Roulette Love Part 11

 

“Key untuk nanti dekor belakang udah kan?” tanya Nobi.

“Yop, tinggal dipake kok, kita giliran pertama kan jadi nanti langsung bisa dipasang,” ujar Keynal.

“Oke.. Ngg gue udah denger mengenai Sinka, itu sangat disayangkan, dan kalo nggak salah jadinya Ayana yang ngurus? Gimana bajunya?” tanya Nobi.

“Udah ada di ruang Bonita semua kak, besok tinggal dibawa ke sini pas hari H,” ujar Ayana.

“Oke sip. Lightning? Sound? Gimana?” tanya Nobi kepada Farish.

“Beres lha, udah di recheck ampe tiga kali tadi,”

“Sip. Pemain? Siap ya!? Besok kalian harus memberikan penampilan terbaik, oke?”

“Iya siaaap Noob!” ujar para pemain.

“Oke kalau begitu gladi bersi cukup sampe sekian, tidur yang nyenyak karena besok jam 7 pagi kalian sudah harus ada di sini, kita bisa prepare dua jam sebelum dimulai. Paham?”

“Pahaaaaam!!”

“Yak Bubar!”

Baik Bonita maupun Red Camisa membubarkan dirinya. Semua telah rapih disusun. Jadi mereka tidak perlu beberes lagi.

~

“Ngg.. Ve,” panggil Keynal.

“Ya?”

“Mau bantuin aku nggak?”

“Apaan Key?”

Keynal mendekat dan berbisik kepada Ve.

“Ngg.. Agak susah sih sebenernya, tapi mungkin emang itu baik,” ujar Ve.

“Yaah bantuin yaa,” ujar Keynal sambil menangkrupkan kedua telapak tangannya memohon.

“Ngg.. Aku bicarain sama yang lainnya dulu deh, nanti aku kabarin kalo emang pada bisa,”

“Oke sip! Tugas aku jadi lebih ringan deh hehe, makasih Ve, papai..” Keynal menyempatkan diri mencubit pipi bulat Ve.

Yang dicubit malah manyun manyun lucuk.

“Hmm..”

Ve menoleh ke sampingnya saat mendengar suara berdeham.

“E.eh.. Kak Melo, sumpah aku nggak ada apa-apa sama Key,” ujar Ve sambil mengacungkan dua jarinya membentuk V.

“Iya..” Melody hanya mengangguk kemudian melangkah keluar dari ruangan theater.

Sebelum keluar Melody celingukan seperti mencari seseorang. Tapi sepertinya yang ia cari sudah tidak berada di situ. Melody menghela nafas dan melanjutkan langkahnya.

Begitu ia satu langkah keluar dari pintu theater, matanya ditutup oleh sepasang tangan.

“Aw. Siapa ini!?” ujar Melody sambil berusaha melepaskan tangan yang menutupi matanya.

“Hahaha.. Sensi amat cebol,” Melody yang mengenali suara itu langsung melayangkan sikutnya ke sumber suara.

Dan… Sikutan itu tepat mengenai perut.

“Agh…” tangan itu terlepas. Melody mendapatkan kembali penglihatannya.

“Buset.. Kecil kecil tenaganya,” ujar Maul yang kini merintih sambil memegangi perutnya.

“Makanya jangan macem-macem,” Melody melangkah meninggalkan Maul yang masih kesakitan.

“Eeeh.. Tunggu..” Maul mengejar Melody dan menangkap lengannya.

“Hadeuuh.. Apa lagi Maul?”

“Oke oke maaf atas keisengannya.. Ngg.. Cuma mau nanya, kenapa waktu kemarin-kemarin aku telfon terus ngajak kamu makan malem kamunya nggak mau?” ujar Maul.

“Udah malem,”

“Ya tapikan aku yang anter jemput, nanti aku juga izin kok sama orang tua kamu,”

“Males,”

“Hh.. Eh tapi, bukan berarti nggak mau kan?” Maul tersenyum menggoda perempuan kecil di depannya ini. *ralat.. Perempuan Mungil.

“Heh. Denger ya Maul! Kamu pikir, kamu itu siapa? Ngajak-ngajak aku makan malem?”

“Aku? Aku Dyo Maulana, mahasiswa yang kini sukses dengan jualan sepatu, hahaha,” ujar Maul.

