Fiksi dan Fakta part 43

• Kelvin Mandala’s POV

“Aku gamau, vin.. please!” Pinta Andela padaku.

“Ndel, liat aku. Aku gak akan kenapa-kenapa… janji!” Aku menunjukkan kelingkingku.

“Janji ya? Aku gamau kamu sakit lagi:( ” Andela tampak ragu.

“Kamu yakin kan sama aku, Ndel?” Aku menaikkan alis.

“Ih gak gitu! Aku percaya kok! Tapi…” Andela masih tertunduk.

Aku segera memeluknya. Pertanyaannya adalah..

‘Apakah saatnya tepat?’
Andela terisak.

“A-aa-aku cu-cuma gak ma-mau..”

“Iya, aku tau kok sayang..” Aku membiarkannya menangis dalam pelukanku. Setidaknya, tak akan kulepaskan jika memang dibutuhkan.

Sangat mudah, sama seperti saat kami mengulas sebuah buku yang sangat menarik. Mungkin saja kami akan merasa bosan ataupun bahagia, namun tak akan terasa sia-sia jika kami ulas bersama.

Sama halnya seperti aku mengatakan “I love you” kepada Andela. Tak akan menjadi kata yang kosong jika kami saling menyelami pikiran masing-masing.

‘Andela, aku akan selalu mencintaimu..’
• Michael Oscar’s POV

Belakangan ini, membuka media sosial tak menjadi sesuatu yang kubutuhkan. Terasa sakit saat melihat orang-orang meng-update aktivitas terkini mereka bersama kekasih masing-masing.

“Eh?” Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sepertinya sudah tak asing bagiku.

“Ya, Halo?”

“Ini Michael?” Tanya orang tersebut dengan suara berat.

“Ini siapa?” Tanyaku balik.

“Satria.. masih inget kan?” Ucapnya lagi.

“Ah, iya Sat. Ada apa nih?” Balasku antusias.

“Gapapa nih.. hehe-” Satria terdengar masih sangat sering batuk-batuk, bahkan lebih parah dari beberapa bulan yang lalu.

“Halo halo, Lu gapapa sat?”

“G..gapapa, Car. Mana yang lain?”

“Gue lagi ga sama anak-anak nih, lagi menyendiri haha…”

Satria menanggapi santai ucapanku barusan. Namun, nafasnya yang berat tentu masih menjadi pertanyaanku.

“Gue kangen dengan kalian semua.. semoga kita ketemu lagi dilain kesempatan, hehe..” Satria terdengar bahagia.

“Pasti, sat. Maaf, kami mungkin gabisa nemuin lu untuk sekarang..”

“Gapapa, Car. Kalian juga harus fokus belajar, ini tahun terakhir kan? Jangan lengah..”

“Siap, sat! Sebenernya, kami lagi siap-siap buat School War kedua..”

“Hah? School War? Kayak dulu?”

“Iya, Sat.”

“Jangan! Iman ga akan suka dengan cara ini..”

“Ga, Sat. Iman mau Gilang sadar dan orang-orang yang salah diadili..”

“Mana Razaqa? Kalian kerjasama dengan ‘bule’??”

Dengan nada sangat-sangat rendah, aku mengakui kerjasama yang kami lakukan.

“Tetap waspada, car. Gue seneng dengern-” Ucapan Satria kembali terputus akibat batuk-batuk yang ia alami.

Panggilan pun berakhir.

Aku tak menaruh curiga.

• Author’s POV

“Thor, kapan nih gelutnya?”

“Bentar woy, lagi mikir nih.. enaknya kapan yak?” Author bingung.

“Langsung aje, thor. Anak-anak luar negri matiin aje, thor.” Keluh Reader 1.

“Woy der! Gaboleh gitu lu!” Reader 2 ngamuk.

