Sahabat (story version) part 2

Hidup itu pilihan. Tapi tak semua pilihan bisa kita ambil.
Terkadang semua pilihan itu malah menyudutkan kita. Membuat kita
bimbang karena terlalu banyak pilihan.

Lidya kembali membuka buku hariannya. Buku harian yg tak pernah ia
isi. Hanya ada namanya terpampang disana. Ia melihat selembar kertas
terselip disana, lalu mengambilnya. Ada sedikit senyum di ujung bibir
Lidya. Lidya teringat itu adalah kertas pemberian mamanya Viny, seusai
ia mengantarkan Viny keperistirahatannya yg terakhir. Ia kembali
membaca sepucuk surat itu.

* isi surat itu

Untuk Lidya Maulida

Tak ada sesuatu hal yg bisa aku berikan untukmu. Tapi aku bisa
memberikan pundakku atau tanganku untuk menghapus air matamu. Jadi
jangan sedih terus ya, aku ada untukmu setiap waktu. Seandainya ini
permintaan terakhir aku untuk kamu, aku cuman mau kamu temenan sama
Sinka. Dan jangan larut dalam kesedihan.

Teman barunya Lidya. Panggil Viny.

*

Lidya kembali melipat kertas itu, dan menaruhnya dilembaran buku itu.
Ia membantingkan tubuhnya diatas kasur tempat tidurnya. Ia berfikir,
apa ia bisa berteman dengan Sinka. Yah, itu pertanyaan yg berat untuk
bisa dijawab iya.

_O0O_

Sinka hanya menatap datar orang yg kini mengajaknya untuk main
kerumahnya. Setelah pulang sekolah ia tidak langsung pulang. Tangannya
ditarik untuk masuk ke mobilnya dan memaksa dirinya untuk main
kerumahnya. Ia hanya diam tak menolak.

” udah sampai…?” teriak Anin keras, wajah khas cerianya semakin
sumringah ketika ia menunjukkan rumahnya pada Sinka. Lalu mengajaknya
main ke kamarnya. Tempat yg sempurna untuk Sinka menepi. Anin
memandangi wajah Sinka yg terlihat ketus itu.

” kamu kan udah bilang, kalau aku bisa jauhin orang yg bernama Lidya
itu?, aku bisa jadi temen kamu…iya kan?” Sinka tersadar, ia
seharusnya tak perlu mengatakannya tadi.

Hanya sorot lampu jalan yg menemaninya dan juga Anin menuju rumahnya.
Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia tau ini pertama
kalinya ia pulang sekolah selarut ini. Kini mobil Anin berhenti
didepan gerbang rumahnya. Terlihat mobil Anin mulai menghilang dari
pandangan Sinka sekarang. Sinka melangkahkan kakinya menuju rumah,
beruntung pagar rumahnya belum terkunci.

” darimana saja kamu?” tanya seseorang dari balik pintu ruang depan,

” itu ga penting kan buat dijelasin?” balas Sinka berlalu melewati orang itu.

Naomi hanya memandang samar kepergian Sinka dari ruangan itu.
Beruntung kedua orang tuanya tak mengetahui akan hal ini. Jika mereka
tau, entah apa yg akan terjadi dengan adiknya itu. Naomi berjalan
menuju kamar Sinka, ia ingin mencoba berbicara selembut mungkin dengan
adiknya itu. Tapi niatnya ia urungkan ketika mendengar suara kedua
orang tuanya telah pulang kerja.

_O0O_

Suasana makan pagi ini masih sama seperti kemarin. Tak ada Sinka
disana. Ya, Sinka terlebih dulu berangkat sekolah. Itu yg dikatakan
mamanya pada Naomi.

Naomi kembali melamun di bangku taman kampus. Sebelum seseorang
mengagetkannya. Siapa lagi kalau bukan Ve.

