Vepanda part 13

 

Sesampainya di tempat futsal, Rezza, Gre dan Shani langsung masuk ke dalam. Mereka melihat beberapa teman Rezza dan juga anak kelas 12 sudah berkumpul di dalam, mereka pun menghampiri teman-teman Rezza.

“Udah lama?” tanya Rezza berjalan mendekati teman-temannya.

“Baru aja nyampe,” jawab salah seorang teman Rezza yang bernama Gasa.

“Wuiihhh, keren amat lu bawa dua cewek,” ucap Abduh, teman Rezza satunya lagi.

“Boleh kali dikenalin, hahaha….,” ucap Lutfi a.k.a Behel, teman Rezza.

“Ini sepupu gue, Shani, kelas 10,” ucap Rezza menunjuk Shani.

“Haii…,” ucap Shani melambaikan tangannya dan tersenyum.

“Kalo ini Gre, temen sekelasnya Shani,” ucap Rezza menunjuk Gre.

“Salam kenal,” ucap Gre tersenyum lalu membungkukkan badannya.

“Shani udah punya pacar belom?” tanya Behel.

“Gila, langsung to the point aja lo,” ucap Rezza lalu duduk di sebelah Gasa.

“Belom kak,” jawab Shani tersenyum.

“Kalo Gre?” tanya Behel.

“Sama kak, aku juga belom punya pacar,” jawab Gre juga tersenyum.

“Kesempatan nih, hahaha…,” ucap Abduh lalu tertawa.

“Jangan macem-macem lo, sepupu gue tuh,” ucap Rezza.

“Santai aja, nggak bakalan gue apa-apain, kecuali kalo dia yang minta diapa-apain, haha…,” ucap Abduh tertawa.

“Najong mana za?” tanya Gasa sambil memakai kaus kakinya.

“Palingan bentar lagi kesini,” jawab Rezza sambil mengeluarkan baju dan sepatu dari dalam tasnya.

“Kalian nggak capek berdiri terus?” tanya Behel pada Gre dan Shani.

“Eh? Iya kak, hehe…,” jawab Gre tersenyum lalu duduk di sebelah Rezza dan disusul Shani yang duduk di sebelahnya.

“Ini lawan kelas berapa sih?” tanya Rezza sambil melepaskan sepatu sekolahnya.

“Lahh, lu gatau?” tanya Abduh.

“Enggak,” jawab Rezza dengan polosnya.

“Lawan kelas 12 IPA 3,” ucap Gasa lalu berdiri dan masuk ke lapangan.

“Lu telfon Najong gih, suruh cepetan, udah mau mulai nih,” suruh Abduh lalu berdiri dan masuk ke lapangan.

“Iya, bawel lu,” jawab Rezza.

“Cepetan jangan lama-lama,” ucap Behel lalu masuk ke lapangan menyusul Abduh dan Gasa.

“Eh?! Kak Rezza mau ngapain?” tanya Shani yang melihat Rezza hendak membuka resleting celananya.

“Ganti celana lah, masa iya aku futsal pake celana ini,” jawab Rezza.

“Ganti sih ganti, tapi jangan disini juga kali,” ucap Shani.

“Ke kamar mandi sana gantinya,” suruh Gre.

“Iya-iya, bawel,” jawab Rezza lalu pergi ke kamar mandi.

“Kalian siapa?” tanya seseorang yang berdiri di belakang Shani dan Gre.

“Aku Shani kak, sepupunya kak Rezza,” jawab Shani menoleh ke orang itu.

“Aku Gre kak, temen sekelasnya Shani,” ucap Gre yang juga menoleh ke orang itu.

“Terus Rezza mau kemana tuh?” tanya orang itu lalu duduk di sebelah Shani.

“Ke toilet kak, ganti baju,” jawab Shani.

“Tumben tuh anak ganti baju ke toilet, biasanya juga disini,” ucap orang itu sambil mengeluarkan baju dan sepatu dari tas yang ia bawa.

“Kakak ini siapa ya?” tanya Gre menatap orang yang duduk di sebelah Shani itu.

“Oiya, kenalin, gue Navis Najib, panggil aja Najong,” ucap Najong tersenyum lalu menyalami Gre dan Shani.

“Ehh?! Kak Najong mau ngapain?” tanya Gre yang melihat Najong hendak membuka kaos yang ia pakai.

“Ya ganti baju lah,” jawab Najong lalu membukan kaosnya.

“Kalian kenapa?” tanya Najong setelah membuka kaosnya dan melihat Gre dan Shani menutupi wajah mereka dengan kedua tangan mereka.

