“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 10

Keesokkan harinya, kini Viny tengah duduk sendirian di kantin. Ia belum masuk ke dalam kelasnya, karena belum dimulai jam kuliahnya. Viny mengaduk-ngaduk minuman yang ia pesan sedari tadi, pikirannya melayang pada kejadian kemarin. Dimana ia bertemu dengan Shania, dan Shania meminta bantuan padanya untuk bertemu dengan Robby.

Viny menghela nafasnya pelan, ia harus membantu Shania karena ia sudah berjanji padanya kemarin bahwa ia akan membantunya. Viny bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kantin. Nanti ia akan merencanakan pertemuan Robby dan Shania, dan sekarang harus mengajak Robby jalan terlebih dahulu.

“Semoga aja sih nanti mau,” ucap Viny dalam hati.

Viny berjalan menuju kelasnya dengan santai, setelah tiba di kelasnya ia pun masuk dan mengikuti mata kuliah yang sangat-sangat ia sukai..

Setelah selesai, ia berjalan menuju ke depan. Karena Aldy sudah menunggunya di sana, tetapi tiba-tiba saat di depan..

“Viny!”

Viny pun menoleh kearah sumber suara tersebut. Viny mengernyitkan dahinya ketika melihat orang yang memanggilnya, orang tersebut berjalan menghampiri Viny.

“Kenapa Beb?” tanya Viny.

“Aku mau ngomong sama kamu, ini penting.”

“Tentang apa?”

“Udah, gak usah banyak nanya. Nanti kamu juga tau sendiri,” ucap Beby.

“O-oke.”

“Yaudah, duduk di situ yuk.” Jari telunjuk Beby mengarah pada sebuah kursi yang terletak tidak jauh dari posisi mereka sekarang.

Viny mengangguk, kemudian mereka pun berjalan ke kursi tersebut. Dan mereka duduk di kursi tersebut.

“Mau ngomongin tentang apa Beb?”

“Gini Vin, kemarin kamu ketemu sama Shania kan?”

Viny terdiam, kenapa Beby bisa tau kalau ia kemarin bertemu dengan Shania? Apa jangan-jangan Beby sudah tau kalau Shania sudah pulang? Pikir Viny.

“Iya, aku ketemu dia kemarin di café. Kenapa? Jangan bilang, kamu udah tau kalau dia udah pulang?” tebak Viny.

Beby mengganguk, “Iya, tapi itu juga gak sengaja waktu itu ketemu sama dia.”

“Kenapa gak bilang Beb?”

“Bukannya gak bilang Vin, tapi aku mau ngebiarin dulu. Aku mau dia ketemu sama Robby dulu, eh malah ketemu sama kamu duluan.” Beby menggeleng-gelengkan kepalanya. “Eh iya, kamu mau bantuin aku buat ngejalanin rencana ini?”

“Aku udah mau ngebantuin dia, kemarin dia minta tolong sama aku. Yaudah, aku mau bantuin dia sama Robby,” ucap Viny.

“Jadi kapan?” tanya Beby.

“Kapan apanya?” tanya Viny polos.

Beby menghela nafasnya, “Kapan kamu mau ngejalanin rencana buat Robby sama Shania.”

“Oh, itu ya. Nanti deh, aku kabarin lagi. Soalnya masih bingung gimana buat ngajak Robbynya.”

“Yaudah, kalau ada apa-apa kabarin aku Vin,” ucap Beby.

Viny mengangguk.

“Jangan bilang-bilang sama yang lain Vin, soal ini.”

“Oke.” Viny bangkit dari duduknya. “Kalau gitu, aku duluan ya Beb. Nanti aku kabarin lagi.”

Beby juga bangkit dari duduknya, “Aku juga mau ke depan ini, bareng aja Vin.”

Mereka pun berjalan bersama ke depan, Viny mengitari pandangannya mencari Aldy. Dan ia melihat Aldy yang sedang memainkan handphonenya.

“Beb, aku duluan ya,” ucap Viny.

