Pengagum Rahasia 2, Part 9

 

Kleneng!

Lonceng itu berbunyi karena sesuatu menggerakannya.

“Hmm?” Penjaga toko itu memeriksanya

“ekhem! Nyari apaan sih?”

“AH!” Srontak penjaga toko itu kaget

“Vin…Ternyata elu, Gw baru liat lagi lu dateng kesini,”

“Haha, Iya gha. Kebetulan hari ini banyak banget waktu kosong,” ucap Viny

“Hem, Gitu ya,”

“Sagha bangsat! Bukunya yang mana! Banyak banget ini bukunya!” teriak seseorang dari ruangan itu

“Hadeh…Pokoknya yang masih ada capnya!” balas Sagha berteriak

“Lagi sibuk yah?” tanya Viny

“Enggak. Cuma lagi nyari buku aja,” ucap Sagha

“yang ini yah?”

“Wah brengsek lu! Pake ngagetin gw segala!” ucap Sagha mengelus dadanya

“yee…siapa yang ngagetin lu gha,” ucapnya

“Loh, Kamu itu kan yang kemarin!?” ucap Viny

“Ah…Si sayang yang galaknya minta ampun,”

“Sayang-sayang, bisa gak sih kamu panggil aku pake sebutan yang lain. Viny kek, apa kek…,” ucap Viny merasa risih

“Keliatannya lu udah kenal deket sama si viny zal,” ucap Sagha

“Dih! Siapa juga yang kenal deket. Dia itu kan orang bego yang bisa-bisanya salah masuk sekolah!” ucap Viny

“yaelah, masih aja di bahas,” Rizal hanya menggelengkan kepala

“Hah? Maksudnya apaan?” ucap Sagha yang tidak paham

“Kemarin dia itu salah masuk sekolah. Dia malah masuk ke SMA 48 gha!” ucap Viny

“What!? Jadi kemarin lu gak masuk bukan karena sakit!?” Sagha seperti tidak percaya

“Emang bukan, Siapa juga yang bilang gw sakit,” ucap Rizal

“Si ilen, dia bilang kayak gitu kemarin,” ucap Sagha

“Halah udah gak usah di bahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang gw mau tanya, bukunya yang ini bukan?” tanya Rizal lagi

“Lah, bukan yang ini,” ucap Sagha

“Tadi lu bilang yang ada capnya. Nah, ini kan ada capnya juga,” Rizal menunjuk cap yang ada pada cover buku itu

“Buset dah, Liat dulu ini cap apa zal. Ini mah kayak cap dari masjid, yang gw maksud tuh cap gramedia ini,”

“ya masih mending lah, daripada gw kasih yang ada cap kayak di telor asin!”

“Ah, gimana sih lu!” ucap Sagha

“yah, lu kagak bilang sih tadi,” ucap Rizal menyimpan buku itu di depan

“mungkin yang ini,” ucap seseorang

“Eh…,” Rizal dan Sagha langsung melihat ke belakang

“Nah! Ini baru bener,” ucap Sagha

“Apa itu gha?” tanya Viny

“Ini…Gw kemarin baru beli buku 5 biji. Dan pas di rumah setelah dicek, ternyata Cuma ada 4. Eh taunya ketinggalan disini,” ucap Sagha

“Alundra? Ini Novel fiksi?” ucap Viny

“Iya, mungkin…,” Sagha memperlihatkan buku itu pada viny

“Kenapa lu berdua tertarik dengan novel-novel kayak gini. Gw aja kalau di suruh baca cerpen bahasa indonesia suka males,” ucap Rizal

“Dikata Cuma lu doang yang males? Gw juga males kali kalau di suruh baca cerpen bahasa indonesia. Novel tuh berbeda dari cerpen,” Jelas Sagha

“Hah, Intinya apapun yang berhubungan dengan cerita gw gak suka,” ucap Rizal

“Kalau cewek yang cerita-cerita, lu pasti suka,” ucap Sagha

“Itu beda lagi. Kalau cewek itu bukan cerita-cerita, tapi curhat!” balas Rizal

“HAHAHA!” Mereka berdua tertawa

“Btw disini yang belum saling kenal Cuma kalian berdua,” ucap Sagha menunjuk viny dan teman yang satunya lagi

“Eh…,” Viny berhenti melihat novel itu dan melihat ke arah sagha

“biar bisa saling akrab, mending lu berdua kenalan deh,” ucap Sagha

“Eng…Gw ghani…,” ucap lelaki itu

“Eh…V-Viny, Hehe…,” Mereka saling berjabat tangan

“Ghan…Teng. Lu udah beresin buku-buku di dalem?” ucap Rizal

“Ghanteng-ghanteng, nama gw ghani. Ngapain juga gw beresin, orang gw nyarinya rapih gak kayak lu zal,” ucap Ghani

