Iridescent Part 16

24526

Gue dan yang lain masih berada di rumah Viny, sebelumnya gue sudah menghubungi Veranda untuk meminta bantuan Tata. Saksi yang tau bahwa Tata itu adalah mantan Verro adalah Ve sendiri, Gre dan juga gue. Memang dalam hal ini gue punya kesamaan dengan Verro, yaitu sama-sama selingkuh, tapi kenapa gue mau lakukan hal ini ke dia? Banyak pikiran yang terus memenuhi otak gue sekarang, antara ingin menolong teman tapi di dalam hati gue merasa tidak tenang.

“Hey, kenapa malah bengong?”

“Eh, Kak Melody. Bikin kaget aku aja nih….”

“Kalau Kakak tanya itu di jawab dong, bukan malah ganti topik!” omel Kak Melody.

“Emm iya deh maaf, aku Cuma lagi banyak pikiran aja” balas gue apa adanya.

“Soal apa?”

“Ini soal antara aku sama Verro, Kak”

“Aku sama Verro itu punya kesamaan dalam masalah ini, kami sama-sama mempermainkan dua orang cewek. Dan jujur aku gak tau harus apa nanti, yang mungkin aku lakukan sekarang Cuma sekedar menolong Kak Melody sama Frieska” tambah gue.

Kak Melody lalu menatap gue dalam, entah apa artinya. Gue hanya bisa terdiam saja, ini momen yang sulit buat gue pribadi. Karna disaat gue punya permasalahan sendiri dengan Shani dan Ve, datang Verro yang memiliki kasus yang hampir sama dengan gue, tapi ini lebih membebani otak gue sendiri.

Kenapa ini terjadi di waktu yang tidak tepat? Apa ini jadi sebuah cobaan yang harus kembali gue hadapi.

“Aku tau kamu terima Ve jadi yang kedua buat kamu itu karna terpaksa awalnya, iya kan? Tapi disisi lain kamu nggak mau buat dia sedih, kecewa atau marah, jadi kamu mau pacaran sama Ve. Yang sangat di sayangkan adalah kamu udah punya Shani di saat yang bersamaan, jadi kamu bingung harus bagaimana. Sekarang mulai rumit, kamu harus pilih salah satu dari mereka berdua atau kamu kehilangan semuanya” ujar Kak Melody.

Semua perkataan Kak Melody benar, gue juga harus mulai memilih salah satu agar tidak tambah rumit dan menjadi beban pikiran.

“Makasih Kak atas nasehatnya, itu sangat berguna buat aku sendiri. Kalau boleh, nanti aku mau cerita lebih banyak ke Kakak” ucap gue.

“Nanti setelah selesai masalah Frieska yang ini, kita bisa bicara lebih banyak lagi” balasnya.

Tak lama ada suara mobil yang datang, gue dan yang lain langsung menuju ke depan. Sebuah taksi berhenti dan tak lama pintu terbuka, muncullah 3 sosok cewek. Mereka tak lain adalah Veranda, Gre dan satu lagi Tata. Tak lama taksi pergi, dan mereka bertiga pun menghampiri kami semua.

“Melody, kangen….”

“Ih baru gak ketemu berapa hari doang udah kangen aja nih”

Ve dan Kak Melody saling berpelukan, gue tersenyum melihat Ve disini. Gak tau kenapa malah dia yang gue pikirin sekarang.

“Oh ya, Tata, kan belum kenal semua, ini ada Kak Melody, Viny, Shanji, sama di sebelahnya itu pacarnya, namanya Anin” ucap gue memperkenalkan satu persatu ke Tata.

“Gue juga baru kenal Anin tau, masa gak diperkenalkan?” celetuk Gre.

“Jangan ribet deh, kenalan aja sendiri. Kan gak repot, Shania Gracia….” balas gue.

“Kak Ve, itu Kakak Ipar jahat ….”

