Stockholm Syndrome

StockholmSyndromeBannerr

[ S T O C K H O L M  S Y N D R O M E ]

Hari Jum’at. Hari yang bagi gue begitu biasa akan tetapi menjadi luar biasa gara-gara cahaya Matahari begitu terik nan bejatnya menyinari tempat dimana gue berada. Sekarang gue berada dibelakang gedung kampus tempat gue kuliah, dan gue disini gak sendirian, gue bersama seseorang yang tadi memanggil dan mengajak gue kesini saat gue berjalan dikoridor untuk menuju kantin.

“Jadi, ada apa lo ngajakin gue kesini?” gue mulai bertanya dengan nada yang cuek sambil menghisap rokok yang gue hidupin barusan.

Orang didepan gue ini sekarang tampak malu-malu dan tersipu-sipu memandangin gue, gue jelas merasa heran dilihat seperti itu. Tak lama kemudian orang itu pun berbicara.

“Dion,” dia mulai memanggil nama gue.

“Ha?”

“Aku… Aku…” ucapnya sambil menggigit bibir, kening gue langsung mengkerut karena heran.

“Apa? Ngomong yang jelas dong,” pinta gue kepadanya dengan nada sedikit kesal.

“Dion… Aku.. Aku….,” dia kemudian mengambil nafas panjang kemudian berkata, “AKU SUKA KAMU!” ucapnya lantang sambil menutup mata.

Gue diem.

“Dion, kamu mau gak jadi pacar aku?” tanyanya lagi kepada gue.

Gue masih diem.

“Dion…,” panggilnya lagi dan berjalan perlahan kearah gue.

Gue yang melihat itu langsung mencegahnya dengan tangan mengarah kepadanya untuk menandakan “Berhenti,” dan mundur kebelakang.

“A-apa tadi lo bilang? Lo suka gue?” tanya gue lagi untuk memastikan, gue berharap tadi gue salah dengar.

“Iya Dion, aku suka kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” tanyanya lagi.

“Pacar?” muka gue langsung sengak.

“Iya, pacar,” ucapnya lagi dengan malu-malu.

“GAK!” gue langsung menolak.

“Kok?” ucapnya dengan wajah kecewa kearah gue lalu berbicara kembali, “Aku suka kamu Dion.”

“Gak! Pokoknya enggak! Biarpun lo suka gue, tapi gue gak suka lo! Kenal ajak kagak, apa kagak,”

“Tapi kan kalau pacaran nanti kita bisa saling mengenal Dion,” ucapnya lagi untuk meyakinkan gue.

“Pokoknya enggak!” suara gue semakin nyaring.

“Emang kenapa sih? Emangnya kamu gak seneng kalau ada orang yang nyatain perasaanya sama kamu? Aku aja udah ngeberaniin diri untuk bilang hal ini sama kamu,”

“Ya gue sih seneng kalau ada orang yang bilang suka sama gue, tapi kalau orangnya kayak lo dan minta-minta jadi pacar gue sampai mati bakalan bilang enggak,” gue semakin lantang.

“Terus apa masalahnya?” tanyanya lagi.

“LO ITU COWOK, SETAN!!!”

Ya, yang nembak gue tadi itu cowok. Kenal kagak, apa kagak, dipanggil-panggil malah ditembak. Kalau cewek sih masih okelah, lah ini COWOK, gue yang kepanasan gara-gara Matahari sekarang mulai keringat dingin.

“Kalau gitu aku bersedia kok jadi ceweknya,” ucapnya lagi sambil mencondongkan bokongnya sendiri kearah gue, entah apa maksudnya.

“SADARLAH WAHAI KAU MANUSIA!” teriak gue sambil menendang bokongnya dengan kencang.

Dia lalu tersungkur dan gue langsung aje kabur dari situ sampai-sampai rokok yang gue pegang terlepas dan tak berniat untuk mengambilnya lagi biarpun belum 5 menit, gue takut kalau terus-terusan disitu gue bakalan diperkosa sama dia.

“DION! AKU BENCI KAMU! KITA PUTUS!” teriaknya kepada gue yang masih bisa gue dengar.

Gue yang udah bodo amat terus berlari sambil berpikir, “Putus? KAPAN JADIANNYA NJING!”

Kaki gue semakin gue kencangkan kearah taman kampus sampai pada akhirnya gue terpeleset direrumputan. Gue lantas merintih kesakitan dan mencoba berdiri.

“Weeeh Yon, nape lu?” tanya seseorang kepada gue.

Gue lalu bangkit berdiri sambil mengusap-usap bokong gue sendiri, lalu gue ngeliat teman gue yang bersama pacarnya sedang duduk dikursi taman sambil membaca buku dan memakan cemilan. Gue langsung menghampiri tempat dia berada.

“Ben, gila Ben! Gue barusan ditembak sama Gay!”

“Hah?” teman gue yang bernama Beny dan pacarnya terlihat kaget mendengar ucapan gue barusan, lalu pacarnya Beny bertanya kepada gue, “Serius, Yon?”

“Gue serius, Mi. Ini gue barusan lari dari sana, sumpah merinding banget gue, liat bulu kuduk gue masih berdiri,” ucap gue sambil menunjukan pergelangan tangan gue sendiri kearah Naomi, pacar Beny.

Mereka berdua melihat pergelangan tangan gue, tak lama kemudian mereka berdua terkekeh.

“Kenapa gak diterima aja Yon? Hihi,” tanyanya tanpa dosa.

“Iya Yon, kan lumayan status lajang lu berubah,” kata Beny menambahkan.

Gue langsung sewot dan memiringkan bibir, gue kemudian duduk disamping Naomi yang masih tertawa bersama Beny.

“Gak gitu juga kali, masa pedang main sama pedang. Eh bagi dong,” ucap gue sambil merogoh kantong cemilan yang dipegang Naomi.

“Emang siapa sih Yon yang nembak lu tadi?” tanya Beny.

“Gak tau gue, kemayu-kemayu gitu. Beeeh gue masih begidik ngebayangin orangnya,” ucap gue dengan pura-pura menggigil dan mulai mengunyah cemilan.

“Kemayu-kemayu….,” Naomi mulai nampak berpikir kemudian dia bertanya kepada gue, “Orangnya pake anting gitu gak? Disebelah kiri?”

Gue lalu mengingat-ingat, tak butuh beberapa lama gue akhirnya bisa mengingat ciri-ciri orang tadi.

“Ah iya pake anting-anting gitu.”

“Ohh hahaha berarti lo orang kedua yang ditembak dia,” kata Beny yang tertawa kecil bersama Naomi.

“Maksudnya?”

“Lo ingat gak dulu Aji gak pernah masuk selama seminggu dan nitip absen melulu?. Itu kan dia habis ditembak juga sama orang itu, sampai sekarang saja Aji kekampus kayak penjahat dikejar intel, was-was gitu,”

“Ohhhh… pantesan muka Aji pucet melulu kalau gue tanyain,” kata gue yang mendapatkan kabar gembira tersebut, kok gembira? Ya setidaknya bukan cuma gue yang ditembak Gay ternyata. Tuhan emang adil.

“Hahaha makanya Yon cepet-cepet cari pacar gih,” kata Naomi kepada gue.

“Malas Mi, cari pasangan kan gak perlu terburu-buru,” ucap gue dengan nada sok bijak dan mengambil kantong cemilan yang ada ditangannya.

“Alesan aje lu, sok-sok bijak lagi,” kata Beny sambil menoyor kepala gue.

“Eh Yon, Yon, tuh tuh Melody tuh,” kata Naomi menyenggol-nyenggol tangan gue.

“Kenapa emangnya?” tanya gue sambil melihat Melody dikejauhan yang ditunjuk Naomi, terlihat Melody sedang berbicara dengan teman-temannya.

“Tseeeh gaya lu, emangnya lu udah gak suka lagi sama dia?” tanya Beny.

“Kagak, lagian males gue, nanti bertengkar lagi sama cowoknya,” ucap gue sambil terus memakan cemilan yang gue jajah dari tangan Naomi tadi.

“Tapi sekarangkan Melody udah putus, kenapa gak kamu coba buat deket sama dia lagi?” tanya Naomi kepada gue dan merebut kembali cemilannya.

“Beeh gak ah, lupa lu kejadian dulu? Sejak itu gue malas negur dia,” kata gue cuek sambil menghisap-hisap jari menikmati sisa bumbu ditangan.

“Ya tapi kan gue rasa lu juga kelewatan dulu, masa lu hajar cowonya sampai babak belur,”

“Haaah,” gue malas berbicara lagi, kemudian gue mengambil rokok dan menghidupkannya, setelah itu gue menatap Melody lagi dari kejauhan.

Ya, cewek yang gue lihat ini dulunya sangat deket sama gue. Saking deketnya buat misahin saja harus pake linggis (Emangnya papan?). Gue hanya menganggap Melody teman walau banyak teman-teman kami yang bilang kami berpacaran tapi gue gak mempermasalahin hal itu. Sampai suatu hari gue mendapat kabar kalau Melody udah punya pacar.

Dan sejak itulah Melody mulai menjaga jaraknya dengan gue, pernah suatu hari gue mau menghampiri dia, dianya mundur kebelakang, gue maju, dia mundur, gue terus maju dan dia terus mundur sampai akhirnya dia tersandung dan tercebur kekolam kampus. Ya, ngindarinnya gak perlu segitu juga sih sebenarnya.

Lalu cowoknya yang tahu kalau dulu Melody dekat dengan gue mulai melabrak gue yang sedang asyik-asyiknya makan bakso dikantin. Dia lalu berbicara sampai buih-buih dimulutnya keluar, sedang gue terus melakukan sikap “Masuk telinga Kiri, Keluar ditelinga Kanan,” saat dia mengoceh. Tapi sampai akhirnya ada suatu kalimat yang dikeluarkan cowok itu yang langsung bikin gue emosi, kata-katanya seperti ini.

“Lo diajarin gak sama Ibu lo buat gak dekat-dekat sama cewek orang, Hah?,”

Gue yang sebagai anak penyayang Ibu kandung langsung saja mengamuk, siapa juga yang gak kesal Ibu dibawa-bawa keurusan pribadi?. Mukanya gue banting-banting terus kemeja makan kantin. Mengetahui cowoknya babak belur sama gue, Melody lalu datang menghampiri dan menampar dengan sekuat tenaga. Melody terus memarahi gue sampai gue gak ada kesempatan buat menjelaskan sampai akhirnya dia meminta gue untuk tidak pernah berbicara kepadanya lagi.

Gue? karena gue Jin botol maka gue kabulin permintaannya. (Plaaak!) yang pasti gue menuruti kemauannya.

Dan itulah cerita singkat yang bisa gue ceritakan…. Tapi kayaknya gak singkat deh. Ah sudahlah, tapi sejak itulah gue gak pernah berbicara lagi sama Melody biarpun dia sudah putus.

Mata gue lalu teralih kearah cemilan Naomi dan berniat menjajahnya kembali, laper soalnya. Saat tangan gue mau mengambilnya tiba-tiba Naomi berbicara kepada gue.