“Mo ape lu??!!” Si Reader mo berantem
:v

“Udeh udeh! Thor, lanjutin noh!!” Editor keluar dan Author pun memulai cerita lagi :v

*Skip

‘Terlihat siswa laki-laki memakai seragam sekolah masing-masing sambil membawa banner dengan tulisan yang sama.. Mereka menolak kekerasan terhadap warga selain sesama pelajar laki-laki yang terdaftar dan ikut serta..’ Semua stasiun TV lokal mulai bergemuruh.

– Jam 16.00
(Hari Pertama)

Seluruh rombongan siswa laki-laki tiap sekolah turun kejalan dengan almamater blok masing-masing dan mensosialisasikan semua yang telah
mereka sepakati.

Masing-masing 1 orang perwakilan Netral dengan bendera merah di motor tua mereka dan berpakaian serba hitam menghiasi setiap jalan yang termasuk wilayah sekolah-sekolah dengan keterlibatan murid-muridnya.

– Jam 17.00
(Hari Pertama)

“..Ya, Lewat!… Ya, Lewat!..” Sebelum memasuki area lain, setiap murid diperiksa satu per satu oleh kubu Netral.

Prosedur yang lebih jelas membuat School War kali ini lebih menarik.

‘Walau Berbeda Tapi Tetap Satu Jua!’

‘Kebebasan Itu Diperjuangkan! Kita Terjajah Lingkungan!’

‘Daerah Berbeda! Blok Abdul Sony Gunawan!’

Berbagai banner/spanduk di ikat di sepanjang jalan.

Jalan protokol dipenuhi Pasukan Netral..

– Jam 17.50
(Hari Pertama)

“Semuanya!! Break!” Pengumuman dari Blok Iman.

“Minna!! Istirahat! Kewaspadaan di 1%” Pengumuman dari Blok Fuuto.

“Perhatian!! Semuanya Istirahat! Tenang, Sadar, Terjaga.. Gue Sony, pamit dari sini!” Kali ini, pengumuman dari Blok Jaka.
– Jam 19.00
(Hari Pertama)

Aksi turun ke jalan kembali di mulai.

Semua warga tampak berdiri dan menonton ‘Aksi Bodoh’ para pemuda jaman sekarang ini.

“Oy! Itu Blok Bule!!” Teriak seseorang dari arah utara yang sepertinya blok Iman.

Andra sebagai perwakilan dari SMA Harapan Bangsa segera memerintahkan pasukan ‘SW III’ untuk memastikan bahwa itu bukan blok Sony ataupun Jaka.

“SMA 31 Ndra!!” Seru Firrel setelah mendengar info dari SW III.

“II tolong kabarin Fuuto, serang setelah perwakilan Fuuto dateng!” Setelah itu
Andra berlari disusul rombongan yang mereka sebut SW I itu.

Tak lama berselang, yang ditugaskan datang ternyata Dobby.

“Kalian mau maju?” Tanya Dobby.

Semuanya menggangguk.

“Terus terang ya, menurut gue sendiri, kalian terlalu mewah dengan peralatan secanggih ini.. But, enjoy it beeiiibeeehhh!!” Dobby berlari diikuti rombongan SW II dibelakangnya.

Dengan cepat, satu per satu tubuh tersungkur ke tanah.

Tak boleh ada pengeroyokan, terutama berlebihan. Yang gugur boleh menepi.

Tak lama berselang, gerombolan itu dibubarkan oleh pihak kepolisian
setempat.

– Jam 19.40
Blok Narataro Fuuto
(Hari Pertama)

‘Duaarr!!’ Terdengar tembakan kembang api sebanyak 3 kali dari kediaman Fuuto menandakan selesainya perkelahian pertama, yang menandakan blok Fuuto berhasil ‘First-Clean’ berturut-turut dari School War sebelumnya.

“Fuu? Kita semua terus nunggu disini?” Tanya Dee-dee mewakili seluruhnya.

“Kita harus fokus disini, kalian mau nyusul Dobby? silahkan..” Fuuto tersenyum.

