Silat Boy : Dua Minggu Part 22

CnJGPUtWgAEeomp
Hari selasa, Epul dan Naomi tidak datang untuk menemani Rusdi latihan.
Rusdi sempat kecewa, tapi itu bukan alasan untuk mematahkan
semangatnya yang sejauh ini masih tetap membara bak api.

Mulai hari selasa, Rusdi berlatih sangat keras hingga hari
pertandingan Silat dua minggu yang akan datang. Ia harus bisa
menemukan gerakan istimewa, sisa kendi itu tinggal sembilan buah.

Masih ada kesempatan, sembilan kali percobaan untuk dua minggu ini. Ia
harus bisa melampaui gerakan-gerakan Kak Ve sebelumnya. Kak Ve tidak
memberinya ampun, maka ia harus mengalahkannya.

Dua minggu kemudian, tepatnya satu hari sebelum Rusdi melawan Boim.
Epul dan Naomi nampak berjalan santai setelah pulang sekolah. Kali ini
mereka ingin kembali ke rumah Kak Ve, hanya sekedar menengok kemajuan
Rusdi dalam latihannya.

“Besok nih pertandingannya.” Epul memulai topik pembicaraan.
“Iya, aku yakin Rusdi pasti bisa mengalahkan Boim.” balas Naomi seraya
mengangkat dan mengepalkan tangan kanannya.

“Boim pasti kalah, dan dia gak akan ganggu semua siswa di sekolah
lagi.” balas Epul tersenyum.
“Sementara Rusdi berlatih keras, Boim malah bersantai-santai. Itu
kesempatan baik untuk mengalahkannya.” sambungnya.

“Kau pikir aku sedang bersantai?” tiba-tiba Boim muncul di depannya,
ia mencegat Epul.
“Umm, aku…” Epul terlihat gugup.
“Pegangi dia!” perintah Boim.

Salah satu teman Boim memegangi kedua tangan Naomi dari belakang,
sementara teman Boim yang satunya lagi memegangi Epul dari belakang.
Epul berusaha berontak, tapi ia terlalu lemah.

“Boim, maafkan aku! Aku gak bermaksud buat… arrg!!!” Epul kesakitan
karna Boim memukul perutnya amat keras.
“Kau pikir aku sedang santai? hah?” Boim mendekatinya.

“AKU BERLATIH KERAS!!! SAMA SEPERTI TEMANMU ITU!!!” Boim berteriak di
depan wajah Epul.
“Selama ini aku memata-matainya, jadi aku sudah tau teknik
latihananya.” sambung Boim.

“KAU JANGAN SOK TAU!!!” Boim kembali berteriak di depan wajah Epul.
“Aku mau dengar, apa yang kau katakan barusan?” intonasi nadanya
tiba-tiba terdengar melemah.

“CEPAT ULANGI KATA-KATAMU TADI!!!” Boim kembali memukuli Epul, kali
ini ia memukulinya terus-menerus tanpa ampun.
“EPUL!!!” teriak Naomi.

Naomi ingin sekali membantunya, tapi apa boleh buat? Ia tidak bisa
melakukan apa-apa, hanya bisa menangis melihat sahabatnya dipukuli
oleh orang sok jagoan.

“Ulangi kata-katamu tadi, jika kau ingin aku berhenti memukulimu!”
Boim masih memukuli perut Epul, ia memperlakukan Epul seperti samsak
untuk latihan teknik tinju.

“EPUL!!!” tangisan Naomi semakin memilukan, sedih sekali jika harus
menyaksikan kejadian itu.
“Epul…” Naomi terlihat pasrah, ia sudah tidak berteriak lagi.

“Hah! Lepaskan dia!” perintah Boim, seketika Epul dilepaskan.
“Kuat sekali kau ini, sudah aku pukuli tapi kau masih belum pingsan
juga.” sambung Boim.

Epul sudah tekulai lemah di tanah, seragamnya kusut, pelipisnya
berdarah, wajahnya lebam karna Boim brutal memukulinya. Kejadian yang
sama seperti waktu itu, saat Rusdi dipukuli oleh Boim.

