Sahabat (story version) part 3

Mata Naomi terasa berat untuk dibuka pagi hari ini. Tubuhnya benar-benar terasa lemas. Namun sorot dari matahari yg menusuk melalui jendela kamarnya, membuatnya harus segera menegakkan tubuhnya. Ia tak sadar apa yg ia lakukan semalam, dan kenapa ia bisa berada disini. Dikamarnya.

Padahal ia merasa bahwa ia masuk kedalam sebuah ruangan yg dipenuhi bau-bau alkohol bercampur dengan asap rokok. Beberapa saat kemudian ia menguap, dan ia mencium bau alkohol keluar dari dalam mulutnya. Beberapa saat kemudian kepalanya terasa pusing kembali. Dan ia merebahkan kembali badannya. Ia melihat sekitar tempat tidurnya, ada satu baskom air dan juga handuk dimejanya. Dan kamarnya juga terlihat rapi tak seperti saat ia pergi semalam. Ada sedikit senyum diujung bibir Naomi.

_0O0_

Sinka berjalan cepat menuju sekolahnya, ia melihat bahwa gerbang sekolahnya akan segera ditutup dari kejauhan. Dengan nafas memburu ia pun sampai disana dan disana berdiri sosok itu, tersenyum menatapnya.

” ayo…” ucapnya sambil menuntun tangan Sinka melewati gerbang sekolah.

Sinka tak mempedulikan ocehan dari penjaga sekolah itu. Sekarang hanya senyuman kecil yg terlihat dari raut wajah Sinka. Tangannya Anin belum dia lepaskan dari tangannya. Ia seperti teringat kembali tentang sahabatnya dulu. Dulu dia juga pernah melakukan hal itu. Otaknya dengan sendirinya memutar semua kenangan dulu. Kenangan yg abadi dalam ingatannya.

” udah sampai… Yuk masuk?” ucap Anin menyadarkan Sinka dari lamunannya.

Sinka menyadari kini ia sudah sampai dikelasnya. Masuk kedalam dan mencari tempat duduknya. Entah darimana tiba-tiba ia teringat kejadian semalam. Kakaknya yg tak seperti biasanya. Ia menyesalkan dirinya yg tak tau apa-apa tentang kakaknya. Ia terlalu dingin terhadap kakaknya itu. Ia harusnya tau, seberapa besar pun rasa iri terhadap kakaknya itu tak seharusnya menghalangi kedekatannya. Kakaknya itu tidak salah.

Tapi ia mungkin yg salah. Kenapa ia harus jadi adik seseorang yg selalu terlihat sempurna. Ia terlalu kecil untuk sejajar dengannya. Yah, harusnya ia tak perlu iri. Kakaknya memang lebih pantas dapat perhatian.

Sinka menghela nafas panjang.

” apa hari ini kita bisa ke tempat kemarin?” ucap Sinka menengok kearah Anin,

” siap…” balas Anin cepat. Ia dengan wajah sumringah menatap kearah Sinka. Sinka tersenyum.

Tak ada lagi percakapan selanjutnya, keduanya sama-sama hening. Hanya suara dari langkah kaki seorang guru yg memasuki kelasnya.

_O0O_

Lidya bertemu kembali dengan Anin di koridor. Anin terlihat tak peduli dengan tatapan Lidya itu. Lidya menghalangi langkah Anin, Anin kekiri, Lidya juga ke kiri. Anin ke kanan, Lidya juga ke kanan. Anin yg sudah merasa jengkel langsung mendorong Lidya.

” mau apa sih kamu itu!” bentak Anin,

” gue cuman mau nanya?, apa tujuan lo ngedeketin Sinka?” balas Lidya,

” emang kamu siapanya Sinka?, kalau kamu temennya, kenapa dia malah benci sama kamu?” Anin terlihat tak mau kalah,

” oh iya, aku lupa. Kamu itu yg dulu sering nge bully sahabatnya Sinka kan?, dan sekarang dianya udah ga ada…” lanjut Anin,

” dan satu lagi, Sinka itu benci banget sama kamu, itulah yg dikatakannya padaku…” Anin berjalan melewati Lidya yg masih mematung.

