I See You

“Oi! Rizki! Jangan lupa, hari ini kita ada latihan di lapangan Apartemen Dimas! Jangan telat ya!” Teriakan Yudhis tak digubris oleh Rizki yang hanya menguap sembari mengambil tasnya dari loker.

Pertandingan Jakarta High School Cup akan diadakan sebentar lagi, itu artinya waktu latihan mereka harus semakin banyak mengingat tim mereka adalah tim yang terbentuk 3 bulan terakhir. Mau tak mau, waktu tidur berharga Rizki akan berkurang seiring bertambahnya latihan basket. Merepotkan~

Ia berjalan menuju parkiran motor sambil melihat jam. Sekarang baru jam 1, itu artinya ia masih punya waktu 3 jam lagi untuk latihan. Kalau ia pulang sekarang, rumahnya cukup jauh dari apartemen Dimas dan akan sangat merepotkan apabila bolak-balik. Ah, benar
juga. Rizki memiliki tempat favorit yang tidak jauh dari Apartemen Dimas, sebuah Cafe kecil yang terletak 500 meter dari lapangan. Tak lama kemudian, Rizki menyalakan mesin motornya dan bergegas menuju Cafe.

.

Sampai di Cafe, kedatangannya langsung disambut oleh seorang gadis yang menurutnya sangat cerewet. “Wah! Rizki! Aku tau kau pasti akan datang kesini. Aku sudah memesankan tempat kesukaanmu!” Rizki hanya mendengus kecil. Beruntung bahwa teman kecilnya bekerja paruh waktu di Cafe ini sehingga ia dapat memakai kursi kesukaannya tiap kali ia berkunjung kesini.

“Pesan yang biasa kan?” Sahut gadis itu riang.

“Terima kasih, Ve.”

KLINING KLINING

Seorang gadis lainnya tampak masuk dengan terburu-buru. Ia menghampiri Ve dengan keadaan panik. “Ahh.. maaf apa kau punya stop kontak? Aku harus mengirim email ini secepatnya, namun batrenya tiba-tiba sekarat,” Gadis yang dipanggil Ve itu tampak menimbang-nimbang.

Satu-satunya colokan. yang sedang tidak digunakan, atau bahkan tidak pernah digunakan adalah colokan yang berada dibawah kaki Rizki. Karena Rizki akan lebih bersyukur jika telepon genggamnya mati ketimbang nyala.

“Sebenarnya ada, tapi sedang ada seseorang yang duduk disana. Lebih baik aku tanyakan
dulu,” Ve menghampiri Rizki yang sekarang sedang.. tertidur.

“Oi! Rizki bangun! Kurasa kau harus membantunya!” Rizki membuka mata malas dan melihat kedua gadis itu menatap matanya penuh harap. Rizki mendecak sebal, kapan ia akan mendapat ketenangan?

“Maaf, aku hanya butuh colokan itu kok,” Sahut gadis itu.

“Baiklah, kau bisa menggunakannya. Tapi jangan menggangguku. Aku ingin tidur.”

“A-aa.. Um, Nona aku akan pesan 1 coklat panas. Terima kasih.”

Ve mengangguk geli dan membuatkan pesanan mereka berdua.

Gadis malang ini akrab disapa Melody. Ia hendak mengirimkan CV untuk pendaftaran undangan Universitas di Bandung yang deadline-nya 1 jam lagi. Walaupun ia tinggal dekat sini, ia tidak merasa aman karena Melody bukan orang yang last minute.

Selesai mengirim berkas, Melody menyesap minuman yang ia pesan tadi dengan tenang dan pandangannya mengalih pada remaja laki-laki yang duduk tertidur di sebelahnya tanpa menyentuh minumannya. Kalau Melody perhatikan sepertinya ia seumuran dengannya dan ia berasal dari sekolah elit Jakarta 24 High School jika dilihat dari seragamnya.

Melody ingin berterima kasih, tapi ia tidak bisa berbuat apapun karena lelaki itu sedari tadi tidak bergerak. Akhirnya Melody memutuskan untuk membayarkan saja minumannya. Ia bangkit setelah membereskan barang-barangnya dan menghampiri Ve. ”Umm, aku akan membayar minumannya juga.”

“Ah, baik.”