Maul melihat senyum tipis Melody.

“Aseek senyum, duuh senyuumnyaaa,” ujar Maul yang tiba-tiba gesrek sendiri.

Senyum itu hilang kembali menjadi raut wajah jutek nan dingin.

“Cut it of, aku cape. Mending kamu pulang. Besok itu hari penting,”

“Hari penting? Kamu mau nembak aku yaaaa? Astagaa.. Jangan jangaaan nanti aku aja yang nembaaak,”

Wajah Melody memerah, entah antara malu dan menahan amarahnya.

“Dyo Maulana!!” teriak Melody sambil menjewer telinga Maul.

“Aduduh duh.. I.iya iya ampuuun,” Maul berusaha melepaskan tangan putih Melody dari telinganya.

“Pepet teruus Ul, kapan lagi bisa dapetin ketuanya ya kan?”

“Yaa lumayan lha.. Meski judes tapi cantik,”

Melody dan Maul menghentikan aktivitas mereka.

Mereka menoleh ke arah Keynal dan Nobi yang sedang berjalan melewati keduanya.

Lagi-lagi wajah Melody memerah.

“Ish! Gara-gara kamu!” ujar Melody.

Melody meninggalkan Maul. Dan kalo ini tanpa sempat Maul cegah.

“Haduh.. Bisa putus telinga gue kalo gini caranya,” ujar Maul sambil mengelus telinganya.

~

“Gue nggak bermaksud ngerebut dari lo Bil,”

“Ya tapi kenapa sih Bob, lo kaga bilang? Maksud gue, jadinya kan gue nggak harus naro hati ke dia,”

“Hh.. Kalo gue bisa jujur dari awal mungkin udah gue ceritain Bil,”

Nabil terdiam.. Ia mencerna kalimat Boby yang baru saja Boby lontarkan.

“Oke intinya.. Gue minta maaf, bukan berarti gue mau ngebohongin kalian semua, tapi emang ada hal yang bisa gue ceritain dan ada hal yang nggak bisa gie ceritain. Sorry karena akhirnya malah bikin lo sakit hati,”

“Yaa ya..” ujar Nabil malas.

“Hadeuh.. Jangan kaya bocah deh, lagian gue yakin lo bisa dengan cepat ngelupain Sinka kok, gue tau gimana lo Bil,” ujar Boby.

“Iye iye bawel lu ah, yaudah gue cuma mau ngebahas ini biar kaga ada masalah sama lo, males juga ribut karena cewe,”

“Iya gue paham,” ujar Boby.

“Yaudah thanks Bob, yaa.. Jagain Sinka ya,”

“Iye, kaga lo suruh juga bakalan gue jagain,”

Nabil nyengir, kemudian ia beranjak meninggalkan Boby di kantin.

~

Sore hari… Di pemakanam..

“Hai.. Aku dateng lagi,”

Farish langsung berjongkok, membersihkan dedaunan yang menutupi kuburan di depannya.

“Maaf ya lagi agak sibuk nih, aku mau ada lomba soalnya, dan kamu tahu? Kakakmu masih saja jutek kepadaku, entahlah karena apa, apa mungkin dia masih berpikir aku penyebab kematian kamu?”

Farish duduk di sebelah makam setelah selesai membersihkannya.

“Kamu selalu bilang kakak kamu itu baik, murah senyum, cantik, peduli, apaan.. Nggak tuh, eh kalo cantik iya sih.. Hehe.. Astaga lisan! Maaf aku bercanda kok, hihi.. Sebenernya aku mau deh baikkan sama kakak kamu, nyeritain semua yang sebenernya terjadi, tapi…. Buat ngedeketin kakak kamu aja, aku nggak berani, atut.. Serem banget..” ujar Farish.

“Iya aku tau, aku playboy, kamu pasti mau bilang, playboy macam apa yang nggak berani ngedeketin cewe ya kan?

Kakak kamu itu beda tau. Mending foto sama macan deh.

Etapi, aku akuin, kakak kamu emang sayang banget sama kamu, itu seriusan.

Sesayang aku ke kamu, atau lebih? Haha..

Andai waktu itu kamu nggak harus jenguk aku ya? Coba aja aku lebih hati-hati jadi nggak usah jatoh dan akhirnya kamu mau jenguk,”

“Maksudnya?”

