Vin & Vin, Part1

Benda berbentuk persegi itu masih menampilkan sebuah video clip musisi asal negeri “Paman Sam”. Dengan rambut pirangnya, gadis itu bernyanyi di balkon dekat jendela istana mengenakan gaun berwarna putih. Sekarang gadis berambut pirang itu sedang berdansa dengan seorang pria yang menggunakan jas hitam. Tidak lama, adegan pun berpindah menjadi seorang pria dengan sepatu bola bersiap melakukan tendangan bebas.

“Kok jadi bola?!” Ia pun menengok ke belakang mencari seseorang yang mengganti siaran televisinya.

“Bosen liatnya.”

“Ishhh…. kak Alvin! Ga bosen apa gangguin orang lain mulu, katanya mau pergi, ngapain masih disini?” tanya gadis yang duduk persis di depan Alvin.

“Bentar lagi palingan,” jawab Alvin.

“Huh… padahal pergi dari sekarang aja, biar ga ganggu aku mulu.”

“Ya elah Zara, kan bisa di youtube kalau mau liat video clip-nya, lagian kakak juga bosen dengernya, sampe hafal malahan.”

“Bohong banget sampe hafal,” jawab gadis yang dipanggil Zara itu.

We were both young when I first saw you, I close my eyes, and the flashback starts, I’m standing there, on a balcony in summer air.” Alvin pun menyanyikan sebait lagu itu. “Beneran hafal kan?”

“Ya ya ya, udah ah kakak ngeselin.” Zara pun beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Alvin.

“Yah ngambek.”

Tiba-tiba handphone Alvin bergetar di atas meja. Disana tertulis salah satu nama temannya. Alvin pun mengambil handphone itu dan menjawab panggilannya.

“Halo, Alvin….”

“Hmm… apaan, Del?” tanya Alvin.

“Lo nanti ke rumah Sinka ga?” tanya Delta.

“Ya gue kesana, paling jam sembilan sampe sana.”

“Oiya, lu bareng Viny ga kesananya?”

“Kaga, emangnya kenapa?” Alvin pun meraih kaleng biskuit yang ada dihadapannya, dan mencoba membukanya.

“Tuh si Viny nunggu di taman deket rumahnya, mana ini hujan deres lagi.”

“Buset…, dia nunggu disana? Kirain gue pergi sama Vito,” jawab Alvin.

“Si Vito kan ke Bandara! Buruan samperin dia, ini hujan deres bro,” paksa Delta.

Alvin pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke arah jendela. Di luar nampak hujan deras. Loh beneran deres ya.

“Ya paling dia juga balik ke rumahnya.”

“Dia bukan orang yang kaya gitu, feeling gue sih dia masih nunggu disana.”

“Ya udah bentar, gue susul kesana, mana di rumah gue hujan deres juga.”

“Ok thankyou, Vin.”

“Sama-sama.” Alvin pun menutup telfon itu dan mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja. “Ah iya payung.”

Kini ia menaiki anak tangga menuju kamar adiknya. Setelah mengetuk pintu beberapa kali ia pun masuk kedalam kamar itu. “Ra, minjem payung dong,” kata Alvin.

Zara pun memutar kursinya, kini ia menghadap ke arah kakaknya itu masih dengan headphone yang menggantung di lehernya.

“Nih kak tangkap.” Zara melemparkan sebuah payung yang ada di dekat meja belajarnya.

“Loh ini payungnya hello kitty, yang polos kek.”

“Yang polos dibawah, tuh deket rak sepatu.”

“Hah…, ya udah kakak ambil yang itu aja deh.”

“Mau pergi emangnya?” Alvin pun mengangguk.

“Kakak pergi dulu ya.”

“Hati-hati.”

Hujan masih turun cukup deras, tanpa menunggu lama Alvin langsung pergi menemui Viny di taman dekat rumahnya. Hujan terus menerpa jaket kulitnya sepanjang perjalanan, ia seperti tidak memperdulikan derasnya hujan, hanya Viny yang ia pedulikan.

Sesampainya di taman, terlihat seorang gadis sedang duduk di salah satu bangku. Ia tertunduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Hujan terus turun, pakaian gadis itu pun terlihat sudah basah kuyup.

“Vit… kamu jahat! Kamu udah ingkar janji! Aku udah nungguin kamu dari tadi, ayo cepet dateng Vit!”

