Fiksi dan Fakta part 47

Mata Joey dan Ve membulat kaget. Seketika, badan Ve menjadi kaku.

“Ka-kalian udah saling kenal?” Tanya Jaka bingung.

Joey mengangguk pelan.

“Kalian temen?” Tanya Joey.

Jaka mengangguk.

“Long time no see, Veranda!” Joey tersenyum ramah.

“Uh?” Ve masih terdiam dengan ekspresi shock teraut diwajahnya.

“Kalian kenal di-“

“Nanti aja ceritanya, Raz. Kita jalan-jalan dulu, yok?” Ajak Joey cepat.

“Okedeh, kita cari tempat nongkrong aja..”

“Nope! Gausah, Raz.” Joey berhenti dan menatap Jaka serius.

“Eh?”

“Gue duluan ya..” Joey pun bergerak pergi.

“Eh Joey! Bareng aja!” Joey tak menghiraukan ucapan Jaka barusan.

“Tunggu!” Ia segera mengejar Joey yang terburu-buru.

Jaka berhasil menahan lengan kiri Joey. Joey terhenti dan berbalik. Ia menatap kearah belakang Jaka, yaitu tempat Ve berdiri.

“Listen me, Raz. Jaga dia, apapun yang terjadi. Dia butuh elo. Anggap ini gaada, ajak dia kemanapun asalkan dia ga murung.” Joey memegang kedua pundak Jaka.

“Eh? Maksudnya?”

“Ini! Gue kasih ini sebagai tanda terimakasih gue, sekaligus buat dia..”

“Apa-apaan? gue ada uang sendiri!” Tolak Jaka.

“Gue ga bermaksud ga sopan, Raz. Please take it..”

Jaka mengambil beberapa lembar uang kertas dalam pecahan warna merah itu.

“Thanks, gue pergi dulu..”

“Wait! Tapi buat ap-“

Joey sudah tak terjangkau lagi. Jaka berpikir tentang alasan Joey memberikannya uang.

“Maksud dia apa? Ngejek gue? ato gimana?” Keluh Jaka dalam hati.

Ve menepuk pundak Jaka yang sedang berpikir dalam-dalam.

“Raz, ayo kita ketempat lain?” Ajak Ve.

Jaka mengangguk setuju.

“But, Ve?” Panggil Jaka.

“Iya, Raz?” Ve menoleh dan tersenyum kearahnya.

“Engga:)” Jaka segera menggandeng erat tangan Ve dan mereka pergi meninggalkan tempat itu menuju tempat lainnya.

Kini, obrolan ringan di sepanjang perjalanan pun terasa hambar. Mungkin Joey benar. Ada trauma di diri Ve tentang laki-laki Jepang itu.

“Ve, malem ini kita dinner ya?” Ajakan itu terucap begitu saja.

“Eh? Serius?”

Jaka mengangguk mantap.

“Tapi, aku ga ada dress..”

“Hmm.. kaya gini juga gapapa. Toh, kamu udah cantik dari lahir wkwkwk..” Goda Jaka ringan.

“Idih, gombal. Tapi, aku beneran ga ada lagi dress..”

“Aku ga gombal wlee.. Serius, gini aja udah perfect kok..”

Ve memicingkan matanya.

“Gausah nyalon-__-” Jaka menyantukkan kepalanya di setir.

“Hehehe.. iyaiya,” Ve menggandeng tangan kiri Jaka seperti biasanya.

“Giginya mau dioper tau..” Ucap Jaka menahan tawa.

“Ihh.. iyaiya. Kamu kebiasaan..” Keluh Ve.

“Kamu yang kebiasaan suka meluk-meluk dih..” Jaka cekikikan.

“Ihh..” Ve melengos.

“Itu juga tuh, kebiasaan Veranda. Kalo dah mlengas-mlengos gitu, ujung-ujungnya nyubit.” Protes Jaka.

“Ihh.. hehehe. Dasar kamu ih!” Ve memukul pundak Jaka yang mengaduh kesakitan.

Semangat perjalanan kembali ke guest house pun terasa kembali hidup.

..•..

“Vin, lagi apa?” Mike memasuki kamar Viny begitu saja.

“Eh, Oscar? Ga lagi ngapa-ngapain..”

“Ohh…”

Viny hanya mengangguk-angguk sambil lanjut membaca.

“Eh, kawat dan sebagainya dah aku pasang semua ya..”

“Oh iya, makasih banyak ya Car.. Tadi baju kamu juga dah aku setrika..”

“Hahaha, siap-siap. Rumah kamu bagus arsitekturnya, tapi mudah banget dibobol kalo gini..”