Farish terkejut dan menoleh ke belakang.

“Me.Melody? Keynal?”

Keynal tersenyum dan melambai ke arah Farish.

“Tadi maksudnya gimana? Lanjutin ceritanya,” ujar Melody.

Melody berjalan mendekati Farish.

“Ya.. I.itu..” Farish malah tergagap. Ia juga bingung melihat adanya Keynal di situ.

“Nanti gue ceritain, sekarang mending lo dulu yang cerita,” ujar Keynal sambil duduk di atas paping sebelah makam Frieska.

“Itu..”

“Buru! Sekarang! Nggak pake gagap!” ujar Melody.

Farish menelan ludahnya dan mengangguk.

“Jadi.. Begini Mel..”

flashback..

“Kamu sakit? Atuhlah kenapaa?”

Farish tersenyum mendengar nada cemas di aeberang telfon sana.

“Aku cuma kecelakaan aja kok sayang, cuma agak keseleo pundaknya, udah itu aja,”

“Ish ai kamu, nggak hati-hati tuh! Yaudah aku ke sana sekarang alamatnya di mana?”

“Waah serius? Seneng dong diejenguk pacar,”

“Nggak usah bercada deh bang,”

“Haha iya neng, tapi serius nggak usah neng, mau ujan juga, terus kamu mau ke sini sama siapa?”

“Temen aku bukan cuma kamu doang Babang!”

“Duh eneng kalo lagi marah.. Yaudah, hati-hati tapi! Aku ada di rumah sakit xcx,”

“Yaudah. Aku ke sana sekarang,”

Telfonpun ditutup sepihak oleh Frieska.

“Main tutup aja,” sunggut Farish.

“Pacar ya kak?” tanya Nabil.

“Hehe iya dong..”

“Yang waktu itu ke rumah kak?”

“Iyaa. Cantik kan?”

“Biasa aja..” jawab Nabil lempeng.

“Buset ini anak kalo ngomong..” Farish yang hendak menjitak kepala Nabil mengurungkan niatnya karena masih sulit untuk bergerak.

Selang dua puluh menit. Frieska belum juga datang.

“Perasaan nggak jauh banget deh rumah Frieska sama RS ini..” ujar Farish.

“Ngedate dulu kali kak,”

“Eh Nabil, lisannya ya tolong, enak aja kalo ngomong!”

Nabil hanya memeletkan lidahnyadan lanjut memainkan game di hpnya.

Hp Farish berbunyi.. Di situ tertera nama Frieska.

“Halo? Kamu dimana kok belum sampe juga?”

“Halo.. Rish..”

“Lha? Senda? Kok lu yang jawab?” tanya Farish. Senda adalah sahabat Frieska yang juga teman Farish. Senda lah yang memperkenalkan Farish dengan Frieska.

“Rish.. Frieska Rish..”

“Eh kenapa? Frieska kenapa?”

“Sorry Rish.. Gue kaga hati-hati bawa motornya. Kita kecelakaan tadi, sekarang Frieska lagi di UGD, tadi dia…”

“Anjing! Lo apain cewe gue Nda!”

Farish yang mendengar itu langsung kalap. Bahkan Nabil terkejut saat kakaknya membentak seperti itu. Ia menghampiri kakaknya dan mengelus punggungnya.

“Ah pokoknya dia sekarang ada di RS dzd.. Kesini Rish buru!”

Tuut..tuut..

Farish langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berlari keluar tanpa memperdulikan teriakan Nabil.

flashback off..

“Dan.. Pas gue sampe RS, terlambat..” ujar Farish.

Melody menatap Farish tidak percaya..

“See? Ada versinya Farish kan?” ujar Keynal.

“Aku pikir kamu yang mencelakai Frieska,”

“Hh.. Gue sayang banget sama adik lo Mel, nggak mungkin gue bakalan nyelakain dia, kalo gue yang nyelakain dia dan sampe ngebuat dia meninggal, gue bisa pastiin saat itu juga gue balalan nyusul dia,” ujar Farish sambil menatap nanar pada batu nisan yang bertuliskan nama Frieska.

“Ya abis.. Kamu dateng kan aku ngeliat perban yang ada di lengan kamu sama perban di pelipis kamu, aku pikir kamu juga kecelakaan dan setau aku Frieska emang berangkatnya sama cowo,”

“Abis kecelakaannya betul, tapi bukan kecelakaan sama Frieska..” ujar Farish.

