“Directions The Love and It’s Reward” Part 15

yup

Sore harinya di rumah Yona. Rendy dan Yona sedang tidur di kamar karena efek capek dari kemah kemarin. Ya bisa dibilang sangat menguras tenaga sih. Kak Melody? Ah iya, kak Melody sedang terdiam di kamar. Setelah ibadah Ashar, ia termenung sejenak di kamarnya. Bukan karena ketakutan *baca part sebelumnya*. Melainkan khawatir dengan keadaan Rendy yang sedang sakit.

“Ah iya, mending aku ke kamarnya aja. Check dulu deh” kak Melody bangkit dari tempat tidurya. Ia berjalan menaiki anak tangga satu per satu secara perlahan. Ya karena memang kamar Rendy ada di lantai dua rumah itu.

KLEK!

Perlahan ia buka pintu kamar Rendy. Memastikan adiknya itu sedang tidur atau tidak. Mungkin, hanya tidak ingin mengusik ketenangannya.

“Ren…” kak Melody melihat ke sisi kasur Rendy. Benar saja, ia sedang tidur dengan berantakan. Sudah kebiasaanya itu tidur seperti anak kecil.

“Hmm…” kak Melody tersenyum melihat adiknya tidur dengan terlelap. Bebebrapa kali, ia lihat tangan adiknya itu terus memeluk tubuhnya sendiri. Kedinginan mungkin, pikirnya.

Dengan inisiatif, ia menyelimuti tubuh adiknya itu dengan selimut bergambar ‘Bumblebee’ salah satu tokoh action figure dari film ‘Transformer’ yang sangat digemari Rendy.

Ia pegang lagi kening adiknya. Memastikan keadaan Rendy seperti apa.

“Hmm… udah nggak terlalu panas sih. Tapi, wajahnya masih pucet” ujar kak Melody pelan sambil memeriksa kening Rendy. Membolak-balikkan telapak tangannya. Kemudian setelah itu, ia mendekat ke wajah Rendy.

 

CUPZ

 

Kak Melody mencium kening Rendy pelan.

“Istiirahat yah…

Jagoan kecilku” kak Melody tersenyum sambil menutup pintu kamar Rendy pelan. Kemudian kembali lagi turun menuju lantai satu. Hendak ke kamar tentunya.

Perlahan, kak Melody menuruni anak tangga.

 

DEG

 

Seperti ada sesuatu yang mencurigakan, hawa merinding menyeramkan. Kak Melody melihat-lihat ke sekitar sambil memegang pundaknya. Setidaknya, itu bisa sedikit menghilangkan ketakutannya. Sekiranya sudah tidak terlalu takut, ia meneruskan lankahnya menuju kamar.

 

KRIET…

Suara pintu kamar yang terbuka dengan terseret. Aneh, bukannya saat keluar kamar tadi ia sudah mengunci pintunya? Firasatnya semakin waspada.

“Kak Mel…?” ucap seseorang dengan suara pelan. Tipe-tipe suara perempuan, gadis, atau perawan *eh. Terserah lah kalian manggilnya apa. Kak Melody tidak menghiraukan suara tersebut. Ia tetap saja masuk ke kamarnya dan langsung tiduran di kasurnya.

 

TOK…TOK…TOK…

Suara ketukan pintu dari arah luar kamar kak Melody. Apa itu? Ia bertanya-tanya dalam hati. Ia bangkit dari kasurnya. Perlahan mendekati pintu itu. Dengan sangat hati-hati, ia memegang gagang pintu kamarnya. Dibukanya dengan sangat-sangat pelan namnun pasti.

“Siapa ya…?” tanyanya pelan. Tubuhnya masih di dalam kamar dengan cukup gemetar. Hanya kepalanya saja yang keluar sambil celingak-celinguk nggak jelas mencari asal suara. Kalau bisa dibilang, keadaan rumah seperti biasanya. Ruang tengah selalu gelap. Ya, memang Tante Citra selalu berpesan seperti itu. Sekedar menghemat listrik juga sih. Ya nggak?

Kak Melody kemudian keluar kamar sebentar. Melihat, ternyata tv di ruang tengah masih menyala.

