Silat Boy : Kencan Kilat Part 8

CnJGPUtWgAEeomp

Seperti biasa, rutinitas harian di pagi hari. Pagi itu, Rusdi kembali
diantar sekolah oleh Kak Melody. Kali ini suasana terasa seperti dulu
lagi. Sepanjang jalan mereka mengobrol ria, bahkan sesekali mereka
bercanda.

Sesampainya di sekolah, Rusdi kemudian turun dari mobilnya. Lalu ia
menyalami tangan kakaknya. Setelah itu berlalu, tapi beberapa langkah
kemudian ia balik badan. Lalu melambaikan tangan pada kakaknya seraya
tersenyum simpul.

Kakaknya sudah di dalam mobil. Lalu balas melambaikan tangan. Setelah
itu Kak Melody memacu mobilnya meninggalkan sekolah. Rusdi kemudian
melangkah menuju kelasnya.

Sesampainya di kelas, ia kemudian melangkah masuk. Dan ternyata
sahabatnya sudah ada disana. Biasanya mereka datang siang, tapi kali
ini Epul datang pagi bersama Naomi dan Yona.

“Tumben kalian datang pagi.” Rusdi menghampiri mereka.
“Iya, takut macet.” jawab Naomi.
“Oh iya, hari ini kamu ada acara gak?” tanya Naomi.

“Ada, siang nanti aku mau jalan sama gebetan.” Rusdi sedikit tertawa,
ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Siapa?” tanya Naomi.
“Nanti juga kamu tau.” nampaknya Rusdi enggan memberitahu mereka.

Beberapa saat kemudian, bel tanda masuk kelas dibunyikan. Lalu para
murid berhamburan memasuki kelasnya masing-masing. Rutinitas harian
seperti biasa, belajar di kelas.

Pulang sekolah, kali ini ia tidak menelpon kakaknya. Ia akan langsung
menunggu Nabilah di taman kota, dimana terdapat berbagai macam
pedagang disana. Sebelumnya juga ia sudah izin pada Kak Melody.

Matahari sudah berpindah tempat. Awalnya taman kota terasa panas, tapi
kini panas itu sudah mulai menghilang. Digantikan oleh suasana yang
amat tentram. Dua jam Rusdi menunggu disana.

Pukul 2 siang, Rusdi masih menunggunya di masjid taman kota. Ia sedang
mengikat tali sepatunya, wajahnya basah. Ya, ia baru saja selesai
sembahyang. Sejenak Rusdi tiduran di masjid itu, baju seragamnya mulai
kusut.

Tak apalah, demi Nabilah apapun ia lakukan. Tak lama kemudian setelah
ia selesai berdoa, akhirnya orang yang ditunggunya itu datang juga. Ia
terlihat anggun, sehingga membuat wajahnya berseri.

“Maaf, kamu udah lama nunggu ya?” tanya Nabilah, Rusdi kemudian
berdiri seraya merapikan pakaiannya yang kusut.
“Yuk!” Rusdi hendak berbicara, tapi Nabilah merangkul tangannya dan
membawanya ke suatu tempat.

Tempat itu cukup indah, burung terbang bebas kesana-kemari. Danau
nampak sangat tenang dengan aliran air nya yang bersih. Pohon beringin
yang rindang, dibawahnya ada kursi taman yang panjang serta beberapa
pedagang.

Rusdi dan Nabilah kemudian duduk di kursi itu. Nabilah lalu memesan
makanan dan minuman. Tidak disangka, ternyata di Jakarta masih ada
taman seindah itu. Bahkan udaranya sejuk, seperti belum terjamah oleh
manusia.

“Jadi, sekarang apa?” tanya Nabilah, ia membawa makanan dan minuman ke
kursi itu.
“Tidak disangka, ternyata di Jakarta masih ada taman seindah ini!”
Rusdi terkagum-kagum.

“Emang kamu siswa pindahan ya?” Nabilah meletakkan makanan itu disebelah Rusdi.
“Iya, aku pindahan dari Bogor. Tepatnya dari Kampung Tengsaw.” jawab Rusdi.

“Jadi, sekarang apa?” Nabilah kembali mengulang pertanyaannya.
“Maksudnya?” Rusdi balik bertanya.
“Kapan kita jadian?” tanya Nabilah, langsung ke intinya.

“Hah? Jadian?” Rusdi nampak kaget mendengar pertanyaan itu, meskipun
disisi lain ia merasa sangat senang.
“Kamu mau kan jadi pacar aku?” Nabilah menatapnya sayu.

“Kok jadi kamu yang nembak?” Rusdi sedikit tertawa.
“Gak apa-apa, mau gak nih?” tanya Nabilah.
“Jadi mulai hari ini kita pacaran, ya? Rusdi balik bertanya.

“Aku bilang mau gak kamu jadi pacar aku?” Nabilah nampak kesal, Rusdi
masih belum menjawabnya.
“Maksudku, ini seperti kencan kilat! Padahal kita baru kenal 2 hari
lalu.” Rusdi tertawa.

“Ish, mau gak?” tanya Nabilah, ia mulai jengkel.
“Iya mau.” jawab Rusdi, tersenyum simpul.
“Aku tampar?” sambung Nabilah tertawa jahat.

“Kirain jadi pacar kamu, eh taunya mau ditampar.” Rusdi menatapnya lamat-lamat.
“Hahaha, bercanda kali! Gak usah baper. Jadi, mulai hari ini kita
pacaran, ya?” Nabilah nampak sangat senang.

Rusdi hanya mengangguk pelan, lalu ia memeluk Nabilah erat. Ia tidak
peduli pada orang-orang disana. Ia akhirnya mendapatkan Nabilah. Rusdi
semakin erat memeluknya.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

numpang bikin note Thor :3

So, gue selaku admin pengen ngasih tau doang……
Ada yang seru loh #DUAMINGGULAGI !

Penasaran? Bisa kepoin page ini atau tanya-tanya kesini :3

1469112175107.png

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s