“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 7

“H-halo kak Naomi.”

“Ya? Cari siapa ya?” tanya Naomi.

“Robbynya ada kak?”

“Lho? Robby enggak tinggal di sini lagi, eh tunggu. Kamu tau nama aku dari mana?” Naomi memicingkan matanya pada orang tersebut, ia seperti pernah melihat orang di depannya ini. Tetapi ia lupa dimana.

“Maksud kakak? Kan aku dulu sering main ke sini kak, ini aku k-kak S-Shania,” ucap Shania terbata.

Naomi terdiam mematung, ia menatap Shania dari ujung bawah sampai atas. Ia tidak menyangka bahwa tidak mengenalinya lagi, Shania tampak berubah sekali sekarang.

“Astaga, S-Shania?!”

Naomi menatap Shania dengan tatapan tidak percaya, karena Shania tidak ada kabar sama sekali itulah yang ia ketahui dari Robby. Dan sekarang, ia muncul dihadapannya.

“K-kamu beneran Shania?” tanya Naomi.

Shania mengangguk, “Iya, aku Shania kak.”

“Yaudah, mending kita masuk. Biar enak ngobrolnya.” Naomi pun mempersilahkan Shania masuk, dan mereka duduk di ruang tamu.

“Mau minum apa Shan?” tanya Naomi.

“Gak usah repot-repot kak,” ucap Shania.

“Enggak repot kok. Yaudah, sebentar ya buatin minum dulu.” Naomi berjalan ke dalam menuju dapur untuk membuatkan minum.

Tak berapa lama, Naomi pun kembali dengan membawa dua buah gelas minuman dingin yang dibuatnya. Naomi meletakkan satu gelas di depan Shania, dan satu lagi untuk dirinya.

“Jadi… gimana kabar kamu di sana Shan?” tanya Naomi.

“Baik kok kak, kalau disini gimana? Baik-baik aja kan semuanya?”

Naomi mengangguk, “Iya, baik-baik aja kok disini. Tapi, ya Robby yang enggak baik sih. Dia nungguin kamu terus tuh.”

Shania menundukkan kepalanya, itu memang salahnya. Tidak memberi kabar lagi pada Robby, karena kecerobohannya ia tidak bisa menghubungi Robby. Kalau saja waktu bisa diulang, ia akan lebih hati-hati tidak akan seceroboh itu.

“Oh iya, gimana keadaan Ve?” tanya Naomi.

Shania menatap Naomi, kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan.

“Maksud kamu?” tanya Naomi tidak paham.

“K-kak Ve udah gak ada kak,” lirih Shania.

Naomi yang merasa tidak enak pun, langsung duduk di samping Shania. Dan merengkuh tubuh Shania untuk dipeluknya.

“Maaf, kak Naomi gak tau Shan,” ucap Naomi sambil mengelus punggung Shania.

Shania mengangguk, “Gakpapa kok kak.”

Naomi melepaskan pelukannya, sedangkan Shania menghela nafasnya pelan. Sempat terjadi keheningan antara mereka berdua. Naomi yang menunggu Shania berbicara, dan Shania yang ragu untuk menceritakan tentang Ve.

“Waktu itu ketika kami bawa kak Ve berobat, kata dokter bisa disembuhkan. Aku sama Papah senang banget mendengarnya.” Shania memejamkan matanya sambil menghela nafasnya pelan. “Aku terus nemenin kak Ve, dia berusaha banget buat sembuh biar balik lagi ke sini.”

Naomi mengelus punggung Shania dengan lembut. “Tapi setelah beberapa minggu berobat, tidak ada perubahan sama sekali. Kak Ve makin parah! Dan aku semakin muak dengan semua perobatan yang tak membuat kak Ve sembuh, yang ada malah membuat dia semakin parah.”

Bulir air mata jatuh di pipi Shania. “Dua minggu kemudian, pagi itu kak Ve gak bangun-bangun. A-aku panik.. setelah diperiksa oleh dokter, kak Ve udah gak ada. Udah ninggalin aku sendirian di sini.”

“Dan dua bulan yang lalu kak Ve dimakamkan di sini di samping makam Mamah, aku balik lagi ke sini. Setelah selesai, aku balik lagi ke sana, karena barang-barangku masih di sana dan Papah juga masih ada kerjaan di sana. Dan dengan terpaksa aku tinggal di sana, Papah gak mau aku tinggal sendirian di sini.” Shania menghela nafasnya.

“Terus kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Naomi.