Hening..

“Oke oke.. Harusnya sekarang udah clear kan? Masalah kalian berdua?” ujar Keynal.

Farish dan Melody saling bertatapan.

“Well.. Maafin gue Mel, gue nggak bisa ngejagain adik lo dengan baik,” Farish mengulurkan tangannya.

Melody menatap Keynal. Keynal mengangguk.

“Maafin aku juga yang udah salah paham,”

Keduanya saling berjabat tangan..

Setelah memanjatkan doa untuk Frieska mereka melangkah menuju mobilnya masing-masing.

“Eh kalian belum cerita kenapa bisa bareng?” ujar Farish.

“Ah anu.. Sebenernya kita..” Keynal yang belum selesai bicara diinjak kakinya.

“Aw! Kenapa sih?” sunggut Keynal.

“Nanti aku yang kasih tau, tapi nggak sekarang,” ujar Melody.

“Ngg.. Oke, tapi kalo kalian emang pacaran, gue juga nggak masalah sih, tapi kasian Sinka tuh, dia kan udah banyak ngebantuin tim kita,” ujar Farish.

Melody tersenyum, ternyata Farish bisa memperdulikan anggota timnya juga.

“Iya nanti aku pikirkan kembali,” ujar Melody.

“Oke.. Gue cabut deh, dah Key, Mel,” Farish melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam mobilnya.

“Ati ati Rish,” ujar Keynal.

Dan mereka meninggalkan pemakanam itu.

~

Hari berganti..

Dan tau artinya apa? Ya! Ini harinya! Hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua kubu dan ke empat tim.

Hari ini mereka akan menampilkan hasil latihan mereka. Kerja keras dan semangat yang selama ini mereka keluarkan untuk di satu hari penuh penentuan ini.

“Gila yang dateng banyak banget,” ujar Maul yang mengintip dari backstage.

“Napa lo gugup?” tanya Mario.

“Gugup? Nggak kok! Siapa yang gugup!?” elak Maul.

Padahal Mario bisa melihat keringat Maul yang deras.

“Hahaha parah muka lo Ul, hahaha,” ledek Mario.

“Diem lo ah!”

“Oke oke all crew merapat merapat!” ujar Nobi.

Semuanya berkumpul membentuk lingkaran.

“Ini adalah hari kita! Hari yang ditunggu sekian lama! Latihan kita akan dibayar hari ini dengan senyum puas dari penonton. Tampilkan yang terbaik! Buang semua gugup dan percaya pada diri masing-masing,” Nobi menoleh ke arah Keynal dan Melody. Keduanya mengangguk.

“Red Camisa!!”

“HOY!!”

“BONITA!!!”

“YAA!!”

“Red Camisa Bonita!” ujar Keynal dan Melody bersamaan.

“Fight fight fight and Win!!”

~

Ruang theater mulai meredup..

“Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang gadis cantik yang baik hati. Gadis itu bernama Melody..

Kebaikan hatinya membuat semua orang menyayanginya bahkan hewan-hewan menyayanginya juga, terutama dua sahabatnya Okta dan Gre. Mereka mau melakukan apa saja untuk Melody sahabatnya.”

Suara adem Shani menggema di ruang theater. Shani ditugaskan sebagai narator untuk pertunjukkan hari ini.

“Hari yang cerah yaa..” ujar Melody yang memasuki panggung dengan membawa ember penuh dengan pakaian.

Okta yang berperan sebagai tikus mengangguk. Begitu juga dengan Gre yang posisinya bertengger di atas kursi. Okta duduk di bawah Gre sambil memperhatikan Melody yang sedang bekerja menyetrika bajunya.

“Okta, tolong ambilkan pengharum pakain itu dong,” ujar Melody. Okta mengangguk dan memberikan pengharum itu kepada Melody.

Melody berdendang pelan menandakan suasana hatinya yang sedang cerah secerah hari ini.

Okta yang cukup ribet dengan pakaian tikusnya susah payah saat ia ingin kembali mendekati Gre.

“Melooodyy!!!”

Datanglah dari sisi panggung kedua orang perempuan mendekati Melody.

“Halo Kak Shania, Halo Kak Beby, hari ini cerah yaa..” ujar Melody.

