Vepanda part 15

Drrrtt… drrrtt…

Rezza langsung mengambil smartphone yang ada disaku celananya.

“Kamu dimana? Kakak tungguin di gerbang depan kok nggak ada?” isi pesan yang dikirim Melody.

“Sekarang kakak dimana?” balas Rezza.

“Kakak udah dianterin pulang sama Naomi, dia juga nunggu Sinka tapi kelamaan jadinya dia nganterin kakak pulang.”

“Kamvret,” ucap Rezza lalu memasukkan kembali smartphone-nya.

“Kenapa?” Sinka menatap heran Rezza.

“Gapapa, yuk pulang,” Rezza menarik tangan Sinka menuju motornya.

“Ehh?” Sinka terkejut saat Rezza tiba-tiba menarik tangannya.

“Nih pake,” suruh Rezza memberikan helmnya kepada Sinka.

Sinka meraih helm itu, memakainya dan langsung pulang membonceng Rezza.

Selama perjalanan Rezza tidak banyak bicara, ia hanya menjawab semua pertanyaan Sinka yang terus menerus dilontarkan kepadanya.

Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di rumah Rezza.

“Kok malah ke rumah kamu?” tanya Sinka sambil turun dari motor Rezza.

“Lu nggak liat itu mobil siapa?” Rezza menunjuk sebuah mobil yang terparkir di depan garasi.

“Itu kan mobilnya kak Naomi,” batin Sinka.

“Ngapain lu malah bengong?” tanya Rezza menatap Sinka heran.

“Eh? nggak, gapapa kok,” jawab Sinka.

Tanpa bicara apa-apa, Rezza langsung menarik tangan Sinka.

“Kamu tadi kemana aja? Kakak nungguin kamu lama banget di gerbang depan!” Melody langsung nerocos saat Rezza dan Sinka masuk ke dalam rumah.

“Aku nungguin kakak di pakiran,” Rezza berhenti di depan Melody dan Naomi yang sedang duduk disofa.

“Kamu juga sin, kamu tadi kemana? Kakak telfon juga nggak diangkat,” tanya Naomi sedikit kesal.

“Aku di parkiran sama Rezza,” jawab Sinka dengan polosnya.

“Ngapain kamu di parkiran? Emang bawa motor?” tanya Naomi mengangkat alisnya sebelah.

“Aku mau ngembaliin baju kak Melody yang kemaren aku bawa,” jawab Sinka lebih polos dari yang tadi.

“Yaelah sin, dikembaliin besok ato dirumah aja kan bisa,” ucap Melody.

“Gapapa kak, sekalian nemenin Rezza nunggu kak Melody di parkiran,” ucap Sinka tersenyum.

“Hah?!” Rezza menatap Sinka dengan tatapan aneh(?).

“Ciee…,” ucap Melody dan Naomi bersamaan sambil tersenyum nakal.

“Apaan sih!” ucap Rezza kesal menatap Naomi dan Melody.

“Kapan jadiannya?” goda Melody.

“Iya kapan jadiannya?” tanya Naomi dengan raut wajah yang lebih menggoda dari Melody.

“Apaan sih! Siapa juga yang jadian,” jawab Rezza dan Sinka bersamaan.

“Ciee… jawabnya barengan, hahaha…,” ucap Naomi lalu tertawa.

“Kakak!!” teriak Sinka sambil menatap tajam ke arah Naomi.

“Males,” ucap Rezza memalingkan wajahnya.

“Males tapi tangannya gandengan terus, ckckck…,” ucap Melody tertawa kecil.

Mendengar perkataan Melody, Rezza pun langsung melepaskan genggamannya pada tangan Sinka.

“Hahaha…,” Naomi dan Melody hanya tertawa melihat tingkah adik mereka.

“Udah ah, aku mau makan,” ucap Rezza lalu pergi.

“Ciee… ngambek, haha…,” goda Melody lalu tertawa.

“Jangan digituin kak, ntar tambah ngambek,” ucap Sinka setelah duduk disofa.

“Ciee… yang belain, hahaha…,” goda Naomi tertawa.

“Kakak!” teriak Sinka kesal.

