Roulette Love Part 3

 

“Aduuh,”

“Sorry ya Sin,” Nabil membantu Sinka berdiri.

“Ati-ati kalii,” Sinka memanyunkan bibirnya.

“I.iya abis tadi lag…” Nabil menoleh ke belekang namun teman-temannya sudah tidak ada di sana.

Sinka masih menatap Nabil yang kini nyengir kuda.

“Hahahaha, mampus tuh Nabil,” ujar Boby.

“Gila kaget gue pas lo narik gue,” ujar Keynal.

“Haha, abis kan tuh anak paling kaku kalo sama Sinka, biarin aja,” ujar Boby.

“Lha? Emang kenapa dah?” tanya Keynal.

“Haha yaa begitu laah,” ujar Boby sambil tersenyum penuh arti.

“Oh My .. Jangan bilang tuh anak?”

Boby mengangguk.

“Haha, bisa jatuh cinta juga? Gue kira dia yang paling beku hatinya,” ujar Keynal.

“No, no,” Boby menggeleng.

BUGH!

Keynal, dan Boby menoleh ke arah seperti orang yang sedang dipukul(?)

“Nobi!?” ujar Keynal

Keduanya langsung lari menghampiri Nobi.

Keynal melihat beberapa orang sedang mengelilingi Nobi. Salah satu di antaranya menarik kerah Nobi dan membisikkan sesuatu. Kemudian mereka pergi meninggalkan Nobi.

“Nob, kenapa lo!?” tanya Keynal.

“Ugh,” Nobi meringis memegangi perutnya.

“Mereka bukan anak sini kan?” tanya Keynal.

“Dari mukanya sih kayaknya bukan,” ujar Boby

“Yaudah bantuin gotong Nobi dulu,” ujar Keynal.

Di ruang Red Camisa.

“Mereka siapa?” tanya Boby.

“Aw. Sakit Ul, pelan-pelan,” ujar Nobi.

“Yee, yaudah obatin sendiri dah,” Maul melempar kapas ke muka Nobi.

“Jawab Nob,” ujar Boby.

“Iye iye, mereka dari…. Dari mana ya? Gue lupa, yang pasti bukan anak kampus sini,” ujar Nobi.

“Terus urusannya dia ke sini ngapain?” tanya Farish.

“Ng.. Hehe,” Nobi nyengir.

“Ah, gue tau banget nih kalo senyumnya udah begini, masalah cewe pasti nih,” ujar Farish.

Nobi mengangguk.

“Astaga Nob, ya kali gegara cewe doaang,” Boby menepuk dahinya.

“Nah makanya, jangan diperbesar deh,” ujar Nobi.

“Tapi awas lo ya kalo nyari masalah lagi, jangan malu-maluin RC Nob,” ujar Keynal.

“Iye ngerti-ngerti,” Nobi mengangguk. Ia kembali menempelkan kapas yang sudah diberi alkohol sebelumnya pada lukanya.

Hello, they done,” ujar Nino yang baru saja memasuki ruang RC bersama Mario.

They?”

Yes, Okta and Andrew,” ujar Mario

“Waw, haha nggak nyangka, yaudah suruh masuk,” ujar Maul.

Nino keluar memanggil Okta dan Andrew masuk ke dalam.

Maul meminta hasil gambar mereka, bravo! Mereka memang telah menyelesaikan 28 gambar dengan nilai 98!

“Nice,” Boby manggut-manggut.

“Oke, kalian pajang ini semua di sana, dan nanti malem kalian datang lagi ke sini,” ujar Keynal.

“Di pojok?” tanya Okta.

Keynal mengangguk.

“Emang udah disiapin Key?” tanya Boby.

“Udah tenang aja, kalian juga jangan lupa dateng,”

Semuanya mengangguk nurut.

~

Malamnya, Keynal meminjang ruang kesenian untuk mengetest Okta dan Andrew. Secara diam-diam tentunya. Maul dan Nobi meminjam kuncinya kepada penjaga kampus.