“Ini siapa lagi kerjaanya nyalain tv tapi nggak ditonton” ucap kak Melody sambil mematikan tv dengan remote tv tersebut. Kemudian, ia kembali ke kamarnya.

 

DEG

Ia mengintip sejenak. Terlihat sebuah sekelebat bayangan masuk ke kamarnya. Mungkin penjahat? Ah tapi nggak mungkin, komplek di daerah sini kan aman. Satpamya selalu mengawasi 24 jam dan selalu patroli 6 jam sekali. Dengan rasa penasaran, ia masuk. Ia lihat lagi ke dalam kamarnya. Tidak menjumpai apa-apa.

“Mungkin Cuma perasaanku aja” pikir kak Melody tenang.

Kemudian terdengar suara…

 

TUK TUK TUK

Suara ketukan. Tapi entah tak tahu dari arah mana. Ia melihat-lihat ke seisi kamarnya. Tetap tidak menemukan apa pun. Dari kedengarannya, seperti ketukan sebuah dinding. Kemudian, ia coba mengetuk tangannya pada dinding.

 

TUK TUK TUK

Dan benar saja, suaranya hampir sama. Seketika, ia teringat sebuah cerita kuno menyeramkan yang diceritakan Papah dan juga Rendy.

 

DEG

 

[FLASHBACK ON]

 

Dahulu kala, saat mereka masih tinggal di Semarang. Seperti biasa saat malam, Rendy ngotot sekali ingin minta dibacakan dongeng. Padahal, ia sudah berumur 12 tahun. Sekiranya, baru saja masuk Junior High School atau bisa dibilang SMP. Nggak tentu juga sih. Kadang Papah, kadang juga Mamah yang bercerita. Kalau Mamah sih, biasanya menceritakan dongeng-dongeng fantasy atau legenda lainnya.

Kalau Papah sih, ini yang antimainstream. Kadang suka bercerita pengalaman ekstrim, sage, dan paling sering sih mitos. Tapi kali ini, mitos yang menjadi kenyataan. Saat itu, sudah malam, sekitar pukul 21.45.

“Papah pulang…” ucap Papah mereka menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah.

“Yeay! Papah pulang!” Rendy terlihat sangat senang sekali. Dia langsung memeluk ayahnya.

“Wih… jagoan kecil papah. Kangen ya?”

“Kangen dong!”

“Eh Pah, sudah pulang?” tanya Mamah datang dengan membawa secangkir kopi.

“Iya, hari ini agak lembur di kantor” ucap papahnya menyeruput secangkir kopi hitam itu.

“Pah! Ke kamar aku yuk. Dongeng dong! Cerita-cerita” Rendy menarik-narik tangan papahnya.

“Eh… Rendy nggak boleh gitu. Papah kan capek habis pulang kerja” ucap mamahnya melarang.

“Iya Ren. Papah kan juga baru pulang kerja. Biarin istirahat dulu aja” ucap kak Melody yang datang dari kamar.

“Tapi… kan…” Rendy mulai merengut.

“Mah, Hmm… Okta udah tidur belum?” tanya papahnya berbisik.

“Udah kok pah. Kenapa emangnya?” tanya mamahnya. Rendy dan kak Melody hanya memperhatikan papah dan mamahnya heran.

“Nggak papa” balas papahnya.

“Oke, yaudah. Yuk kita ke kamar kamu Ren. Papah ada cerita bagus loh!” ucap papahnya sambil menggendong Rendy di pundak.

“Yeay! Asyikkk!!!” Rendy kegirangan.

“Ada-ada aja” ucap kak Melody.

“Kamu ikut aja sana Mel, siapa tahu papah ada cerita bagus tuh. Sekalian pastiin Rendy abis diceritain langsung tidur” ucap mamahnya.

“Oke mah” ucap kak Melody. Kemudian mereka bertiga menuju kamar Rendy.

******

Rendy sudah berbaring di tempat tidurnya. Sudah siap menunggu cerita dari papahnya. Sedangkan kak Melody, duduk di tepian kasur Rendy bersama dengan papahnya.

“Ini ceritanya horror loh, mitos juga. Kamu nggak takut?” tanya papahnya.

“Enggak dong. Rendy kan pemberani” ucap Rendy bersemangat.

