Roulette Love Part 12

 

Tepuk tangan penonton bergema..

Pertunjukkan dari L.A juga Tejege tidak kalah menarik daripada Red Camisa juga Bonita tadi.

Nobi sendiri mulai cemas akan hasil akhir dari juri nanti.

Tidak salah Nobi cemas, karena dari pihak LA memang samgat baik memerankan peranannya.

Beberapa menit setelah para penonton bubar, juri terakhirpun meninggalkan tempat setelah memberikan hasilnya kepada Della sang MC kondang.

Kedua kelompok dipersilahkan untuk duduk di kursi theater.

Della keluar sambil menenteng amplop biru yang berisikan hasil pemenang.

“Halooo~” ujar Della.

“Hallo Deel~” sapa semuanya.

Semuanya tampak kelelahan setelah pertunjukkan tadi, terutama Tejege dan LA yang memang baru saja selesai beberapa menit lalu.

“Hasilnya ada di sini lho,” ujar Della sambil mengibaskan amplopnya.

“Iyee tau Del, buru aaah,” ujar Nat.

“Duuh nyonya kaga sabaran,”

Della membuka amplop itu dengan perlahan.

“Daan yang menang adalah…”

Semuanya menyimak dengan seksama. Peluh mereka menetes dari pelipis. Tegang. Gugup. Penasaran.

Setitik peluh pun menetes dari pelipis Keynal.

“Tiiiim…”

Della yang sudah membaca isi amplop itu melotot saat mengetahui hasilnya.

“Tiiim 1!” teriak Della.

Mata Keynal dan Melody membulat tidak percaya.

“Yeaaaaaah!!!!” teriak Keynal berbarengan dengan semuanya.

Bonita pun saling berpelukan satu sama lainnya.

“Untuk urutan timnya..

Bonita menduduki peringkat pertama.
Kedua Red Camisa.
Ketiga Tejege
Dan terakhir L.A

Selamat untuk Bonita yang memenangkan perlombaan tahun ini!!!”

Ucapan Della menggema mengisi ruangan theater.

Bonita sekali lagi berteriak melolongkan euforianya.

“Yeaaay!! Juara bertahaaan!” teriak Shania.

“Iya syukurlaah,” Veranda mengangguk ia menghapus jejak air matanya yang sempat mengalir karena terharu.

“Yeaay yeay yeaay!” Ayana menggoyangkan pinggulnya saking senangnya.

Tapi…

..

.

Tidak ada suara dari Red Camisa. Mereka menunduk.

“Wah parah lu pada menang bukannya seneng malah nunduk, kan yang penting juara dua juga lumayan,” ujar Jeje sambil menepuk pundak Keynal.

Keynal menatap Jeje kemudian tersenyum miris.

Melody yang melihat itu menghampiri Keynal.

“Key kenap..”

Prok..prok..prok..

“Selamat untuk Bonita,”

“Pak rektor,” ujar Gaby dan yang lainnya tidak percaya.

“Red Camisa ingat dengan perjanjian kalian, sebagai sekumpulan laki-laki, dan laki-laki tidak pernah mengingkari janji,” ujar sang rektor dingin.

“Selamat tinggal,”

“Lho? Ma.maksudnya?” Melody menatap Bapak Rektor yang mulai menghilang dibalik pintu.

“Ada apaan dah Key?” tanya Della.

“I.itu..”

“Key? Ada apa? Apa yang kalian perjanjikan?” tanya Melody.

“Hh..” Keynal menghela nafas.

Ia menoleh ke arah Nobi.

Nobi menatap balik Keynal. Menunggu apa yang akan ia katakan.

“Perjanjiannya kalau Red Camisa tidak bisa menjadi juara satu kami akan keluar dari kampus ini,” ujar Keynal dalam satu tarikan nafas.

..

.

“WHAAT!!!?”

Semuanya terkejut.

..

.

~

“Huaa seriusaan? Kok kamu nggak bilang ke akuu!?” ujar Nadse sambil memukuli pundak Okta.