” kamu judes gitu.. Tapi cowok se kampus pada ngejar-ngejar gitu?”
ucap Ve, Naomi menoleh,

” apaan sih, kamu kali yg dikejar-kejar. Semua orang se kampus juga
tau siapa Jessica Veranda?, anak yg pinter, rajin, disiplin, baik,
murah senyum, dan cantik…ya nggak…hh” balas Naomi,

” dan juga kutu buku…” timpal Ve, Naomi hanya tertawa mendengar
ucapan Ve barusan. Ada juga seutas senyum dari sudut bibir Ve. Ia
sadar, ia sekarang bisa kembali melihat Naomi bisa tertawa lepas
seperti itu.

” Naomi, aku pengen ngomong tentang hal penting?” Naomi terlihat fokus
menatap Ve,

” aku lupa ngerjain tugas kuliah hari ini?” lanjut Ve pelan, Naomi
mendengus kesal,

” aku pikir tadi apaan?, yaudah nanti nyontek punyaku aja…” balas
Naomi, Ve terlihat menunjukkan gigi putihnya itu dan tertawa kecil.

Mulut Ve tak sampai lagi untuk mengatakan hal yg sesungguhnya. Ketika
melihat Naomi bisa tersenyum, rasanya ia ingin mengubur sesuatu hal yg
mungkin akan membuatnya sedih itu. Hal yg entah ia bisa
menyampaikannya atau tidak.

” oh iya, udah lama banget aku ga ngeliat Aaron kayaknya?” ucap Naomi,
Ve terlihat kaget mendenger ucapan dari Naomi barusan. Tapi sebisa
mungkin ia menutupinya.

” Kenapa Ve?” tanya Naomi melihat Ve tiba-tiba jadi aneh seperti itu,

” engg…enggak papa, kamu kangen sama dia?, Ciye kangen mantan…”
balas Ve, Naomi menatapnya tajam,

” canda kali…” lanjut Ve.

Ve berjalan meninggalkan taman dan menuju kelas bersama Naomi
didepannya. Ia memperhatikan langkah Naomi yg terlihat anggun itu. Ia
tau, ia belum mengatakan hal yg ia sembunyikan. Mulutnya masih
terkunci, walau jujur jika ia tak mengatakannya mungkin semuanya malah
akan semakin memburuk. Tapi ia bingung, bagaimana menyampaikan hal
itu. Hal yg berhubungan dengan orang yg tadi dia Sebut. Aaron. Nama
seseorang yg dulu pernah mengisi hati sahabatnya itu.

_O0O_

Lidya terlihat kesal melihat Sinka dan juga seseorang yg kini
terlihat akrab dengannya itu. Sorot matanya tak ia lepaskan barang
sedetik pun. Ia yg seharusnya ada disana bersama Sinka, bukan dia.
Tapi sekarang inilah kenyataannya, ia gagal menepati janjinya dengan
Viny. Lidya mendengus kesal sambil mengaduk minumannya itu.

” Lid, lo tau ga siapa dia?” tanya Beby yg juga ikut memperhatikan orang itu,

” ga tau…” balas Lidya,

” lo belum tau Lid?, dia kayaknya akrab gitu ya sama Sinka?” timpal
Ayana yg kala itu juga ikut duduk dikantin. Lidya hanya mengangkat
kedua bahunya,

” kalau setau gue dia itu murid baru?, dan Namanya kalau ga salah
Anin…” Beby terlihat berbicara sambil memakan mi didepannya itu,

” gue ga peduli siapa dia?, tapi yg gue peduliin itu Sinka?, gue
berharap sih orang itu bisa gantiin Viny…” balas Lidya,

” iya sih, kayaknya orangnya juga baik…” timpal Beby,

” tapi mendingan cari tau dulu siapa dia?, aneh juga kan Sinka nya
cuek, dia nya tetep mau deket gitu, ngotot lagi…” ucap Ayana.