“Eh-Eh Yon, itu Melodynya kesini,” ucapnya memberitahu.

Gue lalu menoleh dan terlihat Melody berjalan ketempat kami bertiga berada sambil tersenyum dan memegang buku yang diapit dengan kedua tangannya. Gue yang udah mulai resah langsung saja berdiri dan buru-buru menjauhi tempat ini, tak lupa gue udah berhasil mengambil cemilannya Naomi.

Gue bisa mendengar suara Naomi dan Beny memanggil nama gue dari kejauhan tapi gue gak perduliin. Gue terus berjalan mengikuti arah angin, untuk menghapus masa lalu gue yang kelam, hina, dan

Bruug!

Gue nabrak seseorang tapi gak sampai jatuh. Gue lalu melihat cewek yang gue tabrak tadi sedang membereskan bukunya, dan sekilas gue melihat wajahnya.

AIHMAAAAAAAAK, CANTIK PISAN EEEEUUUY,” gue kegirangan didalam hati.

Otak gue lalu memikirkan khayalan indah, gue bantu tuh cewek ngambilin buku, gue lalu minta maaf, dimaafin, lalu kami kenalan, kemudian kami dekat, lalu pacaran, dan berakhir dipelaminan.

Asik tenan.

Gue langsung saja mencoba melakukan hal pertama yang gue pikirkan tadi, yaitu membantunya mengambil buku. Gue lalu jongkok untuk membantunya, dia yang melihat gue membantunya lalu tersenyum, gue juga tersenyum. Kemudian

Plaak!

“Makanya jalan itu lihat-lihat,” ucapnya sambil kembali membereskan buku terakhir yang digunakannya untuk menampar gue barusan.

Ekspetasi gue berbanding terbalik dengan kenyataan, ya gue digamparnya, pake buku pula. Gue hanya bisa terdiam dan terpana.

Cewek yang udah membereskan bukunya tersebut kemudian tidak memperdulikan gue kemudian dia terus melanjutkan perjalanannya. Sedangkan gue? gue seperti orang bego yang mau pup jongkok ditengah jalan, sampai gue gak sadar kalau gue diperhatiin orang-orang disekitar.

“Dion kamu gak apa-apa?” tanya seseorang dibelakang gue.

Gue lalu menoleh dan melihat Melody dengan raut wajah cemas membantu gue berdiri. Gue lalu berdiri dan Melody kembali bertanya.

“Kamu gak apa-apa kan?” tanyanya lagi.

Gue hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah dua kata apapun. Lalu gue mulai berjalan menjauhi dirinya tapi tangannya menahan pergelangan tangan gue, tapi dengan cepat gue lepaskan lagi dan mempercepat langkah gue.

Sesampainya di koridor lalu ada yang nyeletuk kearah gue.

“Makanya, coba tadi terima cinta aku. Pasti kamu gak bakalan begitu.”

Gue lalu menoleh kearah yang nyeletuk barusan dan dia adalah Gay yang nembak gue tadi. Gue lalu menghampiri dia sambil tersenyum dan memegang pundaknya. Orang itu lalu tersipu malu mengira gue menyesal telah menolak cintanya.

Gue lalu menggendong dia dengan lembut, dan dia semakin tersipu-sipu malu. Orang-orang yang melihat gue menggendong cowok secara mesra mulai memasang wajah bergidik jijik.  Gue lalu berjalan ketempat tujuan gue sampai gue berhenti, gue lalu tersenyum kearah orang itu dan orang itu juga membalas senyuman gue.

Dan tanpa pikir panjang lagi gue langsung memasukan dia kedalam tong sampah besar yang ada di kampus dan langsung menutup penutup tong sampahnya.

“SIALAN LU DION!” teriak Gay tadi didalam tong sampah.

Yeah, mamam tuh cinta. Gue lalu berjalan kearah kantin.

-oOo-

Dari kantin sekarang gue berada dikelas.

“Hooaaaaaam HAK! Pueeh pueeeh.” Gue lalu memuntahkan bulatan kertas kecil yang masuk kedalam mulut gue saat menguap tadi.

“Hahahaha masuk pemirsa!” ucap salah satu teman kampus gue yang melakukan tos tangan dengan teman gue yang ada disebelahnya.

“Taik lu Nu,” umpat gue kepada Enu, teman gue yang ngelempar kertas barusan.

“Hahaha makanya nguap jangan lebar-lebar,” komentar teman gue yang satunya, namanya Damar.

Sekarang gue berada didalam kelas, dosennya gak ada. Maksud gue dosennya gak ada dikelas, tapi ada diluar kelas. Sibuk telponan daritadi.

“Eh Yon, tadi gue denger-denger lu nabrak cewek sampai digampar ya?” tanya Enu sambil menopang dagunya.

“Tau darimana lu?”

“Nih Damar tadi cerita,” kata Enu menunjuk Damar.

“Oh iya-iya,” gue cuma bisa mengiyakan.

“Tapi gue gak nyangka ya Veranda suka main nampar juga,” kata Damar.

“Veranda siapa?” tanya gue menyeringitkan dahi.

“Ya cewek yang lu tabrak tadi,”

“Ohh,” gue hanya mengangguk-angguk.

“Ngomong-ngomong Yon, kemarin Melody nyariin lu,” kata Enu.

“Kenapa dia nyariin?”

“Mana gue tau, tanya aje langsung sama anaknya. Mel, Mel,” panggil Enu kepada Melody yang duduk tak jauh dari tempat gue berada.

Ya, gue dan Melody satu kelas. Dan karena Enu mulai memanggilnya gue mulai kalang kabut, dan menyembunyikan diri kedalam tas. Tapi kayaknya percuma, kepala doang yang masuk, badannya enggak.

“Kenapa? tanya Melody.

“Nih Dion nanya kenapa kemarin nyariin,” ucap Enu tanpa beban sama sekali sedangkan gue mengumpat-ngumpat teman gue tersebut didalam tas.

“Etcieeeeee,”

Terdengar suara seisi kelas mulai menggoda gue dan Melody, ditambah lagi Damar yang menoyor kepala gue dari luar tas.

“Balikan Mel?” suara seorang wanita yang bertanya kepada Melody, dan suara cieee cieee semakin hingar bingar menyoraki kami berdua.

“DIAM!,” teriak Dosen yang muncul dari balik pintu, kenapa gue bisa tau? Gue ngintip disela tas.

Kelas mendadak diam, setelah Dosen itu keluar lagi untuk melanjutkan menelpon. Kelas kembali gaduh tapi tidak seganas tadi. Gue yang merasa aman lalu mengeluarkan kepala gue dari tas dan gue kaget.

“Hei,” panggil Melody yang tersenyum kearah gue.

Gue bingung nih anak kapan pindah tempat duduknya, gue lalu melihat tempat duduk Melody sebelumnya dan sudah ada Damar dan Enu disana.

Ajaib.

“Hei, kok bengong,” panggilnya lagi sambil menekan tangan gue.

Gue lalu menoleh kearahnya yang duduk didepan gue, gue hanya bisa terdiam sedangkan dia terlihat berusaha untuk tersenyum.

“Kabar kamu gimana?” tanyanya kepada gue.

“Baik,” ucap gue seadaanya sambil mendelik-delik kearah lain untuk mencari pengalihan.

“Hmm bagus deh.. kabar Mama sama ayah gimana?”

“Baik,” jawab gue lagi dengan seadanya, entah kenapa gue tiba-tiba harus melakukan ekspresi sebagai cowok Cool.

“Tadi kamu gak apa-apa kan ditampar?”

“Entahlah.”

Mendengar jawaban gue yang dingin tadi membuat Melody tidak bisa bertanya apa-apa lagi, gue harap tadi pertanyaan dia merupakan sebuah kuis acara yang dimana setiap pertanyaan yang berhasil gue jawab akan mendapatkan uang Rp 50.000,00

“Dion… Imel minta maaf sama kamu,” ucapnya kepada gue.

“Ng?”

“Imel minta maaf buat nampar dan marahin kamu dulu, 2 hari yang lalu Imel baru tahu apa yang membuat kamu marah dulu sama pacar… maksudnya mantan Imel dulu. Imel tau kalau kamu pasti tersinggung dengan ucapannya yang membawa-bawa Ibu kamu,” ucapnya lagi dengan nada seperti orang bersalah.

Gue jadi canggung, cewek kalau minta maaf adalah suatu hal yang sangat langka. Gak percaya? Coba lo tampar cewek tanpa alasan, potong tangan gue kalau tuh cewek yang duluan minta maaf. (Ya iyalah!)

“Oh, ya, gak gue pikirin lagi hal itu, gue juga minta maaf,” jawab gue dengan senyum tipis. Setipis isi dompet gue.

“Makasih ya Dion,” ucapnya berterima kasih.

Gue hanya bisa mengangguk walau suasana yang gue rasakan begitu canggung.

“Besok, Imel boleh datang kerumah kamu?” tanyanya lagi.

“Buat?”

“Gak ada sih, kangen aja sama Mama kamu.”

“Terserah,” jawab gue cuek sambil mengambil tas gue dan berdiri.

“Dion, kamu kenapa? kamu masih marah kan?” tanyanya sambil menahan tangan gue dengan wajah sendu.

“Gak, pengen keluar saja,” ucap gue sok keren, itu karena gue benar-benar canggung dan memilih keluar kelas.

“Dion,” panggil Melody kembali, tapi gue lepas pegangan tangannya yang menempel dilengan gue.

Setelah lepas, gue melanjutkan perjalanan gue keluar kelas. Tangan kiri dimasukkan dalam saku, dan tangan kanan gue gunakan untuk menenteng tas dipundak. Gue keluar kelas dengan tatapan nanar.

Sampai akhirnya gue masuk lagi kedalam kelas dengan kondisi kerah baju gue diapit sama dosen tadi dari belakang

“MAU KEMANA KAMU HAH?” tanyanya geram.

“Eh..i-itu pak, mau liat keadaan bapak, saya khawatir tadi,” ucap gue beralasan.

Sumpah gue lupa kalau nih Dosen masih ada diluar kelas.

Dan gue digiring sampai ketempat duduk gue, persis manusia yang mengangkat kucing dengan menjepit lehernya, dan kucingnya itu gue. Saat melewati Melody gue bisa ngeliat wajah cewek itu sedang menahan ketawanya.

Usaha gue untuk keren, gagal total.

[ S T O C K H O L M  S Y N D R O M E ]

Sore harinya disebuah kafe sederhana alias Warkop, gue sama teman-teman gue melepas lelah setelah puas bermain futsal dengan anak fakultas sebelah. Dan alasan kami kewarkop ini simple, ada 2 pegawai magang yang kerja disini, cewek, cakep, yang setiap diliat bawaannya ke KUA melulu.

“Nih Jus Oreonya,” kata Dhike, salah satu pegawai yang gue bilang tadi.