“Permisi,” ujar Okta dan Andrew. Ruang kesenian itu gelap, hanya ada lampu yang menyorot kepada Boby.

“Duduk,” ujar Boby dingin dan tajam.

Okta dan Andrew menelan ludah. Apakah ini akan seperti ospek-ospek dijaman sekarang?

Lampu menyala, terlihatlah dua buah kursi dan juga kanvas besar, mengarah kepada Boby.

Boby yang tadinya duduk di atas meja kayu berdiri, tangannya ia masukkan ke dalam sakunya.

“Ini final dari test pertama kalian,” ujar Boby. Okta dan Andrew duduk.

“Gue mau kalian menggambar model semirip mungkin, serealis mungkin!” tegas Boby.

“Hm, a.apakah menggambar kak Boby?” tanya Okta polos.

“No, kesenengan kalian ngegambar gue, kalian akan ngegambar,” Boby menjentikkan jarinya memberi kode.

Dua orang perempuan masuk ke dalam. Menggunakan pakaian yang sangat teramat sexy.

Kemudian keduanya memegang pundak Boby kanan kiri.

“Kalian harus menggambar mereka berdua,” ujar Boby.

Okta dan Andrew sebagai lelaki normal menelan ludah begitu melihat kedua perempuan yang memakai baju tidur. Kedua perempuan itu naik ke atas meja, Maul, Nobi, Nino dan Mario menyusun properti seperti buah-buahan, bantal dan lainnya.

“Siap?” tanya Boby.

Maul membentuk bulatan dengan ibu jari dan telunjuknya.

“Oke, dimulai dari sekarang,” ujar Boby.

Okta mengambil alat gambar yang sudah dipersiapkan di bawah kanvas.

Baik Okta maupun Andrew sangat tidak bisa berkonsentrasi pada awalnya. Karena, ish modelnya itu lho!

“Haah.. Kalo gini ceritanya mah,” keluh Okta.

“Haha, mikirnya ini untuk seni Ta,” ujar Andrew.

“Ngerti sih,” Okta manggut-manggut, ia melanjutkan gambarnya.

~

Setelah melewati ujian pertama dengan sukses berkeringat dingin, Okta dan Andrew mulai menjalani beberapa test selanjutnya, dari mulai harus menyanyikan lagu kepada beberapa mahasiswi di sini, kalo udah urusan nyanyi Okta lah yang paling cupu, pasalnya ia masih merasa suaranya belum sebagus Farish maupun Nabil, tapi toh ia sukses juga menyanyikan lagu ke 20 mahasiswi.

Andrew kalem aja, karena menurutnya itu sudah biasa, tantangan dari Maul dilewatinya dengan mudah.

Next test dari Azarel bersaudara, Okta dan Andrew diharuskan menembak 10 mahasiswi di hari yang sama, kemudian memutuskannya di hari yang sama juga.

Okta melongo saat membaca test favorit dari Azarel bersaudara ini. Andrew mengangguk paham, kemudian Andrew juga Okta-yang mau tidak mau menjalankan- melaksanakannya.

Sukses! Meski pada akhirnya Okta dan Andrew harus menerima lebih dari lima tamparan pada pipinya.

Nabil dan yang lainnya hanya tertawa melihat Okta yang terus-terusan memegang pipinya.

“Sok playboy lo!” ledek Nabil mengikuti gaya salah satu mahasiswi yang marah karena diputusi Okta.

“Tapi keren lho gerilya nya mereka,” uar Maul.

“Iya, Nabil mah kalah,” ujar Farish.

“Ih sorry ye, gue mah dikejer cewe bukan ngejer cewe,” ujar Nabil sok.

“Iya tapi kalo di deketin Sin..hmmpf..” Nabil langsung membungkam mulut Boby.

“Elaah ember banget mulut lo mangqi!” ujar Nabil panik.