“Aw.aw.. Iya iya maaf.. Aku nggak bermaksud berbohong,” ujar Okta sambil menahan tangan Nadse.

Kemudian Nadse menangis sejadinya sambil memeluk Okta.

“Buset lebay banget,” ujar Mario sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku yakin nggak cuma itu alasannya kan?” tanya Veranda.

Keynal menatap Ve.

“Cuma itu Jessica Veranda, biasalah cowo. Kita kan suka tantangan ya nggak?” ujar Keynal.

Plak!

Melody menampar Keynal.

Mendadak hening.

Nadse pun langsung diam tidak lagi menangis.

“Bodoh,” ujar Melody pelan. Kemudian melangkah menjauhi Keynal. Keluar dari ruang theater.

“Hh.. Gue juga kaga tau apa yang ada di dalam pikiran lo sih Key, tapi… Gue berharap lo nggak dikeluarin, lo kan temen main basket gue di sini,” ujar Jeje.

“Iya Je, thanks ya..” ujar Keynal.

“Yaudah gue ama tim gue balik duluan ya,”

Keynal mengangguk.

Kini Naomi yang mendekati mereka. Keynal lebih tepatnya.

“Aku pikir kamu nggak sebodoh ini Key,” ujar Naomi.

Keynal hanya tersenyum pahit.

“Nadse ayo,” ujar Naomi.

“Nanti ke rumah aku ya,” ujar Nadse.

Okta mengangguk sambil menghapus jejak air mata Nadse.

“Kita duluan Key,” ujar Veranda.

Yang lainnya pun mengikuti Veranda keluar dari ruang theater.

“Sob.. Kalo emang ini yang terbaik. Jangan lupain gue ya sob!” ujar Della.

“Haha, iya pasti Del,” ujar Keynal.

Setelah semuanya pergi, Keynal menatap mereka satu persatu, Maul.. Nino.. Mario.. Okta.. Andrew.. Boby.. Farish.. Nobi.. Nabil..

“Ng…”

Keynal bergumam.

“Kita mau di sini terus?” tanya Keynal.

“Hh iya juga, yaudah yuk ah,”

Boby mengambil tas ranselnya. Diikuti dengan yang lainnya juga.

“Yaudah gue cabut duluan ya,”

“Kita kaga makan-makan dulu nih?” tanya Nabil.

“Ngg.. Kayaknya skip dulu deh, gue mau coba bilang ke bokap nyokap dulu,” ujar Mario.

“Gue juga kayaknya,” sambung Nino.

Dan akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.

~

Di rumah Keynal.

“Apa yang ada di pikiran kamu sih Key!?” bentak Melody.

Keynal hanya bisa menunduk tidak berani menatap Melody.

“Papah sama Mamah nanti gimana!?”

“Yaa.. Nanti Key yang ngomong kak..”

Melody menggelengkan kepalanya.

“Sekarang tolong… Tolong banget, jelasin apa yang menjadi alasan sebenernya, kakak tau, kam nggak akan sebodoh itu untuk menerima perjanjian nggak berguna macam itu,”

Keynal menghela nafas entah untuk keberapa kalinya.

~

Di kediaman Azarel.

“Rrr.. Kalian mau jadi apa hah!? Terutama kamu Farish! Kamu udah semester berapa sekarang!? Kamu mau ngulang gitu aja hah!?” bentak Azarel.

Farish dan Nabil saling melirik.

“Susah payah Papah menyekelolahkan kalian, terus kalian buang begini aja? Hah!?”

“Ta.tapi Pah,”

“Diam!”

Nabil tutup mulut.

~

Tidak jauh beda dengan kondisi Nabil, Farish, dan juga Keynal. Anggota lainnya juga bernasib sama, dimarahi, diceramahi, dan… Begitulah.

Esoknya, di Cafe TWM.

Red camisa berkumpul.

“Maaf ya gara-gara gue,” ujar Nobi.

Semuanya masih diam. Entah mereka harus merespon apa.

“Yaa.. Gue sih yakin, lo bakal ngelakuin hal yang sama kalo jadi gue, ya kan?” tanya Maul.

