Silat Boy : Awal Pertikaian Part 35

CnJGPUtWgAEeomp

Pagi hari, Boim baru saja bangun tidur. Saat ia bangun, tiba-tiba Reza
hendak lari dibantu oleh dua temannya. Boim hendak berdiri, tapi salah
satu teman Reza memukul wajahnya hingga ia tersungkur menindih Rusdi
yang sedang tidur.

Setelah itu Reza dan kedua temannya lari ke dalam hutan lebih jauh
lagi. Rusdi terbangun, ia terkejut karna Boim tiba-tiba menindihnya.
Boim memegangi hidungnya yang sakit.

“Kau ini kenapa?” tanya Rusdi geram.
“Reza kabur!” jawab Boim.
“Kau ini bagaimana sih? Katanya gak bakal tidur, tapi kenapa kau
tidur?” Rusdi semakin geram.

“Maaf aku ketiduran.” balas Boim.
“Sudahlah, ayo kita kejar!” Rusdi kemudian mengejar Reza dan kedua
temannya, diikuti oleh Boim yang masih memegangi pipinya.

Mereka berdua terus mengejar Reza hingga jauh ke tengah hutan. Mereka
tidak ingat dengan barang bawaan mereka. Karna terburu-buru, mereka
begitu saja meninggalkan tas nya di gubuk itu.

Setelah kira-kira cukup jauh mengejar, akhirnya mereka berhenti
sejenak. Mereka kehilangan jejak Reza dan kedua temannya. Ah sial,
mereka juga baru ingat dengan tas yang mereka tinggalkan.

“Astaga! Tas kita ketinggalan!” Boim terlihat panik.
“Sudahlah, kita tidak punya waktu untuk kembali. Ayo kita selesaikan
tugas ini.” balas Rusdi.

“Maaf…” ucap Boim.
“Tidak apa-apa, kita masih punya waktu 4 hari lagi untuk menemukannya.
Itu lebih dari cukup, ia pasti masih belum jauh.” Rusdi hendak kembali
berlari, tapi seseorang menghadang mereka.

“Kau lagi kau lagi.” Rusdi terlihat bosan melihat orang yang sama yang
sebelumnya menghadang, tapi sekarang orang itu memegang sebuah tongkat
kayu.

“Disini adalah wilayahku, orang luar dilarang masuk hutan ini.” orang
itu kemudian mengacungkan tongkatnya kearah mereka, lalu menyerang
Rusdi dengan tongkat itu.

Rusdi menghindari serangan itu, lalu mundur beberapa langkah hingga
berdiri tepat di depan Boim. Rusdi menatapnya sinis, orang itu hanya
menyeringai seraya menantangnya.

“Aku akan melawannya, kau cari saja Reza.” Boim menyentuh lembut bahu Rusdi.
“Baiklah, hati-hati! Jaga dirimu baik-baik.” ucap Rusdi.

Rusdi berlari melewati orang itu. Orang itu hendak menyerang Rusdi,
Boim dengan cepat menahan tongkatnya. Rusdi berhasil melewati orang
itu. Selanjutnya Boim akan melawan orang itu.

“Siapa kau?” Boim perlahan melepaskan tongkatnya.
“Namaku Addyn, dan aku ditugaskan untuk menghadang kalian berdua
disini.” jawab orang yang bernama Addyn itu.

“Ini daerah Suku Sunda, jadi banyak yang menggunakan Bahasa Sunda.
Hanya sedikit orang yang bisa berbahasa Indonesia disini.” Addyn
tersenyum, lalu ia bersiap menyerang Boim.

“Ditugaskan? Jadi siapa pemimpin kalian?” tanya Boim.
“Kami adalah pemberontak yang ditugaskan dalam misi untuk merebut
teman kami kembali.” Addyn tidak menjawab pertanyaan Boim.

