Vepanda part 16

“Kenapa?!” tanya Rezza panik setelah sampai dikamarnya.

“Aku mimpi buruk,” jawab Sinka dengan raut wajah yang terlihat ketakutan.

“Ada apa?” tanya Melody yang tiba-tiba berada dibelakang Rezza.

“Kamu kenapa dek?” tanya Naomi berjalan menghampiri Sinka yang tengah duduk di atas kasur.

“Sinka gapapa kak, dia cuma mimpi buruk,” ucap Rezza.

“Yaelah kirain kenapa,” ucap Naomi duduk disebelah Sinka.

“Kan aku takut,” ucap Sinka dengan wajah sedih.

“Udah kamu tidur aja lagi sin, tapi jangan lupa baca do’a,” ucap Melody lalu pergi ke kamarnya.

“Iya kak,” ucap Sinka dengan wajah yang masih terlihat takut.

“Yaudah kakak tidur lagi ya,” ucap Naomi lalu mencium dahi Sinka.

“Kamu jagain Sinka ya za,” suruh Naomi lalu kembali ke kamar Melody.

“Iya kak,” ucap Rezza mengangguk.

“Kamu mau kemana?” tanya Sinka saat Rezza hendak keluar kamar.

“Matiin TV bentar sama masukin makanan ke kulkas,” jawab Rezza menoleh ke arah Sinka.

“Yaudah, tapi cepetan, aku takut,” Sinka terlihat ketakutan.

“Iya bawel,” ucap Rezza lalu pergi ke lantai bawah.

Beberapa menit kemudian Rezza kembali ke kamarnya.

“Lahh…, udah tidur,” ucap Rezza saat melihat Sinka sudah kembali tertidur.

Rezza menghampiri Sinka, membetulkan selimutnya lalu berbaring di sebelahnya.

Satu jam sudah berlalu, Rezza masih saja belum tidur, ia masih bebaring di sebelah Sinka sambil membaca komik.

“Uhhh…,” Sinka tiba-tiba mendesah dan menggeser tubuhnya mendekati Rezza.

Rezza menoleh ke arah Sinka sebentar lalu kembali membaca komiknya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi dan Rezza belum juga tidur, dia masih asik membaca komiknya di sebelah Sinka yang sedang tidur.

“Iya, aku suka sama kamu,” ucap Sinka mengigau.

“Nih anak kenapa sih?” tanya Rezza menatap Sinka dengan heran.

Belum ada sepuluh menit sejak Sinka mengigau tadi, Sinka sudah mengugau lagi.

“Makasih,” ucap Sinka mengigau lagi.

Kali ini Sinka tidak hanya mengigau, dia mengigau sambil menggeser tubuhnya mendekat ke araah Rezza hingga menempel dan memeluknya.

“Eh?” Rezza sedikit terkejut saat Sinka memeluknya.

Jantung Rezza berdebar sangat kencang seperti genderang mau perang~

Dag dig dug duarr!!

Dada Rezza meledak karena jantungnya berdetak terlalu cepat. Oke gue becanda, jantung Rezza hanya berdebar kecang, jika Sinka tidak sedang tidur pasti dia sudah mengetahui kalo jantung Rezza berdetak sangat kencang.

“Kenapa gue jadi deg-degan gini?” pikir Rezza.

“Apa jangan-jangan gue suka sama nih anak,” ucap Rezza menoleh ke arah Sinka.

Rezza kemudian menggeser tubuhnya agar tidak menempel dengan tubuh Sinka, ia juga menyingkirkan tangan Sinka dari dadanya.

Namun saat Rezza menyingkirkan tangan Sinka, tiba-tiba Sinka terbangun dari tidurnya.

“Uhhh..,” Sinka mendesah sambil mencoba membuka matanya.

“Eh sorry, lu jadi kebangun,” ucap Rezza menatap Sinka.

“Umm… jam berapa sekarang?” tanya Sinka yang terlihat masih mengantuk.