“Iyalah, lo kan sohib gue Ul, mana bisa gue liat lo susah sendirian,” ujar Nobi mantap.

“Haah… Yaaudahlah, udah kejadian juga, mau balik lagi juga gimana,” ujar Boby.

“Iya bener. Tapi betewe, Keynal mana dah? Tumben telat tuh bocah,” ujar Farish.

Yang lainnya hanya mengangkat bahu tidak tahu.

“Lo gimana Ta?” tanya Andrew.

“Yaa untungnya Bokap Nyokap gue nggak ambil pusing sih, gue di suruh kuliah lagi, tapi kayaknya nanti pindah nggak di Vierzig,” ujar Okta.

“Hoo..” Andrew manggut-manggut.

“Lu berdua mah enak masih bisa ngulang,” ujar Maul.

“Lha? Kita juga bisa kali Ul,” ujar Boby.

“Emang iya?”

Boby mengangguk.

“Nyokap gue punya kenalan di salah satu univ, dia bisa bantuin gue untuk masuk, tapi palingan jadi semester tengah dulu, nggak sama kaya semester kita sekarang,”

“Lha enak? Yaudah di situ aja lha,” ujar Maul.

“Iya, apalagi…” Boby tersenyum penuh arti.

“Kita ketemu dedek dedek gemes kan?” celetuk Mario.

“Naah itu.. Itu.. Hahaha,” Boby tertawa lepas.

“Wah parah lu, Sinka gimana?” tanya Nabil.

Boby nyengir, “Canda kok Bang Nabil, duuh iya gue bakal jagain Sinka kook,” ujar Boby.

“Heleuuh.. Sinka gimana Bob?” tanya Nabil.

“Nggak jauh beda responnya sama Kak Mel,” ujar Boby.

“Sakit ya?” tanya Nino.

“Yaa lumayan,” ujar Boby sambil mengelus pipinya.

“Haha sukurin lu,” ujar Maul.

“Heh sial, lo sendiri gimana sama Ibu Ketua? Udah jadian belum?” cerocos Boby.

“Ibu ketua?” tanya Maul sok bego.

“Halaaah nggak usah ngeles, gue tau lo suka sama Kak Mel, ya kaan?”

“Eh? Ka.kaga kata siapa??” tanya Maul gelagapan.

“Lho? Maul bisa serius jatuh cinta juga? Gue pikir kaga ngefeel sama perempuan?” celetuk Nobi yang sedari tadi diam.

“Heeeh kampret! Gue masih normal tau,”

“Hahaha, serem juga haha,” ujar Andrew.

Maul bersunggut.

“Buset rame banget, ampe kedengeran ke bawah,” ujar Keynal.

Semuanya menoleh kepada sang ketua yang baru saja datang, tapi ia tidak sendiri. Ya.. Bersama Melody.

“Hai,” sapa Melody kalem.

“Hai Kak,” sapa semuanya kecuali Maul yang makin gelagapan.

“Di sapa tuh, yee diem aja,” senggol Nobi yang duduk di sebelah Maul.

“Eh. I.iya Hai juga,”

“Eh sumpah! Gue baru ngeliat Kak Maul gelagapan, biasanya jaaaim! Banget!” ujar Nino.

Melody hanya tersenyum menanggapinya. Ia menatap ke arah Maul. Yang ditatap malah nunduk nggak keruan.

“Oke, sorry nih gue telat, tapi gue kaga telat dengan percuma juga kok,” ujar Keynal.

“Maksud lo Key?”

“Jadi gini.. Sebelumnya..” Keynal menatap ke arah Melody. Melody mengangguk.

“Gue mau jujur nih sama kalian, sorry bukan maksudnya ngebohongin, tapi yaa karena ada suatu hal gue baru bisa cerita sekarang,”

“Emang apaan Key? Kalian pacaran?” tanya Nabil.

“Haha bukan elah, justru.. Melody ini kakak gue,” ujar Keynal. Melody tersenyum manis.

Anggota lainnya menganga tidak percaya, kecuali Boby. Yang sepertinya sudah menebak itu.