“Ano, apa dia akan tertidur seperti itu terus?”

“Haha, iya. Dia akan seperti itu sampai waktu latihan tiba.”

“Hm.. Sepertinya kalian berteman?”

“Um, kami berteman sejak kecil. Namaku Jessica Veranda, kau?”

“Melody Nurramdhani. Terima kasih, Veranda. Aku permisi.”

“Um, panggil saja Ve. Hati-hati Melody!”

Melihat Melody menjauh, Ve bergumam “Sepertinya akan terjadi kejadian menarik
disini.”

.

.

Melody merebahkan dirinya di kasur dan menyalakan televisi. Akhir-akhir ini tugas
sekolah semakin banyak dan semakin membuatnya penat. Jarang-jarang Melody jam 4 sore sudah berbaring dikasur dan bersantai.

“Oi! Semuanya!”

Melody yang suka membuka jendela kamar terusik dengan keributan yang ada dibawah
sana. Ia tinggal di sebuah Apartemen yang cukup mewah di lantai 7. Bagaimana bisa sebuah teriakan terdengar sampai kamarnya?

Melody duduk di balkon dan mengamati mereka. Ia melihat segerombolan laki-laki
yang berkumpul dengan seragam basket sedang melakukan pemanasan untuk latihan.
Pandangannya terkejut karena melihat seorang remaja lelaki berambut dikuncir sedang pemanasan dibawah sana. Tunggu, dia kan?

Sekarang Melody mengerti apa yang dimaksud Ve dengan latihan. Jadi dia berlatih disini ya? Ah! Apa peduliku? Dia hanya orang asing dan aku sudah membayar hutang terima kasihku padanya, sahut Melody dalam hati. Ia kembali masuk ke kamarnya dan melanjutkan acara menonton tvnya. Menghiraukan segerombolan remaja lelaki itu berlatih dengan tenang.

.

Minggu demi minggu pun berlalu. Melody menjadi punya kebiasaan baru yang harus ia
akui ia menyukainya. Sekarang ia tau setiap hari Senin Rabu dan Jumat adalah hari dimana gerombolan remaja lelaki itu akan datang dan berlatih disana. Dan Melody akan dengan senang hati melihat dan memperhatikan mereka dari atas. Terutama memperhatikannya.

Entah bagaimana, lelaki itu terus menerus membuat Melody penasaran. Apalagi hari ini ia tidak kelihatan batang hidungnya di lapangan. Ah! kenapa sekarang aku peduli padanya?

Ketertarikannya pada lelaki itu muncul ketika Melody memperhatikannya bermain basket. Caranya men drible bola, caranya memasukan bola ke ring. Ia seperti punya daya tarik tersendiri sehingga membuat Melody terpana. Dan terkadang Melody seperti melihat bahwa lelaki itu menyadari bahwa Melody memperhatikannya.

Melody tampak berpikir. Sudah 3 minggu terakhir semenjak mereka pertama bertemu. Apa aku harus menyapanya? Apa dia sudah punya kekasih? Argh! Melody mengacak rambutnya frustasi. Ah! Ia akan bertanya pada Ino! Mudah-mudahan Ve sedang bekerja hari ini, ujar Melody dalam hati.

.

“Rizki kau tidak latihan hari ini?” Tanya Ve sembari menyuguhkan minuman pada Rizki.

“Hei, Ve. Kau ingat pada gadis yang beberapa minggu lalu meminjam colokan padamu?” Ve menyerngit pada Rizki.

“Ingat. Kenapa?”

“Tidak. Aku rasa, aku sering menangkap basah dirinya memperhatikan kami latihan.”

“Ho, jadi dia tinggal dekat sini?”

“Mana kutau, merepotkan.”

“Kau tidak menyapanya? Mungkin ia tertarik padamu?”

“Merepotkan. Entahlah. Aku tidak yakin.”

“Dasar, kalau kau suka sapalah.”

Rizki hanya mengangkat bahu dan menyesap minumannya. Jujur saja ia yakin beul gadis yang sering duduk di balkon atas dan memperhatikan timnya atau lebih tepatnya dirinya, adalah gadis yang yang waktu itu meminjam colokan pada Ve.