Apa yg  dikatakan Ayana ada benarnya juga. Rasanya ada sesuatu hal yg
aneh juga. Orang itu anak baru, dan kemudian dengan kengototannya itu
ia mencoba mendekati Sinka. Dan kenapa Sinka, bukankah dikelasnya
masih banyak orang yg lebih bisa terbuka, tidak cuek seperti Sinka.
Itu hanya sebuah pemikiran singkat dalam pikirannya Lidya.

Dari seberang meja disana Anin kini menyadari bahwa orang yg bernama
Lidya itu memperhatikannya. Ia seakan tersenyum melihat tatapan tajam
dari Lidya. Beberapa saat kemudian, Anin menuntun tangan Sinka untuk
meninggalkan kantin itu.

” Lidya kayaknya ga seneng kalau aku deket sama kamu?” tanya Anin,
saat ia dan Sinka berjalan meninggalkan kantin dan menuju kelas,

” gausah dipeduliin dia itu…” balas Sinka. Anin senang sekarang,
Sinka sudah mau berbicara banyak padanya,

” lo ngapain senyum-senyum…” ketus Sinka melihat Anin yg terus
menunjukkan giginya itu,

” dasar aneh…” lanjut Sinka.

_O0O_

” pa… Sinka masih butuh papa, masih butuh perhatian kita  untuk
sekarang…” Naomi terdengar meninggikan nada suaranya,

” iya papa tau, tapi ini tuntutan kerja dari perusahaan papa…papa
kerja buat siapa?, buat kalian…” balas sang papa,

” pa, papa lebih milih pekerjaan papa?, atau anak papa sendiri?” Naomi
terdengar mulai menekankan nada bicaranya itu,

” Naomi, siapa yg mengajarimu berbicara seperti itu…” tungkas papanya,

” pa, Sinka itu butuh perhatian dari papa, dari kita sebagai
keluarganya… Dia sedang dalam kondisi tidak baik saat ini, dan papa
memilih untuk keluar negeri untuk pekerjaan papa itu, dan meninggalkan
anak papa dalam kondisi down seperti itu…” Seru Naomi.

Mamanya hanya memandang keduanya tanpa berani berkomentar, ia dengan
nada lembut mencoba menenangkan Naomi.

” udah Naomi, jangan ngomong kayak gitu…” ucap Mama pelan,

” biar bagaimanapun papa bekerja juga buat kita…” lanjut mamanya
pelan. Naomi langsung saja meninggalkan meja makan.

Jujur ia kecewa dengan keputusan papanya meninggalkan keluarganya
dalam beberapa bulan kedepan. Sebenarnya jika situsinya tidak seperti
sekarang, ia juga tak akan mempermasalahkannya. Tapi kondisi
keluarganya kurang begitu baik, adiknya sudah terlalu jauh dari
dekapannya.

Kembali ke ruang makan. Suasana makan malam itu benar-benar
berantakan. Kini hanya ada mereka berdua yg sama-sama diam.

” ma, mama bisa kan jagain mereka berdua?” tanya sang papa, mama
terlihat tak membuka mulutnya,

” ya… Mama akan berusaha untuk itu…” balas mama.

Naomi kini berjalan kearah kamar adiknya. Ia membuka pintu kamar itu,
karena memang tidak dikunci. Tapi lagi, untuk kedua kalinya dalam dua
malam terakhir ini. Tidak ada dia disana. Ia menghela nafas panjang,
entah dengan siapa adiknya saat ini. Entah dimana dirinya. Bahkan
nomor handphonenya juga tidak aktif. Naomi kembali menutup pelan kamar
itu. Berharap bahwa kedua orang tuanya tak tau tentang hal ini.

Naomi berjalan menuruni anak tangga itu, ia berjalan pelan menuju
ruang depan. Ia akan menunggu adiknya pulang disana. Tak lagi ia lihat
kedua orang tuanya diruang makan. Sedikit ada kelegaan dari dalam
hatinya. Ia pun berjalan melewati ruang makan itu.