“Ih… malah ngadu ke Kakaknya”

“Hahahahaha”

Mereka semua mentertawai gue dan Gre karena tingkah kami berdua yang kadang kaya anak kecil. Memang seperti inilah kelakuan kami berdua, dulu jarang ngobrol tapi sekarang udah mirip anjing sama kucing.

“Yaudah yuk masuk ke dalam aja, kita obrolin di dalam, biar lebih enak” ajak Viny.

“Eh, aku pinjam Willy nya sebentar yah” ucap Ve tiba-tiba.

“Sok atuh, dia kan pacar lo mbak. Di ambil aja, kita nggak butuh kok …” ujar Shanji.

“Anjir, jahat lu ama gue” balas gue.

“Kalian berdua ini malah pada bikin ketawa aja, udahlah berhenti. Willy bawa dulu aja Ve, lama gapapa kok. Kita ngerti kok” ucap Kak Melody sambil mengedip.

“Kode apaan tuh Kak Melo?” tanya gue.

“Udah sana ikut sama pacar kamu dulu, ntar aja kalau urus masalah Verro” jawab Kak Melody.

“Aku sama Willy pergi dulu ya …”

Ve lalu langsung menarik tangan gue dan kami berjalan menjauh dari halaman rumah Viny.

“Awas loh, pulangnya jangan bawa dedek bayi!” teriak Shanji.

“Anjir ….” balas gue sambil jalan mengikuti Ve.

Saat berjalan keluar dari komplek, ternyata taksi yang tadi masih ada, hanya menunggu diluar komplek rumah Viny. Kemudian Ve membuka pintunya dan kami berdua masuk ke dalam taksi, gue bingung mau diajak kemana sama Ve.

“Kita mau kemana sih?” tanya gue heran.

“Udah, kamu diam aja. Jangan bawel, aku punya sesuatu buat kamu nanti” jawab Ve misterius.

“Pak jalan ke tempat yang tadi” ucap Ve ke sopir.

“Siap Mbak”

Taksi yang kami berdua tumpangi pun mulai jalan, Ve lalu menyenderkan kepalanya di bahu gue dan kami saling menggenggam tangan. Ini sebenarnya ada apaan sih, kok gue diajak pergi tapi nggak dikasih tau tempat tujuannya. Bikin penasaran aja sih.

~ ~ 0o0 ~ ~

Sudah satu jam lebih kami melakukan perjalanan dengan taksi, dan menurut sepengetahuan gue ini adalah jalan menuju ke daerah selatan. Lebih jelasnya adalah kearah pantai-pantai yang berjejer.

“Sayang, kamu tau kita mau kemana?” tanya Ve.

“Emm, bukannya ini daerah pantai ya ….” jawab gue sambil memastikan.

“Itu kamu tau. Aku sengaja bawa kamu ke pantai, nanti juga tau kok apa maksudnya” ujar Ve.

Tak sampai 10 menit, taksi yang kami tumpangi sudah memasuki kawasan pantai. Lalu gue dan Ve keluar dari taksi. Lalu Ve berbicara dengan supir taksi itu.

“Pak, nanti sore bisa jemput lagi kesini”

“Baik mbak, nanti saya kembali lagi”

Kemudian taksi itu pergi meninggalkan kami, gue bingung kenapa itu sopir taksi nurut banget sama perintah Ve.

“Itu supir taksi kok nurut banget sih sama kamu?” tanya gue.

“Itu taksi udah aku pesan buat sehari penuh, makanya dia mau balik jemput kita nanti” jawab Ve.

Ve menarik tangan gue, kami berjalan mengitari lokasi yang ramai ini. Gue lalu berhenti sesaat, Ve kemudian menatap gue penuh pertanyaan.

“Kenapa?”

“Aku lapar lagi, makan dulu yuk” ajak gue.

“Hmm, yaudah buruan mau makan apa dulu?” tanya Ve lagi.

“Lobster” jawab gue sambil nyengir.