“Cerah cerah, palamu cerah! Bajuku mana!? Sudah selesai kau seteika?” tanya Boby yang berperan sebagai Beby saat itu. Menggunakan wig panjang. Cukup cantik ternyata.

“Tau. Udah dari sejam yang lalu juga! Mana siniin. Hari ini ada acara penting tau!” ujar Shania.

“Oh.. Iya ini kak,” ujar Melody sambil menyerahkan kedua pakaian saudarinya itu.

“Hmm? Bau apa ini!?” pekik Shania.

“Kamu menyemprotkan apa pada pakaian mahalku!?” tanya Shania.

Shania kemudian melihat sebotol penyemprot… nyamuk?

“Ya ampun!! Kamu menggunakan ini!? Meeelooodyyy!!!!” Shania makin keras menjerit.

Melody pun membelalakkan matanya, ia tidak menyadari kalau yang ia gunakan adalah penyemprot nyamuk. Ia melirik ke arah Okta dan Gre yang sedang bersembunyi di bawah meja.

“Seriuusan!? Kamu pake ini Melody!? Kok kamu bego banget sih!?” ujar Beb.. Eh Boby..

“Ya.. I.itu.. Ma.maaf kak aku nggak tau.. Aku nggak..”

“Halaaah! Kamu sengaja kan!? Biar kita-kita nggak jadi bisa pergi ke istana hari ini!?” ujar Boby.

Melody menggeleng, buliran air mata mulai menumpul pada kantung matanya.

“Mamaaaaaaaah!!!” Teriak Shania.

Melody makin menunduk. Tamatlah riwayatnya hari ini.

“Masuklah seorang Ibu nan cantik rupawan..” ujar Shani dengan nada yang dibuat selembut mungkin.

“Aduh aduh! Kenapa sih anak-anak mamah pagi-pagi begini malah ribut!?” tanya Veranda.

“Ini Bu! Lihat!? Masa baju aku disemprot sama penyemprot nyamuk!? Kan Bauuu.. Mana hari ini aku sama Beby mau ke istana kan!?” rengek Shania.

“Astaga Melody!! Kamu bisa kerja tidak!? Hanya seperti itu saja tidak becuus!” Ve mendekat ke arah Melody. Ia menjambak pelan rambut Melody. Tapi karena Melody memeragakannya sangat menghayati, penonton pun bersorak tidak terima saat Melody dijambak seperti itu.

“Ampuun Mah, nanti Imel cuci lagi.. Biar Imel setrikain lagii..” pinta Melody.

“Iih! Waktunya nggak cukup, belum ke salon dulu! Aaaah sebel aaaah..” rajuk Shania. Boby juga ikutan menyilangkan tangannya di depan dada.

“Maaah beliin yang baru yang paling bagus! Yang paling mahal!! Sekaraang!” rengek Boby.

Ada beberapa penonton yang terkekeh geli, terutama fans Boby.

“Duuh.. Iya iya. Nanti beli yaa.. Dah jangan cemberut gitu dong anak anak Mamah..” ujar Veranda sambil memeluk Shania dan Boby.

“Melody! Hari ini kamu nggak boleh keluar rumah! Kamu harus membersihkan rumah ini sampai tidak tersisa debu sedikitpun!” titah Veranda.

“Tapi Mah, Imel juga mau ke istana malam ini,” ujar Melody.

Veranda mendelik. Kemudian terrawa meremehkan, begitu juga dengan Boby dan Shania.

“Kamu!? Pembantu seperti kamu mau ketemu pangeran!? Ngaca Mel!” ujar Shania.

“Tapi Mah…” Melody menunduk.

“Tidak! Kamu harus membersihkan rumah ini!” ujar Veranda.

“Dadaaah Mbok Melody,” ledek Boby.

“Setelah kepergian Ibu tiri dan kedua saudarinya, Melody terduduk.. Menangis tersedu.

Okta dan Gre keluar dari persbunyiannya. Mereka berusaha menghibur Melody.

Okta dan Gre saling memberi kode.

Gre mengangguk, ia mengintip apakah Ibu dan kedua saudari Melody sudah pergi dari rumah atau belum.”

Gre mengikuti arahan Shani. Ia mengintip dari balik kain hitam di bagian sisi panggung.

Gre mengacungkan jempolnya kepada Okta.