Bagaimana anak itu tau semuanya. Bahkan ia tak menyangka bahwa Sinka sudah sangat terbuka padanya. Ia kembali berjalan dengan penyesalan yg semakin dalam. Ia jelas semakin jauh dari Sinka.

~

Bel pulang sekolah telah dibunyikan membuat kedua gadis itu dengan cepat meninggalkan kelas. Mereka menuju kesalah satu bukit seperti kemarin. Kembali, tak henti-hentinya Sinka menunjukkan gigi gingsulnya itu. Tapi Anin terlihat biasa. Wajahnya datar tak seperti biasa.

” andai kamu merasakan, apa yg aku rasakan saat ini…mungkin kamu tak akan bisa tersenyum seperti itu lagi…” batin Anin sambil menatap kearah Sinka.

~

Anin menghentikan mobilnya tepat didepan rumahnya setelah tadi mengantar Sinka pulang. Berjalan cepat menuju rumahnya.

” kamu sepertinya sudah semakin dekat dengannya?, kapan kamu akan melakukan rencanamu itu…” ucap seseorang ketika Anin berjalan masuk menuju kamarnya,

” jangan ikut campur urusanku… Shania…” balas Anin meninggalkan orang yg bernama Shania itu.

Anin tak mempedulikan orang itu. Orang yg selama ini selalu ada bersamanya, tepatnya bersama kakaknya, sebelum kakaknya pergi untuk selamanya.

Shania, gadis yg kini mengikuti Anin menuju kamarnya. Ia mendengus kesal karena tak diperhatikan oleh Anin.

_0O0_

Shania terlihat menghampiri sosok Naomi yg kini terlihat termenung dibawah pohon yg ada ditaman kampusnya. Ia pun duduk disebelahnya, tak ada sepatah katapun yg keluar dari kedua nya.

Dari kejauhan kini, Ve juga mendekat kearah mereka berdua dengan tatapan tajam.

” Shania, apa yg kamu lakukan disini?” tanya Ve ketus. Shania terlihat menyunggingkan senyum,

” kenapa?, kamu iri?” balas Shania, Ve terlihat tak peduli dengan itu. Ia kemudian beralih pada Naomi,

” apa kamu sakit kemarin?” tanya Ve pada Naomi, Naomi menatap Ve,

” aku gapapa Ve…” balas Naomi, Ve terlihat mengambil tempat duduk disamping Naomi,

” Naomi, kamu harusnya nyadar… Ga seharusnya kamu itu deket sama Aaron dulu…” ucap Shania, Naomi menoleh. Ve menatap tajam Shania,

” iya aku tau, harusnya dulu Aaron itu pilih kamu bukan aku…” balas Naomi tak lagi menatap Shania. Yah, dulu mereka itu bersaing untuk mendapatkan Aaron,

” dan mungkin semua ga bakal jadi kayak gini…” ucap Shania sambil berdiri,

” Shania… Harusnya kamu juga nyadar, kenapa dulu Aaron itu milih Naomi bukan kamu. Karena dia tau mana yg bener-bener baik untuknya…” Ve terlihat menghampiri Shania, mereka terlihat saling menatap.

” Ve, hentikan…kita pergi sekarang?” Naomi mencoba menenangkan Ve yg sudah termakan emosinya Shania. Naomi menarik tangan Ve menjauhi tempat itu dan meninggalkan Shania disana.

” harusnya tadi aku menyumpal mulutnya, agar dia tak berbicara seenaknya…” gumam Ve ketika ia diajak ke kelas oleh Naomi,

” Ve… Udah kali…” balas Naomi,

” tapi kalau dibiarin, mulut orang itu malah bikin drop kamu mi..” ucap Ve,

” aku gapapa, kamu tenang aja…” Naomi terlihat tersenyum membalas ucapan dari Ve. Ia tau Ve itu sangat peduli dengannya. Dan tak seharusnya ia membuatnya khawatir.