Yuri sudah kembali dari pemanasannya.
‘Beep! Beep!!’ Telepon kedua telah diangkat.

“Ya?”

“SMA 3 dan 5 nyerang SMA Teladan Nusa!!!” Seru seseorang yang Fuuto sendiri tak mengenali suaranya.

“Hah? Kok bisa? ini dari siapa?”

“Yogi! SMA Telsa!!” Seru orang bernama Yogi itu.

“Kami kesana!!” Panggilan pun berakhir.

Dengan cepat, Fuuto menyuruh Kenji dan Jerry bersiap sambil mencoba menghubungi Oki, perwakilan SMA Teladan Nusa.

“Ki? 3 dan 5 tau kita ga ada masalah?”
“Ini Fuuto?” Tanya seseorang diseberang balik.

“Iya, masa lu lupa sih? Eh, suara lu berat banget..” Tanya Fuuto meninggikan nadanya.

“Gue lagi pilek. Oh iya, kami diserang di taman deket sekolah, kami lagi menuju kesana..” Ucap orang yang dipanggil Fuuto ‘Oki’ itu dengan nada tenang.

“Oke, Jerry dan Kenji kesana. Tenang, kami bawa beberapa anak-anak Suta Wijaya juga. Kalian ati-ati!”

“Mantap!!” Seru Oki.

“Eh?”

Panggilan berakhir.

Fuuto memerintahkan Jerry dan Kenji untuk segera mengumpulkan orang-
orang dan memberikan penjelasan singkat. Fuuto kembali meraih gagang telepon rumahnya dan kali ini mencoba menghubungi Jaka.

Nihil.

Ia mencoba nomor lainnya.

Nihil!

– Jam 19.20
Blok Razaqa Nafan
(Hari Pertama)

Jaka memerintahkan untuk mengajak separuh murid 48, 46, 11, 20 dan 33 untuk turun kejalan dan bertemu di taman dekat SMA 5.

“Ya pertama-tama, gue ucapin terimakasih atas kehadiran kalian sekalian. Kita disini cuma mau mastiin akses menuju 48, 46, dan 33 aman.
Buat 11 dan 20, sisi samping ini pangkal kalian.” Semuanya memperhatikan arahan Jaka.

“Oleh karena itu, dengan jumlah kita yang banyak ini. Gue mau cek ke SMA 5, kira-kira mereka di blok mana. Kalo kosong, berarti mereka ga ikut partisipasi. Kelvin, take it!” Jaka melempar kepada Kelpo.

“Ya, selamat malam semuanya. Langsung aja, karena tiap perwakilan sekolah yang datang saat ini kira-kira 50 per sekolah. Bagi menjadi 3 grup. 15, 15, 20. Untuk 15 pertama dan kedua, lewat sebelah kiri dan kanan. 20 gabung jadi kira-kira ada 100 orang, kita lewat tengah, 50 pertama didepan sama gue dan Jaka. 50nya lagi dibelakang buat kejutan. Paham?” Jelas Kelpo panjang lebar.

“PAHAM!!” Tegas mereka bersamaan.

Mereka mulai bergerak.

3 orang diberi tugas untuk melihat kedalam gedung sekolah.

Kosong, tak ada orang.

“Oke, berarti kita masuk pelan-pelan dan tetap waspa-“

“TIT!!!” Klakson motor potong ucapan Jaka.

“Maaf, Raz. Kalian ngapain disini?” Tanya seseorang yang baru turun dari motor CB100 nya itu.

“Wel? Ini blok gue. Kami curiga ama 5, dan mereka emang bener-bener ga partisipasi disini.” Jelas Jaka meluruskan.

“Oke, gue harap kalian ga lupa dengan
peraturan. Jangan bawa sajam, molotov, dll ya?”

“Siap!” Ucap mereka hampir bersamaan.

“Gue berangkat lagi y-“

“Beep! Test test?! Ada laporan penyerangan senjata tajam oleh blok Razaqa ke MAN 2, blok Fuuto.”

