Fiksi dan Fakta, Last Part

Baiklah, semuanya sudah berakhir.

“Better get off ato disini?” Sony menepuk pundak Jaka.

“It’s up to you, bang.” Jaka melihat ke jam dinding.

“Udah jam 4, mending disini..”

Sony menoleh dan kini mata kedua kakak beradik itu bertemu.

“Ok, asalkan semuanya aman damai sejahtera..”

“Hahaha.. serah deh.”

Suasana rumah Viny sangat ramai. Polisi dan wartawan terus berdatangan. Mereka datang dengan maksud yang sama. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa jam lalu.

“Cewek-cewek dimana, Bob?” Tanya Mike pada Bobby.

“Mereka di kamar Viny, Car.”

“Lagi?”

“Istirahat doang. Ada Kelvin juga disana.”

“Wah, serius? Masih sempet-sempetnya tuh anak.”

“Hahaha.. buruan deh. Ntar keburu tidur punya lu. Ehh..”  Bobby nyengir kuda.

“Pffttt.. udeh sono. Dicariin yang laen tuh.”

“Ok ok..” Bobby bergerak keluar.

Diluar masih ada reporter dari beberapa stasiun TV swasta yang melaporkan berita secara langsung.

“Perhatian seluruhnya!!” Jaka membuka pengumuman.

“Kita udah di live report. Sekarang saatnya ngabarin keluarga kalian masing-masing! Kita aman!” Jaka bergerak keluar.

Perwakilan-perwakilan memutuskan untuk berjaga dan bersih-bersih hingga pagi. Semua orang bercanda gurau. Halaman rumah Viny bisa dikatakan penuh dengan wajah-wajah sumringah.

“Raz.” Mike menepuk pundak Jaka.

“Eh, ada apa Mike?”

Mike menyulut rokoknya.

“Abis ini..”

“Kita lakuin apa yang kita mau..” Seolah sudah tau kemana pertanyaan Mike akan berlabuh, Jaka menjawab dengan senyum mengembang diwajahnya.

“Pertama, blok Fuuto pasti ke Dufan lagi.” Tebak Mike.

“Hahaha.. permintaan Andy gamungkin ditolak.”

“Mereka dengan goalnya. Kita gimana?” Mike terus menghujami pertanyaan yang sama kepada Jaka.

Dengan tenang, Jaka menoleh kepada temannya itu.

“Ajak Viny jalan. Suruh Kelpo ajak Andela jalan juga. Bobby, Tony, dan yang lain suruh istirahat. Fuuto dan Joey ga akan ikut ke Dufan, gue urus mereka. Seluruh perwakilan kita kasih terimakasih dan undangan party. Yang paling penting, suruh semuanya tetap stand by walaupun YanboMabo udah selesai.”

“Uh?” Mike menatap Jaka bingung.

“Sorry, tapi kalo harus diulang, gue ga ha-“

“Gue inget kok. Sekarang, apa yang mau lu lakuin?” Mike terus menatap Jaka.

Jaka menoleh dan menatap sahabatnya itu juga.

“Let’s talk about Ve.” Lirih Mike.

“Later. Now, we have to handle Gelo.” Potong Jaka.

“As you wish, Tuan Razaqa..” Mike tersenyum lalu merangkul sahabatnya itu.

*Skip

Tepat jam 07.20 pagi itu, suasana mulai memanas.

“Zaq, coba kedepan!” Panggil Reno.

Jaka dan lainnya segera keluar.

Entah siapa saja aparat yang datang mengerumuni rumah Viny. Siaran pagi sudah dipenuhi berita penangkapan YanboMabo. Seluruh yang terlibat sudah menghubungi dan dihubungi keluarga masing-masing.

“Baiklah, terimakasih atas kerjasamanya. Penyelidikan akan terus berlanjut. Saya harap adik-adik sekalian bersedia membantu aparat dalam menyelesaikan kasus ini.” Begitulah kira-kira ucapan dari perwakilan kepolisian.

Kelpo mendekati Jaka. Mereka terlibat diskusi yang cukup panas.

“Udah, Vin. Udah, Zaq.” Semua yang disana melerai keduanya.

“Kami ga berantem. Ok, gue paham maksud sahabat gue ini.” Jaka menjabat tangan Kelpo.

“Ok, cuma emosi sesaat.” Kelpo dan Jaka berpelukan.

“Jadi, lebih dari 300 orang udah dijadiin saksi. Angkanya bisa terus turun. Alumni udah bebas dari ini semua, jangan libatin mereka.” Jelas Jaka.

Semuanya mengangguk paham.

