X-World, Side Story (5) : Logan – Coincidence (Pt.2)

“K.O!!!”

Salah satu tim kembali tumbang di arena. Ketiga orang pemenang itu melihat nama mereka naik pada diagram di monitor utama. Mereka berjalan pergi meninggalkan arena menuju belakang panggung untuk makan siang, tapi di tengah perjalanan seorang wanita menghampiri mereka.

Wanita dengan blazer hitam itu memberitahu ketiga peserta bahwa ada seseorang ingin menemui mereka di ruang komite. Dituntun oleh wanita itu, mereka bertiga naik ke ruang komite melewati belakang tribun. Sesampainya disana, mereka disambut oleh seorang pria dengan jas merah.

“Selamat siang, tuan-tuan. Silahkan duduk.”

Ketiga peserta itu duduk di sofa yang ada di depan pria dengan jas merah.

“Wah,wah, wah… Rugal Bernstein. Ada perlu apa seorang eksekutif serba bisa sepertimu dengan orang-orang seperti kami? Jelas itu bukan urusan biasa.” Ucap salah satu peserta.

“Maaf tuan…?”

“Charlie.” Jawab peserta itu.

“Ok, tuan Charlie. Jadi bagaimana pendapatmu tentang turnamen tahun ini?”

“Cukup menarik, dan aku lihat semakin banyak orang yang tertarik ingin mencoba bertarung di dalam turnamenmu. Banyak pendatang baru yang tangguh dan itu jadi tantangan tersendiri bagi kami para peserta lama.” Jawab Charlie.

“Pendatang baru… Hmm… Seperti mereka bertiga?” Tanya pria dengan jas merah sambil menunjukkan rekaman salah satu pertandingan di babak pertama.

“Oh, mereka? Ya, mereka… Umm… Lumayan.”

“Begini, Tuan Charlie. Ini bukan kemauanku, tapi salah satu sponsorku, sponsor yang menyumbang paling banyak dana dalam turnamen tahun ini. Mereka ingin agar ketiga orang ini tidak maju lebih jauh dalam turnamen tahun ini. Aku bisa saja mendiskualifikasi mereka, tapi tentunya para penontonku akan kecewa kalau aku melakukan hal itu.”

“Lalu kau mau kami menjatuhkan mereka?” Tanya Charlie.

“Seandainya mereka maju ke babak ke-3, ya. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau bersedia melakukannya untuk sponsorku. Jadi, bisa kita bicarakan ‘Harga’ untuk jasamu dan juga rekan-rekan satu timmu?”

“Tunggu, Rugal! Walaupun alasan kami bertarung di dalam turnamen ini untuk uang hadiah di akhir turnamen, tapi sebagai petarung kami masih punya kode etik,” Rugal menatap Charlie dengan tatapan serius.

“Tidak ada jawaban ‘Ya’ ataupun ‘Tidak’ untuk tawaranmu itu. Kami akan kalahkan mereka tanpa harus kau bayar atau suruh, tapi satu hal yang perlu kau ingat! Kami akan kalahkan mereka bukan karena kau, sponsormu, atau bahkan bayaranmu. Kami akan kalahkan mereka, agar kami dapat maju ke final dan memenangkan turnamenmu.”

Kedua rekan Charlie ikut mengangguk setelah ia menyelesaikan ucapannya. Mereka bertiga langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruang komite. Rugal menatap kepergian mereka dengan tatapan kesal.

Walaupun ia tidak harus mengeluarkan uang untuk membuat mereka termotivasi mengalahkan Logan, Sima Zhao, dan juga Lidya, tapi ucapan mereka cukup untuk membuat Rugal jengkel.

“Huft… Aku mulai muak dengan masalah ini.” Gerutu Rugal.

**

Logan membuka kaleng soda yang baru dibelinya dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk. Melihat sikap Logan, Lidya pun menjadi sedikit heran dengan orang tua itu.

“Haus, om?” Ledek Lidya.

“Hah… Baiklah, Zhao, siapa selanjutnya?” Ini bukan pertama kalinya Lidya diacuhkan dalam tim.