“Makasih ya Dhike,” ucap Aji, teman gue yang ikut main futsal, dan Dhike hanya tersenyum

“Eh Dhike, disini saja jangan masuk,” kata Erik, ya dia temen gue juga yang main futsal tadi. Dan ucapannya itu untuk mencegah Dhike kembali kedalam.

“Kenapa?” tanya Dhike.

“Kopi pahit aku ini tadi tiba-tiba jadi manis pas kamu kesini hehe,” Erik cengengesan.

Erik terus tertawa, suara tawanya semakin pelan, dan pelan. Sehingga akhirnya hening dan jerami mengelinding di tengah jalan.

“Dhike,” panggil Enu kepadanya.

“Ya?”

“Pesan Ember ya, gak pake lama. Udah mau muntah ini,” kata Enu untuk mengejek gombalan Erik tadi.

Dhike hanya tertawa karena tahu itu hanya candaan belaka, kemudian dia masuk kedalam dan kami semua mulai mengejek Erik secara brutal dan tidak manusiawi.

“Eh iya, besok kan malam minggu. Kalian ada rencana apa?” tanya Bayu, pokoknya dia juga temen gue yang main futsal tadi.

“Gak ada sih,” kata gue dan diiyakan yang lainnya kecuali Beny yang mempunyai rencana jalan-jalan sama Naomi.

“Beeh, basi lo Ben, masa tiap malam minggu lo jadikan hari jalan-jalan bareng cewek lo?” kata Aji mengomentari.

“Lah kenapa emangnya?” tanya Beny dengan sewotnya.

“Yo’i, entah kenapa malam minggu dijadikan hukum gak tertulis tentang kewajiban pria mengapeli tempat pacarnya. Paradigma ini harus kita ubah, harus lu ubah Ben!” ucap Ega sok keren sambil menunjuk Beny.

“Paradigma apaan Ga?” tanya Damar.

“Gak tau, biar keren aja gue ngomong intelek tadi,” jawabnya jujur.

“Najis, jadi malam minggu nanti emangnya lo ada rencana apa?” tanya gue kepada Ega.

“Hmm gue mau nanya dulu, lo biasanya malam minggu ngapain Yon?” tanya Ega ke gue.

“Mengaji dan berdoa,” jawab gue dengan senyum manis.

Ega lalu menoyor kepala gue, “Sok suci lu, puasa kemarin aje udah berapa kali lu batal. Jadi apa?” tanya lagi ke gue.

“Gak ngapain-ngapain, ngikuti Mood aje gue. kadang jalan, kadang kayang,”

“Hmm salah nanya orang gue, kalau lu Bay?” tanya Ega kepada Bayu yang disebelah gue.

“Gue… ya biasanya gue ke kafe nyari Hotspot,” jawab Bayu.

“Beeeh muka kuota sekarat, kalau lu Nu?” sekarang giliran Enu.

“Gue? gue biasanya kerumah Erik,” kata Enu.

“Kalau lu Rik?” giliran Erik sekarang ditanya.

“Gue sih pas Enu udah kerumah gue, kami berdua kerumah Aji.”

“Nah kalau lu Ji?”

“Habis Enu sama Erik kerumah gue, kami bertiga lalu kerumah Damar,”

Ega menyeringitkan dahi, lalu dia bertanya kepada Damar.

“Kalau lo Mar?”

“Gue? kalau gue sih habis kedatangan mereka bertiga kami lalu kerumah Dion,”

Njir, ini sih muter-muter. Jadi lo ngapain Yon habis nih anak semua kerumah lo?” tanyanya lagi kepada gue.

“Mengaji dan berdoa,” gue menjawab lagi dengan senyum penuh pesona.

“Stres gue,” ucap Ega sambil menepuk kepalanya sendiri.

“Hahaha langsung saja kenapa intinya, emangnya lu ada rencana apa malam minggu besok?” tanya Erik terkekeh.

“Hmm gue sih tadi mau mikir gimana kalau kita cari pacar besok, gimana?” ucapnya.

“Beeeeh itu lagi, itu lagi, trus apa gunanya tadi lo bilang paradigma-paradigma an tentang malam minggu tadi tentang orang pacaran?” ucap gue sambil meminum kopi.

“Gaya lu, lu enak udah ada Melody,”

“Lah, kenapa jadi bawa-bawa Melody?” ya gue gak heran sih, kedekatan gue sama Melody dulu udah dikenal meluas 1 kampus.

“Tapi bener juga kata Dion tadi Ga, yang bermanfaat kek,” kata Enu membela gue sambil menyeruput kopinya.

“Iya juga ya, apa ya?” Ega lalu tampak mengelus-elus dagunya dan matanya memandang keatas, bertingkah seperti orang yang sedang berpikir.

Lama Ega berpikir sampai Erik sempat-sempatnya menggoda Dhike kembali untuk membunuh waktu sampai akhirnya Ega menggebrak meja dan membuat kami semua kaget.

“Gue ada ide!,” ucapnya penuh semangat.

“Sekali lagi lu gebrak meja, abang gebrak lu ke Aspal, mau?” ancam pemilik warkop kepada Ega.

“Eh iya bang, sory-sory hehehe,” kata Ega meminta maaf dengan wajah dongonya.

“Ide apaan Ga? Sampai lu ngegebrak-gebrak meja?” tanya Beny kepadanya.

“Ah iya gini-gini, tadi gue mendapat ide bagaimana kalau kita membuka usaha. Lo liatkan sore begini saja orang udah pada ramai dijalanan,apalagi ntar malem? Bermanfaatkan? Kita bisa cari duit, dan untung-untung kalau ada pelanggan cewek yang bisa kita gebet, sekali mendayung dua tiga pulau terlewati,” ucapnya penuh semangat kearah kami semua.

Kami semua tertegun. Ega, salah satu teman kami yang terkenal bego dalam bertindak bisa encer juga otaknya, oh gue bilang bego tadi ada sebabnya. Dia udah 2 tahun kuliah dan sampai sekarang masih sering salah masuk kelas dan begonya lagi dia ikut mata pelajaran kelas itu.

“Wah bisa mikir juga sampai kesitu lo Ga, menarik-menarik. Trus usaha apa nih?” tanya Enu kepadanya.

“Nih,” ucapnya tersenyum sambil menunjuk gelas-gelas minuman kami semua.

Gue lalu melihat arah tangannya yang ditunjuknya lalu gue bertanya, “Apaan? Mau jualan gelas?”

“Bukan bego, ini, mi-nu-man!” jawabnya dengan keki.

“Minuman?” tanya kami semua dengan alis sebelah naik.

“Yo’i minuman, bagaimana kalau kita buka Kedai minuman?” tanyanya lagi kepada kami semua.

“Wih bener tuh bener,” kata Bayu menyetujui.

“Emang kenapa Bay? Main setuju-setuju aje lo,” tanya Erik kepadanya.

“Iya kenapa Bay?” Ega juga bertanya.

“Sialan, gue kira lu ngajak buka Kedai minuman udah tahu keuntungannya. Jualan minuman itu untung besar coy,” kata Bayu.

Bayu yang memang sudah dikenal paling kaya diantara kami semua dan mempunyai ilmu bisnis tentu saja tertarik saat dia mengatakan itu.

“Bisa untung gitu gimana Bay?” tanya gue.

“Gini-gini gue kasih contoh kecil. Nah Nu, Es Teh yang lu pinum itu berapa harganya satu gelas?” tanya Bayu kepada Enu.

“Tiga ribu,” jawab Enu.

“Nah tiga ribu, itu baru satu gelas. Kalian pernah bikin teh kan? Gue tanya sekarang 1 celup teh kantong bisa buat berapa gelas?”

“Biasanya sih 4, pas gue buat minuman untuk tamu nyokap gue,” kata Damar.

“Nah, 1 kantong teh celup saja udah bisa bikin 4 gelas, dan ini tadi harga 1 teh es pergelasnya tiga ribu. Lu kalikan saja tiga ribu dikalikan 4 udah berapa? Dan coba lu liat tamu-tamu yang lain banyak juga yang mesen teh es kan? Untungnya gede itu jual minuman,” kata Bayu memberi penjelasan.

“Bener juga ya,” kata gue memanggut-manggut.

“Kalau bisa jual juga makanan, temannya makanan kan minuman, orang-orang juga pasti laper dan butuh makanan. Ya terserah jual apa kek makanannya, kentang goreng kek, burger kek,” kata Bayu menambahkan.

“Nah, itu dia yang gue maksud tadi,” ucap Ega tiba-tiba.

“Muke lu, lu aje tadi nanya ke Bayu,” kata Aji kepada Ega dengan sewotnya.

“Tapi kalau mau buka Kedai kita harus bikin 1 menu special di hari tertentu, biar bisa jadi mark nya Kedai. Gimana kalau menu special itu hanya tersedia di malam minggu?”

“Boleh juga, strategi bisnis itu namanya,” kata Bayu menyetujui.

“Emang apa menu spesialnya?” tanya Beny.

“Itu bisa dipikirin nanti, yang penting sekarang mencari pasokan. Rik, bokap lo masih jualan biji kopi kan?” tanya Ega.

“Masih, kenapa?”

“Calon langganan sumber biji kopi,” kata Ega terkekeh.

“Tapi ada 1 hal penting yang harus dipikirkan agar Kedainya bisa jadi,” Ega lalu berdiri dan menghampiri Bayu, setelah itu tanpa disuruh dia memijit-mijit pundak Bayu.

“Nape lu mijit-mijit gue?” tanya Bayu keheranan, sedangkan gue udah tahu maksud Ega berkata seperti tadi sebelum berdiri.

“Gak ape Bay, gue lagi pengen aje,” ucapnya kepada Bayu, setelah itu dia kembali berbicara kepada kami semua.

“Yang dibutuhkan dalam sebuah usaha itu adalah modal, modal itu yang penting. Gue bener kan Bay?” tanya Ega dengan senyum penuh arti kearah Bayu.

“Haha taik, ada rencana rupanya dia mijit-mijit gue,” kata Bayu terkekeh karena tahu maksud omongan Ega tadi. gue dan yang lainnya pun ikutan tertawa sekadarnya, kecuali Damar yang ketawanya ngakak kayak orang kesurupan. Entah apa yang membuatnya begitu.

“Jadi kira-kira siapa yang bisa menjadi Modal usaha kita?” tanya Ega kembali.

“Gak usah basa-basi lo, ya gue bisa bantu modal tenang aje,” kata Bayu.

“Hehe emang calon bos nih bisa ngerti,”

“Kalau gitu gue juga mau nyumbang modal, biar bisa jadi Bos,” kata gue sambil menunjuk jari.

“Ya gue juga, gue juga,” Enu pun menunjuk tangan, begitu juga Erik dan Beny.

“Beeh malah berebut jadi Bos, tapi boleh juga. Anggap saja yang ikut nyumbang mempunyai saham di usaha ini haha,” kata Ega tertawa.

“Okelah, gue bantu doa ya hehe,” kata Damar, kami semua memaklumi Damar karena dia sudah mandiri dari SMP, kedua orang tuanya sudah meninggal dan tidak ada sanak saudara dia disini.