“86!” Terdengar jawaban dari banyak perwakilan kubu netral.

“HAH?” Teriak semuanya kaget, termasuk Welly sendiri.

“Siapa, Raz?!!” Tanya Welly terbelalak.

“Ah, shit! Semuanya!!! Ayo kita kesana!!!” Perintah Jaka diikuti seruan dari yang lainnya.
– Jam 19.40
(Hari Pertama)

Hampir semua orang memenuhi satu titik kawasan dimana penyerangan bersenjata yang dilakukan seseorang dengan jaket blok Jaka.

“Orang itu kemana??!!” Tanya keseluruhan kubu netral.

“Tadi dia kesana kang! Gatau lagi kemana..” Siswa-siswa yang kira-kira ada 7 orang itu menunjuk kearah lorong perkampungan.

Tim pun ditugaskan untuk mengejar ‘pelaku bersenjata tajam’ tersebut.

– Jam 20.18
Blok Fuuto
(Hari Pertama)

“Lapor Fuu! Alamatnya salah? ini ga
ada orang..” Kenji dan lainnya sudah berada di lokasi.

“Hah? bentar gue hubungi netral..”

Sekitar 5 menit kemudian, Fuuto kembali menginstruksikan Kenji dan Jerry untuk menuju Suta Wijaya yang menjadi pos blok mereka.

“Ah jauh! Males gue, Fuu.. Coba telfon anak Telsa itu! Sekolahnya aja sepi, kata Rey..” Balas Kenji tak yakin.

“Eh? Kok ribet gini..” Fuuto kembali mencoba hampir seluruh daftar kontak di ponselnya.

“Kok gak ada yang aktif?” Tanya Zoski bingung.

“Iya ya?” Yuri mendekat.

“Sial!” Seru Fuuto memukul kepalany

“Ada apa?!” Ucap Kenji dari seberang.

“Tarik mundur pasukan! Orang yang gue telpon tadi ga terdaftar..” Fuuto mengakhiri panggilan.

“Karel! Ini apa?” Fuuto menunjukkan laptopnya.

“Shit! Kita ditipu! Pantes internet lemot..” Semuanya jadi tak karuan karna panik.

‘Terjadi pengejaran terhadap seorang peserta yang membawa senjata tajam…..’ Berikut berita terkini dari radio lokal.

“Mereka ga jaga Telsa!!!” Seru mereka semua hampir bersamaan.

“Ken-” Ketika hendak memberi pengarahan, panggilan sudah terputus.

Nomor Kenji pun tidak aktif, begitu juga Jerry, Rey,dan lainnya.

“Itu dimana? Siapa yang ngejar?” Tanya Fuuto.

“Frans, liat seluruh breaking news saat ini..”

“Almamater biru, Fuu?” Seru Frans tak yakin.

“Sial! Kita First-Clean sekaligus First-Broke. Ini semua karna mereka!!!” Fuuto menendang lemari didekatnya.

“Gak ada waktu buat ke titik 7, disana ada netral. Kita harus fokus ke Telsa! Iko!!” Fuuto kembali mengomandani semuanya.

– Jam 20.13
Blok Razaqa Nafan
(Hari Pertama)

“Bentar, kalian blok Fuuto?” Jaka mendekat kearah salah satu murid yang katanya siswa MAN 2.

“I..I-iya kang…” Mereka sedikit gugup.

“Gak ada yang kena, kan?”

Mereka menggeleng mantap.

“Yaudah, netral udah disini. Kalian cari pos selanjutnya, bentar lagi polisi dateng..” Lalu, 7 orang tersebut dan tentu saja pasukan Jaka mulai bergegas pergi meninggalkan kawasan tadi.

– Jam 20.37
Blok Narataro Fuuto
(Hari Pertama)

“Sial!!!!” Semuanya menutup mulut
kala sampai di taman dekat Teladan Nusa itu.