Yang menyenangkan adalah test dari Mario dan Nino, karena mereka hanya menyuruh Okta juga Andrew mengikuti perlombaan Fotografi dan juga Cinematografi, di bantu dengan teman-teman satu timnya singkat cerita Okta mendapatkan juara satu dalam fotografi sedangkan Andrew menduduki peringkat kedua, dan pada cinematografi mereka berdua harus puas saat film mereka menangkring di urutan kedua.

“Not bad,” ujar Keynal kepada keduanya saat Okta dan Andrew menambah koleksi piala dari Red Camisa.

Test favorite Nobi adalah mereka berdua ditugaskan untuk membantu Nobi dalam pembuatan video klip single terbarunya. Ya bisa dibilang kalau Nobi adalah salah satu artis di Vierzig, yang namanya cukup terangkat saat ia mulai mengcover beberapa lagu.

“Thanks bro, salut gue,” ujar Nobi saat melihat hasilnya.

Okta dan Andrew mengangguk sembari tersenyum.

“Kita kaya dimanfaatin deh sama Kak Nobi,” ujar Okta yang melihat Nobi pergi menjauh dari keduanya sambil membawa satu buah kaset CD berisi hasil video clipnya.

“Haha emang,” ujar Andrew.

“Haaah..” mereka berdua menghela nafas bersamaan.

~

Setelah puas mengerjakan hampir semua test, tinggal test favorite dari Keynal.

Test yang sengaja Keynal sisakan dibagian terakhir.

Well, as you know , this group is about how to make you being playboy, not only artist,” ujar Keynal.

Okta dan Andrew menelan ludah, pikiran keduanya mulai ke mana-mana.

“Hmm,” Keynal tersenyum jahat. Ia melepas perekat yang menempel pada papan tulis, yang menutupi test terakhir itu.

Kiss 10 girls in two days

What!!?” pekik Okta dan Andrew.

Okta mulai berpikir kalau mereka semua yang ada di sini berarti..

“Eits selain gue ya, gue mah yang jadi korban dicium,” ujar Nabil pede.

Andrew menyipitkan matanya tidak percaya.

“Yee, seriuus kaga percaya lo?” ujar Nabil.

Keduanya menggeleng kompak.

“Huahaha,” Farish tertawa melihat reaksi polos Okta dan Andrew.

“Intinya, mulai besok kalian sudah bisa melakukannya, jadi malam ini tentukan targetnya,” uar Keynal.

Okta dan Andrew mengangguk pasrah. Kenudian keduanya keluar dari ruang Red Camisa.

“Hhh.. Bakal nerima berapa tamparan lagi kita,” ujar Okta lemas.

“Tapi kita bisa kan ya kalo nolak?” ujar Andrew.

“Hmm? Maksudnya? Kita nggak jadi anggota dong,” ujar Okta.

“Iya siih, tapi kan… Hhh,” Andrew menghembuskan nafas berat.

“Udah sampe sini Ndrew,” Okta menepuk pundak Andrew memberi semangat.

Esoknya..

Brak!!

Pintu salah satu bilik kamar mandi tertutup dengan kencang. Beruntung saat itu kegiatan perkuliahan sedang berlangsung.

“Mmh..” terdengar lenguhan dari dua insan yang kini sedang.. Berciuman?

“Ka..kakh..” ujar si cowo yang mulai kewalahan, ternyata lawannya jauh lebih nafsu darinya.

“Hmmh,” lagi-lagi si cewe menutup mulut si cowo dengan bibirnya.

Setelah kurang lebih enam menit keduanya keluar dari kamar mandi.

“Thanks kak,” ujar si cowo.

“Anytime dear,” ujarnya sambil mengerling nakal.

Setelah si cewe pergi, si cowo masuk lagi ke dalam kamar mandi.

“Dapet kaga Ta?”

