Silat Boy : Pilihan Baru Part 7

CnJGPUtWgAEeomp

Esok hari, dimana seharusnya udara pagi terasa segar. Dimana
seharusnya matahari menjejakkan cahayanya di sudut-sudut ruangan.
Namun tidak di Jakarta.

Udara pagi yang seharusnya terasa segar malah terasa sangat
menyesakkan. Hiruk-pikuk polusi asap dimana-mana. Pagi saja sudah
seperti itu, bagaimana dengan siangnya? Tidak bisa dibayangkan betapa
pengapnya Ibukota.

Seperti biasa, pagi itu Rusdi diantar sekolah oleh Kak Melody. Sudah
dua hari mereka tidak saling menyapa. Jangankan menyapa, berbicara pun
tidak. Nampaknya Kak Melody harus mencari rumah baru demi kenyamanan
adiknya.

Berhubung kerjaan Kak Melody masih di Jakarta, jadi ia harus tinggal
di Jakarta untuk sementara. Mungkin dua sampai tiga tahun mereka harus
tinggal di Jakarta.

Rumah di desa masih belum di jual, ia dan adiknya akan kembali ke desa
jika kerjaannya sudah selesai. Atau mereka akan ke desa itu saat
liburan sekolah. Untuk menghabiskan masa liburannya.

Tapi mungkin Kak Melody akan tetap di Jakarta untuk mengurusi
pekerjaannya. Liburan sekolah nanti Kak Melody hanya akan mengantarkan
Rusdi ke desa, lalu menjemputnya lagi.

Mungkin di perumahan yang dekat dengan sekolah. Tapi jika adiknya
masih diam tanpa kata, apa boleh buat. Kak Melody harus
membicarakannya secara perlahan, agar Rusdi bisa bercerita tentang
masalahnya.

Pilihan itu ada di tangannya, namun adiknya yang menentukan. Apakah ia
harus pindah lagi? Entahlah. Ia harus membicarakan masalahnya dengan
Rusdi malam ini.

Tidak terasa, kini mereka sudah sampai di sekolah. Masih pagi, tapi
sekolah mulai ramai. Rusdi perlahan turun dari mobil, kemudiam berlalu
begitu saja. Tadi sepanjang jalan mereka sama sekali tidak berbicara
sedikit pun.

Pagi itu di koridor, jauh di depannya. Nampak Boim dan dua temannya
sedang bercanda. Rusdi balik badan, lalu berjalan kearah lain menuju
kelasnya. Jalan itu sedikit jauh, tapi ia harus menghindari Boim.

Sesampainya di kelas, Rusdi langsung duduk di kursinya. Tak lama Epul
datang, lalu mereka mengobrol sebari menunggu bel tanda masuk kelas
berbunyi. Sekaligus tanda mulai pelajaran pertama.

Beberapa saat kemudian, guru mata pelajaran masuk ke kelasnya.
Seketika semuanya duduk rapi, bel belum berbunyi tapi guru itu sudah
masuk kelas. Tak lama bel pun berbunyi.

Beberapa jam kemudian, akhirnya bel terakhir pun berbunyi. Para siswa
mulai berhamburan pulang ke rumahnya masing-masing. Saat pulang
sekolah, Epul dan Naomi menghampiri Rusdi.

“Hey, hari ini ada acara gak?” tanya Epul, menepuk pelan bahu Rusdi.
“Ada, aku mau jalan sama gebetan baru.” Rusdi sedikit tersenyum.
“Cie… cie…” Yona menggodanya, Rusdi hanya cengengesan.

Sementara mereka menggoda Rusdi, Naomi nampak diam saja. Apa ia sedang
sakit? Entahlah. Tapi kenapa ia tidak ikut menggodanya? Ia hanya diam
seraya menatap kosong sepatunya.

“Naomi kenapa? Kok diem aja?” Rusdi menatap Naomi dengan tatapan sayu.
“Eh, aku gak apa-apa kok. Cuma ada masalah sedikit aja. Oh iya, aku
duluan ya. Adik aku udah nungguin tuh di parkiran.” Naomi kemudian
berlalu meninggalkan mereka.

“Eh? Perasaan adiknya gak pernah jemput dia deh.” Yona nampak bingung.
“Iya, tapi kenapa sikap dia aneh ya?” Epul pun sama, ia bertanya-tanya
dalam pikirannya.

“Kemaren Rusdi, sekarang Naomi yang sikapnya aneh. Hidup itu memang
penuh tanda tanya.” Yona menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Eh?” Epul menatap Rusdi, entah kenapa tiba-tiba Rusdi tersenyum sendiri.

Ia asik membalas pesan singkat dari Nabilah. Rusdi masih tersenyum
sendiri, Yona dan Epul menatapnya bingung. Mulut mereka sedikit
terbuka, dan mata mereka terbuka lebar menatap Rusdi.

“Itulah cinta… tidak mengenal arti kata perbedaan. Meskipun orang
tersebut menjadi gila.” Yona mulai cerewet, biasanya ia cerewet saat
di dekat Naomi saja.

“Aku pulang dulu ya, Kak Melody udah jemput aku. Duluan ya, duluan
ya.” Rusdi menjabat tangan kedua sahabat barunya itu sambil tersenyum
ria.
“Eh?” seru Yona dan Epul hampir bersamaan.

“Lihatlah anak itu, wajahnya masih lebam. Tapi ia masih sempat
tersenyum. Mulai sekarang kau kuanggap sahabatku, kawan!” pikir Epul,
ia tersenyum menatap kepergian sahabatnya itu.

Malamnya, Rusdi masih sibuk membalas pesan dari Nabilah. Ia sedang
duduk di sofa sambil tersenyum sendiri, lalu Kak Melody duduk di
sebelahnya. Rusdi tidak menggubrisnya, ia masih sibuk dengan
urusannya.

“Dek, nanti kakak nyari rumah baru lagi. Tapi masih di kawasan
Ibukota, gak apa-apa kan?” Kak Melody memulai pembicaraannya, Rusdi
kemudian menatap kakaknya dengan tatapan ria.

“Kak, mulai sekarang gak usah pikirin rumah baru. Aku mulai betah
tinggal disini.” Rusdi akhirnya kembali tersenyum pada kakaknya
setelah beberapa hari senyuman itu hilang.

“Kamu serius?” tanya Kak Melody.
“Aku pilih tinggal disini. Ya walaupun sulit beradaptasi sama
lingkungan sini, tapi aku punya teman sama kakak yang selalu
menjagaku.” jawab Rusdi, Kak Melody mulai berkaca-kaca.

“Itulah pilihan baruku, kak….” intonasi nadanya terdengar amat halus.
“Makasih!” Kak Melody memotong, lalu memeluk erat adiknya.
“Sama-sama, kak.” sejenak mereka berpelukan di sofa itu.

Ah, benar-benar keluarga yang harmonis. Baginya, Kak Melody merupakan
sosok kakak yang baik. Sekaligus Kak Melody merupakan sosok ibu
pengganti baginya. Sikap dewasa Kak Melody sangat ia butuhkan untuk
kehidupannya.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s