“Rey? Jer? Ken? Rob?..” Yuri membantu Jerry berdiri.

“Me..me…re-re..ka….” Ucap Jerry susah payah.

“Mereka kenapa???”

Perlahan, Jerry menunjuk kearah SMA Teladan Nusa.

“Iko!!!” Perintah Fuuto keras.

“Jangan!!” Potong Kenji cepat.

“Doushite?”

“Mereka akan jebak kita lagi!” Setelah itu, Kenji kembali tak sadarkan diri. Sementara Fuuto memimpin pergerakan menuju Telsa

– Jam 20.16
Joello Midokaze Story
(Hari Pertama)

“Sagara, gimana progressnya?” Joey memberikan hard disk pada Sagara.

“Joey, kepolisian udah siap-siap. Fuuto nyusul ke Teladan Nusa. Ada pengejaran di titik 7. Beberapa area yang kosong, mungkin di 5 titik yang berdekatan..” Sagara menunjukkan persentase-nya.

“Oke, tolong gue minta rekaman panggilan-panggilan tadi..” Joey memasang headphone-nya.

“Joey? Pengejaran itu ke kita loh? Almamater biru..” Sagara memberikan rekaman radio setempat, bahkan 3 radio berbeda mengatakan hal yang sama tentang warna almamater
tersebut.

“Call siapa aja, Sag. Troy? Yunus? Atau siapalah itu..” Joey mem-filter setiap rekaman panggilan secara perlahan.

“Sagara, ini hasil suara setiap orang termasuk kita..” Sagara menunjukkan voice note.

“Ada berapa yang sakit?”

“Sekitar 5 orang, Joey. Dobby, Andy, Karel, Oki, dan Frans.” Sagara menyerahkan catatannya.

“Oke, sekarang kita cek Telsa. Telepon rumah Oki?” Joey menatap Sagara bingung.

“Ada s-“

“Joello! Sagara! Ada yang dateng!” Zoski mengejutkan mereka berdua.

Joey dan Sagara bangkit untuk menyambut seseorang yang datang.

“Eh? Ada apa?” Joey menatap seseorang yang datang dengan wajah pucat itu.

“Kalian gak tau kalo Telsa diserang abis-abisan. Kami cuma bisa kabur ber-5. Vo, panggil Yogi..”

Joey dan Sagara hanya diam mematung tak bisa berkomentar apapun.

“Gue udah lapor, Ki. Iya kan, kang?” Yogi tampak babak belur.

“Ka-kalian di serang dimana?” Kini, Zoski yang keluar lalu bertanya.

“Halaman belakang sekolah, tepatnya di gang ke jalan itu.”

“Ah, itu emang ra-” Zoski terhenti.

“SIALAN!” Teriak Joey memukul kepalanya.

“Eh?” Semuanya bingung.

“Lu ga pilek, Ki?” Tanya Joey.

Oki menggeleng diikuti tatapan bingung dari semuanya kepada Joey.

“Gue gabisa jelasinnya, ayo kita ke ruang kontrol!” Semuanya bergegas menuju ruang kontrol.

“Shit! Jadi suara siapa itu?!” Joey dan Oki sama kesalnya.

“Gi, lu lupa bilang lokasi.. sial!” Sagara memukul kepalanya kesal.

“Dalem kode-nya, kami termasuk
sekolah yang gak perlu nyebutinnya lokasi. Kan kami jaga kawasan doang..” Yogi beralasan.

Semuanya hanya bisa diam, karena apa yang dikatakan Yogi memang benar.

“YanboMabo udah mempelajari blok ini! Kita gabisa pake cara classic gini!” Joey memukul meja kerjanya.

“Halo, Fuu? Tarik mundur!” Sagara mengabari Fuuto tanpa banyak basa-basi.

“Jadi, yang digebukin di taman itu pasukan Jerry?” Zoski memanggil Karel yang masih berada di lantai 2.