“Kamu mau makan mentahan ya …. hahahah”

“Ya nggak mentah juga kali, kan banyak makanan olahan dari lobster” ujar gue.

Dia lalu menarik gue menuju salah satu rumah makan yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi. Kami duduk di tempat yang langsung menghadap ke arah laut lepas, pemandangannya sangat indah dari sini. Kami juga sudah memesan makanan dan minuman, hanya tinggal menunggu di hidangkan saja.

Gue menatap Ve yang sedang melihat kearah laut lepas, kenapa makin cantik ya kalau di lihat-lihat. Aduh, di saat gue ada masalah sama Shani, kenapa cewek yang satu ini malah makin cantik. Senyumnya terus mengembang saat melihat laut lepas.

“Sayang, hari ini kelihatan makin cantik aja sih” ceplos gue.

Dia lalu menatap gue sambil tersenyum. Eh gue gak sadar ngomong apaan ya, kok malah lupa sendiri.

“Ih apaan sih, gombal deh kamu” ucapnya sambil mencubit pipi gue.

“Aduh, sakit tau ….” ujar gue mengelus pipi gue yang di cubit Ve barusan.

“Aku mau kita tetap lanjutin hubungan kita …. kalau perlu sampai nanti kita naik ke jenjang lebih tinggi lagi”

Gue Cuma bisa bengong dia mengucapkan itu secara tiba-tiba, ini buat gue bingung. Tapi kenapa rasanya gue mau jawab iya, tapi kalau gue jawab itu, apa karna gue ada masalah dengan Shani?

“A aku, aku”

“Jawab aja, aku ini pacar kamu. Gausah malu ….” ucap Ve.

Tiba-tiba ada yang mendatangi gue dan Ve. Mereka ternyata adalah Kak Melody, Gre, Viny, Shanji, Anin dan Tata.

“Verro sama Frieska ada disini!” ucap Shanji.

“Lihat kearah jam 9, mereka duduk di sana, Wil” tambah Kak Melody.

Gue memalingkan pandangan kearah yang Shanji bilang, ternyata benar Verro dan Frieska duduk disana. Teman-teman lalu duduk bersama gue dan Ve.

“Kita samperin sekarang” ucap gue.

“Jangan gegabah dek, mending kita pantau dari jauh dulu” ujar Kak Melody menahan gue.

“Yang Kak Melody bilang betul Wil, lebih baik kita pantau aja dulu” tambah Viny.

“Yaudah kalau gitu, kita lihat mereka dulu” balas gue.

Verro dan Frieska terlihat sedang bercanda disana, kami terus memantau mereka berdua. Sampai ada dua orang yang datang menghampiri Verro dan Frieska, gue kaget sekali melihat orang itu.  Apa ini serius?

“Dendhi? Apa yang dia lakukan kesini” ucap gue kaget.

Tapi siapa orang yang satu lagi, gue sama sekali nggak kenal.

“Apa yang mau dia lakukan sama Verro, apa mereka kerja sama selama ini?” ucap Anin bertanya-tanya.

“Oh, ternyata dia selama ini yang coba adu domba kita Wil. Ini nggak salah lagi, gue benar-benar yakin kali ini” ujar Shanji.

“Kita kesana sekarang!” ucap Kak Melody.

Kami semua menoleh kearah Kak Melody, wajahnya sudah merah. Sepertinya Kak Melody emosinya sudah mulai memuncak. Dia bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju ke meja Verro.

“Ayo, kita susul Kak Melody” ucap gue.

Kami menyusul Kak Melody ke tempat Verro, Dendhi kaget melihat keberadaan gue dan yang lain. Kira-kira apa yang bakal Dendhi jelaskan tentang keberadaannya disini, gue sangat penasaran sekali.

Verro, Frieska, Dendhi dan satu orang lagi entah siapa namanya kaget melihat kami, tapi kemudian Verro tersenyum angkuh.