Tanpa sadar Rizki pun sering memperhatikannya apabila gadis itu sedang mengeringkan rambutnya dibalkon jika ia belum pulang latihan. Mencoba untuk menghiraukan pikirannya. Rizki membayar minumannya dan berjalan keluar dari Cafe.

Namun sebelum ia keluar dari Cafe, gadis  itu masuk ke dalam Cafe dan terkejut bukan main.

Keduanya bertatap dengan aneh. Seakan ketauan bahwa selama ini mereka saling memperhatikan. Keduanya tetap berdiri saling memperhatikan sampai Ve datang dan menyambut Melody. “Ah! Melody! Sudah lama tidak kesini!” Melody membuyarkan lamunannya, berjalan melewati Rizki yang masih tidak bergerak. “Ah, aku memang jarang ke Cafe. aku tinggal dekat sini.”

Ve memperhatikan Rizki yang perlahan pergi meninggalkan Cafe. Sepertinya firasatnya memang benar. Ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.

“Sepertinya kau datang kesini tidak untuk memesan sesuatu, Melody,” Ujar Ve jahil.

“A-a Tidak! Aku datang kesini ingin memesan Ice Chocholatte kok!” Ve tertawa geli melihat Melody yang salah tingkah.

“Namanya Rizki Fratama. Kelas 3 di Jakarta 24 High School, dan salah satu anggota tim basket yang 2 hari lagi akan bertanding.”

“Aku bahkan tidak bertanya dan tidak peduli!” Melody menundukan kepalanya, sayang sekali kau sudah ketauan Melody.

“Dia memang orang yang unik. Kalau kau penasaran dengannya, kau bisa datang ke
pertandingannya bersamaku.”

“Tidak tertarik.”

“Masa? Aku tidak yakin kau tidak tertarik. Baiklah, kalau kau berubah pikiran datang saja menemuiku disana. Aku sudah mencatat nomorku di gelasmu, Hahaha.”

“Dasar. Kau ini, baiklah aku kembali dulu. Terima Kasih, Ve.”

“Hati-hati!” Balas Ve sambil mengedipkan matanya. Sekali-sekali Ve harus menjadi mak comblang untuk sahabatnya. Terkadang ia gerah juga melihat Rizki yang sudah lama melajang terus.

“Ah, sungguh kisah cinta yang menarik!”

.

.

Hari sudah mulai larut ketika Rizki berjalan keluar dari lapangan dan hendak menuju gerbang Apartemen. Tak sengaja kedua iris hitamnya menemukan sosok gadis yang sedang membuatnya penasaran sedang mencuci disalah satu binatu yang terletak di bersebrangan dengan lapangan basket. Gadis itu memakai celana pendek berwarna putih dengan tanktoop abu-abu dan terlihat sedang menggunakan headphone dan sesekali bejoget menikmati musik.

Rizki mendengus tawa melihat sikapnya. Gadis ini lucu juga, sangat ekspresif pikir Rizki. Rizki meletakan tasnya dibawah dan mengambil telepon genggamnya. Ia membuka kamera dan mengambil gambar gadis itu. Ia tidak tahan, gadis ini lucu sekali dan terlihat apa adanya. Sedang asik mengambil foto diam-diam, tiba-tiba Melody menoleh ke arah jendela dan terkejut karena melihat sosok lelaki rambut dikuncir yang ia ketahui bernama Rizki sedang mengambil gambarnya.

Melody yang sangat malu segera keluar menghampiri Rizki dan berteriak “Hei! Apa yang kau lakukan!”

Rizki juga sama terkejutnya dan langsung menutup kameranya. “Aku hanya memotret binatu ini. Apa salah?”

“E-EH!?” Melody malu sekali! Kenapa ia harus tergesa-gesa menganggap Rizki memotretnya?

“Merepotkan,” Rizki berjalan meninggalkan Melody yang sedang merutuki dirinya sendiri. Rizki menundukan kepala menyembunyikan raut wajah yang sangat ingin tertawa melihat ekspresi Melody.

Melody kembali masuk ke binatu tanpa berkata apapun. Sial sial sial! Bodoh kau Melody bodoh! Sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri, ia mengambil pakaian-pakaian yang baru saja ia keringkan dan berlari keluar binatu kembali menuju Apartemennya.