“Tapi, ini mitosnya kenyataan” ucap papahnya meyakinkan. Dan Rendy hanya mengangguk.

“Apa nggak papa pah?” tanya kak Melody.

“Biarin aja lah. Daripada di anggak tidur kan?” kak Melody hanya pasrah.

“Ini kisah seminggu yang lalu. Tepaatnya saat papah pulang kerja dari kantor. Di sebuah komplek perumahan. Komplek Melati namanya” kemudian, papah mulai bercerita.

“Judulnya adalah…

 

HANTU DINDING….”

sas

*{o0o}*

 

Suatu malam, ada seorang supir taksi yang sedang mangkal sendirian di depan stasiun. Bisa dibilang hampir tengah malam.

“Ah… hari ini sudah dulu kali ya nariknya” ucap sang supir taksi setelah mengantar penumpang terakhir ke stasiun itu. Hendak pergi pulang, tapi ada seseorang yang mengetuk kaca mobil taksinya.

TOK TOK TOK…

“Iya dek?” tanya sang supir taksi.

“Apa bapak masih di jam kerja? Kalau iya, bisa antarkan saya ke alamat ini?” ucap seorang gadis dengan membawa kopernya yang sangat besar.

“Aduh, gimana ya? Tapi kasian juga, ini sudah malam. Apa aku antar saja?” tanyanya dalam hati.

“Ya sudah. Ayo dek, naik saja. Biar kopernya saya yang taruh di bagasi” ucap sang supir taksi turun dari mobilnya. Sang supir taksi kemudian memasukkan koper si gadis itu ke dalam bagasi. Mobil pun kemudian jalan. Hening cukup lama.

“Adek dari mana? Kok bawa koper besar segala” sang supir bertanya melepas keheningan.

“Oh iya pak, saya dari luar negeri. Dari Korea Selatan, tepatnya di kota Seoul” ucap sang gadis.

“Ada keperluan apa dek?”

“Oh, saya kuliah di sana” ucap sang gadis.

“Wah, hebat ya. Kuliah di luar negeri, bisa bahasa luar juga berarti. Ngomong-ngomong, adek tinggal di komplek Melati ya?” tanya sang supir.

“Ah, nggak terlalu bisa juga pak. Iya, saya kecil di sana. Dilahirkan di sana pula. Bahkan, sekarang saya kangen sekali dengan keluarga dan teman-teman saya” ucap sang gadis bercerita.

“Pasti masa kecilnya menyenangkan ya?”

“Iya, pak. Saya sering sekali bermain sama teman-teman saya.”

“Biasanya bermain apa?” tanya sang supir penasaran.

“Meramal.”

“Wah, hebat juga. Adek bisa meramal ternyata” puji sang supir.

“Nggak juga pak. Bukan saya yang meramal.”

“Lalu siapa?” sang supir semakin penasaran.

“Ada sebuah permainan kuno. Namanya…

 

Hantu Dinding.”

“Apa benar begitu dek?” sang supir sedikit merinding.

“Iya, saya sering bermain itu. Biasanya di rumah kosong. Banyak sekali yang bisa ditanyakan padanya.”

“Bagaimana caranya?”

“Carilah sebuah ruangan. Lalu ketuklah setiap dinding yang ada di ruangan hingga ada yang berbunyi

 

TUK TUK TUK

 

Nah… di situlah ia berada. Kemudian, siapkan pensil dan juga kertas untuk bermain. Misal bertanya, siapa yang akan mendapat pacar terlebih dahulu di antara kami?

Lalu, tempelkan pensil itu pada dinding yang di mana ia berada. Lalu biarkan pensil itu jatuh. Nah, jatuhnya pasti menunjuk salah satu di antara kami. Begitu pak”

“Menarik, apa bisa bertanya sesuatu yang lebih akurat begitu?”

“Hmmm… bisa pak” sang gadis mengangguk.

“Caranya, tulis pertanyaanmu pada kertas tersebut kemudian letakkan persis di bawah dinding tersebut.. Kemudian mulai bertanya, dan biarkan pensil itu jatuh seperti tadi.”

“Oh… begitu. Lalu, biasanya adek bertanya apa?”

