Vepanda part 11

“Eh? Jong, ngapain disini?” tanya orang itu.

“Abis nonton sama Yupi,” jawab Najong lalu duduk di sebelah orang itu.

“Kamu kesini sama siapa sin?” tanya Yupi sambil duduk di sebelah Najong.

“Sama Rezza,” jawab orang tadi yang ternyata Sinka.

“Terus dia lagi kemana? Kok nggak ada?” tanya Yupi.

“Tadi sih bilangnya mau ke toilet, tapi gatau kok lama banget,” jawab Sinka cemberut.

“Alahh, palingan godain cewek dulu di toilet cewek,” ucap Najong.

“Hah? Godain cewek?” tanya Sinka heran.

“Iya, kan dia suka gitu,” jawab Yupi.

“Mas!” teriak Najong memanggil seorang pelayan.

“Masa sih Rezza playboy?” tanya Sinka dalam hati.

“Kamu mikirin apa sin?” tanya Yupi.

“Ng-nggak mikirin apa-apa kok,” jawab Sinka lalu tersenyum.

“Kirain mikirin Rezza,” ucap Yupi.

“Enggak kok, ngapain juga mikirin dia,” ucap Sinka.

“Mau pesen apa mas?” tanya pelayan yang tadi dipanggil Najong.

“Lemon tea satu sama sop buntut satu,” jawab Najong.

“Kalo mbaknya?” tanya pelayan pada Yupi.

“Mmmm… samain aja deh mas,” jawab Yupi.

“Jadi dua lemon tea sama dua sop buntut ya?” tanya pelayan itu kembali membacakan pesanan Najong dan Yupi.

“Iya,” jawab Najong.

“Baik, tunggu sebentar ya mas,” ucap pelayan itu lalu pergi.

“Oiya sin, kamu kok bisa kesini bareng Rezza?” tanya Yupi.

“Tadi Rezza yang ngajakin,” jawab Sinka.

“Aku ke toilet dulu ya,” ucap Najong lalu pegi meninggalkan Yupi dan Sinka.

“Tumben banget Rezza ngajak keluar cewek,” ucap Yupi.

“Heh? Tumben? Maksut kamu yup?” tanya Sinka heran.

“Gini loh, Rezza itu dari dulu paling susuah kalo diajak keluar, jadi ya aku heran aja kok dia tumben-tumbenan ngajak keluar cewek.”

“Emang dulu sama kak Ve dia jarang keluar?”

“Jarang banget malahan, dia kalo ngajak kak Ve palingan ke kosannya dia ato kalo nggak ya ke rumah kak Melody.”

“Hah?! Kok gitu?”

“Rezza itu nggak terlalu suka pergi keluar, dia cuma mau keluar kalo dipaksa kak Melody ato kak Ve doang.”

“Terus dia selama pacaran sama kak Ve nggak pernah main keluar gitu?”

“Ya main keluar sih, tapi cuma kalo mereka lagi ada masalah doang, kata Rezza biar cepet selesai masalahnya jadi kak Ve diajak main keluar.”

“Terus kenapa dia ngajak aku keluar ya?”

“Mungkin dia suka sama kamu.”

“Haahhh?! Nggak mungkin lah, sikap dia ke aku aja nyebelin gitu, jadi mana mungkin dia suka sama aku. Lagian juga baru kemaren dia ditinggalin kak Ve, nggak mungkin kan dia bisa langsung move on gitu aja.”

“Heh…, kita kan gatau apa yang sebenernya Rezza rasain, siapa tau aja dia udah suka kamu semenjak kak Ve masih ada.”

“Hei… lagi pada ngomongin gue ya?” tanya Rezza dengan pedenya.

“Idihhh, kepedean banget sih jadi orang,” jawab Sinka lalu memalingkan wajahnya.

“Mending gue kepedean, dari pada elu sok cuek tapi padahal care,” ucap Rezza lalu duduk di sebelah Yupi.

“Jangan sok tau kamu!” ucap Sinka kesal.

