Vepanda part 12

“Ada apa?!” tanya Melody setelah sampai disumber suara tadi.

“INI!!” ucap orang yang berteriak tadi sambil menunjuk seseorang.

“Kamu apain Sinka za?” tanya Melody pada Rezza karena ia yang ditunjuk oleh Sinka.

“Nggak aku apa-apain,” jawab Rezza mengangkat kedua bahunya.

“Terus kenapa Sinka sampai teriak kalo nggak kamu apa-apain?” tanya Melody mendekati Rezza.

“Sumpah Demi Lovato kak! Aku nggak apa-apain nih bocah!” jawab Rezza mulai kesal.

“Udah-udah, jangan ribut, ada apa sih sebenernya? Coba kamu cerita dulu sin,” tanya Naomi memegang pundak Sinka yang sedari tadi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“Jadi gini, kan tadi aku abis dari dapur terus aku denger ada suara dilantai atas, karena penasaran yaudah aku coba cek aja. Pas aku cek ke kamar kak Melody ternyata nggak ada apa-apa, tapi pas aku mau turun ke bawah ada suara lagi, yaudah aku cek lagi. Karena tadi di kamar kak Melody nggak ada apa-apa yaudah aku coba cek ke kamarnya Rezza, pas aku masuk aku liat Rezza lagi telanjang yaudah deh aku teriak karena takut diapa-apain sama DIA!” jawab Sinka sambil menatap Rezza kesal.

“Jangan nuduh orang sembarangan deh, siapa juga yang mau apa-apain elu, kepedean banget sih jadi orang!” ucap Rezza sewot.

“Ya siapa tau aja, kamu kan mesum!” ucap Sinka kesal.

“Udah-udah, bener kata Rezza sin, kamu jangan nuduh orang sembarangan,” ucap Melody.

“Aku nggak nuduh kak! Aku kan kaget tiba-tiba liat cowok telanjang,” ucap Sinka.

“Duhhhh sin, orang masih pake handuk gitu dibilang telanjang, ada-ada aja kamu,” ucap Naomi menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Denger tuh bocah!” ucap Rezza kesal.

“Apa kamu?!” tanya Sinka kesal dan mendekatkan wajahnya pada Rezza.

“Elu yang salah kenapa elu yang nyolot?!” tanya Rezza kesal dan juga mendekatkan wajahnya pada Sinka.

“Terserah aku dong!” jawab Sinka kesal.

“Waktu Sinka nginep disini juga gini mel?” tanya Naomi berbisik pada Melody.

“Lebih parah dari ini,” jawab Melody juga berbisik.

“Dasar anak kecil,” ucap Naomi dan Melody bersamaan.

“DIEM!!” teriak Rezza dan Sinka menoleh ke arah Naomi dan Melody bersamaan lalu kembali saling menatap.

Naomi dan Melody hanya kaget dan heran melihat tingkah mereka berdua. Wajah Rezza dan Sinka kini hanya berjaran beberapa cm saja, bukannya terlihat sedang bertengkar, mereka malah terlihat sedang ingin ciuman.

“CIUM! CIUM! CIUM! CIUM!” teriak Melody dan Naomi sambil bertepuk tangan.

Sinka dan Rezza langsung menoleh dan menatap dengan tajam ke arah Naomi dan Melody. Naomi dan Melody yang melihat Sinka dan Rezza menatap mereka dengan tajam langsung diam dan berhenti bertepuk tangan.

“Ke bawah aja yuk mel,” ucap Naomi lalu keluar kamar diikuti oleh Melody.

“Apa kamu?!” tanya Sinka kesal.

“Elu yang apa?!” tanya Rezza juga kesal.

“Awas ya! aku tonjok ntar!” ancam Sinka sambil menunjkkan kepalan tangannya di depan wajah Rezza.

“Gue nggak takut sama lu!” ucap Rezza menatap tajam Sinka.

“Liat aja ntar!” ucap Sinka lalu pergi dari kamar Rezza.

“Bodo!” ucap Rezza lalu menutup pintu kamarnya.