“Gila Ndrew, ganas banget tuh kakak tingkat,” ujar Okta.

“Iya anjir, salah target gue kayaknya,” ujar Andrew.

“Tpi dengan ini lo udah selesai, udah 10 cewe dalan sehari,” ujar Okta.

“Iya dong, nggak perlu modal lagi kaya lu,” ujar Andrew yang melihat foto-foto Okta yang berhasil Andrew jepret secara diam-diam.

Bedanya, Andrew selalu berciuman di lingkungan sekolah, dan dengan ‘ganas’. Beda dengan okta yang lebih memilih ‘ketidaksengajaan’ yang romantis.

Seperti Okta mengajak teman satu angkatannya mencari buku di perpus. Saat sibuk mencari buku, Okta sengaja memanggil teman perempuannya dan memposisikan dirinya agar tercium saat temannya menoleh.

“Lo satu orang lagi nih Ta,” ujar Andrew.

“Hmm, iya nanti malem dateng ke Cafe ShiHachi ya Ndrew, gue udah mesen tempat di sana,” ujar Okta.

“Haha sok romantis lo,” ujar Andrew.

“Biarin ah, gue punya cara sendiri,” ujar Okta.

Malamnya..

Seerti yang sudah di rencanakan. Okta terlihat sedang duduk berduaa dengan gadis cantik nan seksi.

“Hmm, tumben nih ngajakin kakak makan malem,”

“Hehe, i.iya kak, abis aku kan,”

“Aku apa hayoo? Kok jadi grogi gitu siih?”

“Ng.. Iya a.abis kak Nadse cantik banget malem ini,” ujar Okta.

“Hihi bisa aja,” perempuan yang dipannggil Nadse itu mencubit pipi Okta gemas.

“Nuuh.. Dicubit,” Okta memanyunkan bibirnya sambil mengelus pipinya.

“Hihi maaf deh, abis kamu gemesin,” ujar Nadse.

Setelah asik makan malem, dan sedikit berbincang ini itu. Mereka memutuskan untuk pulang.

Okta mengirimkan pesan kepada Andrew sebelumnya.

“Di mobil Ndrew,”

Begitu sampai di dalam mobil.

Okta membukakan pintu untuk Nadse. Meski berwajah anak kecil tapi malam itu Okta terlihat gentle.

“Hmm, aku pakein ya kak seat belt nya,” ujar Okta.

Nadse mengangguk membiarkan pria itu memakaikan sabuk pengamannya.

Selesai memasangkan sabuk pengaman, Okta sengaja memperlambat gerakannya. Tersenyum seakan puas sudah hisa memasangkan sabuk pengaman Nadse.

“Thanks Ta,” ujar Nadse.

“Iya sama-sam..mh..” Okta yang menoleh saat wajah mereka sejajar langsung menerima ciuman pada bibirnya.

Okta memejamkan matanya, membiarkan Nadse bermain dengan bibirnya.

Tak lama, karena Nadse melepaskan bibir Okta dan segurat rona merah muncul di pipi Nadse.

Okta tersenyum (sok) polos, ia kemudian menjalankan mobilnya, mengantarkan Nadse pulang.

Andrew tersenyum melihat hasil jepretannya.

“Bisa aja dah ah,” ujar Andrew sambil terkekeh geli.

~

–VIERZIGUARDS-
COMPETITIONS!!
NEXT MONTH!!
AREA F!

 

Pengumuman itu terpajang pada mading kampus. Keynal cs tersenyum melihatnya.

“Akhirnya acara tahunan,” ujar Maul.

“Inilah saatnya,” Mario mengepalkan tangannya.

Keynal tersenyum.

“Ke base,” Keynal berbalik badan dari mading, memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Diikuti teman-teman satu kelompoknya.

Tak tertinggal juga Okta dan Andrew yang merupakan anggota baru mereka.

“Jadi apa rencananya Key?” tanya Farish.