“Yup, ini serangan gede..” Joey berpikir sejenak.

“Ki, Gi, kalian tunggu Fuuto ya.. mint
tolong Reza buat manggil beberapa pasukan buat jaga-jaga disini..” Joey bangkit dan meraih mantel kehormatannya.

“Lu mau kemana?” Sagara menahan tangan sahabatnya itu.

“48, Lu ikut gue. Ayo..” Sagara dan Joey pun menuju markas blok Jaka.

– Jam 21.04
(Hari Pertama)

“Hey!” Bentak penjaga blok Jaka.

“Kasih jalan! Itu Joey dan Sagara dari biru!” Seru Bobby yang sudah sangat mengenali mereka.

“Bob?”

“Langsung aja, mereka juga baru pulang..” Joey segera menuju ruang
aula yang terletak sedikit di sudut SMA 48 tersebut.

“Eh? Joey??” Jaka dan lainnya segera bangkit terkejut.

“Raz! Parah, kami dapet first broke!” Joey dan Sagara melakukan tos terlebih dahulu kepada Jaka dan lainnya.

“Hah?! Dari siapa?!” Jaka kaget.

“Emm.. sekolah mana ya itu..” Joey tampak mengingat.

“3 dan 5!!” Sagara teringat.

“Ah iya itu!” Timpal Joey.

“5??!!!!!” Jaka dan lainnya kaget bukan main.

“Eh?” Sagara dan Joey saling tatap.

“Lim, panggil Kelvin! Cepet!” Jaka meraih ponselnya.

“Tadi kami ke 5, sekolah mereka kosong. Terus ketemu Welly, dia ngira kami mau ngerusuh atau ngerusak sekolah itu. Sumpah mereka gak di blok kami..” Wajah Jaka memerah.

“Ahh.. Sial! YanboMabo udah disekitar kita! Ini pasti ulah me-“

“Raz?! Ada apa?” Kelpo datang.

“Po, 5 ternyata nyerang ke Telsa. Gimana 3?”

“Serius? Kalian lolos?!!” Kelpo kaget.

“Gak, Vin. First Broke..” Joey tertunduk.

“APA???!!! FIRST BROKE!!” Kelpo tak bisa mengontrol nadanya.

“Sialan!! Kabarin semuanya. Plan kita mulai jam 22.00!” Jaka memerintahkan beberapa perwakilan yang ada diruangan, seperti Tony, Dwi, Halim,dll.

Jaka segera menghubungi Sony.

“Beep!!” Sebuah panggilan masuk ke ponsel Kelpo.

“Halo?” Sambutnya.

“Kelvin!!! Tolong aku!!” Jelas sekali, itu adalah suara Andela.

“NDEL!!!” Kelpo terkejut bukan main.

“Sssttt… cewek lo gak bisa diem ya? Hahaha.. enak juga nih kalo digilir.. Hahaha…” Terdengar banyak orang yang berada disana.

“BANGSAT LO!!! KASIH ALAMAT LO!!
AWAS LO NYENTUH PACAR GUE!!!” Tiba-tiba panggilan berakhir begitu saja.

“Vin! Ada apa lagi???!!!”

“Andela, Raz… ANDELA!!!!”

“Andela kenapa??!!”

“Mereka nyulik Andela!!” Wajah Kelpo semakin pucat pasih.

“Joey!” Jaka memanggil Joey.

Joey dan Sagara kembali lalu memanggil beberapa anak komputer untuk melacak keberadaan hp yang barusan menelpon.

Gagal!

“Sial!!!!” Kelpo memukul meja-meja disekitarnya dengan membabi buta.

~~

“Ada air mata yang tak bisa kau seka dengan lembut tanganmu.. Ada luka yang tak bisa kau obati dengan tutur halusmu.. Dan ada kesalahan yang tak bisa kau perbaiki dengan satu ucapan maaf..” – Joello Midokaze

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s