“Sekarang, kita bubaran dulu. Pulang, mandi, istirahat, dan pantengin pengumuman selanjutnya dari SMU 48. Selanjutnya, biar ketua masing-masing yang jelasin lebih detail. Terimakasih atas kerjasama dan bantuan kalian semua! Gue bener-bener speechless, kalian yang terbaik!” Jaka lalu memberikan undangan pada setiap perwakilan dalam perayaan yang entah kapan akan dilaksanakan.

Intinya, semua membubarkan diri setelah pembersihan pagi itu.

*Skip

“Welcome Bob, Yok.” Zoski menyambut Yoyok dan Bobby yang datang menjenguk Fuuto.

“Pagi semua..” Sapa Yoyok dan Bobby bergantian.

Setelah membalas sapa, mereka mulai bercerita satu sama lain.

‘Drrrtt..’

“Razaqa calling!” Lapor Joey.

Semuanya memperhatikan Joey yang sedang mendengarkan sesuatu dari Jaka.

Panggilan pun berakhir.

“Razaqa bilang, kita bisa aja jadi saksi penculikan, provokasi kerusuhan, dan perusakan yang dilakuin YanboMabo. Jadi, semuanya harus tenang dan jangan terlalu tertekan lagi. Semuanya udah cooldown.” Semuanya mengangguk paham.

Tak lama, Fuuto pun sadar. Percakapan terus berlanjut. Tepat jam 9, Jaka dan lainnya menyusul ke rumah sakit. Perawat sempat memperingati mereka, karna orang yang datang sudah melebihi kapasitas. Disisi lain, Fuuto menolak teman-temannya disuruh keluar. Pasien adalah prioritas, benar kan?  Hahaha.

*Skip

“Yok, gimana ceritanya tuh? lu bisa gitu, lol.” Tanya Mike.

“Hahaha.. gue kaya janjiin dia rencana-rencana kalian. Jadi yang di gedung itu, sebenernya emang gue yang nyaranin. Tapi, gue ga nyangka kalo bakal di gep gitu. Untung gue dah nyuruh Troy buat stand by.”

“Jadi, Troy juga udah tau?”

Yoyok menggeleng.

“Lah, terus?”

“Troy mah suka keceplosan. Gue ampir ketauan dia pas nelfon Yanbo waktu itu.”

“Jadi, waktu itu lu bilang apa ke Troy pas nyuruh stand by?”

“Gue bilang, Jaka nyuruh gue nyamar. Ya, dia percaya-percaya aja dong.”

“Terus yang ke rumah, itu lu juga?”

“Nah, itu gue kurang tau. Itu udah rencana YanboMabo ama Gilang dan Ian.”

“Ohh gitu.” Ucap mereka semua menyimak.

“Trus trus, kata bang Sony lu sempet mindahin mobil?”

“Iya, nah itu buat pergi mastiin cewe-cewe yang disandera ga diapa-apain.”

“Jadi, waktu itu lu lari dari tanggung jawab?”

“Ya, seharusnya gue ketauan berkhianat pas dirumah Viny. Tapi gue takut keburu dikejer trus digebukin duluan. Hahaha..”

“Lol bener juga.”

“Eh, tapi pas itu, gue dapet surat gitu.” Ucap Kelpo sambil berpikir.

“Iyaiya, ada surat gitu. Isinya nyuruh kami cepet-cepet pergi ke markas lama Wisski!” Seru Mike menambahkan.

“Iya tuh, surat yang di deket jendela kan?” Zoski juga bersuara.

Kelpo hanya mengangguk-angguk.

“Eh? Jadi kemaren ada polisi disini?” Tanya Yoyok balik.

“Lah, lo gatau kalo polisi mau dateng ke rumah Viny?” Zoski bingung.

“Jah, emang siapa yang ngelaporin? Gilang ama Ian juga gatau perasaan.” Yoyok menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Oh pantes. Mike, lu inget ga pas Gilang lari-lari gitu?”

“Iya, vin. Dia nunjukin dirinya kan?”

“Iya, dia kaburnya juga pas kita kejar.”

“Guys, inget ga sih pas Gilang loncat itu? Gamungkin mereka ngerencanain hal se-extreme itu. Beresiko pastinya.” Pikir Zoski.

“Spontanitas?” Ucap Karel.

Semuanya mengangguk-angguk sambil berpikir.

“Berarti…”

“Jangan-jangan yang nulis surat itu Gilang?!” Ucap Yoyok menebak.

“Ya, gue juga mikir gitu daritadi.” Kelpo tersenyum.

Semuanya diam sejenak.

