Roulette Love, Part 9

 

H-7

“Kau mau kemana?”

“A.aku pergi..”

“Tungguu.. Aku bahkan tidak tahu namamu..”

“Tungguu!!”

“Yak cut!” 

Nobi memotong adegan itu.

“Great Maul!” ujar Nobi sambil mengacungkan jempolnya.

“You too Mel,”

 Melody hanya tersenyum simpul mendengarnya.

“Oke break dulu ya semuanya, 5 menit, abis itu kita coba adegan terakhirnya, oke?”

“Siap!” ujar semuanya.

Ya latihan mereka hampir usai, selama satu minggu ini hampir tidak ada yang terbuang percuma.

Meski pada awalnya mereka semua masih malu-malu dan mementi gkan ego untuk menyatu.

Kini semua telah melebur menjadi satu.

“No, minum No,” pinta Maul.

“Tangkep!” Nino melemparkan botol mineral.

“Thankyu,” ujar Maul.

“Sinka, bajunya udah disiapin?” tanya Nobi.

“Udah, tinggal ngukur aja sih nanti di tempatnya. Biar nanti nggak kekecilan atau kebesaran,”

“Oke,” Nobi mengangguk kemudian mengecek apa saja yang ia butuhkan untuk hari H nanti.

“Ngg.. Lampu udah, dekorasi udah, baju tinggal fitting, musik juga udah, harusnya sih udah semua ya,” ujar Nobi.

Sinka yang berada di sampingnya mengangguk.

“Lusa pada fitting bisa nggak ya?” tanya Nobi.

“Yaa mungkin bisa kita atur, abis break coba ditanyain aja dulu sebelum mulai latihan, terus kalo udah fix aku bisa ngehibungin orangnya,” jelas Sinka.

“Hmm oke sip kalo gitu, makanannya mana ya?” tanya Nobi sambil cengengesan.

“Tuh di sana, lagi pada makan juga,” Sinka menunjuk tangga yang memisahkan bangku penonton.

Di sana sudah berkumpul RC dan Bonita.

“Yaudah deh isi perut dulu aja kali ya,”

Sinka mengangguk dan keduanya bergabung bersama yang lainnya.

~

Selesai makan..

“Oke, gue mau nanya kalo lusa pada fitting bisa?” Nobi menatap satu persatu pemainnya.

“Gue sih bisa,” ujar Boby.

“Gue juga kaga ada acara,” timpal Maul.

“Kalian gimana ladies?” tanya Nobi.

“Ngg.. Bisa deh kayaknya,” ujar Gre. Melody dan yang lainnya mengangguk.

“Oke kalo gitu, lusa kita fitting ya, nanti sama Sinka juga ke sananya, soalnya kan dia yang tau tempatnya,”

Semuanya mengangguk paham.

“Sin jangan lupa di telfon ya orangnya,” ujar Nobi.

“Sekarang aja Sin, biar nggak lupa,” ujar Ve.

Sinka mengangguk. Kemudian ia berdiri dan mengetikkan nomor pada hpnya.

“Oke yang lainnya kita latihan sekali lagi ya,” ujar Nobi.

~

Selesai latihan kedua tim itu membubarkan dirinya. Keynal juga pamit tidak ikut ngumpul di base RC. Karena ia harus menemui kedua orang tuanya di rumah.

“Key pulang,” ujar Keynal.

“Hai sayang,” wanita paruh baya menyapa hangat Keynal yang baru saja memasuki rumahnya.

“Hey Mam,” Keynal tersenyum.

Wanita itu mencium pipi Keynal bergantian.

“Papah mana?” tanya Keynal.

“Papah udah nunggu di meja makan, kita makan malem bareng ya, mamah udah siapin makanan yang istimewa,”

Keynal kembali tersenyum, dan mengangguk.

“Yaudah Key mandi dulu ya Mah,”

Wanita itu mengangguk, kemudian Keynal beranjak ke kamarnya.

Ia melewati kamar Melody, agak terkejut karena saat ia berjalan di depannya Melody keluar dari kamar.

“Baru pulang?” tanya Melody.

Alis Keynal bertaut. Heran. Tumben sekali nenek sihir ini bertanya baik-baik seperti itu.

Keynal hanya mengangguk menjawab pertanyaan Melody.