Rizki tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Melody yang lari terbirit karena malu. Betapa polosnya perempuan itu. Belum pernah Rizki bertemu dengan perempuan yang apa adanya. Sekalipun ia berteman dengan Ve sedari dulu, Ve sangat menjaga imagenya didepan laki-laki manapun. Rizki membuka screen lock Hpnya dan tersenyum. Gadis ini lucu sekali, gumamnya.

“Kenapa aku menjadi melakukan hal merepotkan begini? HAAAAHH,” Ucapnya dalam perjalanan pulang.

.

.

.

Hari ini adalah hari pertandingan basket. Tim Jakarta 24 High School akan melawan Jakarta 46 High School dimana Dimas Noval menjadi kapten dalam tim basket ini. Tim Jakarta 24 sedan berada di ruang ganti untuk mempersiapkan diri. Rizki membuka screen lock Hpnya dan kembali tersenyum memandang foto gadis itu yang sekarang menjadi home screennya.

“AH! Siapa gadis itu!” Yudhis yang iseng lewat di belakang Rizki mengambil paksa Hp Rizki dan memamerkannya pada anggota tim lain.

Semua yang penasaran sontak melihat foto itu dan terkejut “WAH! Rizki! Kau menyukai perempuan itu ya?”

“Siapa nama gadis ini? Dia manis sekali?” Sahut Dewa salah satu anggota timnya.

“Entahlah, kami tidak berkenalan. Kalian merepotkan sekali sih! Kembalikan Hpku!” Rizki mengambil kembali Hpnya dengan paksa dari Dewa.

“Parah! Kau stalker ya?” Tanya Yudhis.

“Hah, merepotkan. Kalian siap-siap saja sana!” Rizki duduk dan memakai sepatu basketnya sampai Dimas mendekatinya.

“Aku pernah melihatnya.”

“Hm?”

“Dia temannya Naomi.”

“Hoo, tidak biasanya kau memulai pembicaraan Dimas.”

“Hm,” Dimas menepuk pundak Rizki dan berjalan keluar ruang ganti. Rizki menghela nafas kembali, merepotkan.

Rizki keluar dari ruang ganti dan segera melakukan pemanasan sebelum pertandingan. Kebiasaan yang paling merepotkan dalam pertandingan basket adalah berfoto sebelum pertandingan. Kedua tim diminta bergabung untuk berfoto di tengah lapangan. Rizki menghadap ke arah kamera dengan malas sampai tiba-tiba ia melihat sosok gadis  sedang berjalan kikuk ke arah bangku penonton di tempat Ve duduk.

Dia?

.

.

Hari ini adalah hari minggu, dan Melody tidak memiliki kegiatan apapun di apartemennya. Ia tidak akan kembali ke rumahnya hari ini karena akan sangat merepotkan baginya
bertemu dengan keluarga yang semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Orang
tuanya pasti tidak akan dirumah karena bekerja di Luar Negri. Frieska bersekolah di Amerika.

Melody berbaring santai di kasurnya sampai ia teringat akan sesuatu. Hari ini adalah hari pertandingannya. Ia diundang Ve untuk datang melihatnya. Melody tersenyum mengingat kejadian pertama kali mereka berbicara. Bodoh sekali ia mengira Rizki memotretnya, jelas-jelas Rizki memotret dari luar dan itu pasti logo Binatu yang kebetulan Melody ada di dalamnya. Ah! kalau aku datang aku akan sangat malu, pikir Melody.

Tunggu dulu

Dia tidak harus tau kan kalau aku datang Melody tersenyum dan segera mengganti pakaiannya. Ia menggunakan hoodie hitam dan celana pendek hitam serta sneakers kesayangannya dan bergegas keluar apartemen untuk mencari taksi.

“Mudah-mudahan aku tidak terlambat.”

.

.

“Melody! Kau datang!” Sahut Ve sambil melambai-lambai. Melody langsung menutup mulut Ino dan menurunkan tangan Ve.

“Aku tidak mau dia tau aku ada disini!” Ujar Melody.

“A-aa.. aku mengerti. Aku sedang menunggu temanku, tidak apa kan kita bertiga?”

“Hm, bukan masalah.”