“Eh, gue ngurus administrasi bentar ya..” Pamit Joey disela pembicaraan.

“Oke, Joey.” Ucap semuanya.

“Trus, pas sampe di markas lama Wisski, lu kemana Yok?” Zoski lanjut bertanya.

“Gue ngecek temennya Jaka itu.”

“Oh, yang lu maksud Ve?” Ucap Mike begitu saja.

Jaka menunduk tak enak. Semuanya melihat kearah Jaka. Jaka sedikit melirik ke arah Shania.

Shania menatapnya tajam.

“Iya, Veranda kan? Nah, gue bingung ama cewe itu. Perasaan gue gapernah ketemu dia.”

“Dia temen aku dari Jakarta..” Celetuk Michelle.

“Iya, temen lama gue juga..” Sambung Mike.

“Oh, gitu. Kayanya dia cuma liburan ya disini?”

“Iye..” Jawab Mike.

Jaka hanya diam tak berkomentar apapun.

“Eh, Yok. Gilang ama Ian kemana?”

“Mereka lagi keluar, ngilang bentar. Gilang takut ga diterima oleh kita semua.” Jelas Yoyok.

“Queue dan Loop juga join mereka, kan?” Tanya Fuuto.

“Nope, Fuu. Queue, Loop, dan yang lain dianter Wood balik ke Jakarta.” Balas Dee-dee.

“Kalian semua ke Jakarta, kan?” Tanya Fuuto pada Jaka cs.

“Emm.. kayanya engga, Fuu.” Jawab Jaka.

“Iya, sekolah bakal lanjut lagi nih.”

“Ya, paling kami siap-siap buat pemberitahuan-pemberitahuan lain.”

“Oke deh, gue harap kita bisa kumpul-kumpul di Jakarta.” Fuuto tersenyum.

“Ke Dufan, Fuu?” Celetuk Mike menahan tawa.

“Hahaha..” Fuuto dan lainnya tertawa.

“Aduh, sakit!” Kelpo meninju bahu Mike.

“Lu mending diem deh!” Ucap Kelpo kesal.

Tawa pun pecah di pagi menuju siang itu.

Tepat jam 11 siang, Jaka dan lainnya pamit pulang sekaligus langsung makan siang.

“Kita mo kemana?” Tanya Kelpo.

“Apa aja, cafe itu juga boleh..” Jawab Jaka.

“Cafe itu naon? cafe yang mana?” Celetuk Mike.

“Cafe apa aja maksud gue-_-“

“Mending tanya mereka, Bro.” Bobby memberi saran.

“Setuju tuh, eneng-eneng pada mau makan apa nih?” Tanya Kelpo yang mengambil alih kemudi siang itu.

“Bebas sih, aku nurut aja.” Jawab Shania.

“Iya, aku juga.” Andela ikut menjawab.

“Inyi? Ada saran?” Kelpo menanyakan Viny yang sedang sibuk dengan ponselnya.

“Eh? Makan ya? Emm.. aku gatau tempat yang enak nih..” Viny menunduk.

“Cowok-cowok aja deh yang mutusin. Kami semua ngikut aja. Hehe..” Michelle juga ikut bicara.

“Emm… Gue inget-inget dulu.” Jaka melihat sekitar rumah sakit.

“Di deket cafenya bang John aja. Kan ada cafe oldies gitu kan?” Saran Mike.

“Steak mereka enak juga.” Kelpo mengingat.

“Disana mah tempat muda-mudi kongkow, jadi jangan heran kalo suka ketemu temen-temen kalian yang lain.” Kelpo tersenyum.

Mike dan Bobby saling tatap.

“MURAH!” Teriak mereka bersamaan.

Seketika seisi mobil terbahak geli.

‘Drrrrttt’ Sebuah misscall masuk ke ponsel Jaka.

Jaka tampak memikirkan sesuatu. Di layar ponselnya tertera nama ‘Ve’.

“Oke semua! Ayo berangkat!” Seru Mike heboh.

*Skip

• Ve Story

“Ve!” Panggil Jaka.

Ve berbalik. Senyum tipis teraut diwajah gadis itu. Jaka berjalan cepat kearah Ve.

“Ve, maafin aku.” Jaka berdiri berhadapan dengan Ve.

“Hey!” Teriak seseorang yang sudah tak asing lagi bagi mereka berdua.

“Mike?”

Ve hanya berdiri mematung.

“Yo, Raz. Gue pinjem Ve, boleh?”

Ve menatap Jaka, seolah mengisyaratkan untuk tidak membiarkan Mike berbicara kepadanya.