Viny mengangguk-angguk setuju.

“Aku gabisa bayangin kalo ada orang cabul manjat, wihh.. gimana coba?” Ucap Mike berbisik.

“Ihh, ngomong apaan sih?! Engga lah! Jangan mikir yang aneh-aneh!” Seketika, Viny menjadi kesal. Terlihat ketakutan dan kepanikan dari responnya.

“Tapi aku bener kan, Nyi?” Mike menaikkan alis sebelah kirinya.

Viny hanya diam sambil menatap gelas berisi air putih dihadapannya.

“Aku bisa jagain kamu seharian.. Sama kaya pas kamu jagain aku dirumah sakit semaleman..” Mike tersenyum sambil bersender dan melipat kedua tangannya.

Viny kaget. Ia segera menoleh dan menatap Mike serius.

“Ka…kamu ta-“

“Yup, aku tau. Makasih ya udah ngejagain..”

Viny tertunduk malu.

“See? kita partner yang hebat kan? Hahaha..” Tawa Mike mengisi ruang kamar Viny di sore hari yang cerah itu.

Viny hanya diam memeluk lutut sambil menerawang keluar jendela. Menatap langit sore yang berkilauan.

“Vin!” Panggil Mike.

“Iya??” Viny bangkit dan bergerak keluar menghampiri Mike.

“Rumah pohonnya gamau di bersihin?”

Viny menggeleng.

“Kalo ga dibersihin, tar ada binatangnya gimana coba?” Ucap Mike menakut-nakuti lagi.

“Ih kamu.. iyaiya, yuk bersihin..” Viny mengambil alat-alat pembersih di dapur.

Sore itu mereka habiskan dengan membersihkan rumah pohon Viny.

“Jam stengah 6..” Lapor Mike.

Viny menyenderkan sapu yang sedang ia gunakan. Ia membuka jendela yang langsung memberikan penampakan matahari dihadapan mereka.

“I still remember this place..” Ucap Mike pelan sambil menatap mata gadis disampingnya yang berkilauan itu.

Mata dan bibir Viny sama-sama tersenyum. Mike menatap Viny dengan tenang. Berjuta-juta perasaan sudah tercampur aduk ke otak Mike.

“Look!” Tanpa menoleh, Viny menunjuk apa yang kini berada dihadapan mereka.

Mike menoleh sejenak. Pemandangan itu adalah pemandangan penuh makna bagi keduanya. Sebuah kenyataan yang membungkus fantasi akan perubahan dari terang menuju gelap. Sebuah fenomena yang biasa-biasa saja, namun tetap tak tergantikan.

Kini, Mike kembali menoleh kearah Viny. Ia menerawang wajah gadis itu dengan tenang, seperti biasanya.

“Menurutku, kilat hijau itu adalah hal tersingkat yang pernah aku suka.” Viny menoleh kearah Mike.

Mike tersenyum.

“Pernah? berarti udah ga lagi?”

“Hmm.. ga juga. Aku suka dia tepat pas dia muncul doang.” Bela Viny.

“Berarti kamu lagi suka ama dia?” Tanya Mike geli.

“Mungkin. Dia itu singkat, tapi melengkapi. Keren kan?” Viny kembali menoleh. Mata bulatnya itu menatap Mike penuh harapan. Seperti anak kecil yang sedang menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhananya.

“Dia terlalu singkat. Sesuatu yang singkat, tak pantas untuk minta diingat. Tapi sebagai pelengkap, ya…” Mike menggaruk-garuk bagian bawah bibirnya, persis seperti seorang professor yang sedang berpikir keras.

“Ya?”

“Sebagai pelengkap, ya dia keren. Singkat tapi juga ditunggu. Biasanya orang keren ditungguin loh.. hahaha..” Jawab Mike konyol.

Viny menatap Mike kesal. Ia memanyunkan bibirnya.

“Liat sana, aku suka liat wajah kamu dari samping.” Ucap Mike pelan.

“Apa bener, semua yang kita rasain ini cuma sementara?”

“Yup.” Jawab Mike singkat.

“Jadi, kenapa kita dipaksa jalanin sesuatu yang ga kekal?”

“Karna semuanya terikat kontrak.”

“Dengan?”

“Dengan yang diatas..”

“Uh?” Viny berpikir sejenak.

“Momentum itu gabisa diulang. Hanya satu kali dalam selamanya. Perbandingannya 1 : Tak Terbatas. Kenapa kita ngelakuin ini semua? Apa mungkin semua momen ini bakal kita inget ampe 60 tahun kemudian?”

Viny menggeleng.