“Kak Najong mesum banget sih! Buka baju sembarangan di depan cewek!” jawab Shani terlihat kesal.

“Yaelah cuma buka baju doang kali,” ucap Najong lalu memakai seragam futsalnya.

“Ehh? Baru mau gue telfon, udah dateng aja,” ucap Rezza berjalan menghampiri Najong, Gre dan Shani.

“Mau ngapain telfon?” tanya Najong.

“Nyuruh lu dateng kesini,” jawab Rezza lalu meletakkan seragam sekolahnya ke lantai.

“Nggak usah disuruh juga dateng gue,” ucap Najong.

“Kalian kalo ganti baju cepetan, jangan ngobrol terus!” suruh Gre mulai kesal.

“Kalian kenapa?” tanya Rezza heran karena melihat Shani dan Gre menutupi wajah mereka dengan kedua tangan mereka.

“Itu kak Najong buka baju sembarangan,” jawab Shani.

“Yaelah gitu doang, buka tangannya, udah selesai ganti bajunya,” suruh Rezza.

Kemudian Gre dan Shani pun membuka tangan mereka dan melihat Rezza dan Najong sudah ganti baju dengan seragam futsal mereka.

“Yaudah yok pemanasan dulu,” ajak Najong masuk ke dalam lapangan setelah memakai sepatu futsalnya.

“Bentar gue pake sepatu dulu,” jawab Rezza lalu memakai sepatunya.

“Kak Rezza main diposisi apa?” tanya Gre.

“Kiper,” jawab Rezza sambil memakai kaus kakinya.

“Kok mau sih jadi kiper? Kan sakit tangannya kena bola terus,” tanya Gre terlihat khawatir.

“Enak jadi kiper, nggak perlu lari-lari, kalo masalah kena bola terus sih itu resiko,” jawab Rezza.

“Kenapa nggak jadi yang lain aja?” tanya Shani.

“Aku males lari-lari,” jawab Rezza sambil memakai sepatu futsalnya.

“Udah ah, aku masuk dulu ya,” ucap Rezza lalu bangkit dari duduknya.

“Iya,” ucap Gre dan Shani bersamaan.

Kemudian Rezza masuk ke dalam lapangan dan mulai pemanasan bersama teman-temannya. Gre dan Shani hanya duduk di luar lapangan menonton pertandingan futsal itu.

Teet… teet…

Bel berakhirnya waktu futsal telah berbunyi dengan hasil akhir 11 untuk kelas Rezza dan 3 untuk kelas 12, semua pemain saling bersalaman lalu keluar lapangan dan duduk melingkar dilantai.

“Capek kak?” tanya Gre menatap Rezza heran.

“Iya lah, pake ditanya lagi,” jawab Rezza lalu berbaring di lantai.

“Eh, gue langsung balik ya,” ucap Gasa berdiri lalu pergi.

“Yoi,” ucap Rezza dan teman-temannya bersamaan.

“Gue juga langsung balik aja deh, bentar lagi ada tanding bola,” ucap Behel berdiri dari duduknya.

“Gila lu, baru aja selesai futsal langsung mau tanding bola?” tanya Abduh heran.

“Kaya lu gatau Behel aja ab,” ucap Najong.

“Udah ah, bye,” ucap Behel lalu pergi.

“Woyy, duluan ya!” teriak beberapa kakak kelas 12 yang hendak pulang.

“Jong, gue pulang bareng elu ya,” ucap Abduh menatap Najong.

“Iya selow aja,” ucap Najong.

“Nih kak minum dulu,” ucap Gre menyodorkan minuman kepada Rezza.

“Eh? Iya, makasih,” ucap Rezza meraih minuman itu dan meminumnya.

“Duluan ya za,” ucap Najong berdiri dari duduknya.

“Tumben lu langsung pulang?” tanya Rezza.

“Gue ada acara bentar lagi,” jawab Najong.

“Aku duluan ya, Gre, Shani,” ucap Abduh berdiri.

“Iya kak, hati-hati ya,” ucap Gre dan Shani bersamaan.

“Daahhh…,” ucap Abduh menyusul Najong yang sudah berjalan keluar.

“Capek banget hari ini,” ucap Rezza sambil melepas kaos futsalnya.

“Dilap dulu kak keringetnya,” ucap Gre sambil mengelap keringat diwajah Rezza.

“Ehh? Iya, makasih,” ucap Rezza melirik ke arah Gre.

“Si Gre kayaknya suka nih sama kak Rezza,” ucap Shani dalam hati sambil memperhatikan Gre dan Rezza.