“Hm, kita tunggu Surat dari panitia pelaksananya dulu, baru kita akan tahu apa saja yang harus kita siapkan,” ujar Keynal.

“Kak, Vierziguards itu apa?” tanya Okta.

“Lha? Ni anak belum tau?” ujar Maul.

Okta menggeleng, “pembaca juga belum tau kali kak, makanya aku wakilin nanya,” Maul menyipitkan matanya.

“Hh, baiklah, jadi Vierziguards itu sebuah kompetisi yang diadakan rutin tiap tahunnya. Kompetisi yang mengumpulkan semua artist di Vierzig ini menjadi satu,”

“Merebutkan piala bergengsi, yang menjadi simbol bahwa itu adalah tim terkuat dan..” Maul menahan kalimatnya.

“Dan gue aus,” Maul ngeloyong pergi menuju kulkas.

“Si kampret,” umpat Nobi.

“Ya intinya perlombaan antar mahasiswa,” ujar Nabil.

Okta manggut manggut paham..

“Dan kita akan berpartisipasi?” tanya Okta.

Semuanya mengangguk.

“Emang pemenang sebelumnya siapa?” tanya Andrew.

“Bonita,”

Andrew dan Okta menautkan alisnya.

“Ya, mereka bukan lawan yang bisa diremehkan. Anggota mereka sama komplitnya dengan kita, meski pada multitalented mereka juga punya keahlian yang spesifik,” ujar Keynal.

“Terutama Ve, meski pendiam.. Jangan remehkan dia,” ujar Keynal.

Saat itu di ruang Bonita Girls.

“As usual, kita akan dan harus memenangkan pertandingan tahunan ini! Posisi kita nggak boleh kegeser apalagi sama… Para cowo bodoh itu!” ujar Melody.

Semuanya mengangguk.

“Buat kalian anggota baru juga, jangan lengah! Jangan berhubungan dengan mereka dari Red Camisa,” ujar Melody kepada Elaine dan Vienny.

~

“Makan apa yaa..” Nabil sedang memilih-milih makanan di kantin.

“Buru elah, laper gue,” ujar Mario.

“Tau nih, mending makannya banyak,” celetuk Nobi.

“Bawel ah,” Nabil akhirnya menambatkan hatinya kepada Mrs. Spa.. Spageti maksudnya.

Setelah memilih-milih, mereka bertiga duduk di kursi kantin, yang kebetulan memang tinggal satu-satunya.

Saat sedang menikmati makan siangnya, Mario melihat beberapa perempuan sedang celingukan mencari tempat duduk.

“Ay, sini aja,” ujar Mario sambil melambai. Nabil dan Nobi tidak terlalu memperhatikan Mario karena masih asik dengan santapan mereka.

Ayana dan kedua temannya saling pandang, mereka ingat peraturan dari Melody.. Tapi… Kalo begini?

Akhirnya mau tidak mau mereka menghampiri meja Mario cs. Mario pindah di sebelah Nabil. Agar mereka bertiga bisa duduk.

“Cuma bertiga Ay? Biasanya rombongan kaya mau demo,”

“Huuh udah deh, aku cuma mau makan siang nggak mau ribut,”

“Yee yang ngajak ribut tuh siapa?” ujar Mario.

“Aah.. Kenyaang..” Nabil mengusap perutnya, kemudian mengambil minumnya.

Begitu sadar siapa yang di depannya ia tersedak.

“Uhuk!! Ukh!!”

“Yee ayam, pelan-pelan napah,” ujar Nobi smbil menepuk punggung Nabil.

“Ko.kok mereka.. Uhuk.. Ada di sini?” tanya Nabil sambil menunjuk orang yang ada di depannya.

“Dari tadi, kamunya aja sibuk makan, maaf ya aku Sinka sama Gaby nimbrung di sini,” ujar Ayana.

“Nggak apa kok Ay,” ujar Mario.

“Aku nggak nanya kamu,” ketus Ayana.