“Yaudah sana mandi, udah ditungguin Papah,”

Lagi-lagi Keynal menatap Melody bingung

“Lo abis kejedot?” tanya Keynal.

“Shut up, kita nggak bisa nunjukkin kalo kita bermusuhan di depan kedua orang tua kita kan?” ujar Melody.

Bola mata Keynal bergerak ke kanan atas, meninmang perkataan Melody.

“Jangan kelamaan mikir, dan jadilah adik yang baik,” Melody mendorong tubuh Keynal untuk segera masuk ke kamarnya.

“Iye iye bawel,” sunggut Keynal.

Setelah Keynal masuk ke kamarnya, Melody tersenyum kemudian ia beranjak menuju ruang makan di mana di sana sudah ada papahnya.

“Hai Pah,” Melody memeluk laki-laki paruh baya yang sedari tadi sibuk membaca korannya.

“Hai Mel, Key udah pulang?” tanyanya.

Melody cemberut karena malah Key yang ditanya.

“Udah pah, baru aja masuk kamar, lagi mandi kali,”

“Oih gitu, yaudah kamu duduk gih, kita tunggu Key,” ujar Afloch.

Melody mengangguk menuruti perintah papahnya.

~

Setelah beberapa menit menunggu Keynal mandi. Kini mereka semua sudah berada di meja makan. Afloch memimpin doa sebelum mereka menyantap hidangan.

“Gimana kuliah kamu Key?” tanya Afloch.

“Hmm, baik-baik aja Pah, kalo papah nanya soal nilai, nilai aku juga baik, yang aku tau IP aku semester kemarin lebih baik dari semester seblumnya, untuk semester ini, yaa belum tau, karena belum ujian,” ujar Keynal.

Afloch mengangguk paham.

“Kamu gimana Mel?”

“Hm sama aja kok pah, tetep nomor satu di kelas hehe,” ujar Melody.

Keynal menatap Melody heran, beda sekali ia hari ini, sedikit manja(?).

“Bagus, kalian emang anak-anak yang papah banggakan,” ujar Afloch sambil tersenyum.

Melody dan Keynal juga tersenyum mendengarnya.

Sang Ibu menatap keduanya dengan haru, ia mengira kalau kedua anaknya ini tidak lagi bernusuhan seperti dulu.

“Cuma Keynal pacaran mulu tuh pah,” celetuk Melody.

“Hah? Pacaran?” ujar Keynal bingung.

“Bener Key?” tanya Afloch sambil menatap Keynal.

“Eh eh, nggak kok Pah, Key belum punya pacar sekarang ini,” elak Keynal.

“Lho? Naomi kamu anggap apa Key?”

“Naomi? Astagaa itu bukan pacar aku tauu,” ujar Keynal.

“Haha bohong tuh paah, mereka berduaan mulu kalo di kampuus,”

“Dih? Kalo berduaan di kampus emang namanya pacaran? Satpam kampus juga cuma dua orang? Emang nereka pacaran?” ujar Keynal.

“Haha udah udah, abisin dulu makannya,” ujar Laksani menengahi kedua anaknya.

Keynal masih merengut sambil terus melanjutkan makannya.

“Haha, ya untuk pacaran gitu nanti ajalah, bukan maksud untuk melarang, tapi alangkah baiknya kamu fokus sama kuliah kamu dulu, terus lulus dan mendapatkan pekerjaan yang pantas, baruu kalo udah punya penghasilan kamu pacaran,” ujar Afloch.

“Iya pah, lagian siapa juga yang pacaran,” ujar Keynal.

“Hihi,” Melody terkekeh melihat Keynal ‘diadili’ seperti itu oleh Papahnya.

Selesai makan malam yang hangat Keynal kini sedang berbaring di kamarnya, menatap langit-langit.

“Key, udah tidur?” seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Keynal bangkit dari tidurnya, dan membuka pintu.

“Ada apa mah?” tanya Keynal.

“Boleh mamah masuk?” tanya Laksani.

Keynal mengangguk dan mempersilahkan mamahnya masuk ke kamar.

Laksani melihat sekeliling kamar anaknya itu. Foto-fotonya dengan semua teman-temannya terpajang rapih di sana.

“Mamah mau cerita boleh?” tanya Laksani sambil duduk di pinggir kasur.

