X-World, Side Story (4) : Logan – Coincidence (Pt.1)

Pria dengan rambut cambang panjang itu menyalakan cerutu keduanya. Sambil membaca sebuah selebaran yang dirobeknya dari dinding di depan bar yang jadi tempatnya untuk beristirahat saat ini, perlahan-lahan asap dari cerutu yang dihisapnya mengalir keluar dari dalam hidungnya.

Seorang pelayan wanita datang dan meletakkan segelas bir pesanan si pria bercambang. Pria itu meletakkan cerutunya pada asbak, lalu meneguk birnya yang baru datang itu.

Mata pria itu belum beralih ke arah lain. Ia masih fokus membaca selebaran yang ada di tangan kanannya. Tidak sampai 15 menit, cerutu keduanya pun telah habis. Tangan pria itu masuk ke dalam ransel. Ia berniat mengambil cerutu ketiganya.

Saat ia membuka kotak cerutunya, tersisa satu buah cerutu di dalamnya. Pria itu langsung menutup kotak cerutunya dan mengembalikannya ke dalam ransel. Ia menghela nafasnya. Sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu yang penting.

“Huft… Oke, Logan. Tidak ada cerutu sebelum kau dapat uang tambahan untuk membeli stok baru.” Gumam si pria sambil mengancing kantong ranselnya. Ia meletakkan selebaran yang telah selesai dibacanya. Kemudian ia meregangkan tubuhnya.

“Permisi–“

“Maaf, salah meja. Saya nggak mesen makanan apapun.”

“Maaf, saya bukan pelayan.” Ucap wanita yang berdiri di seberang meja Logan. Logan pun melirik perempuan itu.

“Oh… Maaf saya juga nggak tertarik untuk ‘enak-enakan’ malam ini.”

*BRAK!!!*

“DENGAR YA, TUAN MANUSIA SINGA! Gue bukan perempuan yang mau macem-macem sama lo di sini! Gue Cuma pengen numpang duduk di meja lo, karena Cuma meja lo yang punya bangku kosong!”

Berkat reaksi spontan wanita tersebut, kini perhatian semua orang yang ada di lantai 2 bar tertuju pada Logan.

“Ckh… Duduk.”

Wanita itu langsung menarik kursi di seberang Logan dan duduk. Suasana mulai kembali normal. Wanita bersuara serak itu benar-benar pintar untuk mencari cara agar mendapat tempat duduk di dalam bar yang telah penuh. Sambil tersenyum ke arah Logan, wanita itu meminum minumannya.

“Kalau bukan karena wanita, sudah dari tadi ku tendang dari lantai 2.” Gumam Logan.

“Apa lo bilang barusan?”

“Bukan apa-apa,” Rupanya wanita tersebut mendengar umpatan Logan.

“Telinga wanita ini tajam juga.” Ujar Logan dalam hati.

Terjebak di tengah riuhnya suasana lantai 2 bar, tak satupun kata keluar dari Logan ataupun si wanita yang duduk satu meja dengannya. Ya, Logan memang bukan tipikal orang yang banyak bicara, tapi wanita baru mengganggunya beberapa saat yang lalu itu… Jelas sekali dari cara bicaranya ia bukan tipikal orang yang pendiam.

Wanita tersebut memainkan pandangannya ke sekeliling. Ia berusaha mencari bahan pembicaraan untuk dibicarakan dengan orang yang baru diganggunya. Setelah hampir 30 detik matanya melihat ke kiri dan ke kanan, kini matanya tertuju pada sebuah kertas kusam yang berada di atas meja yang ditempatinya bersama Logan.

Dead or Alive Tournament? Oh… Jadi lo petarung?”

“Bukan.”

“Terus brosur itu?” Logan mulai risih dengan rasa ingin tau wanita itu. Ia pun mengarang kebohongan agar ia tidak bertanya lebih jauh.

“Tadi aku berniat menggunakan kertas ini untuk pembungkus tembakau agar aku bisa merokok, tapi aku dapat kertas yang lebih bagus.”

