Janjiku Untuk Desy Part 1

Di sebuah taman yang disinari indahnya cahaya bulan aku duduk di kursi taman itu menunggu seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, seseorang yang selalu membuatku senang jika aku berada didekatnya. Seseorang yang suatu hari nanti akan menjadi tulang rusukku. Ya, entah kapan hari itu akan tiba aku tidak terlalu banyak memikirkannya. Sambil menunggu dia datang aku memainkan sebuah gitar kecil yang kubawa dari rumah, dan menyanyikan sebuah lagu dari penyanyi wanita ternama di tanah air.

“Kau adalah yang terindah

Yang membuat hatiku tenang

Mencintai kamu

Takkan pernah ragu

Sebab kau terima segala kurangku.”

 

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Aku menghentikan nyanyianku, dan menaruh gitar kecilku dibawah kursi taman. Dia begitu cantik malam ini, sampai-sampai aku dibuat terperangah olehnya. Dia memakai kaos putih bermotif bunga berwarna pink, dilengkapi rok berwarna orange dan sepatu putih. Terlihat sangat feminim sekali. Dia menghampiriku dan duduk disampingku.

 

“Hai Aryo, maaf ya nunggu lama soalnya aku ada urusan dulu sama temen hehe,” kata gadis itu, kemudian dia duduk disampingku.

 

“Tak apa Desy, aku juga baru datang tadi kok hehe,” kataku. Sebenarnya sudah satu jam aku menunggunya di tempat ini, tapi aku berbohong padanya karena aku tidak mau membuat dia merasa bersalah atas keterlambatannya.

 

Ya, gadis itu bernama Desy. Desy ini mempunyai nama terpanjang, mungkin saja namanya itu bisa masuk record dunia. Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan, itulah nama panjangnya. Panjang bukan? Selain namanya yang panjang, dia juga tinggi bahkan melebihi tinggiku. Aku sering menyebutnya titan karena tingginya melebihiku, tapi bukannya murung dia malah senang jika aku menyebutnya titan. Agak aneh memang.

 

Aku selalu merasa minder karena tinggiku kalah dengan Desy. Biasanya cowok itu lebih tinggi dibandingkan cewek, nah dia malah lebih tinggi daripada aku meskipun umur dia dua tahun lebih muda dibanding aku. Dia Desember nanti genap 20 tahun, dan aku November nanti genap 22 tahun. Tapi walaupun begitu dia menerima segala kekuranganku, dan menyayangiku dengan tulus. Ya, aku dan Desy berpacaran. Agak aneh ya ada cowok kucel, cupu bisa pacaran dengan gadis secantik Desy, tapi itulah yang terjadi.

 

“Kamu udah makan Des?” ucapku kepada Desy.

 

Desy menggelengkan kepalanya dan mengelus perutnya, “Kebetulan aku belum makan.”

 

Aku mengambil sebungkus roti coklat kesukaannya dari dalam tasku dan memberikannya pada Desy.

 

“Ikhhh kok roti sih?!” bentak Desy sambil memanyunkan bibirnya. “Mana kenyang kalau roti. Aku maunya nasi padang. Titik!!”

 

Aku terkejut atas apa yang dikatakan Desy barusan. Selama kami pacaran Desy tidak pernah membentakku, begitupun sebaliknya. Namun kali ini dia membentakku dan cukup membuatku shock.

 

“A.. Aku adanya cuma ini Des,” kataku dengan lemah.

 

Pfffttttt

 

“Hahahahaha.”

 

Desy tertawa setelah melihat ekspresiku yang kaget. Aku jadi heran melihatnya.

 

“Muka kamu lucu kalau kaget begitu kaya Kang Sule, haha,” kata Desy sambil terus tertawa. Sial, mukaku disamain sama Sule.

 

“Aku tadi cuma bercanda, sayang. Jangan serius gitu dong.”

 

Ternyata cuma bercanda, sampai kaget. Kalau itu sungguhan aku bingung harus membeli nasi padangnya gimana, lantaran uangku hanya tersisa untuk membeli roti kesukaannya, itu juga hanya cukup membeli untuknya saja. Duh, miris banget ya aku.