Alvin pun berjalan ke arah Viny sambil memegang sebuah payung. Ia kini berhenti di depannya sambil memayungi Viny

“Vito ga mungkin dateng Vin,” kata Alvin.

Viny langsung mengangkat wajahnya. Air mata itu terlihat bercampur dengar air hujan yang membasahi pipinya. Ia kaget melihat seseorang yang kini sudah berdiri didepannya.

“Alvin?!” Viny mengusap matanya dengan telapak tangan.

“Vito ga mungkin dateng Vin.”

“Kamu tau darimana kalau Vito ga akan dateng,” bantah Viny, “dia udah janji sama aku!”

“Vito itu ke bandara Vin! Dia pergi ngejemput Sinka, jadi dia ga mungkin dateng,” jawab Viny.

“Aku ga percaya! Vito udah janji sama aku, kamu jangan sok tau!” bentak Viny.

“Percuma kamu ngarepin dia dateng Vin, dia lebih milih jemput pacarnya.”

“Pacar? Maksud kamu apa?” tanya Viny heran.

“Ya, Vito pacaran sama Sinka, mereka udah jadian lama banget.”

“Aku ga percaya! Vito pasti dateng!” teriak Viny.

Air mata Viny pun kembali keluar, di susul isakan tangisnya. Alvin kini menunduk dan wajahnya sejajar dengan Viny.

“Kamu harus terima kenyataannya Vin, cowok ga cuma satu kan, kamu harus bisa buang perasaan kamu.”

“Ta… tapi.” Alvin pun menyeka air mata Viny.

“Udah, sekarang Viny pulang ke rumah dulu. Baju kamu juga kan udah basah kuyup gini, lagian kamu baru sembuh dari sakit juga kan, entar sakit lagi ga enak.” Viny masih saja menangis. “Vito sebenernya anak yang baik kok, tapi mungkin dia bukan jodoh kamu. Masih banyak kok cowok lain yang lebih baik dari Vito, jadi sekarang mendingan Viny pulang dulu, aku anterin deh gimana?”

Viny pun mengangguk dan Alvin pun tersenyum. Kini Alvin membantu Viny berdiri, dan mereka pun berjalan menuju parkiran. Viny tiba-tiba mengapit lengan Alvin, namun Alvin hanya membiarkannya saja dan mereka pun terus berjalan sepayung berdua. Thankyou, Alvin.

Sesampainya di rumah Viny, suasana di rumahnya terlihat sepi. Tidak terdengar suara aktifitas apapun.

“Vin… kok sepi ya?” tanya Alvin.

Viny tidak menjawab pertanyaan Alvin, ia malah meneruskan langkahnya dan meninggalkan Alvin di ruang tamu. Masih down kayanya tuh anak.

“Aku ke atas dulu ya mau ganti baju, kalau kamu mau nonton tinggal ke ruang tengah aja ya, remote nya ada di atas meja kok,” kata Viny.

“Oh ok Vin.” Viny pun melanjutkan langkahnya dan pergi ke kamar. “Hah… ke rumah Sinka basah kuyup gini.”

Setelah masuk kedalam kamar, Viny langsung menutup pintunya dan bersandar di balik pintu. Ia pun terduduk sambil menekuk lututnya. Air matanya kembali mengalir membasahi pipi.

“Bodoh banget aku! Harusnya aku sadar dari dulu! Tapi-tapi, aku ga boleh lemah kaya gini, Viny ga boleh nangis terus, Viny harus kuat!” Viny kembali mengusap air matanya.

“Tapi, kata-kata Alvin tadi ada benernya, masih ada cowok lain yang lebih perhatian sama aku, ya bukan Vito orangnya. Kalau di pikir-pikir yang sering ngasih perhatian lebih itu Alvin.”

“Alvin lucu juga sih, manis wajahnya.” Tanpa sadar Viny pun tersenyum.

“Ah udah ah langsung mandi dulu, kasian dia nungguin lama dibawah, mana hujan-hujan juga lagi.”

Cukup lama Alvin menunggu, entah sudah berapa kali ia memindah-mindahkan chanel televisinya. Tidak lama terdengar suara pintu terbuka lalu kembali tertutup, disusul dengan suara langkah kaki dari arah tangga.

