Silat Boy : Perkelahian Pertama Part 4

CnJGPUtWgAEeomp

Beberapa jam kemudian, akhirnya telah tiba waktu pulang sekolah. Rusdi
pulang bersama Epul. Sementara Naomi terlalu takut pada Boim, ia
pulang lebih awal bersama Yona.

Beberapa langkah setelah Rusdi benar-benar keluar dari gerbang
sekolah, Boim menghadangnya bersama dua temannya. Epul berusaha
membela Rusdi, tapi kedua teman Boim memeganginya.

“Hentikan! Aku mohon, maafkanlah dia!” Epul berusaha melepaskan diri.
“Kau akan menyesal karna telah berurusan denganku!” Boim mendekat pada Rusdi.

Rusdi kemudian bersiap menyerang, kuda-kuda asal telah ia siapkan.
Boim menendang kaki Rusdi, lalu memukul wajahnya hingga Rusdi
tersungkur. Rusdi perlahan kembali berdiri.

“Apa hanya itu? Dasar lemah!” Boim kemudian menendang dada Rusdi, tapi
Rusdi menangkap kakinya.
“Sialan…” Rusdi mendesah, lalu Boim memutar badanya dan menendang
wajah Rusdi dengan kaki lainnya.

Boim terjatuh karna ia menendang sambil memutar badannya. Sementara
Rusdi tersungkur, punggungnya menghantam trotoar dengan keras. Boim
lalu mengayunkan kakinya, ia langsung berdiri dari posisi jatuhnya.

Boim berlari pelan kearah Rusdi. Lalu menendang keras wajah Rusdi
dengan kakinya. Rusdi meringis kesakitan, ia memegangi wajahnya. Boim
lalu menarik kerahnya, dan memukul pipinya dengan keras.

Rusdi kembali tersungkur, tak lama ia kembali berdiri. Kali ini Rusdi
tidak tinggal diam, ia melawan. Rusdi berlari kearah Boim, tapi Boim
menendang kakinya saat Rusdi hendak menendang.

Seketika Rusdi merasa kakinya sangat sakit. Rusdi masih belum
menyerah, ia masih berusaha melawan. Rusdi memukul Boim, tapi Boim
menangkap tangannya. Dan langsung membantingnya ke tanah.

Dan sekarang dadanya yang terasa amat sakit. Rusdi terbatuk-batuk, ia
memegangi dadanya. Boim dengan kasarnya membangunkan Rusdi, lalu
kembali menendangnya.

Rusdi terpental dan terguling-guling. Tas sekolah nya terlepas karena
ia terjatuh. Seketika teman-teman Boim tertawa menyemangati Boim.
Sementara Boim hanya menyeringai saja.

Suasana saat itu amat menegangkan. Rusdi masih mencoba melawan, ia
perlahan berusaha berdiri. Boim berlari kearah Rusdi, lalu salto dan
memutar badannya. Ia kembali menendang Rusdi hingga terjengkang.

Boim lalu menghampiri Rusdi yang masih terjatuh, ia menyeringai puas.
Lalu Boim menarik kerah baju seragam Rusdi. Dan memukulnya beberapa
kali. Rusdi sudah sampai pada batasnya, ia tidak bisa melawan lagi.

Darah berceceran dimana-mana. Rusdi sampai terbatuk-batuk, ia sudah
tidak kuat lagi. Tapi Boim masih memukulinya, ia belum puas. Boim
tidak akan berhenti sampai ia puas.

“HENTIKAN!!!” teriak Epul, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain
memohon pada Boim agar ia berhenti memukuli teman barunya.
“Aku mohon… hentikan…” Epul menundukan kepalanya, Boim lalu
berhenti memukul Rusdi.

Boim merapikan seragamnya, menepuk-nepukkan celananya yang sedikit
kotor. Lalu kedua temannya melepaskan Epul. Epul kemudian menghampiri
Rusdi, wajah itu sudah lebam. Sakit sekali, mata Rusdi sembab.

“Aku masih belum selesai! Dia akan kuhabisi lain kali jika masih ikut
campur urusanku.” Boim dan kedua temannya lalu meninggalkan Epul dan
Rusdi yang masih terkapar tak berdaya disana.

Rusdi tiba-tiba terbangun di tempat asing. Ia terbangun di kamar
seseorang. Ia yakin itu bukan kamarnya. Lalu kamar siapa? Rusdi
perlahan merenggangkan tubuhnya yang terasa sangat sakit.

Rusdi perlahan mencoba duduk, ia mendesah kesakitan. Wajahnya lebam,
dan kakinya terasa amat sakit. Sejenak ia memikirkan apa yang baru
saja terjadi padanya.

“Kau sudah bangun?” tanya seseorang.,Rusdi kemudian menoleh kearah sumber suara.
“Epul?” ternyata orang itu Epul.
“Dimana aku? Apa yang baru saja terjadi padaku?” tanya Rusdi.

“Kau ada di kamarku. Pulang sekolah tadi Boim memukulimu
habis-habisan. Sudah kubilang, seharusnya kau tidak berurusan dengan
dia.” Epul duduk di sebelah Rusdi yang masih merasa bingung.

“Setelah kau pingsan, aku membawamu ke rumahku. Jika aku membawamu
dalam keadaan seperti itu ke rumahmu, orang tuamu pasti sedih.” Epul
berusaha tersenyum.

“Ayah dan ibuku sudah lama meninggal. Aku tinggal dengan kakakku di
rumah itu. Aww…” Rusdi berusaha berdiri.
“Hati-hati, kau masih belum sembuh.” Epul membantunya.

“Siapa yang merawatku?” tanya Rusdi.
“Aku sendiri yang merawatmu. Aku juga sama sepertimu, tinggal dengan
kakakku di rumah ini. Tapi sekarang dia sedang kerja di luar kota.”
Epul tersenyum tipis.

“Owh…” Rusdi kemudian menundukkan kepalanya.
“Oh iya, tadi Naomi sama Yona datang kesini.” Epul berusaha
mengalihkan topik pembicaraan.

“Jam berapa?” tanya Rusdi, ia masih menundukkan kepalanya.
“Mereka datang jam 2 siang, mereka disini cuma dua jam saja.” jawab
Epul, kemudian Rusdi menatap wajah Epul.

“Bukan! Maksudku sekarang jam berapa?” tanya Rusdi.
“Sekarang jam 8 malem.” jawab Epul.
“Astaga! Aku harus pulang, kakak pasti khawatir.” Rusdi kemudian
menelpon kakaknya.

Setengah jam kemudian, kakaknya tiba di depan rumah Epul. Sebelumnya
Rusdi sudah memberitahu alamat rumah itu. Rusdi berjalan santai masuk
ke dalam mobilnya.

“Dia berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Bahkan ia rela menahan rasa
sakit di sekujur tubuhnya. Mungkin ia takut kakaknya marah, dasar anak
baru.” pikir Epul, kemudian mobil itu pergi dari rumah Epul.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s