Pengagum Rahasia 2, Part 12

Deva merebahkan tubuhnya di sofa. “Owh, ada keyboard ternyata,”

“Loh bukannya itu piano?” ucap Sinka

“Keyboard sama piano sama aja,” Jelas Shania

“Dasar norak,”

“Apa kamu bilang!” ucap Sinka pada Deva

“udah cukup! Kita disini mau kerja kelompok, bukan mau ribut,” ucap Shania

“lagian kenapa lu ngajak dia shan?”

“tadi lu bilang satu kelompoknya cuma berdua,”

“iya gw tau dev. Sinka itu kesini mau main, bukan mau ikut kerkom,” Jawab Shania

“eh kalau gak salah tadi kamu bilang mau bantuin kan?”

“AH!? Em…,”

“I..Iya deh aku bantuin,” Sinka tampak ragu-ragu

“kok keliatannya gak semangat gitu? Kalau gak mau bantu ya gak apa-apa sin,” ucap Shania

“EH! Bukan gak mau bantu shan…,”

“Tadi aku pikir bukan kerja kelompok seni musik,” lanjut Sinka

“ya emang kerkom apalagi sin, orang dari minggu kemarin mata pelajaran yang ada pembagian kelompoknya cuma pelajaran seni doang,” ucap Shania

“umm,” Sinka terdiam

Lalu Deva terlihat bangun dan langsung menyalakan keyboard itu. “Ayo nyanyi…,”

“EH!? Kamu bisa main keyboard!?” ucap Shania

“Bisa,” balasnya singkat

Deva mulai memainkan melody dari piano itu.

This Romeo’s bleeding…

But you cant see his bloods..

“Eng…,” Sinka tertunduk diam

“lagu bon jovi? T..tapi aku gak bisa dev!” ucap Shania

“Kecuali kalau kamu yang nyanyi, terus aku yang main keyboardnya,” tambahnya

“yaudah lu main sini,” ucap Deva

“AH! T..tapi…,” Shania tiba-tiba terdiam

“Kenapa? Lu gak bisa main piano?”

“Eh bukan gitu, aku bukan gak bisa main piano dev,” Jawab Shania

“Terus?”

“em…aku biasanya butuh waktu beberapa hari untuk belajar chord dari lagunya. Kalau kamu tadi kan udah hafal chordnya. Always kan?” ucap Shania

“yee…dikiarin udah jago,” ucap Deva

“ehehe…enggak. lagian di keluarga gw yang jago piano itu cuma papih doang,”

“Huft…,” Deva kembali melanjutkan permainan pianonya

Now i can’t sing a love song, like the way it’s meant to be…

“EH!?” Shania terkejut ketika mendengar sinka bernyanyi

Well i guess im not that good anymore, but baby that just me……

AND I…

            Sinka tampak menikmatinya.

TENG!

“Kenapa berhenti?” ucap Deva

“Eh…umm,” Sinka terdiam

“A..Aku baru tau kalau kamu jago nyanyi…S-Sin…,” ucap Shania tampak grogi

“Eng…hehe,” Sinka hanya tersenyum

“Mungkin lu bisa belajar dari sinka shan. Lu kan udah punya basic vocal yang bagus,” ucap Deva

“Eh, iya deh,” balas Shania

“Tapi…aku pikir kayaknya kurang cocok kalau lagu yang di bawain itu bergenre romance kayak tadi,” ucap Sinka

“Mungkin lagu yang cocok itu lebih ke arah pertemanan, persahabatan?” tambahnya lagi

“Sinka bener. Mungkin semua orang bakal bosen kalau yang di denger itu lagi romance lagi-romance lagi,” ucap Shania juga

Never say goodbye…

Ytou and me and my old friend, hoping it would neverend…

Say goodbye…

“Nah, mungkin lagu itu cocok banget buat di bawain pas tampil nanti,” ucap Sinka

“Lagu bon jovi lagi?” ucap Shania

“Iya,” ucap Sinka kembali

“Huft…,”

“Oke, sekarang mulai latihannya,” ucap Deva sambil membuka seragamnya

“ekhem! Tar dulu, aku mau nyari lirik lagunya dulu,” ucap Shania membuka handphonenya

Mereka pun mulai berlatih bersama-sama.

~oOo~

Tanpa terasa waktu telah menunjukan pukul 8 malam.

Jam dinding itu menunjukan pukul 19.55.

Deva terlihat sedang memakai sepatunya.”Huh…,” Deva menarik nafas panjang

“Thankyou yah udah mau dateng,” ucap Shania

“Iya,” balas Sinka

“Loh, udah mau pulang yah?”