“Aku tinggal bareng temen aku kak, jadinya ya gitu. Enggak tinggal di rumah yang lama, padahal sih ada kok keluarga di sini, tapi beda kota kak,” jawab Shania.

“Oh iya, kata kakak tadi, Robby udah gak tinggal di sini. Maksudnya apa kak?” tanya Shania.

“Dia tinggal di apartement Shan, udah lama sih. Udah setahun lebih kayaknya dia tinggal di apartement sendirian,” jawab Naomi.

“Minta alamatnya boleh kak?”

Naomi mengangguk, “Bentar ya, kakak ke dalam dulu ambil kertas sama pulpen biar dicatet gitu.”

“Oh iya, sekalian minta kontak kak Naomi deh ya hehe.”

Naomi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap Shania,”Yaudah, tunggu sebentar ya.”

Shania mengangguk dan Naomi pun masuk ke dalam untuk mencatatkan alamat apartement Robby tinggal. Tak berapa lama, Naomi pun kembali lagi berjalan ke ruang tamu.

“Nah, ini alamatnya Shan.” Naomi memberikan secarik kertas pada Shania.

“Makasih kak.” Shania tersenyum manis pada Naomi, “Ah iya, minta kontak line dong kak.”

“Yaudah nih scan aja ya.” Naomi memberikan handphone miliknya pada Shania.

Shania pun langsung mengscan milik Naomi, setelah selesai ia pun langsung mengembalikan handphone milik Naomi.

“Kalau gitu aku pulang dulu ya kak.” Shania bangkit dari duduknya.

“Yaudah, ayo aku anterin ke depan.” Naomi pun juga bangkit dari duduknya.

Mereka berdua pun berjalan keluar dari rumah, dan di luar sudah ada yang mobil yang menunggu Shania di sana.

“Aku pulang ya kak,” ucap Shania.

“Hati-hati ya Shan.” Naomi tersenyum pada Shania.

Shania mengangguk, dan ia pun masuk ke dalam mobil tersebut. Setelah itu mobil tersebut pun pergi meninggalkan rumah Naomi, dirasa tak terlihat lagi. Naomi pun masuk kembali ke dalam rumah, tetapi baru saja ia sampai di depan pintu. Kini sebuah mobil telah berada di depan rumahnya.

Terlihat seorang perempuan dengan seragam SMA, keluar di bagian mobil tersebut. Setelah itu mobil tersebut pun meninggalkan rumah Naomi, dan perempuan dengan seragam SMA tersebut masuk ke dalam rumah.

“Robbynya gak masuk Yup?” tanya Naomi yang melihat Yupi masuk dengan menenteng plastik besar.

“Enggak kak, katanya tadi takut kemaleman nganter kak Shani. Jadinya ya pulang deh kak,” jawab Yupi.

Mereka masuk ke dalam bersama-sama, Naomi duduk di ruang tamu, Yupi baru saja melepas sepatu miliknya dan ia duduk di samping Naomi sambil menaruh plastik besar di meja kecil samping sofa.

“Emang Shani ikut juga?”

Yupi mengangguk dan duduk di samping Naomi, “Iya tadi ikut juga kak.”

“Kalian emang kemana aja?”

“Tadi sih makan, terus nemenin kak Shani nyari bahan buat tugas. Terus pulang deh.”

Yupi bangkit dari duduknya, “Aku ke kamar ya kak, mau bersih-bersih dulu. Itu yang di dalam plastik makanan buat kakak.”

Yupi pun berjalan menuju kamarnya, sedangkan Naomi membuka isi plastik tersebut. Dan tentunya memakan apa yang dibawakan oleh adiknya tersebut..

Di tempat lain, kini Robby tengah berada di apartementnya bersama Shani. Shani memintanya untuk ke apartement saja, katanya sih orang rumah lagi pergi. Mending ia di apartement Robby terlebih dahulu. Shani duduk di ruang tengah sambil memainkan handphonenya, sedangkan Robby berada di dapur membuatkan minum untuk mereka. Robby membawa dua gelas minuman dingin ke ruang tengah.

“Nih Shan.” Robby memberikan satu gelas minuman untuk Shani.

Shani menoleh dan mengambil gelas yang diberikan Robby untuknya.

“Makasih Rob.” Shani menaruh gelas tersebut di meja di depannya.

Robby duduk di samping Shani, ia menaruh gelas di meja. Dan hening menyelimuti mereka, Shani asik dengan handphonenya. Sedangkan Robby sibuk dengan pikiran-pikirannya, akhir-akhir ini memang banyak sekali yang menjadi beban pikiran menurutnya.