~

Lidya berjalan untuk menghampiri Sinka yg kala itu sedang duduk ditaman belakang sekolah. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Anin juga menghampirinya. Hanya desahan yg keluar dari mulut Lidya ketika ia melihat kedekatan Anin dan juga Sinka. Akhirnya ia berbalik, dan membatalkan niatnya untuk menemui Sinka. Ia seperti ingin menyerah untuk bisa jadi temannya Sinka. Tapi ia pernah mengucapkan janji pada Viny, janji yg sampai saat ini belum bisa ia tepati.

~

Lidya berjalan pelan menghampiri motornya diparkiran. Setelah bel pulang sekolah dibunyikan. Ia dengan segera meninggalkan kelasnya. Sekarang tatapannya mengarah pada mobil yg kini perlahan meninggalkan parkiran. Lidya yg penasaran akan siapa sebenarnya sosok itu. Ia dengan cepat mengejarnya. Mengekornya di belakang. Mobil itupun berhenti tepat disalah satu tempat pemakaman. Lidya juga menghentikan laju motornya. Ia bisa melihat sosok itu berjongkok disalah satu makam ditempat itu. Dan tak berapa lama ia pergi dari tempat itu. Lidya tak mengikutinya lagi, ia penasaran siapa yg tadi dia hampiri di salah satu makam itu.

” Aaron Anindhito…” itu sebuah nama yg terpampang di batu nisan itu. Lidya terlihat bingung, ia tak mengenal sosok itu.

Kini perlahan laju motornya meninggalkan tempat itu. Meninggalkan sebuah pertanyaan besar dalam pikirannya.

_O0O_

Anin menghempaskan tubuhnya dikasur. Ia bimbang sekarang. Perasaannya gelisah. Ia sudah sangat dekat dengan Sinka. Dan sekarang mungkin adalah waktu yg tepat untuk memulai rencananya. Tapi hati kecilnya ingin menepis semua itu. Tapi jika ia ingat sosok dalam fofo waktu itu. Rasanya semua memang harus ia lakukan. Dan membiarkan hati kecilnya ia timbun dengan dendamnya. Andai saja semua bukan tentang kakaknya, mungkin ia juga tak akan melakukan ini. Dan dari Shania lah ia tau semua, dan memang benar ia harus melakukannya.

” Anin, kamu tau ga?, siapa yg membuat kakakmu seperti ini?, Naomi, pacar kakakmu. Dia dengan seenaknya memutuskan hubungan mereka. Dan membuat kakakmu down seperti itu. Membuat kakakmu kembali kambuh penyakitnya…dan sekarang ia pergi untuk selamanya…” itu suatu kata dari Shania yg selalu berputar dalam pikiran Anin. Sesuatu hal yg membuat dirinya menjadi seperti sekarang. Menaruh benci kepada seseorang yg bernama Naomi.

_O0O_

Naomi termenung didalam kamarnya. Ia membenarkan ucapan dari Shania pas di kampus tadi. Ia tau seharusnya dulu tak menerima Aaron sebagai kekasihnya, harusnya ia membiarkan Aaron memilih Shania, karena Shania lah yg selalu ada untuknya, bukan dirinya. Tapi semua sudah berlalu, dan semua tak akan terulang.

Naomi berjalan kearah ruang makan, karena mamanya telah memanggil  namanya beberapa kali. Ada sedikit raut bahagia ketika ia bisa melihat ada adiknya ada disana bersama mamanya. Sesuatu hal yg ia rindukan dalam beberapa minggu ini. Tapi harusnya juga ada papanya disana. Naomi mencoba tetap terlihat baik, walau hati kecilnya terasa pahit.

” Sinka, Naomi… Mama minta maaf, mama besok harus menyusul papa ke Singapura… Ini perintah dari perusahaan papa…” ucap mama pelan. Seketika meja makan yg mulai terlihat lebih baik itu menjadi sunyi. Naomi menaruh sendok makannya, dan Sinka seperti tak peduli dengan ucapan mamanya. Ia masih asik dengan smartphone ditangannya.

” itu terserah mama…” ucap Naomi, lalu ia berdiri dan meninggalkan meja makan itu. Ini bukan yg diinginkan Naomi. Naomi berharap papanya segera pulang, tapi malah sebaliknya, kini malah mamanya yg menyusul papa. Saat ia bisa melihat ada adiknya kembali di meja makan, ia berharap bahwa semua bisa seperti dulu lagi. Tapi kini mungkin hanya sebuah khayalan, khayalan yg jauh dari kenyataan.