“Maaf, ini pesanannya,” ucap seorang pelayan yang datang membawa pesanan Najong dan Yupi.

“Makasih ya mas,” ucap Yupi tersenyum.

“Iya, selamat menikmati,” ucap pelayan itu tersenyum lalu pergi.

“Najong mana yup?” tanya Rezza sambil meminum minumannya.

“Ke toilet, emang nggak ketemu?” tanya Yupi.

“Gue nggak dari toilet,” jawab Rezza.

“Heh?! Bukannya kamu tadi bilang mau ke toilet?” tanya Sinka kaget.

“Oiya, gue barusan dari toilet ding hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

“Yang bener yang mana sih? Tadi kamu bilang nggak dari toilet, sekarang kamu bilang dari toilet,” ucap Yupi heran.

“Udahlah gausah dibahas gue dari mana, nggak penting juga,” ucap Rezza lalu memakan makananannya.

“Nggak! Ini harus dibahas! Capek tau nungguin kamu dari tadi!” ucap Sinka kesal.

“Hmmm…,” Rezza hanya bergumam sambil terus memakan makanannya.

“Huuuhhh! Ngeselin banget sih!” ucap Sinka lalu mengembungkan pipinya.

“Udah gausah marah-marah sin, biarin aja,” ucap Yupi.

“Huh!” Sinka mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya.

“Gausah cemberut, ntar gue gabisa bedain mana pipi lu mana bakpao,” ucap Rezza.

“Bodo!” ucap Sinka tanpa menoleh ke arah Rezza.

Yupi melihat tingkah Sinka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Beberapa saat kemudian Najong kembali dan mereka memakan makanan mereka bersama-sama, namun tidak dengan Sinka karena dia masih kesal terhadap Rezza.

Setelah selesai makan, mereka membayar makanan mereka dan pulang. Najong mengantarkan Yupi pulang ke rumahnya dan Rezza juga mengantar Sinka pulang ke rumahnya.

“Mau diturunin dimana mbak?” tanya Rezza saat mengantarkan Sinka ke rumahnya.

“Terserah!” jawab Sinka cuek.

“Yaudah, gue turunin di perempatan depan aja kalo terserah,” ucap Rezza.

“Heh?!” ucap Sinka kaget lalu memukul helm Rezza.

“Sakit kampret!” ucap Rezza kesal.

“Bodo amat!” ucap Sinka.

Beberapa menit kemudia Rezza dan Sinka sudah sampai di depan rumah Sinka. Sinka pun turun dan memberikan helm yang dipakainya kepada Rezza. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sinka langsung bejalan masuk ke rumahnya.

“Nggak disuruh mampir dulu nih?” tanya Rezza saat Sinka hendak membuka pintu rumahnya.

“Nggak usah!” jawab Sinka menoleh ke arah Rezza lalu masuk ke rumahnya dan menutup pintu.

“Yaudah kalo gitu,” ucap Rezza lalu menyalakan motornya.

“SELAMAT TIDUR SAYANG!!” teriak Rezza lalu memacu motornya pulang ke rumah.

“Hah?!” Sinka yang mendengar teriakan Rezza barusan hanya bisa kaget dan heran.

“Siapa itu dek?” tanya Naomi yang sedang tiduran di sofa ruang keluarga sambil menonton TV.

“B-Bukan siapa-siapa kok,” jawab Sinka berjalan mendekati Naomi.

“Kok manggil sayang segala kalo bukan siapa-siapa,” ucap Naomi.

“I-Itu…,” ucap Sinka salah tingkah.

“Pacar baru ya?” goda Naomi.

“Ihhh… apaan sih! Nggak kok, dia bukan pacar aku,” ucap Sinka lalu duduk di sebelah Naomi.

“Udahlah ngaku aja sama kakak.”

“Beneran kak, dia itu bukan pacar aku, dia itu adeknyna kak Melody.”