Robby menghela nafasnya pelan, Shani yang merasa tidak beres dengan Robby pun memasukkan handphonenya ke dalam tas. Dan ia kini beralih pada Robby.

“Kenapa Rob?” tanya Shani.

Robby menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Shani, menandakan bahwa ia tidakpapa. Shani mendekatkan duduknya pada Robby, dan tangannya mengelus pipi Robby.

“Beneran gakpapa?” Shani mengelus pipi Robby dengan lembut.

“Hhh, gakpapa kok Shan.”

“Cerita aja sama aku Rob.”

“Beneran gakpapa kok Shan.” Robby mengacungkan dua jarinya, sehingga membuat huruf ‘v’.

“Bener?”

Robby mengangguk, “Beneran.”

“Yaudah-yaudah, kalau emang gakpapa. Tapi kalau mau cerita, sama aku gakpapa kok. Aku siap dengerin,” ucap Shani tulus dan ia melepaskan tangannya dari pipi Robby.

Robby mengangguk, “Iya, pasti bakalan cerita kok Indira.”

Shani tersenyum, kemudian ia menaruh kepalanya di bahu Robby dan mengapit tangan Robby.

“Kita bisa gini terus kan Rob?”

~

Keesokkan harinya, kini Robby tengah baru saja selesai dari kelasnya. Dan ia berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya, ia berjalan santai menuju kantin. Robby memesan makanan untuknya, dan duduk di kursi untuk enam orang. Tak berapa lama, pesanannya pun datang, dan tak waktu pikir panjang ia pun langsung memakan makanannya dan tak lupa diawali dengan doa dulu ya..

Tak butuh waktu yang lama, kini makanannya pun telah habis. Dan saat itu pula Viny datang menghampirinya. Dan duduk di hadapan Robby.

“Heh ngagetin aja sih!” ucap Robby kesal.

Viny hanya cengengesan dengan tingkah laku Robby.

“Sendirian aja Rob?”

Robby mengangguk, “Seperti yang kamu liat Vin, aku di sini sendirian.”

“Shani mana?” tanya Robby.

“Cie nyariin Shani, kok aku enggak sih? Haha.” Viny tertawa dengan ejekannya pada Robby. Mungkin baru sekarang ia bisa membalasnya, karena ia lah yang sering jadi ejekan olehnya.

“Kan kamu sekarang ada di depan aku, ngapain dicari lagi coba?”

“Cie ngambek, duh utuk utuk Oby jangan ngambek dong.”

“Sumpah Vin, enggak cocok banget kamu gitu,” ucap Robby lesu.

Viny masih saja tertawa mengejek Robby, dan Robby hanya menatap Viny malas.

“Oke-oke, ini serius. Ngapain nyari Shani? Shani tadi sih, lagi bahas tugas deh tadi sama temen kelas,” ucap Viny.

Robby membulatkan mulutnya sambil mengangguk-ngangguk. Dan dari kejauhan Viny melihat Shani yang sedang celingukan entah mencari siapa, dan ia melihat Viny yang sedang bersama Robby. Kemudian Shani pun berjalan berjalan kearah mereka, Viny terkekeh geli menatap Shani yang berjalan perlahan mendekati Robby dari belakang.

“Kenapa Vin?” tanya Robby.

Viny menggelengkan kepalanya, “Gakpapa kok Rob.”

Robby mengangguk, dan Shani kini telah berdiri di belakang Robby. Ia pun menutup mata Robby dari belakang.

“Apaaan nih? Siapa sih? Jahil banget deh,” gerutu Robby.

“Tebak siapa dong,” ucap Shani.

Viny yang melihat tingkah laku mereka berdua seakan mengenang Robby bersama Shania dulu, Shania yang dulu telah berhasil mengambil hati Robby darinya. Dan sekarang ia entah kemana, tetapi ia sudah memiliki yang mencintainya apa ada dan tulus dengan dirinya pada saat itu lah ia membuka hatinya untuk Aldy. Ya, orang tersebut Aldy.

Dan sekarang, ia melihat Robby seperti ini bersama Shani. Seperti de javu tetapi berbeda orang(?). Entahlah, yang jelas ia pernah melihat kejadian seperti ini ketika Robby bersama Shania dulu.

“Shani pasti kan?” tebak Robby.

Shani melepaskan tangannya dari wajah Robby, “Ih, kok tau sih?”