Seperginya Naomi dari meja makan, kini semua semakin terasa sunyi. Perlahan Sinka juga meninggalkan meja makan itu. Mama hanya menghela nafas panjang. Ia juga tak pernah berharap semua akan jadi seperti ini. Tapi inilah kehidupan. Ia harus memilih, papa kehilangan pekerjaan atau ia meninggalkan anak-anaknya. Ini pilihan sulit, jika papanya  kehilangan pekerjaan maka itu juga akan berimbas buruk pada keluarganya. Tapi jika ia meninggalkan rumah, apa anak-anaknya bisa menjaga diri mereka sendiri. Ia berharap bahwa saat ia kembali lagi bersama papanya, semua tetap akan baik-baik saja. Mama percaya mereka sudah dewasa.

_O0O_

Sarapan pagi ini hanya diisi oleh dua orang, tidak ada lagi mamanya. Hanya sepucuk surat dan menu sarapan yg ditinggalkan mamanya didalam meja makan. Naomi mendengus kesal, ia sudah tak tertarik lagi dengan kertas lipatan itu.

” Sinka, kamu berangkat sama siapa?” tanya Naomi memecah keheningan. Sinka meletakkan smartphonenya, kemudian menoleh kearah kakaknya,

” Nanti ada temen yg jemput, kak Naomi duluan aja…” balas Sinka.

Sebenarnya bukan itu jawaban yg diinginkan Naomi. Ia berharap bahwa adiknya menyuruhnya mengantarkan ke sekolah,

” gitu ya, kakak boleh tau siapa temanmu itu…” ucap Naomi,

” Namanya Anin, dia teman sebangku dikelas…” balas Sinka. Naomi seperti tak asing dengan Nama itu. Ia seperti pernah bertemu dengan orang itu. Hanya saja ia lupa dimana.

Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi klakson dari luar rumah Sinka. Sinka dengan cepat keluar dan disana sudah ada mobil Anin diluar pagar.

Naomi juga berjalan keluar mengikuti Sinka. Ia bisa melihat kini bahwa ada sesorang berdiri diluar pagar rumahnya. Ia melihat kearah wajah orang itu. Dia itu…

~

Sinka dan Anin kini menuju kesekolahnya. Anin masih terus terbayang akan rencananya. Rencana yg entah ia tega melakukannya atau tidak. Ia benar-benar sudah merasa nyaman dengan Sinka. Ia seharusnya tak usah terlalu dekat dengan dengan Sinka, biar ia lebih berani melakukan tindakan itu.

” Sinka… Kamu tau ga semua tentang kakak kamu?” tanya Anin membuka pembicaraan didalam mobil,

” aku itu ga suka kepo?, jadi ya aku kurang tau tentang kakakku…” balas Sinka. Anin tersadar bahwa Sinka sudah merubah cara bicaranya, dulu, lo gue dan sekarang, aku kamu. Entah sudah seberapa dekat dirinya dengan Sinka. Dan sudah seperti apakah ia dalam hatinya Sinka. Anin mencoba menepis rasa itu. Ia harus melakukannya, ini demi kakaknya.

” apa yg kamu rasakan kalau kamu kehilangan kakakmu?” Sinka terlihat kaget mendengar pertanyaan dari Anin. Ia tak bisa menjawab.

” dan jika kakakmu meninggal karena kakak temanmu?, apa kamu akan membenci temanmu itu…” satu lagi pertanyaan dari Anin yg tak bisa ia jawab. Jika kakaknya mati karena kakak sahabatnya sendiri misalkan Viny. Apa ia bisa membenci Viny. Ia bahkan tak pernah berfikir seperti itu. Dan beruntung hal itu tak terjadi dalam kehidupannya.

” gausah dipikiran?, itu cuman misalkan kok…hehe” lanjut Anin. Sinka masih terlihat diam.