Nabil masih menatap perempuan yang ada di depannnya ini.

“Gu.gue duluan ya,” ujar Nabil hendak bangkit.

“Eeh sabar bang, gue belum kelar,” ujar Mario menaham Nabil, mau tidak mau Nabil duduk kembali.

Nabil berusaha tenang, tapi sesekali ia melirik gadis di depannya ini.

‘Duh, mukanya makin lucu kalo lagi makan,’ batin Nabil.

“Kamu kenapa? Mau?” tanya Sinka sambil menyodorkan sushi nya.

“E.eh.. Ng.nggak nggak, kamu aja yang makan,”

“Kamu?” Nobi dan Mario menatap Nabil heran.

“Tumbem seorang Nabil ngomong ‘kamu’,” ujar Gaby tanpa mengalihkan pandangan dari majalah yang ia baca.

Nabil menatap Gaby.

‘Anak ini!! Awas aja,’ batin Nabil geram.

“Udah ah gue duluan, gue tunggu di base aja Mar,” ujar Nabil, ia langsung beranjak dari duduknya.

“Tuh anak napa sih?” tanya Mario. Nobi hanya mengedikkan bahunya.

~

Di lain tempat di taman Vierzig.

“Mulut tuh dijaga!” teriak perempuan sambil menunjuk lawan bicaranya.

“Eh bangke! Lo duluan yang jatohin hape gue! Kenapa jadi lo yang sewot sih!?”

“Ya kan aku udah bilang nggak sengaja! Kamu budek!?”

“Ka.kak Maul, udah napah, jangan diladenin,”

“Lo diem No! Cewe kaya gini kalo nggak diajarin kaga bakal ngerti!” bentak Maul.

“Apa maksud kamu cewek kaya gini!!”

“Shan, udah ah,”

“Diem Gre!”

Gre menelan ludah begitu dibentak Shani.

“Ya cewek kaya lo! Yang kaga pernah diajarin sopan santun sama orang tuanya!”

PLAK

Shani menampar Maul. Maul ditampar Shani. Shani ditampar Maul. Eh… Kebolak.

Maul memegang pipinya yang kini memerah.

Ia menunduk, Nino melihat ada segurat sesal atas apa yang telah ia ucapkan tadi. Tanpa bermaksud membela, Nino tahu, Maul hanya tidak memikirkan apa yang akan ia ucapkan dua kali.

Nino yang melihat itu menghela nafas panjang, ia sudah tau tabiat kaka tingkatnya itu. Dan, sudah terbiasa jika Maul asal ceplos kaya tadi, bahkan terkadang lebih parah dari itu.

Tapi tetap saja akan beda jika lawan bicaranya adalah makhlul Tuhan yang paling sensitif.. Ya perempuan..

How dare you are,” Shani berkata lirih. Hatinya seperti tergores.

Kemudian perlahan Shani meninggalkan mereka semua. Tanpa berkata apa-apa lagi.

Maul masih terdiam. Ya serangan psikis memang lebih bahaya ketimbang fisik.

“Kak,” Nino memegang pundak Maul.

“Bangke, sakit banget,” ujar Maul sambil mengelus pipinya.

Eh?

“Kak lo..”

“Iya paham, gue salah. Tapi… Ini sakit..” Maul menunjuk pipinya.

Nino menggeleng, tidak mengerti lagi dengan apa yang dipikirkan kakak tingkatnya ini.

“Parah lo kak,”

“Hehe, bawel, iya nanti gue minta maaf,”

Nino dan Maul pergi dari situ, Maul melihat ada goresan pada bagian belakang hpnya. Ia tersenyum penuh arti.

~

“Kenapa kalian tidak menyerah saja,”

“Maaf bukan kebiasaan kami menerima kekalahan,”

“Tapi kalian tidak punya kesempatan lho,”

“Kalo belum di coba ya tidak akan tahu,”

Angin berhembus melalui ke enam mahasiswa Vierzig ini. Ke enam mahasiswa yang paling digandrungi oleh mahasiswa lainnya.