“Santai Mar, lo bantu-bantu aje jadi kasir kek, apa kek,” kata Ega.

“Trus nama kedainya apa nih?” tanya Enu.

“Bisa kita pikirkan nanti, tapi semua setuju ya?”

“Ya setujulah, udah semangat juga ini.”

“Hahaha sip, nah Ben. Malam minggu tuh gitu, cari usaha, bukannya jalan sama pacar,” kata Ega dengan nada meledek.

“Haha taik,” jawab Beny sambil tertawa.

Gue dan semuanya lalu berdikusi tentang nama Kedainya, tapi karena lelah sehabis main futsal pikiran kami menjadi kurang Fresh. Apalagi ada Shani, salah satu pegawai warkop tadi lewat. Beeeeeeh gemes banget gue, rasanya mau gue culik dan gue ajak nikah siri.

Gak percaya? Nih fotonya yang gue dapat dari akun media socialnya yang gue ambil diem-diem.

dsa

Karena hari sudah semakin sore maka kami semua berniat untuk pulang, dan rencana untuk mencari tempat akan menjadi tugas gue, Enu dan Bayu besok sehabis pulang kuliah.

[ S T O C K H O L M  S Y N D R O M E ]

Dikampus lalu gue gunakan untuk mencari ide untuk menu special yang hanya terdapat pada malam minggu nanti, karena gue yang dikasih kepercayaan buat itu. Yeah, otak gue mencret. Banyak sih ide-ide yang gue kumpulkan seperti ini

  • Nasi goreng Cinta, tapi gue mendadak merinding membayangkannya.
  • Jus Jengkol, gue bahkan gak bisa membayangkan orang yang nanti meminumnya.
  • Kentang Goreng Antartika, kentangnya digoreng, lalu dibekukan dalam kulkas. Nah gue sendiri bingung gimana cara makannya.
  • Chicken Flour, Ayam tepung. Tapi kayaknya ini udah mainstream, KFC kan ayamnya juga ditepungin.
  • Aku datang kau pergi, ini menu atau judul FTV?

Selagi gue mencari ide yang gue tulis didalam buku gue dikagetkan dengan panggilan seseorang didepan gue.

“Dion, kamu lagi apa?” tanya Melody sambil berusaha mengintip apa yang gue tulis.

Gue lagi-lagi heran kapan nih cewek pindah duduknya dan lagi lagi Damar bersama Enu udah pindah ketempat dia duduk. Gue curiga jangan-jangan nih Melody, Enu dan Damar adalah pesulap Teleportasi.

“Eng-enggak kok,” jawab gue sambil menutup tulisan yang gue tulis, malu karena nama menunya nyeleneh dan malu karena tulisan tangan gue jelek.

“Hmm rahasia-rahasiaan, eh nanti malam kamu ada acara gak?” tanyanya ke gue.

“Ada, kenapa?”

“Yaahh, enggak sih soalnya nanti malam aku mau kerumah kamu, kalau kamunya gak ada ya gak jadi deh,”

“Kenapa emangnya kalau gak ada gue? katanya juga kemarin mau ketemu nyokap gue,” tanya gue dengan mulut miring.

“Dih jutek deh, kan seru ada kamunya gitu dirumah kayak dulu,”

“Gue udah gak kayak dulu lagi,” jawab gue dingin dan gue lanjutin berbicara dalam hati, “Emang dulu gue kayak gimana ya?”, ya, Power Of Sotoy.

Melody tiba-tiba murung mendengar jawaban gue barusan.

“Kamu beneran marah ya sama Imel?” tanyanya tiba-tiba kepada gue.

“Enggak,” jawab gue dengan nada datar. Rasanya gue mau nampar diri sendiri kenapa daritadi gue menjawab dengan jawaban sok keren.

“Kalo kamu gak marah jawaban kamu kenapa begitu? Apa kamu marah gara-gara Imel marahin kamu dulu atau….”

“Atau apa?” tanya gue penasaran, pandai amat nih cewek bikin cowok penasaran.

“Atau kamu marah gara-gara Imel tiba-tiba punya pacar pas lagi deket sama kamu?”

SKAK MAT !

Gue gak mikirin hal itu sebenarnya tapi ucapan dia barusan seperti memancing gue untuk bilang Enggak. Taukah lo pada kalau gue bilang “Enggak” pasti dia akan menyangkal gegara jawaban gue barusan yang dingin dan datar, otomatis gue akan dicap cemburu. Ya, para wanita itu Monster Psikologi. Tapi untungnya gue udah bisa memikirkan pengalihan yang cukup signifikan.

“Gue gak marah sama lo, dan jangan pernah memikirkan hal tersebut lagi,” ucap gue.

“Bohong,” jawabnya dengan ekspresi ngambek.

“Kok bohong?”

“Itu dulu kamu biasanya manggil Imel dengan panggilan “Imel” ataupun “Ody”, sekarang pake “Lo”, itu tandanya kamu masih marah kan?”

Nah baru gue bilang, permainan Psikologinya udah dimulai kembali. Sekarang tentang panggilan yang dijadikan masalah.

“Gak marah, iya-iya lupa, maaf ya Imel,” ucap gue dengan nada mengalah.

“Tuh kan, biasanya kamu gak pernah lupa sesuatu kalo ngomong sama Imel.”

ASTAGA YA TUHAN,” teriak gue didalam hati, gila sekarang hal sedetail dan sekecil apapun bisa diungkitnya.

Gue lalu memegang tangannya, dan gue udah nyebut “Cieee” didalam hati. Melody tampak tertegun saat gue memegang tangannya dan dia langsung melihat gue.

“Aku gak marah, Imel. Maaf ya bikin kamu jadi sampai berpikiran begitu,” ucap gue dengan senyum pepsodent, gak tau? Itu loh senyum yang tiba-tiba ada cahaya cling di gigi. Keren kan gigi gue?

Melody juga tersenyum memandang gue, sambil tersenyum begitu dia lalu berkata, “Maafin Imel ya Dion.”

“Iya Imel, maafin Dion juga ya,” balas gue sambil tersenyum.

“Maaf,” ucapnya lagi sambil tersenyum.

“Iya, maaf juga ya,” gue juga tersenyum.

“Hihi maaf ya Ion.”

“Iya Ody, maaf ya hehe.”

Sedangkan yang membaca dialog diatas mulai berteriak didepan layar, “GITU AJE TERUS SAMPAI KIAMAT !!”. ya, kalian yang membaca cerita ini yang berkata seperti itu didalam hati.

Gue lalu melepaskan genggaman tangan, sedangkan Melody menyeret kursi untuk duduk disebelah gue. Kemudian dia bertanya lagi apa yang gue kerjakan daritadi dan juga mau kemana gue nanti malam nantinya, gue lalu menjelaskan kalau gue sama teman-teman mulai mau membuka usaha kecil-kecilan. Melody yang mengetahui itu mulai menyemangati gue dan siap membantu kalau diperlukan.

Gue merasa senang karena Melody sama sekali tidak berubah.

Saat kami berdua lagi berbicara tiba-tiba Ega masuk kedalam kelas sambil terengah-engah.

“Nu, Mar, Yon, yok kekantin sekarang, buruan,” pintanya dengan nada tergesa-gesa.

“Nape lu Ga? Istirahat saja belom,” kata Enu.

“Eh ikut saja, ada 1 orang lagi nih yang ngebantuin kita,” ucapnya dengan penuh semangat.

“Wooh beneran? Oke sip-sip,” Ucap Damar yang bersiap-siap menyusul Ega didepan pintu. Gue yang mendengar hal tadi juga semangat, gue lalu berpamitan dengan Melody.

Setelah itu kami berempat berlari dengan penuh semangat keluar kelas, tapi itu cuma bertahan sebentar.

Itu dikarenakan kami berempat kembali masuk kedalam kelas dengan kondisi kerah baju kami berempat ditarik Dosen dari belakang.

“MAU KEMANA KALIAN? HAH?!”

“Eh.. i-tu pak, kami mau manggil bapak, ehh udah datang bapaknya hehe,” kata Damar mewakilkan alasan kami  sedangkan gue, Enu, Ega hanya bisa mengangguk-angguk setuju dengan alasan yang dibuat-buat tadi.

Dosen itu tampak tak mau menerima alasan, tapi dia melepaskan tarikan tadi dan mulai menyuruh kami untuk duduk. Gue dengan terpaksa kembali ketempat duduk dan melihat Melody lagi-lagi menahan ketawanya.

Dan Ega… entah gue males lagi menjelaskannya, dia kan anak Ekonomi ? Ngapain dia malah ngampus dikelas gue yang bisa dibilang anak Hukum? ah sudahlah.

-oOo-

Jam istirahat lalu gue disuruh Ega untuk langsung ketaman kampus, Melody yang mau ikut akhirnya gue ajak juga. Sesampainya ditaman sudah ada Beny, Aji, Erik, Naomi dan seorang cewek yang rasanya familiar bagi gue.

“Elo kan…,” ucap gue sambil menunjuk dan berusaha mengingat-ingat.

Plaak!

“Udah inget?” tanyanya sambil duduk kembali ketempat duduknya, dan Ya, dia yang nampar gue dulu pake buku dan sekarang gue ditampar lagi pake bukunya, tapi pelan.

“Gak gitu juga kali,” ucap gue sewot sambil duduk disamping Enu dan ya gue ingat nama nih cewek saat diberi tahu Damar kemarin, namanya Veranda.

“Eh? Pacar kamu?” kata Veranda tadi sambil menunjuk gue tapi matanya kearah lain, kemudian dia melanjutkan kata-katanya.

“Maaf ya nampar pacar kamu, tadi cuma bercanda kok,” kata Veranda kearah samping gue, ya disamping gue itu Melody. Gue lalu menoleh dan melihat Melody terlihat marah kearah cewek tersebut.

“Mel, mukanya gak usah gitu juga kali, kan tadi dia udah minta maaf,” bisik gue kepada Melody.

“Tapi buat apa coba bercanda pake nampar gitu?” kata Melody balik berbisik kepada gue.

“Duh maaf ya? Please,” ucap Veranda sekali lagi kepada Melody dan wajahnya terlihat memohon.

“Santai saja,” ucap gue kepada Veranda, gue lalu kembali berbisik kepada Melody untuk tidak memperpanjang masalah ini, Melody lalu mengangguk dan tersenyum kearah Veranda sebagai tanda sudah memaafkan.

“Makasih, cuma bercanda kok tadi mukulin pacar kamu, gak kuat kok namparnya,” kata Veranda lagi kepada Melody.

“Bukan pacar,” kata gue dengan cepat membantah.

“Iya bukan, tapi calon,” kata Enu terkekeh disebelah gue, yang lain mulai tertawa mendengarnya begitu juga Melody. Syukurlah, seenggaknya suasana kembali tidak tegang.

“Oh iya, Ve kenalin dulu diri kamu sama yang lain,” pinta Ega kepadanya.

“Eh iya, hai semua walau aku pemalu tapi aku Fashionista, panggil aku Ve,” ucapnya tersenyum dan riang gembira.