“Apa Sinka sayang?” tanya Naomi dengan senyum yang jahil (?).

“Sekali lagi kakak ngejek aku, aku tonjok ntar!” ancam Sinka menatap Naomi dengan tajam.

“Coba aja kalo berani, wleeekk,” Naomi menjulurkan lidahnya.

“Udah mi, kasian Sinka, udah merah gitu mukanya, haha…,” ucap Melody tertawa.

“Iya-iya, udah tembem, merah gitu, kaya tomat jadinya, hahaha…,” ucap Naomi tertawa jahat.

“Ledekin aja terus, huh!!” ucap Sinka lalu memalingkan wajahnya.

“Ciee… ngambek, hahaha…,” Naomi dan Melody tertawa.

~oOo~

Setelah meletakkan smartphone-nya ke atas meja, Rezza merebahkan dirinya ke atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya. Namun belum ada dua menit Rezza menutup matanya, Melody sudah memanggilnya dari lantai bawah.

“ZAAA!!” teriak Melody.

“Ganggu aja sih!” ucap Rezza kesal lalu bangun dari tempat tidurnya dan pergi keluar kamar.

“Apaan sih tereak-tereak?!” tanya Rezza berhenti di depan kamarnya.

“Turun dulu sini,” ucap Melody menyuruh Rezza turun ke lantai bawah.

Dengan malas, Rezza pun turun ke bawah menghampiri Melody yang sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan Sinka dan Naomi.

“Apa?” tanya Rezza setelah sampai di depan Melody.

“Nanti malem kakak mau keluar sama Naomi, kamu di rumah jagain Sinka,” ucap Melody.

“Kenapa nggak ikut sih?!” tanya Rezza kesal.

“Sinka gamau, katanya tadi ada PR, dia mau ngerjain PR aja,” jawab Melody.

“Kenapa nggak kerjain di rumah? Kenapa harus disini?” tanya Rezza.

“Di rumah nggak ada orang, Sinka takut kalo sendirian di rumah,” jawab Naomi.

“Cih alesan,” ucap Rezza memalingkan wajahnya.

“Biar kamu juga sekali-kali ngerjain PR za, nggak main ter-” ucap Melody.

“Bla bla bla, terserah kakak deh, asal ntar pulangnya jangan lupa beliin makanan,” potong Rezza sambil berjalan kembali ke kamarnya.

“Kamu yakin sin mau disini ntar malem?” tanya Melody menoleh ke arah Sinka.

“Iya kak, aku yakin,” jawab Sinka tersenyum.

“Kamu gapapa Rezza kaya gitu?” tanya Naomi menatap Sinka yang duduk di sebelahnya.

“Gapapa, udah biasa dia kaya gitu sama aku,” jawab Sinka juga tersenyum.

“Beneran gapapa?” tanya Melody.

“Iya kak, gapapa,” jawab Sinka.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6:30, Naomi dan Sinka sudah kembali berada di rumah Melody. Naomi tidak masuk ke dalam rumah Melody, ia langsung pergi bersama Melody. Setelah Naomi dan Melody pergi, Sinka pun masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, ia mendengar seseorang sedang menonton TV. Sinka pun berjalan ke arah ruang keluarga sambil membawa tas dipunggungnya.

“Kamu nggak ngerjain PR?” tanya Sinka menghampiri Rezza yang sedang duduk disofa menonton TV.

“Males,” jawab Rezza tanpa menoleh ke arah Sinka.

“Kamu udah makan?” tanya Sinka duduk di sebelah Rezza.

“Belom, lu mau buatin?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka.

“Nggak deh, aku gabisa masak, hehe…,” jawab Sinka cengengesan.

“Cewek gabisa masak, ckck…,” ucap Rezza kembali menoleh ke arah TV.

“Aku emang gabisa masak, tapi aku lagi proses belajar masak sama mama,” ucap Sinka ikut menonton TV.

“Nggak nanya,” ucap Rezza dengan wajah datar.

“Ihhh! Nyebelin!” ucap Sinka kesal sambil memukul pundak Rezza.

