Silat Boy : Latihan Silat Part 14

Pulang sekolah, Rusdi langsung menemui Kak Ve. Kak Melody sengaja
tidak menjemputnya, karna mulai hari ini Rusdi tidak mau dijemput
lagi. Tapi ia masih mau diantar ke sekolah oleh Kak Melody.

“Kak Ve!” panggil Rusdi di depan rumah Kak Ve.
“Iya, ada apa?” Kak Ve baru saja keluar.
“Aku sudah siap!” Rusdi masih bersemangat.

Kak Ve mempersilahkan Rusdi untuk masuk ke dalam rumahnya. Kak Ve
menuju belakang rumahnya, diikuti oleh Rusdi. Rusdi melihat seisi
rumah itu, masih sama seperti kemarin.

Sesampainya di belakang rumah, Rusdi dibuat kaget karenanya. Betapa
terkejutnya saat ia melihat pemandangan disana. Itu seperti tempat gym
versi tradisional.

Disana ada berbagai macam peralatan latihan. Seperti double stick,
tongkat, katana mini, golok dll. Ada juga kendi yang digantungkan
disana. Dan beberapa peralatan tradisional lain.

“Wah!” Rusdi amat terkejut.
“Inilah pekerjaan kakak selama ini. Butuh waktu lama untuk membuat
semua ini. Kakak hanya pegawai pabrik, tapi gaji kakak lebih dari
cukup.” Kak Ve tersenyum bangga.

“Hari pertama bukan latihan disana. Kau harus latihan kuda-kuda dulu.”
ucap Kak Ve.
“Tapi kak, waktu aku cuma sebulan untuk latihan.” balas Rusdi.

“Sebulan? Emang kamu mau kemana?” tanya Kak Ve.
“Aku ditantang Boim dalam pertandingan Silat di sekolah yang diadakan
setiap 6 bulan sekali.” Rusdi menundukkan kepalanya.

“Aku menerima tantangan itu.” sambungnya.
“Hebat! Kakak bangga sama kamu! Akhirnya kamu bisa melawan rasa takut
itu.” Kak Ve menepuk bahu Rusdi.

“Tapi waktu sebulan itu sangat singkat. Kamu yakin bisa ikut
pertandingan itu?” Kak Ve berusaha menyakinkan.
“Aku sangat yakin!” ujar Rusdi penuh semangat.

“Baiklah, mulai hari ini kau akan menjalani latihan keras. Siapkan
mentalmu, ayo buat Boim dan teman-temannya malu!” Kak Ve terlihat
antusias menyemangati murid barunya.

“Pertama kau akan belajar sikap kuda-kuda. Lihat ini, ini namanya
kuda-kuda depan.” Kak Ve mempraktekan posisi kuda-kuda depan dalam
beladiri Pencak Silat.

Kuda-kuda depan dibentuk dengan posisi kaki depan ditekuk dan kaki
belakang lurus. Telapak kaki belakang serong ke arah luar. Berat badan
ditumpukan pada kaki depan, badan tegap dan pandangan ke depan.

Rusdi lalu mencobanya, tidak terlalu sulit. Itu masih gerakan pemula,
teknik dasar Pencak Silat. Kak Ve kemudian hendak pergi meninggalkan
Rusdi. Lalu ia berkata pada Rusdi.

“Tahan posisi itu selama 30 menit. Jangan ada gerak tambahan!” ucap Kak Ve.
“Lakukan dengan serius jika kau ingin mengalahkan Boim.” bisik Kak Ve
tepat di depan telinga Rusdi.

Rusdi benar-benar melakukannya dengan serius. Setelah Kak Ve
meninggalkannya, ia benar-benar terlihat serius mempraktekan kuda-kuda
depan. Tidak ada gerak tambahan, ia hanya diam mematung.

Di dalam rumah, Kak Ve sedang bersantai. Ia sama sekali tidak peduli
pada Rusdi. Kak Ve percaya padanya, jadi ia tidak harus mengawasinya.
Walaupun Rusdi berkali-kali ada gerak tambahan.

Tiga puluh menit kemudian, Kak Ve keluar dari rumahnya. Ia melihat ada
keanehan. Awalnya Rusdi memakai seragam sekolah, tapi kali ini ia
hanya memakai baju putih polos.

“Bukannya tadi kamu pake seragam sekolah, ya?” tanya Kak Ve, peluh
bercucuran membasahi Rusdi.
“Rusdi!” panggil Kak Ve, Rusdi masih fokus dengan kuda-kuda depan itu.

“Udah 30 menit.” ucap Kak Ve, akhirnya Rusdi melemaskan tubuhnya.
“Haaah, tadi aku lepas seragamnya. Takut kotor kak, maaf ada gerak
tambahan.” balas Rusdi.

“Lain kali jangan ada gerak tambahan lagi. Oke yang kedua adalah
kuda-kuda belakang. Liat kakak, ini namanya kuda-kuda belakang.” kini
Kak Ve mempraktekan posisi kuda-kuda belakang.

