Iridescent Part 17

24526

POV SHANI

Sudah dari semalam dia gak pulang ke rumah, semua yang ada di rumah ini nggak ada inisiatif buat cari Willy. Aku nggak tau apa yang mereka pikirkan, kenapa tak ada usaha sedikit pun. Aku sekarang Cuma bisa mengurung kamar hari ini, nggak ada yang bisa aku lakukan.

Tok tok tok ….

Sebuah ketukan pintu kamar ku dengar.

 

“Shan…. Shani, buka pintunya Shan!” teriak seseorang dari luar, suaranya tak asing buatku.

Aku berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu, orang itu adalah Gaby, tapi kenapa wajahnya kelihatan panik sekali.

 

“Shan. Willy udah ketemu!”

“Apa?! Kamu gak bercanda kan!”

Aku kaget dengar Gaby mengatakan itu, tapi perasaanku senang dan lega kalau Willy udah ketemu.

 

“Aku serius, Willy ternyata kemarin menginap di rumah Viny. Dan tadi pagi dia sama yang lain pergi ke pantai, terus emmm ….”

“Terus apa Gab?!” tanyaku.

“Aku nggak tau detailnya gimana, tapi sekarang Willy ada di rumah sakit!” ucapnya.

 

DEG

 

“Ayo Shan, kita ke rumah sakit sekarang!” teriak Gaby.

“I iya Gab” jawabku.

Gaby langsung menarik tanganku, kami turun ke bawah dan bergegas keluar rumah, ternyata Kelik udah siap di dalam Mobil.

“Ayo buruan masuk” teriak Kelik.

Kami masuk ke dalam mobil, lalu mobil ini melaju menuju ke rumah sakit.

 

“Gab… Mama, Tante sama Kak Elaine kemana?” tanyaku.

“Mereka tadi lagi pergi ke Solo, tapi mereka udah perjalanan ke rumah sakit” jawab Gaby.

“Ini Willy masuk rumah sakit mana, sayang?” ucap Kelik bertanya ke Gaby.

“Ada di Bantul lah, rumah sakitnya yang terdekat sama pantai Cuma di sana!” balas Gaby.

“Kan masih jauh tuh dari kawasan pantai” ujar Kelik.

“Udah ah, kasian Shani nih…. jangan bikin orang panik deh, fokus ke jalan aja. Nanti Viny atau Kak Ve bakal kasih tau rumah sakitnya” ucap Gaby.

Aku udah nggak bisa menahan air mataku yang terus keluar. Gaby memelukku, aku takut Willy kenapa-kenapa. Semua hal dan banyak memori bersama dia, buat aku sedih dan menyesal. Kenapa aku harus tuntut dia buat pilih aku atau Kak Ve, seharusnya aku percaya sama Willy. Kami sudah tunangan, dan harusnya aku yakin dia pilih aku.

Aku harap kamu bisa bertahan, Willy.

 

“Ada chat Line nih dari Kak Ve, dia udah kasih tau nama rumah sakitnya. Aku tau dimana, nanti aku tunjukin jalannya. Agak cepetan ya, sayang. Ini Kak Ve suruh kita buruan” ucap Gaby tiba-tiba.

“Oke” balas Kelik.

Aku Cuma mendengarkan percakapan barusan, ternyata Kak Ve memang sayang sama Willy. Bahkan dia jauh lebih perhatian sama Willy, aku jadi ngerasa nggak pantas jadi tunangannya.

“Kamu tenang Shan, jangan khawatir. Kita bakal cepat sampai kesana kok” ucap Gaby.

“Iya Gab” jawabku singkat.

 

Sekitar kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di sebuah rumah sakit. Setelah mobil terparkir aku, Gaby dan Kelik buru-buru menuju ke IGD. Sesampainya disana aku lihat banyak teman-teman yang menunggu, termasuk Kak Ve. Dia kelihatan menangis sambil memeluk Kak Melody.

 

“Maaf kita terlambat datangnya” ucap Gaby.

“Gapapa, yang penting kalian udah datang sekarang. Kondisi Willy kritis sekarang, dia kehabisan banyak darah” ujar Kak Melody.