“Lahh emang kalo dia adeknya meloddy terus gaboleh pacaar sama kamu gitu? Enggak kan?”

“Iya sih, tapi beneran kok dia bukan pacar aku.”

“Terserah kamu lah dek,” ucap Naomi lalu pergi ke kamarnya.

“Kakak mau kemana?” tanya Sinka.

“Tidur, kalo kamu mau makan, itu makan aja apa yang ada di kulkas soalnya mama nggak masak hari ini,” ucap Naomi sebelum masuk ke kamarnya.

“Oiya makan, aku lupa,” ucap Sinka lalu mematikan TV dan pergi ke dapur.

Saat Sinka berjalan menuju dapur, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya di belakang. ia pun menoleh ke belakang namun tidak melihat siapa-siapa disana.

“Perasaan aku aja kali,” ucap Sinka lalu kembali berjalan ke dapur.

“Katanya mama nggak masak, kok banyak makanan gini,” ucap Sinka saat masuk ke dapur dan melihat ada banyak makanan dimeja dapur.

Sinka pun mengambil beberapa makanan dan minuman dan membawanya ke kamar. Saat Sinka melewati ruang keluarga, ia merasa heran karena melihat TV yang masih menyala.

“Perasaan tadi udah aku matiin deh,” ucap Sinka dalam hati.

“Kak!” teriak Sinka sambil menaiki tangga menuju ke kamarnya.

“Apa?!” jawab Naomi dari dalam kamarnya juga berteriak.

“Kakak nyalain TV lagi?” tanya Sinka berhenti di depan kamar Naomi.

“Enggak,” jawab Naomi.

“Lohh terus siapa dong yang nyalain kalo bukan kak Naomi? Apa jangan-jangan kak Kinal yang nyalain TV? Ato mama?” tanya Sinka heran dalam hati.

“Oiya, kak Kinal sama mama kemana?” tanya Sinka.

“Mama lagi nganterin Kinal pulang ke rumahnya,” jawab Naomi.

“Hehh?! Kok jadi horor gini sih,” ucap Sinka kaget.

“Apa?!” tanya Naomi berteriak dari dalam kamarnya.

“Enggak, gapapa!” jawab Sinka juga berteriak lalu masuk ke kamarnya.

Setelah masuk ke kamar, Sinka meletakkan semua makanan dan minuman yang ia bawa di atas meja dan kembali ke bawah untuk mematikan TV. Setelah mematikan TV, Sinka menutup dan mengunci semua pintu kecuali pintu garasi lalu kembali ke kamarnya. Sebelum kembali ke kamar ia juga tak lupa mematkian lampu yang tidak perlu dinyalakan.

“Huuuffftt, capeknya,” ucap Sinka sambil melemparkan tubuhnya ke atas kasur.

Sinka berbaring sebentar menunggu rasa capeknya hilang. Saat Sinka berbaring, terlihat seseorang melewati depan kamarnya. Karena penasaran, ia pun bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar untuk melihat siapa yang tadi melewati kamarnya. Di depan kamarnya, Sinka melihat ke kanan dan ke kiri namun tidak melihat siapa-siapa di depan kamarnya.

“Siapa ya yang barusan lewat?” tanya Sinka dalam hati.

“Kak?” tanya Sinka perlahan sambil berjalan ke arah orang tadi berjalan.

“Apa lagi?!” tanya Naomi berteriak dari dalam kamarnya.

“Kakak barusan keluar?” tanya Sinka berbalik dan berjalan ke depan kamar Naomi.

“Nggak!” jawab Naomi.

“Kenapa jadi parno gini sih aku?” tanya Sinka dalam hati.

“Udah ah, mendingan nonton film aja daripada tambah parno,” ucap Sinka masuk dan menutup pintu kamarnya.

Sinka pun menyalakan laptop yang ada dimeja kamarnya dan menonton sebuah film kartun. Selama menonton film, mulut Sinka tidak pernah berhenti mengunyah makanan yang dibawanya tadi. Setelah selesai menonton film, Sinka berbaring di atas kasur karena kekenyangan dan mulai tertidur.