Keynal mengangguk. Ia duduk di sebelah mamahnya.

“Hmm.. Yang pertama, mungkin Mamah mau minta maaf dulu,” ujarnya.

“Maaf untuk?” tanya Keynal tidak paham.

“Mamah tau kamu dengan Melody tidaklah akrab, tadi mamah juga abis dari kamarnya,” ujar Laksani sambil memperlihatkan baju bagian pundaknya yang agak basah.

“Mel nangis?” tanya Keynal.

Laksani mengangguk.

“Melody mungkin memang terlihat kuat diluar tapi, hatinya serapuh kertas, serapuh kulit fried chicken,”

“Oh mah, please, harus ngelawak di saat seperti ini?” tanya Keynal sambil memutar matanya malas.

“Hehe.. Iyaa kan biar nggak tegang. Oke, setelah kata maaf, boleh mamah minta tolong ke kamu?”

“Ng? Apa itu?”

“Hh.. Seperti yang kamu tau, Papah sama Mamah akan pergi lagi keluar kota lusa, jadi… Mamah ingin sekali kalian akrab, dan saling menjaga.

Meski umur Melody lebih tua satu bulan darimu, Mamah yakin kamu lebih dewasa dari dia,”

“Tapi Mah, Key rasa Melody udah cukup gede dan dewasa deh, Key aja dianggap kaya anak kecil mulu,” ujar Keynal.

“Iya.. Itu karena memang ia seperti itu. Sosok kakak yang selalu melindungi adiknya, meski terkadang caranya salah,” ujar Laksani. Laksani mengambil selembar foto dari kantungnya.

“Ini Melody dan saudarinya dulu,”

Keynal mengambil foto itu. Entah kenapa ia seperti familiar dengan perempuan di sebelah Melody.

“Itu Frieska, dia adik yang sangat di sayangi Melody, tapi sayang dia meninggal sebelum akhirnya Mamah menikah dengan Papah kamu, mungkin umurnya satu tahun dibawah kamu,” ujar Laksani.

“Frieska?” ujar Keynal.

Laksani mengangguk.

“Dia hanya sedang melewati masa sulit Key, setelah kematian adiknya, ayahnya menyusul karena kecelakaan kapal laut, dan sejak itu ia berubah jadi Melody yang dingin,” ujar Laksani.

“Mah…” Keynal mengambil tisu dan menyodorkannya kepada Laksani.

“Hehe maaf ya, nanti mamah nau nemenin papah kamu ke holland, dan ini yang terakhir, setelah itu papahmu akan terus menerap di Indonesia,”

Keynal tersenyum mendengarnya.

“Dan karena itu, mamah minta tolong jaga kakakmu ya,”

Keynal menghela nafasnya, “Baiklah, Key akan berusaha mah,”

Laksani mengangguk. Kemudian ia beranjak keluar dari kamar Keynal.

~

Dua hari kemudian…

“Oke next,” ujar wanita yang sedang mengukur pinggang Melody.

“Sin, ini bakalan selesai dalam waktu tiga hari?” tanya Nobi ragu.

“Iya kok, mereka kerjanya emang cepet, lagi pula ini cuma rumah yang emang digunain untuk fitting atau nyari model baju, kalo pengerjaannya mereka ada pabriknya lagi,”

Nobi mengangguk paham, dia berdoa semoga tidak terlambat dalam pembuatan kostumnya.

“Ini pada ganteng dan cantik gini mau pesta kostum ya?” tanya petugasnya.

“Eh? Oh.. Nggak mba, kita mau ada pertunjukkan theater gitu,”

“Hoo.. Terus kalian berpasangan?” tanyanya. Dan itu sukses membuat mereka saling tatap.

“Nggak..”

“Ng.. Nggak mba,”

“Nggak kok,”

ujar mereka bersamaan sambil menggelengkan kepala.

“Haha kalian lucu deh,” ujar petugas itu yang kini sedang sibuk mengukur pinggang Maul.

“Tapi ini selesai semua dalam tiga hari kan ya mba?” tanya Nobi.

“Tiga hari?”

“I.iya tiga hari? Apa nggak bisa?”

“Tiga hari mah kelamaan, lusa juga udah jadi mas,”

Nobi menghela nafas lega, senyumnya mengembang.