“Ya, kehidupan sosial saja pak. Seperti siapa yang akan mendapat pacar terlebih dahulu di antara kami.”

“Wah, cukup menarik ya. Apa ramalannya benar menjadj kenyataan?”

“Hmm, iya pak. Saat itu saya bertanya siapa yang akan mendapat pacar terlebih dahulu di antara kami, lalu pensil itu menunjuk ke saya. Dan benar saja saya mendapat paxar lebih dulu dari teman-teman saya” si gadis tersenyum tipis.

“Yah, awalnya hanya pertanyaan sederhana main-main, tapi…

Kemudian kami mulai bertanya antara hidup dan mati” si gadis mulai serius.

“Pertanyaan seperti apa?”

“Hmm… kalo saya bertanya, bagaimana cara saya mati?

Seperti itu pak. Saya memilihkan 3 pilihan. Yang pertama kecelakaan lalu lintas, yang kedua mati alami, dan yang ketiga…

Pembunuhan” jawab sang gadis.

“Lalu apa jawabannya? Jangan bilang kalau kecelakaan lalu lintas ya dek, soalnya saya sedang menyetir saat ini” sang supir mulai merinding ketakutan.

“Ahaha… bukan kok pak, bukan. Jawabannya adalah…

 

*~o0o~*

 

“Apa pah?! Apa?!” Rendy bertanya dengan sedikit berteriak.

“Sabar dong, sabar napa. Papah juga lagi mau cerita kok” ucap papahnya.

“Loh? Kak Melody mana?” tanya papahnya yang tidak melihat keberadaan putrinya.

“Terusin ceritanya pah” terdengar suara kak Melody pelan. Rendy dan papahnya pun mencari-carinya.

“Hmm… di sini ternyata” papahnya menggeleng pelan. Ternyata kak Melody bersembunyi di selimut tempat tidur Rendy.

“Cie~ kakak takut ya?” ejek Rendy.

“Enggak tuh, Cuma merinding aja. Ya udah, terusin pah” kak Melody menutup selimut ke sekujur tubuhnya. Hanya menyisakan hidung ke atas, mulutnya juga ia tutupi menggunakan selimut.

“Ada-ada saja” ucap papahnya.

“Oke… lanjut.”

 

*{o0o}*

 

…Pembunuhan.”

ds

DEG!

 

“Oh… syukurlah. Saya kira kecelakaan. Oh iya, ini sudah sampai dek” ucap sang supir menepi di depan komplek bertuliskan ‘Melati’.dsd

 

“Dek?” tidak ada jawaban, bahkan suara pintu taksi terbuka pun tidak. Hanya ada hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat suasana tambah mencekam di tengah malam.

Kemudian sang supir menoleh ke belakang.

vd

*~o0o~*

“HUAH!!!”

“AHHHH!!!”

 

“Hehehe… kak Melody penakut nih ye?”

“Ish…! nggak lucu tau dek” kak Melody melempar bantal pada wajah Rendy.

 

BUG!

 

“Aduh…! sakit kak. Hu… kak Melody penakut wlee” :p Rendy terus saja mengejek kakanya.

“Sudah-sudah… kalian ini malah berantem. Ya sudah, papah tidur saja kalau kalian tidak bisa diam.

“Eh-eh… jangan dong pah. Iya kok, Rendy nggak gangguin kak Imel lagi. Peace” Rendy mengacungkan dua jarinya membentuk huruf ‘V’.

“Sekarang kalian maaf-maafan dulu” perintah papahnya.

“Kak Imel… Rendy minta maaf ya. Janji nggak ngulangin lagi deh” Rendy kemudian meminta maaf.

“Iya… awas kalo diulangin lagi” kak Melody meraih tangan Rendy.

“Next…! bagian mendebarkan.”

 

*{o0o}*

 

“Dek?” sang supir kemudian menoleh ke belakang.

“Loh? Kok nggak ada?” tanyanya dalam hati heran. Bingung, kemana kah perginya gadi itu? Apa mungkin dia… ah sudahlah.

“Cek aja dulu lah” sang supir taksi melepas safety belt nya. Kemudian membuka pintu taksi dan keluar. Ia celingak-celinguk tak jelas di depan mobil taksinya sendiri. Mencari keberadaan gadis itu.