“Jam tiga kurang seperempat,” jawab Rezza setelah melihat jam weker dimeja sebelah tempat tidurnya.

“Kamu belum tidur?” tanya Sinka mencoba untuk bersadar ditembok seperti Rezza.

“Eh, iya, bentar lagi gue tidur kok,” jawab Rezza menatap Sinka.

“Yaudah, aku tidur lagi ya,” ucap Sinka kembali berbaring ke tempat tidur.

“Hmm,” Rezza bergumam sambil mengangguk.

“Kamu tiduran aja ntar leher kamu sakit kalo kaya gitu,” suruh Sinka.

“Iya, hehe…,” ucap Rezza lalu mengubah posisinya menjadi berbaring.

“Good night,” ucap Sinka sambil memeluk Rezza.

“Eh?” Rezza menatap Sinka dengan heran.

“Iya, good night,” ucap Rezza mengelus kepala Sinka.

Setelah itu Rezza terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil menatap wajah Sinka yang sedang tidur.

Fix, gue suka sama nih bocah,” ucap Rezza dalam hati.

Rezza pun menutup komiknya dan meletakkannya ke atas meja dan bersiap untuk tidur.

Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, Rezza mencium kening Sinka dengan perlahan lalu mulai tidur dengan satu tangan di belakang kepalanya dan tangan satuya lagi memegang tangan Sinka.

~oOo~

“Bangun mi, udah jam 6,” ucap Melody membangunkan Naomi yang tidur di sebelahnya.

“Ummm…,” Naomi bergumam lalu membuka kedua matanya.

“Jam berapa sekarang?” tanya Naomi mencoba duduk.

“Jam 6,” jawab Melody beranjak dari atas tempat tidur.

“Sinka udah bangun belom?” tanya Naomi sambil merenggangkan badannya.

“Belom, kamu bangunin gih sana, aku mau mandi dulu,” suruh Melody sambil berjalan ke kamar mandi.

Kemudian Naomi beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar Rezza.

Tanpa mengetuk pintu, Naomi langsung membuka pintu kamar Rezza dan masuk ke dalam. Kemudian ia berjalan ke arah Naomi dan Sinka yang masih tertidur di atas kasur.

“Bangun sin,” ucap Naomi sambil menggoyang tubuh Sinka perlahan.

“Uhhh…,” Rezza mendesah sambil mencoba membuka kedua matanya.

“Kok malah kamu za yang bangun?” tanya Naomi mnoleh ke arah Rezza.

“Eh kak,” ucap Rezza mencoba bangkit dari posisi tidurnya.

“Kamu bangunin Sinka ya, aku mau mandi dulu,” suruh Naomi lalu keluar lagi dari kamar Rezza.

“Hoaammm…,” Rezza menguap saat merenggangkan tubuhnya.

Kemudian Rezza menatap Sinka yang masih tertidur pulas di sebelahnya.

“Bangun…,” ucap Rezza mengguncang tubuh Sinka perlahan.

“Hmmmph,” Sinka hanya mendesah sambil mengubah posisi tidurnya.

Rezza pun memikirkan cara untuk membangunkan Sinka. Beberapa detik kemudian Rezza menemukan cara untuk membangunkan Sinka, yaitu dengan menutup hidungnya :v

“Hhhnggg… AAHHH!!!” Sinka berteriak setelah beberapa detik hidungnya ditutup oleh Rezza.

“Bangun, udah pagi,” ucap Rezza sedikit tersenyum menatap Sinka yang kini sudah duduk disebelahnya.

“Gangguin orang tidur aja sih,” ucap Sinka cemberut.

“Suruh siapa susah dibangunin,” ucap Rezza beranjak dari tempat tidur.

“Jam berapa sih sekarang?” tanya Sinka sambil merenggangkan tubuhnya.

“Jam 6, kamu mandi duluan aja sana,” ucap Rezza sambil berjalan keluar kamar.

“Kamu?” batin Sinka.