“Gak usah ngibul deh, Om. Semua orang juga tau lo daritadi ngisep cerutu, bukan rokok.”

“Benar semua orang? Atau hanya kau saja memperhatikanku?” Logan yang semula memejamkan matanya, kini menatap wanita itu dengan tajam sambil mengepalkan tangan kirinya, “Sepertinya kau salah bicara, nona muda.”

Dari sela-sela kepalan tangan kiri Logan, perlahan-lahan muncul titik-titik tajam menyerupai duri. Wanita itu sadar dengan munculnya duri-duri pada tangan kiri Logan. Perlahan-lahan, duri-duri itu semakin keluar, dan semakin panjang hingga menyerupai 3 buah cakar.

“Sebelum ada sesuatu yang terjadi pada tubuhmu, aku punya satu pertanyaan,” Logan memajukan kursinya mendekati meja, “Apa arti nama Ezio Auditore bagimu?”

Wanita itu tampak ketakutan. Kedua kakinya yang berada di bawah meja sudah mulai bergetar, tapi tidak dengan bagian tubuh atasnya. Rupanya ia cukup ahli mengendalikan tubuhnya walaupun dilanda rasa takut.

“Oke, gue ngaku!”

“Aku beri kau 5 menit untuk bicara sebelum mata cakarku melayang lurus melewati mata atau bahkan kepalamu,” Terlihat ludah turun melewati tenggorokan wanita itu.

“Siapa bos mu, dan apa tujuan dia memata-matai ku?” Tanya Logan.

“Nggak ada yang namanya bos. Gue daritadi emang merhatiin lo semenjak lo masuk ke dalem bar. Gue lagi butuh duit, dan dari tampang-tampang lo, kayaknya lo naked traveler yang bawa banyak barang termasuk duit. Jadi tadi… Gue… Cuma pengen nyopet lo.” Jawab si wanita.

Logan mengeluarkan ujung cakar di sela-sela tangan kanannya karena ia merasa belum mendapat jawaban sebenarnya dari wanita itu.

“Sumpah! Gue Cuma pengen nyopet lo tadi, nggak lebih!” Wanita itu memundurkan kursinya perlahan. Kali ini wajahnya benar-benar menampakkan ketakutan yang luar biasa.

Pandangan Logan masih tertuju pada mata wanita itu. Setelah beberapa menit hening, semua cakar di kedua tangan Logan kembali masuk ke dalam tubuhnya dan ia pun berdiri.

“Menyedihkan….” Logan mengambil tasnya dan mendorong selebaran yang ada di atas meja ke arah wanita itu.

“Lebih baik kau mengotori tanganmu untuk uang bersih daripada kau mengotori tanganmu untuk uang kotor.” Logan berjalan pergi turun dari lantai 2 bar.

Wanita itu melihat ke arah selebaran yang diberikan oleh Logan kepadanya. Selebaran tentang sebuah turnamen yang berhadiah uang cash dan juga sebuah hadiah bonus misterius.

………………….

“Ada-ada saja. Dasar remaja. Selalu bertindak tanpa pikir panjang dan semaunya sendiri.” Gerutu Logan seraya kakinya melangkah meninggalkan bar.

“Tapi… Saat ini aku juga sedang berada dalam kondisi yang sama dengan anak itu. Kalau aku tidak bisa mendapat uang hari ini, berarti….” Logan menoleh ke kanan. Ia menatap sebuah stadium besar yang letaknya tidak terlalu jauh dari bar yang baru ditinggalkannya.

“…Tidak. Pokoknya harus ada cerutu minimal satu untuk sehari!”

Logan memerintahkan kedua kakinya untuk bergerak secepat mungkin ke stadium besar yang diliriknya. Sesampainya di depan gerbang stadium, ia menghampiri sebuah booth kecil yang agak ramai untuk mengambil sebuah formulir pendaftaran.

“DEMI CERUTU!”

