Saat Cinta Merubah Segalanya2, Part6

Kini Robby dan teman-temannya sedang makan malam bersama di sebuah restorant, setelah selesai dengan acara nonton film di bioskop terkecuali Beby yang tidak ikut. Kini mereka tengah melahap makanan mereka masing-masing dengan diselingi pembicaraan dan candaan tentunya.

Beby sedari tadi menatap Robby, bukan apa-apa tetapi ia tidak menyangka bertemu dengan sahabatnya dulu yang notabene adalah pacar Robby. Shania. Ya, Shania. Ia bertemu dengan Shania tadi.

Flashback On.

Beby memasukkan handphonenya ke dalam tas kecil miliknya. Karena ia memasukkan handphonenya ke dalam tas, ia pun tak melihat kearah jalannya dan ia tak sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.

“Maaf-maaf gak sengaja,” ucap Beby yang menundukkan kepalanya.

Beby yang tak mendapatkan jawaban pun melihat pada orang tersebut. Beby terdiam mematung, ia tak menyangka bertemu dengan orang ini setelah sekian lama tidak bertemu dengannya.

“S-Shania?!”

Beby terus terdiam menatap Shania, ia tidak bisa berkata apapun setelah melihat Shania yang kini telah berada dihadapannya. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama tidak ada kabar, kini ia muncul dihadapan Beby.

“B-Beb?”

 “Ya?”

“Aku mau bicara sama kamu, bisa?”

Baru saja Beby ingin menjawab, kini handphonenya kembali berbunyi. Beby mengangkat telpon tersebut.

“Halo?”

“Dimana? Cepetan Beby!!!”

“Eh, iya-iya ini mau ke sana kok. Lantai dua kan?”

“Iya, cepetan.”

“Oke, ini udah di lantai dua kok.”

“Cepet!”

Beby mematikan telponnya, sedangkan Shania dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan Beby dengan si penelpon. Ia kenal sekali dengan suara penelpon tersebut, bagaimana tidak? Suara itu yang ia rindukan, dan tadi ia baru saja mendengarnya lagi setelah sekian lama tidak mendengar lagi.

“Robby?”

Beby menoleh, kemudian ia mengangguk menanggapi Shania.

“Aku duluan ya Shan? Udah ditungguin sama temen-temen soalnya,” ucap Beby.

“Minta kontak kamu boleh Beb?”

“Kemarin bukannya ada Shan?” tanya Beby heran.

Shania menggeleng, “Ceritanya panjang Beb, nanti aku ceritain. Jadi apa boleh?”

“Yaudah, sini hape kamu.”

Shania memberikan handphone miliknya pada Beby, dan Beby pun menuliskan kontak miliknya. Lengkap semuanya ditulis Beby, mungkin ini nanti bisa membantu Robby pikirnya.

“Nih, udah.” Beby memberikan kembali handphone Shania.

“Makasih ya Beb,” ucap Shania tersenyum.

Beby mengangguk, “Duluan ya Shan.”

Shania menggangguk tersenyum, dan Beby pun berjalan menuju restorant dimana teman-temannya berada.

Flashback Off.

Beby tersadar dari lamunannya karena ada sebuah tepukan ditangannya.

“Bengong mulu, kesambet baru tau rasa Beb,” ucap Viny.

“Hhh, udah deh Vin. Becandanya enggak lucu,” ucap Beby sebal.

“Lo kenapa deh Beb? Sensian amat,” ucap Benny.

“Enggakpapa, udah gak usah bahas gue oke?”

Robby menatap Beby, sepertinya ia merasakan bahwa ada yang disembunyikan oleh Beby pikirnya. Tetapi ia hanya berdiam diri saja, nanti akhirnya toh Beby akan menceritakan semuanya padanya. Biasanya pasti begitu…

“Udah jam sepuluh lewat nih, pulang yuk?” ajak Aldy.

“Yaudah deh, kita pulang aja. Udah malam banget lagian,” ucap Robby.

Mereka pun bangkit dari duduk, dan bersama-sama berjalan menuju kasir membayar makanan mereka. Kemudian mereka pun berjalan kearah parkiran bersama-sama.

“Gue sama Viny duluan ya,” ucap Aldy yang menggandeng Viny.

“Hati-hati kalian berdua,” ucap Robby.

“Eh, eh, Dy tungguin Gue. Gue duluan juga ya, bawa motor soalnya gue,” ucap Benny.

Mereka mengangguk dan Benny pun menghampiri Aldy yang sedang bersama Viny untuk berjalan bersama menuju parkiran motor. Sedangkan Robby, Shani, Gre dan Beby masih terdiam menatap mereka.

“Beb, kamu tadi sama siapa ke sini?” tanya Robby.