“Sebenarnya apa yang terjadi sama Willy, kenapa dia bisa sampai kritis gitu?” tanya Kelik.

“Dia… dia di tembak pakai pistol sama Verro. Entah gimana dia bisa dapat barang itu” ujar Shanji.

“Apa?!” Aku kaget mendengar ucapan Shanji barusan, menangis…. Cuma itu yang bisa aku luapkan.

“Yang tabah ya Shan, aku yakin dia anak yang kuat. Ga akan mudah nyerah gitu aja” ucap Gaby menenangkanku.

“Iya Shan, kita berdoa yang terbaik aja. Semoga Willy gak kenapa-napa” ujar Viny.

 

Tak lama seorang dokter keluar dari ruang IGD, wajahnya kelihatan lemas sekali. Apa ini sebuah petanda?

“Keadaan tunangan saya gimana Dok?” tanyaku dengan perasaan yang gak karuan.

“Nyawa nya tertolong walaupun dia sempat kehabisan banyak darah, kondisi sudah baik-baik saja. Dia sudah melewati masa kritisnya, sekarang dia butuh istirahat.  ” jawab Dokter itu.

“Syukurlah kalau dia selamat” ucap teman-teman.

“Dia sudah siuman, kalau mau besuk boleh aja. Dia minta keluarganya duluan yang masuk” ujar Dokter.

“Udah gue duga dia bakal selamat, Willy itu pendekar. Nggak mungkin mati walau di tembak sekali pun” gurau Shanji.

“Ih, ada-ada aja deh lo Shanji” ucap Gre menoyor Shanji.

“Aku mau masuk!” ucapku.

“Biar aku aja yang masuk!” ucap Kak Ve menghentikan langkahku.

“Kak Ve, aku ini tunangan dia. Jadi aku yang lebih berhak masuk duluan!” ucapku dengan keras.

“Ehh udah-udah dong, kalian berdua ini malah berantem sih!” ujar Kelik menengahi.

“Iya nih, jangan pada rusuh dong!” omel seorang cewek asing.

“Kamu siapa?!” tanyaku sewot, karna dia sama sekali nggak kukenal.

“Gue Tata, cewek yang di tolong sama tunangan lo. Jangan gampang marah, ntar cepat tua” jawabnya.

“Udah, begini saja, kalian boleh masuk tapi gantian ya. Kasian pasiennya nanti ke ganggu, dia juga kan berpesan agar keluarga nya dulu” ujar Dokter.

 

Lalu tiba-tiba seorang suster keluar dari dalam.

 

“Maaf Dok, pasien meminta saya untuk memanggilkan Shani dan Veranda.” Ucap Suster.

“Saya Shani”

“Saya Veranda”

“Tuh kan yang dipanggil kalian dulu kan ujung-ujungnya” celetuk Gaby.

“Dah sana, kalian berdua masuk. Ditunggu yang di dalam tuh” ucap Viny dan Gre.

 

Kemudian Kak Ve masuk duluan, aku langsung buru-buru menyusul masuk ke dalam. Pemandangan pertama yang kulihat adalah Kak Ve yang mengusap-usap pipi Willy, jujur aku cemburu melihat itu.

 

“Ciee yang lagi mesra-mesraan ….” ucapku.

“Shani….” Willy menatapku sesaat lalu mengalihkan wajahnya.

“Maaf soal malam itu, dia teman lama aku. Kamu pasti berpikiran yang engga-engga kan” tanyaku curiga.

“Ya, aku cemburu Shan” jawabnya tanpa memandangku.

“Terus sekarang gimana sama aku, apa aku nggak cemburu, nggak marah lihat kamu pacaran sama cewek lain?!” ucapku menanyakan ke Willy.

“Aku udah putus sama Willy, dia pilih kamu Shan. Dia pasti lebih sayang sama kamu, jangan sia-sia in dia Shan. Dan satu lagi, kalian jangan sering berantem” ujar Kak Ve.

 

Aku menatap Kak Ve, dia juga menatapku. Lalu dia tersenyum, aku baru tau mereka berdua putus. Lalu aku menatap Willy, dia ternyata peduli dan sayang sama aku. Memang seharusnya aku nggak menuntut dia memilih aku atau Kak Ve.