_O0O_

Lidya berjalan menuju perpustakaan untuk mengambil buku yg disuruh oleh gurunya. Ia pun berjalan masuk ke perpustakaan itu untuk mencari buku itu. Ruangan itu sangat sepi, seperti tak ada siapapun disana. Tapi nafasnya lega ketika ia bisa melihat ada seseorang disana. Tapi wajahnya seketika berubah menjadi ketus ketika ia menyadari bahwa yg dilihatnya itu adalah Anin.

” ngapain kamu disini?” tanya Anin ketus,

” terserah gue dong…lo pikir ini perpus milik lo?” balas Lidya,

” bodo amat lah, kamu mau mati disini juga terserah…” ucap Anin. Lidya terlihat menatap tajam kearah Anin,

” kalau bukan karena lo yg udah bisa ngembaliin senyumannya Sinka…udah gue sumpel mulut lo yg berisik itu…!” Lidya terlihat mendekat kearah Anin,

” Jadi karena itu kamu ga berani ngelawan?. Sebenarnya sih aku juga ga mau temenan sama Sinka?, tapi karena aku ada misi yg harus melibatkan Sinka?, ya mau gimana lagi…” ucap Anin santai, Lidya semakin mendekat dengan Anin. Emosinya benar-benar sudah tak tertahan. Ia dengan cepat memegang kerah baju Anin.

” apa yg lo rencanakan sekarang…!” Lidya menggertak. Namun raut wajah Anin tak menandakan kalau dia takut,

” kamu ga perlu tau apa yg aku rencanain sekarang…dan yg aku bingung, apa pedulimu sama Sinka?” Ucap Anin. Ia benar-benar membuat Lidya termakan emosinya.

Lidya ingin sekali menampar Anin andai saja ia tak ingat kata-kata Viny waktu itu. Jangan lakukan apa yg kamu lakukan pada diriku sama orang lain. Lidya tersadar, ia tak akan mengulangi kesalahannya dulu.

Suara langkah kaki yg terdengar kini jadi perhatian mereka berdua. Entah siapa yg akan muncul dari balik rak buku itu.

” Sinka…” ucap Lidya ketika melihat sosok itu. Terlihat Sinka dengan cepat menghampiri mereka.

Sinka bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan Lidya itu memegang kerah baju Anin. Dengan sekejap tangan Lidya itu dia lepaskan. Satu tamparan keras mendarat tepat pada pipi Lidya.

” apa yg lo lakuin sekarang!, lo mau nyakitin sahabat gue lagi!” suara keras dari Sinka menggema di ruangan itu. Anin terlihat menyunggingkan senyuman kecil dibelakang Sinka berdiri,

” Sinka… Gue bisa jelasin semua?, dia itu mau ngerencanain hal buruk sama lo?” Lidya mencoba menjelaskan semua. Dia tak ingin Sinka salah mengerti tindakannya tadi,

” hah… Hal buruk!, jangan samain dia itu sama lo!”.

Itu lebih sakit dibandingkan tamparan dari Sinka tadi. Kata-kata itu bagai petir yg menyambar dirinya. Lidya, ia mencoba mengerti situasinya. Yah, mungkin dirinya memang buruk dimasa lalu, tapi ia mau berubah. Ia mau merubah jalan hidupnya. Ia selalu berharap masih ada kesempatan untuknya memperbaiki semuanya. Lidya hanya memandang kepergian Sinka dan Anin. Mata sipitnya mengeluarkan butiran bening yg dengan sendirinya keluar. Ia menangis menyesali dirinya yg dulu.

Dirinya yg selalu buruk dimata Sinka. Lidya menghapus air matanya dengan tangannya, kemudian mengambil buku yg tadi diperintahkan gurunya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Ia tak peduli kini guru itu memarahinya karena ia terlalu lama mengambil buku itu. Ia duduk dibangkunya dan menutup wajahnya dengan buku.

” lo kemana aja lid?, apa lo sakit?” itu suara dari Ayana yg duduk dibangku belakangnya,

” gue gakpapa kok…” balas Lidya masih menyembunyikan wajahnya. Ia tak ingin terlihat sedih kali ini. Lidya memang selalu terlihat tegar dihadapan semua orang. Berbanding terbalik dengan hatinya.