“Bahas tentang hidup, itu bukan tentang pertemuan dan perpisahannya.”

“Tapi?”

“Pembelajarannya. Jadi, apa hasil dari sebuah pertemuan dengan A? we got X1. Kalo kita terus dengan A, so when we got X2, X3, goin’ through XMillion, XBillion?”

Viny tersenyum dan menutup matanya.

“Kalo kita sampai di ‘perpisahan’. Apa kamu bakal nyari ‘pertemuan’ yang baru?” Tanya Viny pelan.

“Yup, pasti.” Jawab Mike yakin.

“Me too. Tapi, gaakan aku biarin perpisahan itu jadi akhir dari kita.”

“Emang ga harus jadi akhir.”

“Menurutku, malam itu brilliant. Dia kadang ninggalin kita di kesepian. Tapi dia juga nenggelemin kita di gemerlap malam. Mereka biarin kita mati karna angin malam, tapi juga ngasih kita kesempatan buat dansa ngikutin musik yang keputer semaleman suntuk.”

“Menurutku, kamu jawaban dari keresahan di hari kemarin.”

Mike berdiri dan mulai mendekati Viny. Viny yang sedang dalam posisi berlutut pun tak kuasa menahan sentuhan tangan kekar Mike. Tangan itu melintas dan melingkari leher jenjang gadis dihadapannya. Desah nikmat mulai terdengar di sentuhan-sentuhan lembut itu.

“I hope you’re my answer too..”

“Lemme try to be yours..” Kontrol Mike kian terlepas.

Mike mendekatkan kepalanya. Tanpa basa-basi, Viny segera melumat bibir Mike. Bau rokok yang menyengat di kemeja Mike menyatu dengan wangi parfum khas Viny.

Tubuh yang berlutut itupun roboh kebelakang. Mike mengikuti gerakan tubuh itu dengan tenang dan nafas yang terjaga. Mike segera melepas kemejanya dan ikut serta merobohkan diri ke lantai kayu rumah pohon itu. Tak luas, namun cukup untuk berdua.

Mulut mereka terus beradu. Bayangan Elaine terus terlintas di pikiran Mike. Semakin jelas tergambar wajah Elaine, semakin gencar serangan-serangan Mike pada Viny. Permainan itu pun berubah menjadi sedikit kasar.

“Ahh.. Uhh.. Ahh..” Desahan Viny mulai menjadi-jadi.

Hingga Mike tiba-tiba bangkit dan menjauh.

“Car?” Tanya Viny bingung.

“Ah, Shit! Sorry, gue ga bermaksud buat-“

“Thanks..” Ucapan Mike pun terpotong.

“Ma-maaf. Ta-tanganku? ahh, maaf!” Mike mengacak-acak rambutnya kesal.

Ia meraih kemejanya yang tadi ia tanggalkan dan kembali mengenakannya. Viny juga membersihkan bajunya yang sedikit kotor dan merapikan roknya yang berantakan.

“Let’s go?” Ajak Mike.

Viny menutup gordyn rumah pohon tersebut.

“Aku disini, Car. Kamu pergi sendiri aja ya?”

“Hmm.. tapi beneran?”

Viny mengangguk mantap.

“Abis ngambil tas, perlengkapan, dll aku janji langsung kesini..”

“Gausah buru-buru banget yaa..” Ucap Viny lagi.

Mike berlalu begitu saja. Sesingkat kilat tadi bukan?

.••.

Berbeda dengan kedua temannya, Kelpo hanya duduk mendengarkan wejangan dari orangtuanya tentang beberapa hari kemarin. Bukan sesuatu yang memojokkan Kelpo. Ayahnya yang baru kembali menceritakan sedikit pengalamannya dikala muda. Orangtua mana yang tidak khawatir melihat anaknya terlibat suatu masalah yang bisa dikatakan sangat besar.

Tak main-main, 1 orang terbunuh dan ratusan orang terluka parah akibat kerusuhan pertama dan kedua. Memang kerusuhan pertamalah yang terparah. Walaupun kerusuhan kedua hanya bagian dari script, tapi pandangan masyarakat tentu berbeda.

Nyatanya, kita terlalu mudah menghakimi tanpa berpikir luas terlebih dahulu. Sesuatu yang buruk dibungkus khayalan dan terjadilah keajaiban pada hasil akhir suatu perkara.

Hidup itu singkat, namun tidak sederhana. Jika kau bilang hidup itu sederhana, maka kesederhanaan macam apa yang ada disekitar kita ini?

Apakah orang yang memaafkan berarti melupakan?
Apakah orang yang setuju berarti tidak berada dipihak ‘tidak setuju’?
Apakah sebuah air putih bersih berarti tidak akan menjadi keruh?