“Tumben dia manggil kamu, biasanya juga elu,” pikir Sinka heran.

Sinka berdiam sebentar di atas kasur sebelum mandi di kamar mandi Rezza.

Beberapa menit kemudian Sinka keluar dari kamar Rezza dan pergi ke ruang tamu.

“Sana mandi, aku udah,” ucap Sinka duduk disebelah Rezza yang sedang membaca komik.

“Bentar ah,” ucap Rezza memutar bandannya lalu tiduran dipaha Sinka.

“Eh?” Sinka terkejut dengan tingkah Rezza.

“Mmm… za,” ucap Sinka.

“Apa?” tanya Rezza sambil terus membaca komiknya.

“Ng… kamu tadi tidur jam berapa?”

“Gatau, abis kamu nyuruh tidur itu aku langsung tidur.”

Keheningan terjadi diantara mereka berdua, Rezza masih fokus membaca komik sedangkan Sinka hanya menatap Rezza.

“Za,” ucap Sinka memecah keheningan diantara mereka.

“Iya?”tanya Rezza menoleh menatap wajah Sinka.

“K-kamu mandi dulu gih sana, bentar lagi kan kita mau berangkat,” ucap Sinka sambil mengelus kepala Rezza.

“Berangkat? Kemana?” tanya Rezza dengan wajah tololnya.

“Kan kita mau jalan-jalan sama kak Melody sama kak Naomi.”

“Kemana?”

“Nonton.”

“Yaudah deh bentar aku mandi dulu,” ucap Rezza lalu bangkit dari posisi tidurnya.

“Kalo udah mandinya bawain tas sama dompet aku kesini ya,” suruh Sinka saat Rezza berjalan ke kamarnya.

“Iya,” jawab Rezza berteriak.

“Kamu nyuruh Rezza ngapain sin?” tanya Melody datang menghampiri Sinka di ruang tamu.

“Gapapa kok, cuma minta buat bawain tas sama dompet aja,” jawab Sinka tersenyum.

“Ohh…,” ucap Melody mengangguk lalu duduk disebelah Sinka.

“Tapi kok dia mau disuruh kamu?” tanya Melody menatap Sinka heran.

“Aku juga gatau kalo soal itu kak, tiba-tiba aja sikap dia berubah sama aku pagi ini,” jawab Sinka dengan polos.

“Jangan-jangan dia suka sama kamu,” goda Melody.

“Ishhh kak Melody apaan sih?! Nggak mungkin Rezza suka sama ku,” ucap Sinka memukul bahu Melody dengan manja (?).

“Gapapa kok sin kalo kamu jadian sama Rezza, aku dukung kok,” ucap Melody tersenyum.

“Iya, kakak juga dukung kok kalo kamu jadian sama Rezza,” ucap Naomi yang tiba-tiba berdiri di belakang Sinka.

“Eh?” Sinka terkejut dengan kehadiran Naomi dibelakangnya.

“Udah pacarin aja Rezza daripada keduluan sama yang lain,” ucap Naomi duduk di depan Sinka.

“Nggak ah, aku nggak suka sama Rezza,” ucap Sinka memalingkan wajahnya.

“Yaudah kalo gamau, kakak aja yang pacarin Rezza, boleh kan mel?” tanya Naomi mendekatkan wajahnya pada Melody.

“Nggak! Kakak gaboleh pacaran sama Rezza!” ucap Sinka menatap tajam ke arah Naomi.

“Kenapa kamu yang sewot sin?” tanya Melody menatap Sinka heran.

“Ng-nggak, gapapa,” jawab Sinka kembali memalingkan wajahnya.

“Bukannya kamu tadi bilang nggak suka?” tanya Naomi.

“Ng… Iya, aku nggak suka kok sama Rezza,” jawab Sinka tanpa menoleh ke arah Naomi.

“Terus kenapa tadi kamu nggak bolehin kakak macarin Rezza?” goda Naomi.

“Ummm… A-anu, Itu…,” jawab Sinka terlihat gugup.