Dan suasana tiba-tiba hening.

“A-anu, kok kalian diem?” tanya Ve yang merasa canggung.

“Itu apaan tadi Ve? Pemalu? Fashionista?” tanya Enu yang mewakili rasa penasaran kami semua.

“Oh hehe, biar beda aja cara perkenalannya. Aneh ya?”

“Oooh hahaha keren-keren, unik,” Aji memuji dan suasana kembali ceria seperti biasa.

“Hai Ve, biarpun aku sering ketiduran didalam kelas dan nista tapi aku rajin menabung, panggil aku Erik,” kata Erik memperkenalkan diri kepada Ve dengan nada yang sama seperti tadi.

Entah kenapa gue tiba-tiba merasa mual saat Erik berkata seperti itu. kalau Ve masih mending ketolong wajahnya yang cakep. Lah ini… rasanya mau gue tonjok aje, mukanya Erik dari dulu kayak orang ngajak berantem.

Setelah puas menyoraki Erik kami semua akhirnya kembali ke topik utama. Berkat kesotoyan Ega yang sering salah masuk kelas akhirnya dia tak sengaja dia menemukan Ve, dan Ve sangat tertarik dengan ide kami saat membuka kedai dan dia mau berpartisipasi.

Ve lalu berkata dia bisa membantu dalam hal modal dan juga bisa membantu dalam dekorasi tempat nanti. Mendengar hal itu gue dan yang lainnya jadi semakin bersemangat, setidaknya kedai kami nanti bisa lebih keren dan sedap dipandang. Apalagi melihat sketsa-sketsa gambar Ve dibuku gambarnya, mantap. Kayaknya kedai nanti bakalan keren dengan ilustrasi gambar didinding.

Setelah itu kami bubar karena sudah berakhir perbincangan kami. Dan saat jam pulang kampus, gue, Enu dan Bayu langsung saja mencari lokasi kedai nanti, karena Melody juga mau ikut akhirnya dia gue ajak. Jadi sekarang kami berempat mulai mencari tempat untuk usaha kami.

[ S T O C K H O L M  S Y N D R O M E ]

Hari Minggu gue sama teman-teman yang lain mulai bekerja. Tempatnya Kedai yang kami pilih adalah sebuah rumah tua, dan untungnya itu adalah rumah lama Bokapnya Bayu jadi kami tidak memusingkan lagi masalah harga, paling banter hanya bayar listrik dan pajak lainnya.

Dengan dibantu sama 2 tukang kami terus bekerja dari pagi sampai sore. Dari mengganti pintu menjadi pintu yang lebar, sampai merapikan halaman biar bisa jadi tempat duduk diluar. Semua kami lakukan dengan penuh semangat.

Shani dan Dhike yang dulunya pegawai magang di warkop yang sering kami singgahi kami tawarkan untuk bekerja ditempat kami nanti, dan mereka setuju apalagi Shani pandai sekali meracik yang namanya kopi. Andai saja dia bisa meracik perasaan ini. (Tsaaaaah)

Dari hari Minggu sampai Hari selasa, akhirnya kondisi rumah itu sudah terlihat layak untuk menjadi kedai. Dinding-dindingnya pun sudah diperbaharui, dan sekarang ini menjadi tugasnya Ve untuk mendekorasi. Dari Wallpaper dinding, gambar dan dekorasi lainnya. Sedangkan Erik, Ega, Damar dan Bayu mulai berbelanja keperluan yang diperlukan seperti cangkir, gelas, pemanas air dan lain-lain.

Selasa, Rabu, Kamis, dan Hari Jum’at tepatnya jam 7.15 malam akhirnya sebuah kedai yang kami bicarakan dulu menjadi kenyataan. Walau kami terlihat lelah setelah beberapa hari ini terus-terusan bekerja tapi setelah melihat hasilnya hal itu segera terobati.

Ternyata benar ya, usaha keras tidak mengkhianati. Fiuuuhh. (Buang keringat kemukanya Beny)

Kami lalu masuk kedalam dan sangat puas melihat dekorasi yang Ve lakukan, ada sebuah gambar yang menghiasi dinding dibelakang kasir yang enak dilihat. Pernak-pernik yang digantung dilangit, dan tak lupa juga arah kursi yang pas untuk tamu yang berada didalam. Diantara semua itu cuma Ega dan Erik yang begitu terkesima melihat Toilet…. Jangan tanya gue apa yang membuat mereka kagum. Gue gak tau isi otak mereka.

Tak lama kemudian datang Dhike dan Shani yang dijemput oleh Enu dan Aji, mereka sengaja didatangkan untuk melihat tempat mereka berkerja besok. Dan saat mereka masuk mata mereka lalu binar dan senyum mulai merekah dari kedua sisi bibir mereka.

“Gimana?” tanya Enu kepadanya.

“Bagus Nu, terang,” kata Shani memuji tampilan didalam.

“Ets bukan itu saja, di kasir ada TV. Misalkan kalian bosen kalian bisa nonton jadinya,” kata Bayu dibalik kasir.

“Siap Bos hehe,” kata Dhike kepadanya.

“Toiletnya bersih,” ucap Erik dan Ega kesenangan secara bersamaan, dan kami semua tidak memperdulikannya.

“Shani, Dhike, sini dulu biar gue ajarin ngatur mesin kasirnya,” panggil Bayu kepada mereka berdua, mereka berdua lalu memasuki tempat kasir dan mulai memerhatikan dengan serius.

“Oh iya Ve mana?” tanya Aji.

“Diatas sama Melody dengan Naomi,” jawab gue.

“Oh, kalau gitu gue keatas ya,” kata Aji dengan penuh semangat.

“Ngapain Ji?” tanya Ega kepadanya.

“Pedekate dulu sama Ve muehehehe.”

Ega yang mendengar itu langsung saja berlari untuk menghentikan Aji.

“Gak bisa, gue duluan. Gue juga yang pertama kali nemu dia,” kata Ega sambil mendorong Aji kebelakang dan mulai menaiki tangga.

“Etttt gak ada hubungannya, siapa cepat dia dapat,” kata Aji menahan Ega dan menariknya kebelakang kemudian dia menaiki tangga lagi.

“Gue!”

“Gue!”

Ega dan Aji saling tarik menarik kebelakang, dan lucunya adalah sampai sedari tadi mereka gak naik-naik keatas dan terus ditempat anak tangga yang sama karena saling tarik menarik. Gue jadi pengen ikutan, tapi bukan karena Ve. Gue pengen aje narik-narik mereka berdua.

“Dhike, Shani, besok kalian jaga dari jam 4 sore sampai jam 9 malam. Bisa gak kira-kira? Kalau gak bisa nanti tinggal tukar jadwal waktu saja dengan Damar dan Aji.”, kata Enu dan Bayu kepada mereka berdua.

“Bisa kok tapi kalau hari senin sampai kamis kayaknya gak bisa soalnya bentrok dengan jadwal kuliah kami, kami biasanya masuk siang jam segitu,” kata Dhike mewakilkan.

“Oh ya gampang, tinggal atur saja nanti jadwal jam kerjanya. Jadi nanti hari Jum’at, Sabtu, Minggu kalian jaga jam 3 ya?” tanya Bayu lagi untuk memastikan.

“Oke hehe,” kata Shani menyetujui.

“Ya sabar saja, berdoa saja Kedainya sukses dan bisa nambah karyawan, jadi lebih enak lagi ngatur jadwalnya,” kata gue ikut campur, padahal gue gak ngerti yang gue omongin.

“Oh iya, ini seragam kalian,” Bayu lalu membuka lemari bawah kasir dan mengeluarkan dua buah seragam yang sudah disiapkan untuk mereka berdua.

“Warna hitam gak apa-apa ya? Tenang, kalau panas AC nyala kok,” ucap Enu sambil menunjuk AC yang dimaksud.

“Gak apa kok, makasih ya,” ucap Shani berterima kasih dan wajahnya yang tersenyum itu membuat gue menggelinjang. Manis banget.

“Shan, kamu ini manusia atau baling-baling sih?” tanya gue kepadanya.

“Hah?” reaksinya dengan alis naik sebelah, “Kok baling-baling?”

“Iya, soalnya kamu bikin aku susah berpaling ciaaaahahahaha,” gue lalu menggebuk-gebuk meja kasir sehabis menggombal tadi sedangkan Shani dan Dhike hanya bisa tertawa.

“MEL, MEL. DION NGEGOMBALIN SHANI MEL,” Enu tiba-tiba berteriak kearah tangga.

“Rese’ lu Nu,” gue mulai sewot kearah Enu dan memperhatikan tangga, untunglah gue rasa suara Enu tidak kedengaran sampai lantai 2 karena dibawah tangganya masih ada suara ribut Aji dan Ega yang masih saling tarik menarik, dan ditambah Erik yang ikut-ikutan.

Yeah, 3 idiot.

“Makanya calon orang kok diganggu-ganggu,” kata Enu dengan santainya menyender kemeja kasir.

“Emangnya calon siapa?”

“Calon gue dong, iya gak Shan? Ciahahahahaha,” Enu juga menggebuk-gebuk meja kasir sehabis mengucapkan kata-kata barusan.

“Bay, Bay ada air panas gak? Siram nih anak,” tanya gue kepada Bayu sambil menunjuk Enu.

“Taik lu,” umpat Enu kepada gue.

Setelah dirasa cukup mengobrol-ngobrol lalu kami semua berinisiatif kelantai 2 karena disitu ada tempat santai yang cukup luas. Gue lalu menarik Aji keatas karena sedari tadi urusan dia dengan Ega gak kelar-kelar, Ega juga ditarik Enu dan Erik ditarik Beny.

Diatas kami melakukan sebuah formalitas terlebih dahulu yaitu berdoa untuk kesuksesan kedai kami menurut agama dan kepercayaan kami masing-masing. Tapi entah kenapa gue tiba-tiba merasa lapar, mungkin itu gara-gara habis berdoa gue juga melakukan doa sebelum makan.

Setelah itu baru deh kami semua bersuka cita, semua tertawa melihat tarian Damar dan Ega menirukan tarian film-film India. Gue yang gak mau kalah pengen saja langsung membuka baju dan menari striptis dihadapan mereka semua, tapi niat itu gue urungkan, gue gak mau teman-teman gue mati keracunan mata.

“Eh iya, nama kedainya apa?” tanya Melody yang berada ditengah Naomi dan Ve.

Kami semua langsung terdiam mendengar pertanyaan Melody barusan.

“OH IYA! NAMANYA APA?!” Gue dan teman-teman gue lalu menepuk kepala, karena kami melupakan hal yang penting tersebut, ya, sebuah nama untuk kedai kami ini.

Kami semua panik, gue bersama Bayu dan Beny terlihat mondar-mandir memikirkan nama. Ega, Erik dan Aji berguling-guling dilantai untuk mencari Inspirasi nama. Damar asyik nonton TV dan Enu malah asyik ngobrol dengan Shani, Kampret.

“Bagaimana kalau Kedai Oke?” usul Enu.