_O0O_

Sinka masih disalah satu wahana taman bermain di pasar malam. Tentu
saja bersama Anin disebelahnya. Entah apa yg ia rasakan saat ini. Tapi
hati kecilnya ingin sekali tersenyum. Ia bisa merasakan bagaimana
pedulinya Anin pada dirinya. Dia dengan sukarela mau membagi
bahagianya. Ia jadi teringat akan sosok sahabatnya dulu. Apa mungkin
Anin adalah manusia kirimin Tuhan untuk menggantikan Viny. Mungkin
iya, keduanya sangat mirip secara tingkah laku. Hanya saja Anin lebih
ceria dan juga lebih banyak bicara ketimbang Viny. Ia tau, tak
seharusnya ia membandingkan keduanya. Karena bagaimanapun keduanya
adalah sosok yg berbeda. Dan ia juga sadar, tak akan ada yg mampu
menggantikan Viny dalam hatinya.

” mau main lagi…?” tanya Anin menyadarkan lamunan dari Sinka.

Sinka tersadar kini bahwa salah satu wahana yg ia mainkan itu telah
berhenti, dan beberapa orang telah turun untuk bergantian.

” udah malem, gue pulang dulu?” balas Sinka.

Tidak membiarkan Sinka pulang sendirian, ia pun mengantarkannya pulang.

Sinka berjalan pelan menuju rumahnya, membuka pintu rumah itu. Dan
ada kakaknya berdiri disana dengan tatapan khawatir. Itu hal wajar.
Sinka melewati kakaknya tanpa mengatakan apapun.

” siapa yg tadi bersamamu dan mengantarkanmu pulang?” tanya Naomi.
Sinka menghentikan langkahnya,

” itu ga penting…” balas Sinka berlalu. Jujur hati kecil Naomi ingin
menangis saat ini juga. Tapi ia tak boleh menyerah.

Sinka masuk kedalam kamarnya. Dan kini menutup rapat pintu kamarnya
itu. Rasanya ia seperti terlalu dingin terhadap kakaknya. Kakaknya
tidak pernah salah apapun, hanya saja ia ingin lepas dari bayangan
kakaknya. Ia tidak ingin selalu terlihat dibawah kakaknya. Ia ingin
dilihat juga oleh semua orang. Keluarganya hanya memandang kearah
kakaknya, ia juga ingin di perhatikan. Sakit itu semakin timbul ketika
ia main kerumahnya Anin. Bagaimana tidak, Anin begitu diperhatikan
oleh ke dua orang tuanya. Ia sadar, ia tak sesempurna Naomi kakaknya.
Tapi bagaimanapun ia juga bagian dari keluarga ini sama seperti Naomi.
Ia kini melihat kearah kakaknya yg sekarang membuka pintu kamarnya. Ia
hanya menatap kosong kearah kakaknya. Jujur ia sama sekali tak pernah
membenci kakaknya itu.

” Sinka, apa temanmu tadi mengajakmu main kesuatu tempat hingga kamu
pulang selarut ini?” tanya Naomi lembut, Sinka memandang kearah
kakaknya itu, Sinka kemudian mengangguk. Sesuatu hal yg membuat Naomi
terlihat sedikit menarik ujung bibirnya berlawanan.

Ia harusnya mengerti. Ia bahkan jarang sekali mengajak adiknya itu
bermain bersamanya. Dan ia sadar, ia tak pantas disebut kakak saat
ini. Naomi ingin menampar keras pipinya sendiri. Bagaimana tidak, ia
melihat adiknya malah bermain dengan seseorang yg bahkan tak ia kenal.
Kenapa bukan dengan dirinya. Harusnya dia yg pertama kali mengajaknya.

_O0O_

Suasana makan pagi kali ini semakin sunyi,  hanya ada Naomi dan juga
mamanya diruang makan.