Logan mengisi setiap kolom pada formulir itu dengan cepat menggunakan pulpen yang diambilnya dari tangan orang lain yang juga tengah mengisi formulir. Orang itu merasa terganggu dan hendak menegur Logan, tapi begitu orang itu menatap mata Logan yang tengah berapi-api, ia langsung melangkah mundur dan tidak jadi menegurnya.

Kejadian kecil itu mencuri perhatian seorang pria yang tengah bersender di samping booth pengambilan formulir. Pria yang berpenampilan menyerupai perompak itu tampaknya tertarik dengan sikap Logan, dan ia tidak sengaja melihat formulir milik Logan yang telah diisi dan dikumpulkannya di booth.

“Hooh… Logan, ya? Hah… Ada-ada saja. Bertarung, hanya agar bisa membeli cerutu. Cukup menarik, sih.” Ujar pria tersebut. Pria itu membenarkan posisi berdirinya dan berjalan pergi meninggalkan area gerbang stadium.

“Sepertinya besok akan lebih menarik dari yang aku bayangkan.”

**

Jam 6 pagi. Matahari baru terbit, tapi jalan yang mengarah ke stadium besar di kota telah dipenuhi antrian kendaraan. Padahal gerbang stadium sudah dibuka lebih awal untuk menghindari antrian kendaraan yang memenuhi jalan, tapi nyatanya antrian kendaraan masih saja terjadi.

Mungkin kalian sudah dapat menebak-nebak kenapa hari ini stadium besar itu ramai bukan? Tepat hari ini, turnamen Dead or Alive akan dilangsungkan di dalam stadiun besar itu. Pihak penyelenggara turnamen telah menyewa stadium sepak bola itu dan mempersiapkannya jauh-jauh hari untuk turnamen bela diri yang akan mereka adakan.

Kebanyakan peserta mendaftar di turnamen ini, karena hadiahnya yang cukup menggiurkan, yakni uang cash dalam jumlah besar.

Laki-laki, perempuan, tua, muda, manusia, dan bahkan yang bukan manusia telah terdaftar dalam deretan peserta yang akan mulai bertarung satu sama lain tepat jam 9 nanti.

Logan telah berdiri di antrian paling depan tempat verifikasi peserta. Setelah ia selesai melakukan verifikasi, ia mengikuti jalur yang ditunjukkan oleh staff untuk langsung pergi ke belakang panggung, sambil menunggu upacara pembukaan dimulai.

**

Menjelang Jam 9, semua peserta telah berkumpul di belakang panggung. Lampu sorot di atas panggung mulai menyala bergerak kesana kemari diiringi dengan suara musik tekno yang keluar dari speaker. Host dari turnamen pun naik ke panggung utama dan memulai upacara pembukaan acara besar ini.

“YAHOOO~ GOOD MORNING MY DEAREST AUDIENCE!!!” Ucap sang host. Sontak para penonton yang di tribun berteriak heboh.

WELCOME TO THE 10th DEAD OR ALIVE TOURNAMENT!!!” Suara teriakan dari penonton kembali bersautan.

Ohh~ I love today’s atmosphere here. I can feel all of your enthusiasm! Ok, ok, I know all of you can’t wait for the main show, so let’s just cut the lame chit-chat, and start the opening ceremony. Prep’ your cheers everybody, I present you… THE FIGHTERS!!!

Sesuai aba-aba dari host, satu persatu peserta turnamen Dead or Alive keluar dari belakang panggung dan naik ke panggung utama. Semua berbaris secara horizontal.

Okay, fighter! Y’all know the rules of the tournament. Beat your enemy, and don’t let your enemy beat you. Hurting is permitted, but killing, will lead you straight to disqualification. Using weapons are only permitted during ‘Counter-Timer’. Using weapons outside Counter-Timer will lead you straight to disqualification. Very simple, right?