“Eh, iya tante,” jawab Sinka

“Kenapa gak nginep aja disini?” ucap perempuan yang tampaknya adalah ibu shania

“Besok kan masih sekolah, lain kali aja yah tante,” ucap Sinka

“yasudah kalau gitu hati-hati,” ujar mami shania

“Hey…Jagain pacar kamu baik-baik yah,” ucapnya lagi

“Eh!?” Deva tampak kebingungan

“Ah-eh,” Sinka juga hanya diam

“yaudah, kalian berdua hati-hati di jalan yah,” ucap Shania

“Iya shan,” balas Sinka

Deva dan Sinka pun pergi.

~oOo~

Malam hari ini tampaknya jalanan masih ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang. Sepanjang mata memandang deva sama sekali tidak melihat ada angkot yang melintas.

“Percuma…,”

“Eh…,” Sinka melihat ke arah deva

“Gak akan ada angkot yang datang jam segini,” ucap Deva

“umm, naik taksi deh,”

“Gw gak punya cukup uang buat naik taksi,” balas Deva

“Hemm,” Sinka pun terdiam

“Oh iya…,”

“Ternyata…suara lu bagus juga yah,”

“EH!?” Sinka tampak kaget

“Kenapa lu gak latihan sama kelompok lu sendiri?” tanya Deva

“umm, sebenarnya aku belum dapet kelompok dev,” Jawab Sinka

“Hmm? Kok bisa? Bukannya di kelas kita jumlah muridnya tuh genap yah,”

“Sedangkan pembagian kelompoknya juga cuma berdua-berdua kan?” tanya Deva lagi

Sinka menggelengkan kepala. “Enggak dev. Kelompoknya itu boleh berdua dan juga boleh bertiga,”

“Itulah kenapa sekarang aku gak punya kelompok,” Jawabnya murung

“Oh…Gitu ya,”

“yaudah…masuk kelompok gw aja,” ucap Deva

“EH!? Em…eng..enggak deh,”  ucap Sinka

“Loh, kok enggak?”

“em…lagian shania belum tentu ngizinin kalau aku masuk kelompok kamu dev,”

“Halaah…Dia pasti mau. Lu gak usah mikir sampai sana dulu, Jawab dulu pertanyaan gw,”

“Lu mau gak masuk kelompok gw sin?” tanya Deva

“Eng…I-iya deh,” jawab Sinka

“Eh ada taksi,” ucap Sinka lagi

Lalu sinka melambaikan tangannya sehingga taksi itu berhenti di depannya.

“yuk pulang,” ajak Sinka

“Duluan aja…,”

“Loh kok duluan!?” ucap Sinka

“Bukannya tadi udah gw bilang, gw gak punya cukup…,”

“Aku bayarin,” Potong Sinka

“Hmm!?”

“udah cepetan naik!” ucap Sinka memaksa

“umm, iya deh,”

Deva langsung naik ke taksi itu.

~oOo~

“Huh? Hey…,” Deva menepuk pundak Sinka

“EH! Kenapa dev?” tanya Sinka

“Lu keliatannya udah ngantuk berat. Gak biasa tidur malem?”

“Eng…enggak kok. Cuma lagi tidur-tiduran aja,” Jawab Sinka

“Awas…Jangan sampai tidur beneran. Nanti gw yang repot,” ucap Deva

“Iya gak akan kok,” balas Sinka lagi

Deva kembali melihat keluar dari kaca mobil itu.

Tiba-tiba…

Plek!

“EH!?” Deva langsung melihat ke samping

“yah…malah tidur beneran kan sekarang,” ucap Deva

Tak lama kemudian, taksi yang mereka naiki telah sampai tujuan.

“aduuh…120 ribu,” pikir Deva

Deva terlihat mengambil dompet sinka. “Sorry ya, gw terpaksa…,”

Setelah itu deva memberikan uang itu pada sopir taksi.

“Makasih pak,” ucap Deva

“Yoo…,” Balas Sopir taksi itu dengan logat jawa

“Ssstt…Bangun,” ucap Deva sembari menepuk pipi Sinka

“Ternyata bener kata kakaknya, dia kalau tidur pasti susah di banguninnya,”

Pada akhirnya deva pun mengangkat sinka sampai ke dalam rumah.

“Duh, ini gimana lagi nyalain bel nya,” pikir Deva

Deva memencet tombol itu menggunakan kepalanya.

Teng-Tong!

Ceklek!

“EH! Sinka!?” ucap orang yang membuka pintu

“J..Jangan khawatir kak, sinka cuma tidur,” balas Deva

“Oh, dikirain apaan,” ucapnya

“Kak naomi, deva boleh masuk? B..Berat nih…,”

“Eh, i-iyaudah ayo masuk,” ajak Naomi

~oOo~

“Kalian habis kerja kelompok yah,”

“Iya kak, maaf pulangnya terlalu kemaleman,” ucap Deva

“Dih gak apa-apa kali, emangnya kenapa kalau sinka pulangnya kemaleman?” ucap Naomi

“Eh gak apa-apa yah. Waktu itu sinka pernah bilang kalau pulangnya kemaleman suka di marahin,”

“Ahaha…iya, itu kalau dia keluyuran gak jelas! Kalau ini kan kerja kelompok, ya kakak izinin aja,” Jawab Naomi

“M..Maaf kak, ini sinka beneran berat…mau di taro dimana?” ucap Deva lagi

“Hahaha di taro, dikata dia itu barang apa. Yaudah kamu bawa aja ke kamarnya langsung,” ucap Naomi

“Kamarnya!?” ucap Deva

“Kamarnya ada di lantai 2,” ucap Naomi kembali

“K..Kenapa gak sama kak naomi aja!?”