“Aku mandi dulu ya, baru kita pulang,” ucap Rezza berdiri dan pergi ke kamar mandi.

“Gre,” ucap Shani menggeser duduknya mendekati Gre.

“Iya?” tanya Gre menoleh ke arah Shani.

“Kamu suka ya sama kak Rezza?” tanya Shani mendekatkan wajahnya.

“Hah?! Ng-nggak, aku nggak suka sama kak Rezza,” jawab Gre salah tingkah.

“Masa sih? Kok kamu perhatian banget kalo nggak suka.”

“Emang salah ya kalo aku perhatian sama kak Rezza?”

“Enggak sih.”

“Yaudah kalo gitu.”

“Eh tunggu dulu, barusan kamu tanya apa?”

“Emang salah kalo aku perhatian sama kak Rezza?”

“Nah itu berarti kamu beneran suka sama kak Rezza!”

“Sok tau kamu shan,” ucap Gre menoyor kepala Shani lalu berdiri.

“Kamu mau bilang sendiri ato aku yang bilangin sama kak Rezza?” tanya Shani lalu berdiri.

“Apaan sih shan?!” tanya Gre menatap heran Shani.

“Yaudah kalo kamu gamau ngaku, aku aja yang deketin kak Rezza, wleekkk,” ucap Shani menjulurkan lidahnya.

“Eh kok gitu sih?! Kan kamu sepupunya, gaboleh!”

“Terserah aku dong, lagian juga aku udah bosen jomblo, wleeekkk.”

“Oke kalo gitu! Mulai sekarang kita saingan!”

“Pasti kak Rezza bakalan milih aku lah, secara aku lebih kenal dia dibanding kamu, haha…,” ucap Shani tertawa.

“Belom tentu, siapa tau aja kak Rezza lebih milih aku,” ucap Gre mencibirkan bibirnya.

“Lagi ngomongin aku ya?” tanya Rezza saat datang dengan pedenya.

“Ehh!” Gre dan Shani kaget dan menoleh ke arah Rezza.

“Ng-nggak kok,” ucap Gre gugup.

“Iya, enggak kok kak,” ucap Shani.

“Yaudah kalo nggak, pulang yuk,” ucap Rezza lalu memasukan sepatu dan seragam futsalnya ke dalam tas.

“Yuk,” ucap Gre dan Shani bersamaan.

“Eh? kalian ngapain?” tanya Rezza heran karena Gre dan Shani menggandeng tangannya.

“Gapapa, pengen aja,” jawab Gre dan Shani bersamaan sambil tersenyum.

Shani ikut bersama dengan Rezza, sedangkan Gre pulang ke rumahnya. Selama perjalanan pulang, Rezza dan Shani hanya diam saja. Shani yang duduk dibelakang sambil membawakan gitar Rezza terus menerus menatap wajah Rezza lewat spion.

“Kamu kenapa liatin aku terus?” tanya Rezza sedikit menoleh ke belakang.

“Abis kakak ganteng sih, hihihi…,” jawab Shani tertawa kecil.

“Hah?! Apa?”

“Ng-nggak, gapapa kok.”

“Ohh… yaudah.”

“….”

“Oiya, mampir dulu ya ke rumah, udah lama kan nggak mampir?”

“Iya deh, terserah kak Rezza aja.”

“Kamu kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum mulu,” tanya Rezza heran.

“Gapapa kok, lagi seneng aja,” jawab Shani tersenyum.

“Dasar cewek.” Ucap Rezza dalam hati.

Beberapa menit kemudian mereka berdua telah sampai di rumah Rezza, setelah memasukkan motor, mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.

“Kak Melody mana kak?” tanya Shani saat masuk ke dalam rumah.

“Paling lagi di atas kalo nggak di ruang tamu,” jawab Rezza.

“Oiya ini gitarnya mau ditaruh dimana?” tanya Shani menyodorkan gitar Rezza.

“Sini aku bawa ke kamar aja, kamu duduk aja dulu disini,” ucap Rezza meraih gitarnya dan menyuruh Shani duduk di ruang keluarga.

“Iya kak,” ucap Shani lalu duduk disofa.

Saat Rezza ke kamarnya, Shani hanya duduk disofa sambil melihat-lihat sekitar.

“Kamu siapa?” tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri dibelakang Shani.

“Ehh?!” Shani kaget dan menoleh ke belakang.

“Kamu siapa?” tanya orang itu lagi.

“Aku Shani kak,” jawab Shani tersenyum.