“Waah ini. Jagoan nih mbaknya,” ujar Maul.

“Iya dong,” ujar si mba dengan nada bangga.

“Hh syukur deh kalo gitu, berarti lusa bisa saya ambil ya?” ujar Nobi.

“Bisa, silahkan silahkan. Paling jam 2 siang udah kelar,”

“Oke jam 2 siang,” Nobi mencatat schedule nya di hp.

“Udah nih, siapa lagi yang mau di fitting?” tanya mba nya.

“Ng udah semua mba,” ujar Nobi.

“Lho masnya nggak? Sama itu mbak yang satunya,”

“Oh nggak mba, kita berdua cuma nganterin aja kok, nggak dapet peran buat pertunjukkan nanti,” terang Nobi.

“Hoo gitu, yaudah kalo gitu,”

“Oke mba, makasih ya, nanti lusa saya dateng lagi,”

“Iya sama-sama,”

Melody, Ve, Gre, Shania, Sinka, Maul, Nabil, Boby, Okta dan juga Nobi keluar dari rumah itu.

Mereka berjalan ke arah mobil punya Nabil. Mereka sengaja meminta Nabil membawa satu mobil travel yang nganggur di rumahnya, biar mereka hanya menggunakan satu mobil.

“Gila, geli gitu tadi pas masang sayapnya,” ujar Nabil bergidik.

“Haha lucu kali Bil, nanti berarti lo digantung gitu ya?” ujar Maul.

“Aih? Serius lo Ul? Emang iya Nob?” tanya Nabil kepada Nobi yang sedang menyetir.

“Iya lah, kan ceritanya turun gitu dari khayangan,” ujar Nobi.

“Aduh… Itu sakit kaga ya?”

“Sakit?” tanya Gre yang duduk di depan Nabil. (Tau mobil travel kan? Ada bagiian depan, temgah sama belakang? Nah di sini Nobi sama Sinka di depan, trus tengahnya Melody, Ve, Gre sama Shania, dan di bagian belakangnya Boby, Maul, Okta sama Nabil, nggak paham? Yaa pahamin aja lah).

“Iya, kan diiket gitu Gre,” ujar Nabil.

“Ooh iya sih,” ujar Gre.

“Nah..”

“Nggak kok Bil tenang aja, tapi kan yang paling penting safety,” ujar Nobi

“Iya kak, daripada jadi tikus?” ujar Okta.

“Dih mendingan tikus,” celetuk Boby.

Semuanya menoleh ke arah Boby.

“Huahahaha, duuh iya maaf atuh kakak tiri,” ujar Maul sambil mencium tangan Boby.

“Ish najis gue Ul,” ujar Boby.

Semuanya kembali tertawa.

~

Mereka telah sampai di ruang theater. Berpas-pasan dengan Lock Angels dan Tejege yang baru saja selesai latihan.

“Wah waah, keluarga besar nih?” celetuk Jeje.

“Palelo keluarga besar,” ujar Nabil.

“Palelo wa emerald,” celetuk Boby.

Semuanya menoleh ke arah Boby.

“Apa sih Bob?” tanya Shania bingung.

“Eh enggak, lanjutin aja debatnya,” ujar Boby yang kemudian masuk ke ruang theater.

“Duluan ya,” ujar Nobi yang kemudian mengikuti Boby masuk ke ruang theater. Dan akhirnya semuanya okut masuk.

“Lha kita dicuekkin?” ujar Jeje.

Di ruang theater.

Keynal dan yang lainnya sedang menata dekorasinya, begitu juga dengan tim penataan lampu dan musik.

“Udah siap dipake latihan nih?” tanya Nobi.

“Sabar bentar lagi,” teriak Nino.

“Ada yang bisa dibantu?” ujar Maul sambil melepas jaketnya. Ia kini hanya memakai kaus hitam oblong dan celana jeans panjang.

“Bawain tiang tiang dari belakang deh Ul,” ujar Keynal.

“Okee, ayo Ta,” ajak Maul yang melihat Okta.

“Aaah baru juga mau duduk,” sunggut Okta.

“Ada yang bisa kita bantuin?” tanya Melody.

“Ngg..,” Keynal melihat sekelilingnya.

“Siapin backsongnya aja,” ujar Keynal.

“Key ini lampu rusak?” tanya Nobi yang sedang mengecek lampunya.