“Oke palalu, gak sekalian tampangin muka lu di papan sambil ngasih tanda jempol,” jawab gue dengan sewotnya.

“Red Axe?” usul Ega.

“Kapak merah? Nanti dikira orang ini tempat berkumpulnya preman berkapak merah, ganti-ganti,” kata Beny kepada Ega.

“Kedai Makmur Sejahtera?” Erik memberi usul.

“Lah, jadi kayak toko kelontong pake nama itu, ganti-ganti,” Bayu dengan cepat-cepat menolak.

“Kedai Fanfict?” Damar memberi usul.

“Itu sih nama situs Fanfict JKT48, yang lain,” Ega langsung membantah.

Melody, Ve, Shani, Naomi dan Dhike malah tertawa saat mendengar nama JKT48, mereka lalu melakukan Oi Oi Oi kearah kami yang terlihat kebingungan mencari nama. Disemangati begitu gue mau saja mengajak yang lain menari Heavy Rotation. Tapi karena gue rasa gak cocok dan takut pinggang kami terkilir maka niat itu gue urungkan.

“Eh kalian udah pernah denger lagu Stockholm Syndrome belum dari Muse?,” tanya Ve kepada Melody, Naomi, Dhike dan Shani.

Gue dan Bayu yang mendengar ucapannya itu langsung saja memandang Ve dan dengan cepat gue menghampirinya bersama Bayu.

“Apa tadi Ve? Ulang-ulang,” pinta gue kepadanya.

“Heeh? Apanya yang diulang?” tanya Ve dengan wajah tak mengerti.

“Itu tadi nama lagu yang lu sebutin,” kata Bayu memperjelas.

Stockholm Syndrome, emang kenapa?” tanyanya lagi sehingga membuat cewek-cewek yang lain juga penasaran memandang kami berdua.

Gue dan Bayu lalu saling berpandangan dan terkekeh kecil penuh arti, lalu kami berdua langsung berdiri untuk memanggil Ega, Aji dan Erik yang masih berguling-guling, kemudian Beny, Damar dan Enu.

“Kami berdua udah dapat namanya,” kata gue mewakili.

“Apa tuh?” tanya Ega.

“Kedai Syndrome,” ucap Bayu dengan puas.

Njir, apaan tuh artinya?” tanya Enu dengan wajah kebingungan.

“Kalian pernah dengar yang namanya Stockholm Syndrome?”

“Kagak, apaan tuh?”

Stockholm Syndrome itu adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu.”

Orang-orang langsung terdiam saat gue menjelaskan arti Stockholm Syndrome barusan dan entah kenapa gue jadi merasa keren.

“Wew, hebat bener lu Yon bisa tahu hal begituan?” tanya Damar yang terkagum-kagum dengan gue.

“Oh itu… ini barusan gue baca di Google,” ucap gue sambil menunjukan Handphone gue yang habis mencari arti Stockholm Syndrome.

“Bangke, gue kirain emang lo tau!” kata Erik dengan kesalnya kearah gue dan gue hanya bisa terkekeh.

“Jadi maksudnya namanya itu Kita “Sandera” pembeli kita dan buat mereka menjadi nyaman disini sehingga mereka menjadi pelanggan tetap gitu,” kata Bayu menjelaskan.

“Njrit Bay! Moh gue kalau harus nyulik-nyulik segala,” kata Damar menolak.

“Apanya yang nyulik-nyulik Mar?” tanya gue.

“Itu tadi, sandera?”

“Bukan “Sandera” dalam arti sebenarnya nyet, maksudnya itu kita bikin pelanggan kita merasa enak dan nyaman dengan kita dan betah sehingga orang-orang yang datang kesini bisa menjadi pelanggan tetap kita, gitu maksudnya.” Kata gue yang sewot kepadanya.

“Oh bilang dong, lo gak bilang sih,” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala.

“Jadi gimana menurut lo pada?” tanya Bayu.

“Hmm boleh deh boleh,” kata Ega menyetujui begitu juga yang lainnya.

“Oke dengan begini sekarang nama Kedai kita adalah Kedai Syndrome,” kata Bayu dengan penuh semangat, gue juga berteriak dengan penuh semangat.

Bukan karena gue semangat mendapatkan nama kedai nama, tapi gue menyamarkan “bunyi Angin” dari bokong gue dengan teriakan.

Gue memang jenius.

“Oke, sip besok gue pesan papannya,” kata Bayu kembali.

Kami semua lalu puas karena telah mendapatkan nama untuk kedai kami, tak lama kemudian wajah Enu tampak kecut dan mengendus-endus sesuatu.

“Kok ada bau bangkai ya?” tanyanya sambil mengendus-endus “Angin” gue dengan khidmat.

[ S T O C K H O L M  S Y N D R O M E ]

Satu setengah tahun sudah berlalu, usaha Kedai kami sekarang sukses. Setiap hari selalu saja datang para mahasiswa dan pembeli umum lainnya, karena kedai kami walau tampak mewah tapi memasang harga yang masih manusiawi untuk dompet.

Walau awal-awal pas buka pertama kali kami merasa kebingungan karena gak ada pelanggan satupun dan hampir membuat kami putus asa. Tapi ternyata kami membuat sebuah kesalahan.

Promosi, Ya, kami lupa melakukan promosi.

Sejak menyadari itu kami mulai mempromosikan kedai kami keanak-anak kampus. Dan wihh, respon mereka sangat positif, itu dikarenakan harganya yang pas dan juga ada Wi-Fi gratis buat pengunjung disana. Yah, namanya juga mahasiswa. Ditambah lagi dengan adanya Shani dan Dhike, ditambah lagi dengan karyawan baru bernama Okta, Manda dan Yona disitu, fakir-fakir asmara makin ramai berdatangan.

Sekarang kedai yang mengelola cuma 4 orang, yaitu gue, Ve, Bayu, dan Enu. Sedangkan Ega, Damar, Aji dan Erik dengan bekal cara berbisnis mereka mulai membuat usaha baru yang lain, dan terakhir gue liat usaha mereka sukses.

Erik dan Aji membuka usaha toko kelontong. Sedangkan Ega dan Damar membuka usaha rumah makan. Kalau  Beny membantu Naomi membuka usaha Butik, dan menjalin kerjasama dengan Kedai, yaitu mempromokan tempat butik mereka dan juga contoh-contoh dagangan mereka, dan butik mereka sedikit demi sedikit mulai berkembang, apalagi Ve yang pandai ngedesain kadang membantu Naomi.

Melody yang hobi memasak selalu menemukan ide-ide barunya dalam membuat resep, dan resep dia selalu kami beli untuk menu special yang hanya tersedia setiap malam minggu. Tanpa gue sadari resep Melody itulah yang menarik perhatian pengunjung untuk mencicipnya setiap malam minggu, harganya yang pas dan juga enak.

Dan ada salah satu menu special buatan Melody yang diberi nama “Melodion”. Yang setiap gue baca selalu menyeringitkan dahi, karena seperti gabungan nama gue dan namanya dia. Dan hal ini pernah gue bicarakan dengan orang-orang di Kedai.

“Itu kode kak Melody kali Dion buat kamu,” ucap Shani sambil membersihkan gelas kaca.

“Masa sih?”

“Iya Dion, udah jelas gitu nama menu nya. Lagian masa kamu gak ada niat gitu ngejadiin Melody pacar?” tanya Ve kepada gue.

“Gak ada Ve,” gue jawab aje sejujurnya.

“Payah lu Yon, Melody udah perhatian sama lo gitu sejak lama malah lo giniin, nanti dia diambil orang lagi baru nyesel lu,” kata Bayu mengomentari.

“Terus gue harus ngapain? Gini aje gue udah merasa nyaman kok tanpa embel-embel pacaran.”

“Ya kalau lo gak mau pacaran, lo kan masih bilang sayang kek, suka kek sama dia, seenggaknya dia bisa tahu perasaan lo sama dia,” kata Enu menambahi.

“Iya Dion, kamu pasti gak pernah bilang hal itu kan sama Melody?” tanya Dhike kepada gue.

“Iya, kok lo tau?” tanya gue sambil menyandar dipinggiran meja kasir.

“Ya taulah, kamu nya sibuk melulu disini, gak pernah tuh aku liat kamu inisiatif keluar ngajak jalan Melody, palingan Melody nya sendiri kesini yang datang sengaja buat ketemu kamu,” jawabnya sambil menoyor lengan gue.

“Iya juga sih..” gue mulai menimbang-nimbang ucapan Dhike barusan.

“Dan lagi, coba lo liat foto menu Melodion ini,” kata Enu menunjukan foto makan tersebut.

“Apanya yang harus gue liat Nu?” tanya gue dengan alis naik sebelah melihat-lihat foto makanan tersebut.

“Yaelah nih anak, gak sadar lu? Tuh coba liat saus Hijau dan Hitamnya yang ditengah-tengah makanan,” kata Enu sambil menunjuk saus yang dimaksud.

“Terus?”

“Lo liat warna gelang yang dibelikan Melody dulu buat lo dengan gelang yang Melody pakai. Gelang lo warnanya hitam, sedangkan gelang Melody warnanya Hijau, terus nama menunya pun Melodion. Masa lo masih gak sadar ini bisa dibilang harapan dia yang dia tuangkan dalam makanan?”

“Wiihh keren filosofi lu barusan Nu,” kata gue memuji ucapannya barusan kemudian gue melihat gelang yang gue pakai, gelang plastik berwarna hitam yang dulu Melody belikan buat gue saat ada festival di Kampus dan Melody memakai gelang dengan bentuk yang sama tapi berwarna Hijau.

“Yon, kamu mau tau gak cerita Melody bisa sampai pacaran dengan orang lain dulu?” tanya Ve tiba-tiba kepada Gue.

Gue lalu menoleh kearah Ve, lama gue terdiam akhirnya gue bertanya.

“Kenapa Ve?”

“Itu karena Melody capek nungguin kamu sehingga dia putus asa dan menerima orang yang mau berpacaran dengannya. Tapi karena dia gak sayang dan merasa gak nyaman dengan cowoknya makanya dia putus, sejak dia putus dia masih berharap sama kamu, dia sekarang lebih memilih untuk terus bersabar dan setia menunggu kamu,”

“Yang bener?” gue langsung memasang wajah tak percaya.

“Iya, tapi jangan bilang-bilang Melody ya kalau aku nyeritaiin ini. Soalnya dia bilang mau kamu sendiri yang sadar, aku nyeritaiin karena kesel ngeliat kamu gak peka-peka juga sama dia sampai sekarang.”

Gue mulai diem, dan setiap ucapan orang-orang barusan mulai gue resap baik-baik didalam otak gue. seperti halnya sebuah Spon yang menyerap air.

“Yon, mending lo cepat-cepat bilang sama Melody, jangan mikirkan pacaran dulu. Lu ungkapkan saja perasaan lo sama dia,” kata Enu memberi saran.

“Iya Dion, kasian kan Kak Imel udah bersedia nunggu kamu setahun lebih begini,” kata Shani menambahi.

