwa pagi ini yang terjadi disekolah mereka.

“Buruan keluar dari kelas! Kelakuan pak Harry udah mirip pria tua yang tadi dilapangan, dia baru aja ngegigit salah satu murid dilantai dua sampai lengannya putus,” ucap seorang murid yang berteriak dari luar kelas Shani dan Gracia.

Keadaan mendadak jadi ricuh, tanpa mendengarkan perkataan guru semua murid berhamburan meninggalkan kelas. Gracia dan Shani pun ikut berlari meninggalkan kelas. Saat mereka berbondong-bondong pergi ke tangga lainnya, diujung tangga sudah ada seorang perawat UKS yang sedang menggigit seorang murid.

Murid itu nampak kesakitan, leher kirinya digigit oleh si perawat. Beberapa murid yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dan terkejut dengan peristiwa yang ada dihadapan mereka, terlebih kini mulut si perawat itu sudah bermandikan darah dari si murid yang menjadi korbannya.

Saat si perawat telah melepaskan gigitan dari si murid yang menjadi korbannya. Si perawat itu mulai melangkahkan kakinya ke atas tangga, tepat menuju ke lantai dua. Murid-murid yang berada diujung tangga langsung berhamburan menuju tangga lainnya, sial bagi mereka ternyata disana sudah ada pak Harry yang telah menggigit beberapa murid dilantai dua itu. Beberapa murid terlihat tergeletak seperti tak bernyawa, lantai dikoridor itu kini mulai dikhiasi warna merah darah.

“Shan… gimana ini?” tanya Gracia.

“Aku juga ga tau Gre,” jawab Shani.

“Lari ke lantai tiga! Kita lewat lorong yang nyambungin gedung baru sama gedung lama!” ucap seorang guru yang berada di lantai dua itu.

Dengan sekejap murid-murid berbondong-bondong naik ke lantai tiga, sesampainya di lantai tiga murid-murid disana sudah terlebih dahulu pergi melewati lorong yang menghubungkan gedung baru dan juga gedung lama.

“Gila! Gila! Gue harap ini cuma mimpi!” teriak Santo.

Santo yang sudah berada digedung lama bukannya pergi menuruni tangga seperti yang lainnya, ia malah naik ke lantai empat dan bersembunyi disalah satu ruangan. Pintu geser ruangan itu pun terbuka.

“HEH!? Ngapain lo disini!?” tanya Santo saat melihat seorang pemuda sedang duduk disebuah kursi sambil membaca buku dan juga mendengarkan musik lewat headsetnya.

“Hey Edho!” Santo pun mendekati Edho dan melepas headsetnya.

“Apaan sih!?” tanya Edho heran.

“Gila ini anak! Lo ga tau apa, diluar lagi kacau, banyak orang yang berubah jadi kaya zombie!” ucap Santo.

“Zombie? Maksud lo apaan sih, ga mungkin kali ada hal yang begituan,” ucap Edho.

“Ikut gue.”

Santo pun mengajak Edho ke arah jendela yang mengarah ke lapangan sekolah, tirai yang menutupi jendela itu ia buka sedikit dan sekarang Edho sudah bisa melihat ke arah lapangan sekolah. Mata Edho tidak bisa berkedip setelah melihat pemandangan yang ada didepan matanya.

Segerombolan anak berkumpul sudut lapangan dan disudut lain ada beberapa anak yang berjalan dengan menggunakan pakaian yang telah dikhiasi noda darah diseragamnya. Anak yang memakai seragam bernoda darah itu berjalan mendekati segerombolan murid yang terpojok, beberapa murid ada yang nekat untuk kabur dengan cara memanjat pagar sekolah, padahal pagarnya itu cukup tinggi.

Edho kini menyaksikan ada seorang murid yang tertangkap dan digigit bagian tubuhnya, murid itu meronta-ronta dan meminta pertolongan, tapi apadaya tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Seketika murid yang tertangkap itu pun terlah tergolek lemas dilapangan dengan noda percikan darah akibat gigitan.

“Lo udah liat kan?” tanya Santo.

“Gila! Gue ga mau mati!” ucap Edho.

“Gue ga nyangka ternyata zombie itu beneran ada,” ucap Santo terduduk lemas.

Pintu ruangan perpustakaan itu tiba-tiba terbuka, dua orang gadis baru saja masuk kedalam ruangan dengan napas yang masih belum beraturan.

“Gracia, Shani?” tanya Santo.

“Hah… Hah….” Shani masih saja belum bisa mengatur napasnya.

“Heh!? Edho, Santo? Buruan bantuin aku geser rak buku itu buat nutupin pintu ini,” ucap Gracia.

“Ah… iya-iya!” ucap Santo.

Gio, Gracia, dan Santo pun mengunci pintu perpustakaan itu, dan mereka juga menyeret rak buku yang berukuran raksasa sehingga menutupi pintu masuk sebagai satu-satunya jalan masuk dan keluar dari ruangan ini.

“Shan kamu ga apa-apa?” tanya Gracia.

“Hah… udah aga mendingan kok, sumpah capek banget aku kira aku bakalan mati,” jawab Shani.

“Murid-murid lain pada kemana?” tanya Edho.

“Kebanyakan pada turun kebawah, ya kita berdua lebih milih sembunyi disini, lagian si Shani udah ga kuat lagi buat lari,” ucap Gracia.

“Ya udah kita sembunyi aja disini dulu.” Gracia, Shani dan Edho pun hanya mengangguk pelan.

*to be continued

 

 

 

 

 

 

Iklan

9 tanggapan untuk “Zombie…, Part1

  1. Waaaaaah~ Sugoiii papah! apdet tiap hari dong, kan yang di storial udah tamat.

    kata mamah jan pulang lama-lama, ntar gak dibolehin tidur di kamar!

    Suka

  2. Agak mirip High School of The Death… but bagus ceritanya, soalnya ada Shani sama Gre, semoga gak mati deh diantara mereka berdua hahah… keep writing!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s