“Directions The Love and It’s Reward” Part 16

as

“Hai…!

So…re…”

“Emm… siapa yah?” tanya seorang gadis membukakan pintu.

“Saya temennya adik kakak. Ini, mau ngembaliin dompetnya tadi ketinggalan di ruang OSIS” ucap pemuda berkacamata dengan gaya cool itu.

“Bentar ya, kakak panggilin dulu. Masuk dulu yuk” gadis itu mempersilahkan pemuda itu masuk ke rumahnya.

“Eh-eh ng… nggak usah deh kak. Di sini aja” ucap pemuda itu sungkan.

“Udah, ayo masuk aja yuk” ucap gadis itu dengan gaya nada bicara sedikit memaksa. Pemuda itu hanya pasrah mengekori langkah gadis itu.

“Dek! Ada yang mau ketemu kamu nih!” panggil kakaknya.

“Iya kak! Sebentar” sahut gadis itu. Gadis itu kemudian keluar dari kamarnya dengan membawa sekantung penuh camilan dan makanan ringan. Mulutnya tak pernah berhenti mengunyah camilan itu.

“Kamu kebiasaan yah. Makaaannn… mulu kerjaanya. Nih ada yang mau ketemu kamu nih” ucap kakanya menunjuk ke arah pemuda yang sedang duduk di kursi ruang tengah rumah itu. Gadis itu ikut bergabung di ruang tengah. Dengan mengenakan sweater bergambar panda dan juga hoddie telinga dan mata hitam yang ia sampirkan di punggungnya.

“Pantesan aja adek kakak. Gue ke sini tadi aja hampir bingung kalo nggak liat foto di dompetnya. Nih cewek cantik-cantik tapi… makannya banyak juga” batin pemuda itu.

“Hmm… maaf, ada apa yah?” tanya gadis dengan sweater panda itu.

“Ini… gue mau ngembaliin dompet lo tadi ketinggalan di ruang OSIS” pemuda itu menyerahkan sebuah dompet berwarna hitam putih berstiker dan bermotif panda.

“Fyuhhh… alhamdulilah.  Untung aja ketemu, aku nyariin dari tadi. Thanks yah… Em…” gadis itu hendak menjulurkan tangan.

“Oh iya, nama kamu siapa?” tanya kakak gadis itu menyambar sambil menjulurkan tangannya.

“Aku Rizal kak, salam kenal. Satu sekolah sama Sinka, aku dari kelas X-B. Anggota OSIS juga” pemuda itu menjabat tangan gadis itu. Gadis bersweater panda itu sedikit cemberut.

“Owh… Rizal ya. Kakak sering liat kamu, cuman nggak tau nama kamu hehe. Oh iya, kenalin. Nama kakak Shinta Naomi, panggil aja Naomi” kak Naomi tersenyum nakal.

“Ehehehe… i-iya kak, salam kenal” Rizal mulai melepas genggaman tangan kak Naomi.

“Ekhem… ekhem” gadis di sebelahnya berdehem.

“Eh iya, kenalin. Ini adik kakak, namanya Sinka Juliani.

“Rizal”

“Sinka” Sinka meraih uluran tangan pemuda itu.

“Thanks yah, udah ngembaliin dompet aku” Sinka tersenyum tipis sambil menatap Rizal.

“Bukan apa-apa” ucap Rizal pelan.

“Mau minum apa?” tawar kak Naomi.

“Eh eh… nggak usah kak. Aku lagi buru-buru, lagipula ini udah sore” Rizal menggaruk-garuk kepalanya.

“Loh? Udah mau pulang?” kak Naomi sedikit kecewa, begitu juga Sinka.

“Maaf ya kak, lain kali mampir lagi deh” ucap Rizal.

“Oh gitu, ke sini naik apa?” tanya kak Naomi yang mengantar Rizal sampai depan rumahnya.

“Aku bawa motor kok kak.”

“Oh yaudah, hati-hati ya. Makasih udah ngembaliin dompetnya Sinka.”

“Iya, assalamu’alaikum” Rizal mengenakan helm sambil menstarter motornya. Kemudian melajukan motornya ke suatu tempat.

“Wa’alaikum salam” kak Naomi kemudian masuk dan menutup pintu.

Kak Naomi kemudian kembali ke ruang tengah, dia tidak mendapati adiknya di sana. Mungkin sudah di kamar, pikirnya. Kemudian ia menuju ke kamar adiknya.

“Sin…? Sinka?” kak Naomi memanggil adiknya dari luar kamar.

“Sin?” tetap tidak ada jawaban.

“Kakak masuk yah…” kak Naomi kemudian membuka pintu perlahan.

 

KLEK!

 

“Sin?” kak Naomi mencari ke seisi ruangan dan ia mendapati adiknya yang sedang tiduran di kasur dengan bertelungkup selimut di sekujur tubuhnya.

“Hei…?” kak Naomi membuka selimut yang menutupi adiknya.

“Apa?” tanya Sinka dengan muka cemberut.

“Kenapa lagi sih? Ada masalah? Cerita dong sama kakak?”

“Kakak pikir aja sendiri” Sinka menutup lagi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Soal yang barusan?”

“Sin?”

 

BLUK!

 

Selimut Sinka tiba-tiba terbuka.

“Kakak kebiasaan nih, kayak gitu mulu” Sinka menggembungkan pipinya.

“Owh… jadi masalah itu… nggak biasanya nih kayak gini. Apa jangan-jangan, kamu…” ucap kak Naoami menyelidik.

“Eh?! Enggak kok enggak. Ya maksudnya kan dia yang ngembaliin dompet aku, ya jadi sepantesnya aku yang bilang makasih ke dia, gitu aja kok” Sinka mencari-cari alasan.

“Kirain… eh, Rizal ganteng juga yah. Cool gitu, pendiem. Kakak sih udah merhatiin dia terus selama di OSIS. Anaknya udah baik… ganteng lagi” kak Naomi tersenyum penuh arti.

“Gimana kalo…”

“Kebiasaan nih kakak, kalo udah nemu yang stay cool, baik, pendiem, yang bening-brondong gitu mulai deh” pikir Sinka.

 

“Dia jadi pacar kamu.”

“EH?!?!?!”

 

—o0o—

 

“So…re…”

“Rendy nya ada kak?” tanya seorang gadis dengan dress putih membawa sesuatu terbungkus di tangan kanannya.

“Eh iya, ada kok. Cuman dia lagi di atas tuh, masih agak kecapekan. Masuk aja dulu” kak Melody mempersilahkan gadis itu masuk. Sedikit ragu sih, secara kan kak Melody tidak tahu menahu dengan gadis itu. Mungkin temannya?