“Untuk apa kalian membutuhkan Reza?” tanya Boim.
“Itu karna kami tidak mau kehilangan satu pun anggota, kami adalah
pemberontak!” balas Addyn.

“Pemberontak? Pemberontak apanya?” Boim tertawa geli.
“Diamlah! Orang luar dilarang masuk daerah kami lagi!” Addyn kemudian
mulai menyerangnya.

Sementara itu, Rusdi masih berlari mencari keberadaan Reza. Ia sudah
tertinggal jauh. Ia begitu saja melepaskan targetnya. Ini akan sulit,
ia terpaksa harus menyusuri hutan itu.

Rusdi berhenti sejenak, napasnya terengah-engah. Tiba-tiba dari arah
belakang seseorang menyerangnya, tapi Rusdi reflek menghindari
serangan itu. Lantas ia menengok, dan ternyata yang menyerangnya
adalah Reza.

“Dengar! Aku akan membawamu pulang ke rumah. Adikmu sangat khawatir,
sampai-sampai ia menyuruhku untuk mencari dan menjemputmu.” Rusdi
membujuknya.

“Aku tidak akan pulang sebelum sukses, yang kuinginkan hanya sukses
dengan hasil keringatku sendiri. Aku tidak mau membebani kedua orang
tuaku!” balas Reza, ia sedikit berteriak.

“Justru kepergianmu itu yang membebani keluargamu! Orang tuamu akan
merayakan pernikahan mereka yang ke 20 tahun, itulah alasan kenapa aku
menjemputmu disini! Agar kau bisa hadir kesana sebagai surprise!”
Rusdi pun sedikit berteriak, sementara kini Reza terdiam.

Ditempat lain, Boim masih berusaha menyerang Addyn. Addyn sangat ahli
menggunakan tongkat, ia hampir membuat Boim kewalahan. Boim menunggu
kesempatan sempurna untuk menyerangnya.

Boim kemudian terdiam, lalu memejamkan matanya. Addyn dengan cepat
memukulkan tongkatnya. Boim reflek menahan pukulan itu dengan sikuknya
hingga tongkat kayu itu patah.

Lalu Boim menatap Addyn dengan tajam. Addyn perlahan mundur, ia
sedikit takut. Tapi perintah itu jauh lebih penting baginya. Addyn
kemudian mulai menyerang Boim dengan tangan kosong.

“Jadi mereka ingin aku pulang, ya?” akhirnya Reza kembali berkata.
“Iya, kau adalah anak kesayangan mereka…” Rusdi jatuh tersungkur
karna dipukul dengan kayu dari belakang.

Ternyata yang memukulnya adalah salah satu teman Reza. Lalu ia
membuang kayu itu. Reza masih terdiam, ia memikirkan kata-kata Rusdi.
Apa benar ia anak kesayangan orang tuanya? Bukankah selama ini Anin
anak kesayangan itu?

“Addyn masih melawan temannya, dan ia pasti dijemput oleh yang lainnya
disana. Aku tidak yakin Addyn bisa menang, soalnya orang itu sangat
hebat. Bahkan bisa mengalahkan 2 teman kita yang berbadan kekar.” ucap
orang itu.

“Kau benar Ghaida, baiklah ayo bawa dia ke markas! Kita tidak bisa
meninggalkannya disini begitu saja, jadi ayo bawa dia!” ucap Reza,
lalu mereka membawa Rusdi yang sedang pingsan.

Sementara Rusdi dibawa, di tempat lain Boim berhasil mengalahkan
Addyn. Boim berdiri tegap menatap Addyn yang sedang terbaring tak
berdaya. Kepala Addyn berdarah, dan Boim menggenggam salah satu
potongan tongkat Addyn dengan tangan kanannya.

Boim lalu membuang potongan tongkat itu. Ia sejenak melihat Addyn yang
sudah tak berdaya. Addyn sudah pingsan karna menerima pukulan keras
dari Boim. Boim lalu meninggalkan Asep begitu saja di tengah hutan.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s