Bahkan tempatnya pun hampir sama, hanya berjarak beberapa meter saja.
Epul sudah tidak berdaya, tapi tiba-tiba ia bergerak. Epul berusaha
mengucapkan sesuatu.

“Dasar sombong… kau pasti akan kalah…” ujar Epul, Boim lalu
menendang wajahnya dengan kuat hingga Epul benar-benar pingsan.
“Tinggalkan mereka.” Boim berlalu begitu saja.

Naomi akhirnya dilepaskan, lalu Naomi menghampiri Epul. Naomi menangis
sesenggukan memeluk Epul. Tanpa banyak bicara, Naomi langsung memapah
Epul pergi dari tempat itu.

Ditempat lain, tepatnya di rumah Kak Ve. Rusdi nampak sedang serius
mendengarkan Kak Ve mengoceh tentang gerakan istimewa yang masih belum
ia kuasai.

“Kau harus bisa, yakinlah pada kemampuanmu! Baiklah, kau hanya punya
satu percobaan lagi. Jangan sampai gagal, jika gagal lagi maka
latihanmu selama sebulan ini akan sia-sia.” ucap Kak Ve.

Saat Kak Ve tengah serius mengoceh di tengah gym tradisional itu,
tiba-tiba pintu belakang rumahnya di dobrak oleh seseorang. Rusdi dan
Kak Ve terkesiap karenanya.

Ternyata itu adalah Naomi, ia memapah Epul yang sedang terluka.
Seketika Kak Ve dan Rusdi menghampirinya. Apa-apaan ini? Sahabat
baiknya terluka, siapa yang melakukannya? Ia harus bertanggung jawab!

“Epul kenapa?” tanya Rusdi, Naomi lalu membaringkan Epul disana.
“Boim! Dia yang melakukannya!” Naomi masih menangis sesenggukan, ia
tak kuasa untuk berbicara lagi.

Sementara Epul pingsan, Naomi menangis pilu, Rusdi malah memejamkan
matanya. Ia menggenggam kuat tangan Epul. Inti bumi yang pernah di
transfer itu kembali meledak.

Saat itu perasaan Rusdi bercampur aduk. Ia sangat marah, sementara
disisi lain ia sangat takut untuk melawan Boim. Tapi kini ketakutan
itu telah lenyap, tergantikan oleh amarah yang menyala-nyala.

Kak Ve menyentuh lembut bahu Rusdi untuk menenangkannnya. Tapi Rusdi
malah berlalu, ia kasar melepaskan genggamannya pada tangan Epul.
Rusdi lalu berjalan cepat menuju kendi terakhir.

Sorot matanya tajam menatap kendi itu. Lalu tanpa aba-aba lagi Rusdi
langsung melompat dan salto berputar vertikal dua putaran penuh.
Setelah itu ia menendang kendi terakhir hingga pecah berkeping-keping.

Rusdi lalu kembali berdiri dengan sempurna, sama sekali tidak jatuh.
Baju putih polos itu basah karna cipratan air yang tumpah dari dalam
kendi. Akhirnya ia menemukan gerakan istimewa dalam dirinya.

“Aku namakan itu… Blue Power !” Rusdi sedikit berteriak, sementara
Naomi sudah diam tidak menangis lagi.
“Luar biasa, kemarahannya menggebu tak tertahankan.” setelah sekian
lama, akhirnya Kak Ve kembali memuji usahanya.

Rusdi kemudian memejamkan matanya, lalu menunduk menatap sepuluh kendi
yang telah pecah. Kendi-kendi itu berseragakan di tanah. Dua minggu
ini gym tradisional itu nampak sangat kotor.

Latihannya tidak sia-sia, dan besok adalah hari penentuan. Apapun yang
terjadi, ia harus mengalahkan Boim. Tidak ada lagi rasa takut, yang
ada hanya dendam yang begitu besar.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s