Roulette Love Part 10

 

Paginya Melody sudah berada di ruangan Bonita. Seluruh anggota Bonita berkumpul.

Mereka yang tidak tahu ada apa dan kenapa jelas bingung melihat ketua mereka yang sudah berdiri dan melipat tangannya.

Begitu masuk mereka hanya di suruh duduk di sofa.

Susasana mencekam..

“A.. Kak Mel.. Ada apa ya? Pagi-pagi gini manggil kita semua?” tanya Ve yang sedari tadi sudah dilirik oleh anggota lainnya untuk membuka pembicaraan.

Melody menatap Ve, yang ditatap malah menunduk ketakutan.

Melody -masih dengan wajah datar- mengeluarkan hpnya kemudian meletakkannya di meja.

Semuanya saling tatap kemudian tanpa dikomando melongokkan kepalanya untuk melihat hp Melody.

Semuanya membelalak. Semuanya tidak percaya dengan apa yang ada di video itu.

“Si.sinka?” ujar Ve terbata.

Kini mata tertuju pada Sinka.

“Ini kamu Sin? Seriusan!?” tanya Shania. Ia memonopoli hp Melody agar bisa melihatnya lebih dekat.

Sinka menunduk, tapi di hatinya juga ia bingung. Siapa yang merekam itu? Dan kenapa rekamannya bisa ada di hp Melody.

“Jawab Sin?” ujar Ve.

“Kak Sinka? Ini bohongan kan?” tanya Gre.

Sinka menggeleng lemah.

“Jadi Kak Sinka beneran pacaran sama Boby?” tanya Ayana.

Sinka kemudian menatap Melody, Melody masih acuh dan tidak bersuara.

Sinka mengangguk menjawab pertanyaan Ayana.

“Yaaah kak Sinka? Kok gitu siih…” Viny menyenderkan badannya di sofa. Jujur tidak hanya ia yang kecewa.

Sinka tersenyum lirih. Ia tau resikonya. Jika sudah begini..

Sinka bangkit dari tempat duduknya.

Ia berjalan ke arah Melody.

“Ma..maaf kak aku melanggar aturan di sini,” ujar Sinka gemetar menahan tangisnya.

Kemudian ia menoleh ke arah anggota Bonita yang lainnya. Ia membungkukkan badannya.

Ia menoleh kembali ke arah Melody, berharap masih ada kesempatan untuk dirinya.

Namun sayang, Melody teguh dalam pendiriannya. Ia menunjuk pintu keluar mengisyaratkan bahwa Sinka dikeluarkan dari Bonita.

Sinka mengangguk paham, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.

“Terima kasih kak,” ujar Sinka. Kemudian ia keluar dari ruangan Bonita.

Sepeninggalan Sinka suasana di ruangan Bonita hening.

“Oke.. Ngg.. Ak laper nih mau sarapan, ada yang mau nitip?” tanya Gaby.

Masih hening.

Gaby yang merasa dicuekkin kembali diam dan mengerucutkan bibirnya.

“Untuk Elaine dan Viny, peraturan itu bukan hanya sekedar tulisan formalitas,” ujar Melody dingin.

Viny dan Elaine yang merupakan anggota baru mengangguk paham.

Melody melangkah keluar dari ruangan Bonita.

Blam!

“Haduh kacau deh,” ujar Shania sambil menepuk keningnya.

“Tapi penasaran nggak sih siapa yang ngirim video itu?” tanya Ve.

“Iya kak, aku juga penasaran sebenernya, kaga liat situasi tuh yang ngirimnya,” ujar Elaine.

“Maksudnya?” tanya Gre.

“Yaa nggak nanti aja ngirimnya setelah pertandingan, kalo kaya gini kan mood nya kak Melody jadi berantakan,” ujar Elaine.

Semuanya mengangguk setuju.

“Kita ada latihan lagi kapan ya?”

“Besok deh kak kayaknya,”

“Besok? Tinggal 3 hari lagi dong ya,” ujar Shania.

~

Keynal dan Boby lagi menuju kantin saat keduanua bertemu di koridor lepas kuliah.

“3 hari lagi ya Key,” ujar Boby.

“Iya, gue berharap nggak ada apa-apa dan kita bisa menang,” ujar Keynal

“Iya lah harus, kalo nggak kita semua bakalan keluar dari kampus ini,” ujar Boby.

Keynal mengangguk. Di kejauhan mereka berdua melihat Melody yang jalan menuju ke arahnya sambil menunduk.

Terlihat sekali raut kesal di wajah Melody.

“Kenapa tuh orang?” tanya Boby.