Setelah selesai mandi dan ganti baju, Rezza keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Ia berjalan ke arah ruan keluarga dan menonton TV.

“Za!” teriak Melody dari ruang makan.

“Apa?!” tanya Rezza juga berteriak.

“Makan malem dulu,” jawab Melody.

“Bentar,” ucap Rezza melanjutkan menonton TV.

~oOo~

“Rezza lagi ngapain sih?! Lama banget,” tanya Melody mulai kesal.

“Coba kamu samperin sin,” suruh Naomi pada Sinka.

“Kok aku sih?! Kakak aja sana!” jawab Sinka kesal.

“Udah cepetan sana,” suruh Naomi lagi.

Dengan berat hati, Sinka pun berjalan ke ruang keluarga menghampiri Rezza yang sedang tiduran disofa.

“Makan dulu, nontonnya ntar,” ucap Sinka berdiri menatap Rezza.

“Ngapain lu kesini?” tanya Rezza tanpa menoleh ke arah Sinka.

“Kamu dibaikin malah nyolot!” ucap Sinka kesal.

“Terserah gue dong,” ucap Rezza ketus.

“Huuuuhhh!!” Sinka mendengus kesal lalu berjalan mendekat ke arah Rezza dan menjewer kupingya.

“Oiii!! Apa-apaan nih?!” tanya Rezza kesal sambil berusaha melepaskan tangan Sinka.

Sinka tidak menghiraukan Rezza yang kesakitan, ia terus menjewer kuping Rezza dan membawanya ke ruang makan. Setelah sampai di ruang makan, Sinka melepaskan kuping Rezza dan duduk disebelah Naomi.

“Apa-apaan sih lu?!” tanya Rezza kesal sambil memegang kupingnya yang terlihat memerah.

“Suruh siapa nggak mau nurut,” jawab Sinka tanpa menoleh ke arah Rezza.

“Udah-udah, kamu duduk sini terus kita makan sama-sama,” ucap Melody.

Kemudian Rezza duduk di sebelah Melody, dan makan malam pun dimulai. Selama makan malam, Rezza terus menatap tajam ke arah Sinka. Sedangkan Sinka hanya sesekali menoleh ke arah Rezza.

Selesai makan malam, Rezza langsung pergi ke kamarnya. Di kamar ia bermain gitar dan sesekali menghisap vape.

Tok… tok… tok…

“Siapa?!” tanya Rezza berteriak.

“Ini aku Naomi,” jawab orang yang mengetuk pintu kamar Rezza tadi.

“Masuk aja kak, nggak dikunci kok,” ucap Rezza.

CEKLEK!

Naomi membuka pintu kamar Rezza dan berjalan ke arah Rezza yang sedang bersandar di jendela kamarnya menatap keluar.

“Hai…,” sapa Naomi sambil duduk di kursi yang berada di belakang Rezza.

“Iya, ada apa ya kak?” tanya Rezza sambil mengubah posisi bersandarnya sehingga ia tidak membelakangi Naomi.

“Nggak ada apa-apa kok, cuma pengen ngobrol aja sama kamu,” jawab Naomi tersenyum.

“Sungguh senyuman yang menggoda,” ucap Rezza dalam hati sambil menatap Naomi.

“Heii!”

“Ehh? Iya, apa kak?”

“Kamu lagi mikirin siapa? Kok ngelamun.”

“Ng-nggak, nggak lagi mikirin apa-apa kok, hehe….”

“Mikirin mantan kamu ya?”

“Ng-nggak kok.”

“Terus mikirin siapa dong? Sinka?”

“Hah?! K-kak Naomi ngaco ah, buat apa aku mikirin dia? Mendingan mikirin kak Naomi hehe….”

“Ahhh…, kamu bisa aja.”

“Hehehe….”

“Oiya, aku kesini mau nanyain sesuatu sama kamu.”

“Nanya apa kak?”

“Kenapa sih kamu sama Sinka berantem terus?”

“Mmmm…, kalo soal itu sih mungkin gara-gara Sinka yang suka cari masalah sama aku.”