“Ngomong-ngomong… kamu siapa yah?” tanya kak Melody sambil mempersilahkan gadis itu duduk.

“Aku temennya kak, sekelas sama Rendy juga. Katanya Rendy masih sakit, ya jadinya aku ke sini mau ngejenguk dia” gadis itu tersenyum tipis.

“Oh… gitu, nama kamu siapa?” kak Melody mencari tahu tentang identitas gadis itu.

“Nama aku…”

“Kak Mel! Bantuin aku sebentar di belakang!” terdengar suara perempuan. Siapa lagi kalau bukan Yona?

“Iya! Emmm… kamu ke kamanya Rendy aja dulu. Kamarnya ada di atas, sekalian bangunin dia yah” ucap kak Melody meninggalkan gadis itu.

“Oh, iya deh kak” balas gadis itu kemudian ia berjalan pelan menuju tangga. Menaikinya satu persatu, sambil celingukan melihat seisi rumah itu. Tak lama kemudian ia sampai di depan pintu kamar Rendy.

“Permisi…? Ren…?” gadis itu mengetuk pintu perlahan. Hening, tak ada jawaban.

“Aku masuk aja deh” ucapnya kemudian perlahan masuk. Ia kemudian melihat seseorang sedang tertidur dengan lelapnya di kasur kamar itu. Kamar yang bisa dibilang artistique. Unik juga, dipenuh dengan banyak sekali action figure video game dan film.

Oh hampir lupa, ia datang bukan hanya dengan tangan kosong, melainkan membawa sekeranjang penuh buah-buahan yang memang sudah ia siapkan sebelum datang kemari.

“Hmm… orangnya tidur ya” ucapnya kemudian duduk di pinggiran kasur Rendy. Menaruh sekeranjang buahnya di meja lampu tidur Rendy. Ia tersenyum tipis.

 

TING!

 

Bunyi sesuatu bergeming. Berasal dari ponsel gadis itu. Kemudian ia melihat sebuah nama tertera di HP nya itu. Ia membuka lockscreen HP nya. Terpampang fotonya bersama seorang pemuda yang masih belum ia hapus dari HP nya. Sebuah foto lama, kalau dilihat dari postur tubuh dan wajahnya… Ia masih sekitar berumur 4 atau 5 tahun.  Kemudian ia men-read pesan tersebut.

“Siapa sih?”

Kemudian, masuk sebuah panggilan dari HP nya. Tidak ada nama, hanya ada sebuah nomor di sana.

“Halo? Ini siapa?”

“…”

“Ci Des, kenapa nomernya beda?”

“…”

“Oh… Gitu, yaudah bentar” gadis itu berjalan keluar kamar Rendy, sepertinya akan ada pembicaraan serius dengan nada cukup keras. Jadi, ia pikir agar tidak membuat keributan dan juga membangunkan Rendy.

“…”

“Gak kok, nggak ganggu.”

“…”

“Lagi di rumah temen. Ada apa ya?”

“…”

“Oh oke deh. LINE alamatnya ya”

 

TING!

 

Tiba-tiba sebuah ada pesan masuk. Ternyata itu dari orang yang menelfonnya tadi.

“Di cafe biasa deket sekolah. Daerah Senayan, mall fx lantai 3.”

Hanya itu isi pesannya. Gadis itu sedikit bingung dan bimbang. Sudahlah, ikuti saja. Lagipula ia setelah ini memang sedang banyak urusan.

“Ren, maaf aku pergi dulu ya. Cepet sembuh, Get Well Fast~” gadis itu keluar dari kamar Rendy dengan mimik muka yang kurang mengenakan. Ia menuruni tangga, dan kini sudah tiba di ruang tengah.

 

*****

 

Kemudian ia celingukan mencari-cari seseorang yang tadi bertemu dengannya. Tiba-tiba…

“Eh? Shani?” ucap seorang gadis berambut sebahu.

“Kamu Shani kan?”

“Iya, dan kamu…? Yo…Yoyo? Yoga? Yo-man? Ashh… pokoknya Yo what’s up sistah?” gadis itu adalah Shani, ia berbicara dengan gaya-gaya hippopotamus. Er… -,- lu kira kuda nil? Maksudnya Hip-Hop yang tangannya di gerak-gerakin dengan badan agak bungkuk bikin gerakan aneh.

“YONA! Ish…! masa gue di samain sama mainan anak kecil Yoyo kayak gitu, dan apaan lagi tuh bahasa anak hip-hop?” -_- Yona menghampiri gadis itu dan biasalah, kalo cewek kan cipika-cipiki cipikachu pokemon GO :v

“Loh? Kapan dateng?” tanya Yona.

“Tadi baru aja, mau liat Rendy. Eh, orangnya lagi tidur. Nggak enak aku banguninnya, yaudah aku pamit dulu” ucap Shani sedikit terburu-buru.

“Eh? Udah mau pulang? Kan baru aja mampir ke sini” tiba-tiba kak Melody datang membawa 3 gelas teh.

“Aduh… maaf banget kak… maaafff… banget. Aku ada janji sama seseorang” ucap Shani kemudian terburu-buru, meminum setengah gelas dari teh itu kemudian hendak berdiri.

“Aku pamit dulu kak, dan… Yo… bro!” Shani kemudian berlari kecil.

“YONA!” Yona berteriak sendiri.

“Hush! Berisik tau, nanti kedengeran tetangga kan malu” kak Melody menegur Yona.

“Lagian masa aku dipanggil Yoyo lah, Yoga lah, sampe kayak tadi yo bro apaan deh?” Yoa terlihat cemberut.

“HAHAHA… Yoga… lagian sih, rambut tuh dipanjangin, biar gak dikira cowok” kak Melody tertawa terpental-pental *maksudnya terguling-guling… arghh!!! Terbahak-bahak gitu.

“Huh! Kak Melody sama aja” Yona tambah ngambek.

“Ya udah lah, kakak mau masak. Dah…

Yoga” kak Melody menahan gelagak tawa sambil berlari kecil ke dapur.

“YONA!”

 

—o0o—

 

Malam harinya…

Sekitar pukul 20.13 *buset, menitannya angka sial :v ganti 15 aja deh.

 

TING TONG!

TING TONG!

TING TONG!

 

Bel terakhir t’lah berbunyi! (akhirnya!)

Jika turun harus sekarang

Malah nyanyi -,-

“Iya sebentar” kak Melody menghampiri pintu rumahnya yang sedari tadi sudah berdengung.