“yee, itu kan gudang. Wajar dong kalau berantakan juga,” ucap Rizal

“Muka lu juga gudang, Berarti wajar kalau acak-acakan juga,” balas Ghani

“Gudang apaan?” ucap Sagha

“Gudang kemaksiatan!” ucap Ghani dengan lantang

“HAHAHA!” Sagha tertawa keras

“Brengsek lu ghan!” ucap Rizal

“udah-udah ngapain di bahas sih. Jadi…Sekarang lu mau pinjem buku apa vin?” tanya Sagha

“Ini aja deh,” ucap Viny

“Lah, Itu kan punya gw vin. Kok mau yang itu!?” ucap Sagha

“Gak apa-apa lah. Aku pinjem beberapa hari doang kok, Kamu tau kan aku tuh bisa namatin satu novel berapa hari?” ucap Viny

“Iya tau, tapi…,”

“Ssssttt…gak ada tapi-tapian. Kamu ini kan penjaga toko yang baik. Harusnya mengerti apa yang di inginkan oleh pelanggan,” Potong Viny

“Hem, iya lah. Terserah lu aja,” ucap Sagha

“Makasih yah, kamu emang baiiiiiiiiiiik banget!” Viny mencubit pipi sagha

“Weh! Jangan coba-coba ngelakuin itu lagi, atau bisa-bisa gw gampar lu,” ucap Sagha

“Dih, gitu aja ngambek. Kalau gitu aku pulang dulu yah, uangnya nanti sekalian pas udah di balikin,” ucap Viny

“Loh, kagak baca disini?” tanya Sagha

“Enggak deh. Lagi pengen tiduran di rumah,” jawab Viny

“Oh, yaudah. Hati-hati di jalan,”

“Iya,” balas Viny lagi

Viny pun pergi dari gramedia itu.

“Eh…Ghanteng, Si Rizal mana?” ucap Sagha bertanya pada ghani yang sedang asik bermain handphone

“Tidur…,” Balasnya singkat

“yah, dasar kebo,” ucap Sagha

~oOo~

Ceklek!

“Sepi banget,”

“Bayu!” Panggil seseorang

“Eh? I..Iya buk kenapa!” balas Bayu berteriak

“Jemput adek kamu di sekolah, cepet!”

“What!? Baru aja sampai,” ucap Bayu

“Huft, Nasib…,” Bayu kembali memakai sepatunya

“Kenapa coba gak pulang naik ojek atau nebeng sama temen nya. Kan biasanya juga gitu,” ucap Bayu sambil menggerutu tidak jelas

Setelah selesai memakai sepatu, Bayu pun langsung pergi.

~oOo~

Bem…Bem…Bem..

Bayu berhenti tepat di depan gerbang sekolah itu.

“Mana tuh anak?” Bayu mencari-carinya, kemudian mengeluarkan Handphonenya

Tuuut….Tuuut…

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan….

“Hah! Bikin kesel aja nih anak!” Bayu memarkirkan motornya di depan gerbang, lalu ia masuk ke dalam

Dengan memakai seragam SMA itu, Bayu masuk ke dalam sekolah adiknya.

~oOo~

“Heh! Jangan sok cantik deh! Bisa-bisanya lo mau ngerebut Deni dari gw!”

“T..Tapi bil, Aku gak ngapa-ngapain,” ucap wanita itu dengan lembut

“Lo pikir gw ini bego apa!? Denger yah, Shani Indira Natio, Gw itu liat pake mata kepala sendiri kalau lo jalan berduaan di kantin sama Deni. Lu gak bisa bohong lagi dari gw!”

“Bil…Tadi dia cuma…,”

“Alah bullshit! Sekarang ikut gw!”  Gadis itu menarik tangan Shani

“Eh-eh nabilah, jangan kasar-kasar,” ucap seseorang menegur mereka

“Hey! Jangan coba ikut campur!” ucap Nabilah membentaknya

“Ash…S-Sakit bil. Kamu nyakitin aku,” ucap Shani

“Bodo…Rasa sakit ini gak sebanding dengan apa yang gw liat tadi di kantin!”

Nabilah membawanya sampai ke ujung tembok.

“K..Kamu mau apain aku bil, A…Ampun….,” Shani terlihat ketakutan

Murid-murid itu mulai memadati area disekitar sana.

Nabilah terlihat mengangkat tangan kanannya seperti akan menampar shani.

