Silat Boy : Semi Final Part 25

CnJGPUtWgAEeomp

Setelah istirahat selama setengah jam, akhirnya pertandingan pun
dilanjutkan. Sebelumnya Rusdi mendapat pengarahan dari Kak Ve.
Sementara Kak Melody dan yang lainnya hanya menonton di tribune, karna
penonton tidak diperbolehkan mendekat jika pertandingan belum selesai.

“Baiklah, semi final akan dilanjutkan. Pertandingan pertama Gre
melawan juara bertahan, Boim!” seru komentator diiringi suara riuh
penonton dan suara tepuk tangan setelahnya.

“Dia hanya wanita, kau tidak mungkin kalah melawannya” ucap salah satu
teman Boim, berbisik padanya.
“Mengalahkannya sangat mudah, seperti mematahkan tusuk gigi.” balas Boim.

Boim berlari dan melompat menuju arena pertandingan. Sementara Gre
hanya berjalan santai menuju arena pertandingan. Wasit kemudian
menurunkan benderanya diantara mereka berdua.

Tak lama, wasit mengangkat benderanya tanda pertandingan sudah
dimulai. Boim kemudian berlari kearah Gre yang masih terdiam disana,
lalu melompat dan hendak menendang Gre.

Tapi Gre menahan kakinya dan hendak melakukan apa yang dilakukan oleh
Rusdi sebelumnya. Yaitu menarik kaki lawannya dan menjatuhkannya di
luar garis.

Saat Gre menarik kakinya, Boim berputar dan menendang dada Gre dengan
kaki lainnya. Gre terjatuh diluar garis, Boim juga terjatuh. Tapi Boim
masih berada di dalam arena pertandingan.

Gre sangat kesakitan, ia memegangi dadanya. Boim kemudian mengangkat
kedua kakinya, lalu mengayunkannya dan kembali berdiri. Wasit kemudian
membawa Gre keluar arena.

Setelah itu beberapa orang membawa Gre ke UKS sekolah itu. Boim hanya
menatapnya datar, lalu ia meninggalkan arena pertandingan dengan
santai menuju kedua temannya.

“Wih, kau hebat bisa mengalahkannya hanya dalam sekali tendangan!”
seru salah satu teman Boim.
“Sudah kubilang bukan? Mengalahkannya sangat mudah seperti mematahkan
tusuk gigi.” balas Boim.

“Tinggal satu orang lagi yang harus kukalahkan.” Boim menatap sinis
kearah Rusdi yang menunggu namanya disebut.
“Balaskan dendam kita!” teman Boim yang satunya menepuk pelan bahu Boim.

“Pertandingan selanjutnya Ghaida melawan si anak baru, Rusdi!” seru komentator.
“Jangan ragu, tunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya.” pesan Kak Ve,
Rusdi hanya mengangguk saja.

Rusdi kemudian berjalan santai menuju arena pertandingan, dimana sudah
ada Ghaida disana. Kak Melody nampak sangat bersemangat meneriaki
namanya. Sesekali Naomi juga ikut meneriaki namanya.

Wasit kemudian menurunkan benderanya. Rusdi sudah siap, ia kini berada
dalam posisi kuda-kuda yang ia buat selama latihan dua minggu itu.
Kuda-kuda itu terlihat asing.

Kaki kanannya berada di depan dan sejajar dengan kaki kirinya di
belakang. Kedua kakinya sedikit ditekuk. Kedua tangannya dibuka, dan
sedikit ditekuk ke depan. Tangan kananya di depan dan tangan kirinya
disebelah tangan kanan.

Wasit kemudian mengangkat benderanya, tanda pertandingan sudah
dimulai. Suara penonton makin terdengar tidak jelas. Entah itu
meneriaki namanya, atau meneriaki nama Ghaida.

Rusdi mulai memukul Ghaida, tapi Ghaida menangkisnya. Rusdi menendang
Ghaida, tapi Ghaida menendang kakinya untuk menangkis. Rusdi kemudian
menyerang Ghaida dengan cepat.

Ghaida kembali menangkis serangan itu, lalu menendang dada Rusdi
hingga ia jatuh tersungkur. Ghaida kemudian melompat dan hendak
meninju wajah Rusdi. Tapi Rusdi menghindarinya dan kembali berdiri.

Ghaida mulai menyerang dengan serius. Rusdi hampir kewalahan, ia tidak
bisa menyerang balik. Ia masih berusaha menangkis serangan Ghaida. Ia
harus bisa mengimbangi serangan Ghaida.

Ghaida menendang kaki Rusdi hingga ia kembali terjatuh. Kemudian Rusdi
mengayunkan kakinya ke belakang untuk menendang Ghaida. Ghaida
menghindarinya dengan mudah.

Rusdi kembali berdiri, ia kemudian diam sejenak. Ia pasti bisa
mengalahkan Ghaida, tapi sebelumnya ia harus mencari titik lemah
Ghaida terlebih dahulu.

Saat Rusdi masih terdiam, Ghaida kembali menyerangnya. Rusdi menangkis
pukulan itu, tapi Ghaida menendang kakinya. Lalu menendang dadanya
hingga ia kesakitan.