“Ah shit! Serius?” tanya Key.

Nobi kembali menekan saklar lampu tapi tak kunjung menyala.

“Gue yang beli..”

“Aku yang beli deh,”

Boby dan Sinka berbicara bersamaan.

“Yaudah buruan ya, sesuain sama lampunya, tanya Pak Wiko bagian teknisi theater deh,” ujar Keynal.

“Lha? Kaga bilanh aja ke pihak kampus?” tanya Nabil.

“Ya kalo dibeliun sekarang, nanti dibelinnya pas hari H lagi, kita kan mau ngatur pencahayaa nya juga,” ujar Melody.

“Yaa.. Yaudah,” ujar Nabil sambil mengangkat bahunya.

“Yaudah, gue sama Sinka beli dulu ya,” ujar Boby.

Sinka dan Boby berjalan keluar dari ruang theater.

“Fuuh.. Akhirnya bisa berduaan,” celetuk Boby saat mereka berjalan di koridor kampus.

“Ih modus,” ujar Sinka.

“Idih kok gituu?” Boby memanyunkan bibirnya.

“Udah deh Bob, nggak di sini, nanti ketauan Bonita berabe tau,” ujar Sinka.

“Hadeuh.. Iya deh iya, lagian pake acara peraturan kaya gitu segala,” ujar Boby.

“Yaa namanya juga peraturan dari senior,”

Boby hanya mengangguk menanggapinya. Tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang mengikuti mereka dan menguping pembicaraan mereka.

“Oh… Ini menarik,” ujar seseorang sambil terus mengarahkan hpnya ke arah Boby dan Sinka.

“Kerekam seriusan?” tanya temannya.

“Iya, kaga sengaja ini juga! Gila gila, hot news banget ini sih,”

“Nah trus kita mau apain ini video?” tanya temannya.

“Kasihin kak Melody aja apa?”

“Waah.. Tapi kasian Sinka,”

“Yaa… Iya sih, tapi ini kan bisa bikin celah makin terbuka lebar utuk kemenangan kita?”

“Iya bener, Lock Angels sama Tejege bisa menang,”

Keduanya mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan.

~

“Aduh Maul! Kan gue udah bilang ngapalin gerakan dansanya,” ujar Nobi.

“Tau nih Maul salah mulu!” sunggut Melody.

“Gimana mau ngapalin kalo kaga ada lawannya?” ujar Maul.

“Jadi kalian belum pernah latihan bareng?” Melody dan Maul menggeleng bersamaan.

Nobi menepuk keningnya, yang lain juga menggelengkan kepalanya.

“Oke, gini ya, ini bagian yang cukup fatal di sini, gue pengen orang yang nonton itu ngeliat kalian emang kaya yang saling jatuh cinta satu sama lainnya,” ujar Nobi.

“I know Nob,” ujar Maul

“Iya paham Nob,” ujar Melody

“Kalo udah tau ngapa kaga latihan!?” geram Nobi.

Maul dan Melody hanya mengeluarkan cengiran begonya.

“Malah nyengir padaan. Gue nggak mau tau, kalian harus sering latihan berdua! Waktu kita tinggal dikit banget ini,”

“Bentar Nob bukan Dikit,” ralat Farish.

“Ah sama aja,”

“Yang lain udah bagus, tinggal bagian ini kenapa jadi jelek begini,” Nobi memijat keningnya.

“Yaudah Nob, mungkin udah cape juga, ini udah mau sore, nanti Kak Melody sama Maul bakal latihan kok,” ujar Ve sambil menenangkan Nobi.

Nobi memejamkan matanya.

“Yaudah latihan sampe sini dulu, besok kita lanjut!”

Semuanya mengangguk dan mulai merapihkan peralatannya masing-masing.

“Lampu gimana Bob?” tanya Nobi.

“Udah gue beli kok, tadi juga udah di pasang deh perasaan,”

“Ooh tadi pas latihan udah di coba?”

“Buset lo stress banget ya ampe kaga merhatiin hal kecil,” ujar Boby.

“Ya tadi terlalu fokus sama adegannya,” ujar Nobi.

“Sorry ye sorry,” ujar Maul sambil menggaruk kepala belakangnya.

“Sorry sorry, sana latihan, mumpung masih sore,” ujar Nobi.