“Gw harus kasih lu pelajaran!” ucap Nabilah

“J..Jangan bil!” Shani terlihat menangis

Nabilah mulai mengayunkan tangannya dan…

*PLAK!

“AH!?” Semua murid disana terkejut

“EH!?” Nabilah yang tadinya akan menampar Shani, gagal karena seseorang memegang kuat tangan nya

Kemudian Nabilah melihat ke belakang.

“Ayo pulang…,” ucapnya pelan

“K…KAKAK!?” Nabilah sangat-sangat terkejut dengan kehadiran kakaknya disana

“Oh, sebelumnya minta maaf dulu sama dia,” ucap Bayu

“T..Tapi kak…,”

“Cepet…Atau kakak yang bakal kasih kamu pelajaran di rumah nanti,” ucap Bayu, tatapannya begitu serius dan membuat nabilah takut

“Ah…Eng…,” Nabilah tidak bisa berkata apa-apa

“Ayo…Tunggu apa lagi?” ucap Bayu

Suasana tiba-tiba menjadi hening.

“IH!” Nabilah melepas paksa genggaman Bayu dan langsung pergi dari sana

“Hey!” ucap Bayu

*Hiks…

Sementara itu, Shani terlihat masih menangis sambil terus menundukan kepala.

“Em…Maafin nabilah ya dek,” ucap Bayu sambil berjongkok di depan nya

“Hukum aja dia kak! Nabilah emang anak nakal di sekolah!” ucap salah seorang murid

“Iya kak!” ucap murid yang lainnya

Bayu hanya diam dan masih berusaha meminta maaf pada Shani.

Shani terlihat mengangguk pelan namun masih tetap menangis.

“Huh…,” Bayu menarik nafas panjang, lalu ia pergi dari sana

~oOo~

Bem…Bem…Bem…

TRANK!

Nabilah terlihat berlari dan langsung membuka pagar rumah itu.

Bayu yang menyadarinya langsung berlari ke arah nabilah.

Klek!

“Sini kamu!”

Belum sempat nabilah membuka pintu itu, bayu sudah menarik lengan nabilah.

“Ash…S-Sakit kak!” ucap Nabilah

“Heh! Kenapa kamu ngelakuin itu!?” Bentak Bayu

“Ngelakuin apa!? Yang nabilah lakukan itu benar kak! Kakak jangan coba-coba ngelarang nabilah deh!”

“Apa kamu bilang!? Aku ini kakak kamu! Kamu harus nurut perintah kakak kamu!” Bayu semakin kuat memegang tangan nabilah

“Kalau gitu, nabilah bakal bilang ke ibu!” ucap Nabilah

“Ayo bilang aja! Kamu mau lapor karena kakak kamu ini, ngelarang kamu buat nampar anak SMP yang seangkatan sama kamu, gitu!?” ucap Bayu

“Kakak udah tau semuanya sekarang. Tega yah, kamu bersikap baik di depan kakak, tapi disekolah sikap kamu lain,”

Nabilah terdiam.

“Ayo ngomong! Kenapa sekarang kamu diem!? Apa keberanian kamu Cuma ada disekolah!? Dasar pengecut!” Bayu langsung mendorong nabilah hingga terjatuh, lalu ia akan masuk ke dalam rumah

“A..Ampun kak! Maafin nabilah!” Nabilah memegang kaki Bayu

Nabilah pun mulai bercucuran air mata.

“Nabilah janji gak akan nakal lagi! Maafin nabilah kak!” Nabilah memeluk kaki Bayu

“Kenapa kamu minta maaf sama kakak!? Kenapa kamu gak minta maaf sama temen kamu yang tadi? HAH!?” ucap Bayu

“Nabilah janji bakal minta maaf besok kak. Tolong jangan kasih tau ibu soal ini kak!” Nabilah meronta-ronta dan terus saja menangis seperti anak kecil

“Huh…,” Bayu mulai tenang dan melepas gagang pintu itu

“Bangun…,” ucap Bayu

“uhm…,” Perlahan Nabilah bangun dan mengelap air matanya

“Liat sini!” bentak Bayu

“I..Iya kak,” ucap Nabilah pelan lalu menatap tajam wajah kakaknya

Lalu bayu memegang kedua pipi nabilah dan menatapnya tajam.

“Sekali lagi kamu berani nyakitin temen-temen kamu disekolah…,” ucap Bayu menggantung

“Jangan anggap kakak ini sebagai kakak kamu lagi, NGERTI!?”