Berat badan kuda-kuda belakang di bentuk dengan bertumpu pada kaki
belakang. Tumit yang dipakai sebagai tumpuan tegak dengan panggul.
Badan agak condong ke depan, kaki depan di injit. Menapak dengan tumit
atau ujung kaki.

Seperti sebelumnya, Kak Ve meninggalkan Rusdi dengan konsentrasi
kuda-kuda belakang. Tiga puluh menit waktu yang lama. Dan satu jam
dengan posisi tidak bergerak itu amat sulit baginya.

Berkali-kali Rusdi hilang fokus, dan ada gerak tambahan. Tapi ia tetap
konsentrasi dengan kuda-kuda belakang. Apapun yang terjadi, ia harus
bisa menguasai teknik dasar Pencak Silat.

Setengah jam kemudian, Kak Ve keluar dari rumahnya. Ia berjalan santai
menuju halaman belakang rumahnya. Rusdi masih disana, ia sangat fokus
dengan kuda-kuda belakang itu.

“Oke, yang ketiga adalah kuda-kuda tengah. Kuda-kuda tengah dibentuk
dengan kedua kaki ditekukan dengan titik berat badan berada di
tengah.” Kak Ve mempraktekan kuda-kuda tengah.

Rusdi masih belum menyerah, ia mencoba kuda-kuda tengah. Kak Ve
tersenyum simpul, lalu pergi berlalu meninggalkan Rusdi. Lihatlah anak
itu, Kak Ve salut dengan ketekunannya.

Satu setengah jam tanpa istirahat. Rusdi hampir saja pingsan. Ia
berada tepat di bawah sinar matahari. Pandangannya kabur,
konsentrasinya hilang. Tapi ia berusaha melawan, ia kembali fokus.

Sepuluh menit lagi, ia harus bisa menahan dirinya. Gelap, ia sudah
tidak melihat apa-apa lagi. Pandangannya gelap, ia hampir pingsan.
Lima menit kemudian ia pingsan.

Rusdi kehilangan kesadarannya, ia terlalu memaksakan diri. Lima menit
kemudian, Kak Ve datang. Betapa terkejutnya ia saat melihat Rusdi
sudah tergeletak di tanah. Rusdi pingsan, lalu Kak Ve membawanya ke
dalam rumah.

Beberapa jam kemudian, Rusdi akhirnya sadar. Lalu Kak Ve memberinya
segelas air putih. Rusdi berkali-kali mengedipkan matanya dengan kuat
karna pandangannya masih terlihat samar-samar.

“Kak, aku kenapa?” tanyanya.
“Kamu pingsan, kamu gagal di kuda-kuda tengah.” jawab Kak Ve kecewa.
“Maaf kak.” Rusdi terlihat sedih, ia telah gagal menahan posisi
kuda-kuda tengah.

“Jangan sedih, besok masih bisa dicoba.” Kak Ve menyemangatinya.
“Besok ajari aku semua kuda-kuda dasar Pencak Silat.” Rusdi kembali bersemangat.

“Iya besok kita latihan lagi. Sekarang kamu pulang aja dulu.” ujar Kak Ve.
“Pulang? Mending latihan lagi.” balas Rusdi.
“Ini udah jam 5, besok kita lanjut lagi.” Kak Ve menepuk pundaknya.

“Aku pingsan lama banget.” Rusdi menundukkan kepalanya.
“Tapi besok aku tidak akan pingsan lagi. Pulang dari sini aku akan
coba kuda-kuda depan sama kuda-kuda belakang.” sambungnya.

Rusdi kemudian membawa seragamnya yang tergeletak di lantai. Lalu
menggendong tas nya. Setelah itu ia pamit pulang pada Kak Ve. Kak Ve
hanya tersenyum melihat semangat Rusdi yang membara.

“Hari pertama latihan memang terasa berat. Tapi hari-hari selanjutnya
tidak akan terasa apapun jika kau menikmati latihannya. Kau harus
kuat, tunjukkan semangatmu!” ucap Kak Ve dalam hati, melihat kepergian
Rusdi.

Rusdi semakin jauh, kemudian hilang tidak terlihat. Kak Ve lalu masuk
ke dalam Rumahnya, menutup pintu itu secara perlahan. Besok pagi ia
harus bekerja, Rusdi pun harus sekolah.

Mereka akan bertemu kembali besok siang. Besok hari kedua Rusdi
latihan Silat, benar-benar hari yang sibuk. Tapi ia tidak boleh
mengeluh, ia harus malu pada semangat Rusdi belajar beladiri.

BERSAMBUNGStory By : @RusdiMWahid

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

numpang bikin note Thor :3

So, gue selaku admin pengen ngasih tau doang……
Ada yang seru loh #SATUMINGGULAGI !

Penasaran? Bisa kepoin page ini atau tanya-tanya kesini :3

img_20160727_235857.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s