-di rumah Melody-

Tok… tok… tok…

“Bangun dek, udah siang,” ucap Melody dari depan kamar Rezza.

Karena tidak terdengar jawaban dari dalam kamar Rezza, Melody pun kembali mengetuk pintu kamar Rezza.

Tok… tok… tok…

“Dek bangun, udah siang!” ucap Melody sedikit berteriak.

Namun hasilnya tetap sama, tidak terdengan jawaban dari dalam kamar Rezza.

CEKLEK!

“Dek,” ucap Melody saat masuk ke kamar Rezza.

“AAAAAHHH!!!” teriak Melody setelah masuk ke kamar Rezza.

“Ada apa kak?!” tanya Rezza bangun dari tidurya dengan kaget.

“I-Itu… siapa?” tanya Melody sambil menunjuk Rezza.

“Hah? Maksut kakak?” tanya Rezza heran.

“Itu yang di sebelah kamu,” jawab Melody ketakutan.

“Nggak ada siapa-siapa di sebelah aku,” ucap Rezza setelah menoleh ke sebelahnya.

“Hah?!” ucap Melody kaget lalu menoleh ke arah Rezza.

“Nggak ada siapa-siapa kan?” tanya Rezza bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Melody.

“Iya… nggak ada siapa-siapa,” jawab Melody.

“Yaudah kalo gitu kakak ganti baju sana, aku mau mandi dulu,” ucap Rezza sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

“I-Iya,” ucap Melody lalu keluar dari kamar Rezza.

Beberapa menit kemudian, Rezza dan Melody sudah berada di sekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasa.

“Baik anak-anak, sampai bertemu minggu depan,” ucap seorang guru sebelum meninggalkan kelas Rezza.

“Bodo amat, lu nggak dateng minggu depan juga gue nggak peduli,” ucap Rezza perlahan sambil meletakkan kepalanya di atas meja.

“Ehh! Gaboleh gitu, nggak baik,” ucap Sinka menoleh ke arah Rezza.

“Bodo amat!” ucap Rezza memalingkan wajahnya.

“Udah sin biarin aja dia,” ucap Yupi menoleh ke arah Sinka.

“Iya,” ucap Sinka pasrah.

“Yaudah mendingan kita keluar aja yuk, bosen di kelas terus,” ucap Yupi bangkit dari kursinya.

“Tapi kan sekarang belom istirahat,” ucap Sinka.

“Udah gapapa, lagian sekarang pelajaran musik, gurunya nggak bakalan masuk,” ucap Najong berdiri dari kursinya.

“Yaudah deh, yuk,” ucap Sinka juga berdiri dari kursinya.

“Kamu mau ikut keluar nggak?” tanya Sinka menyentuh pundak Rezza.

“Nggak,” jawab Rezza singkat.

“Ohh… yaudah, aku tinggal ya,” ucap Sinka lalu meninggalkan Rezza.

-di kelas Melody-

“Mel, lu masih kepikiran ya sama Ve?” tanya Bayu menoleh kepada Melody.

“Eh?! Ng-nggak kok,” jawab Melody kaget.

“Udah lu jujur aja sama gue, dari tadi gue perhatiin lu bengong terus liatin bangkunya Ve,” ucap Bayu.

“Mmmm…, iya deh, aku masih kepikiran sama Ve,” ucap Melody dengan wajah sedih.

“Udah, gausah dipikirin terus, kasian ntar Ve nggak tenang disana,” ucap Bayu mencoba menenangkan Melody.

“Iya…,” ucap Melody menunduk sedih.

Tok… tok… tok…

“Masuk,” ucap semua siswa bersamaan.

“Maaf sebelumnya, hari ini saya tidak bisa mengajar dikarenakan saya ada rapat diluar sekolah, jadi hari ini kalian mengerjakan tugas saja dibuku paket halaman 101-108,” ucap seorang guru yang masuk ke kelas Melody.