“Tadi sih dianterin, soalnya kan lagi ngebantu Mamah di rumah,” jawab Beby.

“Yaudah, bareng aja sekalian biar Gre enggak ngerasa jadi obat nyamuk,” ucap Robby terkekeh pelan.

“Rese Rob.” Gre mendahului mereka berjalan, “Cepetan pulang ah, gue capek.”

“Lha? Kamu mau kemana ke sana Gre?” tanya Shani.

Gre berhenti berjalan dan berbalik menatap Shani, “Ya mau pulang lah! Emang kenapa?”

“Lo itu salah Gre, kan parkiran mobil sebelah sana.” Robby menunjuk sebuah tempat parkiran yang di samping kirinya.

Gre mendengus kesal, “Yaudah ayo pulang.”

Shani menggelengkan kepalanya, “Makanya jangan duluan, bareng-bareng aja kali Gre.”

“Iya bawel.”

“Yaudah yuk Beb,” ajak Shani.

Beby mengangguk dan mereka pun berjalan menuju mobil Robby. Robby masuk ke bagian kemudi, di sampingnya Beby, dan di belakangnya ada Shani bersama Gre. Pertama-tama Robby mengantarkan Shani dan Gre pulang ke rumahnya, kemudian ia pun mengantarkan Beby ke rumahnya. Kini Robby telah berada di depan rumah Beby, setelah selesai mengantarkan Shani dan Gre pulang, Robby pun mengantarkan Beby pulang ke rumahnya. Tetapi sedari tadi Beby tidak beranjak keluar dari mobil Robby, seperti ada yang ingin dibicarakan olehnya.

“Rob?”

Robby menoleh, “Ya?”

Beby menghela nafasnya, sebenarnya sejak di restorant tadi ada yang mengganggu pikirannya. Mungkin ini yang akan terjadi ke depannya pada Robby nantinya pikirnya.

“Misalkan Shania balik lagi dan mau ketemu sama kamu, gimana?” tanya Beby hati-hati.

Robby menghela nafasnya. Ia tau, sangat tau malah. Nanti entah kapan, pasti Shania akan pulang dan ia tidak tau harus bagaimana nantinya apabila bertemu dengannya. Ada perasaan rindu, tetapi ada perasaan sakit juga. Selama setahun ini kemana? Pergi tanpa kabar, itu yang ia takutkan kalaunya sudah jauh darinya. Menghilang tanpa adanya kabar..

“Gak tau Beb,” ucap Robby lirih.

“Maksud kamu?”

“Disatu sisi aku pengen banget ketemu sama dia karena rindu, disatu sisi aku gak mau karena aku marah sama dia.” Robby menyandarkan tubuhnya di jok mobil. “Tapi aku tau, nanti pasti bakalan ketemu lagi. Aku harus siap gimana pun nanti keadaannya.”

“Aku gak tau Beb harus gimana nanti, tapi aku kangen banget sama dia,” lirih Robby.

Beby mengerti bagaimana perasaan Robby, ia sangat tau bagaimana Robby. Semuanya ia tau, mereka sering bertukar cerita, tetapi lebih banyak Robby yang menceritakan masalahnya. Dan ia sering mendengarkan ceritanya.

“Gak usah mikirin itu Rob, nanti liat kedepannya aja gimana,” ucap Beby.

“Hh, iya nanti liat kedepannya aja gimana Beb.” Robby bangkit dari sandarannya.

Beby mengangguk, “Yaudah, aku masuk ya. Kamu hati-hati pulangnya Rob.”

Beby pun keluar dari mobil Robby, dan Robby mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Beby menuju apartementnya..

~

Keesokkan harinya, kini Robby baru saja terbangun darinya, hari ini ia tidak ada kelas. Mungkin hari ini ia akan bermalas-malasan di apartementnya, tetapi setelah mengantarkan Beby pulang ke rumahnya. Ia terlihat memikirkan apa yang ia dan Beby bicarakan ketika di dalam mobil.

Shania akan pulang? Pasti. Kapan? Enggak tau kapan. Itu yang dibenaknya sekarang, Shania akan pulang dan akan menemui dirinya. Apa ia sanggup? Bagaimana bila Shania melupakan janjinya dulu? Dan ia mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya? Ketakukan Robby semakin menjadi-jadi ketika pikiran-pikirannya itu menjadi aneh, dari Shania sudah mempunyai yang lain lah. Atau Shania punya tunangan lah, atau bahkan lebih dari itu..

Robby berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, sekedar menyegarkan supaya tidak tertidur lagi. Setelah itu ia berjalan ke dapur sambil membawa handphone, ia meletakkan handphonenya di meja makan. Dan ia berjalan ke kulkas, mengambil makanan untuk dimasak olehnya.

Ting!