“Itu apa sin?” tanya Melody mendekatkan wajahnya.

“Mmmm… Ng-nggak, gapapa kok, iya gapapa,” jawab Sinka dengan wajah panik.

“Udah ah, aku mau ke kamar dulu ngambil hp,” ucap Sinka lalu buru-buru pergi meninggalkan Melody dan Naomi.

“Hadeuh sin…,” ucap Melody menggeleng-gelengkan kepalanya.

~oOo~

“Kok balik lagi ke kamar?” tanya Rezza saat keluar dari kamar mandi dan melihat Sinka sedang duduk di pinggir kasur.

“Ng… I-itu, ada yang ketinggalan,” jawab Sinka terlihat gugup.

“Apa yang ketinggalan?” tanya Rezza berjalan mendekat ke arah Sinka.

“Duhhh… kenapa pake jalan kesini sih? Kan aku malu,” ucap Sinka dalam hati.

“Hei… kamu kenapa? Kok mukanya tegang gitu?” tanya Rezza berhenti di depan Sinka.

“Ng-nggak, gapapa kok, hehe…,” jawab Sinka cengengesan.

Sudah hampir 5 menit Sinka menatap Rezza yang hanya mengenakan celana pendek dan berdiri di depannya itu.

“Kenapa? Ada yang salah sama tubuh aku?” tanya Rezza menatap dan memegang perutnya yang masih sedikit basah.

“Ng-nggak kok, nggak ada yang salah,” jawab Sinka tersenyum.

“Terus kena-“ ucap Rezza.

“Aku boleh pegang perut kamu nggak?” tanya Sinka memotong ucapan Rezza.

“Hah?” Rezza menatap heran ke arah Sinka.

“Gimana? Boleh nggak?” tanya Sinka.

“Boleh, tapi jangan ke bawah-bawah, hehe…,” jawab Rezza sedikit nyengir.

Perlahan tangan Sinka mulai menyentuh perut Rezza, Sinka meraba semua bagian perut Rezza yang kotak-kotak itu. Kemudian Sinka berdiri dari duduknya, perlahan tubuhnya semakin mendekat dengan tubuh Rezza. Sampai akhirnya, tubuh Sinka berhenti mendekat saat rabaannya sampai di bagian dada Rezza.

“Kenapa berhenti?” tanya Rezza perlahan.

“Badan kamu anget,” ucap Sinka perlahan.

Tangan Rezza memegang bagian belakang tubuh Sinka dan mendorongnya perlahan agar semakin mendekat, sedangkan tangan Sinka mulai bergerak menuju leher Rezza.

“Eh?” Sinka sedikit terkejut saat tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Rezza.

Tubuh mereka kini sudah saling menempel satu sama lain, kini kedua tangan Rezza sudah berada dipinggang Sinka. Kedua tangan Sinka juga sudah melingkar dileher Rezza. Wajah mereka sangat dekat sampai mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.

Rezza menatap kedua mata Sinka dengan sedikit tersenyum dan mendekatkan wajahnya perlahan. Sedangkan Sinka hanya tersenyum manis sambil menatap kedua mata Rezza.

Hidung mereka sudah saling bersentuhan, mereka mulai menutup kedua mata mereka perlahan. Kini bibir mereka sudang saling menyentuh sama lain.

“Ehhmm….”

Rezza dan Sinka langsung melepaskan pelukan mereka dan menjauh. Mereka hanya bisa menunduk dan saling diam.

“Kok berhenti?” tanya Melody yang entah sejak kapan sudah menyandar di pintu kamar Rezza bersama Naomi.

“Malu ya sama kita?” goda Naomi.

Rezza dan Sinka sedikit menatap ke arah Naomi dan Melody berdiri, namun mereka masih tetap diam.

“Yaudah kalo kalian malu, kita tinggal dulu, tapi jangan lama-lama, ntar keburu siang,” ucap Melody tersenyum lalu pergi.