“Simpel darimana? Terlalu banyak limitasi dalam keuntungan peserta. Kalau seperti itu, lebih baik tidak perlu ada senjata sekalian.” Gerutu Logan di tengah barisan peserta.

And also… For this year’s tournament special rule is….” Sang host berbalik dan menunjuk ke arah layar besar yang ada di panggung utama. Tak lama kemudian, layar tersebut menampilkan peraturan khusus tahunan untuk turnamen tahun ini.

Tag Team? Pertarungan ganda?” Ucap Logan heran.

Like it says… ‘Tag Team’. All of you will be divided into 32 team, and each team consists of 3 person. Once divided, 2 teams will be pitted in the arena, but only 1 fighter from each team allowed to stay in the arena while your other teammates wait near the boundaries. Gettin’ tired or feeling sick enough getting punched in the arena? Then you can go to the boundaries and call one of your teammates to replace you.

“Terus gimana menangin pertandingannya?!!” Celetuk salah satu peserta –bukan Logan– dari dalam barisan peserta.

If one of your teammate got beaten sooo~ hard until he/she couldn’t stand up again to fight or tag out, then your team is officially LOSE. Anyway, let’s begin the picking!

Monitor mulai memunculkan semua nama peserta dan memasangkan semua nama-nama tersebut menjadi tim-tim yang akan bertanding. Logan tidak berkedip sekalipun saat melihat monitor mengacak nama peserta. Sudah hampir tim ke-30, tapi namanya belum juga mendapat pasangan, hingga akhirnya….

“Tim ke-31…”

“Yo! Mohon bantuannya dipertandingan nanti ya.” Sahut seorang pria yang berbaris tepat di samping Logan. Panggilan dari orang itu cukup membuat Logan terkejut.

“Hah? Kau siapa?” Tanya Logan

“Kau masih belum menangkapnya? Aku ini rekan satu tim mu.” Ucap pria itu.

“Oh… Kau yang bernama Lidya?” Tanya Logan.

“Bukan! Aku Zhao, Sima Zhao.” Ucap pria itu sambil melakukan pose ala jagoan. Logan hanya merespon dengan membulatkan mulutnya, lalu ia kembali melihat ke depan dan mengacuhkan pria bernama Zhao tersebut.

Alright! Let’s begin Stage 1!!!” Musik yang bermain di speaker bertambah keras setelah sang host mengakhiri ucapannya.

Para peserta turun dari panggung. Beberapa dari mereka ada yang langsung pergi ke pinggir arena-arena kecil yang mengelilingi arena besar (arena utama) untuk bersiap-siap. Monitor kini berganti menjadi tayangan live dari tiap arena kecil dan juga rekap pertandingan dalam bentuk diagram.

Saat turun dari panggung, Zhao menarik kerah jaket Logan dan menyeretnya ke suatu tempat. Logan sempat melawan, tapi saat Zhao memberitahu kalau ada orang yang memanggil dirinya dan dia, Logan pun menurut.

Mereka berdua berjalan menghampiri arena kecil nomer 8. Di pinggir arena itu, Logan melihat seseorang yang sangat familiar baginya. Seseorang yang baru ia temui kemarin sore.

“Halo, om manusia singa!” Sapa perempuan itu.

“Hah… Kau lagi. Jadi akhirnya kau mau mengikuti saran ku?”

“Ya… bia dibilang begitu.” Jawab perempuan itu.

“Semoga berhasil dengan pertarunganmu, nak. Hei, orang aneh, dimana orang yang kau bilang memanggil kita tadi?” Tanya Logan pada Zhao. Zhao menunjuk perempuan yang baru saja berbicara dengan Logan.

“Eh? Kau? Kau Lidya?” Perempuan itu mengangguk.

“Nah, sekarang karena kita bertiga sudah berkumpul, bagaimana kalau kita mulai membahas strategi untuk pertarungan kita nanti? Aku tahu kita mendapat giliran terakhir, tapi tidak ada salahnya antisipasi dini bukan?” Ucap Zhao sambil merangkul kedua rekan timnya.