“Hai! Malam Mel!”

“Malam kak!”

“Eh? Baru dateng… udah nungguin dari tadi loh. Yuk masuk yuk” pernah denger pepatah orang zaman dulu? Katanya kalo ada kupu-kupu terbang masuk ke rumah orang, maka orang itu bakalan kedatengan tamu yang membawa berkah. Ya gue sih percaya-percaya aja… soalnya kemaren pas lebaran banyak banget kupu-kupu gajah yang gede kagak bisa terbang masuk ke rumah gue. Seneng? Kagak lah, gue malah harus ngeluarin lagi tuh kupu-kupu gajah gegara mamah gue takut ama kupu-kupu seukuran kepalan tangan manusia -,-

Bukan tamu yang ngasih THR lebaran bro… malah tukang rongsok ama pemulung dateng ke rumah gue mintain lap bekas ama perabotan yang udah rusak. Apaan dah, sengsara amat. Oke, back to story.

Mereka langsung dipersilahkan duduk oleh kak Melody. Tamunya membawa badai~ ampe jemuran CD tetangga pada berterbangan. Kurang apalagi tuh badai?

“Duduk dulu Ve, Yuvi juga ya. Bentar, aku ambilin minum dulu” ucap kak Melody mempersilahkan kakak beradik itu duduk. Sedangkan kak Melody ke belakang mengambil minuman. Cantik, Ve mengenakan dress merah bermotif mawar, berkesan simple-ellegant. Sedangkan Yuvia mengenakan T-Shirt putih bertuliskan ‘Monster Pizza’ dengan jacket hoddie gajah dan juga celana jeans biru dongker Navy. Bisa dibilang kesan simple-casual.

“Iya” ucap mereka berdua bersamaan. Kak Ve hanya tersenyum melihat keramah-tamahan sahabatnya kecilnya dari dulu itu. Nggak pernah berubah. Sedangkan Yuvia? Dia sedari tadi sibuk dengan memandangi dinding-dinding dan ruangan rumah ini. Seperti… ada yang beda aja.

“Jadi ini rumahnya” ucapnya mengangguk-angguk pelan.

Kemudian kak Melody kembali dengan membawa 4 gelas minuman sirup dingin.

“Repot-repot segala Mel” ucap kak Ve.

“Biasa aja ah Ve. Ga usah sungkan, kayak baru kenal aku aja hehe” ucap kak Melody tersenyum.

“Eh? Kak Ve? Baby dino juga!” Yona datang dari pintu kemana saja *eh maksudnya dari pintu kamarnya.

“Eh, Yona. Iya nih, mampir ke sini hehe” ucap kak Ve.

“Kebetulan lewat sini kok Yon” ucap Yuvia sambil meminum minuman itu.

“Abis darimana nih?” tanya kak Melody.

“Hmm… Biasa jalan-jalan Mel, sama ini anak pengen makan diluar” kak Ve menyenggol bahu Yuvia pelan. Yuvia hanya mendengus kesal.

“Jadi… ini rumah kamu yang baru Mel?” tanya kak Ve sambil melirik-lirik seisi ruang tengah.

“Ah enggak kok, rumah aku masih di Semarang. Belom ada rencana bikin rumah di sini. Ini rumahnya Tante Citra sama Om Andreas. Nih, mamah sama papahnya Yona” kak Melody menyenggol bahu Yona pelan.

“Oh gitu, arsitekturnya agak dibuat kuno dan pedesaan gitu ya?”

“Enggak kok kak, Cuma beberapa bagian aja. Soalnya mamah sama papah pengen ada nuansa zaman dulu dan juga pedesaan. Maklum, orang sibuk, jadi pengen ngerasain suasana sejuk pedesaan. Namanya juga metropolitan” ucap Yona. Kak Ve mengangguk paham.

“Shuuut…. dek” kak Ve menyenggol bahu Yuvia pelan sambil mengkode.

“Apaan sih kak?” tanya Yuvia bingung.

“Ck… jadi gini Mel, tujuan kita ke sini mau jenguk Rendy.”

“Emm…. gitu, dia lagi ada di kamarnya tuh. Lagi tidur, soalnya badannya tadi masih agak demam” ucap kak Melody dengan mimik wajah sedih.

“Oh gitu… boleh kita ke kamarnya?” tanya kak Ve.

“Oh, boleh kok. Tuh, kamarnya ada di lantai 2” ucap kak Melody. Setelah itu, kak Ve dan juga Yuvia menuju kamar Rendy yang berada di lantai 2.

“Masuk aja Ve, Yuv. Dia lagi tidur” ucap kak Melody yang mengantar sampai depan kamar Rendy.

Kak Ve dan Yuvia kemudian masuk, dan mendapati Rendy yang sedang tidur dengan pulasnya. Seluruh tubuhnya sedikit berpeluh. Dengan sedikit kemerahan menandakan memang ia sedang demam.

“Kayaknya dia masih demam Yuv” ucap kak Ve prihatin.

“H’mm…” Yuvia mengangguk sambil duduk di pinggiran kasur Rendy.

“Jangan lupa janji kamu loh. Jagain dia sampe sembuh, bentar ya kakak tinggal ke bawah dulu” kak Ve kemudian turun menuju lantai 1 lagi.

“Iya iya, bawel” Yuvia mendengus kesal.

 

KLEK!

 

Kak Ve menutup pintu tidak terlalu rapat. Sedikit ada celah untuk seberkas cahaya masuk ke dalam kamar. Tahu kan maksudnya?

“Ren… maafin aku yah gara-gara aku, kamu jadi kayak gini” Yuvia menyelimuti Rendy karena saat dia masuk tadi, selimut yang menutupi tubuh Rendy sudah berantakan.

“Dan lagi, aku mau bilang makasih karena kemaren kamu udah banyak banget aku repotin” Yuvia menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah Rendy yang tidur menghadap ke samping.

“Kalo kamu bisa denger aku, nggak tau kenapa aku ngerasa beda aja sama kamu. Ya, awalnya aku kira kamu itu orangnya ngeselin, mesum gitu, cuek banget, pendiem.”

 

*****

 

“Gimana?”

“Sssuuutttsss… lagi ngomong heart to heart tuh kayaknya Mel.”

“Aneh-aneh aja, mana bisa orang tidur dengerin.”

“Biarin aja deh, selama mereka akur. Lagian kita kakak-kakaknya aja akur, masa adek-adek kita enggak?”

“Bener juga Ve.”