Beby mengangguk, “Hati-hati Vin.”

Viny pun menghampiri Aldy yang sedang asik memainkan handphonenya itu.

“Lama ya nunggunya?”

Aldy mendongak ketika ada suara yang mencuri perhatiannya.

“Enggak kok, baru juga tadi. Yaudah yuk, pulang.” Aldy memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya.

Viny mengangguk, “Yuk pulang, biar cepet kelar juga ngerjain tugasnya.”

Mereka pun berjalan bersama menuju parkiran, sedangkan Beby masih menatap Viny dari kejauhan.

“Semoga aja ini bisa membantu,” ucap Beby dalam hati.

~

Seminggu kemudian. Seperti yang telah direncakan oleh Beby dan Viny, kini mereka sedang mencoba melaksanakan rencana mereka. Dengan mengajak Robby jalan-jalan, dan tentunya nanti ia akan dikejutkan dengan Shania yang datang menghampirinya.

“Tumben banget ngajak jalan Beb, kenapa gitu?” tanya Robby.

Ya, Robby kini tengah bersama Beby entah pergi kemana.

“Gakpapa sih, lagi bosen soalnya. Yang lain diajak pada ga mau, jadi ya kamu aja deh Rob yang aku ajak,” jawab Beby.

Robby mengangguk-nganggukan kepalanya, “Terus, ini kemana?”

“Ke cafe aja gimana?”

“Boleh deh, sekalian makan ya? Belum makan soalnya Beb.”

“Yaudah, ke café Bistro aja Rob,” ucap Beby.

“Oke.”

Mereka pun menuju café yang disebut oleh Beby, sesampainya di café tersebut. Mereka pun masuk ke dalam café, dan berjalan mencari-cari tempat duduk. Dan mereka duduk tepat di samping kaca yang terletak di pinggir.

“Mau mesen apa?” tanya Beby yang melihat-lihat buku menu.

“Ngg, aku sirloin steak crispy minumnya red apple aja deh,” jawab Robby.

“Itu aja?”

Robby mengangguk. Kemudian Beby pun menuliskan pesanan mereka di sebuah buku kecil yang telah disediakan di meja mereka. Setelah selesai, Beby memanggil waiters dan memberikan buku kecil tersebut pada waiters. Dan waiters tersebut pun masuk ke dalam, untuk menyiapkan pesanan mereka.

“Rob?” panggil Beby.

“Hm?”

“Aku mau ngomong serius sama kamu,” ucap Beby.

“Ngomong apa?” tanya Robby.

“Perasaan kamu sama Shani gimana sih? Aku liat kalian makin deket, dari beberapa minggu yang lalu deh ya kalau gak salah.” Beby menatap Robby.

Robby menghela nafasnya pelan, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi, “Entahlah Beb.”

“Maksud kamu?”

Robby menegapkan posisi duduknya, “Kalau aku punya rasa sama Shani gimana menurut kamu?”

Beby membebelakan matanya, “K-kamu punya rasa sama Shani?”

“Gak tau juga sih Beb,” lirih Robby.

“Terus Shania gimana?”

Robby menggelengkan kepalanya, “Aku gak tau Beb.”

“Misalnya Shania balik lagi nyari kamu gimana?” tanya Beby serius.

“Aku gak tau, aku berharap banget kalau Shania ada di sini. Tapi nyatanya? Enggak ada kan? Tapi kalau emang benar dia nyari aku, dia pasti udah ketemu sama aku kemarin-kemarin Beb.”

“Mungkin dia takut kali sama kamu,” celetuk Beby.

“Takut?”

Beby mengangguk, “Ya, takut. Kan dia gak ngabarin kamu selama setahun bahkan lebih ya? Jadi dia takut kalau kamu marah mungkin?”

“Entahlah, mungkin juga gitu. Tapi kalau ada masalah jadi gak bisa ngehubungin, ya aku pasti ngerti lah Beb,” ucap Robby.