“Tidak seberat lawan kita di babak kedua. Santai saja, tidak perlu takut berlebihan.” Ucap Zhao santai sambil mengasah sebuah benda yang ia tutupi dengan gulungan kain.

“Di babak awal, kau memperingatkanku dan anak ini…” Logan mengelus kasar rambut Lidya, “…Agar selalu siap terhadap setiap kemungkinan yang mungkin terjadi di pertandingan yang akan datang, tapi sekarang kau malah melakukan hal yang sebaliknya.”

“Iya, iya, iya. Tolong biarkan aku menyelesaikan ini terlebih dahulu.” Zhao mempercepat kegiatannya.

“Oke. Jadi di babak ketiga ini kita akan berhadapan dengan para peserta langganan dari turnamen-turnamen sebelumnya,” Zhao mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Beberapa lembar kertas berisi data peserta yang akan jadi lawan mereka.

“Pertama ada Jann Lee. Ahli bela diri dengan teknik Jeet Kune Do. Gerakannya cepat, sesuai dengan teknik bela dirinya.” Jelas Zhao.

“Wow… Jeet Kune Do! Gue dulu malah pengen banget belajar bela diri ini, tapi gue malah nyantol di kickboxing sama gulat pas SMP.” Logan dan Zhao langsung memandang Lidya dengan tatapan curiga.

“Apa?” Logan dan Zhao langsung berpaling.

“Kedua, Bayman. Mantan anggota militer Rusia yang alih profesi jadi tentara bayaran dan pembunuh professional. Waktu ‘hak’ turnamen ini masih dipegang sama komite yang lama, Bayman pernah disewa seseorang untuk membunuh ketua komite itu, tapi tidak lama kemudian Bayman berbalik melawan bosnya sendiri.”

“Kenapa?”

“Karena dia tidak mendapat bayarannya.”

“Jadi dia ikut turnamen ini untuk ngeklaim pengganti bayarannya?” Tanya Logan. Zhao mengangguk pelan.

“Hmm… Yang satu ini bisa jadi kuda hitam.”

“Salah! Kuda hitam di tim mereka adalah orang ketiganya. Namanya Charlie Kenton, mantan atlit boxing. Dia punya reputasi terbaik dalam melakukan counter attack dan come back saat kita semua menyangka kalau dia telah kalah telak.”

“Lalu apa saranmu, Zhao?” Tanya Logan.

“Serahkan dia padaku. Dia bukan satu-satunya orang yang bisa membuat kejutan di tengah pertarungan.” Jawab Zhao.

“Uh… Baiklah. Aku rasa rencana selesai, tapi masih ada satu masalah disini.”

“Apaan, Om?” Tanya Lidya.

Lidya tengah dalam keadaan lengah. Logan pun dengan cepat menyambar soda milik Lidya yang sama sekali belum ia minum seteguk pun. Kurang dari 10 detik, minuman rampasan itu langsung habis di tangan Logan.

“Jatah gue diambil juga. Parah lo, Om!”

“Masukkan itu ke daftar hutangku. Kalau hadiah utamanya sudah di tangan kita, akan aku ganti.” Lidya hanya bisa mendengus kesal.

**

Babak ketiga telah dimulai. Sesuai dengan diagram pertarungan sebelumnya, Tim Charlie dan Tim Logan kembali mendapat giliran di pertandingan terakhir. Selagi masih punya waktu, Zhao dan Lidya melakukan sedikit latihan di belakang panggung sementara Logan menonton pertandingan yang tengah berlangsung di arena utama.

Ketika Tim Charlie dan Tim Logan dipanggil ke arena utama, Zhao dan Lidya langsung pergi ke arena utama. Logan dan semua anggota tim Charlie telah berada di pinggir arena. Begitu Lidya dan Zhao tiba, salah satu anggota tim Charlie yaitu Jann Lee, masuk ke dalam arena. Melihat Lee masuk, Lidya langsung melompat masuk ke dalam arena.

Zhao berniat mencegah Lidya maju lebih awal di arena, karena menurut rencana, seharusnya Zhao lah yang maju terlebih dahulu, tapi Logan menghentikannya.