“Masa sih? Aku nggak percaya kalo gara-gara itu.”

“Tapi kadang-kadang juga gara-gara aku yang cari masalah sama dia sih.”

“Aku tetep nggak percaya kalo kalian suka berantem cuma gara-gara hal sepele kaya gitu.”

“Emang menurut kak Naomi gara-gara apa?”

“Ya mana aku tau, kan bukan aku yang ngalamin hehe….”

“Tau sesuatu nggak kak?”

“Gatau, apaan emang?”

Jokes kakak garing kaya ikan, muhehehe…,” jawab Rezza nyengir kuda.

“Ihhhh…, jahat banget sih,” ucap Naomi mencubit perut Rezza.

“Nggak kakak nggak adek sama aja, sukanya main tangan,” ucap Rezza dengan wajah datar menatap Naomi.

“Nggak! Aku sama Sinka itu beda!” ucap Naomi mealingkan wajahnya.

Keheningan pun terjadi diantara mereka berdua, Rezza menatap keluar jendela dengan tatapan kosong sedangkan Naomi hanya memalingkan wajahnya dari Rezza.

JREEENGG

“Aku nyanyiin lagu buat kak Naomi ya,” ucap Rezza setelah menggenjreng gitarnya.

Karena tidak dihiraukan oleh Naomi, Rezza langsung mulai memainkan lagu untuk Naomi. Terdengar suara lantunan lagu Jamrud – Pelangi Di Matamu keluar dari gitar Rezza.

Tiga puluh menit kita disini

Kadang bicara

Aku nggak resah aku juga nggak nunggu

Kata darimu

 

Ku tak butuh kursus merangkai kata

Untuk bicara

Aku nggak takut harus jujur padamu

Tentang semua ini

 

Tokek didinding tertawa

Karna melihat cicak nggosipin kita

Ingin kumaki cicak-cicak itu

Karna udah nggosipin kita

 

Kok ada belek dimatamu

Yang membuat diriku menahan ketawa

Kok ada belek dimatamu

Yang memaksa diri tuk bilang

Mata kamu belekan

Mata kamu belekan…

JREEEENGGG

Selesai menyanyikan lagu, Rezza menatap ke arah Naomi dengan tatapan super pedenya. Sedangkan Naomi, ia hanya tertawa kecil mendengar lagu yang baru saja dinyanyikan oleh Rezza.

“Gimana? Keren kan?” tanya Rezza dengan pedenya.

“Keren sih keren, kreatif, tapi kenapa harus belek sih? Kenapa nggak yang lain aja hahaha…,” jawab Naomi tertawa.

“Itu kan lagu spontan, aku liatnya belek yaudah itu yang aku nyanyiin hehe…,” ucap Rezza cengengesan.

“Hah?! Jadi kamu beneran liat ada belek dimata aku? Mana-mana?” tanya Naomi sambil mengucek kedua matanya.

“Hahaha… nggak kok, becanda doang,” jawab Rezza terkekeh-kekeh.

“Kamu tau nggak kalo kenyataan itu pait?” tanya Naomi.

“Tau kok, kenapa emang?” tanya Rezza mengangkat satu alisnya.

“Dan sekarang kenyataannya-“ jawab Naomi.

“Kak Naomi nggak peduli sama jokes aku, aku udah hafal itu,” potong Rezza.

“Ihhhh, main potong-potong pembicaraan orang aja sih, nggak asik ah,” ucap Naomi kembali memalingkan wajahnya.

“Ciee ngambek,” goda Rezza sambil mencolekk pundak Naomi.

“Apaan sih?!” tanya Naomi sambil berusaha menghindar dari colekan tangan Rezza.

“Kak, aku mau ngomong sesuatu nih,” ucap Rezza.

“Apa?” tanya Naomi menoleh ke arah Rezza.

“Mmmm…,” Rezza hanya bergumam sambil terus menatap Naomi.

“Apa?” tanya Naomi menatap Rezza dengan heran.

“Ciee nungguin hahaha…,” jawab Rezza tertawa.