Yang selalu disebut sebagai ‘ace‘ dari Vierzig University.

“Walau kami perempuan, kami tidak akan kalah dari kalian, no, never ever!”

“Dan, walau kami laki-laki, kami tidak akan pernah menahan diri, kami tidak akan pernah meremehkan lawan kami!”

PRIIIIT!!!

Pertandingan 3 on 3 dimulai. Bonita Girl vs Red Camisa!

“Mereka jago basket ya?” tanya Andrew.

“Jangan ngeremehin senior kami!” ujar Elaine yang duduk di seberang kiri Andrew. Di kursi penonton lainnya.

“Yap! There is no chance that your team can match up with us,” ujar Vienny.

“Hmm, tapi lihat itu,” Okta menunjuk ke arah lapangan.

Keynal melakukan lay down, eh lay up dengan manis. Dan si bundar pun masuk ke dalam ring.

2 : 0

“Yosh!” Keynal hi touch dengan team mates nya.

Okta tersenyum kepada Vienny.

“Ayo!”

Melody mengoper bolanya kepada Ve yang bebas di sudut kiri, dengan anggunnya ia berjalan mendekati Keynal yang menjaganya tidak jauh dari ring. Ve melompat, shot.. Bukan itu sebuah operan, Shania sudah menunggunya di sana.

Dengan akurat Shania melempar bola itu, dan.. Yap! Masuk dengan mulus.

2 : 2

Your turn Bob,” Keynal mengoper bola kepada Boby. Boby yang lincah menggiring bola itu dengan santai. Ve dan Melody dilewatinya dengan mudah.

Boby hendak melakukan shot dari arah samping.

Namun sayang, Shania mem-block dengan sempurna. Bola bebas menuju tengah.

Boby tersenyum, Shania yang melihat senyum Bobu terheran. Ia melirik ke arah bola, dan bola itu sudah di tangan Farish.

Farish melompat!

3 point!

5 : 2

~

“Hihi, lain kali kami akan terima tantangan kalian lagi,” ujar Keynal.

Melody menatap papan scores todak percaya.

33 : 16

Kekalahan yang cukup menyebalkan.

“Kalau kita kalah di sini, jangan sampai di Vierziguards juga,” ujar Shania sambil mengelap peluhnya.

Ve mengangguk setuju.

Di ruangan Red Camisa.

“Kalian dari mana?” tanya Nabil saat Keynal dan lainnya masuk ke dalam ruangan.

“Abis 3 on 3 lawan Bonita,” ujar Keynal.

“Menang?”

“Jelaas…” jawab Boby sambil mengeluarkan botol minum dari kulkas.

“Lawan 3 ace Bonita?” tanya Nobi.

Farish mengangguk mewakili yang lainnya.

“Jadi gimana?” tanya Mario.

“Seperti dugaan gue, mereka adalah lawan yang patut diperhitungkan,” ujar Keynal.

“Jangan pernah meremehkan mereka,”

Tok Tok Tok

Okta yang paling dekat dengan pintu membukakan pintunya.

“Siapa?” tanya Okta begitu melihat seseorang yang ada di depannya.

“Saya dari komite Vierzig, ingin memberikan surat Vierziguards untuk Red Camisa,”

“Ooh thankyu,” Okta menerima surat itu.

Kemudian ia bergabung kembali dengan seniornya.

“Kak, Vierziguards,” ujar Okta sambil menyerahkan surat itu ke Keynal.

Keynal tersenyum, “Akhirnya,” ujarnya semangat.

Dibukanya surat itu.

“Gimana?” tanya Maul.

Well, we have a lot thing to do!” ujar Keynal

-TBC-

 

-Falah Azhari-

Iklan

2 tanggapan untuk “Roulette Love Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s