Gue masih terdiam sampai akhirnya Ve menanyakan pertanyaan yang vital bagi gue.

“Kamu sayang kan sama Melody?”

Mendapat pertanyaan itu tiba-tiba dibagian dada gue merasa ada ditekan gitu, gue lalu memikirkan pertemuan pertama gue dengan Melody sehingga kami menjadi dekat. Sebuah pertemuan konyol karena kami berdua lupa membawa atribut Ospek, dan bukan hanya sekali tapi 3 kali, dan karena itulah kami sering dihukum Senior.

Dan awal kedekatan kami saat gue nyelamatin dia bersama adiknya yang kecelakaan di Jalan. Adiknya terpaksa masuk rumah sakit selama seminggu, sedangkan Melody tidak apa-apa. Masalahnya adalah Melody selalu diminta antar jemput oleh adiknya, apalagi dia tidak bisa membawa motor dan motornya rusak. Mengetahui hal itu gue lalu menawari diri untuk mengantar jemput, karena bagi gue gak masalah rasanya nolongin teman sekampus, apalagi arah pulangnya yang gue ketahui juga searah. Semenjak itulah gue mulai dekat sama dia, karena kebiasaan gue menjemput dia pergi kuliah menjadi agenda rutin gue setiap hari. Dan walaupun adiknya sudah sembuh dan motornya sudah diperbaiki, gue masih menjemputnya karena sudah terbiasa.

Gue lalu teringat kembali saat Melody bilang kepada gue kalau dia mempunyai pacar, jujur aje gue gak merasakan apa-apa. Tapi karena ribut dengan pacarnya dulu membuat gue berpikir kok Melody mau sama cowok kayak begini, sehingga membuat gue ingin melindunginya. Tapi apa mau dikata, Melody marah karena gue menghajar cowoknya tanpa sempat memberi gue kesempatan untuk menjelaskan dan berkata gak mau berbicara lagi sama gue. Gue yang waktu itu kesal menyiyakan saja permintaannya.

Lalu tak lama gue ketahui dia putus, dan seperti melupakan omongannya. Dia kembali mau berbicara sama gue walau sikap gue mulai dingin pada awalnya, yang lalu telah berlalu. Tapi sikap Melody tidak berubah sama sekali, sama seperti saat gue dekat sama dia sebelum dia mempunyai pacar. Bedanya adalah dia selalu ngingetin gue buat jaga kesehatan, entah sadar atau tidak gue juga berpikir gara-gara itu gue udah lama gak merokok.

Lama gue berpikir sampai akhirnya gue membayangkan kalau Melody kembali mempunyai pacar, tiba-tiba gue merasa gak rela gitu. Mengetahui hal itu gue langsung berbicara dengan Ve.

“Ve, kayaknya gue emang sayang sama dia.”

Ve yang mendengar itu lalu tersenyum kearah gue dan memberi tanda Jempol.

“Kok pake “Kayaknya” sih Yon? Kayak gak yakin aje,” tanya Bayu kepada gue.

“Iya deh, gue sayang sama dia. Puas lo?” kata gue sambil menoleh kearahnya.

“Haha gitu dong,” kata Enu menepuk-nepuk punggung gue.

“Kalau gitu besok deh gue bakalan bilang sama dia,”

“Lah kenapa gak sekarang saja?” tanya Ve.

“Coba deh lu liat jam Ve, jam segini dia udah tidur,” ucap gue menyuruhnya.

Ve lalu melihat jam dinding dan menunjukan jam 11 malam. Dia lalu tertawa mengiyakan perkataan gue

“Kalau gitu Good Luck ya Dion buat besok,” kata Shani menyemangati gue sambil menepuk pundak gue.

“Makasih, eh lu berdua belum pulang? Jam 11 ini,” tanya gue kepada Shani dan Dhike.

“Malam ini kami ngingep dirumahnya Ve,” kata Dhike.

“Oh gitu, kalau gitu gue pulang dulu ya. Bay, Nu, cek dulu pintu belakang tuh, nanti lupa kayak kemarin,” kata gue memperingatkan sambil mengambil kunci motor yang ada dimeja kasir.

“Sante aje, yaudah hati-hati Yon,” ucap Enu.

Gue lalu berpamitan lagi kepada semuanya, setelah itu gue keluar kedai dan menuju motor. setelah gue menghidupkannya gue langsung saja meluncur untuk pulang.

[ S T O C K H O L M  S Y N D R O M E ]

Hari Sabtu, hari biasa dengan cuaca yang luar biasa. Karena lagi-lagi Matahari begitu menyengat menyinari gue, dan gue disini gak sendirian. Gue tadi dipanggil seorang cewek cantik dan mengajak gue kesini, dan cewek itu bukanlah Melody. Gue yang punya pengalaman buruk dibelakang kampus ini buru-buru bertanya.

“Maaf, kenapa ya ngajakin gue kesini?” tanya gue dengan sopan.

“Dion… Aku… Aku…,” gadis itu terlihat malu-malu melanjutkan ucapannya sehingga membuat gue sedikit tertawa.

“Kenapa? omongin saja,” pinta gue dengan sok akrab.

Gadis itu kembali memandang gue dan dia kembali menunduk setelah melihat wajah gue, sambil menggigit bibir bawahnya dia kembali berbicara.

“Dion… Aku…,” Gadis itu lalu mengambil nafas, kemudian dia berkata, “DION, AKU SUKA BANGET SAMA KAMU!” ucapnya lantang.

Gue kaget.

Gue terkesima.

Gue terpana.

Dan gue terdiam.

Gue merasakan Nostalgia, dulu gue pernah ditembak juga sama seseorang disini, tapi gak gue terima karena dia COWOK! Tapi sekarang berbeda, seorang gadis cantik dan seksi yang nembak gue.

Gue merasa menjadi Playboy kampus, karena sampai membuat cewek secantik ini klepek-klepek sama gue.

“Jadi Dion, kamu mau gak jadi pacar aku?” pintanya kepada gue.

“Hah? Pacar?” gue bertambah kaget dan merasa ganteng diminta menjadi pacar oleh cewek cantik.

“Iya, kamu mau gak jadi pacar aku?” pintanya lagi kepada gue dengan wajah memelas dan berjalan kearah gue.

Saat tuh cewek mendekat gue bisa melihat lekukan tubuhnya yang seksi abis, karena mubazir buat dihentikan gue biarin aje tuh cewek berjalan kearah gue. kapan lagi kan? Muehehehehehe.

Dan saat sudah dekat dia berbicara kepada gue.

“Jadi gimana Dion?” tanyanya lagi sambil menoleh kearah gue dan terlihat wajahnya menguatkan diri untuk memandang gue.

Gue lalu tersenyum kearahnya,

“Maaf gak bisa,” jawab gue.

Mendengar jawaban gue wajah cewek itu menjadi kecewa lalu dia kembali bertanya.

“Kenapa?”

Gue kemudian menghela nafas sambil menggaruk-garuk kepala gue.

“Maaf, gue udah punya cewek yang gue sukai,” jawab gue sejujurnya.

“Yaaaah,” dia lalu menunduk, terlihat jelas kalau dia kecewa dengan jawaban gue.

Gue lalu dengan JURUS-MENGAMBIL-KESEMPATAN langsung saja mengelus-elus kepalanya.

“Masih banyak cowok diluar sana, pasti ada yang lebih baik dari gue,” ucap gue sok bijak.

Cewek itu cuma mengangguk-anggukan kepalanya, dan gue tersenyum sambil terus mengusap-usap kepalanya.

“Sayang ya, padahal aku udah ubah semua loh badan aku,” ucapnya sambil menadahkan kepalanya kearah gue.

Gue yang heran dengan perkataannya langsung menyeringitkan dahi.

“Maksudnya?” gue bertanya.

“Ini aku, Dion. Yang dulu nembak kamu dan kamu buang di tong sampah dulu,”

Gue terdiam.

Gue terpana.

Gue terkesima.

Gue ayan.

Gue kejang-kejang.

Dan yang pasti, GUE SHOCK!

“Aaaaa..aaaaa,” gue mulai terbata-bata buat ngomong, dan elusan tangan gue mendadak kaku dikepalanya.

Tuh orang langsung mundur kebelakang dan menggeal-geolkan tubuhnya.

“Gimana? Seksi kan? Aku habis 100juta loh buat operasi, sekarang aku gak kalah cantik sama cewek asli, aku Shemale paling cantik dikampus ini” ucapnya puas kearah gue.

Gue memandangnya dengan wajah sengak.

“Liat bokong aku sekarang udah seksi loh,” ucapnya sambil membelakangi gue dan menggeal-geolkan pantatnya kearah gue.

Gue kemudian berlari kearah samping memutar kebelakang dan kembali berlari menghampirinya, dan saat jarak sudah dekat gue langsung saja loncat dan mengarahkan kaki gue ke pantatnya.

“MASIH HIDUP RUPANYA LO SETAN!!!!!” teriak gue penuh nafsu sambil menendang pantatnya.

Tuh orang langsung tersungkur, dan gue saat mendarat langsung saja gue gunakan hal tersebut untuk kabur.

“SIALAN LO DION! AWAS LO, NANTI GUE CARI COWOK YANG LEBIH GANTENG DARI LO!” teriaknya ke gue, dikira gue bakal cemburu apa?

“BODO AMAT!” teriak gue lagi kepadanya.

“GUE MINTA CERAI ! CERAI !” teriaknya lagi kepada gue.

Gue yang mendengar itu lalu berbalik arah menghampiri dia lagi yang masih dalam posisi tengkurep. Tanpa pikir panjang lagi gue langsung mengangkatnya dan memasukan dia lagi kedalam tong sampah besar yang ada dibelakang kampus dan langsung menutup penutupnya

“KAPAN GUE KAWIN SAMA LO???!!!” teriak gue sambil menendang tong sampah tersebut, bedenging-bedenging dah tuh telinga.

Setelah puas, gue langsung berjalan menjauhi tempat laknat ini. Bodo amat kalau dia ngelapor polisi.

-oOo-

Gue kembali berjalan menuju kelas tapi ditengah perjalanan gue melihat Melody sedang duduk dibangku taman kampus sendirian sambil membaca buku dan memakan snack kesukaannya. Melihat itu gue langsung saja menghampirinya.

“Sendirian Neng?” sapa gue.

“Eh Dion, sini-sini duduk,” ucapnya senang sambil mengambil tasnya dan menaruh kearah sebaliknya untuk tempat gue duduk.

“Baca apa?” tanya gue berbasa-basi.

“Novel hehe, kamu mau?” Melody menawarkan snack nya kepada gue.

Gue cuma mengangguk dan meraih tangan gue untuk mengambilnya, tapi snack nya malah ditarik menjauh. Gue jadi heran, tapi keheranan itu hilang saat dia mengambil salah satu snack dan mengarahkannya ke mulut gue

“Aaaaaaa,” ucapnya seolah-olah gue ini bayi yang mau disuapin makanan.

Gue liat kanan dan kiri, merasa perhatian orang fokus kearah lain gue lalu dengan cepat menerima suapan tersebut.