“Iih kan udah capeee, nanti dimarahin mamah,” rengek Maul.

“Jiji Ul, kaya gitu lagi gue lempar nih,” ujar Mario yang hendak melempar sterofoam ke arah Maul.

“Haha iya iya maaf, yaudah deh gue latihan dulu,” Maul beranjak dan berjalan ke arah Melody.

“Hhh.. Yaudah ini di rapihin dulu deh, besok siang kita latihan lagi,” ujar Nobi.

Yang lainnya menurut dan membantu Keynal yang sedari tadi membereskan panggung.

~

“Jadi latihan di mana?” tanya Maul.

“Hmm aku punya temen yang punya studio balet, mau di sana?” tanya Melody.

“Boleh, tunjukkin arahnya ya,”

Ya kini Melody dan Maul sedang berada di mobil Maul, mereka sedang mencari tempat untuk latihan.

Setelah melewati beberapa belokan tanjakan juga turunan mereka sampai di sebuah rumah.

“Permisi,” ujar Melody sambil menekan belnya.

Tak lama muncul lah perempuan dari balik pintu.

“Lho? Melody? Astaga udah lama bangeet,” ujarnya setengah berteriak.

“Hai Stella, apa kabar?” tanya Melody sambil memeluk Stella begitu pintu gerbang terbuka.

“Baik baik, makin cantik aja ih,” ujar Stella sambil memperhatikan wajah Melody.

“Aah kamu mah paling bisa mujinya,”

“Hihi, oh ya ada apa? Tumben ke sini?”

“Oh ini, tunggu aku ama temen ke sini nya,” Melody celingukan mencari Maul yang ternyata masih di dalam mobil.

“Heh Maul, ayo turun,” ujar Melody.

Maul mengacungkan jempolnya dari jendela.

“Ngapain lama amat?” tanya Melody setelah Maul ada di dekatnya.

“Parkir mobil dulu kali, masa mau malang melintang di jalan gitu,” ujar Maul.

“Nih kenalin, temen aku Stella,”

“Stell, ini Maul, temen kampus aku,”

ujar Melody sambil mengenalkan keduanya.

“Maul,”

“Stella,”

Maul dan Stella saling berjabat tangan.

“Oh ya Stell kamu masih ada kan studio ballet nya?” tanya Melody.

“Iya ada, kenapa?”

“Jadi gini, kan di kampus mau ada pertunjukkan teater gitu, cerita tentang Cinderella, nah kita mau latihan pas adegan dansa nya,” ujar Melody.

“Ooh gitu, bisa aja sih, tapi kenapa harus di sini? Di kampus kan ada? Atau di rumah kamu kalo nggak rumah Maul?”

“Di kampus lagi ada yang make tempatnya,”

“Dan apartemen gue nggak segede ruang studio,” ujar Maul.

“Rumah kamu Mel?”

Melody menggeleng dan memberi isyarat kepada Stella.

“Oh My jangan bilang mereka,”

Melody menggenggam erat tangan Stella, agar Stella tidak melanjutkan ucapannya.

Stella menutup mulutnya, menatap Melody tidak percaya.

“Kenapa sih?” tanya Maul bingung.

“Oh nggak apa, jadi boleh kan ya Stell,” ujar Melody.

“Boleh kok boleh, yuk masuk,” ujar Stella.

Mereka bertiga memasuki rumah Stella.

“Jadi temen-temen kampus kamu masih belum ada yang tau?” bisik Stella.

Melody menggeleng.

“Astaga kok bisa? Pantesan aku kira kamu sama Keynal datengnya,”

“Ish udah deh jangan bahas itu dulu nanti ketauan,” bisik Melody.

“Yelah pada bisik-bisik,” celetuk Maul.

“Ih apa sih kepo banget,” ujar Melody.

Maul memutar matanya malas.

~

“Nah kalian bisa pake ruangan ini,” ujar Stella.

Ruangan yang ditempeli cermin pada tiap sisinya itu terlihat rapih dan cantik. Dengan alas kayu dan cat tembok berwarna cokelat.

“Ini mini player nya, kalian bisa nyetel lagunya di sini,” ujar Stella.

Melody mengeluarkan flashdisk dan memasangnya di mini player.