*BHUK!!!*

Zhao langsung mundur ke belakang beberapa langkah setelah mendapat pukulan mendadak dari Lidya. Memang bukan pukulan serius, namun dalam kondisi yang tidak siap, tentu akan terasa cukup menyakitkan.

“Gue setuju, tapi tolong jangan sentuh-sentuh gue.” Ucap lidya.

“Baiklah. Memang siapa lawan kita nanti?” Tanya Logan.

Zhao mulai berbagi informasi yang entah ia dapat darimana mengenai petarung-petarung yang akan menjadi lawan timnya di babak pertama. Ketiga lawan mereka adalah mantan pegulat pro dengan reputasi yang cukup bagus, tapi berhubung ketiganya tidak pernah bertemu satu sama lain, sepertinya kerja sama mereka tidak terlalu bagus. Apalagi salah satu dari mereka adalah orang yang keras kepala.

Tak terasa, diskusi mereka memakan waktu hampir 30 menit, dan sekarang giliran tim mereka untuk bertarung. Sesuai strategi yang sudah mereka rencanakan, Zhao akan maju lebih dulu sementara Lidya dan Logan menunggu di pinggir arena.

“PREPARE YOURSELF… FIGHT!”

Dengan sigap, pegulat berkepala pelontos yang menjadi musuh Zhao di arena langsung berlari menyerang Zhao dengan gerakan spear. Tepat sebelum pegulat itu menangkap tubuh Zhao yang lebih kecil dari dirinya,  Zhao berhasil menghindar dengan melompat salto melewati pegulat itu.

Di tengah lompat saltonya, tangan Zhao berhasil menangkap kepala pegulat itu, dan saat tubuhnya berputar di udara, ia menarik kepala pegulat itu dengan kuat. Zhao mendarat mulus di atas lantai arena dengan kedua kakinya, dan kepala pegulat yang dicengkramnya berputar ke depan dan terbanting tepat di depan Zhao. Para penonton bersorak kencang melihat aksi Zhao.

“Orang itu boleh juga.” Ujar Lidya.

“Kemampuannya mampu menyeimbangi mulut besarnya. Sepertinya orang itu akan cukup berguna di tim.” Ucap Logan sarkas.

Pegulat berkepala pelontos itu berusaha men-tackle Zhao dengan kaki kirinya, tapi serangan itu berhasil dilihat Zhao. Zhao melangkah mundur untuk menghindari serangan rendah itu, lalu kemudian berlari pelan ke arah pegulat itu dan langsung melakukan slam dengan lengan kanannya.

Pegulat itu berhasil menghindar dan berguling ke pinggir arena untuk melakukan Tag Out dengan rekan timnya. Pegulat berkepala pelontos itu keluar dari arena, sementara rekan timnya yang mengenakan celana training merah bermotif api putih masuk.

“Lid, masuk!” Zhao yang sudah ada di pinggir arena juga, menepuk pundak Lidya dan melompat keluar dari arena.

“Eh? Kok udah ganti? Ini kan gak sesuai stra–“

“Udah buruan! Mereka ternyata lebih gampang dari perkiraan kita tadi. Itung-itung, jadiin mereka pemanasan buat ronde-ronde berikutnya.” Potong Zhao.

Zhao mendorong Lidya masuk ke dalam arena. Saat Lidya belum siap untuk menerima serangan, tiba-tiba pegulat bercelana merah itu sudah melayangkan flying kick ke arah wajahnya.

“NAK, AWAS!” Teriak Logan untuk memperingatkan Lidya.

*TAP!*

Pemandangan yang cukup mengejutkan. Dalam kondisi yang tidak siap, Lidya mampu mencegah ujung sepatu si pegulat yang hampir menyentuh wajah putihnya.

Wajah Lidya berubah serius dalam sekejap. Setelah sukses menangkap kedua kaki si pegulat yang masih di tengah udara, ia langsung memutarnya, dan melempar si pegulat hingga menabrak tali pembatas arena.