“Aku keluar dulu yah” pamit Kak Ve, lalu dia berjalan keluar. Aku menatap kepergian Kak Ve, ternyata dia memang orang yang baik.

“Udah kan sayang? Aku penuhi semua kemauan kamu” ucap Willy.

“Aku minta maaf, seharusnya aku nggak ragu soal kamu sayang sama aku atau enggak.” Ujarku.

“Gapapa, aku memang seharusnya gak pacaran sama cewek lain. Aku harus bersyukur udah punya yang ada di depan mata” ucapnya sambil meraih tanganku.

“Ih gombal nih pasti” balasku sambil menahan tawa.

“Oh ya, gimana masih sakit ya bekasnya?” tanyaku sambil melihat perutnya yang di perban.

“Masih sakit sedikit sih, sebenarnya peluru nya Cuma nyerempet doang, tapi tetep sakit. Banyak darah yang keluar, terus pingsan deh tadi” jawabnya sambil tersenyum.

“Kesrempet peluru sama aja kena kalii sayang” balasku.

“Mama sama yang lain kemana?”

“Mama, Tante sama Kak Elaine baru perjalanan kesini, kalau teman-teman ada diluar”

 

Aku lalu tiduran disamping Willy, kemudian aku memejamkan mata ….

“Kalau ngantuk tidur aja gapapa.”

“Iya, ini aku mau bobo’.” balasku.

 

 

SHANI POV END

 

 

~ ~ 0o0 ~ ~

 

Balik lagi ke lakon ….

 

Malam sudah tiba, keluarga gue udah datang ke rumah sakit juga. Mereka khawatir dengan kondisi gue setelah terkena timah panas dari pistol Verro.

Teman-teman masih ada di ruangan ini, gue sudah dipindah ke ruang rawat inap.

 

“Makasih ya Dek udah bantu aku sama Frieska, sampai-sampai kamu kaya gini” ucap Kak Melody.

“Gapapa Kak, tenang aja. Jangan terlalu di pikirkan” balas gue.

“Shani tidurnya pulas banget tuh, Wil.” ujar Gaby.

“Kepikiran sama lo mulu tuh anak” tambah Kelik.

“Oh ya, Ve mana?” tanya gue mencari-cari keberadaan Ve.

“Ciee, yang masih kepikiran sama Kak Ve” goda Shanji.

“Apaan sih lu, dasar” ucap gue.

“Ada yang lagi ngomongin Kakak gue nih” celetuk Gre yang menghampiri gue.

“Iya, gue lagi nyariin Kakak lo” balas gue.

 

Lalu Mama menghampiri gue, kemudian Mama mengusap kepala gue. Kasian Mama, gara-gara gue sakit jadi pada susah gini.

 

“Mama harus pulang, maaf ya malam ini kamu di temani Shani” ucap Mama.

“Gapapa Ma, pasti ada kerjaan ya….”

“Iya Nak”

“Mama pamit dulu ya” pamit Mama.

“Cepet sembuh Dek, Kakak besok kesini lagi” ujar Kak Elaine.

“Tante juga pamit ya” tambah Tante Margareth.

“Iya, hati-hati dijalan” balas gue.

 

Mama, Tante dan Kak Elaine lalu keluar, yang lain masih pada berbincang-bincang. Gue menoleh kearah Shani. Dia kelihatan sangat lelah sekali, gue mencium pipinya. Dia lucu kalau lagi tidur gini.

“Hoy, malah modusin ceweknya yang lagi tidur” ejek Gre.

“Biarin, kenapa lo. Mau gue cium sekalian” goda gue.

“Ih ogah ah, lu bukan selera gue!” balasnya.

“Kampretos -_-“ ucap gue.

“Eh kita pamit pulang dulu ya” ucap Kak Melody tiba-tiba.

“Makasih udah bawa aku kesini, kalau nggak udah gak bernyawa deh” ujar gue.

“Ih gak boleh bilang kaya gitu, dosa tau” ucap Viny.

“Denger tuh, Wil!” tambah Shanji mengompori.

“Tata pamit pulang ya….” ucap Tata lucu.

“Gue sama Gaby juga mau pulang nih, kasian dia ngantuk” pamit Kelik.