“Nah itu.. Hehe, sorry ya kaga bilang-bilang,”

“Waah parah lu Key, punya kakak secantik ini kaga bilang-bilang,” ceplos Maul.

Semuanya menatap Maul, “Eh, eh.. Maap maap.. Lanjut Key,” ujar Maul yang baru saja merutuki dirinya. Kenapa bisa keceplosaaan!!! Batin Maul.

“Walaah, nanti kayaknya bakalan saudaraan lu Key sama Maul,” celetuk Boby.

“Haha kaga masalah gue mah, asal kaga mainin kakak gue aja,”

Melody menyikut pinggang Keynal.

“Hehe, oke lanjut. Ada satu orang lagi, mana ya?” Keynal celingukan.

“Nah itu dia tuh,”

Semuanya mengikuti arah mata Keynal.

“Sinka?” ujar Boby.

Boby bangkit dari duduknya.

“Lha kamu ngapain ke sini?” tanya Boby.

“Diem. Aku masih nggak mau ngomong sama kamu,” potong Sinka. Boby yang mendengar itu memanyunkan bibirnya.

Sinka menggeser tubuh Boby, dan duduk di kursi Boby.

“Mimpi apa gue semalem,” gumam Boby.

Sinka yang mendengar Boby menggumam langsung menoleh tajam.

“Eh, nggak hehe..” Boby langsubg menarik kursi lagi dari meja sebelahnya, dan duduk di belakang Sinka.

“Perang rumah tangga tolong ya jangan dibawa ke sini,” ujar Mario.

“Diem lu Mar,” ujar Boby.

“Oke, udah kumpul nih.. Jadi gue mau..”

“Tunggu Nal, gue juga mau ngenalin seseorang,” ujar Nobi.

“Ooh calon istri lo?” tanya Keynal.

Nobi mengangguk. Ia melambaikan tangannya kepada perempuan berambut pendek yang sedari tadi duduk di pojok cafe.

“Lha? Dari tadi dia di sini?” tanya Maul.

Nobi mengangguk.

“Wah parah lu, kaga di suruh ke sini aja,”

“Kan nunggu lengkap,”

Nobi bangun dari tempat duduknya, dan seperti Boby ia juga menarik satu kursi tambahan dari meja sebelahnya.

“Kenalin ya, ini Yona,” ujar Nobi

Yona mengangguk malu-malu sambil melambaikan tangannya.

“Hai Yona,” sapa semuanya.

“Hai, sebelumnya aku mau minta maaf ya, karena kita, kalian jadi kaya gini, aku juga baru denger ceritanya semalem dari Nobi,” ujar Yona.

“Semalem? Kalian tinggal bareng?” ceplos Okta. Andrew yang ada di sebelahnya menginjak kaki Okta.

“Aw. Eh. So.sorry kak hehe,” ujar Okta.

“Iya santai aja Ta,”

“Berapa bulan nih?” tanya Keynal.

“Yaa.. Mau empat bulan apa ya?” ujar Nobi.

“Kalo nggak salah sih,” ujar Yona.

“Lha sama aja lupa,” celetuk Nabil.

Yang lainnya terkekeh melihat pasangan unik di depan mereka.

“Yaudah deh, ini kan udah lengkap. Jadi gue mulai ya,” ujar Keynal.

Semuanya mengangguk.

“Jadi, tadi gue sempet ke kampus dulu, bareng Kak Melody, nemuin rektor,”

“Lha? Kok lo kaga bilang kita-kita?”

“Eh Maul, santai dulu. Biarin ceritanya selesai dulu,” ujar Boby.

“Hh.. Iya iya sorry deh,”

“Nah.. Gue lanjut ya..”

Flashback.

“Ada Pak?” tanya Keynal begitu dirinya sampai di ruang Rektor.

Melody juga sudah berada di sana.

“Ya Keynal.. Silahkan duduk,”

Keynal menoleh ke arah Melody menanyakan ada apa lewat pandangannya.

“Udah duduk aja dulu,” ujar Melody.

Keynal manut, ia duduk di sebelah Melody.