“Biarkan anak itu. Lihat! Dia sepertinya sangat antusias dengan atlit Jeet Kune Do itu.”

“Hah… Terserah kau saja.” Ucap Zhao pasrah.

………………….

“PREPARE YOURSELF… FIGHT!”

Pertarungan pun dimulai. Lee dan Lidya saling menjaga jarak. Keduanya saling mengobservasi gerakan satu sama lain. Belum ada yang maju dan melayangkan serangan pertama.

Suasana serius di tengah arena pertarungan rupanya juga berpengaruh pada penonton. Semua penonton diam, tidak ada satupun yang bersorak untuk memberikan semangat pada Lidya ataupun Lee.

*DRAP!*

Di saat yang bersamaan, Lidya dan Lee berlari menghampiri satu sama lain. Pukulan pertama pun dilayangkan keduanya. Kedua pukulan itu saling bertemu. Dengan cepat, keduanya mundur selangkah, dan kembali melayangkan serangan. Hal itu terus terjadi berkali-kali.

Adu serangan cepat antara Lidya dan Lee membuat para penonton kagum dan memancing kembali teriakan euforia mereka. Lidya berguling ke samping untuk menghindar dari tendangan tinggi yang dilancarkan Lee. Melihat celah untuk menjatuhkan Lee di depan mata, Lidya segera melakukan tackle yang sukses membuat Lee jatuh.

Lidya segera berguling ke belakang untuk mengantisipasi serangan balasan yang bisa saja dilakukan Lee terhadapnya. Baru beberapa menit pertarungan berlangsung, Lidya sudah terengah-engah tidak seperti pertandingan sebelumnya. Segaris senyuman terlihat jelas di bibirnya, menandakan ia sangat menikmati pertarungannya.

Lee kembali bangun. Ia meledek Lidya yang tidak jauh darinya dengan gaya ala Bruce Lee-nya. Menanggapi ledekan tersebut, Lidya berlari ke arah Lee dan mereka lagi-lagi terjebak dalam aksi pertarungan gerak cepat.

“Logan, kau melihatnya?” Tanya Zhao.

“Melihat apa?”

“Lidya. Sepertinya dia kelelahan.” Logan memfokuskan pandangannya pada Lidya, dan apa yang Zhao ucapkan kepadanya ternyata benar. Wajah Lidya terlihat memucat tanpa sebab.

“Kenapa dengan anak itu? Tadi dia bersamamu, kan? Apa dia mengalami sesuatu waktu di belakang panggung?” Tanya Logan.

“Aku juga tidak tahu. Saat latihan tadi dia terlihat baik-baik saja.” Jawab Zhao. Mereka berdua kini terlihat panik, karena kalau Lidya sampai kalah, itu berarti perjalanan mereka dalam turnamen ini TAMAT.

Lidya dan Lee masih saling mengadu serangan, dan Logan mulai khawatir dengan kondisi Lidya. Seiring waktu, Lidya mulai mengalami gejala seperti nafas yang melemah dan seluruh wajahnya pucat total.

“LID! TAG OUT!” Teriak Zhao sambil mengulurkan tangannya dari pinggir arena.

Mendengar teriakan Zhao, Lidya langsung mundur selangkah dan melakukan jab lurus ke arah perut Lee. Jab yang dilakukan Lidya tergolong lambat, dan Lee dapat melihatnya dengan jelas, tapi ia lebih memilih menahan serangan tersebut agar dapat langsung membalikannya.

Menilai dari kondisi Lidya yang pucat, Lee berpikir jab tersebut hanya akan seperti pukulan biasa yang mudah diantisipasi, tapi nyatanya begitu pukulan itu mengenai Lee….

*BUM!!!*

Lee terpental dengan kuat ke pinggir arena akibat jab dari Lidya. Tidak ada yang menyangka bahwa pukulan lambat itu akan menghasilkan daya hantam yang mampu membuat Lee terpental hingga pinggir arena.

Dengan langkah pelan, Lidya berjalan menghampiri Zhao dan segera melakukan tag out dengannya. Tim Charlie juga ikut mengganti pemainnya. Menurut prediksi Zhao, seandainya terjadi pergantian pemain di tim Charlie, Bayman lah yang akan turun kedua, tapi ternyata prediksinya salah. Lee malah melakukan tag out dengan Charlie.