“Ke mana… lagi?” ucapnya bingung. Seketika, hawa merinding merasuki tubuhnya lagi. Ia memegang pundaknya sejenak. Kemudian, terpikir sesuatu di benaknya.

“Coba cek dulu kopernya, kalo nggak ada berarti emang udah pergi orangnya” kemudian sang supir taksi mengecek ke bagasi mobilnya.. Dibukanya perlahan.

“Lah? Ini masih ada kopernya” ucapnya. Entah mengapa koper tersebut masih ada di bagasi mobilnya. Ia angkat koper itu keluar. Dan sedikit terbesit di benaknya untuk membuka koper tersebut.

ss

“Buka nggak ya? Penasaran juga sih. Ini isinya apaan yah?” sang supir kemudian membuka koper tersebut perlahan. Dengan hati-hati, ia membuka resleting koper itu dan…

vf

“HUAAA!!!!”

“Ma-mayat!!!” sang supir taksi ketakutan setengah mati. Dilihatnya lagi dan benar. Itu adalah mayat dari gadis penumpang tadi yang sudah membusuk berlumuran darah dan tidak bernyawa. Bahkan beberapa organnya sudah keluar.

se

*{o0o}*

 

Keesokan harinya, sang supir melapor ke pihak yang berwajib tentang kejadian itu. Kemudian dilakukanah olah TKP. Si ibu dari gadis tersebut yang menyadari bahwa putrinya telah tewas tak bernyawa pun menangis sejadi-jadinya.

“Pembuktian dari kejadian tersebut agak aneh. Saat kemarin malam, tepatnya di rekaman CCTV stasiun saat itu anda hanya menenteng tas koper yang sudah dijatuhkan oleh seseorang berjaket hoddie” ucap pak polisi.

“Lihat, anda hanya menenteng tas yang tergeletak itu dan memasukkannya ke bagasi. Di rekaman pun, anda terlihat berbicara sendiri.”

“Jadi seperti itu” ucap sang supir.

Setelah insiden itu, akhirnya semua kembali berjalan normal. Bahkan si ibu dari gadis itu pun sudah sedikit tenang. Sebagai rasa terima kasihnya, si ibu dari gadis tersebut memberikan sekotak penuh kue buatannya sendiri pada sang supir.

Malam harinya…

“Ah… akhirnya insiden itu selesai. Hari ini tarikan cukup banyak juga. Ah jadi lapar” sang supir taksi baru saja tiba di rumah. Kemudian ia teringat dengan kue pemberian si ibu gadis itu.

Ia mencicipinya satu persatu.

“Hmmm… kira-kira… siapa ya, yang membunuh gadis itu?” tanyanya sambil memakan kue itu. Ia berpikir sejenak.

“Apa munngkin orang yang menaruh tas koper itu tergeletak di jalanan?” pikirnya. Seketika, ia teringat dengan cerita sang gadis tentang ‘Hantu Dinding’.

“Lebih baik kucoba, siapa tahu bisa” ucap sang supir. Kemudian ia mengetuk-ngetuk seluruh dinding ruangannya hinggan berbunyi

 

TUK TUK TUK

“Ah, pasti di sini” pikirnya. Ia langsung mengambil pensil dan kertas dan menuliskan.

‘Apa orang berjaket hoddie yang membawa tas itu kah yang telah membunuh gadis itu?’

Kemudian, ia meletakkan kertas itu di bawah persis dinding itu. Kemudian, ia menulis lagi pilihan jawaban

‘Ya atau Tidak’

Setelah itu, ia mendekatkan pensil itu di dinding. Setelah itu ia lepaskan.

 

TUK!

Pensil itu terjatuh. Masih berputar cukup lama tapi…

Pensil itu tidak menunjuk ke arah jawab kertasnya melainkan,

w

Ke sekotak penuh kue pemberian si ibu gadis itu

DEG!

“Apa mungkin…???”

 

THE END

*~o0o~*

“Sudah, sebaiknya kalian tidur” ucap papah melihat jam tangannya.

“Lihat nih, udah jam 10 malem aja. Sebaiknya kalian cepat…

Eh?” papah heran melihat kedua anaknya.