“Baik bu…,” ucap semua siswa bersamaan.

“Baiklah kalo gitu ibu tinggal, jangan rame ya,” ucap guru itu lalu pergi.

“Kantin yuk mel,” ajak Bayu berdiri dari bangkunya.

“Nggak deh,” jawab Melody.

“Udah ayo ke kantin, daripada di kelas lu kepikiran Ve terus,” ucap Bayu menarik tangan Melody.

“Ehh?!” Melody hanya kaget saat tangannya ditarik oleh Bayu.

Mereka berdua berjalan ke kantin dengan beberapa siswa lainnya. Sesampainya di kantin, mereka memesan makanan dan duduk berdua di depan kantin.

-di kelas Rezza-

“Za!” teriak seseorang memanggil Rezza.

“Hah? Apa?” tanya Rezza bangun dari tidurnya dan melihat sekitar.

“Lu bawa charger-an hp nggak?” tanya seorang siswa yang memanggilnya tadi.

“Bawa, kenapa?” tanya Rezza.

“Gue pinjem dulu ya bentar, hp gue lupa di charge tadi malem hehe…,” jawab siswa tadi.

“Ambil aja sendiri di tas,” ucap Rezza lalu kembali meletakkan wajahnya dimeja.

“Oiya za, gue turut berduka cita ya soal meninggalnya kak Ve,” ucap siswa tadi sambil duduk di kursi sebelah Rezza.

“Iya,” ucap Rezza.

“Lo yang tabah ya, semoga lo diberi kekuatan setelah apa yang terjadi sama kak Ve,” ucap siswa tadi memegang pundak Rezza lalu meninggalkannya.

Saat Rezza bangkit dari tidurnya, tiba-tiba ia berubah menjadi Superman. Rezza dan semua orang yang ada di dalam kelas heran dengan apa yang baru saja terjadi pada Rezza. Rezza yang mengalami kejadian itu berfikir tentang apa yang terjadi pada dirinya.

“Apa yang diomongin Gasa (siswa tadi yang minjem charger) soal gue diberi kekuatan itu jadi kenyataan ya?” tanya Rezza dalam hati.

“Bodo amat lah,” ucap Rezza sebelum mencoba salah satu kekuatan yang dimilikinya.

Kekuatan pertama yang Rezza coba adalah kekuatan mata, ia mencoba menembus pandang semua seragam siswi yang ada di kelasnya saat itu. Setelah puas, Rezza bangun dari mimpnya.

Rezza bangun dari tidurnya dan melihat keadaan kelasnya sudah sepi. Ia berjalan keluar namun juga tidak melihat satu orang pun.

“Njirr, gue ketiduran sampe pulang sekolah,” ucap Rezza mengusap wajahnya.

Dengan wajah mengantuk, Rezza kembali masuk ke dalam kelas dan mengambil tasnya lalu pulang. Rezza berjalan sendirian menuju tempat perkir sekolah, saat ia berjalan melewati koridor kelas, tiba-tiba terlintas kenangannya dengan Ve dulu.

Sesampainya di parkiran ia langsung menyalakan motornya dan pulang. Di perjalanan pulang Rezza kembali teringat akan kenangannya dengan Ve. Ia tidak menyangka bahwa beberapa hari yang lalu adalah terakhir kalinya ia pulang bareng Ve. Beberapa menit kemudian Rezza sampai di rumahnya.

“Aku pulang…,” ucap Rezza saat masuk ke rumahnya.

“Eh? kamu dari mana kok baru pulang?” tanya Melody yang sedang duduk di ruang tamu bersama seorang perempuan.

“Aku tadi ketiduran di kelas,” jawab Rezza berjalan mendekati Melody.

“Emang jam pelajaran ke berapa kamu tidur?” tanya Melody.

“Abis jam pelajaran kedua aku tidur hehe…,” jawab Rezza cengengesan lalu duduk di sebelah Melody.