Sebuah pesan dari sang kekasih buat Kelpo bangkit bersemangat.

“Cool! Andela ngajak Kelvin pergi!” Seru Kelpo.

“Mau kemana, vin?” Tanya sang ibu.

“Ini mah, Andela mau minta temenin beli perlengkapan buat berangkat besok.”

“Oke deh, hati-hati ya..”

“Siap, mah!”

Kelpo segera meraih kunci motornya.

“Mau kemana, Kelv?” tanya papa-nya yang baru kembali dari dapur.

“Anu pah, Andela ngajak pergi beli keperluan besok.”

“Sip deh, kamu juga skalian beli buat besok. Nih..” Papa-nya memberikan 3 lembar uang kertas warna biru.

“Aduh, kebanyakan pa. Kelvin udah siap semua kok.”

“Udah, ambil aja. Ongkos pergi beda kok.”

“Aduh, maksudnya bukan itu. Sayang kalo uang sebanyak itu dipake semua.” Kelpo masih menolak.

“Udah, vin. Ambil aja, siapa tau kamu butuh kan?” Ucap mama-nya meyakinkan.

“Iya, siapa tau ditilang kan. Hahaha..”

Kelpo mengangguk setuju. Ia pun berpamitan pada kedua orangtuanya itu.

“Eh, kamu bawa motor? Bawa mobil aja, vin!” Perintah ayahnya.

“Eh, gausah pa.”

“Apa-apaan, nanti kamu dibegal malem-malem begini. Bawa mobil aja..”

Kelpo menyerah. Ucapan kedua orangtuanya memang benar. Orangtua lebih berpengalaman.

“Pergi dulu pa!” Kelpo membuka kaca jendelanya.

“Iya, hati-hati bawa anak orang jalan!” Pesan ayahnya lagi.

Selama perjalanan, Kelpo terbiasa menyetel saluran radio lokal. Tiba-tiba, sebuah berita membuatnya bingung.

Intinya, penyuluhan yang disinggung tadi pagi benar-benar akan direalisasikan. Namun masalahnya, bukti yang minim membuat penyuluhan tersebut bisa saja dibatalkan pemerintah pusat. Tak ada tanggapan hingga saat ini.

‘Drrttt..’ Notifikasi masuk.

‘Acc grupnye..’ LINE kembali masuk dari Mike.

Kelpo segera menyetujui undangan grup. Benar saja, semuanya sedang aktif. Kelpo pun disambut oleh yang lainnya. Tak tanggung-tanggung, anggota grup tersebut sudah mencapai 97 orang, bisa dibayangkan sebanyak apa chat yang masuk.

_-•-_

Sebuah restoran mewah dengan suasana romantis disewa Jaka.

“Raz? ini serius?” Tanya Ve tak percaya.

“Ofcourse serius. Ini nyata dan asli. Tuh meja kita!” Jaka menuntun Ve menuju meja yang sudah dipesan.

Pemandangannya sangat indah. Meja tersebut terletak tepat disudut dekat jendela besar menuju taman.

“Disini tenang.. dan ini posisi yang aku suka..” Ucap Jaka menatap mata Ve yang bersinar malam itu.

“Entah.. semuanya udah ga karuan, Ve.” Jaka menunduk lemas.

“Raz?”

“Maaf, mungkin ini mengganggumu. Tapi..” Jaka masih ragu untuk menyambung ucapannya.

“Tapi apa?” Ve menatap Jaka tenang.

“Joey.”

Ve menelan ludah. Kini tundukan Jaka disertai gelengan pelan, memancarkan perasaan kecewa.

“Raz.. let me tell you something.” Ve menggenggam tangan Jaka.

Perlahan, Jaka menaikkan kepalanya. Mengatur nafas yang mulai tak karuan. Denyut jantungnya mungkin lebih kencang saat ini.

“Joey, dia yang aku maksud sejak awal..” Ve memulai.

“So, apa jawaban kamu?”

“No!” Tegas Ve.

Tetap saja, senyum di wajah Jaka tak kunjung terlihat.

“Raz.. kami sama-sama nolak. Ini semua ga masuk akal!”

“Ga masuk akal gimana coba?!” Jaka membentak Ve.

Beberapa pengunjung dan pelayan restoran kaget. Kini mereka menjadi pusat perhatian.

“Raz, aku belom bisa cerita ke kamu..”

Jaka tak bergeming.

“Ada banyak hal yang ada dibalik ini semua..” Lanjut Ve lagi dengan nada yang semakin merendah.