“Ihhhh… ngeselin banget sih!” ucap Naomi mencubit perut Rezza.

“Haha… becanda kak, gitu aja ngambek,” ucap Rezza.

“Tau ah!” ucap Naomi memalingkan wajahnya dari Rezza.

Keheningan kembali terjadi diantara mereka bedua. Rezza meletakkan gitarnya lalu berdiri di sebelah Naomi dan menatapnya dengan serius.

“Kak,” ucap Rezza membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Naomi.

“Apa?” tanya Naomi menoleh ke arah Rezza.

“Kakak cantik banget deh,” ucap Rezza tersenyum.

“Makasih,” ucap Naomi juga ikut tersenyum.

Setelah itu tidak terdengar lagi kata keluar dari mulut mereka berdua, mereka hanya saling menatap satu sama lain. Wajah mereka kini semakin dekat, hanya berjarak beberapa cm saja.

“Kak,” ucap seseorang di depan pintu kamar Rezza.

“Eh?!” Rezza dan Naomi kaget mendengar suara itu dan langsung memundurkan wajah mereka.

Mereka berdua terlihat salah tingkah, sedangkan orang yang di depan pintu hanya menatap mereka berdua dengan tatapan aneh (?).

“Kak,” ucap orang yang ada di depan pintu itu lagi.

“Eh iya, ada apa sin?” tanya Naomi menoleh ke arah orang itu.

“Udah malem, ayo pulang,” ucap Sinka lalu pergi.

“Iya bentar,” ucap Naomi lalu berdiri dari kursi.

“Aku pulang dulu ya,” ucap Naomi menatap Rezza.

Rezza tidak menjawab Naomi, ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Daahhh…,” ucap Naomi tersenyum lalu keluar dari kamar Rezza.

Setelah Naomi keluar dari kamarnya, Rezza merebahkan dirinya ke atas kasur. Ia mulai memejamkan mata dan tertidur.

Keseokan harinya Rezza berangkat kesekolah hampir telat, ia berlari dari parkiran menuju kelasnya. Tanpa mengetuk pintu, Rezza langsung masuk ke kelas dan duduk dibangkunya. Rezza sedikit heran karena ia tidak melihat Sinka duduk di sebelahnya, melainkan duduk sendiri di barisan sebelahnya.

“Kok pindah duduknya?” tanya Rezza sambil duduk dibangkunya.

“Gapapa, lagi pengen duduk sendiri aja,” jawab Sinka tanpa menoleh ke arah Rezza.

Beberapa saat kemudian seorang guru masuk ke kelas Rezza dan pelajaran dimulai seperti biasanya. Selama pelajaran, Rezza hanya menatap ke arah Sinka terus menerus. Ia bahkan sampai beberapa kali ditegur oleh guru yang sedang mengajar, namun ia tetap terus memperhatikan Sinka.

Teet… teet…

Jam istirahat pun berbunyi, semua siswa berhambuaran keluar kelas untuk mengisi perut mereka. Najong dan Yupi menghampiri Sinka dan mengajaknya pergi ke kantin, sedangkan Rezza sedang tertidur menghadap ke bangku Sinka.

Tak terasa jam pelajaran terakhir telah selesai, bel pulang sekolah membangunkan Rezza dari tidurnya. Rezza melihat sesisi kelasnya sedang berjalan keluar kelas sambil membawa tas mereka masing-masing.

“Bangun juga kamu akhirnya,” ucap Yupi menoleh ke arah Rezza.

“Hooaaaamm, elu kenapa nggak bangunin gue tadi?” tanya Rezza mernggangkan badannya.

“Ogah banget bangunin kamu tidur, ntar kamu ngamuk lagi kalo dibangunin,” jawab Yupi sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.

“Nggak lah, gue nggak bakalan ngamuk,” ucap Rezza mengambil tasnya.

“Yuk sin,” ucap Yupi berdiri dari bangkunya.

“Yuk,” ucap Sinka menghampiri Yupi.

“Mau kemana yup?” tanya Rezza.