Keynal mengangkat bahunya, saat Melody sudah berada di dekat mereka, Keynal menegurnya.

“Napa Mel? Kusut amat,” ujar Keynal.

Melody mendongak awalnya ia ingin tersenyum saat melihat Keynal yang menegurnya. Tapi seketika pudar saat melihat wajah Boby.

Melody kembali memasang tampang murkanya(?).

“Heh! Bilangin ya ke anak buah kamu ini! Kenapa sih dari sekian banyak perempuan ia harus memacari anggota dari Bonita!!” bentak Melody.

Keynal dan Boby yang tetiba disentak seperti itu malah bengong.

“Yee! Malah bengong!” Melody menghentakkan kakinya ke lantai, kemudian beranjak dari situ.

Keynal menatap Boby bingung, Boby sendiri terlihat sedang berpikir. Sedetik kemudiam Boby merogoh saku celananya dan mengambil Hp.

Keynal memperhatikan gerak gerik Boby yang kini sedang menelfon seseorang.

“Bob? Jangan bilang lo?” Keynal menatap Boby tak percaya.

“Shit! Ah iya,” Boby langsung berlari meninggalkan Keynal.

“Aih? Ada apaan sih ini?” Keynal mau tak mau ikut lari mengejar Boby.

~

Boby dan Keynal kini sudah berasa di taman belakang.

“Key, biar gue sendiri dulu ya yang ke sana,” ujar Boby sambil menunjuk perempuan yang sedang duduk dan menekuk kedua lututnya.

Ya Sinka…

Boby mendekat perlahan.. Ia melihat bahu Sinka bergetar..

“Sin…” Boby menepuk pundak Sinka.

Sinka sedikit terkejut kemudian mendongak menarap Boby.

Wajahnya memerah begitu juga matanya yang sembab karena menangis.

“Maaf yaah..” ujar Boby sambil tersenyum lirih.

Sinka mengangguk, ia menepuk tempat duduk di sebelahnya, mengisyaratkan agar Boby duduk.

“Aku…”

Sinka mencubit pipi Boby, “Jangan dibahas dulu,” ujar Sinka sambil manyun. Kemudian Sinka memeluk Boby dan menangis di dada Boby.

Boby menghela nafas, membiarkan gadisnya meluapkan tangisnya.

Keynal mendekat dan duduk di sebelah Boby. Sepertinya Keynal sudah mengerti tanpa harus dijelaskan Boby.

Beberapa menit kemudian tangisan Sinka mereda. Sinka menegakkan tubuhnya, ia belum menyadari kehadiran Keynal di situ.

“Haah… Jalan hubungan kita berliku gini ya,” ujar Sinka.

Boby mengelus rambut Sinka penuh sayang.

“Yaa abis mau gimana,” ujar Boby.

“Tapi.. Kamu tetep sayang aku kan?” tanya Boby.

Sinka mengangguk..

“Aku sayang sama kamu itu tulus, bukan cuma karena hal itu,” ujar Sinka.

“Hal itu?” tanya Keynal reflek.

Sinka menoleh, “Ke.keynal!? Se.sejak kapaan?” tanya Sinka, wajah Sinka memerah, Sinka juga reflek menggeser posisi duduknya agak menjauh dari Boby.

“Eh? Hehe…” Keynal malah cengengesan saat ditatap tajam oleh Boby.

“Maaf yah, bukannya mau nguping kok serius,” ujar Keynal.

Sinka menunduk, ia hanya tidak terbiasa berdua dengan Boby di depan orang.

“Jadi, apakah ‘hal itu’?” tanya Keynal.

Boby menatap Sinka yang kini masih menunduk.

“Diceritain jangan?” tanya Boby.

“Ngg…” Sinka terlihat berpikir.

“Eh ya kalo emang privasi nggak apa kok,” ujar Keynal.

“Jadi gini…” Sinka mulai bercerita kenapa ia dan Boby bisa menjalin hubungan.

Flashback

Dulu sekali, sebelum keduanya memasuki Vierzig, Sinka dan Boby bertemu di suatu pertemuan keluarga.

Boby yang masih duduk di bangku SMA terlihat polos dan menggemaskan(?).

Boby duduk diantara kedua orang tuanya. Keluarga Boby bertemu dengan keluarga Sinka di sana.

Begitu juga dengan Sinka yang duduk di antara kedua orang tuanya.

“Jadi ini Boby?” tanya Ayah Sinka.

“Ya, dia tampan bukan?” ujar Ayah Boby sambil memamerkan lesung pipinya sama seperti Boby. Boby yang mendengar itu hanya tersenyum menanggapi candaan ayahnya.

