Silat Boy : Hari Keempat Part 16

CnJGPUtWgAEeomp

Hari keempat, kini Kak Ve mengajarkan sikap pasang dalam Silat dan
latihan kuda-kuda menggunakan delapan arah mata angin. Pertama Kak Ve
mengajarkan sikap pasang terlebih dahulu.

Kak Ve langsung mengajarkan empat sikap pasang sekaligus. Rusdi
berusaha mengingat gerakan-gerakannya, walaupun sedikit sulit. Tapi
semangatnya masih menggebu.

Sikap pasang satu, yaitu sikap posisi badan tegak dengan kedua tangan
disamping dalam keaadaan siap dan kedua kaki dibuka selebar bahu.
Hampir mirip seperti sikap siap PBB, bedanya hanya di kaki.

Sikap pasang dua, yaitu sikap badan tetap pada posisi tegak. Kaki
dibuka selebar bahu, kedua tangan mengepal dan sejajar dengan
pinggang. Hampir mirip seperti kuda-kuda dalam Kungfu, bedanya hanya
di posisi kaki.

Sikap pasang tiga, yaitu sikap badan pada posisi tegak lurus. Kaki
dibuka selebar bahu, tangan diangkat sejajar mata, dan posisi silang
dengan kepalan tangan terbuka.

Sikap pasang empat, yaitu kaki dibuka selebar bahu, tangan diangkat
sejajar mata, dan posisi silang dengan kepalan tangan terbuka. Dibuka
lagi dan tangan sudah terkepal.

Mereka melakukan sikap pasang dengan sempurna. Rusdi masih
bersemangat, tidak ada alasan baginya untuk mundur di tengah jalan.
Walaupun latihan ini amat membuatnya lelah.

Jika dibandingkan dengan kuda-kuda, latihan sikap pasang jauh lebih
mudah. Itulah sebabnya Rusdi bisa melakukannya dengan sempurna, hanya
dalam sekali percobaan.

Gerakan selanjutnya adalah latihan kuda-kuda menggunakan delapan arah
mata angin. Ia harus siap, ini latihan kuda-kuda lagi. Rusdi sangat
siap, ia pasti bisa melakukan gerakan selanjutnya.

Gerakan pertama sampai gerakan keempat dengan menggunkan kuda-kuda
samping. Yaitu kaki kiri di depan dan kaki kanan di belakang. Posisi
badan dalam keadaan lurus. Kaki kiri di depan, kaki kanan di belakang.
Posisi dalam keadaan serong ke kiri dan begitu juga sebaliknya.

Gerakan kelima sampai gerakan ke delapan menggunakan kaki depan di
depan dan kaki kiri di belakang. Keadaan dalam posisi kaki kiri di
luruskan dan kaki kanan ditekukkan. Posisi badan sedikit condong ke
depan dan begitu juga sebaliknya.

Arah gerakan kuda-kuda menggunakan delapan arah mata angin adalah arah
belakang, serong kiri belakang, samping kiri, serong kiri depan,
depan, serong kanan depan, samping kanan, serong kanan belakang.

Terdengar mudah jika Kak Ve yang mempraktekannya. Tapi jika Kak Ve
yang mengatakannya gerakan itu terlihat amat sulit dilakukan. Seperti
bukan gerakan dasar dalam Pencak Silat.

Hari keempat terasa amat berat bagi Rusdi. Tidak seperti hari
sebelumnya, hari keempat ia merasakan sakit yang teramat. Karna hari
ini ia berlatih langsung bersama Kak Ve.

Saat Rusdi sibuk latihan, ia tidak sadar bahwa sejak tadi Epul dan
Naomi mengawasinya. Bahkan Kak Ve pun tidak menyadarinya. Mereka
melihat betapa kerasnya latihan yang dijalani oleh Rusdi.

“Boim sedang bersantai-santai, sementara Rusdi sedang menjalani
latihan keras. Inilah kesempatan bagus bagi Rusdi untuk
mengalahkannya.” Naomi kemudian pergi meninggalkan rumah Kak Ve,
disusul oleh Epul.

Beberapa jam kemudian, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Rusdi merasakan sakit yang teramat pada kakinya. Tapi ia terlihat
biasa saja, ia tidak ingin Kak Ve tahu.

“Kak, kemaren kakak kemana?” tanya Rusdi.
“Kemaren kakak ada, cuma gak keluar aja. Kakak liat kamu latihan
kuda-kuda dari dalem rumah.” Kak Ve terkekeh, Rusdi hanya menatapnya
datar.

“Udahlah, yuk kak lanjut latihan lagi!” Rusdi menarik tangan Kak Ve.
“Nanti dulu, baru aja istirahat 2 menit.” balas Kak Ve.
“Aku masih semangat latihan!” Rusdi lalu berlatih sendirian.

Kak Ve hanya menggeleng pelan. Lihatlah, betapa semangatnya anak itu.
Keinginan yang amat besar untuk bisa beladiri mengalahkan rasa
lelahnya. Kak Ve kemudian berdiri, lalu menyusulnya.

Mereka kembali melanjutkan latihannya. Berlatih kuda-kuda Silat
menggunakan delapan arah mata angin. Berlatih hingga matahari
menjejakkan sinarnya di ufuk Barat.

Selama berjam-jam Rusdi amat serius berlatih. Ia hanya istirahat dua
kali untuk minum dan sembahyang. Setelah itu kembali berlatih. Bahkan
malam hari pun ia masih berlatih.

Sungguh latihan yang amat keras. Ia hanya sedikit berbicara pada Kak
Ve. Sisanya ia habiskan untuk meniru gerakan Kak Ve. Semangatnya masih
membara bagai gejolak api.

Langit sudah berwarna jingga, hari sudah sore. Rusdi kemudian
menghentikan latihannya. Dan pamit pulang pada Kak Ve. Besok ia akan
kembali, itulah rutinitas barunya sebulan kedepan.

“Kak, aku pamit pulang dulu!” ucap Rusdi, setelah ia membereskan
barang-barangnya.
“Iya, hati-hati di jalan.” balas Kak Ve, lalu Rusdi melambaikan tangannya.

Kak Ve hanya diam menatap punggung anak itu yang semakin menjauh. Lalu
ia masuk ke dalam rumahnya. Rusdi benar-benar berlatih keras, Epul dan
Naomi amat terkesan pada kegigihannya.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s