“Hmm… Alvin.” Alvin pun langsung menoleh kebelakang, ia mendapati sosok Viny yang telah berganti pakaian. Dengan dress berwarna merah maroon ditambah jaket kulit hitam, malah itu Viny terlihat begitu cantik dimata Alvin.

“Aku boleh ikut ke rumah Sinka kan?” Alvin masih saja bengong melihat penampilan Viny. Kamu cantik, Vin.

Tanpa sadar Viny melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Alvin. “Vin…, Alvin?”

“Ah sorry-sorry,” jawab Alvin gelagapan.

Viny pun tertawa, makin membuat jantung Alvin deg-degan. Ya Tuhan senyumnya.

“Gimana, boleh ga? Sekalian mau kenal sama yang namanya Sinka.”

“Eh… boleh-boleh, yuk kita berangkat sekarang,” jawab Alvin.

“Oiya kesananya pake mobil Ayah aku aja, kamu bisa bawa mobil kan?”

“Bisa kok, ya udah aku titip motor ya di rumah kamu.” Viny pun mengangguk.

“Tapi, baju kamu basah kuyup gitu, gimana kalau ganti dulu? Aku pinjemin deh punya Ayah aku, kayanya ada yang cocok kok.”

Alvin melihat bajunya sendiri, dan memang benar-benar basah. Ia seperti habis melompat kedalam kolam renang.

“Gimana?”

“Ya udah deh boleh.”

Saat di dalam kamar Ayahnya Viny, Alvin pun berdiri di depan lemari sementara Viny sibuk memilah-milah pakaian. Beberapa kali ia mengeluarkan baju dan melihat ke arah Alvin. Entah sudah berapa baju yang ia keluarkan namun belum ada yang cocok nampaknya.

“Kayanya ga ada yang pas deh, Vin. Udah aku pake baju yang ini aja,” kata Alvin.

“Jangan, nanti kamu sakit.”

“Heh?!”

~oOo~

“Ngapain liatin terus Vin?” tanya Alvin.

Viny hanya tersenyum, lalu tertawa kecil melihat Alvin yang gugup. Memang jelas terlihat, dari raut wajahnya ia nampak tegang. Lampu stopan akhirnya kembali berwarna hijau, dan Alvin pun menginjak pedal gas nya.

“Kamu cocok juga ya pake kemeja itu,” kata Viny.

“Ah… co… cocok ya?” Viny mengangguk.

“Untung jaket aku yang itu kaya buat cowok, jadi pas lah.”

“Ah iya sih, hehe.”

“Oiya, rumah Sinka masih jauh ga?”

“Engga kok, perempatan depan tinggal belok kiri, entar lurus nyampe deh kompleknya.”

Setelah sampai di kediaman Sinka, terlihat beberapa mobil terparkir di halamannya. Dari luar lampu rumah pun masih gelap gulita. Alvin dan Viny langsung keluar dari mobil dan berjalan di pekarangan rumah Sinka.

“Kaya ga ada orang,” bisik Viny.

“Ga tau nih, masuk aja yuk,” ajak Alvin.

Alvin pun mengetuk beberapa kali lalu mencoba membuka pintu kediaman rumah Sinka.

“Selamat da…. ya elah kok Alvin?!” kata Noella.

“Lah kok jadi Alvin?! Eh… Ada Viny juga?” kata Ayana.

“Emang kirain siapa? Sinka?” tanya Alvin.

Sesuai rencana mereka semua pun menunggu sang pemilik rumah untuk pulang. Tidak lama setelah kedatangan Alvin, terdengar suara pagar di buka, lalu suara klakson mobil juga. Lampu ruang tamu kembali dimatikan. Topeng minions pun kembali mereka gunakan dan siap menyambut pulangnya si pemilik rumah.

Pintu terbuka, nampak bayangan beberapa orang disana. Sesuai perintah, seseorang yang berada di dekat saklar lampu langsung menyalakan lampu ruang tamu.

“Selamat datang Sinka!!!” kata mereka semua.

“Waaa…. minions! Lucu-lucu!” kata Sinka.

“Nah… karna orangnya udah dateng, kita mulai pesta barbeque nya!” kata Noella bersemangat.

“Wah barbeque? Dimana-dimana?” tanya gadis dengan poni rata.

“Tuh taman belakang Yup,” jawab Delta.

“Ya udah kita kesana yuk!”