“Ya jadi, bapak mengundang ke sini, karena permintaan dari Melody.

Sejujurnya. Bapak juga agak enggan untuk melepaskan mahasiswa berbakat seperti Red Camisa, tapi bagaimana? Dosen dan juga staff lainnya bersikeras untuk mengeluarkan kalian.

Maklum, otaknya pada kolot. Bapak mah cukup terbuka. Meski pelanggaran Nobi memang berat sangat teramat berat. Tapi memang tidak harus sampai mengeluarkan kalian semua sekaligus,” ujarDirgantara diselingi kekehan kecil.

Keynal menatap tidak percaya kepada sang rektor ini.

“Nah jadi, saya punya kenalan nih di universitas lain, memang tidak sebagus Vierzig, tapi bisa dibilang Vierzig dengan kampus ini masih saudaraan. Yang memimpin pun Adik saya sendiri.

Saya sudah membicarakannya dengan beliau. Ia akan dengan senang hati menerima kalian semua, termasuk Nobi.

Asal.. Tapi.. Namun..

Dengan catatan, Nobi harus menikahi gadis itu. Ia tidak keberatan menerima mahasiswa yang sudah menikah,” ujar Dirgantara.

Seperti menemukan jarum dari tumpukan kapas, senyum Keynal mengembang.

“Makasih Pak, ini merupakan berita bagus untuk kami,” ujar Keynal.

“Naah, tapi ada satu lagi nih,” ujar Dirgantara.

“Apa lagi Pak?” tanya Keynal.

“Ini.. Istri saya lagi membangun sebuah cafe di daerah selatan sana. Ia butuh orang yang mau mengolah cafe ini, tempatnya cukup strategis kok. Ditambah jika yang mengurus cafe bocah bocah ganteng kayak kalian. Saya rasa cafe ini akan melesat perkembangannya.

Apalagi Bonita siap membantu kalian mengembangkan cafe itu, gimana?”

Senyum Keynal makin merekah.

Flashback Off.

“Nah jadi..”

“Mauuu!!!” ujar semuanya kompak.

“Ebuset gue belum selesai kali,” ujar Keynal.

“Udah terima aja Key, kuliah iya, kerja di cafe, kapan lagi?” ujar Farish.

“Haha gue yakin sih lo pasti pada mau,”

“Iyalah. Sekalian nambahin pengalaman,” ujar Boby.

Semuanya mengangguk setuju.

“Jadi deal nih? Kita ambil?” tanya Keynal kepada teman-temannya.

“Takis lah!” ujar Nabil.

“Setuju~” jawab Okta dan Andrew.

“Ya, menarik..” ujar Maul.

Nobi, Boby dan Farish mengangguk.

“Ya kita mah ngikut daah,” ujar Mario yang diangguki oleh Nino.

“Haha.. Yaudah nanti gue bilang sama Pak Dirga nya..”

“Yooot! Kuliah lagi~” ujar Nabil.

“Haha..” yang lainnya tertawa melihat tingkah Nabil.

“Oh ya, bisa dong gue ngerayain nikahan gue di cafe itu?” celetuk Nobi yang dihadiahi cubitan oleh Yona.

“Haha ya bisa laaah,” ujar Keynal.

“Nanti yang nge Mc in Shani, biar adem,” ujar Mario.

“Terus penerima tamunya Veranda sama Melody,” celetuk Boby.

“Buset parah lu kak, bidadari dijadiin penerima tamu,” ujar Andrew.

“Jangan sama aku lha, tapi sama..” Melody melirik Keynal.

“Ooh cem cemannya Keynal? Ooh bagus ya kaga bilang-bilang,” ujar Boby sambil mengepalkan tangannya.

“Eh! A.apaan dah? Kaga kook,” elak Keynal.

“Wah jago lu kak kalo bisa dapetin bidadari,” ujar Okta.

“Ah elah apaan sii,” sunggut Keynal.

Dan tawa kembali pecah oleh anggota Camisa.

-The End-

 

-Falah Azhari-

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Roulette Love Part 12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s