“Ya ampun, itu sih bukan ketiduran, tapi kamunya yang kebo,” ucap Melody menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hehehe…,” Rezza hanya cengengesan melihat Melody.

“Yaudah nih kenalin temen kakak dulu waktu SMP,” ucap Melody.

“Rezza Okta,” ucap Rezza mengulurkan tangannya pada perempuan yang duduk di depannya.

“Shinta Naomi,” ucap perempuan itu menyalami tangan Rezza sambil tersenyum menggoda.

“Heh mi! Jangan gitu, ini adek aku,” ucap Melody yang melihat Naomi tersenyum menggoda pada Rezza.

“Hehe… maaf mel,” ucap Naomi nyengir.

Setelah menyalami Naomi, Rezza memperhatikan Naomi dengan serius. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu di perutnya. Oke ralat, maksut gue di otaknya.

“Ada apa?” tanya Naomi yang heran melihat Rezza terus memperhatikannya.

“Eh?! Ng-nggak kok, nggak ada apa-apa,” jawab Rezza salah tingkah.

“Beneran nggak ada apa-apa?” tanya Naomi sambil memajukan tubuhnya.

“I-Iya kok, nggak ada apa-apa,” jawab Rezza tersenyum.

“Yakin?” tanya Naomi yang kini wajahnya sangat dekat dengan wajah Rezza.

“Ehh? Kok jadi gini sih?” tanya Rezza terlihat ketakutan lalu memundurkan badannya.

“Hahaha…,” Naomi hanya tertawa melihat Rezza ketakutan.

Melody yang melihat Rezza ketakutan dengan tingkah Naomi juga hanya bisa tertawa. Sedangkan Rezza yang tadinya ketakutan sekarang malah menjadi heran.

“Udah sekarang kamu mandi, ganti baju terus kita makan bareng-bareng,” suruh Melody pada Rezza.

“Yaudah aku ke kamar dulu ya kak mel, kak Naomi,” ucap Rezza lalu meninggalkan Melody dan Naomi.

“Adek kamu lucu ya mel hihihi…,” ucap Naomi sambl tertawa kecil.

“Ya gitu lah adek aku,” ucap Melody menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Oiya, adek kamu sekarang kelas berapa?”

“Kelas 11, sekelas juga sama Sinka.”

“Oiya aku lupa, dulu Sinka juga pernah bilang kalo dia sekelas sama adek kamu.”

“Kamu nggak berubah ya dari dulu, pelupa.”

“Idihhh nggak kok, aku nggak pelupa.”

“Terus apa?”

“Cuma suka nggak inget aja kadang-kadang hahaha….”

“Sama aja mi.”

“Oiya aku jadi inget sesuatu.”

“Apaan?”

“Kemaren adek kamu yang ngajak Sinka keluar?”

“Gatau, tapi kemaren sore dia keluar sih terus baru pulang sekitar jam 8 gitu.”

“Berarti bener adek kamu yang ngajak Sinka main kemaren.”

“Emang ada apa? Sinka di apa-apain sama Rezza?”

“Enggak kok, cuma kemaren pas nganterin Sinka pulang, adek kamu teriak sayang-sayang gitu.”

“Hah?! Yang bener kamu?”

“Isshhh, nggak percaya banget sih sama aku, aku tuh denger sendiri mel.”

“Bukan nggak percaya sih, tapi emang kamu tau dari mana kalo itu adek aku yang teriak?”

“Aku tanya Sinka katanya itu adek kamu kok.”

“Haduuhhh, dasar.”

“Kenapa mel?”

“Gapapa kok, heran aja sama kelakuan adek aku,” Jawab Melody.

“Kamu sama adek kamu sendiri aja heran,” ucap Naomi.

“AAAAAAHHH!!!” terdengar teriakan seseorang dari lantai atas rumah Melody.

Melody dan Naomi yang mendengar suara teriakan tadi dengan cepat langsung berlari mencari sumber suara itu.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

5 tanggapan untuk “Vepanda part 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s