“Aduuh dev, kakak mana kuat angkat dia. Dan juga sekarang kakak lagi numis bawang,” ucap Naomi kembali

“udah deh, lagian gak terlalu jauh kok. Kamu pasti kuat,”

“Bukan masalah kuatnya, tapi…,” batin deva

“Hem, iya deh,” Deva mengalah dan membawa Sinka ke lantai 2

~oOo~

“Duh berat bener. Nih anak berapa kilo sih!?” ucap Deva sembari membuka pintu kamar itu

Klek!

“Oh, jadi ini yah kamarnya,” ucap Deva setelah melihat ke sekeliling kamar itu

“Oke…,”

Deva langsung membaringkan Sinka di kasur itu, Namun…. “Eh…umm,”

“EH!?” Deva terkejut

“Ah deva!” ucap Sinka

Karena kaget deva langsung tersandung oleh papan kasur itu dan langsung terhempas ke kasur bersama sinka disana.

“aduuh…kenapa pake ngagetin segala,”

“a…ahh, Dev…,” ucap Sinka dengan suara yang lembut

“AH! S..Sorry,” Deva langsung menghindar dari sinka

Mereka pun tidur bersebelahan.

“Tadi itu…ah, eh…,”

“Kamu…mau tidur disini dev? Kalau gitu aku ambil selimut dulu,” ucap Sinka

“EH!? Enggak kok, gw cuma nganterin lu doang tadi,” jawab Deva

“Tadi kan lu tidur di taksi,” tambahnya

“umm, maaf yah aku malah jadi ngerepotin kamu,”

“I..iya gak apa-apa. Gw juga mau minta maaf tadi buka dompet lu,” ucap Deva

“Kalau gak nanti bayar taksi pake apa coba,” lanjutnya

“Iya aku ngerti kok,” ucap Sinka

“Dev! Deva!” teriak seseorang

“AH! K..Kak naomi!” ucap Deva

Deva langsung buru-buru turun dari kasur itu.

Kemudian Naomi pun datang.

“Ayo makan dulu, kakak udah siapin makan malamnya,” ucap Naomi

“Lah, udah bangun ternyata!?”

“Eh, kakak…hehe,” Sinka tertawa kecil

“yaudah karena sekarang kamu udah bangun, cepetan turun ke bawah. Makan malem dulu bareng-bareng,” ucap Naomi kembali

“Ah…,”

“Kamu gak mau dev?” tanya Naomi sambil mendekatkan wajahnya

“EH!? B..Bukan gak mau kak, tapi…,”

“Tapi…?” Naomi semakin mendekatkan wajahnya

“Sekarang udah malem banget kak,” jawab Deva kembali

“Huh! Baru juga jam setengah sembilan! udahlah ayo makan dulu!” Naomi menarik tangan Deva

“Eh-eh! Iya deh kak iya!” ucap Deva

Sinka juga ikut turun ke bawah.

~oOo~

“Buset! Banyak bener!” batin Deva melihat ke arah meja makan itu

“I..Ini siapa yang bakal habisin kak!?”

“Kamu kuat ngabisin nya?” tanya Naomi balik

“ya gak kuat lah kak. Perut deva itu bukan karet,” jawab Deva

“yaudah kenapa tanya siapa yang mau abisin. Intinya sekarang kita makan malam bersama titik!” ucap Naomi

“em, iya deh,” balas Deva

Sinka terlihat mengambil tissue itu dan langsung duduk.

Tlek! Tlak! Suara piring dan sendok yang berdentingan.

“Buset!” *Glek. Deva menelan ludahnya

“Banyak bener ngambil makanannya! Ini anak kelaparan kali yah!?” batin Deva ketika melihat sinka

“Nih…Cobain deh steak panggang buatan kakak,” Naomi memotong daging itu lalu memberikannya pada deva

“Eh, iya kak,” jawab Deva dengan pelan

“Makan yang banyak…Nih…,” Sinka memberikan nasi itu pada deva

“EH!? Udah kebanyakan ini,” ucap Deva

“Haha…gak apa-apa. Lagian makanan di rumah ini tuh jarang banget ada yang ngabisin,” ucap Naomi

“Huft…yaudah deh,” Deva hanya mengalah

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_ So

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s