Yupi si gadis poni rata itu langsung mengajak teman-temannya ke taman belakang.Kini di ruang tamu hanya menyisakan, Vito, Sinka, Ayana, Tata, Delta, Alvin, dan Viny.

“Ini sebenernya kejutan buat siapa sih?” tanya Ayana sambil melipat kedua lengannya.

“Biarin aja lah Ay, mungkin Yupi udah laper,” kata Sinka.

“Eh… ada Viny juga, ah iya Sin, kenalin ini Viny temen aku juga, Viny ini Sinka,” kata Vito.

“Kenalin, aku Viny temennya Vito, sama….” Viny menggantung omongannya.

“Sama?” Sinka menaikan alisnya, ia pensaran apa yang akan dikatakan Viny selanjutnya.

“Sama pacarnya Alvin,” kata Viny sambil tersenyum.

“HEH?!!!” Mereka semua nampak kaget dengan ucapan Viny.

“Vin?” panggil Alvin, Viny hanya melihat ke arah Alvin sambil tersenyum.

“Wah, traktiran dong Vin,” kata Sinka.

“I… iya Sin,” jawab Alvin sambil menggaruk belakang kepalanya.

“Lah tinggal gue sama elu aja Vit yang jomblo,” kata Delta.

“Hehe… sorry Del, gue sebenernya udah jadian juga sama Sinka,” jawab Vito.

“HAH?! Kalian udah jadian?” tanya Ayana.

“Kapan jadiannya?” tanya Delta.

“Entar gue kasih tau di taman belakang deh, ya udah yuk kita kesana, entar makanannya dihabisin sama Yupi,” kata Vito.

“Ya udah yuk-yuk kita kesana,” ajak Sinka.

Mereka semua pun berniat pergi ke taman belakang, tak terkecuali Alvin dan Viny. Mereka masih berdiam diri diruang tamu.

“Vin… maksud kamu tadi apa?” tanya Alvin.

“Bukan apa-apa kok, aku cuma sadar, selama ini ada orang yang bener-bener sayang sama aku, tapi aku malah sia-siain dia dengan ngejar cowok yang ga mungkin aku dapetin. Aku sekarang sadar Vin, ada orang yang jauh ngasih perhatian buat aku, bikin aku nyaman terus, dan itu kamu Vin orangnya,” kata Viny.

“Maaf kalau aku lancang, tapi kamu mau kan jadi pacar aku?” tanya Viny. “Ya mungkin aneh sih cewek nembak cowok, tapi aku pengen balas perasaan kamu. Cuma kamu Vin, yang bener-bener bikin aku nyaman, dan aku baru sadar sekarang.”

“Aku juga sebenernya suka sama kamu, tapi aneh banget ya rasanya denger cewek yang nembak cowok. Betapa pengecutnya aku ga bisa ngungkapin duluan ke kamu,” kata Alvin, “aku mau jadi pacar kamu, aku janji bakalan jagain kamu terus, ga akan ninggalin kamu.”

“Makasih ya,” jawab Viny.

Viny pun langsung memeluk Alvin, dan Alvin menerima pelukan hangat itu. Viny seolah larut dalam dekapan pria yang ada didepannya. Mereka berdua terlihat nyaman saling berpelukan.

“Ciee… ciee.. yang lagi pacaran, buruan gabung, dicariin tuh,” kata Tata.

Reflek mereka berdua langsung melepas pelukannya. Mereka sama-sama terdiam, terlihat wajah mereka pun berubah menjadi kemerahan.

*to be continued

~~~~~~~~~~~~~

Lebaran-lebaran tetep posting kok, ga libur.

Ya ini janji entah dari bulan kapan baru sempet di posting sekarang. Udah lama juga gue ga nulis di blog sendiri. Masa yang punya blognya, ga punya cerita yang di tampilin di blognya sendiri wkwkwk.

Ah iya ini cerita, bisa dibilang side story sih dari cerita gue yang lain. Masih pengenalan doang, biar pada inget, ya klo inget, klo engga ya udah mau gimana lagi.

Satu lagi….

Gue selaku admin Karyaotakgue.com mengucapkan.
Minal aidzin walfaidzin, happy eid mubarak 1437H. Mohon maaf lahir dan batin 😀
Selamat lebaran, selamat liburan!

Jangan bosen-bosen mampir ke blog ini yak o(^w^o)

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

14 tanggapan untuk “Vin & Vin, Part1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s