Tak lama seorang gadis datang menghampiri mereka. “Aku belum ketinggalan kan? Loh? Melody?”

Melody dan Ve tampak terkejut mendapati gadis itu “Naomi? Kau disini?”

“Jadi kalian saling kenal?” Tanya Ve bingung.

“Kami satu sekolah, kami juga cukup dekat. Wah dunia ini sempit sekali. Ngomong-ngomong kenapa kau ada disini? Kukira kau suka karate, Melody,” sahut Naomi mengambil posisi duduk diantara Ve dan Melody.

“Ah! HAHAHA tidak…” Melody tampak menggaruk kepalanya yang gatal. Ve hanya
terkikik geli “Dia tertarik pada salah seorang teman pacarmu, Naomi.”

“Pacar? Pacarmu disini?” Tanya Melody bingung.

“Tentu saja! Dimas itu loh! Masa tidak ingat sih?” Melody baru ingat, pantas saja Melody pernah melihat wajah Dimas entah dimana.

“Siapa yang disukai Melody?” Tanya Naomi penasaran.

“RIZKI! HAHAHAHA” Ve tertawa terbahak-bahak dan Naomi sukses melongo dibuatnya.

“Ah! Kalian semua saling kenal?”

“Tentu saja, kita ber-empat dulu 1 SMP, Melody. Hahaha kau menyukai Rizki, ya?” Naomi menepuk-nepuk pundak Melody geli.

“Huh!” Melody hanya membuang muka malu menanggapi mereka berdua.

Ketiganya menikmati pertandingan basket antara Jakarta46 dan Jakarta24 dengan serius. Sebenarnya ketiganya nampak menikmati penampilan dari para lelaki yang mereka suka. Naomi yang terpesona dengan pacarnya Dimas, Ve yang terpesona dengan ketampanan Agis yang pacarnya juga, dan Melody yang diam terpana menikmati pemandangan indah dari raut wajah serius Rizki.

Pertandingan berlangsung panas. Di kuarter terakhir Jakarta46 sempat menyusul karena salah satu personilnya melakukan three point shoot dan membuat kedudukan menjadi 49-50. Waktu bersih tersisa 35 detik lagi dan itu berarti kemenangan Jakarta24 sangat bergantung dengan tim Jakarta24 apakah bisa memasukan bola sekali lagi. Tim Jakarta24 mengambil time out terakhir dan semua berkumpul. Dimas tampak mengatur strategi, Rizki tampak berpikir. Dan tentu saja ketiga wanita yang duduk dibangku penonton ikut gusar karenanya.

Time out selesai, kedua tim kembali ke lapangan. Lima pemain terakhir adalah Rizki, Dimas, Agis, Dewa, dan Yudhis. Bola di pegang oleh lawan dari Jakarta46 dan pertandingan 35 detik kembali dimulai. Yudhis berhasil men steal bola dari lawan dan langsung mengoper pada Dimas.

Dimas memberi kode untuk Rizki berlari kedepan untuk fast break. Rizki didampingi oleh Dewa dan berlari berdampingan ke ring lawan. Dimas mengoper bola pada Agis dan Agis mengoper bola pada Rizki, berharap Rizki melakukan under ring sehingga bola lebih mudah masuk. Namun sayang lawan dari Jakarta46 dapat mem block bola dari Agis membuat bolanya jatuh hampir melewati garis batas.

“KAU PASTI BISA RIZKI!” Mendadak Teriakan Melody nyaris membuat semua orang yang ada di ruangan syok. Teriakan heboh dari seorang gadis cukup membuat para pemain syok dan itu cukup untuk Rizki mengambil bola di bawah dan melompat melakukan under ring.

CRUSH

TEEEETTTTT

“Pertandingan Jakarta24 melawan Jakarta46 telah berakhir dengan skor akhir 51-50 untuk Jakarta24!” Komentator di table mengumumkan pemenang dari pertandingan sengit ini.

“YEAH!” Yudhis sangat girang dan senang sampai-sampai menggendong Rizki. Teman-teman setim lainnya juga langsung menghampiri Rizki. Melody, Ve, dan Naomi tersenyum lega. Syukurlah pertandingan ini dapat dimenangkan tim Jakarta24. Syukurlah dia menang. Melody hendak beranjak dari tempat duduknya ingin pulang namun ditahan oleh Ve.