Sementara itu di pinggir arena, Logan berniat membawa Lidya ke petugas kesehatan di pinggir arena, tapi Lidya mencengkram tangan Logan dan berkata bahwa ia baik-baik saja.

“Kalau kau memang baik-baik saja, lalu kau sebut apa wajah pucatmu?”

“Aku… Butuh… Tasku….” Jawab Lidya terbata-bata dengan nafas lemah.

“Tas? Untuk apa? Masih sempat-sempatnya kau memikirkan barang pribadi dibanding dirimu sendiri.”

“CEPAT… TASKU….” Dalam kondisinya yang lemah, Lidya bersikeras meminta agar Logan mengambilkannya tasnya. Logan mengalah. Ia membaringkan tubuh Lidya di samping arena, kemudian pergi ke belakang panggung untuk mencari tasnya.

Panik. Itulah yang dirasakan Logan sekarang. Ia menyusuri lorong di belakang panggung hanya untuk mencarikan temannya yang tengah dalam kondisi menyerupai orang sekarat tas punggung miliknya. Aneh memang.

Setelah mendapat tas milik Lidya, Logan segera kembali ke pinggir arena untuk memberikan tas itu padanya. Melihat Logan datang dengan barang yang dimintanya, Lidya langsung merebut tas itu dari Logan, dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah termos kecil. Yap, itulah yang ternyata dicari oleh Lidya.

Lidya membuka tutup termos dan menuangkan isi termos ke dalam tutupnya yang ia jadikan cup. Isi termos itu ternyata bukan air hangat ataupun minuman, melainkan telur mentah. Begitu cup sudah terisi 2 buah kuning telur mentah, Lidya langsung memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

Setelah menelan makanan tersebut, wajah Lidya berangsur-angsur kembali normal. Begitu juga nafasnya yang sempat sesak. Melihat kondisinya yang kembali seperti semula seperti tidak terjadi apa-apa, Logan menatap Lidya dengan heran.

“Oke, gue tau lo bingung, tapi bisa kan penjelasannya ditunda dulu sampai pertandingan ini selesai?”

**

“Charlie Kenton. Pendatang lama yang kembali jadi salah satu kuda hitam di turnamen tahun ini.”

“Terima kasih, tapi kau juga kuda hitam di turnamen tahun ini bukan? Kau dan rekan-rekan satu tim-mu.” Puji Charlie pada Zhao.

“Bisa langsung kita mulai? Aku ingin segera menikmati uang hadiah itu.” Ucap Zhao sambil mengangkat kedua tangannya, bersiap untuk bertarung.

Charlie hanya tersenyum kecil, kemudian ia memulai serangannya terhadap Zhao. Kiri, kanan, kiri, uppercut. Charlie ibarat berdansa di atas arena dengan gerakan boxingnya yang cepat. Zhao nampaknya cukup kewalahan menghadapi Charlie.

“Tanganmu cepat,” Zhao menunduk, dan melancarkan tendangan ke arah perut Charlie yang sukses mengenainya dan membuatnya mundur beberapa langkah.

“Tapi tidak cukup cepat untuk menjatuhkanku.” Charlie kembali memasang ancang-ancang, tapi saat ia baru akan hendak menyerang Zhao….

“COUNTER-TIMER… START!”

“Akhirnya…” Gumam Charlie pelan. Charlie mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya, sebuah headset bluetooth. Ia memasang headset itu pada telinga kanannya.

“ATOM! Enter!” Sebuah robot yang berukuran sedikit lebih besar dari Charlie berjalan masuk ke dalam arena.

Hands up! Engage!” Charlie memerintahkan robotnya untuk mulai menyerang Zhao, sementara dirinya berputar ke belakang Zhao. Ini adalah taktik andalan Charlie ketika Counter-Timer. Ia akan mengepung lawannya bersama robot boxing yang terhitung sebagai senjatanya.