” Ayana, Beby?, gue mau ngomong sesuatu hal yg penting nanti di taman belakang?” lanjut Lidya, ia teringat akan rencana dari Anin. Dan ia siap menggagalkannya. Apapun rencananya ia siap melawan. Demi Sinka,

” tenang aja kita bakal selalu ada buat lo?, dan selalu jadi pendengar cerita lo…” Balas Beby,

” bener tuh, apa yg dikatain Beby…” timpal Ayana.

Lidya tersenyum. Kemudian mengangkat buku nya dan menengok kebelakang.

_O0O_

Sinka kini hanya menatap Anin yg terlihat sibuk menuliskan sesuatu pada bukunya. Anin yg menyadari hal itu, langsung meletakkan pulpennya. Anin menengok kearah Sinka.

” kenapa?” tanya Anin,

” kamu ga diapa-apain kan sama Lidya?” ucap Sinka pelan, Anin terlihat menggeleng,

” aku gakpapa kok?, kamu tenang aja…” balas Anin meyakinkan sambil tersenyum.

Senyuman paksaan dari dalam hati Anin. Ia benci terus membohongi perasaannya sendiri. Tapi jika ia menatap kearah matanya Sinka, ia merasakan hal aneh. Sorot matanya itu menandakan kepeduliannya pada dirinya. Dan tadi, ia bisa dengan jelas mendengar bagaimana Sinka mengatakan bahwa ia adalah sahabatnya. Sahabat. Itu kata yg tak pernah ia dengar dari siapapun. Dia orang pertama yg menganggapnya sebagai sahabat.

Sekarang keduanya sama-sama diam. Sinka ingin sekali lagi menampar Lidya. Ia bahkan tak menyangka bahwa Lidya akan kembali seperti dulu. Sudah cukup dulu ia mengalah karena Viny. Sekarang tak ada lagi dirinya dan berharap bahwa Anin bukan kisah lanjutan dari Viny. Ia tak akan membiarkannya.

_O0O_

Naomi kini hanya terlihat diam mamandangi burung yg kini ada dihadapannya. Ia melihat ada dua burung kecil yg sedang mencari sesuatu itu. Tapi beberapa saat kemudian burung itu terbang entah kemana. Ia menyadari ada Ve berdiri dihadapannya sambil membawa dua minuman dalam gelas plastik. Dia menyodorkan minuman yg dia pegang di tangan kanannya itu.

” ini…” ucap Ve, Naomi pun menerimanya.

” ada apa lagi?, masih kepikiran soal perkataan Shania kemarin?” Naomi hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan dari Ve,

” terus apa lagi?, kalau masalah Shania, biar aku yg selesain…aku juga udah muak sama dia?” lanjut Ve, ia terlihat menggenggam erat gelas plastik itu,

” udah lah Ve, ini bukan soal Shania kok?. Oh iya ve, setau kamu Aaron itu punya adik ga?” ucap Naomi,

” kayaknya sih punya?, soalnya dulu juga pas kesana ada anak cewek gitu disana?, kayaknya sih itu adiknya, soalnya mirip sih mereka berdua?” balas Ve sambil mengingat-ingat sosok itu.

Itu jawaban yg meyakinkan dirinya bahwa yg ia lihat tadi dirumahnya adalah sosok itu. Dan benar, saat dulu ia main kerumah Aaron sosok itulah yg ia lihat. Tapi sorot matanya tadi pagi itu berbeda dengan sorot matanya yg dulu. Ia bisa merasakan hal itu. Tapi ia tak peduli dengan itu. Ia harus berterima kasih padanya, karena dialah Sinka bisa kembali lagi seperti dulu.

” kamu kenapa tiba-tiba nanyain itu?” tanya Ve,

” ah… Enggakpapa kok Ve…hehe” balas Naomi.

Dari kejauhan, kini sesosok gadis menatap kearah Ve dan juga Naomi. Dari sudut bibirnya terukir senyum kecil.

” semuanya akan segera dimulai Naomi…bersiaplah…” ucapnya pelan dan berjalan meninggalkan tempat itu.

_O0O_

Lidya, Beby dan juga Ayana kini berada ditaman belakang sekolahnya. Sesuai yg diinginkan Lidya tadi di kelas.