Dua gadis itu masih saja memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

*****

 

“Yah, ternyata kamu itu orangnya baik, sebenernya juga perhatian sama orang. Peduli sama orang, walaupun sebenernya cuek. Aku sadar itu dari awal pas kamu bantuin aku di sekolah, mulai bantuin lolos dari satpam sekolah, ngejawab soal susah mustahil guru mata empat killer itu, sampe-sampe bantuin aku ngebersihin toilet” Entah dorongan apa, Yuvia memegang tangan Rendy dengan kedua telapak tangannya itu. Tangan Rendy yang semula awalnya terus bergemetar, tiba-tiba tenang dan diam.

“Hmm…” Rendy hanya berdehem, tapi masih dalam keadaan tidur.

“Eh?” Yuvia lantas kaget dan hampir salah tingkah karena dikiranya pemuda itu sudah sadar dan mendengar semua ucapannya. Ia juga reflek melepaskan genggaman tangannya.

“Fyuh…untung belom bangun orangnya” dia menghembuskan nafas lega. Merasa tangan Rendy kembali gemetar, ia sedikit iba dan menggenggam tangan Rendy yang dingin sekali dengan kedua tangannya. Tanpa Yuvia sadari, Rendy tersenyum tipis di tidurnya.

“Maaf kalo aku punya banyaaak…. banget niat usil sama kamu. Semoga kamu cepat sembuh” Yuvia tersenyum simpul dengan terus memandangi Rendy.

 

*****

 

“Baru pertama kali aku liat sisi feminimnya.”

“Perhatian banget ya… uhh so dicubit-cubit gitu.”

“Ini kuntilanak rambut sebahu dateng udah kayak jelangkung. Nimbrung aja operasi militer kita, ya nggak Ve?”

“Biarin aja deh, dia kan juga pengen tahu.”

“Iya sih, jarang banget aku liat dia feminim banget kayak gitu, perhatian banget. Biasanya jutek, kalo jawab pertanyaan orang pendek-pendek, suka semaunya sendiri, fangirl banget deh pokoknya.”

“Namanya orang Yon, pasti bisa berubah juga kan? Gak penting itu ruang, waktu, atau pun…

Seseorang yang bakal ngerubah dia.”

 

—o0o—

 

“Ini udah malem loh Ve. Mau balik?”

“Iya kak, nginep sini aja, lagian kan besok masih libur. Apalagi sekarang ini udah larut banget buat pulang” timbal Yona.

“Gapapa, aku udah suruh supir ke sini. Jadinya aman kok, kalian tenang aja. Oh iya, titip Yuvia ya” kak Ve kemudian menuju ke pintu depan.

 

TIN! TIN!

 

“Nah, itu jemputan aku udah dateng. Thanks yah” kak Ve kemudian keluar dan masuk ke dalam mobilnya.

“Hati-hati di jalan Ve” ucap kak Melody sedangkan Yona hanya melambaik-lambaikan tangannya sambil tersenyum.

 

—o0o—

 

Malam hari telah berlalu, kita mulai hidup yang baru. Lupakan :v

Rendy perlahan membuka matanya, mengucek-ngucek dengan sangat pelan. Terasa tubuhnya sudah agak mendingan.

“Hoamzzz… “ terlihat tubuhnya sudah tidak demam lagi. Tapi, tubuhnya merasa berat.

“Eh? Apaan nih?” tanyanya dalam hati karena matanya masih menangkap samar pantulan cahaya di matanya untuk melihat dunia di pagi hari. Tangan kirinya meraba pada sesuatu benda di atas tubuhnya. Terasa harum wangi, tapi juga… agak sedikit, em… kasar.

Lalu ia sadar…

“Ini rambut?!?!?!” ucapnya kaget.

“Yon! Jangan becanda Yon, lu mau bikin gue jantungan lagi ngeliat boneka Vodo atau semacem psycopath lo?!” ucap Rendy dengan nada tinggi.

 

KRIET…

 

Suara pintu kamar terseret dan kemudian terbuka.

“Eh Rendy? Udah bangun?” tanya kak Melody.

“Loh kak? Bentar, ini apaan?” tanya Rendy bingung dengan benda di atasnya.

“Astaga… itu anak orang Ren, kamu apain?!?!” kak Melody kaget dengan melihat keadaan Rendy. Yaps! Rendy ditindih seorang gadis saat ia tertidur.

“Astagfir…!” kemudian ia sadar, dan langsung menurunkan seseorang itu.

“Kamu nakal yah! Anak orang kamu apain tuh?!” tanya kak Melody dengan nada tinggi curiga.

“Please kak, percaya sama aku. Mana mungkin aku berbuat yang enggak-enggak” balas Rendy sambil mengangkat kedua tangannya.

“Huft… oke, kakak percaya” kak Melody mulai luluh oleh adiknya ini. Ya, dia sangat percaya sekali pada adiknya ini. Karena memang dia sangat jujur dan baik.

“Ini siapa sih kak?” tanya Rendy heran.

“Liat aja sendiri.”

Wajah gadis itu tertutupi rambutnya yang sedikit kusut dan berantakan.

“Yuvia?! Ng-ngapain dia di sini?! Te-terus, kenapa kok dia bisa di kamar aku?!” Rendy mulai melontarkan beberapa pertanyaan yang sangat membuatnya bingung.

“Kamu harus berterima kasih sama dia. Dia semaleman nungguin kamu siuman, dia juga yang ngompresin kamu. Soalnya badan kamu semalem panas banget. Ya udah, kakak pergi dulu ya. Mau mandi” kak Melody kemudian menutup pintu.

Rendy kemudian melihat ke arah tangan kanannya karena dia sedari tadi merasa ada sesuatu yang hangat. Benar saja, Yuvia masih menggenggam tangan Rendy erat.

“Thanks Yuv” Rendy membelai puncak kepala Yuvia lembut.

“Hmmzzz…” Yuvia terbangun dengan wajah imut mengantuknya.

“Eh? Kamu udah bangun?” Yuvia bertanya sambil mengucek matanya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih memegang erat tangan Rendy.

“Pagi!” sapa Rendy sambil tersenyum tipis.

 

DEG!

 

“Bentar, tangan gue…” Yuvia melirik tangan kanannya, tangan kanannya masih menggenggam erat tangan Rendy, sontak wajah Yuvia memerah. Kemudian, tangan kirinya tak sengaja menyenggol tangan kiri Rendy ke… sebuah… tempat… gundukan (?)