Walaupun robot itu terhitung sebagai senjata, tapi teknisnya di arena, kini Zhao harus menghadapi pertarungan 2 lawan 1. Logan berteriak pada Zhao dari pinggir arena sambil mengulurkan tangan kanannya. Ia khawatir Zhao tidak akan sanggup bertahan melawan Charlie dan juga robotnya.

“Sepertinya sudah waktunya,” Zhao mengambil benda misterius yang selalu ia bawa di punggungnya. Ia membuka kain penutup yang melapisi benda itu.

“Mari berdansa!” Wujud benda yang selalu dibawa Zhao itu pun terlihat. Sebuah pedang besar yang menyerupai golok.

Charlie dan robotnya memulai serangan mereka terhadap Zhao.

*SRINK! BHUAK!*

Seluruh penonton terkejut. Tidak ada yang tau apa yang baru saja terjadi, tapi kini Charlie telah terpental ke sudut arena. Robot milik Charlie juga terpental ke sudut arena yang berbeda, tapi bukan itu saja. Lengan kanan robot itu telah terputus. Zhao masih berdiri di tengah arena sambil memainkan ujung kaki kanannya naik-turun.

Charlie dan robotnya bangkit. Keduanya kembali melakukan serangan bersamaan terhadap Zhao. Zhao dengan cepat mengayunkan goloknya ke arah robot Charlie, lalu ia berbalik dan menendang Charlie hingga kembali terpental ke sudut arena.

“COUNTER-TIMER, FINISH!”

Bersamaan dengan berakhirnya counter-timer, robot milik Charlie telah terpotong menjadi 3 bagian di arena. Zhao pun menggantung kembali senjatanya di punggungnya.

“Ugh… Sial.”

“Hehehe. Maaf Charlie, tapi aku sudah tahu trikmu dengan robot itu.” Ucap Zhao yang telah berada persis di depan Charlie.

“Sejak kapan…?” Tangan kanan Zhao melayang dengan cepat ke arah dada Charlie. Pukulan itu berhasil membuat tubuh Charlie menghantam tiang di sudut arena sekaligus mengantarkan tim Zhao ke babak ke-4 turnamen.

“K.O!!!”

“Hgh… Aku kalah. Selamat untuk tim-mu, Sima Zhao.” Zhao mengulurkan tangannya pada Charlie. Charlie menyambut uluran tangan Zhao, kemudian ia membantu Charlie berjalan keluar dari arena dan mengantarkannya pada tim medis yang telah menunggu di pinggir arena.

“Tunggu!” Ucap Charlie saat tim medis hendak membawanya.

“Zhao, ada orang yang ingin kau dan tim mu keluar dari turnamen ini. Berhati-hatilah di pertarungan selanjutnya.” Setelah mengatakan itu pada Zhao, Charlie pun dibawa oleh tim medis ke tenda pengobatan.

“Rugal… Bernstein?” Gumam Zhao pelan.

**

“Hah? Siapa tuh? Gue kayaknya nggak pernah berurusan sama orang yang namanya Rugal.” Ucap Lidya dengan mulut yang dipenuhi makanan.

“Logan?”

“Tidak pernah dengar.” Jawab Logan.

“Bagaimana seseorang yang bahkan tidak punya relasi dengan salah satu dari kita, ingin kita keluar dari turnamen ini?”

“Tidak usah terlalu dipikirkan, Zhao. Cepat atau lambat kita juga akan bertemu dengan si Rugal ini,” Ucap Logan.

“Om Logan bener. Lagian kita nggak ngelanggar peraturan turnamen sama sekali, santai aja kali, Zhao.” Tambah Lidya masih dengan mulut yang dipenuhi makanan.

“Nak, telan dulu makananmu.” Ujar Logan.

“Hei, Lid, tadi kau kenapa? Tiba-tiba pucat tanpa sebab begitu.” Tanya Zhao.

“Oh… Jadi begini, tubuh gue punya masalah… Eh, lebih tepatnya kayak ketergantungan gitu sama protein. Kalo gue kekurangan protein, gue bisa jadi lemes dan pucat dalam hitungan detik. Puncaknya kalo sampai tubuh gue kehabisan protein, gue bakalan mati.” Jelas Lidya.