“Banyak? Apa artinya ini semua? Gue gabisa musuhin temen gue karna cewe..”

“Raz, kok kamu ngomong gitu sih? mpphh..” Ve terisak.

Jaka masih teguh pada pendiriannya.

“Kok malah nangis, aku serius Ve. Kalian ngapa-“

“Kamu kira aku ini apa? Aku wanita murahan gitu.. jangan sembara-“

“Cukup! Gue muak ama kerumitan-kerumitan ini!” Jaka bangkit.

Semua orang menatap mereka bingung.

Ve masih berusaha untuk menahan tangisnya.

“Shit!” Jaka memukul meja kesal.

Jaka segera mendekati Ve, namun tangan Jaka ditepis Ve begitu saja.

“I’m so sorry, i don’t mean to do that. Aku keterlaluan, maaf..” Ve hanya diam tak menjawab.

“Ve, maaf.. maaf banget..” Jaka meraih tangan kanan Ve.

Ia menggenggam erat tangan kanan Ve dan menciumnya pelan. Tangisan Ve pun perlahan berhenti. Dengan tenang, Jaka terus diam memperhatikan Ve yang sedang mengelap air mata di pipinya. Saat Ve melihat kedepan, mata mereka kembali bertemu.

“I’m so sorry..” Jaka kembali menundukkan kepalanya.

“Suatu saat kamu pasti paham, Raz..”

“Okay, put it later. Ini malam terakhir kamu di Bandung. Ga baik kalo diabisin dengan cerita-cerita sedih. Bener kan?” Jaka tersenyum.

Senyum Ve kembali mengembang.

Setelah menyelesaikan makan malam, Jaka dan Ve pergi menuju rumah Jaka. Setelah sampai, mereka disambut oleh kedua orangtua Jaka.

“Ini Veranda pa, ma..” Jaka mengenalkan.

“Salam kenal om, tante..” Ve sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Veranda? Wah cantik sekali kamu..” Puji mama Jaka.

“Tante bisa aja, hehe..”

“Ini temen ato gimana? Hahaha..” Goda papanya geli.

“Yaudah, Veranda duduk dulu..” Mama Jaka mempersilahkan.

“Anaknya kok ga disuruh duduk juga? Mama gitu ih..” Protes Jaka konyol.

“Kamu udah besar ya. Sana bikinin minum buat Ve…” Balas mamanya menahan tawa.

Papa Jaka tertawa geli sambil menepuk-nepuk pundak jagoannya itu.

“Papa ketawanya puas banget, pantes abang juga gitu..”

“Idih, daripada kamu. Kaku kaya mamamu! Hahaha..” Balas papanya lagi.

Perdebatan kecil nan konyol berlangsung di ruang tamu rumah Jaka. Ve cemburu dengan keluarga Jaka yang sangat akrab dan terbuka satu sama lain.

“Pa, Michelle kemana?” Tanya Jaka.

Ve juga mengangguk-angguk seolah memiliki pertanyaan yang sama dengan Jaka.

“Bukannya kamu udah dikabarin Oscar? Tadi Michelle pergi dijemput Oscar sama itu tuh.. aduh papa lupa.”

“Viny?”

“Iya, yang ratu-ratu itu kan?” Celetuk mamanya.

Jaka mengangguk.

“Mereka kemana?” Lanjut Jaka.

“Kurang tau deh..”

“Coba kamu cek pesan dari dia aja..” Saran mamanya.

Jaka membuka ponselnya. Banyak sekali pesan masuk. Yang paling penting adalah undangan Mike ke sebuah grup dengan anggota yang cukup banyak. Jaka pun bergabung.

‘lele sm gua, kami mo jalan” doang’ tulis Mike.

Jaka kembali meng-scroll pesan-pesan diatasnya.

“lo blm acc grupnya? yaudh ntar gue critain ja:v’ tulis Kelpo.

Jaka sedikit bingung, namun ia simpan kebingungannya hingga ia bertemu sahabat-sahabatnya itu lagi besok.

|•-•|

Pagi pun kembali menyapa. Jaka bangun paling pagi hari itu. Jaka mengetuk pintu kamar sebelahnya.

“Chel.. Chel..” Panggil Jaka.

Tak lama, pintu pun dibuka.

“Ap…a?” Michelle mengusap matanya.

“Rambutnyaa… huahahaha..” Jaka tertawa sejadi-jadinya.

“Ihh…. kamu mah!” Michelle meniup-niup rambut kusut yang jatuh diwajahnya.

“Walau masih jam 7, tapi gapapa kan aku dah bangunin kamu?” Jaka tersenyum.