Robby mengacuhkan pesan yang masuk di handphonenya, ia terus saja memasak tanpa menghiraukan pesan tersebut.

Ting!

Ting!

Ting!

Robby berdecak kesal, ia pun berhenti melakukan aktifitas memasaknya. Ia berjalan menuju meja makan mengambil handphonenya. Terlihat Naomi yang mengirimkan pesan untuknya.

ShintaNaomi : Dek?

ShintaNaomi : Bangun kebo.

ShintaNaomi : Banguunn cepetaaannnnn!!!

ShintaNaomi : Astaga, kebo dasar ya kamu.

Robby : Apa sih kak? Orang lagi masak juga.

ShintaNaomi : Kamu gak ada kelas kan hari ini?

Robby : Iya gak ada kelas hari ini, kenapa gitu?

ShintaNaomi : Nanti siang, tolong jemput Yupi ya? Soalnya kakak gak bisa ngejemput dia, ada perlu soalnya.

Robby : Bilang aja mau jalan kak, gak usah ada perlu segala. Sama siapa tuh namanya ya? Siapa ya? Hm.

ShintaNaomi : Apa sih? Udah pokoknya nanti siang jemput Yupi di sekolahnya, jangan sampai telat. Titik!

Robby : Heh mana gitu bisa gitu Naomi, lo enak bilang gitu. Kan rencananya gue mau tidur hari ini.

ShintaNaomi : Dek…
ShintaNaomi : Tolong yang sopan ya! Ini kakak kamu jangan pake lo-gue ngerti?!

Robby : Iya-iya bawel banget sih.

ShintaNaomi : Oke, nanti jemput Yupi ya. Jangan sampai lupa atau ketiduran! (read).

Robby hanya me-read chat dari kakaknya itu, ia menghela nafasnya, rencananya hari ini untuk tinggal di apartement pupus sudah. Karena Naomi yang memintanya untuk menjemput Yupi. Ia pun meletakkan kembali handphonenya di meja makan dan berjalan kembali untuk melanjutkan memasak. Baru saja beberapa langkah berjalan, tiba-tiba..

Ting!

Robby menghela nafasnya kasar, ia pun berbalik dan mengambil handphonenya.

ShaniIndiraN : Robby?

Baru saja ia ingin membalas chat dari Shani, ada sebuah telpon yang masuk dari handphonenya. Robby pun langsung mengangkat telpon tersebut..

“Halo?”

“Udah bangun ya?”

“Iya, udah kok. Kenapa Shan?”

“Ah, enggakpapa kok. Tadi niatnya mau ngebangunin, eh malah udah bangun hehe.”

“Oh gitu ya, tumben banget kan bangun pagi gini? Haha.”

“Enggak biasa aja.”

“Hh, Iya deh Shani biasa aja.”

“Apa sih? Apa coba? Hem?”

“Gakpapa. Udah mau ngomong itu doang?”

“Ish, kok kamu yang ngambek? Yang ceweknya siapa sih?!”

“Gue lah ceweknya, lo cowoknya.”

“Gak lucu.”

“Yaudah, gue tutup ya.”

“Eh, jangan!”

“Lho? Kenapa lagi Indiraaa? Hem?”

“Siang kamu sibuk gak?”

“Enggak, cuma ngejemput Yupi doang nanti siang. Kenapa?”

“Temenin nyari bahan buat tugas dong.”

“Emang temen kelompok gak bisa?”

“Enggak bisa, Viny hari ini gak bisa nemenin. Dia udah ada janji sama Mamahnya.”

“Hhh, yaudah deh. Nanti gue jemput.”

“Yeay! Makasih Robby, nanti kabarin aku jam berapa ya ngejemputnya.”

“Iya, nanti gue kabarin.”

“Daaah~.”

Tutt…tutt…tutt…

Shani menutup telpon sepihak, Robby mendengus sebal. Selalu begitu piker Robby. Kemudian ia pun kembali meletakkan handphonennya dan melanjutkan memasak makanannya yang terhenti tadi..

~

Kini Robby tengah menunggu bersama Shani di depan sekolah Yupi, atau mungkin juga sekolahnya dulu. Setelah menjemput Shani, ia pun langsung menuju ke sekolah Yupi.

Robby : Dek, kakak udah di depan nih. Kamu nanti duduk di belakang ya.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Yupi pun keluar dari sekolah. Ia pun celingukkan mencari mobil kakaknya, dan setelah ia tau mobil kakaknya berada. Yupi pun berjalan menuju mobil Robby, dan masuk di bagian belakang.

“Gimana sekolahnya?” tanya Robby ketika Yupi sudah masuk di dalam mobil.

“Biasa aja kak, enggak ada apa-apa,” jawab Yupi.

“Yaudah, langsung pulang kan?” Robby pun menjalankan mobilnya.