Setelah itu Ghaida memegang lengannya, dan menjatuhkan Rusdi dengan
keras. Rusdi terbatuk-batuk, ia memegangi dadanya yang terasa sesak.
Pertarungan itu nampak tidak imbang, Ghaida masih mendominasinya.

Di sekolah itu Boim memang berkuasa, tapi selama ini Boim tidak pernah
mengganggu Ghaida. Ghaida adalah satu-satunya murid yang tidak pernah
diusik oleh Boim. Boim memang bisa mengalahkannya, tapi ia memilih
untuk tidak pernah mengganggu Ghaida.

Wanita itu sangat misterius. Ia tidak pernah memiliki teman karna
sikapnya yang dingin. Jadi ia lebih memilih untuk membaca buku tentang
Pencak Silat dan beladiri lain.

Ghaida mengusap rambutnya yang pendek, ia masih menunggu Rusdi untuk
kembali berdiri. Nampaknya Rusdi sangat kesakitan, ia masih terdiam.
Rusdi kemudian memandang Kak Ve.

Kak Ve hanya balas memandangnya dengan tatapan datar. Di tengah
orang-orang disisi arena pertandingan, hanya Kak Ve yang memandangnya
datar. Ia tidak boleh mengecewakannya!

Rusdi kemudian mengangkat kedua kakinya, lalu mengayunkannya dan
kembali berdiri. Ghaida kembali mengusap rambutnya. Ia memandang Rusdi
dengan tatapan aneh.

Rusdi kemudian berteriak, dan menendang Ghaida. Tapi Ghaida
menjatuhkannya dengan mudah. Kali ini Ghaida tidak tinggal diam, ia
menarik baju Rusdi untuk kembali berdiri.

Rusdi kembali menendang Ghaida, tapi kali ini Ghaida menahan kakinya.
Lalu mengangkat kaki itu setinggi mungkin. saat Rusdi hilang
keseimbangan, Ghaida mendorongnya hingga ia kembali terjatuh.

Rusdi kembali jatuh, lalu ia berdiri dengan cepat. Rusdi berlari
kearah Ghaida, lalu ia melompat dan menendang wajah Ghaida. Ghaida
berhasil meredam kekuatan tendangan itu dengan kedua tangannya, hingga
tendangan itu tidak terasa sakit.

Tapi Ghaida terpental karenanya. Rusdi tidak menyia-nyiakan kesempatan
itu. Ia dengan cepat menyerang Ghaida. Ghaida menangkis semua serangan
itu. Sejauh ini satu pun serangan Rusdi tidak mengenainya.

Ghaida kemudian kembali menendang Rusdi. Kali ini lebih kuat dari
sebelumnya, hingga Rusdi terpental dan kembali jatuh. Rusdi masih
belum menyerah, ia kembali berdiri.

“Semangatmu sangat tinggi, aku salut padamu.” Ghaida tersenyum tipis
padanya, sementara Rusdi hanya menatapnya aneh saja.
“Rusdi…” Kak Melody terlihat pesimis, nampaknya Rusdi tidak bisa
menang melawan Ghaida.

Rusdi kemudian kembali menyerang Ghaida. Kali ini serangan itu
terlihat lambat, tapi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kali ini Ghaida
tidak bisa menangkis serangan-serangan itu.

Suara Kak Melody dan Naomi kembali terdengar. Kali ini Yona juga ikut
menyemangatinya. Penonton lain pun ikut meneriaki nama Rusdi untuk
menyemangatinya.

Rusdi memukul dan menendang Ghaida dengan lambat, tapi serangannya
sangat kuat. Kali ini Ghaida kewalahan, ia beberapa kali terkena
serangan mematikan itu.

Rusdi menghentikan serangannya, lalu berputar dan menendang kepala
Ghaida hingga terjatuh. Rusdi kemudian menarik kerah baju Ghaida, dan
mengepalkan lengannya hendak memukul Ghaida.

“Aku tidak boleh dikalahkan oleh wanita.” ucap Rusdi, sejenak Ghaida
memperhatikan wajah Rusdi.
“Kau keras kepala, masih belum menyerah juga.” balas Ghaida.

Rusdi kemudian membantu Ghaida untuk berdiri. Ghahida terseok-seok
berusaha berdiri. Ghaida kemudian mengangkat tangannya. Entah apa
maksudnya mengangkat tangan.

“AKU MENYERAH!!!” teriak Ghaida.
“Apa?” Rusdi nampak bingung, sementara Ghaida hanya tersenyum kearahnya.
“Kalahkan Boim di final nanti.” bisik Ghaida, lalu pergi meninggalkan Rusdi.

Suara teriakan penonton memanggil namanya makin terdengar jelas
disertai suara tepuk tangan penonton. Rusdi tersenyum puas, ia
berhasil mengalahkan Ghaida. Rusdi kemudian menghampiri Kak Ve.

“Kau hebat!” kali ini Kak Ve tersenyum memujinya.
“Teknik tadi aku namakan Pukulan Kuat!” Rusdi balas tersenyum.
“Setelah ini kau akan melawan Boim.” balas Kak Ve.

“Sudah final ya?” Rusdi nampak lesu.
“Semangat sedikit napa, pertandingan selanjutnya adalah pertandingan
penentuan!” balas Kak Ve.
“Baiklah!” Rusdi kembali bersemangat.
“Jangan lupa gunakan Blue Power!” balas Kak Ve.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s