” apa papa benar-benar pergi…” tanya Naomi memecah keheningan.
Terlihat mamanya hanya mengangguk. Naomi berdiri dan meninggalkan
ruang makan itu tanpa menghabiskan sarapannya. Ia sudah kehilangan
nafsu makan untuk pagi ini. Ia pun memutuskan untuk pergi ke kampus.Ia
bisa melihat sekarang ada Lidya didepan rumahnya.

” kak Naomi, Sinka udah berangkat belum?” tanya Lidya ketika melihat
Naomi keluar dari dalam rumah.

” eh, Lidya… Sinka nya udah berangkat tadi?” balas Naomi,

” yah, padahal mau bareng gitu kesekolah…, Yaudah kalau gitu gue
duluan ya kak?” ucap Lidya sambil menyalakan mesin motornya kembali.

” kasihan Lidya, dia mau mencoba berubah, tapi Sinka ga mau beri
kesempatan untuknya?” batin Naomi memandang kepergian Lidya dari
rumahnya.

_O0O_

Ve kembali duduk disebuah bangku taman menunggu kedatangan Naomi
disana. Sambil terbang. Loh. Dia kan bidadari. *abaikan.
Ia terlihat memandang kearah jam tangannya. Dan melihat kearah
gerbang masuk kampus. Kini senyumannya melebar ketika melihat mobil
sahabatnya itu telah memasuki kampus. Beberapa saat kemudian orang itu
berjalan kearahnya.

” tumben agak telat?” ucap Ve ketika melihat Naomi telah sampai dihadapannya,

” emang iya ya?, padahal kayak biasa aja?” balas Naomi mengambil
tempat duduk disebelah Ve,

” wuih, novel baru ya?” tanya Naomi ketika melihat ada sebuah buku
novel dalam genggaman Ve,

” hehe, baru beli kemarin…” balas Ve,

” Naomi, kamu janji ya ga boleh nangis…” lanjut Ve, Naomi kini
menatap bola mata Ve yg terlihat ingin berbicara serius itu,

” kamu itu kenapa sih Ve?, kok jadi ga jelas gini?” balas Naomi. Ve
terlihat menarik nafas panjang, sebelum melanjutkan ucapannya.

_O0O_

Lidya, Ayana dan juga Beby nampak memperhatikan sesorang dari
seberang meja kantin. Terdengar dengusan kecil dari Lidya. Ia tak
betah dengan situasi ini.

” wah parah tuh bocah?, langsung bisa sedekat itu dengan kak Rizal?” ucap Beby,

” cantik sih doi, jadi gue rasa wajar kalau kak Rizal juga suka sama
dia?” timpal Ayana,

” ehm…”

” eh lid, bukan maksud gue manasin lo kok…hehe” ucap Ayana memasang
senyum kearah Lidya.

Sebenarnya bukan itu yg Lidya lihat, tapi Sinka. Sinka terlihat
semakin akrab dengan orang itu. Ck!.

Lidya berdiri dan berjalan meninggalkan kantin diikuti Beby dan juga
Ayana dibelakangnya.

~O0O~

Sinka dan Anin kini berada di rooftop. Di jam terakhir ini Sinka
memutuskan untuk keluar dari kelas, dan Anin mengikutinya.

” Sinka, aku seneng banget bisa kenal sama kamu?” ucap Anin,

” gitu ya?” balas Sinka,

” eh nanti pulang sekolah kamu mau ikut aku nggak?” Sinka terlihat
menoleh kearah Anin,

” pokoknya kamu ga bakal nyesel deh?” lanjut Anin. Sinka tidak
menjawab, tapi dalam hatinya kini, ia benar-benar senang. Entah kenapa
saat ia bersama Anin, ia merasa nyaman sama halnya dengan saat dulu
bersama Viny.