” lo mau ngomong apa Lid?” ucap Ayana membuka pembicaraan,

” gue butuh bantuan kalian…” balas Lidya,

” bantuan?” timpal Beby yg terlihat bingung. Setaunya, Lidya jarang minta bantuan semenjak dia berubah,

” gue mau kalian awasi Anin?, tadi gue ketemu dia diperpus, dan hampir saja gue mukul dia..”

” loh, emang tadi dia ngapain?” tanya Ayana,

” dia ngedeketin Sinka karena dia mau ngerencanain hal buruk?, dan sialnya gue baru tau tadi, karena dia yg ngomong sendiri?” Ayana dan Beby terlihat kaget mendengar ucapan dari Lidya. Mereka tersadar, bahwa kakaknya Sinka meminta bantuan mereka untuk menjaga Sinka diarea sekolah. Dan kini mereka lalai dan membiarkan hal buruk sedang berjalan kearah Sinka.

Mereka bertiga pun meninggalkan taman belakang itu. Dan berjalan menuju kantin. Di kantin mereka bisa melihat sosok itu tengah duduk disebelah Sinka. Hanya tatapan tajam dari Sinka yg mengarah pada Lidya. Lidya sadar akan tatapan itu, ia ingin sekali menyampaikan apa yg ia pikirkan saat ini melalui sorot matanya ini. Jika seandainya itu bisa, ia pasti sudah melakukannya saat ini.

~

Langkah kaki dari Ayana menyusuri koridor, ia tak sengaja melihat Anin dari arah berlawan. Anin hanya menatap datar kearahnya. Begitupun sebaliknya, Ayana juga terlihat tak peduli. Tapi ia ingat, ia ada misi dari Lidya untuk mengawasi Anin. Ia pun berbalik mengikuti langkah Anin.

” wah.. Ada yg ngefans nih…” Ucap Anin tak berbalik, ia hanya menghentikan langkahnya. Ayana juga berhenti melangkah,

” apa yg sebenarnya lo rencanain sama Sinka?” tanya Ayana, Anin kemudian berbalik menghadap kearah Ayana,

” kamu Ayana kan?, Kamu pasti suruhannya Lidya…” ucap Anin santai,

” apa lo bilang…!” Ayana terdengar meninggikan nada suaranya,

” kamu akan nyesel jadi bawahannya Lidya…”  Anin berbalik untuk melanjutkan jalannya.

Ayana hampir saja termakan emosinya. Tapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia tak ingin gegabah dalam bertindak. Ia tak ingin semua malah semakin buruk. Ayana tak lagi mengikuti langkah Anin. Ia ingin menenangkan dulu hatinya. Ia masih kepikiran soal perkataan dari Anin. Apa ia benar bawahan dari Lidya, bukan temannya. Pertanyaan itu terus berputar di kepala Ayana.

_O0O_

Lidya tengah berjongkok di makam seseorang yg membuatnya bisa seperti sekarang. Membuatnya bisa mengerti arti hidup sesungguhnya. Mungkin jika ia tak bertemu dengan orang itu, hidupnya mungkin akan semakin memburuk. Ia yg dulunya selalu berbuat seenaknya padanya, membullynya.

Bahkan tak segan menyakitinya. Dia dengan mudahnya bisa memaafkan dirinya, bahkan menjadikannya sebagai sahabat. Ia tak tau jalan apa yg ada dipikirannya, tapi itu membuatnya sadar. Membuatnya harus mau berubah, berubah untuk menyadari semua. Ia sadar, tak pantas untuknya mendapat maaf dari orang itu. Tapi dengan sukarela, dia mau menjadi tempat ia bersandar. Bahkan semua itu tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi saat ia sudah mulai mengerti. Semua sudah diujung. Dia sudah menemukan jalan terbaiknya, jalan yg penuh dengan cahaya disana.

Lidya menaruh seikat bunga yg ia bawa, diatas makam itu. Air matanya menetes perlahan. Ia tak sanggup mengingat semua kejadian antara ia dan orang itu. Rasanya semua terlalu cepat untuknya. Atau ia yg terlalu lama menyadarinya. Itu hal yg selalu ia sesalkan.