“Inget, jangan lama-lama,” Naomi tersenyum lalu menutup pintu kamar Rezza dan pergi menyusul Melody ke lantai bawah.

Dengan satu gerakan, Rezza langsung memeluk Sinka dan menciumnya. Sinka juga membalas ciuman Rezza sambil teangannya merangkul di leher Rezza.

Kedua kaki Sinka langsung merangkul pinggang Rezza saat ia mengangkat tubuhnya. Rezza menghempaskan tubuhnya dan juga tubuh Sinka ke atas kasur.

Beberapa menit kemudian Rezza melepaskan ciumannya dan menatap kedua mata Sinka.

“Hihihi…,” Sinka hanya tersenyum kecil sambil terus menatap kedua mata Rezza.

“Jadi mulai sekarang kita pacaran?” tanya Rezza dengan wajah begonya -,-

“Iya…,” jawab Sinka lalu merangkulkan kedua tangannya ke leher Rezza.

“Beneran?” tanya Rezza dengan wajah yang tambah bego.

“Iya sayang…,” jawab Sinka lalu menarik tangannya agar wajah Rezza kembali mendekat.

Kemudian mereka berdua kembali berciuman untuk beberapa menit.

“Udah ah, capek,” ucap Sinka melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Rezza ke samping.

“Sama, aku juga capek,” ucap Rezza berbaring disebelah Sinka.

“Yaudah, sekarang kamu pake baju gih,” suruh Sinka memiringkan badannya dan menatap Rezza.

“Bentar deh, masih capek,” jawab Rezza juga memiringkan badannya.

“Ihhh… cepetan, ntar kasian kak Melody sama kak Naomi kalo nunggunya kelamaan,” ucap Sinka sambil mencubit perut Rezza dengan manja.

“Jangan cubit-cubit perut ah, geli,” ucap Rezza menyingkirkan tangan Sinka.

“Ya makannya kamu cepetan pake baju kalo gamau aku cubitin,” ucap Sinka mencubit perut Rezza lagi.

“Iya iya, bawel,” ucap Rezza membalas mencubit pipi Sinka lalu berdiri.

“Ihhh…,” Sinka melemparkan bantal ke arah Rezza dan mengenai punggungnya.

Rezza hanya menengok ke belakangan sambil nyengir lalu lanjut berjalan ke lemari bajunya.

“Kamu liat dompet aku nggak?” tanya Sinka sambil mengacak-acak kasur Rezza.

“Enggak, coba cari dilaci meja,” jawab Rezza menunjuk meja kecil yang berada di sebelah tempat tidur.

Kemudian Sinka membuka laci meja kecil yang ditunjuk Rezza tadi, namun bukan dompetnya yang ia temukan, melainkan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon.

“Ini kotak apa yang?” tanya Sinka mengambil kotak kecil itu.

“Mana?” Rezza menghampiri Sinka.

“Ini,” Sinka menunjukkan kotak kecil tadi.

“Kamu ambil dari mana?”

“Dilaci meja, kenapa?”

“Gapapa kok, ini tempat cincin aku sama Ve dulu,” Rezza membuka kotak kecil itu.

“Ihhh… cincinnya bagus…,” ucap Sinka memanyunkan bibirnya dengan manja.

“Sini aku pakein,” Rezza sambil mengambil satu cincin dari dalam kotak itu.

“Nggak deh, itu kan punya kamu sama kak Ve,” Sinka menolak sambil melepaskan tangan Rezza yang mencoba memakaikan cincin ke jarinya.

“Gapapa, lagian Ve udah nggak ada.”

“Yaudah deh kalo kamu maksa, hehe….”

Kemudian Rezza memakaikan cincin tadi ke jari Sinka.

“Gimana? Pas?” tanya Rezza.

“Pas kok, makasih ya,” jawab Sinka memeluk Rezza.

“Yaudah yuk ke bawah,” ucap Rezza melepaskan pelukan Sinka.