“Iyaiya.. tapi aku masih ngantuk nih. Hoaamm..” Michelle menguap.

“Udah, bangun!!” Jaka mengguncang-guncangkan tubuh Michelle.

“Zaqa!!” Tepis Michelle.

“Huehehe.. aku mau beres-beres edisi final nih. Terus mau jemput Ve..”

“Iya tuh, kabarin Ve nya gih..” Michelle meraih ponselnya.

“Kamu aja ngabarin dia, bilang nanti aku yg jemput.”

Michelle mengangguk paham.

“Chel, mana tas kamu? Biar aku susun dibawah..”

“Nih..”

“Beneran cuma 1 tas? udah semua nih?”

“Emm.. ada 2 sih. Tapi yang tas aku itu belom kelar..”

“Tas abu-abu kamu ya?”

Michelle mengangguk.

Sekitar jam 8, Jaka menjemput Ve di guest house-nya.

–••–

“Vin! Udah mau jam 9 nih. Yok langsung?”

“Iya, bentar ya!”

“Siap bos!” Teriak Mike lagi.

Mike memasukkan tas-tas dan keperluan ke mobilnya.

“Car, kamu udah ngabarin Kelvin?” Tanya Viny lagi.

“Belom sih, Kelv ikut kita kan?”

“Eh? Aku juga gatau.. Coba telfon gih..”

Mike men-dial nomor Kelpo.

“Yo, pagi Vin. Lo ikut gue kan?”

“Iye, Mike. Bobby tadi nanyain juga.”

“Bobby? wih ajakin aja tuh..”

“Engga, Car. Bobby emang dah di Jakarta.”

“Ohh..”

“Tapi, Shania masih disini..”

“Eh, Shania?” Tanya Mike tak yakin.

“Iya, Shania kan cuma satu.”

“Jaka udah lo kasih tau?”

“Belom, Mike.” Balas Kelpo lagi.

“Yaudah, ajakin dulu dah Shania-nya.” Saran Mike.

“Sip deh, udah dulu yak..”

“Iye..”

••|••

“Hah? Shania ikut?” Kaget Jaka heboh.

Ve dan Michelle menatap Jaka heran.

“Yaudah, Po. No problem, gue kesana ya!”

Tanpa menghiraukan pertanyaan Ve, Jaka dan lainnya berpamitan pada kedua orangtua Jaka.

“Shania ikut, Raz?” tanya Michelle.

“Iya nih..”

Ve hanya diam seperti memikirkan sesuatu.

“Ah, dah siap semua tuh kayanya..” Mereka sudah memasuki pekarangan rumah Kelpo. Terlihat semuanya sudah menunggu.

“Ok, langsung aja yok! Shan, kamu ikut Razaqa ya?” Ucap Mike.

“Ya deh..” Ucap Shania tak bersemangat.

“Cuma segitu, Shan?” Jaka basa-basi.

Shania hanya melengos melewati Jaka dan memasukkan tasnya dibagasi begitu saja.

*Skip

Singkat cerita, Jakarta menyapa mereka ramah.

“Nginep mana nih?” Mike menelpon Jaka.

“Car, tanyain Jaka mau di hotel ato rumah?” Ucap Kelpo

“Iye.. Jak, jadi gimana nih?”

“Ntar, Mike. Lu ngomong ama Michelle aja nih, takut nabrak. Rada pusing gue.”

“Yaudah, gue aja yang bawa mobil lu. Gimana?” Tawar Mike.

“Gausah, Mike. Nanggung.”

“Yaudah..”

“Emm.. Chel, kasih tau Mike. Kita kerumah om gue aja..”

“Michael, kata Razaqa kita ke rumah om-nya.”

“Bilang, jangan kejauhan..”

“Kata Razaqa jangan kejauhan juga..”

Panggilan pun berakhir. Tanpa perubahan rencana lagi, rumah om Vino di Jakarta pun dipilih.

“Wah.. akhirnya nyampe!” Seru Mike.

Jaka kembali mengingat penjaga rumah om Vino tersebut.

“Pak Basir? Masih inget saya ga?”

“Emm.. bapak lupa hehe..”_

“Adeknya Sony, keponakan om Vino.”

“Walah.. mas Razaqa toh! Apa kabar mas?” Pak Basir langsung memeluk Jaka.

“Baik pak, hehehe.. bapak sendiri?”

“Saya alhamdulillah sehat wal’afiat. Udah lama banget ga ketemu..”

“Iya pak, udah 4 tahun ya?”

“Iya, dulu mas Razaqa ga setinggi ini toh. Tambah guanteng aja. Tuan sering crita tuh soal mas Sony, mas Zaqa, sama ibu dan bapak juga. Saya udah lama berandai-andai kapan bisa ketemu mas Razaqa lagi. Hehehe..”