“Haha, sifat narsismu tidak berubah dari dulu,” ujar Ayah Sinka.

“Hehe, ngg.. Bagaimana jika kita langsung menuju intinya?” tanya Ayah Boby.

Sinka dan Boby kecil menatap ayahnya dengan tatapan bingung.

Jujur Boby akui saat itu ia memang tertarik dengan gadis di hadapannya yang lucu dan imut itu.

Begitu juga dengan Sinka, tapi keduanya masih sebatas kagum pada awal jumpa.

“Jadi, Boby.. Sinka.. Kami berdua memang sudah berteman sejak lama, sejak SD malahan,” ujar Ayah Boby, Ayah Sinka mengangguk menyetujui pernyataan Ayah Boby.

“Dan saat kami menduduki bangku kuliah yang ternyata juga di kampus yang sama, kami menutuskan untuk… Menjodohkan anak kami kelak,”

Sinka dan Boby terkejut mendengarnya. Keduanya saling tatap. Terlihat sekali keduanya sama-sama tidak mengetahui hal ini.

“Eits tapi tenang dulu, kami tidak memaksakan, hanya saja kami memang berharap kalian saling suka dan akhirnya menikah,” ujar Ayah Sinka.

“Iya, jadi kalian coba untuk jalani dulu saja, jika memang tidak cocok, kalian bisa memutuskan untuk tidak bersama,”

Boby menatap Ibunya.

“Iya nak, Ibu sudah kenal baik dengan Ayah dan Ibu Sinka, Ibu tidak keberatan jika kamu bersama Sinka, bukannya kamu juga lagi jomblo sekarang?” ujar Ibunya.

Boby menggaruk tengkuknya sambil mengangguk.

Kedua orang tuanya tersenyum.

~

“Kurang lebihnya begitu,” ujar Sinka.

“Kok gue nggak tau Bob?” tanya Keynal.

“Nggak semuanya harus gue ceritain ke elo kan Key?”

Keynal mengangguk, “Yaaa iya juga sih, tapi bingung juga kalo udah begini, terus lo dikeluarin?” tanya Keynal.

Sinka mengangguk, wajahnya kembali sendu..

“Hh..” Keynal dan Boby menghela nafas bersamaan.

~

“Mel..” Keynal mengetuk pintu kamar Melody.

Tak lama kemudian Melody keluar dari kamarnya.

“Astaga!?” Keynal terlonjak ke belakang saat melihat Melody yang wajahnya ditutupi oleh masker.

Melody justru menyipitkan matanya.

“Haduh bikin kaget aja,” Keynal mengelus dadanya.

“Ada apa?” tanya Melody ketus.

“Hh.. Oh ya, itu gue mau nanya, lo beneran ngeluarin Sinka?” tanya Keynal.

Melody mengangguk.

“Hanya karena Sinka dan Boby pacaran?”

Melody kembali mengangguk.

Kini Keynal yang menyipitkan matanya merasa kesal karena hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Melody.

“Kenapa sih buat peraturan kaya gitu?”

“Aku ketuanya, jadi aku berhak membuat aturan seperti apapun,” ujar Melody.

“Hadeuuh, kaya jaman perang aja ketat amat peraturannya,”

“Kalo emang kamu cuma mau nanya itu doang, aku mau tidur!” Melody hendak berbalik. Keynal reflek menahan tangan Melody.

“Oke oke, sorry sebelumnya, ini emang hak lo, tapi sekali lagi gue nanya nih ya, bukan sebagai mahasiswa vierzig ataupun anggota RC, tapi sebagai…

Ngg..

Adik lo?” ujar Keynal.

Melody mengangkat alisnya, ia memperhatikan Keynal. Takut-takut Keynal tadi abis kebentur kepalanya.

“Jadi? Bisa diceritakan kah kak?” tanya Keynal.

Melody menatap dalam mata Keynal. Akhirnya ia menghela nafas.

“Yaudah tunggu, aku mau ngelepas masker dulu, ganggu aja,” ujar Melody sambil masuk ke dalam kamarnya.

~

Di ruang keluarga Afloch.

“Oke.. Sebelum aku cerita, aku mau kamu pegang rahasia ini. Bisa?” tanya Melody.

Keynal mengangguk pasti.

“Hhh.. Part ini jadi penuh flashback deh,”

“Yaa kan biar pembaca tau elah, buru kak,”

“Oke oke, jadi dulu kakak punya seorang adik.. Namanya Frieska..”

Keynal mulai mendengarkan dengan seksama cerita masa lau dari seorang Melody.