“Gendong…,” pinta Sinka dengan wajah memelas.

“Manja banget sih!”

“Yaudah cepetan naik,” lanjut Rezza sambil sedikit membungkuk membelakangi Sinka.

“Aku maunya di depan,” Sinka kembali menunjukkan wajah melasnya.

“Hadehhh…,” Rezza berbalik dan langsung menggendong Sinka.

“Hehe…,” Sinka cengengesan lalu menyenderkan kepalanya ke dada Rezza.

Rezza menggendong Sinka sampai ke ruang tamu dimana Naomi dan Melody menunggunya.

“Ciee…,” ucap Naomi dan Melody bersamaan saat melihat Rezza tiba di ruang tamu dengan menggendong Sinka di depannya.

Namun bukannya turun, Sinka malah semakin membenamkan kepalanya ke tubuh Rezza dan mempererat pelukannya.

“Aku tunggu di mobil aja ya kak,” ucap Rezza melewati ruang tamu.

Beberapa menit kemudian mereka berempat sudah berada di dalam mobil dan menuju ke Mall. Sinka duduk di depan menemani Rezza yang sedang menyetir sedangkan Naomi dan Melody duduk di belakang.

Setelah sampai di sebuah mall, mereka tidak langsung pergi ke bioskop. Naomi dan Melody meminta untuk belanja terlebih dahulu karena filmnya belum mulai. Saat Naomi dan Melody sibuk memilih-milih baju, Sinka dan Rezza berduaan menunggu mereka di luar toko.

“Kamu cobain ini deh,” ucap Sinka menyuapi es krim kepada Rezza.

“Gimana?” tanya Sinka menatap Rezza penasaran.

“Enak,” jawab Rezza tersenyum.

“Aku suka banget makan es krim vanilla, kalo kamu sukanya rasa apa?”

“Aku nggak terlalu suka es krim.”

“Emang kamu sukanya apa?”

“Kamu,” jawab Rezza mencubit pipi Sinka.

“Ihhh…,” Sinka memukul Rezza dengan manja.

“Sinka…,” sapa seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakang Sinka dan Rezza.

Sinka dan Rezza langsung menoleh ke belakang.

“Siapa ya?” tanya Rezza.

“Kenalin, gue Jo,” jawab orang tadi menyalami Rezza.

“Kak Jo ngapain kesini?” tanya Sinka heran.

“Aku mau ngomong sama kamu bentar boleh?” Jo tiba-tiba memegang tangan Sinka.

“Bentar ya,” ucap Sinka lalu pergi bersama Jo.

Beberapa menit kemudian Naomi dan Melody keluar dari toko dengan membawa baju yang baru mereka beli. Mereka menghampiri Rezza yang sedang menyender di tembok luar baju itu.

“Sinka mana za?” tanya Melody menghampiri Rezza.

“Lagi ngobrol sama gatau siapa, temennya mungkin,” jawab Rezza mengangkat kedua bahunya.

“Siapa namanya?” tanya Naomi penasaran.

“Jo,” jawab Rezza singkat.

“Hah?! Jo?” Naomi terlihat kaget dengan jawaban Rezza.

“Kenapa kak?” tanya Rezza.

“Kok kamu bolehin Sinka pergi sama dia sih?!” Naomi kini terlihat kesal.

“Emang kenapa mi?” tanya Melody menatap Naomi heran.

“Jo itu-“ jawab Naomi.

“Eh itu Sinka,” Rezza menunjuk Sinka yang sedang berlari ke arahnya.

“Kamu kenapa?” tanya Rezza setelah Sinka berhenti di depannya.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

 

Note: sebelumnya makasih buat yang udah baca ff ini. Gue juga mau kasih tau kalo mulai minggu depan gue mau vakum dulu soalnya lagi sibuk banget, entah sampai kapan vakumnya gue belom bisa pastiin.

Udah itu aja info dari gue, sekian dan terima kasih J)

Iklan

3 tanggapan untuk “Vepanda part 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s