“AH!? I..Iya kak, ampun. maafin nabilah kak,” Nabilah lalu memeluk Bayu

“udah sana!” Bayu menolak keras pelukan itu dan langsung masuk ke dalam

“AH! Kakak!” ucap Nabilah namun bayu sudah masuk ke dalam

~oOo~

Teng-Tong!

“Tunggu sebentar…,” ucap seseorang dalam rumah

Kreek!

“Eh pak pos,”

“Atas nama Cindy Dea Yuvia?”

“Iya betul pak. Saya cindy dea yuvia,” ucap Yupi

“Tolong tanda tangan disini,” ucap pak pos itu

“Ok sudah,” ucap Yupi memberikan pulplen itu kembali pada pak pos

“Ini paketnya….Dan ini suratnya,” pak pos memberikannya pada Yupi

“makasih yah pak,”

Setelah itu tukang pos pun pergi dari kediaman Yupi.

“Eh, Kiriman dari papa? Aku kira dari orang lain,” ucap Yupi

Saat kertas itu di buka, ternyata isinya adalah sejumlah uang yang lumayan banyak.

“umm, ternyata ada kotak di dalemnya. Pantes aja di paketin,” ucap Yupi

Ketika yupi membuka kotak hitam itu, ternyata…

“Eng…Kalung?”

“Eh ada gelang juga. Dan ada huruf *C* nya,” ucap Yupi lalu mencoba gelang itu

“Tapi…kenapa papa ngasih ini yah? Di kalung itu ada huruf *W* nya. Itu pasti buat windy,”

“Kenapa papa harus ngasih aku gelang ini? Aku juga mau kalung kayak gitu,” pikir Yupi

“Oh iya suratnya,” ucap Yupi

Lalu Yupi membuka suratnya dan mulai membacanya.

Hallo nak. Udah lama papah gak ketemu sama kamu. Semoga kamu terus dibeiri kesehatan dan juga kemudahan di saat kamu sedang menyelsaikan permasalahan.

“Amin…,” ucap Yupi

Papa juga mau minta maaf karena bulan depan papa gak bisa pulang ke rumah. papa masih banyak pekerjaan penting di sini. Dan soal kalung itu, papa harap adik kamu senang dengan hadiah yang papa beli dari singapore.

Dan juga gelang itu, papa belikan khusus untuk kamu.

“emm…,” Yupi terdiam

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku gak dikasih kalung juga yang sama kayak windy. Ya…Karena papa yakin, suatu saat nanti pangeran impian kamulah yang akan kasih kalung itu langsung di depan kamu.

“AH!?” Yupi kaget ketika membacanya dan langsung mengambil segelas air

“Kenapa papah tulis ini di suratnya!?” ucap Yupi

“Kakak…,” panggil seseorang

“EH!” Yupi langsung berbalik

“Apa itu kak?” tanya adiknya

“Ah…Eh…Ini dari papa,” ucap Yupi

“Wah, papa kasih oleh-oleh yah!” Windy yang terlihat begitu senang dan langsung melihatnya

“Ini…Kalung ini khusus buat kamu,” Yupi memakaikan kalung itu di leher windy

“Wah bagus banget!” windy terlihat sangat senang

“Kakak seneng kalau kamu juga seneng,” ucap Yupi

“Bulan depan papa udah pulang kan?” tanya Windy

“umm,” yupi terdiam

“Jawab kak, kenapa kakak malah diem?” tanya Windy lagi

“Papa gak akan pulang win,” ucap Yupi pelan

“Hah!? K..Kenapa!?”

“Papa masih banyak kerjaan disana,” Jelas Yupi

“Kerja lagi-kerja lagi. Kenapa hanya pekerjaan yang papa pikirin!”

“HEY!” Yupi langsung membentak adiknya

Windy langsung kaget dan begitu takut pada kakaknya.

“Jangan coba-coba kamu bilang papa hanya memikirkan soal pekerjaannya aja. Papa juga pasti mikirin kita sekarang!” ucap Yupi dengan tegas

“Eng…I-iya kak. Maafin windy,” Windy menundukan kepala

Yupi menarik nafas panjang dan kembali bicara. “Maafin kakak yah win. Kakak malah jadi ngebentak kamu tadi,”

“Emm…gak apa-apa kok. windy emang salah kak,” ucap Windy

“yaudah. Mendengar kabar kalau papa baik-baik aja disana pun, kakak udah seneng,”

“iya, windy juga seneng kak,”

“Kakak mau simpen uang ini dulu di brangkas,” ucap Yupi

“Windy…mau main yah kak,” ucap Windy

“Jangan lama-lama,” ujar Yupi

“Oke…,”

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu

Iklan

6 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s