“Tapi di samping ketergantungan itu, tubuh gue juga punya kelebihan. Tubuh gue bisa menghasilkan gaya dorong berkali-kali lipat sesuai yang gue pengen, tapi penggunaanya akan mengkonsumi kadar protein di dalam tubuh gue.” Tambahnya.

Zhao tampaknya agak tercengang mendengar penjelasan Lidya mengenai kemampuan khusus yang dimilikinya dan juga efek samping yang akan terjadi bila tubuhnya kekurangan protein.

“Sepertinya kemampuanmu bisa dimanfaatkan untuk melakukan finishing blow pada musuh yang sudah kelelahan.” Ucap Zhao sambil tersenyum pada Lidya.

“Boleh aja, tapi lo harus beliin gue makanan yang banyak proteinnya. Tenderloin steak sama ayam bakar 3 kayaknya Cuma cukup untuk 2x finishing blow.” Berniat memanfaatkan orang, Zhao malah berakhir dimanfaatkan.

Zhao melirik Logan, tapi Logan langsung berkata, “Rencanamu, urusanmu. Aku tidak ikut-ikutan.”

Waktu menunggu pertandingan dimanfaatkan untuk mempelajari musuh yang akan dihadapi oleh Logan dan timnya. Tak terasa diskusi mereka telah memakan banyak waktu, hingga host harus memanggil mereka karena mereka tak kunjung datang ke arena.

Ketiganya bergegas pergi ke arena. Logan sudah berdiri di tengah arena. Sepertinya bukan hanya mereka bertiga yang lupa waktu untuk pertandingan tapi tim yang menjadi lawan mereka juga.

Hampir 10 menit menunggu, lawan mereka tak kunjung datang. Host pun secara resmi mengumumkan lawan mereka gugur, dan tim Logan lolos ke babak final. Logan dan Zhao tau ada yang tidak beres dibalik kemenangan instan mereka di semi-final. Logan punya firasat bahwa orang yang bekerja dibalik layar baru akan memulai permainannya.

Tersisa 2 tim yang akan memperebutkan hadiah utama turnamen. Keduanya diberi waktu 15 menit sebelum pertandingan terakhir mereka. Berhubung tim yang akan mereka lawan di final tidak jauh berbeda dengan tim yang mereka riset di pertandingan semi-final, mereka sepakat untuk memakai rencana yang sama.

Jam 6 sore. Langit biru pagi telah berubah menjadi langit hitam malam. Lampu-lampu di stadium menyala terang, dan semua lampu sorot yang ada di dalam mengarah ke satu tempat yang sama, yaitu arena utama. Sang Host muncul di atas panggung dan berjalan ke tengah arena sambil membuka pertandinga final dengan sedikit basa-basi.

Sesuai dengan aba-aba host, Logan dan timnya berjalan masuk dari panggung ke arena utama. Sorotan lampu dan teriakan penonton mengiringi langkah mereka hingga mereka tiba pinggir arena.

Setelah memanggil tim Logan, host pun lanjut memanggil tim yang akan menjadi lawan mereka, tapi… saat si host hendak menyebut nama-nama mereka, sesuatu terjadi….

Seluruh speaker mengeluarkan bunyi sirine peringatan. Lantas semua orang di dalam stadium bingung termasuk si host sendiri. Monitor besar di panggung yang semula menampilkan gambar-gambar peserta final berubah dalam sekejap menjadi latar hitam yang dihiasi gambar garis polisi dan juga sebuah tulisan “WARNING” besar berwarna merah.

Dari seberang arena, terdengar langkah kaki seseorang. Tamu tidak diundang itu menaiki tangga menuju arena perlahan-lahan. Saat ia sampai di pinggir arena, semua lampu sorot langsung bergerak menyorotnya.

M-M-Mr. Rugal?!!” Sang Host terkejut begitu mengetahui bosnya tengah berdiri di seberang arena. Rugal tidak berhenti berjalan, ia melompat masuk ke dalam arena.

“Tolong jangan berpikir ini tentang masalah pribadi,” Rugal memasang kuda-kuda.

“PREPARE YOURSELF… FIGHT!”

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s