“Maaf, Car. Tanya langsung ke Ve-nya aja.”

Ve menatap Jaka kesal.

“Ve?”

“Iya, boleh.”

Ve dan Mike bergerak menjauh dari posisi Jaka berdiri.

“Raz?” Panggil Shania yang muncul begitu saja.

“Eh Shania? Ngagetin aja kamu, hehe..”

“Ve itu temen kamu?” Tanya Shania ketus.

Jaka mengangguk.

“Kayanya aku pernah liat dia..” Shania membuang tatapan ke samping.

“Kamu kenal dia?”

Shania menggeleng.

“Trus?”

“Dia yang kamu temuin di Bali, kan?”

Jaka tersentak, pupil matanya membulat.

“K…ok ka-kamu ta..u?”

Shania menghela nafasnya.

“Heehhh.. Aku ngikutin kamu kerumahnya..”

“Oh, jadi malem itu???”

Shania mengangguk.

“So why she’s here?” Shania melipat tangannya.

“Emm.. dia liburan..” Jaka tertunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.

“Dia sekolah dimana? bukannya ini udah masuk ya?”

Jaka diam tak menjawab.

“Razaqa!”

“Eh, iya?!” Jaka keluar dari lamunannya.

“Kenapa dia belum pulang?”

“Mu…mungkin besok dia pulang?._.” Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Shania menatap Jaka curiga.

“Kamu suka dia?” Telak, itulah deskripsi yang tepat untuk pertanyaan Shania barusan.

“Kamu ngomong apa, shan?” Jaka membuang tatapannya ke sekitar, tak menatap wajah Shania.

“Aku ngomong ‘Kamu suka dia?’. Liat aku!” Shania memutar wajah Jaka menghadapnya.

“Eh..” Jaka terdiam.

“Bye, Ve..” Terdengar suara Mike mengucapkan salam perpisahan diantara mereka.

“Ve? Kenalin ini Shania.”

Mereka bersalaman.

“Jessica Veranda, panggil Ve aja.” Ve tersenyum.

“Shania.” Balasnya ketus.

“Ve, ini temen sekolahku. Shan, ini temen gue yang gue critain tadi.” Jaka tersenyum.

“Oke, kalo gitu aku tunggu kamu didepan ya, Raz. Seneng bisa kenalan sama kamu, Shania..” Ve pamit diikuti anggukan dari Jaka.

“Emang tadi kamu nyeritain tentang dia?”

“Eh? Kamu kenal dia kan?”

“Tadinya engga.” Shania melipat tangannya lagi.

“Oke, kalo gitu aku anter Ve dulu ya.. b-“

“Kamu ninggalin aku?” Shania cemberut.

“Eh? Kamu bareng Bobby kan?”

“Kamu kenapa sih, Raz?!” Bentak Shania.

“Kamu yang kenapa? aneh banget hari ini..” Jaka hendak bergerak pergi.

“Ah, Shania? Zaqa? Gue nyariin kalian kemana-mana. Ternyata disini..” Ucap Bobby lega.

“Eh, Bobby..”

“Iya, Raz. Joey tadi telfon, dia bilang mereka udah di rumah sakit. Kondisi Fuuto ga terlalu parah lagi.”

“Syukur deh.. Dia ketancep apa ya?”

“Kalo kata Joey tadi, Zoski mau ngenain Ian-Ian itu, tapi dihalangin ama Fuu.”

“Oh.. oke deh. Kita bahas lagi nanti. Kita bubar dari sini dulu..”

“Sip. Yuk Shan, kita pergi..”

“Ke rumah Viny ya, Bob. Hehe.. gue bakal telat n-“

“Dia ada urusan penting, Bob. Namanya juga Razaqa. Yuk..”

“Hahaha.. yaudah, kami duluan ya, Raz!” Pamit Bobby.

Jaka hanya menggeleng-geleng melihat sikap Shania.

-••-

Mereka sudah sampai di cafe yang dimaksud. Semuanya sudah memesan. Mereka bercanda gurau, setidaknya itu candaan pertama mereka sejak kejadian-kejadian buruk beberapa hari belakangan.

“Guys, gue pamit dulu ya..” Jaka bangkit berpamitan.

“Lah, lu mau kemana?”

Jaka mengeluarkan uang sebesar 50ribu rupiah dari dompetnya.

“Gue ada urusan, Mike. Yak, mari semuanya…”

“Come on, Raz. Jangan pergi dong..” Cegah Mike.

“Udahlah, urusan Razaqa biasanya penting..” Ucapan Shania terus saja terlontar frontal.