“Pinter hihi,” katanya dengan tertawa kecil.

“Hahaha bisa aje,” balas gue sambil mengacak-acak rambut bagian belakangnya.

Gue lalu bertanya perihal Novel yang dibacanya dan itu menjadi bahan pembicaraan kami berdua dengan mengomentari dan membanding-bandingkan dengan novel lain yang pernah gue baca.

Tiba-tiba gue teringat pembicaraan gue sama teman-teman gue dikedai, dan gue mulai memancingnya terlebih dahulu dengan pertanyaan.

“Imel,” gue mulai memanggilnya.

“Kok Imel sih? Kan biasanya Ody,” pintanya cemberut dengan nama panggilan yang sering gue panggil ke dia.

“Iye-iye, Ody,” gue iyain aje.

“Hehe kenapa Dion?”

“Itu menu Melodion, kok namanya kayak gabungan nama kita ya?” tanya gue mulai memancing.

“Eh.. i-itu,” Melody mulai kebingungan buat menjawab.

“Trus sausnya mirip ya sama gelang kita, item ijo hehe,” ucap gue sambil menunjukan gelang yang dia belikan kegue dan gue dekatkan ketangannya.

Gue semakin menjadi-menjadi bertanya dan Melody tidak bisa menjawabnya, terlihat pipinya merona merah saat gue menanyakan hal itu. gue tersenyum kecil dan menggenggam tangannya sehingga kedua gelang yang kami pakai bertemu. Melody yang mengetahui itu terlihat kaget dan melihat tangannya yang gue genggam.

“Ody, makasih ya udah selalu ngasi support dari dulu sampai sekarang,” kata gue untuk berterima kasih.

“Kok ngomongin itu?” tanya Melody

“Gak apa-apa, pengen berterima kasih saja.”

“Oh gitu,” hanya itu responenya, tapi dia terlihat tersenyum memandang tangannya yang gue genggam. Gue yang melihat itu jadi deg-deg an, antara mau copot atau ambruk aje nih jantung.

“Dan aku juga mau ngucapin sesuatu sama kamu.”

“Ucapin apa?” tanyanya yang terus menatap tangan kami berdua.

“Lihat sini dong,” pinta gue kepadanya, Melody lalu menoleh arah gue sejenak kemudian dia duduk dengan benar dan menatap gue.

“Ngucapin apa?” tanyanya lagi.

Gue yang menatapnya kembali tersenyum, dengan tangan yang terus menempel lalgu gue mulai berbicara.

“Aku sayang kamu.”

Melody terlihat sedikit membelalakan matanya seolah-olah terkejut dengan apa yang gue ucapkan, ya wajar sih.

“K-kamu sayang aku?” tanyanya.

“Iya, aku sayang kamu Ody,” gue menjawab dengan nama panggilanya yang sering gue panggil untuknya.

Mata Melody terlihat berkaca-kaca dan terisak.

“Kamu serius kan? Gak bohong?” tanyanya lagi seperti meminta kepastian dan nada suara yang terisak.

“Apa aku terlihat seperti bermain-main?” gue balik bertanya.

Melody yang mendengar itu lalu mendekat kearah gue, kemudian dia menutup mukanya dengan menempelkannya dipundak gue. Walau gue gak melihatnya tapi gue tau dia sedang menangis. Suaranya kedengaran gitu.

Lalu dengan tangan kanannya dia memukul-mukul dada gue dengan pelan

“Kamu jahat! Kamu tahu gak aku udah beberapa tahun nungguin kamu ngomong seperti itu,” ucapnya dengan suara menahan tangis agar tidak terdengar kencang.

Gue yang merasa bersalah membuat dia begini lalu memegang tangan kanannya yang terus menerus memukul dada gue  dan gue genggam pergelangannya.

“Maaf ya kalau udah buat kamu nunggu,” setelah berkata begitu gue menempelkan kepala gue dikepalanya yang terus menempel dipundak gue untuk menutupi dia yang sedang menangis.

Lama kami seperti itu hingga ada orang-orang yang lewat menggoda kami dengan cie-cie, gue hanya tersenyum saja dan merepa dengan cepat melupakan itu. sedangkan Melody sedikit demi sedikit sudah reda suara tangisnya yang sedari tadi ditahan agar tidak mengeluarkan suara.

“Ody juga sayang kamu Dion,” ucapnya.

“Iya, udah tau,”

Melody lalu melepaskan tangan kanannya yang gue genggam dan kembali memukul gue.

“Sok tau,” ucapnya.

“Iya deh iya, aku sok tau hehe,” balas gue sambil terkekeh.

“Mulai deh,” terdengar sedikit suara tawa yang dia keluarkan, gue yang mendengar itu lalu menggoyang-goyangkan pundak gue.

“Udah dong, ramai yang nengok tadi itu,” pinta gue kepadanya.

“Iya, bentar lagi.”

“Kok nangis?” tanya gue untuk menggodanya.

Suara tawanya kembali terdengar dan lagi-lagi dia memukul gue. untung mukulnya pelan, kalau keras gue udah bengek ini daritadi.

Tak lama kemudian dia kembali duduk seperti biasa dan berusaha menghapus sisa air matanya.

“Ciee nangis hehe,” gue lagi-lagi menggodanya.

Melody lalu menoleh kearah gue, dan tersenyum cemberut lalu dia menguatkan genggaman tangannya agar membuat tangan gue sakit, tapi karena tenaganya lemah gue malah gak merasakan apa-apa.

“Trus habis ini gimana?” tanya Melody.

“Apanya yang gimana?” gue balik bertanya.

“Ihh katanya tadi sayang sama aku,” ucapnya dengan menyandar kekursi dan menempelkan pundaknya ke pundak gue.

“Ya emang, terus apa lagi? Pacaran?”

Dia tidak menjawabnya tapi dia mulai memiringkan kepalanya dan menaruh kepundak gue.

“Ody,”

“Ya?”

“Kamu walau tanpa pacaran dengan aku udah bahagia gak kemarin-kemarin?”

“Iya, soalnya kalau sama kamu Ody merasa nyaman, aman, tenang.”

“Tenang dibagian mana? Perasaan aku ini orangnya cerewet,” tanya gue kepadanya. .

“Ya itu, kalau kamu gak cerewet Ody gak merasa tenang hehe,” jawabnya sambil tertawa.

“Haha iya juga sih. Oh iya Ody, kalau kita begini terus tanpa pacaran kamu mau gak?” tanya gue kepadanya.

“Maksudnya?”

“Gini, aku walau dari dulu gak pacaran sama kamu tapi udah merasa nyaman begini. Makanya tadi aku nanya kamu tentang hal yang tadi.”

“Hmm gitu.”

“Tapi aku udah bilang sayang sama kamu, jadi kamu tadi udah tahukan perasaan aku ke kamu ini seperti apa. Jadi ya itu, tanpa embel-embel pacaran pun aku udah nyaman kok sama kamu.”

“Iya, Ody juga merasa gitu Dion, apalagi tadi udah tau kalau perasaan kita sama saling sayang gitu,”

“Jadi gak apa-apa ya kalau kita gak pacaran?” tanya gue lagi kepadanya.

“Tergantung, kalo kamu genit ke cewek lain siap-siap aja perasaan Ody berubah kekamu.”

“Iya, karena tadi aku berpikir daripada pacaran kenapa gak langsung nikah aje.”

Melody lalu terhenyak mendengar perkataan gue, lalu dia duduk dan menghadap ke gue.

“Nikah?”

“Ya, Nikah. Ya kalau kamu mau sih, kalau kamu mau aku secepatnya ngelamar kamu minggu depan. Lagipula aku udah ada pekerjaan.”

“Kamu serius kan?”

“Bukan, aku Dion bukan serius. Ya iyalah serius.”

Melody yang mendengar ucapan gue barusan lalu tersenyum dan langsung memeluk gue. Dan gue? pengen mimisan.

“Iya mau!” jawabnya antusias.

“Oke kalau gitu minggu depan aku..”

“Eh tapi tunggu,” ucapnya yang tiba-tiba melepas pelukannya dan memotong pembicaraan gue.

“Kenapa?”

“Kita kan bentar lagi lulus kuliah, gimana kalau nikahnya sehabis lulus? Sayang loh cuti kuliah nanti buat nikah.”

“Bener juga sih… yaudah deh boleh, sekalian PDKT sama orang tua kamu hehe kan masih ada waktu.”

“Ahahaha gaul amat sih, orang tua pun pake istilah PDKT,”

“Gak apalah hehe, jadi ayah kamu ini suka martabak manis atau martabak telur?” tanya gue dengan maksud membawa makanan kepada orang tuanya setiap gue datang kerumahnya.

“Pizza hihi, tapi janji ya habis lulus nanti kamu ngelamar aku?”

“Iya janji,”

“Dan awas kalo kamu genit sama cewek lain,” ucapnya dengan wajah sok mengancam.

“Iya, nanti aku usahakan selingkuhnya gak bakal ketahuan hehe.”

Melody kembali tertawa mendengar candaan gue barusan. Dan memukul-mukul gue. Dan gue teringat dengan menu Melodion yang akan kembali disajikan dikedai pada malam minggu hari ini.

Buat yang mau tau Melodion itu berupa kue manis dengan krim coklat didalamnya. Lalu terjun keladang gandum dan jadilah Koko Krunch.

Gue bercanda.

Tapi yang jelas kue yang rasanya manis itu semanis malam minggue gue hari ini. Gue gak tau bakalan gimana jadinya nanti setelah gue menikah dengan Melody, tapi berkat kedai yang gue bangun bersama teman-teman gue dulu. Gue bisa menarik kesimpulan.

Tak ada yang sia-sia dalam namanya usaha.

Dan gue berjanji pada gue sekarang untuk tidak menyia-nyiakan perhatian Melody kepada gue, dan gue akan terus berusaha agar rasa manis tadi tidaklah menjadi hambar.

[ S T O C K H O L M  S Y N D R O M E ]

 [ T A M A T ]

Writter : Dion (http://melodion.xyz)

Twitter : @LupaHari

Facebook : tanyakan lewat Twitter.

Line : tanyakan lewat Facebook.

Email : tanyakan lewat Line.

Cerpen Lainnya : karyaotakgue.com/2016/06/13/plain-vanilla/

Catatan Kecil :

Awalnya cerita ini mau diikut sertakan ke event, tapi karena cerita gue ini begitu klise maka niat itu tersebut urungin. Semangat buat yang mengikuti Event Fanfict dari @KedaiFanfict \m/

Kenapa nama tokohnya sama kayak B.A ? itu karena…….. gue malas mikir buat tokoh baru. Makanya gue sebut Paralel Universe B.A (Pandai amat alibinya ya)

Iklan

12 tanggapan untuk “Stockholm Syndrome

  1. plain vanilla tentang rumah ,stockholm syndrome tentang cafe. 2 judul lagu yg dibikin jadi cerpen,mantap lah bang kapan2 bikin cerpen pake judul lagu muse – starlight dong :3

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s