Okta mengangguk dan menepukkan dadanya. Memberi kode kepada Melody kalau ia akan membantunya.

“Kamu akan membantuku?” tanya Melody.

Okta mengangguk.

“Terimakasih sahabat baikkuu.” Melody memeluk Okta. Untung Okta dalam keadaan duduk.

Dentuman musik mulai terdengar. Membawa penonton ke dalam suasana enerjik. Beberapa tikus pun keluar yang lain dan tak bukan adalah Mario juga Gaby yang memang tidak mendapat peran khusus.

“Dibantu dengan teman teman imutnya, Melody bisa menyelesaikan pekerjaan yang harusnya selesai dalam dua hari menjadi selesai dalam waktu delapan jam..

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Pertanda pesta sudah berlangsung di istana sana..”

“Hh.. Aku ingin sekali menuju istana itu,” ujar Melody.

Gre yang mendengar itu mulai memasang mimik prihatin.

Kemudian ia berlari keluar dari sisi panggung.

“Gre mau kemana?” tanya Melody.

Okta yang sedang berada di sebelahnya hanya tersenyum manis.

Tak lama Gre kembali bersama Nabil yang sudah sepaket dengan pakaian Ibu perinya.

“Gre? Ini siapa?” tanya Melody.

“Perkenalkan nona manis, aku Ibu Peri,” ujar Nabil dengan gaya sok imut.

Tentu saja itu mengundang gelak tawa dari penonton.

“Aaah kak Nabiiil!! Jadi cewe juga lucuuu,” teriak adik tingkat Nabil.

“Iya iya.. Lucu bangeet, eh tapi yang jadi pangeran siaapa yaa?” tanya teman di sebelahnya.

“Oh iya!? Aku nggak tau,”

“Yeee.. Kirain tau,”

Kembali ke atas panggung.

Nabil kini sedang mengayunkan tongkat sihirnya, berusaha merubah cangkir teh menjadi kereta kencana yang cantik.

Keynal juga Farish yang sudah siap berlari sambil membawa kereta kencana 2 dimensi yang dibuat menggunakan triplek.

“Ganti set ganti set,” perintah Nobi. Semuanya mengangguk.

Di belakang stage kini tinggal Nobi yang tersisa. Juga Shani yang membacakan narasi.

Sisanya mulai mengenakan topeng dan berdansa.

Sesungguhnya Shani agak keberatan karena ia juga ingin berdansa, tapi apa boleh buat.

Melody datang saat pesta dansa di mulai.

Lampu menyorot ke arahnya yang kini mengenakan gaun kuning cerah. Dan juga topeng yang menutupi sebagian wajahnya.

Paras cantiknya makin amat sangat terpancar. Semua mata terpana melihat Melody dengan senyum manisnya.

Musik mulai mengalun lembut.

“Me.melody?” pekik Shania yang langsung dibekap oleh Boby agar tidak berisik.

“Jangan ngarang Shan?” ujar Boby.

“Tidak.. Itu tidak mungkin,” ujar Veranda. Kedua bersaudara itu mengangguk setuju.

Maul sang pangeranpun muncul.

Lampu juga menyorot ke arahnya. Asap biru yang disiapkan Keynal mengepul perlahan menutupi lantai panggung

“Cantik…” ujar Maul tanpa sadar.

Nobi yang berada di sisi berlawanan dengan Maul memberi kode agar Maul mendekati Melody dan melanjutkan adegan selanjutnya.

Maul tersadar, ia berdeham pelan. Kemudian melangkah mendekati Melody.

“Maukah kau berdansa denganku?” ujar Maul gentle.

Melody tersenyum dan mengangguk.

Mereka berdua berjalan menuju tengah panggung.

Dengan lembut tangan Maul merengkuh pinggang Melody. Tangan Melody pun merangkul leher Maul. Mengalung manja di sana.

Keduanya mulai berdansa. Mengikuti alunan lagu yang sendu. Menghanyutkan keduanya bak berada dalam duniad mimpi.

“Kamu cantik…” bisik Maul, tentu saja tanpa kedengaran anggota lainnya.

“Thanks..” ujar Melody sambil tersenyum.

Mata keduanya bertemu. Entah siapa yang memulai duluan dan karena terbawa suasana juga, keduanya saling mendekatkan wajah.