“Eh? E-e… e… Yu-Yuv… ini em… a-apaan empuk-empuk ya?” tanya Rendy dengan sangat ragu, curiga, dan menyelidik karena matanya tadi tersenyum sambil merem. Ia tak pernah merasakan sesuatu bertekstur… bisa dibilang… empuk ini (?)

Fix! Lo udah bangunin singa betina dari tidur nyenyaknya Ren! Wajah Yuvia sudah sangat memerah saat ini dengan sangat terpaku tak bisa menahan…

“Arrrkkkhhh…!!!”

 

PLAKKK…!!!

 

—o0o—

 

“Dasar Mesum!” ucap Yuvia masih dengan wajah kesalnya.

“Ya… mm… ma-maaf kan tadi aku nggak sengaja” Rendy memegangi pipinya yang sudah berwarna merah bata dan mengecap telapak tangan dengan lima jari utuh.

“Lagian namparnya nggak bisa dipelanin dikit napa” ucap Rendy masih mengusap-usap pipinya yang sedikit membengkak kemerahan.

“Hmmm… ck ck ck. Dasar kamu Ren” kak Melody hanya menggeleng pelan.

“Wuuu! Dasar idung belang kamu Ren” Yona ikut-ikutan.

“Diem ah lu Yon. Gak asyik nih” Rendy hanya cemberut. Ya sekarang mereka masih ada di kamar Rendy karena tadi kak Melody dan juga Yona sempat curiga dan langsung datang karena ada sebuah teriakan dari kamar Rendy. Yang tak lain dan tidak bukan adalah Yuvia.

 

~~~

 

“Muehehe… emang enak :p”

“Ah… lu juga gak asyik Thor. Lu kemana aja sih? Beberapa part kemaren kagak nongol?”

“Gue lagi sibuk hunting pokemon :v”

“Njerrr. Parah lu, ngasih adegan tamparan kayak gitu. Biasa kan pada ngasih scen diputusin pacarnya terus ditampar gegara selingkuh, ada juga yang salah paham. Biar keliatan Gentleman gitu lah. Nah, ini? syadis amat lu ama gua. Awas lu! Kaga gue contekin lagi.”

“Ye maap. Kan kalo scen begituan udah antimo intim :v gue nyari yang fresh aja kayak merek sirup gituuu~”

“Itu Fr*ish kali Thor -_-“

“Udah lah, gue mau nyari pikachu dulu. Siapa tahu daerah-daerah sini ketemu :v bye~”

“Dasar jelangkung!”

 

~~~

 

“Laper nih kak” ucap Rendy memegangi perutnya. Oh iya, semalam juga kan emang dia nggak makan malam.

“Mas mas, itu jabang bayinya udah berapa bulan? Kempes nggak tuh? Biasanya kalo udah 7-8 bulan pada ilang. Katanya pada main dukun, terus tiba-tiba pindah ke orang wokwowokwow” Ini si Yona emang bener-bener dah.

“Hmm… Aku juga jadi keinget cerita horror orang zaman dulu. Konon katanya di sebuah desa itu sedang banyak banget ibu hamil. Tapi entah kenapa, saat jabang bayi berumur 8 bulan banyak sekali yang hilang, bahkan ada yang sama si ibunya juga. Udah banyak, sampe pernah ditemuin mayat seorang ibu-ibu dengan lubang penuh berlumuran darah di perutnya yang sedang bunting itu. Anehnya, terjadi hanya setiap malem Jum’at kliwon atau Selasa kliwon. Warga jadi resah dan mem-pamalikan bahwa ibu hamil dilarang keluar di malam-malam tertentu itu.

Suatu ketika ada pasangan suami istri dari kota. Sang istri lagi mengandung jabang bayi yang sedang berumur 8 bulan. Tiba-tiba, si suami harus kembali ke kota untuk bekerja. Sang istri tentunya khawatir dengan keadaan jabang bayinya karena rumor mengerikan yang terjadi di desa ini. Si suami memutuskan untuk mengutus orang pintar semacam ahli agama untuk menjaga istrinya dan tentu saja jabang bayinya. Keberangkatan sang suami pas sekali di malam bulan purnama hari Jum’at kliwon. Si suami berpesan agar tidak keluar saat malam dan tetap diam menunggu kedatangan si orang pintar. Tapi…

Malam itu sang istri sangat gelisah, di luar rumahnya, ia seperti sedang diawasi. Seketika terdengar suara ketuka pintu. Tentu saja sebagai pemilik rumah yang baik, dia pasti akan mempersilahkan tamunya masuk. Ia keluar, celingukan sendiri dan tidak mendapati apa-apa. Dia berjalan keluar rumah, hanya sejauh sepuluh meter. Tiba-tiba pintu rumahnya tertutup sendiri Dan…”

“Dan apa Yon??” kak Melody kayaknya mulai tertarik sama cerita-cerita gituan nih. Yuvia juga sangat serius memperhatikan.

“Hanya sebuah kepala dan mulut menganga penuh darah dengan gigi tajam. Hanya KEPALA terbang dengan jantung, dan juga hati. Entah di mana tubuh, tangan, kaki dan lainnya. Sang istri menjerit dan berusaha lari dari makhluk mengerikan itu. Terus berteriak minta tolong, tapi seluruh warga desa takut untuk keluar karena sebagian dari mereka tahu dan menyembunyikan penyebab hilangnya para jabang bayi pada ibu-ibu hamil.

Konon ada rumor seorang dukun penganut ilmu hitam. Ilmunya sangat tinggi sehingga melepas dan memisahkan kepala dan organ-organ dalam dari tubuhnya. Tapi, ia perlu sesajen untuk meningkatkan ilmunya. Yaitu dengan meminum darah dari jabang bayi ibu hamil.

Sang istri terus berlari dan berlari. Lama-kelamaan hingga kakinya tak kuasa untuk menopang tubuhnya. Larinya semakin pelan. Si hantu Kepala itu terus mengejarnya, ada sebuah kesempatan untuk melumpuhkan sang istri ibu hamil itu. Ia lalu melesat dan hendak menggigit perutnya. Tapi…”

“Ta-tapi kenapa Yon??” kak Melody terus saja mengusap bagian belakang lehernya. Sepertinya bulu kuduknya sedang berdiri. Yuvia memegangi punggung kak Melody untuk menahan rasa takut dan penasaran. Sedangkan bulu hidung author malah berdiri (?)

“Usaha hantu itu gagal. Sang istri menggunakan tangannya untuk menjadi tameng dan alhasil tangan sang istri berdarah akibat luka gigitan. Sadis, ia hampir menyerah karena kelelahan dan kesakitan. Hantu itu akan menerkamnya karena ia sudah tergeletak terduduk di tanah dengan keringat dingin rasa takut yang bercucuran deras.