“Yaudah aku tinggal dulu ya, selamat latihan,”

“Thanks ya Stell,”

Stella mengangguk dan keluar dari ruangan itu.

“Keren juga ruangannya,” ujar Maul sambil melihat keseluruh ruangan.

“Jangan liat liat aja, ayo latihan,” Melody menyalakan lagu yang nanti akan menjadi backsongsaat adegan dansa.

Maul mengangguk malas, ia mendekati Melody.

“Oke jadi dimulai dari mana?” tanya Maul.

“Sini tangan kamunya,” Melody menarik tangan Maul ke pinggangnya.

Kemudian Melody mengalungkan tangannya di leher Maul.

“Oke ini dasarnya, kamu pernah ngikutin kelas pilihan theater?” tanya Melody.

“Pernah… Tapi lupa,”

“Hadeuuh, gimana sih,”

Maul kembali nyengir.

“Oke, kita samain nafas dulu,” ujar Melody.

Maul mengangkat sebelah alisnya.

“Samain nafas?” tanya Maul.

“Iya, biar gerakan kita sama nantinya,”

Maul yang hedak bertanya ditatap tajam oleh Melody. Maul kicep, langsung menuruti perintah Melody.

“Tarik nafas dalam dulu,” ujar Melody. Maul mengikutinya.

“Buang nafasnya pelan,”

Melody yang posisinya lebih rendah dari Maul merasakan adanya aroma mint dari nafas Maul.

“Good,” ujar Melody.

“Ingat ya, pertama samain nafas,”

Maul mengangguk masih mencoba berkonsentrasi menyamakan nafas.

“Sekarang coba langkah ke kanan,”

Melody dan Maul melangkah bersamaan.

“Sekarang ke kiri,”

Kembali keduanya melangkah bersamaan.

Melody terus mengajari Maul berdansa dari hal yang paling dasar.

Tanpa sadar keduanya sudah menghabiskan waktu hingga malam tiba.

“It’s easy right?” ujar Melody.

“Pala lu gampang,” celetuk Maul yang kini sudah bersimbah… darah.. Nggak deng, peluh maksudnya.

“Yee Maul, tapi seenggaknya tadi udah nggak kaku gerakan kamunya, daripada pas latihan di theater, kaya robot-robotan pasar malem,” ujar Melody.

“Buseee, lisannya mba, udah semester atas juga, eh semester tua,” ujar Maul.

“Biarin wlee robot-robotan pasar malem dasar,”

Maul menyipitkan matanya. Ia kemudian menerjang Melody dan menggelitik pinggang Melody.

“Apa lo bilang? Rasain nih gelitikan dari robot pasar,” ujar Maul sambil terus memainkan jarinya dipinggang Melody.

“Eh eh Maul! Jangan kurang ajar… Hahaha.. Maul udaah ahaha…”

Melody terus meronta dan tanpa sengaja tangannya mengenai mata Maul.

“Aw..” Maul bergerak mundur sambil menutup matanya.

“Ya.yaah kaan, kamu sih pake ngelitikin segala,”

Maul masih diam menutup matanya.

“Ul? Sakit yaa?” Melody mendekati Maul dan menepuk pundaknya pelan.

Maul masih diam..

“Mauul…” Melody mulai merengek sambil menggoyangkan pundak Maul, ia merasa bersalah.

“Bwee, ketipuuu,” ujar Maul sambil menjulurkan lidahnya.

Mata Melody membulat.

“Robotaan pasaaaar!!” teriak Melody sambil terus memukul tubuh Maul berulang kali.

“Aduh aduh, mba wei, ampun mba ampuun,” Maul mencoba melindungi dirinya.

‘My mama don’t like you…’

Nada dering Love Yourself nya Justin terdengar menggema di ruangan.

“Huh dasar,” sunggut Melody.

Ia berhenti memukuli Maul dan berjalan mendekati hpnya.

Melody melihat ada sebuah miscall dari nomor yang tidak di kenal dan ada chat dari Natalia.

Melody membuka isi chat nya.

“Apa!?”

 

-TBC-

 

-Falah Azhari-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

numpang bikin note Thor :3

So, gue selaku admin pengen ngasih tau doang……
Ada yang seru loh #DUAMINGGULAGI !

Penasaran? Bisa kepoin page ini atau tanya-tanya kesini :3

1469112175107.png

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s