 

Kemudian Desy menyandarkan kepalanya ke pundakku. Dia memotong roti yang tadi kuberikan menjadi dua bagian. Separuh rotinya diberikan kepadaku, separuhnya lagi dia makan. Dia tahu kalau aku juga kelaparan, bisa dilihat dari sikapku yang selalu memegang perutku yang selalu berbunyi. Oleh karena itu, dia membagi dua rotinya. Aku senang Desy mau berbagi seperti ini.

 

“Des, kamu kelihatan cantik malam ini,” ucapku kemudian memakan roti yang diberikan Desy.

 

“Ah masa sih?” Desy menaikkan sebelah alisnya. “Kamu juga kelihatan ganteng. Muka kucel, rambut berantakan, pakaian lusuh, jarang mandi. Hahaha,” lanjut Desy.

 

Aku hanya memasang muka segaris. “Kamu ngeledek ya?” kataku sambil kucubit hidungnya.

 

“Aduduhh. Sakit tau!” Desy melepaskan cubitan tanganku di hidungnya.

 

“Habisnya kamu ngeledek sih,” ucapku.

 

“Hahaha. Tapi aku suka kok walaupun kamu jarang mandi.”

 

“Idihh siapa bilang jarang mandi? Aku sering mandi tau. Aku mandi 4 kali sehari.”

 

“Hahaha. Sekalian berenang aja kalau kaya gitu.”

 

“Pengennya sih. Sayangnya aku pernah diomelin sama bapak yang punya kos gara-gara aku berendam di bak mandi.”

 

“Hahaha.” Desy tertawa. Duh, tawamu itu loh Des bikin kangen. “Tapi kok bapak kos bisa tahu kalau kamu berendam di bak mandi? Apa jangan-jangan bapak kos kamu ngeliatin kamu lagi berendam?” lanjut Desy.

 

“Aku berendamnya waktu kosan lagi kosong, terus aku iseng berendam di bak pake sabun. Nah, selesai berendam aku lupa kuras itu bak mandi, alhasil aku ketahuan sama bapak kos soalnya di dalam bak mandi masih tersisa sisa-sisa sabun terus diomelin deh.”

 

“Hahahahahaha,” Desy ketawa dengan puasnya. Ah aku jadi malu, lebih tepatnya malu-maluin kalau ingat kejadian itu. Jangan ditiru ya kelakuan konyolku itu, hehe.

 

“Kalau aku yang jadi bapak kos itu, aku bakalan suruh kamu bersihin itu bak mandi 10 kali, haha,” lanjut Desy sambil memakan sisa rotinya sampai habis.

 

“Tega amat kamu. Dasar titan,” kataku sambil menyubit hidungnya.

 

Desy melepaskan cubitanku dari hidungnya, nampaknya dia kesakitan hidungnya aku cubit terus. “Lagian kamu ada-ada aja sih pake acara berendam di bak mandi, malu-maluin pacarnya yang cantik ini aja hahahaha.”

 

Ya, beginilah kalau kami sedang berpacaran, banyak bercanda. Kebanyakan Desy lah yang selalu memberi candaan, maklum aku agak sulit memberinya lelucon. Hanya sesekali saja aku memberi lelucon, itu pun garing.

 

“Kamu masih ingat waktu kamu nyatain perasaan kamu ke aku di tempat ini?” tanya Desy sambil menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang.

 

Aku mengelus-ngelus kepalanya yang berada di pundakku dengan lembut, kemudian kucium rambutnya sambil berkata, “Tentu saja aku ingat. Aku tidak akan lupa soal hal itu.”

 

****

 

Flasback On

 

Tepat di taman ini aku dan Desy duduk berdua sambil menikmati dinginnya malam. Saat itu Desy tidak memakai jaket, sehingga udara dingin malam mulai menusuk kulitnya. Aku tidak tega melihatnya kedinginan. Aku membuka jaketku dan mengenakannya pada Desy. Dia terkejut melihat perlakuanku padanya.

 

“Aku nggak mau kamu kedinginan,” kataku.

 

Dia malu sekali, terlihat dari pipinya yang berubah menjadi merah.