“Wow, ternyata ada tamu yang datang tanpa di undang. Bagaimana liburan kalian, menyenangkan bukan, hahaha abaikan pertanyaan gue. Itu Cuma basa-basi aja” ucap Verro sambil bangkit.

“Frieska, lebih baik kamu putusin cowok brengsek kaya dia. Kamu Cuma di manfaatin sama dia buat putusin mantannya kemarin” ucap Kak Melody ke Frieska.

“Tata, mungkin kamu ketemu dia kemarin Fries. Verro nanti juga bakal lakukan hal yang sama ke kamu, suatu saat kamu bakal ngerasain hal yang sama kaya Tata” tambah Kak Melody.

“Dengar perkataan kakak kamu Fries, dia lakukan ini biar kamu nggak bernasib sama kaya Tata. Kami care sama kamu, kita ini kan sahabat” ujar Viny.

“Dia kan cewek yang kemarin kamu bilang ngaku-ngaku pacar kamu, jangan-jangan yang Kak Melody bilang benar ya, kamu manfaatin aku? Verro jawab!”

“Iya Fries, aku cewek yang kemarin ketemu. Aku Cuma mau bilang kalau yang di bilang kakak kamu benar Fries, aku diputusin Verro gitu aja. Dan yang aku tau sebelumnya, Verro bilang ke aku kalau kamu itu selingkuhan dia. Satu lagi yang buat aku yakin adalah dia itu memang cowok brengsek”

Mata Frieska mulai mengeluarkan air mata, kami semua yang tidak memiliki hak untuk ikut campur hanya bisa diam saja.

“Jawab Verro! Apa kamu ini manfaatin aku?!” teriak Frieska marah.

“Diam cewek sialan!”

Plak

Satu tamparan mengenai pipi Frieska, tanpa rasa bersalah Verro berani menampar Frieska di depan umum. Ini sudah benar-benar keterlaluan sekali, Kak Melody lalu melayangkan tangannya ke arah Verro, tapi belum sampai karna tangannya ditangkap oleh Verro.

“Dasar, penipu! Cowok brengsek, lepas tangan gue!!!” teriak Kak Melody.

“Kenapa Kak Melody yang terhormat, berani tampar gue haaa?” ucap Verro sambil menyeringai.

“Woy, jangan kasar sama cewek. Dasar banci!” teriak gue kearah Verro.

Gue melangkah menuju Verro, tapi dihalangi oleh Dendhi. Shanji lalu datang menghajar telak ke pipi Dendhi.

Bugh, Dendhi langsung tersungkur. Orang yang tidak di kenal itu menolong Dendhi yang kesakitan, cewek misterius yang sangat asing bagi kami.

“Gue nggak nyangka Den, elo beraninya adu domba gue sama Willy. Pukulan itu belum sepadan dengan kekacauan yang lu perbuat!” ucap Shanji.

“Lo urus Dendhi, biar gue yang tangani Verro, Nji” ujar gue.

“Oke, Wil. Gue bakal buat Dendhi menyesal” balas Shanji.

Gue menoleh kearah Dendhi yang sudah bangkit, sepertinya tahap pertama sudah di mulai. Dia tampak kesakitan setelah menerima pukulan dari Shanji barusan.

“Sangat menjengkelkan kalau di tipu sama orang yang kita percaya selama ini, lo bakal menyesal Dendhi Yoanda!” ucap gue.

Gue lalu berjalan kearah Verro, dia mencengkram tangan Kak Melody dengan kuat. Bikin malu aja dia, beraninya Cuma sama cewek.

Gue melepaskan tangan Kak Melody yang Verro cengkram, dia menoleh kearah gue. Dengan cepat gue memukul muka Verro dengan keras.

“Kak Melody sama yang lain mundur dari sini, aku takut kalian kena” perintah gue.