“Apaan sih?” tanya Rezza menatap heran ke arah Sinka.

“Wleeekk,” Sinka hanya menjulurkan lidahnya ke arah Rezza.

“Cewek aneh,” ucap Rezza lalu kembali menonton TV.

“Bodo!” ucap Sinka juga ikut menonton TV.

30 menit sudah mereka menonton TV tanpa saling bicara, hanya kadang tawa yang keluar dari mulut mereka karena acara lucu yang mereka tonton.

“Kenapa lu malah ikutan nonton TV? Bukannya lu disini mau ngerjain PR?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka.

“Oiya aku lupa, abis acaranya seru sih, hehe…,” jawab Sinka cengengesan lalu melepaskan tas yang dari tadi menempel dipunggungnya.

Kemudian Rezza mematikan TV-nya dan berdiri dari sofa.

“Kamu mau kemana?” tanya Sinka menatap Rezza.

“Kamar,” jawab Rezza tanapa menoleh ka arah Sinka.

“Ngapain?” tanya Sinka dengan polosnya.

“Sholat,” jawab Rezza.

“Aku ikut ya,” ucap Sinka berdiri dari sofa.

“Hmm…,” Rezza hanya bergumam dan berjalan ke kamarnya.

Sinka mengikuti Rezza sampai ke kamarnya.

“Lu ngapain?” tanya Rezza saat masuk ke kamarnya dan mengetahui Sinka berada dibelakangnya.

“Kan mau ikut kamu sholat,” jawab Sinka dengan wajah polos.

“Ya lu ambil mukena dulu lah sana ke kamar kak Melody,” suruh Rezza.

Tanpa berkata apa-apa, Sinka langsung menuju kamar Melody untuk mengambil mukena dan kembali lagi ke kamar Rezza.

“Ngapain lagi kesini?” tanya Rezza saat melihat Sinka masuk lagi ke kamarnya.

“Sholat bareng kamu,” jawab Sinka berhenti di depan pintu kamar Rezza.

“Ya nggak disini juga kali sholatnya,” ucap Rezza berjalan ke arah Sinka sambil membawa sarung ditangannya.

“Terus dimana?” tanya Sinka saat Rezza melewatinya.

“Dibawah,” jawab Rezza tanpa menoleh.

Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah berada diruang makan.

“Lu mau makan apa?” tanya Rezza menatap Sinka yang duduk didepannya.

“Apa aja deh yang ada dikulkas,” jawab Sinka tersenyum.

“Kulkas?” tanya Rezza berdiri dan berjalan ke arah kulkas.

“Iya,” jawab Sinka.

“Lu mau makan sayur mentah apa daging mentah?” tanya Rezza setelah melihat isi kulkas.

“Kok mentah?” tanya Sinka mengernyitkan dahinya.

“Ya kan tadi lu bilang mau makan apa aja yang ada dikulkas,” jawab Rezza kembali ke meja makan dengan mebawa daging dan sayur mentah.

“Yaudah sini aku masakin dulu,” ucap Sinka merebut daging dan sayur yang ada ditangan Rezza saat Rezza hendak meletakkannya ke atas meja makan.

“Emang lu tau mau masak apaan pake bahan itu?” tanya Rezza menatap Sinka heran.

“Enggak, hehe…,” jawab Sinka cengengesan.

“Alig…,” ucap Rezza perlahan.

“Apa?” tanya Sinka mendekatkan wajahnya.

“Nggak gapapa, sini gue aja yang masak,” jawab Rezza lalu merebut kembali daging dan sayur yang dipegang Sinka.

“Eh?!” Sinka kaget saat Rezza merebut daging dan sayur dari tangannya.

“Emang kamu bisa masak?” tanya Sinka saat Rezza berjalan ke arah dapur.

“Bisa lah, emangnya elu,” jawab Rezza dengan nada mengejek.

“Aku bantuin ya,” ucap Sinka menyusul Rezza ke dapur.

“Ngapain?” tanya Rezza saat Sinka tiba di sebelahnya.

“Mau bantuin kamu,” jawab Sinka tersenyum.