GRAAAHHHMMMHHH!!!”

“HUAAAHHHH!!!!” kak Melody dan Yuvia menjerit. Sedangkan Rendy hanya memasang wajah datar.

“Ck, dasar penakut” batin Rendy.

“Tiba-tiba sebuah obor menghalangi niat jahat hantu itu. Untung saja ada seseorang yang menolong sang istri. Benar saja, orang itu adalah orang pintar yang diutus si suami. Selagi menghadapi hantu itu, sang istri bangkit dan berlindung di belakang punggung si orang pintar.

Si orang pintar berkata, ada satu cara untuk membunuh hantu kepala dukun ini. Caranya adalah dengan menemukan tubuhnya lalu menghancurkannya. Dengan begitu, kepalanya tidak memiliki tempat lagi untuk singgah dan kekuatannya akan melemah. Mendengar intruksi itu, sang istri kembali bangkit dan berlari mencari tubuh dari dukun itu, sedangkan si orang pintar masih menahan hantu kepala itu. Ia cukup kewalahan hingga hantu kepala itu bisa kabur dan mengejar sang istri.

Ketemu! Akhirnya ia menemukan tubuh dari dukun itu. Ia langsung saja mencabiknya menggunakan pisau belati yang sebelumnya diberikan orang pintar tadi. Kepala dari tubuh itu menggeram, tubuhnya memerah dan hangus terbakar. Begitu juga kepalanya. Dan setrusnya, desa itu aman. Kan bisa aja gitu, kamu hamil Ren, hehe.”

“Lu kira gue apaan Yon -_- PMS aja kagak bisa gue. Udahlah, lagian itu berita lama orang zaman dulu. Sekarang zaman modern nih” ucap Rendy mengelak.

“Lagian kamu sih dek. Kayak orang hamil aja ngelus-ngelus perut” timbal kak Melody.

“Serah deh, yang penting sekarang… aku lapeeer” ucap Rendy merengek kayak anak kecil.

“Buka mulutnya… Aaa…”

 

“E-eh? Ngapain Yuv?” Rendy terkejut karena Yuvia sudah siap menyendokan bubur untuk dirinya.

“Perlu ditanya? Kamu nggak liat kalo aku lagi nyuapin kamu?” tanyanya dengan nada malas.

“Tapi, maksudnya… Em… Lagian aku bisa sendiri kali” Rendy menolak.

“Udah diem aja! Lagi sakit aja sok-sokan! Buka mulutnya!” ucapnya tak mau kalah.

“Tapi kan…”

“Buka mulutnya!” ucapnya masih keras kepala. Rendy akhirnya membuka mulutnya perlahan. Kak Melody dan Yona hanya menggeleng melihat tingkah kedua orang itu. Dan…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Aam…” Rendy menelan bubur itu.

“Gimana? Enak gak?” tanya Yuvia penasaran.

“Siapa yang bikin?”

“Aku, kenapa? Gimana rasanya?” tanya Yuvia semakin penasaran.

“Mau dijawab jujur… atau bohong nih?” tanya Rendy dengan nada bercanda sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuvia. Sontak ia terkejut dan mengalihkan pandangannya.

“Serah” wajah Yuvia kembali jutek sambil memandang ke arah lain.

“Gak enak! Hambar!” ucap Rendy keras.

“Yah…” wajahnya kecewa sambil menunduk. Rendy tersnyum menahan gelagak tawa melihat ekspresi kekecewaan Yuvia. Entah inisiatif dari mana karena saking gemasnya, ia membelai puncak kepala Yuvia lembut.

“Kamu pinter masak” ucap Rendy.

“Eh?”

“Maksudnya gimana?”

“Pikir aja sendiri” Rendy tidak menggubris pertanyaan Yuvia.

“Ngeselin! Huftyup…” Yuvia menggembungkan pipinya.

“Iyaaa~ enak kok. Banget malahan… chef Yuvi” Rendy mencubit pipi Yuvia dengan kedua tangannya. Sudah seperti boneka saja ia unyel-unyel wajahnya.

“Ish….! sakit tau” Yuvia mengusap pipinya pelan. Beberapa saat, kemudian ia tersenyum karena mendapati pujian atas masakannya.

“Idih… senyum-senyum. Salting nih ye…” Rendy menyoraki.

“Wlee :p” Yuvia hanya menjulurkan lidahnya. Mereka terus saja bercanda dan bercanda.

 

*****

 

“Halo? Gimana Mel? Ada perkembangan?”

“Signifikan banget deh Ve. Mereka sekarang udah akrab banget.”

“Syukur deh haha. Aku emang udah mikir kalo dia cocok sama adek aku.”

“Sama dong haha…”

“Ya udah deh, aku mau pergi. Ada tugas nih Mel. Thanks udah jagain adek aku yah.”

“Iya, sama-sama.”

 

—o0o—

 

Yuvia tadi pamit pulang sebentar terlebih dahulu. Ya… sekedar mandi atau beberapa hal lain mungkin. Karena sedari pagi ia belum mandi di rumah Yona. Terbesit untuk mandi di sana, tapi sayangnya ia tidak membawa baju ganti.

Rendy kini sudah agak baikan. Demam dan pusingnya sudah hilang. Hanya saja, mungkin ia hanya perlu banyak istirahat yang cukup untuk memulihkan staminanya. Ia kini sedang menonton televisi sambil menikmati camilan.

“Ren? Ngapain?” tanya Yona yang baru saja datang membawa sebuah bungkusan besar.. Terlihat ia sedang membersihkan debu-debu yang melekat pada bungkusan itu.

“Ngemil doang sambil nonton TV. Itu apaan Yon?” tanya Rendy penasaran.

“Ini?” Yona kemudian duduk di samping Rendy dan membuka isi bungkusan itu.

“Wih! Keren banget” sebuah gitar semi akustik-elektrik dengan penuh kilauan. Terkesan tradisional di bagian body gitarnya. Tapi modern dalam segi part-part nya.

“Punya siapa nih Yon?” tanya Rendy antusias.

“Punya papah nih, nggak pernah dipake. Bekas dia zaman-zamannya nge-Band dulu pas waktu SMA” Yona mengelap seluruh bagian gitar dengan bersih.

“Berapa harganya?” Rendy mengambul secangkir minuman sirup dan menenggaknya.