“Iya sih, dia juga kalu ketemu sama kamu pasti ngejelasin semuanya kali,” ucap Beby.

“Tinggal kamunya aja lagi nanti gimana sama dia, pas dia udah ngejelasin semuanya,” tambah Beby.

Robby menghela nafasnya pelan, ia jadi kepikiran tentang hubungannya dengan Shania. Ia masih berpacaran dengan Shania, tetapi tidak saling berbuhungan. Kalau ia bersama Shani dan menjalin hubungan bersamanya, berarti ia telah menghianati Shania kan?

Di tempat yang sama, tetapi berada jauh dari tempat duduk Robby dan Beby. Dua orang perempuan kini tengah mengamati mereka, sedari mereka datang dua orang perempuan tersebut telah mengamati mereka.

“Masih lama ya?”

“Tunggu dulu Shan, Beby belum ngasih kode.”

Ya, mereka berdua adalah Shania dan Viny.

Shania mengerucutkan bibirnya, “Beby lama banget sih!”

“Sabar kali Shan, bentar lagi ini,” ucap Viny.

Shania terdiam sambil tetap melihat kearah mereka berdua. Ia menengok kearah pintu, saat ada orang yang masuk. Ia seperti merasakan bahwa orang itu akan mengganggunya, tapi entahlah mungkin cuma perasaannya..

“Kenapa Shan?” tanya Viny yang mengikuti arah pandang Shania.

“Gakpapa kok Vin.”

Viny terdiam, seperti Shania tadi ketika melihat orang yang baru masuk ke dalam tersebut. Orang tersebut berjalan melewati meja Robby dan Beby, tetapi saat baru beberapa langkah. Ia memutar tubuhnya dan memandang Robby.

“Robby?”

Viny yang melihat itu dari kejauhan hanya bisa berharap bahwa orang tersebut tidak akan menggagalkan rencananya dan Beby.

“Itu temennya Robby Vin?” tanya Shania.

Viny mengangguk, “I-iya itu temennya, temen aku juga sih.”

“Cantik ya.”

Viny menengok kearah Shania.

“Tapi kok aku ngerasa enggak enak ya sama dia?”

“Maksud kamu Shan?” tanya Viny.

“Entahlah, aku ngerasain kayaknya dia bakal ngegagalin semuanya deh.” Shania masih memperhatikan orang tersebut yang kini tengah duduk di samping Robby.

“Dia ngerasain juga kalau Shani itu saingannya deh,” ucap Viny dalam hati.

Ya, orang yang tengah duduk di samping Robby itu adalah Shani. Beby terus memakan makananya sambil mengawasi gerak-gerik mereka berdua.

“Ngapain di sini Shan?” tanya Robby.

“Abis beli buku tadi buat bacaan, terus ke sini deh kayaknya enak buat baca,” jawab Shani.

“Kamu udah lama di sini?” tanya Shani.

“Udah lumayan lama sih, ya kan Beb?”

Beby berdeham dan menganggukan kepalanya. Tanpa diduga, Shani mengapitkan tangannya pada tangan kiri Robby dan merebahkan kepalanya pada bahu Robby. Beby mengernyitkan dahinya, ini Shani emang manja atau hanya pada Robby saja begini? Tapi memang ia selalu melihat Shani bersama Robby begini..

“Shan! Eh, tunggu dulu! Shania! Arghhh.” Viny langsung mengejar Shania yang berjalan menuju meja Robby.

Beby yang mendengar suara tersebut pun, langsung tersontak kaget. Shania melihat ini, dan pasti akan gagal semuanya apabila Shania pulang. Tetapi kalau dia berjalan ke sini bagaimana?

Robby juga terdiam, ketika mendengar nama yang diteriakin oleh seseorang tersebut.

“Robby.”

Robby terdiam, ia mengenali suara ini. Suara yang ia rindukan dan suara yang selalu ia dengarkan dulu. Robby melepaskan tangan Shani, dan bangkit dari duduknya berbalik ke belakang.

“S-Shania?”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

4 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s