“Sudah tidur ternyata. Hmm… aku ditinggal tidur nih” ucap  papah kemudian menyelimuti kedua anaknya yang sudah terlelap.

“Selamat malam jagoan papah. Selamat malam juga, putri kecil papah” papah kemudian keluar dari kamar dan menutup pintunya perlahan.

 

[FLASHBACK OFF]

 

“Apa mungkin?” tanya kak Melody semakin merinding. Kemudian, terdengar lagi suara…

 

TUK TUK TUK

“Eh?” tanyanya heran. Teryata, suara itu bukan berasal dari dinding itu tapi dari bawah tempat tidurnya. Kemudian ia perlahan mendekati tempat tidurnya

Mulai berjongkok, dan kepalanya mulai menunduk untuk memeriksa bagian bawah tempat tidurnya.

“Nggak ada apa-apa” ucapnya tenang. Kemudian, ada sebuah cahaya merah menyala dari bawah tempat tidurnya. Dan…

“Hai… aku Valak, salam kenal. Kemarilah… dan aku akan membunuhmu~”

 

DEG!

 

“HUAHHHHH!!!! Tolong!!!” kak Melody langsung berlari keluar dari kamarnya. Naik ke lantai atas tepatnya langsung masuk ke kamar Rendy. Untung saja, Rendy masih terlelap tidur.

 

“Uhuk uhuk… huegh! Emm… di kolong kamarnya kak Melody berdebu banget nih” ucap seorang gadis yang kemudian keluar dari bawah kasur kak Melody menenteng sebuah boneka.

“Huh… pake sebelah matanya masuk ke sini lagi. Kan jadi kotor” ucapnya membersihkan debu pada sekujur tubuhnya.

Sekiranya sudah agak tidak takut. Kak Melody turun dari lantai dua rumah itu. Perlahan, dengan sangat waspada.

“Huh… untung aja udah pergi” ucapnya menghembuskan nafas lega. Dia kini sedang berada di ruang tengah. Melihat tv kembali menyala.

“Eh… Yona? Sejak kapan kamu di…”

“Huaaaa!!!” ucap kak Melody ketakutan ketika Yona menoleh dan ditangannya sudah ada sebuah boneka menyeramkan.

“Apaan itu Yon?! Buang-buang! Bismillah! Ya hadam muhadam, ya yaumul jasad KHADIR!!!” ucap kak Melody menirukan aksi dari acara tv pencarian makhluk gaib. Itu loh acara yang ada di ANTEPE. Judulnya Jejak Orang Nggak Normal :v

“Eh? Kak Melody kenapa sih? Ini kan boneka aku. Emang kenapa?” Yona kemudian bangkit dan mendekati kak Melody.

“Eh, jangan deket-deket!” kak Melody menengadahkan tangannya. Melambai-lambai.

“Tolong dong! Udah nggak kuat nih! Eh-eh! Kru-krunya pada kemana sih huhuhu…” kak Melody terus saja merengek. Dikira lagi acara uji nyali yang ada CCTV nya njir :v

“Hai… aku Valak, salam kenal. Kemarilah… dan aku akan membunuhmu~” Boneka itu berbunyi. Matanya kemudian memancarkan sinar merah darah menyala.

“Udahhh!!!!”

 

******

 

“Oh, jadi kamu yah yang ke kamar kakak nggak bilang-bilang. Awas aja kamu yah!” kak Melody menjewer telinga Yona hingga merah.

“A-ampun kak… tadi tuh aku mau ngambil bola mata boneka aku yang jatuh dan masuk ke kolong kasur kak Melody. Aku tungguin, ka-kak Melodynya lama banget. Ja-jadinya langsung aja aku nyelonong masuk” Yona meronta-ronta kesakitan.

“Nggak! Kamu udah bikin kakak jantungan tau nggak! Kalo kakak nanti kena serangan jantung gimana?!”

“Ya… dikubur kak.”

“Aduh!!!” Yona semakin mengerang kesakitan.

“Bukannya malah minta maaf, malah nyumpahin kakak. Dasar!!!”

“AMPUN KAK!!!”