Jaka berjalan pergi begitu saja.

“Raz!” Panggil Kelpo menyusul.

“Ya, Vin?”

“Lu mau kemana?”

“Ga kemana-mana.”

“Jawab aja. Lu mau kemana?”

“Nemuin Ve..”

“Yaudah, gausah buang muka. Pergi aja, bro. Gue anter lu kerumah Viny, oke?”

“Thanks Vin, lu emang sahabat gue..”

“Oscar yang nyuruh gue tadi, hahaha..” Kelpo merangkul sahabatnya itu.

*Skip

Walaupun YanboMabo sudah tertangkap, ada sesuatu yang membuat Jaka merasa kurang tenang.

“Ve?”

Jaka menunggu didepan sebuah Guest House tempat Ve menginap.

“Uh?”

Sebuah pesan masuk begitu saja.

“Hai, Raz..!”

Jaka tak menghiraukan sapaan Ve tersebut. Ia terus menyimak sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya.

“Razaqa?”

“Eh, Ve!! Sorry sorry.. aku ga fokus. Ini-ini ehh kamu udah makan?”

“Udah kok, kamu udah?”

“Udah juga nih. Jadi, kamu beneran mau pulang besok?”

“Iya, Raz. Aku emang dah ngerencanain kok. Aku juga dah ngasih tau Oscar.”

“Ohh, oke deh kalo gitu.”

“Hmm.. soal orang yang nyulik aku, ada salah satu dari mereka itu temen deket kamu ya?”

“Maksud kamu Yoyok?”

“Yoyok? yang mana ya?”

“Itu, yang rambutnya belah tengah. Terus kulitnya item.”

Ve menggeleng.

“Terus yang mana?”

“Hmm.. kulitnya sawo mateng deh. Kumisnya tipis. Rambutnya gondrong juga, tapi dikuncit.”

“Ohh, gondrong?” Jaka berpikir.

“Heeh..”

“WAIT!! Kuncit??!!” Kaget Jaka seketika.

“Iya, dia malem itu critanya jadi temennya penjahat.”

“Wait, yang kamu maksud Gilang?”

“Ya Gilang! Gilang Wijaya kan?”

Jaka terdiam. Matanya membulat.

“Dia ngapain?!” Tanya Jaka keras.

“Eh, kenapa?”

“Dia itu jahat!” Tegas Jaka.

“Eh, jahat gimana?” Ve bingung.

“Dia itu musuh aku..”

“Hah? dia bilang dia temen kamu..”

“Dia ngomong apa aja?”

“Katanya, kamu pasti dateng nolongin aku.”

“Kamu? Maksudnya aku?”

“Iya Razaqa…!!! Siapa lagi coba?” Ve tersenyum gemas.

“Gilang ngomongin gue kaya gitu? Aneh!”

“Eh, kok aneh? Kamu sama dia temenan kan?” Tanya Ve bingung.

“Aku dah bilang, dia musuh aku. Jadi dah pasti bukan temen..”

“Lah, trus kok dia baik sama aku?”

“Baik gimana?”

“Dia ngajakin ngobrol bentar. Dia juga ngasih tau kalo ini cuma pura-pura.”

“Wait, kamu pas dibawa itu tidur kan?”

“Dibawa? Oh, yang pas penjahat itu buka kerandanya ya?”

“Iya..”

“Itu aku pura-pura tidur..”

“Lah? Gimana tuh?”

“Gilang itu disuruh ama penjahat yang kembar buat ngasih aku bius ato semacamnya lah. Jadi dia nyuruh aku pura-pura tidur.”

“Dia ga macem-macemin kamu?”

“Razaqa!!!” Ve membentak Jaka.

“Aku serius, Ve. Kamu ga diapa-apain kan?”

Ve menggeleng.

“Oke bagus, sekarang ada sesuatu yang bisa aku bantu?” Jaka berjalan melewati Ve sambil mengusap rambutnya.

“Hmm.. gaada sih. Aku cuma mau ngingetin, besok jam 9 ya…”

“Siap, Buk bos!” Jaka berpose hormat.

Ve tertawa kecil.

‘Drrttt…’ Kini panggilan lain masuk.

“Raz, Libur sekolah ditambah seminggu. Tepatnya 5 hari doang sih.”

“Mulai?”

“Senin ini.”

“Itu namanya seminggu pfftt..”

“Hahaha…”

“Btw, thanks infonya, Mike.”

“Sami-sami, lu lagi dirumah Ve?”

“Eitss, jangan kenceng-kenceng euy..”

“Tenang, gue diluar ini..”