“Makan dulu lah kak, laper nih. Tadi gak sempet ke kantin soalnya.” Yupi memegang perutnya sambal menunjukkan wajah memelas pada Robby.

“Gimana Shan? Makan dulu gakpapa?” tanya Robby pada Shani yang di sampingnya.

“Eh? Ada kak Shani ya?” Yupi pun menengok kearah depan samping bagian kemudi.

“Hai Yup.” Shani tersenyum pada Yupi.

“E-eh, hai kak,” ucap Yupi.

“Gakpapa kan makan dulu?” tanya Robby yang mengulang lagi karena belum dijawab oleh Shani.

“Gakpapa kok, lagian belum makan juga hehe.”

“Mau dimana Yup?” tanya Robby.

“Aku pengen makan pizza kak, boleh kan?”

“Yaudah, oke kita mam pizza,” ucap Robby yang menirukan gaya Yupi.

Shani hanya terkekeh geli menatap Robby yang seperti itu, karena ia jarang sekali melihat Robby seperti itu. Kecuali ketika mereka sedang berduaan, atau dengan orang-orang terdekatnya saja ia begitu. Setibanya di sebuah restorant mereka pun keluar dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam restorant tersebut. Mereka memilih duduk di paling pojok kiri untuk empat orang, Shani di samping Robby. Sedangkan Yupi duduk di depan Shani.

“Mau pesen apa?” tanya Robby.

Meat lovers deh kak, pinggirannya keju ya. Terus minumnya mixberry,” jawab Yupi.

“Yaudah, kalau gitu yang gede aja deh ya?” tanya Robby.

“Boleh deh,” ucap Shani.

“Lo minumnya apa Shan?”

“Samain aja kayak Yupi,” jawab Shani.

Robby mengangguk, kemudian ia pun memberitahukan pada waiters tersebut pesanan mereka.

Meat lovers yang largenya satu, pinggirannya keju mba. Minumnyamixberry dua, chocolate milkshakenya satu,” ucap Robby.

Waiters tersebut mengulang kembali pesanan mereka, kemudian setelah selesai ia pun meninggalkan mereka bertiga untuk menyiapkan pesanan mereka. Sedangkan mereka bertiga mengobrol-ngobrol, setelah beberapa kali ketemu Shani juga sudah tidak canggung lagi dengan Yupi. Banyak hal yang mereka bicarakan, dan setelah menunggu cukup lama pesanan mereka pun datang. Mereka pun makan sambil diselingi pembicaraan dan candaan tentunya..

Sedangkan di sebuah rumah atau lebih tepatnya rumah Robby, kini Naomi baru saja pulang dari urusannya(katanya) ia pun memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Setelah itu berjalan masuk ke dalam rumah, keadaan rumah tampak sepi sekali mungkin belum pulang adik-adiknya itu pikir Naomi.

Kemudian ia pun berjalan ke kamarnya untuk membersihkan badannya, dan berganti pakaian tentunya. Setelah selesai, ia berjalan menuju ruang tamu untuk menonton tv di sana. Ia duduk di sofa dan menyalakan tv tersebut, kemudian tak berapa lama bel rumahnya berbunyi…

Naomi pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumah, ia pun membukakan pintu rumah tersebut. Dan..

“H-halo kak Naomi.”

“Ya? Cari siapa ya?” tanya Naomi.

“Robbynya ada kak?”

“Lho? Robby enggak tinggal di sini lagi, eh tunggu. Kamu tau nama aku dari mana?” Naomi memicingkan matanya pada orang tersebut, ia seperti pernah melihat orang di depannya ini. Tetapi ia lupa dimana.

“Maksud kakak? Kan aku dulu sering main ke sini kak, ini aku k-kak S-Shania,” ucap Shania terbata.

Naomi terdiam mematung, ia menatap Shania dari ujung bawah sampai atas. Ia tidak menyangka bahwa tidak mengenalinya lagi, Shania tampak berubah sekali sekarang.

“Astaga, S-Shania?!”

 

*To be continued*

 

Created by : @RabiurR

 

Cuap-cuap author :

Mohon lahir batin ya semuanya, maafin gue kalau ada salah yg engga disengaja atau ga disengaja. Telat nih ngucapinnya, tapi gakpapa kan jadwalnya emang hari ini wkwk. Yaudah deh, sekali lagi maaf lahir batin yak. Jangan pada bosen mantengin SCMS, kek foto oshi tuh kagak pernah bosen dipantengin. Apalagi foto Shani yg adem yak? Gak bakalan bosen kalau dia mah 😂 *abaikan*

Oke, see you. Pai-pai~

Iklan

7 tanggapan untuk “Saat Cinta Merubah Segalanya2, Part6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s