“Ngapain kamu disini?”

“Nganterin kak Rezza pulang kak.”

“Kalo nganterin kok masih disini? Mau ngapain? Maling ya?”

“Hehh?! Sembarangan aja kalo ngomong, aku tadi disuruh mampir dulu sama kak Rezza, makanya aku disini.”

“Aku nggak percaya, kamu bohong kan?” tanya orang itu berjalan ke depan Shani.

“Ngapain lu disini?!” tanya Rezza saat menuruni tangga.

“Kamu kemana aja baru pulang?” tanya orang itu.

“Gue abis futsal, ada urusan apa lu kesini?” tanya Rezza berdiri di depan orang itu.

“Aku disuruh kak Melody buat jagain kamu, dia lagi ada acara sama kak Naomi,” jawab orang itu menatap ke arah Rezza.

“Gue bisa jaga diri gue sendiri, udah sana lu pulang!” suruh Rezza dengan kesal lalu duduk di sebelah Shani.

“Yaudah, bentar aku bilang kak Melody dulu,” jawab orang itu sambil mengeluarkan smartphone-nya.

“Arrrgghhhh! Nyebelin banget sih lu!” ucap Rezza kesal.

“Siapa sih kak?” tanya Shani mendekatkan wajahnya pada Rezza.

“Aku Sinka, babysitter-nya Rezza,” jawab orang itu yang ternyata Sinka sambil tersenyum.

“Enak aja lu kalo ngomong!” ucap Rezza sewot.

“Aku kaya pernah liat kak Sinka di sekolah,” ucap Shani.

“Aku emang sekolah di SMA N 48, aku sekelas sama Rezza,” ucap Sinka tersenyum.

“Udah, pergi sana lu!” suruh Rezza yang terlihat kesal.

“Oke, ntar kalo ada apa-apa, aku ada di ruang tamu ya,” ucap Sinka tersenyum lalu pergi ke ruang tamu.

“Tumben tuh anak baik gitu, nggak kaya biasanya, gue jadi curiga,” ucap Rezza dalam hati sambil menatap Sinka yang pergi ke ruang tamu.

“Kenapa kak?” tanya Shani.

“Eh? Ng-nggak, gapapa, hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

“Ohh…,” Shani hanya mengangguk paham.

Keheningan terjadi diantara mereka berdua, Rezza sibuk dengan smartphone-nya dan Shani hanya melihat sekitar sambil sesekali melihat ke arah Rezza. Tiba-tiba Sinka lewat di depan mereka menuju ke arah dapur, Rezza dan Shani hanya menatap Sinka dengan heran. Beberapa menit kemudian Sinka kembali dari dapur sambil membawa dua gelas minuman.

“Ini minumannya,” ucap Sinka sambil meletakkan dua gelas itu di meja ruang keluarga.

“Iya kak, makasih,” ucap Shani tersenyum.

Sedangkan Rezza hanya menatap Sinka dengan heran, setelah meletakkan kedua gelas itu dan berdiri, Sinka tersenyum ke arah Rezza dan Shani lalu kembali ke dapur.

“Kak Sinka baik banget ya kak,” ucap Shani lalu mengambil minumannya dan meminumnya sedikit.

“Hah? Apa?” tanya Rezza melongo menatap Sinka pergi ke dapur.

“Kak Rezza mikirin apa sih? Dari tadi bengong mulu,” tanya Shani heran.

Rezza hanya bengong melihat ke arah pintu dapur.

“Kak!” teriak Shani mengagetkan Rezza dari lamunannya.

“Eh apa?” tanya Rezza menoleh ke arah Shani.

“Tau ah!” ucap Shani mengembungkan pipinya.

“Udah sore nih, aku anterin kamu pulang ya,” ucap Rezza berdiri dan pergi ke kamarnya.

“Yuk,” ucap Rezza saat menuruni tangga sambil memakai jaket.

Shani yang masih kesal hanya diam dan berdiri lalu mengikuti Rezza ke garasi.

Selama diperjalanan, Rezza dan Shani tidak salinng berbicara. Setelah sampai di depan rumahnya, Shani langsung turun dari motor Rezza dan masuk ke rumahnya tanpa berkata apa-apa.

“Mobil siapa nih?” tanya Rezza saat kembali ke rumahnya dan melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya.

“Kayaknya pernah liat nih mobil,” ucap Rezza saat berjalan melewati mobil itu.

“Aku pulang…,” ucap Rezza saat masuk ke dalam rumahnya.

“Kamu dari mana?” tanya Melody yang sedang duduk di ruang tamu.