“Hahaha.. iya pak. Ini ada liburan tambahan dari sekolah. Pinjem rumahnya ya pak?”

“Iya mas, silahken. Kamar tinggal diberesin lagi aja nanti..”

“Makasih banyak ya pak..”

“Weh, ga usah bilang makasih mas hehe..”

“Bro!!” Jaka memanggil temannya yang lain.

Perlahan Mike dan lainnya mendekat.

“Nih kenalin, Pak Basir. Tangan kanan keluarga gue nih. Pak Basir ini yang jaga rumah om Vino setelah dia pindah ke Bandung.”

Semuanya sujud bergantian.

“Wah wah, pada cantik-cantik, ganteng-ganteng nih..”

Mereka sedikit bercanda satu sama lain.

“Udah jam 9 nih, yaudah kita masuk dulu.” Ajak Pak Basir.

Mereka pun memasuki rumah.

“Nah, barang-barangnya taro disini dulu. Kamarnya mau saya siapin bentar..”

“Wah gausah, pak. Biar kami sendiri aja..”

“Gapa-“

“Udah, pak. Santai aja..”

“Yaudah, saya bantu ya. Ada 3 kamar dibawah dan 2 kamar diatas. Dibelakang ada kamar juga. Siap pake semua kok.” Jelas pak Basir.

“Ah, kami pake 3 kamar aja pak.” Ucap Jaka.

“Iya pak.” Timpal Mike.

“Wah, jangan gitu toh…”

“Udah pak, ntar kalo emang sekiranya gaenak tidur bertiga, kami pindah deh.”

“Yaudah, bapak pamit beli makan dulu ya.. Kalian pasti laper..”

“Eh pak, gausah..” Cegah Jaka.

“Tamu itu raja loh, santai hehehe..”

Malam itu, pak Basir membelikan nasi goreng untuk mereka masing-masing. Setelah makan, semuanya melanjutkan istirahat mereka.

••÷••

Kini, pagi menyambut dari ibukota. Pak Basir duduk diteras sambil membaca koran pagi. Mike dan Kelpo juga sibuk berolahraga pagi disekitar lapangan depan rumah.

“Uh?”

Jaka membuka sebuah pesan dari Joey.

‘Gue pamit Raz. Gue harus balik ke Jepang siang ini. Yang lain masih stay kok. Makasih banyak ya. Inget pesen gue..’ begitulah kira-kira pesan dari Joey.

‘DEG!’ Jantung Jaka seperti berhenti berdenyut.

Ia teringat akan perlakuan Joey ketika di BIP. Dengan cepat, Jaka men-dial nomor Wood.

“Wood, lo tau dimana Joey sekarang?”

Wood tidak tau. Atas saran Wood, Jaka mencoba menelpon Yuri.

“Halo, Yuri. Lo tau dimana Joey sekarang?”

“Hmm, dia bilang dia lagi dirumah sakit..”

“Hah? serius?” Tanya Jaka serius.

“Iya, gue bisa kasih tau lu rumah sakitnya.”

“But, siapa yang sakit?” Tanya Jaka bingung.

“Gue gatau, Raz. Joey bilang jangan ngomong apapun ke lu. Menurut gue lu harus tau, pergi deh sekarang.”

“Thanks, Brother.” Panggilan pun berakhir.

Jaka segera mengganti baju, tak menghiraukan walau ia belum mandi sekalipun.

“Raz, mau kemana?” Tanya Michelle.

“Adalah, Chel.”

“Paling mau nyusul orang..” Jawab Shania ketus sambil terus menatap kearah tv.

Jaka hanya melengos, ia menghubungi taksi.

“Mau kemana, mas?” tanya pak Basir.

“Ada urusan bentar, pak.”

“Oke, hati-hati mas.”

Tak lama, Mike dan Kelpo kembali dari jogging.

“Wih, dah rapi aja nih..” Goda Mike.

“Jarang-jarang nih, mau ketemu doi di Jakarta?” Kini giliran Kelpo.

Jaka masih dengan tatapan seriusnya.

“Yaelah, serius banget.”

Taksi pun datang.

“Jah, mo kemana lu? nyusul Ve?” Celetuk Mike geli.

“Hah? Ve?”

“Iya Ve.”

“Emang dia kemana?” Tanya Jaka bingung

“Lah, kan dia dah pergi dari tadi pagi..”

Tanpa basa-basi, Jaka segera menaiki mobil.