“Iya, gue dirumah Ve. Ini Ve nya disebelah..”

“Rencana ke Jakarta-nya kita cepetin jadi besok aja yuk!” Ajak Mike.

“Re-ren..cana ke Jakarta???”

“Iya, yang di sms tadi. Kata Joey, kita bisa liburan dulu berarti.”

“Lu dah ngabarin Joey?”

Hening.

“Mike?”

“Yo?”

“Kok ga jawab-_-“

“Njay.. dah jawab kok.”

“Lah lu diem tadi nying..”

“Lah tadi gue ngangguk, Ragelo dasar..”

“Nelfon gaada istilah ngangguk, goblog. Pffttt..”

“Oiya, Aing lupa anying.”

“Udeh ah..”

“Ntar dulu, brader. Gue mo ngomong ama Ve nih, boleh kan?”

“Bentar..”

Jaka menutup ujung ponselnya dengan tangan.

“Oscar mau ngomong..”

Ve mengangguk.

“Nih Mike, orangnya..”

Jaka menyerahkan ponselnya ke Ve.

“Halo?”

“Hai, Ve. Besok kamu jadi kan?”

“Iya, Car.”

“Dibatalin aja tiketnya, Ve. Kami juga mau ke Jakarta nih..”

“Eh? tapi kan-“

“Udah, rame kok. Nanti aku yang ganti uang kamu. Kamu ga buru-buru kan?”

“Emm…”

“Ve?”

“Iya?”

“Jadi gimana toh? kok diem hahaha..”

“Oke deh..”

“Sip! See ya!”

“See ya..”

Panggilan pun berakhir. Ve menatap Jaka malas.

“Itu barusan serius?” Jaka terdiam dengan mulut menga-nga.

Ve melengos masuk.

“Kamu ga ngejer apa-apa kan?”

Ve menggeleng.

“Hmm.. sebenernya nih badan masih sakit banget. Tapi ya, namanya juga Mike..” Ucap Jaka lirih.

“Pfuuhhh.. Thanks for being here..” Ve menyenderkan kepalanya di bahu Jaka.

“I’ll always being close to ya..” Jaka mengusap kepala Ve lembut.

Guest house itu sepi. Mungkin semuanya sedang pergi. Jaka dan Ve pun memutuskan pergi ke sebuah mall hanya untuk sekedar bermain Timezone.

Tiba-tiba sebuah SMS dari Joey masuk ke ponsel Jaka.

‘Raz, gw mau ktemu lo. Ada rumor dr Jakarta.’

Dengan cepat, Jaka men-dial nomor Joey.

“Ya, halo?” Sambut Joey.

“Ada rumor apa, Joey?” Tanya Jaka to the point.

“Nanti aja lah..”

“Kebetulan gue lagi jalan ama temen, Joey. Jadi kita gabisa ketemuan..”

“Hmm.. lu ga ama anak-anak?”

“Engga..”

“Posisi lu dimana deh? gue harus berangkat ke Jakarta sekarang, Raz. Ya, tepatnya jam 3 sih.”

“Emm.. yaudah, gue lagi di BIP. Langsung ke lantai 3 aja, Joey..”

“Itu yang lurusan kafe legend yang ditutup itu kan?”

“Iya.. Lu sendiri kan?”

“Iya, Raz. Zoski dan Karel jagain Fuu..”

“Oke..” Panggilan pun berakhir.

“Dari siapa, Raz?” Ve menghampiri Jaka.

“Emm.. temen. Kayanya ada kabar burung gitu dari ibu kota. Entah..” Jaka tak bersemangat.

“Hmm.. gimana kalo kita makan es krim aja?” Ve menggandeng tangan Jaka.

“Boleh, tapi ada temen aku mo dateng nih..”

“Oscar?” Tebak Ve.

“Hahaha.. bukan temen sekolah. Temen yang blok Fuuto kemarin..” Jaka memasukkan ponselnya ke saku celana.

“Namanya siapa?” Tanya Ve penasaran.

“Idih kepo banget sih, mba Ve..” Jaka menyentil hidung Ve.

“Aduh, sakit.. Kamu apa-apaan sih, sakit tau..” Ve menggembungkan pipinya.

“Ih, lucu. Mau disentil juga pipinya?” Goda Jaka.

“Razaqa!!! Ughhh… sebel!”

“Ice cream, kami datang!!” Jaka segera menarik tangan kanan Ve.

“Razaqa!! pelan-pelan.. haha..” Ve juga tak kuasa menahan tawa senangnya.

Mereka pun membeli sebuah es krim durian dengan topping coklat diatasnya.