Tali pembatas yang berbahan karet itu dengan cepat memantulkan tubuh si pegulat kembali ke arah Lidya. Lidya berlari menghampiri tubuh si pegulat yang terpental ke arahnya.

Begitu mereka sudah saling berdekatan, Lidya langsung menangkap si pegulat dengan posisi terbalik dan menyelesaikan lawannya dengan gerakan piledriver.

“K.O!!!”

Lidya sukses membuat para penonton terkesima dengan aksinya menghabisi lawan yang memiliki tubuh jauh lebih besar dari dirinya hanya dengan 2 kali serangan, dan ia juga sukses membuat Logan dan Zhao tercengang dari pinggir arena.

“Sepertinya dia tidak sepayah yang aku perkirakan.” Ujar Zhao.

“Perkiraanmu meleset jauh.” Sambung Logan.

Kemenangan Lidya sukses membawa timnya maju ke babak kedua Turnamen Dead or Alive. Lagi-lagi, mereka kembali mendapat giliran terakhir dalam babak kedua.

Logan, Zhao, dan Lidya kembali mendiskusikan strategi untuk melawan tim yang beranggotakan Cyborg, Alien, dan manusia serigala.

**

Tidak lama kemudian, tim mereka dan tim yang akan menjadi lawan mereka di panggil ke arena mini nomer 4. Kali ini, Logan yang akan maju lebih dulu, sementara dari tim lawan, si cyborg yang akan maju.

“PREPARE YOURSELF… FIGHT!”

Logan langsung menyerang dengan serangkaian jab ke arah musuhnya. Si cyborg tampak menghindari semua serangan Logan dengan santai. Tidak ada tanda-tanda ia akan melakukan serangan balasan. Bahkan ia menyilangkan kedua tangannya di belakang.

“Cyborg jenggotan itu ngerencanain sesuatu.” Ucap Lidya.

“Observasi bagus, Lid.” Sahut Zhao spontan, “Dia memang menunggu sesuatu. Kalau dugaanku benar, akan terjadi hal buruk pada Logan di pertandingan ini.”

Pertarungan sudah berlangsung 15 menit. Si cyborg belum juga melakukan serangan, sementara Logan sudah mulai kelelahan karena terus menyerang lawannya secara bertubi-tubi. Waktu yang ditunggu cyborg itupun tiba. Segaris senyum licik muncul di wajahnya dan sebuah suara muncul dari speaker.

“COUNTER-TIMER… START!”

Lengan kiri cyborg itu langsung berubah menjadi sebuah senapan plasma.

“Sudah ku duga… LOGAN! TAG OUT DENGAN KU, CEPAT!”

Teriakan Zhao terlambat. Cyborg itu telah menembakkan senapan plasmanya pada Logan. Jarak Logan dan si cyborg yang sangat dekat, membuat Logan tidak sempat menghindar. Peluru plasma itu mengenai tubuh Logan hingga membuat dadanya berlubang. Seluruh penonton di tribun terkejut melihat kejadian itu.

“LOGAN! BANGUN!!!” Teriak Lidya.

“Percuma, Lid. Orang tua itu sudah–“

“Sudah apa?” Ucapan Zhao terpotong oleh suara seseorang dari dalam arena. Zhao dan Lidya lantas menengok ke arah sumber suara itu yang tak lain adalah LOGAN.

“Pertandingannya belum berakhir bukan?” Logan meledek si Cyborg yang berada persis di depannya.

Logan mengeluarkan cakar di kedua tangannya. Ia langsung bangun dan menyayat tubuh si cyborg hingga bagian dalam tubuhnya yang berisi kabel-kabel dan organ terlihat jelas.

“Trik kotormu gagal, pecundang. Ini sudah berakhir.” Logan menendang tubuh cyborg yang sudah mengalami malfungsi itu ke pinggir arena dan berjalan menghampiri rekan timnya.

“K.O!!!”

………………….