Mike dan Kelpo hanya menggeleng-geleng. Mereka memutuskan untuk duduk di kursi tepat bersebelahan dengan pak Basir.

“Eh, eh.. emang di Bandung emang sering tawuran ya, nak?” Tanya pak Basir.

“Ah ga juga pak. Suka dilebih-lebihin. Bandung aman-aman aja ahh..”

“Tapi kok ini nyampe disidang..”

“Lah emang tawuran gimana pak?” Mike penasaran.

“Iya, katanya seluruh sekolah bersatu buat ngalahin seseorang.”

“HAH?!” Kaget Mike dan Kelpo bersamaan.

“Mana pak? mana?” Tanpa pandang bulu, Mike dan Kelpo segera merampas koran pak Basir.

“Ehh, ada apa emang?”

Mike dan Kelpo hanya terdiam dan melirik satu sama lain.

*Skip

Jaka sudah sampai di rumah sakit yang dimaksud Yuri. Jaka segera menanyakan nomor kamar orang yang dimaksud Yuri. Setelah itu, Jaka pergi menuju kamar yang dimaksud.

Jaka sudah sampai. Ia mengintip dari sebuah kaca kecil. Terlihat seorang laki-laki yang ia kenal sebagai Joey sedang berdebat dengan seorang laki-laki yang sudah bisa dikategorikan kakek-kakek.

‘Prak!!’ Jaka dikagetkan dengan bunyi parsel yang jatuh.

“Razaqa??!!”

“V….Ve??!!” Kaget Jaka juga.

“K…ko..kok kamu bisa-“

“Kamu yang kok bi-bisa disini??!!” Bingung, heran, kesal bercampur jadi satu.

Tiba-tiba pintu dibuka dengan cepat.

“EH, KALIAN??!” Kaget Joey yang baru saja keluar.

“Yo, gue cuma mau bilang sampai jumpa. Dan, gue juga mau balikin uang lo. GUE BISA BAHAGIAIN ORANG YANG GUE CINTA DENGAN UANG GUE SENDIRI!” Jaka melempar uang tersebut begitu saja.

Melihat kekasaran Jaka, Joey hanya berdiri mematung.

Ve kembali terisak.

Jaka meninggalkan mereka berdua begitu saja. Perasaannya campur aduk.

“RAZAQA!!” Teriak Ve sekencang-kencangnya.

Jaka tetap saja kekeh berjalan pergi.

~~Mike

Entah, namun Mike teringat akan Elaine. Dimanakah sekolahnya yang sekarang? Mike pun stalking media sosial milik Elaine. Nihil, tak ada update.

“Uh?” Sebuah foto yang Elaine post di instagram buat Mike terdiam sejenak.

Disana ada sebuah balon kuning dan biru, dibalon tersebut ada gambar Vespa. Motor yang pertama kali Mike pakai untuk kencan perdana Elaine dan Mike. Lalu balon kuning mewakili bebek, dan balon biru mewakili warna air.

“Kenapa nih temen gue senyam senyum sendiri..” Kelpo menepuk pundak Mike.

“Ishh… ganggu aja lu..”

“Kayanya lagi kangen seseorang nih..” Ucap Kelpo sekenanya.

“Ya gitulah, gue bahkan gatau kabar dia gimana..” Ucap Mike lesu.

“Elaine?”

“Yup.” Mike mengangguk pelan.

“Oscar! Kelvin! Ini kopinya udah!” Panggil Andela.

“Po, ambilin punya gua yaa..” Pinta Mike.

“Yaelah mager amat, baru juga jam berapa.. pfuhh..” Keluh Kelpo.

“Yaelah, jam 1 nih.. bukan jam favorit gue :v” Ucap Mike sekenanya.

Kelpo masuk dan kembali dengan 2 gelas kopi ditangannya.

“Tengs br-“

‘Trass!!!’ Cangkir berisi kopi panas itu terlepas dari genggaman Mike.

“Waduh!” Mike meniupi tangannya yang terkena air kopi tadi.

Kelpo segera membantu Mike.

Selang beberapa menit, Jaka kembali.

“Yo, Ja-“

“MICHAELLLLL!!!!!!!!!!!!!!!! HUAAAA!!!” Teriak seseorang dari dalam.

Jaka, Mike, Kelpo, dan pak Basir segera buru-buru masuk.

Wajah Viny pucat pasih.

“E…E…ELA-ELAINE!!” Tegasnya terbata.

–“

“Perpaduan antara kebahagiaan dan kesedihan itu bagian yang paling buruk dari sebuah cerita. Bukan karena berbagi, tetapi sama saja seperti majas penghalus yang memuakkan.” – Joello Midokaze

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s