“Ya tau lah, orang kan kita bareng terus,” ucap Robby.

“Cie bareng terus,” goda Shani.

“Haha, apa sih. Emang gitu kan?”

Shani duduk di samping Robby, “Emang gitu ya? Enggak kayaknya deh.”

“Ehem ehem, di sini masih ada orang ya. Jadi tolong hargain yang ada di sini,” ucap Viny.

“Haha, gitu banget Vin,” ucap Robby.

“Vin nanti temenin nyari bahan lagi yuk, kurang tadi bahannya. Terus kayaknya ada yang belum deh,” ucap Shani.

“Kapan Shan?” tanya Viny.

“Hari ini bisa? Jadi biar besok deh kita ngerjainnya.”

“Yah, kalau hari ini gak bisa lagi kayaknya deh. Soalnya udah janji sama Aldy tadi,” ucap Viny.

“Besok bisa ngerjain bareng gak?” tanya Shani.

“Bisa kok, tapi jam berapa?”

“Terserah kamu deh, esok kan gak ada kelas juga,” ucap Shani.

“Dimana ngerjainnya? Di rumah aku?”

“Mending di rumah aku aja, biar enak Vin.”

“Oke, nanti kabarin aja,” ucap Viny.

Shani mengangguk, kemudian ia menoleh pada Robby.

“Apa liat-liat?”

“Temenin nyari bahan yuk,” ucap Shani.

“Gimana ya?” Robby meletakkan tangannya di dagu seperti sedang berpikir.

“Ya ya ya? Mau ya? Nanti aku kasih permen deh,” ucap Shani.

“Emang anak kecil apa,” ucap Robby sebal.

“Gitu aja ngambek, temenin nyari bahan yuk. Kamu gak ada kelas lagi habis ini?”

Robby mengangguk, “Gak ada kelas lagi sih, yaudah deh.”

Shani menepuk-nepuk pipi Robby, “Yeay, Robby emang baik deh.”

“Yaudah, sekarang aja yuk nyarinya. Biar cepet pulang,” ucap Shani.

“Yaudah, yuk.”

“Duluan ya Vin,” ucap Shani.

Viny mengangguk, dan menatap mereka berdua yang berjalan keluar dari kantin. Mungkin Shani bisa menggantikan Shania untuk Robby nanti pikirnya.

~

Robby dan Shani kini tengah berada di toko alat-alat tulis dan buku, mereka mencari bahan tugas untuk Shani, dan Robby hanya menemaninya saja. Shani berjalan berkeliling mencari apa yang diperlukannya dan di belakangnya Robby mengikuti entah kemana ia berjalan. Cukup lama mereka berada di toko tersebut, setelah dirasa sudah cukup kini Shani pun menuju kasir untuk membayar semuanya.

Setelah selesai membayar, mereka pun berjalan keluar dan menuju ke parkiran. Robby membukakan pintu untuk Shani, setelah Shani masuk ke dalam ia pun menutup pintu tersebut. Dan ia berjalan ke bagian samping kemudi, setelah itu mereka pun meninggalkan toko tersebut.

“Rob ke apartement aja ya, Gre tadi bilang pulangnya malam. Jadi ke apartement kamu aja deh,” ucap Shani.

“Yaudah, kita cari makan dulu ya? Biar makannya di apartement aja nanti,” ucap Robby.

Shani mengangguk, “Boleh, lagian aku laper juga.”

“Oke.”

Robby pun mengemudikan mobilnya menuju sebuah restoran cepat saji, ia pun menjalan mobilnya menuju tempat drive thrupada restorant tersebut. Setelah selesai ia pun langsung mengemudikan mobilnya menuju apartementnya. Kini mobil Robby tengah berhenti dikarenakan tengah lampu merah. Robby bosan dengan namanya menunggu. Ia pun menengok ke samping kanan. Setapi hari kotanya semakin banyak mobil dan itu tentu saja yang membuat tambah macet.

Dan ketika ia memperhatikan salah satu mobil, ia tak sengaja melihat orang yang berada di dalam mobil tersebut. Ia terdiam mematung, hatinya berdegup kencang..

“S-Shania,” ucap Robby dalam hati.

 

*To be continued*

 

Created by : @RabiurR

Iklan

6 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 7

  1. waduh… *dag.. dig.. dug… der* *cerita nya Sound effect*
    robby ketemu lagi sama Shania, seru ini cerita “ψ(`∇´)ψ

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s