“Gausah! Biar gue aja yang masak,” ucap Rezza merebut sayur yang hendak dipotong oleh Sinka.

“Tapi kan aku pengen bantu,” ucap Sinka dengan wajah memelas.

“Gausah, lu kerjain PR aja sana!” suruh Rezza.

“Nggak, aku mau bantuin kamu disini,” jawab Sinka merebut kembali sayur tadi.

“Yaudahlah terserah lu,” ucap Rezza kembali membersihkan daging dengan air.

Saat Rezza terlihat sedang membersihkan daging, Sinka malah terlihat sedang bingung dengan sayur ditangannya.

“Ini gimana motongnya?” tanya Sinka dalam hati.

“Lu gatau caranya motong sayur?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka.

“Eh, t-tau kok, tau,” jawab Sinka lalu mulai memotong-motong sayur asal-asalan.

“Huuufft…,” Rezza menghembuskan nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Rezza mulai memotong-motong daging yang tadi dicucinya menjadi kotak-kotak kecil. Beberapa menit kemudian Sinka menyerahkan sayur yang tadi dipotongnya kepada Rezza.

“Nih kamu cuci dulu,” suruh Sinka menyerahkan satu mangkuk besar berisi sayuran.

“Kayaknya emang mendingan lu belajar aja deh,” ucap Rezza menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa?” tanya Sinka heran.

“Mana ada orang nyuci sayur yang udah dipotong, kalo mau dicuci itu harusnya tadi sebelom dipotong bego,” jawab Rezza menoleh ka arah Sinka dengan wajah datar.

“Ohh gitu ya…,” ucap Sinka mengangguk paham.

“Udah deh lu kerjain PR aja sana!” suruh Rezza sedikit mendorong Sinka.

“Ihhhh! Kamu kenapa sih?! Kan aku pengen bantuin kamu,” ucap Sinka kesal.

“Bantuin apaan? Motong sayurnya aja salah, kegedean, udah gitu lu potong semua sayurnya.”

“Ngomong dong kalo kegedean motongnya, yaudah sini aku potongin lagi sayurnya!”

Kemudian Sinka kembali memotong sayur tadi dengan ukuran yang pas.

Satu jam sudah berlalu, mereka berdua sudah selesai memakan nasi goreng buatan Rezza. Kini mereka hanya duduk dimeja makan tanpa saling bicara. Rezza membaca komik sedangkan Sinka sedang mengerjakan PR disebelah Rezza.

“Mau kemana?” tanya Sinka saat Rezza tiba-tiba berdiri.

“Ke kamar ngambil gitar,” jawab Rezza lalu berjalan ke kamarnya mengambil gitar dan kembali ke meja makan.

Rezza kembali duduk disebelah Sinka dengan gitarnya, ia mulai memainkan gitarnya itu. Terdengar suara lantunan nada yang berraturan keluar dari gitar Rezza saat Rezza memainkannya. Entah apa yang sedang Rezza pikirkan, disaat seperti itu ia malah menyanyikan lagu yang dicover Mike Mohede – Sahabat Jadi Cinta.

 

Bulan terhampar di pelataran

Hati yang temaram

Matamu juga ma mataku

Ada hasrat yang mungkin terlarang

 

Satu kata yang sulit terucap

Hingga batinku tersiksa

Tuhan tolong aku jelaskanlah

Perasaanku berubah jadi cinta

 

Tak bisa hatiku menafukkan cinta

Karna cinta tersirat bukan tersurat

Meski bibirku terus berkata tidak

Mataku trus pancarkan sinarnya

 

Kudapati diri makin tersesat

Saat kita bersama

Desah nafas yang tak bisa dusta

Persahabat berubah jadi cinta

 

Tak bisa hatiku menafukkan cinta

Karna cinta tersirat bukan tersurat

Meski bibirku terus berkata tidak

Mataku trus pancarkan sinarnya

 

Apa yang kita kini tengah rasakan

Mengapa tak kita coba tuk satukan

Mungkin cobaan untuk perhabatan

Atau mungkin sebuah takdir tuhan

 

Setelah selesai menyanyikan lagu, Rezza meletakkan gitarnya ke atas meja makan.