 

“Makasih ya,” ucapnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

 

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Kami hanya terdiam saat itu. Sebenarnya aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya, tapi aku bingung harus mulai dari mana. Aku sungguh grogi, belum lagi takut kalau Desy menolak cintaku. Aku tidak mau ditolak untuk kesekian kalinya. Oh Tuhan bagaimana ini? Bantulah aku. Karena dia yang selalu membuatku merasa senang, dia juga yang merubah hidupku kembali saat aku jatuh ke dalam keterpurukan di masa lalu. Jika dia menerima cintaku, aku akan menjaga hubungan kami sampai dia menjadi istri sah ku, kalau perlu sampai mati. Ya, aku sudah berkomitmen soal itu, karena dia yang akan menjadi cinta terakhirku.

 

Aku lihat Desy senyum-senyum sendiri. Apakah ini pertanda? Aku kemudian memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya. Pertama aku memanggil dirinya.

 

“Desy.”

 

“Aryo.”

 

Eh?!

 

Secara tidak sengaja aku dan Desy sama-sama menyebutkan nama kami. Kami pun hanya tertawa karena kejadian itu.

 

“Kakak aja dulu yang ngomong duluan,” ucap Desy. Dia terlihat salah tingkah. Aku hanya tersenyum melihatnya.

 

“Yaudah kalau gitu.”

 

Aku mengambil nafas dan menghembuskannya. Kemudian aku pegang tangannya yang lembut itu, lalu kutatap mata yang indah itu dan berkata kepadanya, “Aku sayang kamu, Des.”

 

“Aku nggak tahu harus bilang apalagi, yang jelas kamu udah mewarnai hidup aku, Des. Kamu selalu membuatku senang, walau aku dalam keadaan terpuruk sekalipun. Jika kamu menerimaku, aku janji aku akan jaga hubungan kita sampai kamu menjadi istriku, kalau perlu sampai mati Des. Tapi jika kamu menolakku, berjanjilah kita akan terus bersahabat selamanya.” Aku mengeluarkan semua yang ingin aku katakan padanya. Ya, aku hanya tinggal menunggu jawaban darinya.

 

Deg.. Deg.. Deg..

 

Jantungku berdegup kencang menunggu jawaban dari Desy. Aku harap dia mau menerimaku. Kalau dia menolakku juga tidak apa-apa bagiku, toh kita masih bisa berteman.

 

Desy melepas genggaman tanganku dari tangannya. Oh Tuhan apakah ini pertanda kalau dia meolak cintaku? Aku hanya bisa pasrah. Kemudian Desy tersenyum kepadaku, dan tiba-tiba dia memelukku. Apakah ini??

 

“Aku tahu kakak itu dari dulu udah suka dan sayang sama aku. Aku tahu karena kakak selalu sabar ngehadepin aku yang suka bercanda ini, kakak juga selalu perhatian sama aku. Itu yang buat aku juga suka sama kakak. Jadi intinya aku juga sayang sama kakak.”

 

Mendengar perkataan Desy barusan membuatku merasa senang, karena ini tandanya Desy menerimaku sebagai pacarnya. Aku membalas pelukannya, sebuah pelukan hangat pertama yang kuberikan untuknya. Aku janji Des, hubungan kita akan tetap terjaga sampai kita mati nanti.

 

Flashback Off

 

****

 

“Apa hubungan kita bakal awet terus sampai mati nanti?” tanya Desy. Terlihat keraguan dari dalam dirinya.

 

“Pasti awet kok, aku jamin itu! Walaupun banyak rintangan yang harus kita hadapi bersama,” ucapku dengan tegas.

 

Desy membetulkan kembali posisi kepalanya dari kepalaku ke posisi semula. “Kalau nggak awet aku boleh selingkuh ya hehe.”

 

“Mulai lagi deh bercandanya,” kataku sambil memasang wajah datar.

 

“Hahahaha. Nggak kok, aku nggak akan selingkuh cuman pacaran sama cowok lain.”

 

“Des, kamu udah pernah makan roti isi sepatu belum?”