Saat lonceng tanda pulang sekolah telah dibunyikan, dengan cepat Anin
menarik Sinka dari rooftop. mereka menuju kesuatu tempat yg asing bagi
Sinka. Suatu tempat dimana matanya tak berkedip saat ia sampai disana.
Sinka bisa melihat langit yg berwarna orange itu dengan jelas. Tempat
dimana ia benar- benar tak bisa menyembunyikan senyumannya itu.

” ini tempat favorit aku?, aku selalu kesini kalau lagi ada
masalah…dan seketika itu aku bisa melupakan masalahku…” ucap Anin
tersenyum memandang kearah Sinka,

” jadi kalau kamu mau teriak?, kamu bisa teriak sesuka hati kamu
disini. Keluarkan semua beban dipikiranmu…” lanjut Anin. Sesaat
kemudian Sinka memandang kearah Anin. Kemudian tersenyum. Anin
langsung diabetes. *skip. Itu adalah senyuman pertama Sinka setelah ia
kehilangan Viny. Jujur ia ingin berada disini terus. Namun ketika ia
memandang kearah jam tangannya, ia sadar bahwa ia harus segera pulang.

” matahari senja itu hampir sama dengan sahabat. Kalau ia pergi, ia
akan meninggalkan keindahan yg luar biasa sebagai hadiahnya. Dan bila
sahabat pergi, ia juga akan meninggalkan kenangan yg tak ternilai
harganya…” ucap Anin. Sinka hanya mendengarkan ucapan Anin barusan.
Yg dikatakannya barusan memang benar. Kenangan yg tak ternilai
harganya. Kenangan saat bersama Viny.

Seusai tadi mengantarkan Sinka pulang kini Anin berjalan masuk ke
kamarnya, ia membanting tubuhnya dikasur miliknya itu. Kemudian ia
berdiri lagi dan mengambil satu lembar foto di meja belajarnya. Ia
dengan cepat menghapus air matanya yg baru saja ingin keluar.

” aku janji bakal balas semuanya kak?” ia kembali meletakkan lembar
foto itu diatas meja. Selembar foto yg berisikan foto dirinya bersama
dengan seseorang yg ia sayangi. Bahkan sangat ia sayangi. Anin mencoba
mengingat orang didalam foto itu. Namun begitu ia mengingatnya, air
matanya menetes tak tertahan.

_O0O_

Setelah sampai rumah, Sinka tak melihat lagi ada kakaknya diruang
depan. Tak seperti dua malam terakhir sebelumnya. Raut wajahnya malam
ini terlihat berbeda, ada sedikit raut bahagia dari wajahnya itu. Ini
mungkin karena Anin. Saat ia berjalan pelan menuju kamarnya ia
berhenti sejenak tepat didepan pintu kamar kakaknya. Ia bisa mendengar
suara tangisan sesenggukan dari dalam kamar kakaknya itu. Ia pun
membuka pelan pintu kamar kakaknya yg tak terkunci itu. Ia bisa
melihat sekarang bagaimana berantakannya kamar kakaknya itu, dan bisa
melihat kakaknya berada disudut ruang itu. Ia tak tau apa yg terjadi
dengan kakaknya itu. Tapi sepertinya dia tidak dalam kondisi baik.
Beberapa saat kemudian, Sinka kembali menutup pintu kamar kakaknya itu
dan berjalan menuju kamarnya. Duduk disana dan kembali mengingat
kejadian barusan. Ia bimbang sekarang, apa yg harus ia lakukan. Ia
terlihat bodoh kali ini, ia bahkan tak bisa melakukan apapun untuk
kakaknya sendiri. Untuk saat ini sepertinya ia harus mengesampingkan
rasa iri nya terhadap kakaknya itu. Ia kembali lagi menuju kamar
kakaknya. Kemudian mengetuk pintu dan masuk kedalam kamar kakaknya. Ia
bisa melihat kondisi kakaknya masih sama seperti tadi. Sinka jongkok
tepat didepan kakaknya, kakaknya terlihat mengangkat wajahnya. Sinka
bisa melihat raut wajah kakaknya itu yg dipenuhi oleh air mata.

