Silat Boy : Kak Ve Part 12

CnJGPUtWgAEeomp

Kak Ve membawa Rusdi ke rumahnya. Rumah itu terlihat sederhana, tidak
seperti rumahnya. Perlahan Kak Ve mendudukkan Rusdi di ruang tamu.
Lalu Kak Ve meninggalkannya.

Rusdi menatap sudut demi sudut rumah itu. Tidak terlalu bagus, tapi
sejak tadi ia tidak melihat seorang pun di rumah itu. Beberapa menit
kemudian, Kak Ve tiba. Ia membawa dua gelas air putih untuk Rusdi dan
dirinya.

Rusdi masih shock, ia perlahan meminum air itu setelah Kak Ve
menawarinya. Kak Ve menatap Rusdi lamat-lamat. Sehingga membuat Rusdi
gugup. Kak Ve masih muda, wajahnya tidak kalah cantik dengan Kak
Melody.

“Rumah kamu dimana?” Kak Ve membuka percakapan.
“Rumah aku deket kok dari sini.” jawab Rusdi.
“Orang tua kamu gak nyariin?” pertanyaan ini menyayat hati kecilnya.

Rusdi diam sejenak, ia berhenti bicara. Bahkan berhenti meminum air
itu, ia menyisakan setengahnya. Kini pandangannya kosong menatap gelas
itu, ia menundukkan kepalanya.

Sementara Kak Ve menatap bingung Rusdi. Ada apa? Apa ada yang salah
dengan pertanyaan itu? Kak Ve merasa bingung. Lalu Kak Ve kembali
bertanya padanya.

“Kamu kenapa?” tanya Kak Ve.
“Aku cuma tinggal sama Kak Melody, orang tua aku udah lama meninggal.”
Rusdi menjawab pertanyaan Kak Ve sebelumnya.

“Astaga, kakak gak bermaksud…” ujar Kak Ve.
“Gak apa-apa kok, aku kan masih punya kakak.” potong Rusdi.
“Kakak tinggal sendirian di rumah ini?” sambung Rusdi, mengalihkan
topik pembicaraan.

Sama seperti Epul, ia tidak mau dikasihani. Sehingga ia lebih memilih
untuk mengalihkan permbicaraan. Rasanya seperti direndahkan oleh
seseorang jika ia dikasihani.

“Iya, kakak merantau dari kampung kesini. Jadi kakak tinggal sendirian
di rumah ini. Kakak bersyukur bisa beli rumah sendiri, ya walaupun
rumahnya kayak gini.” Kak Ve terkekeh.

“Oh iya, kamu kenapa kok bisa dikejar sama mereka?” tanya Kak Ve.
“Ceritanya panjang, kak.” Rusdi kembali menatap kosong gelasnya yang
kini sudah kosong tidak berisi.

“Cerita aja, kakak bakal dengerin kamu kok.” Kak Ve tersenyum, lesung
pipitnya terlihat jelas jika sedekat ini.
“Iya.” Rusdi kemudian mulai bercerita, berawal dari saat ia baru saja
pindah ke Jakarta.

Kak Ve terlihat serius mendengar cerita Rusdi. Rusdi bercerita selama
2 jam, ia menceritakannya secara detail. Kemudian ia bertanya-tanya
tentang kemampuan beladiri Kak Ve.

“Kamu harus lawan mereka. Kalo enggak mereka bakal gitu terus sama
kamu.” ujar Kak Ve.
“Aku gak akan menang lawan mereka.” balas Rusdi.

“Pasti menang, kakak bakal bantu kamu!” Kak Ve terlihat serius.
“Gimana caranya, kak? Aku aja gak bisa bela diri aku sendiri.” Rusdi
terlihat pasrah.

“Kakak belajar Silat dari kampung. Ini adalah Silat asli yang
digunakan untuk melindungi seseorang. Sementara yang Boim gunakan itu
adalah Silat palsu yang digunakan untuk menyiksa seseorang.” ucap Kak
Ve.

“Kakak bakal ngajarin kamu Silat!” sambung Kak Ve.
“Hah? Serius kak?” Rusdi terlihat tidak percaya.
“Ya walaupun kakak gak pernah punya murid.” Kak Ve kembali terkekeh.

“Tapi kakak bakal ngajarin kamu ilmu Silat yang sebenarnya! Bukan
Silat palsu kayak Boim!” Kak Ve menatap Rusdi.
“Lawan dia, jagoan!” Kak Ve kemudian menepuk pelan bahu Rusdi.

2 jam mereka mengobrol tentang Silat. Tidak terasa, matahari telah
berpindah tempat di ufuk Barat. Sudah sore, saatnya ia pulang. Rusdi
kemudian pamit pada Kak Ve.

Burung-burung terbang bebas kesana kemari. Rusdi berlari pelan di
bawah langit senja yang berwarna oranye pekat. Sesekali Rusdi
tersenyum menatap burung-burung itu.

Betapa enaknya jika ia jadi burung. Ia bisa terbang bebas di angkasa.
Menjejaki awan putih di langit. Berenang diantara awan-awan itu. Ah,
indahnya jika itu terjadi.

Tiba-tiba lamunanya buyar. Ia teringat pada sesuatu. Kak Melody pasti
marah besar. Ia pasti mencarinya, sedari tadi smartphone miliknya ia
matikan saat di rumah Kak Ve.

Tak apalah, bilang saja ia kerumah Kak Ve. Rumah sederhana dekat
pasar. Besok ia akan kembali kesana. Menemui Kak Ve, dan belajar Silat
dengannya. Epul dan Naomi pasti tidak akan percaya.

Ia tidak sabar ingin segera menceritakannya. Nabilah? Ia sudah tidak
peduli. Tapi ia takkan membuatnya sakit hati. Ya meskipun kini
hari-harinya akan terasa sibuk oleh latihan keras yang akan ia jalani.

Nabilah nomor empat, sahabatnya nomor tiga, latihan Silat nomor dua,
dan Kak Melody prioritas utamanya. Itulah prinsip Rusdi, pemikiran
sederhana untuk rutinitas barunya.

Tidak terasa, kini ia sudah sampai di rumahnya. Sudah sore, apa Kak
Melody akan marah? Perlahan Rusdi membuka pintu rumahnya. Terlihat Kak
Melody bangun dari sofa.

Lalu sedikit berlari menghampirinya. Setelah itu Kak Melody memeluknya
erat. Rusdi sempat kaget karna pelukan tiba-tiba kakaknya. Tak lama
Rusdi membalas pelukan kakaknya.

“Kamu kemana, dek? Kakak khawatir sama kamu. Di sms gak di bales, di
telpon gak diangkat. Maaf kakak gak bisa jemput kamu. Tadi kakak
pulang lebih awal demi kamu.” Kak Melody semakin erat memeluknya.

Rusdi hanya diam, mereka berpelukan selama beberapa menit di ambang
pintu rumah. Sore itu sangat sepi, suasana mendadak hening. Kak Melody
perlahan melepaskan pelukannya, lalu menyeka matanya.

“Selamat datang….. Rusdi!” Kak Melody memaksakan untuk tersenyum.
“Maafkan aku kak.” Rusdi sejenak menundukkan kepalanya, lalu kembali
menatap Kak Melody.
“Aku pulang!” sambungnya.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s