“115 juta” Yona tidak mengalihkan pandangannya

“BRRUUUFFFTTTT….!!! Apa?! Seratus lima belas juta?!” Rendy menyemburkan sirup itu dan sialnya mengenai gitar itu. Membuat Yona harus membersihkan gitar itu lagi.

“Biasa aja kali. Nggak usah pake kuah” Yona mendengus kesal.

“Oh iya, tumben bawa-bawa gitar. Buat apaan Yon?”

“Besok kan masuk sekolah. Nah, ada mapel Seni Budaya katanya kelas aku ada penilaian. Suruh nanyi doang gitu. Tapi semisal pake instrument, dance, atau properti bakal dapet nilai plus.”

“Kamu bisa main gitar Ren?”

“Dikit sih, diajarin papah” ucap Rendy dengan ragu. Kemudian ia mengambil gitar itu. Menyetel senarnya dan kemudian memainkan beberapa kunci.

“Wih… bisa juga, hebat! Hmm… aku boleh minta tolong nggak?” tanya Yona.

“Apaan?”

“Bantuin tugas Seni Budaya aku” ucap Yona ragu-ragu.

“Maksudnya gimana?”

“Ya kamu jadi pendamping aku di kelas. Maksudnya mainin instrument, terus aku yang nyanyi. Guru Senbudnya bilang kalo boleh minta bantuan dari anak kelas lain gitu” Yona sedikit memelas.

“Boleh deh, kapan?”

“Besok setelah upacara langsung ke kelas aku, bisa?”

“Sip lah”

“Thanks Ren” Yona tersenyum.

“Ren?” tanya kak Melody yang baru saja datang membawa secangkir kopi.

“Iya, kenapa kak?” tanya Rendy.

“Kamu hari ini kosong kan? Nggak ada acara?” tanya kak Melody sedikit serius.

“Kayaknya enggak deh kak. Kenapa emangnya?”

“Kamu belom ngucapin makasih sama Yuvi kan tadi?”

“Bentar… maksudnya gimana nih?” tanya Rendy semakin bingung.

 

—o0o—

 

“Aku pulaaang…” Yuvia langsung saja menaruh tasnya, merebahkan dirinya sejenak di sofa.

“Eh? Kak Yuvi udah pulang. Dari mana kak? Semaleman kok nggak pulang?” tanya adiknya, siapa lagi kalau bukan Windy.

“Nginep di rumah temen. Dia sakit gara-gara kakak. Ya seenggaknya kakak tanggung jawab ngerawat dia gitu” Yuvia bangkit dan duduk di sofa.

“Hm… cewek atau cowok nih temennya? Hayooo?” tanya Windy dengan nada menggoda.

“Cowok sih.” Jawab Yuvi agak ragu.

“Cie~ gebetan baru uwuwuwu. Asyik nih, punya calon kakak ipar wlee :p” Windy sedikit memanas-manasi keadaan.

“Apaan deh kamu Win, Cuma temen biasa kok.”

“Temen cowok yang mana sih? Perasaan kakak jarang punya temen cowok deh, ngajak cowok ke rumah kita aja nggak pernah. Kecuali…. Apa yang nganterin kakak kemarin pas waktu pingsan itu?”

“Iya, emang dia. Tapi beneran Cuma temen kok, nggak lebih. Lagian siapa juga yang mau sama cowok kayak gitu.”

“Beneran Cuma temen?” kak Ve kemudian datang membawa tas backpacknya.

“Kak Ve mulai deh.”

“Oh iya, kak Ve mau kemana nih?” tanya Yuvia yang agak heran dengan beberapa barang yang dibawa kakaknya.

“Ada tugas OSIS, kakak pergi bentar. Di cafe tempat tongkrongan anak-anak OSIS.”

“Oh gitu…” Yuvia hanya mengangguk paham.

“Oh iya, kamu sore ini nggak ada rencana ngapa-ngapain kek?” tanya kak Ve.

“Gak ada deh kayaknya” Yuvia tampak berpikir-pikir.

 

—o0o—

 

“Ya kamu ajak jalan kek, dinner kek, atau nonton kek. Sebagai rasa terima kasih kamu. Harus Gentle dong kalo jadi cowok” ucap kak Melody memaksa.

“Ah, tapi aku mager kak.Tapi gabut juga sih di rumah” ucap Rendy dengan nada malas.

“Sekarang kontak dia, ajak dia jalan sore ini juga. Titik!”

“Tapi kan kak?”

“Uang jajan…” kak Melody terlihat mengibas-ngibaskan beberapa uang lembar merah dan juga kartu ATM. Sial! Kalo Rendy ga dapet uang jajan, gw juga berabe nih.

“Isshhh… ah… yaudah-yaudah” Rendy menjawab dengan malas.

“Kalo nggak ikhlas nggak usah aja” ucap kak Melody.

“Iya… aku ikhlas kok~” Rendy kemudian kembali ke kamarnya dan bersiap-siap.

“Oke, sekarang gak usah pusing mikirin ini itu. Yang penting, dia nya mau atau nggak aku ajak jalan” pikir Rendy. Dia kemudian mengambil HP nya. Mencari sebuah kontak bernama…er….

“Kontaknya mana?” Rendy mencari-cari sebuah nama di Hpnya, namun tidak ada. Ia terus scroll ke bawah dan menjumpai. “Yuvia Luvchu~”

“Pffttt… apa-apaan nih?!” Rendy memutar bola matanya. Ya maksudnya agak risih gitu. Terlihat ada sepucuk surat di meja lampu dekat tempat tidurnya.

“Cowok ngeseliiin. Tuh udah aku tulisin kontak aku. Taku-takut kamu kangen atau kenapa-napa, bisa hubungin aku wlee :p”

“Ini gak lucu” Rendy memasang wajah datar saat membaca sepucuk surat itu. Argghhh… sungguh menyebalkan. Ia balik sepucuk surat itu dan tertera kode QR LINE. Dengan terpaksa, ia membuka aplikasi LINE di Hpnya. Dan memulai chat singkat.

Rendy : “Yuv?”

 

—o0o—

 

Jam menunjukan pukul 1 siang. Setelah selesai mandi dan berganti baju, Yuvia duduk di sofa ruang tengah bersama Windy adiknya. Sekedar menonton televisi dan memakan cemilan.

“Lagi baca apaan Win?” ia lihat adiknya itu sedang sangat serius membaca sebuah novel, terlihat dari cover dan lembaran bukunya yang cukup tebal.

“Ini, novelnya kak Ve. Judulnya Sherlock Holmes. Seru juga, tentang misteri detektif-detektif gitu.”