“Tadi kenapa lo nggak tusuk dadanya aja sekalian?!! Dia kan udah ngelanggar peraturan juga!!” Ucap Lidya dengan nada marah.

“Membalas keburukan dengan keburukan tidak menjadikan kita lebih baik dari si pelaku.” Lidya langsung terdiam mendengar ucapan Logan.

“Aku mencium kecurangan di sini.” Ucap Zhao.

“Sudahlah, itu bisa kita urus nanti. Sekarang kita urus dulu untuk pertandingan ketiga.” Ucap Logan sambil mengenakan kembali jaketnya yang sempat ia lepas sebelum bertanding.

“Tapi…”

“Kalau memang ada yang ingin mencurangi kita, dia pasti akan melakukannya lagi. Lagipula, kita masih bertahan di turnamen ini.”

Logan berjalan pergi, diikuti oleh Zhao dan Lidya di belakangnya.

Dari kejauhan tampak seseorang tengah memperhatikan mereka dari ruangan khusus tempat berkumpulnya para komite yang merupakan pihak penyelenggara utama turnamen. Pria dengan jas merah itu tersenyum melihat kegagalan pionnya di arena.

“Tuan, ada telfon.” Seorang sekretaris muncul dari belakang pria itu dan memberikan telfon genggamnya.

“Halo? Ya…. Lihat dan perhatikan saja dari kursi mu. Mereka tidak akan lolos dari babak ke-3. Aku tahu, aku tahu…. DENGAR! Ini turnamenku! Aku tahu kau sponsor yang paling banyak menyumbang dana dalam acaraku, tapi itu bukan berarti kau bisa berbuat semaumu! Serahkan padaku, tutup mulutmu, dan NIKMATI ACARAKU!”

Pria itu menutup telfonnya. Kemudian ia mengembalikannya pada sekretaris di belakangnya.

“Ckh… Dasar pengganggu,” Gerutu pria itu, “Tapi menarik juga orang-orang itu. Kalau mereka bisa melewati babak ke-3 sepertinya aku sendiri yang harus turun tangan untuk menangani mereka.”

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

4 tanggapan untuk “X-World, Side Story (4) : Logan – Coincidence (Pt.1)

  1. 1. Logan? Ambil tokoh di X-Men kah?
    2. Pertandingan Dead or Alive. Gw perbah denger tapi judulnya Date or Alive (Kencan untuk hidup) :v ngambil dari anime kah?
    3. Cyborg, sebuah robot? Ngambil dari game Lostsaga kah?
    4. Siapa orang yang berbicara terakhir itu? Menurut gw itu Rizal.
    5. Kalo ada cyborg, masukin sekalian aja Naang In, Space trooper, Sandaou Assassin, Element Mage, Dragon Slayer, Dragon Rider, Infantry, Hawk Eye, Hong Gil Dong, Sun Go Kong, Terra, Kali, Alice, Ragna. Ah pokoknya tokoh game RPG itu banyak lah :v hehe lanjut om!

    Suka

    1. 1. Yup. Dia wolverine, tapi sengaja gue tulis Logan karena entah kenapa lebih keren aja dan simpel klo ditulis Logan :v Karakternya sebenernya udh pernah nongol di arc-2 waktu ngerekrut Sagha, sama arc-4 waktu pertama kali dateng ke domain Andela.
      2. Dead or Alive diambil dari series game dgn nama yang sama. So, no, it’s not from anime actually.
      3. Setengah manusia setengah robot gitu lah, dibayangan gue sih dia mirip2 sama terminator :v.
      4. ~Siapa ya?~ Hehehe… Di tunggu aja kelanjutannya ya :v
      5. Hohoho saran yang bagus, tapi disini cyborg itu jatahnya cuma brief appearence, semacam karakter numpang lewat aja nggak masuk roster utama. Sesuai judulnya, gue mau nyorot Logan kali ini dan hubungan dia dalam konflik di series X-World.

      Thanks for the comment! Stay tune!~ 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s