“Enak ya?” Tanya Ve lembut.

“Heeh.. Kamu kok ngeliatin es krimnya serius banget. Orang disebelahmu ini mau dikemanain?” Jaka berkomentar.

“Hahaha.. aku masih nanya-nanyain kamu loh.” Bela Ve.

“Tapi, mukanya ga ngadep sini toh..” Keluh Jaka lagi.

“Yaudah, sini pegang es krimnya. Ntar aku jilat es krimnya dari tangan kamu..”

“Pfftttt ga gitu juga. Jilat-jilat es krim dari tangan orang-_-“

“Space for rent kan?” Ve menahan tawa.

“Ini tangan mahal loh..! Hahaha..” Mereka menikmati waktu berduanya itu.

‘Drrrtt’

Panggilan kembali masuk ke ponsel Jaka. Tertera nama ‘Michelle C.’ disana.

“Halo, Chel?” Sambut Jaka.

“Hai, Raz..”

“Kenapa Chel?”

“Ini kan aku udah pulang. Mama sama papa nanyain kamu tuh.. Kamu ga ngabarin mereka ya?”

“Ya ampun, aku lupa Chel. Kok kamu udah pulang?”

“Iya, Raz. Tadi cowok-cowok buru-buru pergi, katanya sih mau langsung ngurus buat besok.” Jelas Michelle.

“Emm.. kok mereka ga ngabarin aku ya?” Tanya Jaka ragu.

“Mereka juga ngelarang aku dan yang lain buat ganggu kamu, Raz. Kamu lagi ngapain?”

“Eh, aku? Kamu ga dikasih tau yang lain?”

“Engga…”

“Aku lagi nemenin Ve jalan. Kamu gamau ikut, Chel?”

“Ohh, salam buat Ve ya!! Bilang ke dia, sampe ketemu besok, hehe..”

“Siap, chel. Kamu beneran gamau ikut?” Tanya Jaka lagi.

“Engga deh, Raz. Aku mau bantuin mama bikin kue juga nih..”

“Buat kita nanti ya?” Tebak Jaka.

“Iya, hehehe.. Tau aja kamu..”

“Pfuuhh.. Mama dari dulu selalu gitu tuh. Oh iya, bilang ke papa sama mama, aku gapapa.”

“Siap, Raz! Pesan pasti tersampaikan. Hahaha..”

“Kamu jangan ga istirahat, tolong jagain papa sama mama juga ya, Chel. Maklum bang Sony dah pantang pulang, hahaha..”

“Ishh, siapa bilang? Kak Sony barusan pergi tau.” Bantah Michelle.

“Serius, Chel?”

“Iya, tadi ada kak Naomi juga.” Tambah Michelle.

“Jahh.. menang banyak egen tuh anak..” Ucap Jaka heboh.

“Eh, maksudnya?”

“Engga engga, hehehe..”

“Yaudah, haha… Baju kamu mau dimasukin ke koper ato tas?” Tanya Michelle lagi.

“Hmm.. kamu ambil tas Eiger aku yang dibawah kasur aja, Chel. Aku males bawa koper. Nanti biar aku isi sendiri aja.” Jelas Jaka.

“Sip deh. Udah dulu ya, Raz. Bye..”

“Yo, bye..” Panggilan pun berakhir.

“Dari siapa?” Tanya Ve.

“Michelle, dia udah pulang duluan ternyata.”

“Orang tua kamu udah pulang juga?” Tanya Ve lagi.

“Iya nih, aku dicariin hahaha..”

“Yah, ga sempet ketemu orang tua kamu deh.”

“Malem nanti bisa kok..” Jaka tersenyum kearah Ve.

Ve mengangguk dan membalas senyuman itu.

‘Drrtt..’ Panggilan lagi dari Joey.

“Ya?”

“Lo di lantai 3 kan? Gue udah nyampe nih..” Ucap Joey.

“Sipsip, gue lagi di SS.”

Panggilan pun berakhir.

“Temen kamu dah nyampe?” Tanya Ve.

Jaka mengangguk.

“Eh, aku izin ke toilet ya?”

“Silahkan. Sakit perut ya?”

“Iya nih, gatau kenapa..”

“Hahaha..” Jaka tertawa geli.

“Razaqa!!”

“Udah sana, ntar kesemprot disini lagi. Hahaha..” Ejek Jaka lagi.

Jaka memperhatikan sekitarnya. Terlihat Joey sedang kebingungan ditengah keramaian. Jaka melambai-lambaikan tangannya. Joey melihat Jaka dan balas mengangkat tangannya.