“Oh… gitu” Yuvia mengambil beberapa makanan ringan dan memakannya. Cukup lama ia menonton televisi dan merasa bosan. Tiba-tiba…

 

TING!

 

“Apaan tuh?” ia beranjak dari sofa dan mengambil Hpnya. Berasal dari aplikasi LINE miliknya.

Mamah Dino   : “Baby dino…! keluar yuk! Temenin aku ke toko buku. Mau beli buku baru nih. Ada keluaran buku terbaru di Gramed. Dari penulis favorit aku, Raditya Dika. Judulnya Koala Kumal.”

Belum sempat ia mengetik balasan untuk Viny, tiba-tiba masuk lagi sebuah pesan.

 

TING!

 

Ia tersenyum sejenak melihat nama yang tertera pada pengirim chat barusan.

Yuvia  : “Kenapa? Kangen ya? Baru juga ditinggal sebentar :p”

Kemudian ia menekan tombol send dan tidak sabar menunggu balasan.

 

—o0o—

 

“Buset! Pede amat nih anak” Rendy hanya menggeleng pelan.

“Ah, daripada dia nge-chat, nanti malah ke-geeran. Mending langsung telfon aja kali ya?” Rendy memutar otak sejenak. Jangan diartiin secara harfiah -,-

 

TUT… TUT…

 

“Halooo? Cie nelfon. Kangen suara aku ya?” jawab Yuvia dengan nada anak kecilnya

“Nih anak sue banget dah -_- gak di chat, gak telfon. Pede amat.”

“Gak kok, siapa juga yang kangen sama cewek aneh kayak kamu. betewe, sore nanti kosong gak?”

“Hmmm… gak tau juga deh.” Dari nadanya, ia terlihat ragu-ragu.

“Kalo kosong, mm… anu… gu-gue… m…ma-mau ngajakin l-lu jalan-jalan sore ini mau nggak?” Sial! Rendy sangat gugup karena pertama kalinya ia mengajak seorang wanita pergi dengannya. Sebelumnya belum pernah, kecuali bersama Yona, kak Melody, dan tentu saja mamanya.

“EH?”

 

TUT…TUT…TUT…

 

~o0o~

 

TUT…TUT…TUT…

 

Sambungan telfon tiba-tiba diputuskan oleh Yuvia.

“Tunggu! kenapa gue jadi deg-degan gini ya? Argghhh!!!Yuvia langsung saja menutupi wajahnya dengan bantal di kamarnya.

 

TOK TOK TOK

 

“Kak? Boleh aku masuk?”

“Eh?! Iya Win, masuk aja, gak dikunci kok” Yuvia segera bangun dan duduk di tepian kasurnya.

“Kakak tadi kenapa? Aku denger-denger tadi kakak kayak abis telfon terus teriak-teriak gitu kenapa?” Windy terlihat khawatir dengan kakanya.

“Gak kok, emm… ta-tadi…” Yuvia menggantungkan ucapannya.

“Tadi kenapa kak?” Windy makin khawatir.

“Ta-tadi… ada kecoa Win hehe” Yuvia berhasil mencari alasan.

“Oh gitu… kirain ada apaan. Yaudah, Windy mau ke kamar dulu. Kalo ada apa-apa, panggil Windy aja.”

“Iya” Windy meninggalkan Yuvia sendirian dan menutup pintu rapat.

“Arrgghhh!!!” Yuvia mengusap-usap wajahnya pertanda dilema.

 

~o0o~

 

“Loh? Kok dimatiin sih telfonnya?” Rendy mengernyitkan dahinya.

“Gimana Ren?” tiba-tiba, kak Melody sudah berdiri dan menyandar di pintu kamarnya.

“Astagfir… kak Mel, kalo masuk ketuk pintu dulu kali.”

“Iya, maaf.”

“Dari kapan di situ kak?”

“Dari tadi aja, kamu tadi keasyikan chat sama telfon sih… jadi nggak denger kan. Padahal kakak udah ketuk pintu dari tadi juga” kak Meody kemudian berjalan mendekat ke arah Rendy.

“Asyik apaan deh” Rendy menjawab dengan nada malas.

“Jadi gimana? Dia mau nggak kamu ajak jalan sore ini?” kak Melody mmelontarkan pertanyaan dengan sangat penasaran.

“Nggak tau juga deh kak. Tadi udah aku ajakin, eh… tiba-tiba dianya ngeputusin telfon gitu” ucap Rendy juga bingung.

 

~o0o~

 

“Jadi… sekarang gue harus gimana?!” Yuvia terlihat sangat bingung.

“Arrggghhh… Sebel! Sebel! Sebel!” Di satu sisi ia bingung ingin menerima ajakan Rendy atau menolaknya. Tapi di satu sisi juga, tadi Viny mengajaknya untuk pergi. Ia hanya tertunduk di kasurnya sambil menyandar di dinding dengan wajah yang ia sembunyikan di antara lututnya.

“Andai kamu di sini Rain, aku pasti nggak akan bingung, bimbang, dan dilema gini. Kamu tahu kapan harus ngeyakinin aku”

 

TAMAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

Authorized by : @Rendyan_Aldo

Hahaha… gak kok bercanda. Masih panjang ini hehe. Btw, maaf kemarin gak update, lagi gak enak badan sama otak tiba-tiba pindah ke dengkul (?)

Oke, jadi gini… gw rasa makin ke sini, makin tambah part, ceritanya makin ngebosenin T.T jadi gw mau ngembaliin cerbung ini ke plot awal. Lebih fokus ke romance nya. Dan soal horror dan comedy nya di stop dulu. Tenang, masih tetep ada kok. Cuma dikurangin aja. Oh iya, sebagai permintaan maaf, part ini dipanjangin dari biasanya. Semoga suka 🙂

Quotest : Manusia bisa berubah. Nggak peduli itu ruang, waktu, maupun seseorang yang bakal ngerubahnya. Perlahan tapi pasti, karena ikatan yang mereka jalin semakin merenggang atau pun mengerat.

 

Iklan

6 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward” Part 16

  1. vusset cover nya ganti , authornya mulai shani shani an nih :v ,btw tuh cerita horor si ibu hamil sama si orang pinter akhirnya nikah atau gimana? :v

    Suka

    1. -> Ah , enggak kok. Masih Yupi-yupian 😳 *eh
      Gw cuma ngambil konsep sirkulasi, jadi tiap 5 part (diusahakan) ganti cover biar gak bosen.

      ->Kan dia udah punya suami – – ngapain nikah lagi

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s