 

—o0o—

 

Sore harinya, tepat pukul empat sore. Setelah kak Melody mandi *mandinnya nggak usah diceritain* dan memakai baju *pakai bajunya juga yak, tau kan cewek pakenya apa aja? Oke next* tiba-tiba…

 

DRRTTT

DRRTTT

TIT!

 

“Siapa yah?”

Kak Melody kemudian mengangkat telepon itu. Tertera nama ‘Jessica Veranda’ sedang meng-calling ke Handphone milik kak Melody. Langsung saja ia angkat.

“Halo Ve…?”

“Enggak kok, nggak ganggu. Biasa aja, lagi nyantai-nyantai aja di kamar.”

“Ada keperluan apa ya?”

“Oh… mau ke sini! Beneran nih?!”

“Wah…! nanti aku kabarin lagi kalo udah dateng.”

“Iya… Bye~”

 

TING TONG

TING TONG

 

“Itu pasti dia” pikir kak Melody. Bel rumah berbunyi. Mungkin ada tamu? Atau mungkin lainnya.

 

KLEK!

 

Pintu depan terbuka.

“Sore kak…”

“Hai…!

So…re…”

 

-To Be Comtinued-

 

Written by : @Rendyan_Aldo

Inspirated by : Shiver

~Author’s Note~

Cek…

1…2…3…4

YOROSHIKU! *eh

Salah ya? Oke cek lagi

1…

2…

1…2…3…4…!

I want you…!

I need you…!

I love you…!

Heavy Rotation… *eh astogeh 😅

Oke, langsung aja. Hai semuanya! Nama saya Upil dan ini adik saya ilfill. Ini kisah absur semua!!! :v v:

Wadepak! Apa-apaan nih?! Oke holahalohai~

Tereme kezeh untuk viewers yang udah ngebersihin debu cerbung ini. Nggak kerasa sudah hampir 4 bulan cerbung ini numpang di blog KOG. Dan nggak kerasa sudah 1 bulan penuh kita menjalankan ibadah puasa (bagi yang menjalankan). Di part ini, bisa lau semua bilang cerita di dalam cerita, ya nggak?

Intinya gw mau ngucapin banyak banget thanks buat viewers dan maaf buat semuanya kalo saya ada salah yang sengaja / tidak, terlihat / tidak terlihat. Terutama untuk admin KOG bang Ical, maaf banget kalo gw sering banget hampir telat ngirim next part sampe-sampe ditagih (kadang) :v

Dan maaf juga cerbung ini ada banyak banget kontroversi pas awal-awal part yang tidak terduga. Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, tempat, atau apa pun mohon dimaafkan. Sedikit info, minggu depan cerbung ini vakum dulu dikarenakan penulisnya mau mudik dan minta THR sebanyak-banyaknya *eh minta maaf lahir dan batin maksudnya wkwkwk :v tau kan THR? Tunangan Hari Raya *eh bener gak sih? :v typo mengubah segalanya :v maksudnya Tunjangan Hari Raya :v oke komen, kritik, dan saran~

Minal Aidzin Wal Faidzin~

Mohon maaf lahir dan batin~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward” Part 15

  1. ,smamkin mnrik,,&sdikit ada nuansa creppypasta pas mmbacanya jajaja
    ,valak mentang2 mau lbaran, lepas dia dari kurungan jajajajajaajaj

    Suka

    1. Terinspirasi komik elektrik aja. Lagian bosen romance mulu, kali² horror dan comedy. Terus kan bosen juga kalo nyenternya tokoh utama mulu, ya sekiranya ini tuh side story gitu. Tenang, bagian Valak masih ada untuk beberapa part ke depan (masih ide). Thans udah baca dan nyempetin komen :v

      Suka

  2. “Hai… aku mekanik jahat, salam kenal. Kemarilah… dan aku akan merusak mobilmu~” ,anjayyy thor gue malah ngakak sendiri gara² suara nya si valak :v jadi gagal dapet feel serem deh thor.

    Suka

    1. Suara boneka barbie adek gw tuh :v gw copas aja. Lah, padahal gw ngarepnya dapet feel horrornya 😢 ya dah gapapalah, malah dapetnya comedy 😑
      Tengkyu udah ngebersihin debu 💨

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s