“Abis nganterin Shani pulang,” jawab Rezza berjalan mendekati Melody.

“Ohh…,” ucap Melody menggauk paham.

“Udah lama kak?” tanya Rezza pada Naomi yang duduk di depan Melody.

“Baru aja kok,” jawab Naomi tersenyum.

“Huuuuhh!!” Sinka yang duduk di sebelah Naomi mendengus kesal.

“Kenapa lu?” tanya Rezza duduk di sebelah Melody.

“Kepo!” jawab Sinka kesal lalu memalingkan wajahnya.

“Nih anak kenapa sih? Tadi baik, sekarang kok jadi ngeselin lagi?” tanya Rezza heran dalam hati.

“Yaudah kita langsung pulang aja ya mel,” ucap Naomi bediri.

“Kok buru-buru banget kak?” tanya Rezza.

“Iya, soalnya kasian mama di rumah nggak ada yang nemenin,” jawab Naomi tersenyum.

“Yaudah hati-hati dijalan ya mi,” ucap Melody tersenyum.

Sinka berjalan mendekati Melody dan mencium tangannya, kemudian ia hanya berjalan melewati Rezza.

“Heeiii!!!” teriak Rezza kesal setelah Sinka melewatinya.

“Kenapa za?” tanya Melody heran.

“Nggak, gapapa,” jawab Rezza sambil mengelus kakinya yang tadi diinjak Sinka.

“Hihihi…,” Sinka hanya tertawa kecil sambil melewati Naomi yang sedang berdiri menatap heran ke arah Rezza.

“Duhhh,” Melody tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah Naomi dan Sinka pulang ke rumah mereka, Rezza dan Melody duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.

“Kakak tadi dari mana?” tanya Rezza menoleh ke arah Melody.

“Abis jalan-jalan sama Sinka sama Naomi,” jawab Melody tanpa menoleh ke arah Rezza.

“Ohh…,” Rezza hanya menggangguk paham.

“Kenapa?” tanya Melody heran sambil menoleh ke arah Rezza.

“Enggak, gapapa kok,” jawab Rezza.

Kemudian keheningan terjadi diantara mereka berdua. Melody fokus menonton TV sedangkan Rezza terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Kak, kakak tadi bilang apa?” tanya Rezza

“Yang mana?” tanya Melody heran.

“Yang tadi aku tanya kakak abis dari mana itu.”

“Abis jalan-jalan sama Sinka sama Naomi, kenapa?”

“Hehh?!!!”

“Kamu kenapa sih?”

“Bukannya kakak nyuruh Sinka buat jagain aku dirumah?”

“Buat apa kakak nyuruh Sinka jagain kamu? Kamu kan udah gede.”

“Terus tadi siapa dong?”

“Ya mana kakak tau, kan kakak nggak di rumah.”

“Kak.”

“Apa?”

“Tadi aku liat Sinka ada di rumah ini loh pas aku pulang sama Shani.”

“Masa sih? Perasaan kamu aja kali.”

“Enggak kak, ini beneran, tadi Shani juga liat kak.”

“Kakak nggak percaya.”

“Kalo kakak nggak percaya, coba liat itu.”

“Apa? Gelas?”

“Iya, itu tadi minuman Sinka yang bikinin buat aku sama Shani kak.”

“Udahlah dek, kamu gausah nakut-nakutin kakak, kakak nggak percaya sama yang gituan,” ucap Melody berdiri lalu pergi ke kamarnya.

“Kalo kakak masih nggak percaya, sekarang kakak telfon aja Shani terus tanyain sama dia!” teriak Rezza sebelum Melody masuk ke kamarnya.

“Udah ah! Kakak mau tidur! Capek!” ucap Melody kesal lalu masuk ke kamarnya.

“Siapa ya tadi yang bikinin aku minum?” tanya Rezza dalam hati.

“Jangan-jangan Pak Toha!” ucap Rezza kaget setelah memikirkan sesuatu.

“Tunggu dulu, Pak Toha kan udah tua, dia juga laki dan nggak ada mirip-miripnya sama Sinka,” ucap Rezza heran.

“Bodo amat lah,” ucap Rezza berdiri dari sofa.

Setelah mengunci semua pintu dan mematikan lampu yang tidak perlu dinyalakan, Rezza masuk ke kamarnya dan berbaring di atas kasur.

“Za…,” ucap sesorang dari luar kamar Rezza.

“Apa?!” tanya Rezza berteriak.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

7 tanggapan untuk “Vepanda part 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s