“Lu kerjain PR apaan sih?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka.

“Lahh buset nih anak malah tidur,” ucap Rezza saat melihat Sinka tidur dipundaknya.

“Tapi kok gue nggak ngerasa apa-apa pas nih anak nyender dipundak gue?” tanya Rezza dalam hati.

“Apa jangan-jangan gue mati rasa?” pikir Rezza.

“Sinka kamu apain za?” tanya Melody yang tiba-tiba sudah berada didalam rumah bersama Naomi disebelahnya.

“Sinka!” teriak Naomi lalu berlari ke arah Sinka.

“Eh kak, jangan dibangunin kak, dia baru aja tidur, kasian kalo dibangunin,” ucap Rezza mengisyaratkan Naomi untuk berhenti mendekat.

“Fyuhh, untung cuma tidur,” ucap Naomi dan Melody bersamaan.

“Iya, dia cuma tidur,” ucap Rezza.

Kemudian Melody dan Naomi berjalan biasa ke meja makan menghampiri Rezza.

“Kenapa Sinka bisa tidur dipundak kamu?” tanya Naomi setelah duduk didepan Rezza.

“Gatau, tadi dia lagi kerjain PR terus aku nyanyi sambil main gitar, eh pas aku selesai nyanyi dia udah tidur,” jawab Rezza.

“Yaudah Sinka bawa ke kamar kamu aja sana,” suruh Melody yang duduk disebelah Naomi.

“Kok kamar aku? Kenapa nggak kamar kakak aja,” tanya Rezza heran.

“Kalo dikamar aku, terus Naomi tidur dimana?” tanya Melody.

“Oiya lupa kalo ada kak Naomi, hehe…,” jawab Rezza nyengir kuda.

“Yaudah cepetan sana angkat Sinka,” suruh Melody.

“Eh tunggu dulu, kalo nih anak tidur di kamar aku, terus aku tidur dimana?” tanya Rezza.

“Kamu tidur dikamar aja, aku percaya kamu nggak bakalan apa-apain Sinka,” jawab Naomi tersenyum.

Kemudian dengan malas yang menggebu-gebu, Rezza mengangkat Sinka ke kamarnya.

Setelah sampai dikamarnya, Rezza meletakkan Sinka ke atas kasur dan menyelimutinya dengan semua sempak kotornya. Oke gue becanda soal sempak itu.

Setelah menyelimuti Sinka dengan selimut, rezza menutup pintu kamarnya dari luar dan berjalan menuju ruang keluarga untuk menonton TV.

“Kamu udah makan?” tanya Melody menghampiri Rezza.

“Udah tadi bikin nasi goreng,” jawab Rezza tanpa menoleh.

“Yaudah itu makanannya ntar kamu masukin ke kulkas ya, kakak mau tidur,” ucap Melody lalu berjalan ke kamarnya.

“Kak Naomi mana kak?” tanya Rezza.

“Lagi ngambil belanjaan dimobil,” jawab Melody sebelum masuk ke kamarnya.

Setelah Melody masuk ke kamarnya, Rezza kembali menonton TV sendirian. beberapa menit kemudian Naomi berjalan melewatinya membawa beberapa tas belanjaan.

“Mau aku bantuin kak?” tawar Rezza saat Naomi berjalan didepannya.

“Gausah, masih bisa bawa sendiri kok,” jawab Naomi berhenti didepan Rezza lalu kembali berjalan ke kamar Melody.

Sudah dua jam sejak Naomi lewat didepan Rezza, namun Rezza masih tetap menonton TV.

“AAAHHHH!!!” terdengar teriakan Sinka dari kamar Rezza.

Dengan cepat Rezza berlari ke kamarnya.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

 

Note: Rest In Peace Mike Mohede yang udah jadi inspirasi gue dalam nulis part ini. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Tuhan YME dan masuk surga, amin.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Vepanda part 15

  1. mari kita hitung ada berapa kata “ciee” di part ini :v btw tumben ga ada makanan yg aneh ,adegan nyeleneh atau imajinasi liar di part ini :v author nya lagi waras kali yak?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s