“Tega lu mau tinggalin gue sama Shani berdua doang” balas gue ngakak.

“Gak apa lahhh, besok gue bareng Kak Elaine sekalian” ujar Kelik.

“Oh ya, Tata hati-hati. Jangan salah cari cowok” ujar gue sambil tertawa.

“Lagian gue udah move on …. apalagi ada cowok yang gue taksir” ujarnya.

“Siapa?” tanya gue penasaran.

“KEPO”

 

Hahahahahaha

 

Semuanya pada ngetawain gue, anjir. Sakit aja tersiksa, apalagi kalau sehat. :v

Mereka semua pamit, disini tinggal gue sama Shani doang yang tertidur disamping gue. Daritadi gue kepikiran Ve terus, daritadi waktu teman-teman masih disini dia nggak kelihatan.

Waktu terus berjalan, sekarang sudah pukul 11 malam. Gak kerasa, tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka, lalu ada seseorang masuk.

 

“Hai” sapa orang itu.

Orang yang datang, ternyata adalah ….

“Ve, kamu kemana aja? Dari tadi aku cari gak ada” tanya gue.

“Aku tadi pulang duluan, gak ada yang tau sih. Lagian aku nggak pamit” jawab Ve.

Dia lalu duduk di kursi yang ada didekat gue. Ve kemudian tiba-tiba menatap gue sambil tersenyum.

“Kenapa? Kok senyum-senyum gitu” tanya gue sambil menyentil hidungnya.

“Gapapa, Cuma mau senyum aja. Emm sekarang kita gak ada status pacaran lagi yaa…. berasa temenan rasa pacaran nih” jawabnya terkekeh.

“Maaf aku putusin kamu, Ve” ucap gue menyesal.

“Aku boleh minta sesuatu ke kamu nggak, mantan?” tanya Ve menusuk-nusuk pipi gue dengan telunjuknya.

“Minta apa”

“Cium aku buat terakhir kalinya, setelah itu aku lupain kejadian selama kita pacaran” pinta Ve ke gue.

“Kenapa kamu minta itu….” ucap gue memastikan.

“Aku Cuma mau buat kenangan terakhir sama kamu” balasnya.

 

Ve memejamkan matanya, gue lalu mendekatkan wajah gue ke dia. Bibir kami saling bertemu, agak berlangsung lama ciuman itu.

“Emhhh”

Setelah mendengar itu, gue langsung menghentikan ciuman itu. Ve masih memejamkan matanya, unik lihatnya. Tak lama dia membuka matanya ….

“Kok berhenti sih, tanggung dodol” ucapnya lirih.

“Ada-ada aja deh kamu” ujar gue.

“Aku bohong soal tadi, aku nggak bakal lupain kamu. Sampai kapan pun, aku selalu berharap kita bisa sama-sama lagi” ucapnya lalu mengecup pipi gue.

“Dah tidur gih, aku bakal jagain kamu sama Shani” tambahnya.

Gue tertegun mendengar pernyataannya yang barusan itu, di sisi lain gue merasa bersalah dengan Ve.

“Ih disuruh tidur susah amat sih!” omel Ve.

“Iya iya, ini baru mau merem” balas gue.

 

Gue lalu memejamkan mata, pipi gue terasa di usap oleh seseorang. Pastinya itu Ve, semoga dia bisa menerima keputusan gue soal memilih antara dia dan Shani. Kalau jodoh juga nggak akan kemana …..

 

To be continued …..

 

 

Created By : Wilco (Authornya Gundam juga)

 

 

Note :

Inilah potongan part sebelumnya, maaf kalau kurang panjang. Maklum author juga manusia, terkadang gak Cuma nulis ff tapi juga hidup di dunia nyata. Next part diusahakan lebih panjang lagi….

Thanks udah mampir buat baca yaaa …..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nitip link thor…. 😀
https://karyaotakgue.com/announcement/

 

 

 

 

Iklan

11 tanggapan untuk “Iridescent Part 17

  1. Wah, ternyata udah menuju akhir cerita. Kenapa terlalu cepat sih *nangis ceritanya

    Pokoknya harus buat season 2 nya, Wil ….. lanjutkan :))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s