“I iya dek”

Kak Melody dan yang lain menjauh dari tempat gue berdiri, orang-orang yang ada disini panik dan coba untuk menghentikan perkelahian ini. Gue menoleh ke Shanji, dia sedang menghajar Dendhi secara membabi buta, lalu gue kembali menatap Verro. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Hahaha, ternyata ada yang mau jadi pahlawan disini. Berani juga lo sama gue!” ucap Verro sambil mengelap sudut bibinya.

“Kalau misalkan lo berani, kita satu lawan satu tanpa senjata” tantang gue.

“Sayang, gue nggak mau berbasa basi dengan lo, Willy Debiean!”

Verro mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya, gue kaget melihat benda itu. Verro sudah mengarahkan kearah gue, sekarang rasanya terlambat untuk menghindar. Dia menarik pelatuknya ….

DOR

BRUKKK

“Willy!!!” gue mendengar suara teriakan teman-teman.

Gue jatuh tersungkur, semua terasa aneh. Orang-orang pada berlarian dari tempat ini, gue melihat Verro lari bersama Dendhi. Mereka kabur entah kemana, sekarang bagian perut gue terasa sangat sakit sekali.

Nafas gue terasa berat sekali, pandangan gue juga mulai kabur. Gue melihat teman-teman ada di depan mata gue sekarang. Gue menatap Ve yang tepat ada didekat gue, dia menangis tersedu-sedu. Tak hanya Ve saja, tapi semuanya menangis.

“Telpon Ambulance!!! Ayo cepetan, kita harus bawa dia ke rumah sakit terdekat!” ucap Kak Melody terlihat panik.

“Ini baru aku telpon Kak,” balas Viny.

“Kita harus gimana nih, darahnya terus keluar itu!!!” ujar Gre panik, dia tak bisa menahan air matanya juga.

“Hey bung, tahan sebentar. Bantuan pasti segera datang, gue mohon bertahan!” ucap Shanji.

“Ahhh sakit, Verro tadi bawa pistol ya” tanya gue.

“Iya, sialan! Dapat darimana itu anak, memang brengsek itu orang!” ujar Shanji jengkel.

“Ambulance nya bentar lagi bakal datang” teriak Anin.

“Tahan sebentar ya, Sayang. Aku mohon bertahan” ucap Ve memegang tangan gue.

“Oh iya, aku belum jawab pertanyaan kamu tadi yaa. Aku udah ada jawaban sekarang, semoga kamu bisa terima keputusanku ini” ujar gue.

“Aku bakal terima apapun jawaban kamu,” balas Ve sesenggukan.

“Maaf, lebih baik kita temenan aja. Aku nggak bisa penuhi janjiku yang dulu, a aku udah punya tunangan, nama dia Shani Indira Natio. Dan apapun yang terjadi setelah ini, aku mohon jangan marah sama aku” ucap gue.

“Iya …. aku bakal terima itu, apapun yang kamu pilih itu semoga yang terbaik untuk kita” balas Ve.

“Tapi suatu hari nanti aku tetap berharap kita bisa jalin hubungan lagi …” tambahnya.

“Aku nggak tau, kalau jodoh itu pasti nggak akan kemana ….” ucap gue.

Perlahan pandangan gue mulai buram dan tiba-tiba semua jadi gelap.

 

TAMAT …..

 

Eh jangan tamat, cerita masih belum jelas malah mau main tamat aja, wkwkwk.

 

TO BE CONTNUED AJA ….

 

 

Created By : Authornya yang bikin

Note : Buat part ini terpaksa di potong setengahnya, soalnya buat part selanjutnya aja, biar pada penasaran. Oh ya satu lagi, ff ini bakal keluarin versi cerpen oneshoot nya, sedang dalam tahap pengerjaan. Kalau mau tanya info tinggal add Id Line : mojo92

 

Thanks 😁

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

10 tanggapan untuk “Iridescent Part 16

  1. Gak diputusin ama Shani kok, lik…. cuma ditinggalin 😂😂😂

    Syukur deh kalau anak geng lu minat baca, sampaiin terima kasih ke mereka Lik 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s