Dari mulai bagaimana dekatnya Melody dengan Frieska. Melody yang selalu melindungi Frieska. Betapa sayangnya Melody dengan Frieska.

“Intinya, aku emang sayang banget sama dia, sampai akhirnya Ayah memutuskan untuk meninggalkan kami, aku sendiri… Ah entahlah, aku bahkan melupakan Frieska. Aku lebih suka berada di luar rumah, main dan lainnya.

Dan suatu hari aku baru bangun dari tidurku, aku mendengar Frieska keluar dengan teman cowo nya. Aku melihat itu dari jendela kamar.

Jujur aku tidak memikirkan apapun, karena saat itupun aku sudah tidak memperdulikan sekelilingku. Aku terlalu jauh jatuh dalam kesedihan.

Dan malam harinya..”

Melody menggantung kalimatnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Malamnya?” tanya Keynal yang makin penasaran.

“Malamnya, aku mendengar kabar dari seseorang bahwa Frieska mengalami kecelakaan.

Aku yang malam itu hendak main keluar…. dan.. Entahlah, tubuhku langsung bergerak begitu mendengar kalimat itu. Orang yang memberi kabar lewat telfon itu langsung mengirimkan alamat rumah sakit dan aku langsung ke sana.

Di sana sudah ada Ibu, dan… Aku terlambat.. Dokter memberi tahu kalau Frieska sudah tidak ada,”

Air mata Melody tumpah tanpa bisa ia bendung.

“Sungguh, aku menyesal, aku merutuki diriku yang saat itu sangat teramat bodoh,”

“Ng.. Kalo boleh tau, emang kenapa kok bisa masuk rumah sakit?”

Melody menatap Keynal. Kemudian ia tersenyum miris.

“Dia dibawa pergi oleh orang yang mungkin tidak asing olehmu..” ujar Melody.

“Nggak asing? Siapa? Boby?” tanya Keynal.

Melody menggeleng.

“Farish…”

“ What!? Farish?” tanya Keynal.

Melody mengangguk, ia mengusap air matanya.

“Dan saat tahu kalau Farish masuk menjadi anggota kalian, sejak itulah aku menjadi benci dengan kalian semua, termasuk kamu,” ujar Melody.

Keynal merengut.

“Yee kan aku nggak tau kalau kakak ada masa lalu sama Farish, orang nggak pernah cerita,” ujar Keynal.

“Ya gimana mau cerita kalo kamu nya juga main sama mereka terus,”

“Ya aku kan mainnya sama mereka, emang sama siapa lagi?”

“Hadeuh iya deh udah, napa jadi ribut gini,” ujar Melody.

Keynal menghela nafasnya, ia menyandarkan punggungnya di sofa.

“Yaa.. Aku nggak tau ya sesayang apa kakak sama Frieska, tapi yang pasti dari cerita tadi kakak pasti sayang banget sama dia. Tapi kak, nggak semuanya begitu kan?

Maksudku, nggak semua cowok kaya gitu kak. Mungkin dibalik semuanya Farish juga punya alasan sendiri, ada cerita versi nya Farish gitu.

Dan Boby juga Sinka juga ada alasan kenapa mereka pacaran, kakak tau itu?”

Melody menggelengkan kepalanya..

“Yaa.. Jadi Boby juga Sinka memang udah dijodohkan sejak SMP dulu, mereka berdua merahasiakannya sampe sekarang ini, akupun teman baiknya nggak tau menau.

Sama kaya rahasia kecil kita, kalau kita sekarang ini bersaudara,” ujar Keynal.

“Intinya, coba untuk memberi kelonggaran sedikit dalam peraturan Bonita. Meski memang itu hak kakak juga sih, aku kan sebagai adik hanya menyarankan.

Dan aku yakin nggak semua cowo di Red Camisa kakak benci kan?” tanya Keynal.

“Iya kakak udah nggak ngebenci kamu kok,”

“Bukan.. Bukan aku,”

“Lha? Terus?”

“Itu tuh, ada yang nelfon,” ujar Keynal sambil menunjuk HP Melody yang berada di meja..

Melody menoleh. Dan tertera sebuah nama di sana.

‘Incoming Call from Maul’

Keynal tersenyum penuh arti sambil menatap kakaknya itu.

-TBC-

 

-Falah Azhari-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

numpang bikin note Thor :3

So, gue selaku admin pengen ngasih tau doang……
Ada yang seru loh #SATUMINGGULAGI !

Penasaran? Bisa kepoin page ini atau tanya-tanya kesini :3

img_20160727_235857.jpg

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s