 

“Udah pernah kok, weeee.” Dia menjulurkan lidahnya.

 

Hah?! Aku nggak nyangka ternyata dia pernah makan roti isi sepatu. Nggak kebayang rasanya seperti apa.

 

“Jangan serius amat Mas, ya kali aku suka makan sepatu hahaha,” ucap Desy sambil tertawa.

 

“Iya iya iya, dasar titan,” aku jadi bete dibuatnya.

 

“Hahaha. Kamu gemesin deh, aku…” Belum sempat Desy menyelesaikan omongannya, aku mendaratkan sebuah ciuman ke pipinya.

 

“Aku sayang kamu, Des.”

 

Desy terkejut akan perlakuanku padanya, dia tersipu malu dan senyum-senyum sendiri. Aku gemas kalau melihatnya tersipu malu begitu, ingin rasanya aku nikahin Desy saat itu juga tetapi apa daya aku masih belum mampu nikahin Desy. Walaupun begitu aku akan tetap berjuang semampuku agar bisa menjadikan Desy sebagai istriku.

 

Malam semakin larut, tak terasa aku dan Desy sudah lama berada di taman ini. Aku pun mengajaknya untuk pulang, lagian besok juga aku harus kerja shift pagi di sebuah toko buku. Akhirnya Desy setuju dan kita pun pulang. Kami pun membereskan barang kami dan pergi meninggalkan taman itu dengan menggunakan motorku. Aku mengantarkan Desy dulu ke kosannya, setelah itu baru lah aku pulang ke kosanku.

 

Selama di perjalanan Desy selalu memelukku, aku mencoba mengobrol dengan dia namun dia tidak menjawab. Aku melihat ke arah belakang lewat kaca spion motorku, ternyata dia lagi tertidur dengan pulasnya. Sangking pulasnya dia tidur aku tidak tega membangunkannya, jadi aku biarkan saja dia tidur di punggungku. Tak terasa aku sudah sampai di kosan Desy. Aku mematikan mesin motorku, kemudian mencoba membangunkan Desy yang masih tertidur di punggungku.

 

“Des, bangun udah sampe kosanmu nih.” Tidak ada pergerakan sama sekali dari Desy. Lalu aku mencubit hidungnya dengan sedikit keras.

 

“Titan sayang bangun! Udah sampe nih, jangan molor mulu.”

 

“Awww.. Sakit tahu..”

 

Desy pun bangun dan turun dari motorku sambil memegangi hidungnya. “Jangan nyubit juga bisa kan, sakit nih hidungku,” ucap Desy.

 

“Habisnya daritadi aku bangunin kamu nggak bangun-bangun, yaudah aku cubit hidungnya biar kamu bangun,” ucapku sambil ketawa.

 

“Uhh dasar. Kalau hidungku copot gimana? Mau kamu gantiin?”

 

“Hehehe. Udah ah aku pulang dulu ya, besok aku harus kerja.”

 

“Iya. Kerja yang bener, yang tekun, yang rajin, biar bisa nafkahin aku.”

 

“Iya bawel..” aku mengusap kepalanya hingga rambutnya sedikit berantakan.

 

Desy tersenyum. “Hati-hati pulangnya, soalnya di jalan ada…” ucap Desy terpotong.

 

“Di jalan ada apa?” jawabku dengan sedikit curiga.

 

“Di jalan ada jalan, hahaha.”

 

Aku memasang muka datar. Tumben lelucon dia kali ini garing. Aku kembali megusap kepalanya dengan lembut dan berkata kepadanya, “Desy garing deh.”

 

Desy cemberut karena aku berkata seperti itu, aku hanya tertawa melihatnya. Lalu aku pun berpamitan pada Desy dan mulai memacukan motorku ke kosanku.

 

Setelah sampai kosanku, aku terkejut karena di depan pintu gerbang kosan ada seseorang yang sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Aku tidak mengenali siapa orang itu karena rambutnya menutupi wajahnya. Aku menghampiri orang itu dan mencoba menyapanya. Sadar akan keberadaanku, orang itu memperlihatkan wajahnya.

 

“Loh kamu?!”

 

~To be continued~

 

Created by Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s