“Mau tau aja urusan cewek,” jawab Sinka ketus.

“Gue nggak nanya elu!” ucap Rezza kesal.

“Udah ah, yuk sin, ntar telat lagi,” ucap Yupi menarik tangan Sinka keluar kelas.

“Oiya yup, Najong mana?!” tanya Rezza beteriak.

“Gedung olahraga!” jawab Yupi berteriak dari luar kelas.

Setelah mengambil tasnya, Rezza keluar kelas dan berjalan ke gedung olahraga. Sessampainya di gedung olahraga, ia melihat semua anak futsal sedang berkumpul disana. Rezza pun berjalan menghampiri mereka.

“Ada apa nih?” tanya Rezza setelah berada didekat mereka.

“Ini dia yang ditunggu-tunggu,” ucap salah seorang murid.

“Dari mana aja lu?” tanya Bayu yang duduk di sebelah Najong.

“Gue tadi ketiduran di kelas,” jawab Rezza lalu duduk di sebelah Bayu.

“Yupi udah pulang za?” tanya Najong.

“Udah, bareng sama Sinka,” jawab Rezza.

“Bahas ceweknya ntar aja, sekarang bahas futsal dulu,” ucap Bayu.

“Mau bahas apaan lagi sih?” tanya Rezza.

“Lu lupa za? Kan minggu depan kita ada turnamen futsal,” ucap seorang murid.

“Oiya gue lupa haha…,” ucap Rezza tertawa.

“Kebiasaan lu,” ucap Najong.

“Udah-udah, karena semuanya udah ngumpul, kita mulai aja rapatnya,” ucap Bayu.

Bayu pun menerangkan strategi apa yang akan mereka gunakan saat turnamen futsal minggu depan. Setelah selesai rapat, mereka semua pulang ke rumah mereka masing-masing. Namun tidak dengan Rezza dan Najong, mereka malah pergi menuju ruang musik. Sesampainya di ruang musik, Rezza masuk ke dalam dan mengambil sebuah gitar dan membawanya keluar.

“Yaudah gue pulang duluan ya,” ucap Najong setelah Rezza keluar dari ruang musik.

“Okesip,” ucap Rezza sambil mengunci kembali ruang musik.

Setelah mengunci ruang musik, Rezza berjalan sendirian sambil membawa gitar ke parkiran. Saat berbelok ke koridor kelas, Rezza melihat seorang siswi sedang duduk sendirian. sambil menyetem suara gitar yang ia bawa, Rezza menghampiri siswi itu.

“Kok belom balik?” tanya Rezza setelah duduk di sebelah siswi tadi.

Siswi itu sama sekali tidak menoleh ke arah Rezza karena ia sedang memakai headset di kedua telinganya.

“Oiii…,” ucap Rezza sambil menepuk pundak siswi itu.

“Eh?!” siswi itu kaget dan menoleh ke arah Rezza.

“Ditanya diem aja,” ucap Rezza.

“Maaf kak, tadi nggak kedengeran hehe…,” ucap siswi itu cengengesan.

“Kok belom balik?” tanya Rezza.

“Lagi nungguin Shani ekstra kak,” jawab siswi tadi.

“Emang Shani ikut ekstra apaan?” tanya Rezza sambil memainkan gitarnya.

“Kalo nggak salah sih cheerleader,” jawab siswi itu.

“Kalo kamu ikut ekstra apa?” tanya Rezza menoleh ke arah siswi itu.

“Aku ikutan marching band kak,” jawab siswi itu tersenyum.

“Ohh…, kamu Gre kan?” tanya Rezza.

“Iya kak, aku Gre,” jawab Gre kembali tersenyum.

“Shani masih lama ekstranya?”

“Mungkin bentar lagi, soalnya udah dari tadi mulainya.”

“Ohh….”

“Kak Rezza sendiri kok belom pulang?”

“Aku abis ini ada futsal sama kelas 12, males kalo pulang dulu.”

“Hmmm….”

“Sambil nungguin Shani, aku nyanyiin lagu buat kamu boleh kan?”