” kak?, kak Naomi kenapa?” tanya Sinka, tanpa menjawab pertanyaan
Sinka, Naomi langsung saja memeluknya erat. Sinka membiarkan bajunya
basah oleh air mata kakaknya itu. Tak ada yg bisa ia lakukan selain
membiarkannya. Sinka perlahan melepaskan pelukan kakaknya. Kemudian
memegang kedua pundak kakaknya.

” kak?, jangan nangis lagi ya?” ucap Sinka.

Naomi tersadar bahwa adiknya itu mengkhawatirkannya. Dan juga, ia
sedikit bisa menghilangkan rasa sedihnya itu karena adiknya sudah mau
berbicara lembut lagi padanya.

Kini kamar Naomi kembali sepi karena Sinka sudah kembali ke kamarnya.
Naomi menatap kearah mangkok berisikan sop itu dimejanya. Itu yg Sinka
bawakan ke kamarnya. Naomi langsung memakan sop itu dengat cepat.

Naomi berbaring ditempat tidurnya. Ia teringat perkataan dari Ve tadi
di kampus.

*flashback

” Naomi, sebenarnya Aaron itu udah meninggal beberapa waktu lalu…”
Naomi tersentak kaget dengan perkataan dari Ve. Naomi menutup mulutnya
dengan kedua tangannya. Ia tak percaya dengan hal itu. Tapi Ve itu
tidak pernah berbohong.

” dan kenapa dia mutusin kamu waktu itu?, karena dia tau, dia ga akan
bisa jagain kamu lagi?” lanjut Ve.

*flashback off

Kini bayangan penyesalan membayanginya. Bagaimana tidak. Ia bahkan
tak tau jika Aaron itu menderita penyakit jantung. Dan dia harusnya
tau kenapa Aaron memutuskan hubungan antara mereka berdua. Ia terlalu
kekanak-kanakan. Bahkan ia tak bisa lebih luas dalam berfikir.
Pikirannya hanya mengatakan, Aaron mungkin tak menyukainya lagi.

Terkadang kita tak tau kenapa ada orang yg menjauhi kita dengan
sekejap. Bahkan saat kita tak merasa bersalah. Cobalah untuk
mengetahui alasannya. Jangan sampai ada penyesalan diujung.

_O0O_

Ve kini terlihat termenung memandangi Naomi dari kejauhan. Ia
harusnya tau, tak seharusnya ia memberitahukan hal tentang Aaron
padanya. Tapi ia juga tak bisa terus menutupi semuanya. Ve menghela
nafas, kemudian berjalan kearah Naomi.

” hei…jangan sedih terus dong?” ucap Ve setelah tiba didekat Naomi.

Naomi melihat kearah suara itu berasal. Ia bisa melihat ada Ve disana.

” tak perlu ada yg disesali, semuanya udah jadi takdir Tuhan…”

” gimana kalau nanti habis dari kampus kita ke makam Aaron…” lanjut
Ve, Naomi mengangguk.

Hanya isakan dari Naomi ketika ia berada dimakam Aaron. Tak ada lagi
ucapan dari mulutnya. Semua bungkam. Ve juga tak mengeluarkan sepatah
katapun. Ia hanya melihat sahabatnya itu berdiri disana. Ia kemudian
menarik tangan sahabatnya itu menjauh dari makam itu. Ia tak ingin
melihat sahabatnya itu terus larut dalam kesedihan. Mengantarkannya
pulang dan kini ia pulang menuju rumahnya.

Naomi masih terlihat raut kesedihannya walaupun ia sudah ke makam
salah satu orang yg ia sayangi itu.

Ia bisa melihat ada Sinka di ruang utama. Tak seperti biasanya. Ia
hanya melewatinya tanpa mengatakan apapun. Entah kenapa dengan dirinya
saat ini.