“Hei kau pikir kau mau kemana!?”

“Pulang,” Jawab Melody santai.

“Hah, sadar tidak kau sudah membuat tim Jakarta24 menang?” Sahut Naomi ikut menarik tangan Melody.

“Tidak. Rizki yang melakukannya. Sudahlah, aku juga tidak kenal dengannya. Aku pulang,” Melody menarik tangannya dan bergegas pulang.

Naomi ingin menarik tangan Melody lagi sebelum ditahan oleh Ve “Sebaiknya tidak usah dipaksakan, Naomi.”

“Ta-tapi..” Ve menggelengkan kepala dan mengajak Naomi turun menghampiri tim Jakarta24.

Rizki menyadari Melody akan pulang langsung pergi berlari mengerjar Melody. “Oi Rizki!” Yudhis hendak mengejar Rizki sebelum ditahan oleh Dimas.

“Biarkan saja.”

.

.

“Hei!”

Melody berhenti berjalan tanpa menoleh kebelakang.

“Sampai kapan kau akan terus menghindariku?” Melody menunduk dan melanjutkan jalannya.

Rizki mendecak sebal dan berlari menahan lengan Melody.

“Ah!” Sontak Melody kaget.

“Jawab aku.”

“A-aku..”

“Siapa namamu?” Tanya Rizki sembari melonggarkan genggamannya.

“Me-melody.”

“Kau merepotkanku, kau tau? Tunggu disini. Aku akan mengambil barang-barangku. Aku akan menggedor Apartemenmu apabila kau beranjak dari tempat ini. Mengerti?” Melody meneguk ludah dan mengangguk. Galak sekali, gumamnya.

Melody bersandar duduk dibawah pohon sambil memeluk kedua lututnya. Tak lama ia melihat Rizki kembali dengan barang-barangnya terletak sangat berantakan didalam tas basketnya. Melody mendengus kecil dan mengajaknya duduk disebelahnya.

“Maaf, membuatmu terburu-buru.”

“Merepotkan.”

“Ada perlu apa denganku, Rizki?”

“Bahkan kau sudah tau namaku.” Melody menutup mulutnya. Ah! Dasar bodoh!

“A-aku..”

“Tidak apa, Melody. Terima kasih.”

“Eh?”

“Teriakanmu sudah cukup bagiku untuk merebut bola dari lawan,” Jawab Rizki santai sambil melepaskan sepatu basketnya dan merapikan barang-barangnya.

“A-aa.. Tidak masalah.”

Keduanya tampak hening dengan kegiatan masing-masing. Keduanya seperti saling menunggu satu sama lain membuka percakapan.

“Kau menyebalkan.”

“Hah? Kenapa lagi?”

“Kegiatan menguntitmu itu membuatku penasaran denganmu, dan kau membuatku menguntitmu juga.”

“Eh?” Melody membuang muka. Jadi selama ini ketauan ya?

“Tapi kurasa kau dapat menghentikan kegiatan yang merepotkan itu. Sangat menggangguku.”

Mendengar kata-kata tajam dari Rizki, Melody menunduk “Maaf.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Kau tidak perlu menguntitku, karena mulai sekarang kita akan sering bertemu.”

“Be-benarkah?”

“Aku tidak akan menjadikanmu kekasihku secepat itu. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dalam sebelum memulainya. Karena hubungan itu menyebalkan.” Ujar Rizki.

Melody mengangguk. Satu lagi alasan ia temukan mengapa Melody tertarik dengan Rizki. Ia sangat menghargai perempuan.

“Senang berkenalan denganmu, Rizki.” Melody tersenyum dan menyerahkan jabatan tangannya pada Rizki.

Rizki menguap dan membalas jabatan tangan Melody.

“Menyebalkan.”

Keduanya terkekeh dan bercanda tawa dibawah pohon dekat lapangan basket itu.

END

Dimas Noval Syabani

Minal Aidzil Walfaidzin untuk semua pembaca setia KOG serta Admin-adminnya hehe

Saya masih penulis Newbie juga bikin cerita lewat hp hehe jadi mohon
maaf kalo ada yg typo.. #SalamKenal

Iklan

3 tanggapan untuk “I See You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s