Maul menatap Melody sendu. Degup jantungnya mulai tak beraturan. Begitu juga Melody.

Ia seperti terhipnotis oleh tatapan Maul.

.

.

.

TING TONG!!!

Suara jam terdengar keras menyadarka  keduanya. Melody yang mengingat perannya berdehem mengatur degup jantungnya.

“A.aku harus pulang,” ujar Melody.

“Lho kenapa?”

“I.itu..”

Dentuman jam kembali terdengar tanda tengah malam.

“Aku harus pulaang..”

“Tunggu.. Aku belum tau namamu,”

Tapi Melody tidak memperdulikannya, ia berlari terus. Seperti skenario Melody meninggalkan sebelah sepatunya.

Maul yang mengejar itu berhenti saat melihat sepatu cantik milik perempuan yamg berhasil mencuri hatinya.

“Ganti..ganti…” ujar Nobi.

Shani mulai kembali bernarasi..

“Melody yang ternyata ketahuan menyelinap keluar diberi hukuman tidak boleh keluar dari loteng. Ibu tirinya yang kejam sama sekali tidak memberi makanan kepada Melody.

Melody kini hanya bisa dihibur dengan teman-teman hewannya..”

Set berganti..

“Tiga hari kemudian Pangeran Maul tiba di rumah Veranda. Veranda yang mengetahui pangeran menghampiri rumahnya menjadi heboh, menyiapkan segala sesuatunya agar terlihat mewah dan pantas untuk pangeran.

Begitu pula dengan kedua anaknya,”

Shani menyudahi narasinya.

“Silahkan pangeran,” ujar Veranda manis.

Maul mengangguk dan mengeluarkan sepatu yang ia bawa untuk dicocokkan dengan kaki kedua anak Veranda.

Ternyata tidak ada yang muat untuk ukuran sepatu itu.

“Apakah tidak ada lagi orang di rumah ini?” tanya Maul.

“Tidak ada pangeran..” Shania dan Boby mengucap bersamaan.

“Hh sayang sekali..”

Okta yang melihat itu segera memasuki Set. Ia mengambil sepatu yang di pegang oleh Maul.

“Tangkap tikus itu!” perintah Maul. Nino, Andrew dan Mario yang bertugas sebagai pengawal Maul mengangguk dan mulai mengejar Okta.

Sedangkan Veranda Boby dan Shania menjerit karena ketakutan akan tikus.

Melody yang saat itu berhasil keluar dari loteng (ceritanya) masuk ke dalam set dari sisi satunya.

Okta yang melihat itu berlari menuju Melody.

Maul yang tadi mengejar terpaku saat melihat sosok Melody.

“Engkau siapa?” tanya Maul.

“Namaku Melody tuan.. ” ujar Melody sopan sambil membungkuk.

“Melody… Ah.. Maukah kau mencoba memakai sepatu ini?” tanya Maul.

“Tu.tunggu pangeran. Dia bukan siapa-siapa di rumah ini!” ujar Veranda.

“Aku tidak peduli,”

Maul terus menatap mata Melody dalam-dalam. Perasaan itu kini semakin nyata.

“Tapi..”

“Tolong.. Pakailah,” ujar Maul.

Melody mengangguk.

Dan tanpa kesulitan, sepatu itu terpasang dengan pasnya di kaki Melody.

Maul sumringah. Senyumnya mengembang.

“Melody, apakah kau yang semalam berdansa denganku?” tanya Maul.

Melody mengangguk malu-malu.

“Akhirnya. Akhirnya aku menemukannmu lagi!” ujar Maul girang.

“Melody, menikahlah denganku. Jadilah permaisuri dan bertahta lah dalam hatiku,” ujar Maul sambil menggenggam tangan Melody.

Layaknya pangeran, Maul bertumpu dengan satu kaki, kemudian mencium kedua tangan Melody.

“Bagaimana?” tanya Maul.

Melody menggigit bibir bawahnya. Kemudian mengangguk.

Maul tersenyum lebar, ia bangkit dan membuka jarak antara lengan dan perut sampingnya. Melody yan mengerti langsung melingkarkantangannya di lengan Maul.

Musik pengiring kebahagiaanpun menggaung dalam ruang theater.

“Dan akhirnya… Mereka hidup senang dan bahagia di istana..

Selesai…”

-TBC-

 

-Falah Azhari-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s