Malam telah datang. Seseorang kini menjemput Naomi entah kemana. Sinka
hanya memandanginya sementara. Kemudian ia tak mempedulikannya lagi.
Toh, dia cuek. Ia juga bisa lebih cuek. Hanya suara mobil yg
meninggalkan rumahnya yg terdengar dari kamar Sinka. Ia tak melihat
kearah mobil yg membawa kakaknya itu. Sinka berjalan kearah gagang
telpon yg kini berdering, ia bisa mendengar dengan jelas suara itu.

” Ini Sinka ma…iya gakpapa” hanya itu pembicaraan singkat dari
telpon itu. Mamanya mengatakan kalau dia tidak bisa pulang malam hari
ini. Itu tak masalah, ia juga sudah biasa dengan hal itu.

Sinka kemudian berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan tv disana.
Ia tidak bisa tidur malam ini. Ia menengok kesamping. Padahal tak ada
siapapun disana. Ia teringat dulu juga pernah ada diposisi ini. Tapi
waktu itu masih ada dirinya.

~

Naomi dan salah satu temannya itu kini berhenti tepat disalah satu
tempat yg sangat asing bagi Naomi. Saat ia dan temannya itu masuk, bau
dari alkohol diruangan itu bisa dengan jelas ia cium. Asap rokok yg
mengepul didepannya itu membuatnya sedikit terbatuk- batuk.

” lo akan lupain masalah lo disini?, jadi cobalah ini…” ucap
temannya itu sambil menuangkan minuman kedalam gelas. Naomi terlihat
menoleh kesana kemari. Ia terlihat bingung.

” cobalah…” ucap temannya lagi, Naomi terlihat ragu. Tapi beberapa
saat kemudian ia menengguk minuman dalam gelas kecil itu. Beberapa
saat kemudian ia memuntahkannya lagi.

” ini seperti air bekas cucian baju…” ucap Naomi, matanya terlihat menyipit,

” ck!, lo udah mabuk?, padahal cuma satu gelas aja…” balas temannya
Naomi itu. Dia bisa melihat bagaimana wajah Naomi itu tertempel di
meja.

~

Sinka menoleh ketika ia melihat kakaknya membukakan pintu ruang tengah
itu. Tapi ada yg berbeda dengan kakaknya itu. Matanya terlihat hanya
terbuka sebelah. Jalannya sempoyongan. Dan beberapa langkah kemudian
ia terjatuh. Sinka dengan cepat menghampiri kakaknya itu. Bau aneh yg
tak pernah ia cium sebelumnya keluar dari mulut kakaknya itu. Tapi ia
berfikir bahwa kakaknya itu mabuk.

” kak…, kak Naomi mabuk?” tanya Sinka, sambil menampar pelan pipi
kakaknya itu.

” ck!, apa yg kak Naomi pikirkan sekarang?” lanjut Sinka,

” heh Sinka, kak Naomi cuman pengen kamu kayak dulu lagi…kak Naomi
tau kak Naomi bukan kakak yg baik buat kamu…maafin kakak ya…” ucap
Naomi masih memejamkan mata dan diiringi batuk kecil dari mulutnya.
entah dia sadar atau tidak saat mengucapkan kata-kata itu. Tapi kini
sedikit ada raut khawatir dari wajah Sinka. Sinka dengan cepat memapah
kakaknya itu menuju ke kamarnya. Dan ia dengan cekatan mengambil air
hangat dan juga handuk untuk mengompres kening kakaknya itu.

# bersambung…

@sigitartetaVRA

Gimana part ke 2 nya?, masih kependekan?. Itu strategi, biar mata
pembacanya ga pada panas liat layar mulu. Btw, apa cuma saya yg nulis
pake hp.

Satu komentar anda adalah satu semangat  saya untuk menulis.
Segala masukan akan saya tampung, untuk menciptakan karya yg lebih baik.

Iklan

3 tanggapan untuk “Sahabat (story version) part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s