“Mmmm…, boleh.”

Rezza mulai memainkan gitarnya, terdengar lantunan intro lagu Dragon Force – Trail of Broken Heart keluar dari gitar Rezza.

 

Here we are, far beyond the distant sky

I”ve seen all the world and how the story will be over

Through the snow and tainted mountains we have climbed

Now we have found the light that guides us over

Through the falling rain we”ve travelled far and wide

And through the blackest darkness, stars above shining bright

 

Through the sun and winter rain will fall

All our lives we all were waiting for a sign to call

We”re walking hand in hand in dreams of endless time

How do we know when we will leave this life behind?

 

Stare at life through eyes of mine

The hate, the fear and the pain

There”s a feeling held deep inside

When life you live is in vain (Life you live is in vain)

 

Fly away down the lonely roads of yesterday

We close our eyes to see the light of brighter days

And all alone we”ll be where time can never heal

With the trail of broken hearts flying free

 

“Wahhh bagus,” ucap Gre sambil bertepuk tangan setelah Rezza selesai menyanyi.

“Hehehe…,” Rezza hanya cengengesan.

“Baru kali ini loh kak ada cowok yang nyanyiin aku lagu sambil main gitar,” ucap Gre tersenyum.

“Emang pacar ato mantan kamu belom pernah nyanyiin lagu buat kamu?”

“Aku belom pernah pacaran kak.”

“Masa sih cewek cantik kaya kamu belom pernah pacaran? Aku nggak percaya.”

“Ihhh… beneran kak, aku belom pernah pacaran, kalo nggak percaya, tanya aja tuh sama Shani,” ucap Gre menunjuk ke arah Shani yang sedang berjalan ke arah mereka berdua.

“Baru selesai ekstranya?” tanya Rezza menoleh ke arah Shani.

“Nggak sih, udah dari tadi selesainya, tapi ada rapat dulu,” jawab Shani lalu duduk di sebelah Rezza.

“Oiya, emang bener Gre belom pernah pacaran?” tanya Rezza dengan polosnya.

“Iya, dari lahir sampe sekarang dia masih jomblo, kasian ya hihih…,” jawab Shani tertawa kecil.

“Gausah diceritain dari lahir juga kali shan,” ucap Gre.

“Hehehe…,” Shani hanya cengengesan.

“Yaudah kalo gitu aku tinggal ya,” ucap Rezza lalu berdiri.

“Kak Rezza mau kemana?” tanya Shani.

“Mau futsal sama kelas 12,” jawab Gre.

“Kok kamu tau Gre?” tanya Shani menatap Gre heran.

“Tadi aku yang kasih tau,” ucap Rezza.

“Ohh…,” ucap Shani mengangguk paham.

“Duluan ya,” ucap Rezza lalu mulai berjalan.

“Ehh… tunggu kak!” teriak Shani yang menghentikan langkah Rezza.

“Ada apa?” tanya Rezza menoleh ke arah Shani.

“Aku sama Gre ikut kak Rezza boleh nggak?” tanya Shani.

“Mmmm… gimana ya,” jawab Rezza terlihat bingung.

“Kenapa? Gaboleh ya?” tanya Gre menunduk sedih.

“Bukan gaboleh, tapi aku bawa motor, gabisa boncengin kalian berdua,” jawab Rezza.

“Aku bawa motor sendiri kok kak,” ucap Gre dengan semangat.

“Yaudah kalo gitu, ayo,” ucap Rezza lalu berjalan ke parkiran disusul dengan Gre dan Shani dibelakangnya.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

2 tanggapan untuk “Vepanda part 12

  1. njirrr lagu nya jamrud jadi ngaco gitu lirik nya :v ,wihh hafal lagunya dragon force btw selera musik lu bagus juga thor.

    Suka

    1. itu lagu yang biasanya wa nyanyiin ke pacar wa kalo dia lagilagi ngambek, tapi jangan pernah nyanyiin ntu lagu, wa sering kena tampol abis nyanyiin ntu lagu :v
      wa hafal ya cuma sampe situ doang :v

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s