” Vin…gue…maaf maksudnya aku… Aku minta maaf, aku belum bisa tepatin janji aku buat jadi temannya Sinka…dan maaf juga aku bukan orang yg bisa membuat Sinka tersenyum…” ia sadar, hanya pada Viny lah ia mengatakan, aku, kamu. Karena ia merasa selalu nyaman saat mengatakan itu ketika bersama Viny dulu.

Perlahan langkah kaki Lidya menjauhi makam itu. Ia harus segera pulang karena hari sudah semakin sore.

Lidya kembali menghela nafas panjang, ketika ia menyadari tak ada siapapun dirumahnya. Ia tau, memang inilah hidupnya. Dipenuhi rasa sepi. Kapan keluarganya bisa berkumpul, kapan keluarganya bisa liburan bersama, kapan keluarganya mempedulikannya dan kapan semua keinginannya itu terjadi. Itu hanya sebuah ilusi yg bersifat sesaat. Dan entah kapan akan jadi kenyataan.

_O0O_

Sinka berjalan masuk kedalam rumahnya. Rumahnya terasa sangat sepi ketika ia melewati ruang depan, kemudian melewati ruang makan. Tak ada siapapun disana. Sinka kemudian berjalan kearah dapur, karena ia mendengar suara sesuatu dari sana. Langkahnya terhenti ketika ia melihat ada kakaknya disana sedang berkutat dengan alat-alat dapur itu. Dia sedang memasak. Ada sedikit rasa kecewa dari dalam hatinya Sinka. Ia harusnya tau, kakaknya itu sempurna untuknya. Harusnya ia tak perlu iri. Kali ini ia benar-benar ingin menampar dirinya sendiri. Seberapa jauh pikirannya mengenai kakaknya itu.

Seberapa dalam kepeduliannya itu. Ia ingat perkataan dari Anin. Jika seandainya kakaknya tidak ada, apa ia akan senang karena ia yg akan selalu diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Tapi, apa bisa ia tanpa kakaknya, tanpa pelukan kakaknya. Ia yakin ia tak akan bisa tersenyum saat kakaknya itu tidak ada. Ia yakin hidupnya akan jauh lebih buruk
tanpa kakaknya. Sinka perlahan mendekat kearah kakaknya, kemudian memeluknya dari belakang.

Naomi kaget, ada seseorang yg memeluknya dari belakang. Tapi ketika ia menyadari siapa itu. Ia tersenyum.

” kak…maafin Sinka kak…” Sinka masih memeluk kakaknya itu erat,

” kamu ga salah apa-apa?, ngapain minta maaf?” Naomi rasanya ingin menangis kali ini. Bukan kerena ia habis mengiris bawang merah. Tapi adiknya, ia merasa adiknya akan seperti dulu lagi. Seperti yg ia inginkan setiap harinya. Naomi bisa merasakan bahwa Sinka perlahan melepaskan pelukannya.

” kak, aku bantuin masak ya…” Naomi mengangguk cepat. Entah sudah seberapa lama dirinya memandangi adiknya yg kini ikut masak disebelahnya. Rasanya ia sudah lama sekali tak melihat adiknya itu tersenyum seperti ini. Dan ia menyesalkan dirinya yg cuek dalam beberapa hari terakhir ini.

Sekarang meja makan dihiasi oleh senyum dari kakak beradik itu. Canda tawa kembali menghisai meja makan itu. Walau Naomi tau, ini tak sesempurna dulu. Tapi ia berharap semua akan segera kembali secara perlahan.

Seusai membersihkan meja makan. Kini langkah Naomi menuju kamarnya. Ia ingin beristirahat malam ini. Badannya benar-benar terasa lelah hari ini. Ia membuka pelan pintu kamar tidurnya kemudian menutupnya kembali dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.

# bersambung…

@sigitartetaVRA

Gimana dengan part ini?, masih mau lanjut…

Maaf bila ada kesalahan dari segi penulisan, tanda baca atau alur cerita…atau dari segi apapun. Saya hanya manusia biasa yg jauh dari kata sempurna. 🙂

Silahkan kritik dan sarannya…

Iklan

2 tanggapan untuk “Sahabat (story version) part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s