“Yo, Brother.” Mereka berpelukan hangat.

“Kalian ke Jakarta besok, ya?” Tanya Joey langsung.

“Iya, yang lain maunya gitu. Sekalian ada temen gue mau balik ke Jakarta juga..” Jelas Jaka.

“Gimana cewek-cewek kemarin, Raz?”

“Aman. Mereka ga trauma sih, cuma ada satu yang sempet shock..”

“Siapa, Raz?”

“Viny, yang temennya Mike.”

“Ohh, iya-iya. Temen lu yang diculik total ada 3 kan?”

“5 sih, pacarnya Sony juga.”

“Hah? Pacar Sony? Naomi ya?”

“Iya, kak Omi..”

“Trus, selain Naomi?”

“Nah, satunya yang temen gue dari Jakarta itu. Yang ditaro di keranda.”

“Eh, yang mana?”

“Ada, yang ternyata temen Mike juga.”

“Eh? Pas kapan itu?”

“Oh iya, waktu itu gaada lu. Fuuto tau tuh..”

“Hmm.. oke deh.”

“Oh iya, katanya ada rumor. Rumor apa, Joey?” Tanya Jaka langsung.

“Gue denger-denger, semua warga negara asing yang terlibat bakal di deportasi. Ya, dianggep udah buat kekacauan.”

“Hah? Gila, masa langsung deportasi?”

“Nah itu, Raz. Kayanya ga langsung gitu deh. Trus, semua siswa-siswa WNI yang terlibat di kerusuhan kemarin, bakal di sidang.” Lanjut Joey.

“Sidang gimana?”

“Entah, kalimatnya ga jelas. Mungkin kalo ga dikasih penyuluhan, ya orangtuanya di panggil trus di ajak berunding.”

“Lol. Lu denger dari siapa, Joey?”

“Ada beberapa informan dari Jakarta dan Jepang. Berita kita udah tersebar di Jepang, tapi bukan di publik.”

“Jadi?”

“Government doang mungkin?”

“Kira-kira passport kami gimana ya?” Tanya Jaka.

“Kalo passport kalian diblock buat ke Jepang, berarti passport kami diblock buat kesini lagi.” Joey tersenyum.

“Umm.. Lo mau berangkat ke Jakarta kan?”

“Iya. Gue mau ngurus apartemen disana, biar beberapa bisa tinggal disana sementara.”

“Ada berita dari Kedubes Jepang?”

“Hmm.. belom sih, gue juga mau nemuin dubes Jepang sebenernya.”

“Oh, gitu.”

“Tapi, Yuri dapet surat dari Kedubes Rusia.”

“Isinya?”

Joey menggeleng.

“Uh?” Jaka menaikkan alisnya.

“Dia belom buka mulut.” Joey sedikit berbisik.

Jaka hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Andy besok mau ke Dufan. Kalian cegah deh, biar bisa bareng. Hahaha..”

“Gampang itu mah, hahaha.. ada rumor yang lain lagi, Joey?” Tanya Jaka.

“Umm.. itu dulu aja sih. Tapi, Luke dan beberapa orang yang kami bawa udah berangkat pulang ke Jepang.”

“For?”

“Yaa… ‘Kepentingan bersama’ pastinya..” Joey menurunkan nadanya, sambil tersenyum tipis.

“Hahaha.. okeoke.”

“Temen lu mana? Kok lama banget?” Tanya Joey lagi.

“Gatau nih. Kita keluar bareng aja, ya..”

Joey mengangguk.

“Lu bawa mobil?”

“Engga, tadi naek taksi.”

“Yaudah, sekalian gue anter ya?” Ajak Jaka.

“Ah gausah, Raz. Ngerepotin lo..”

“Ah, enggalah Joey. Udah jadi kewajiban gue ngelayanin tamu, hahaha..”

“Hahaha.. thanks banget ya..”

“Sama-sama..” Jaka tersenyum.

Tak lama, Ve keluar dari toilet itu.

“Maaf lama..” Ve sedikit membungkuk tak enak.

“Huuu, dasar! Nih, Ve. Kenalin ini temen a-“

“JESSICA VERANDA?!!” Teriak Joey tak percaya.

“Jo..Joello?” Balas Ve tak percaya.

“Eh? Kok kalian?” Jaka terdiam.

Seketika suasana menjadi canggung.

~~

“Mereka bilang, aku bukan manusia yang baik. Lalu, jika manusia itu makhluk yang lemah, apa jangan-jangan aku termasuk makhluk yang hancur? atau malah makhluk yang kuat?”

– Gilang Wijaya

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s