aku hanya bisa melihat senyuman mu dari kejauhan tapi aku harap kamu juga suka kepada ku. Part 4 : gadis pendiam itu tidaklah rapuh.

1a

Setelah penampilan Viny di pensi sekolah semua orang tahu betapa indah nya suara Viny,  Jeremy tak memberitahu apapun tentang Serrica karena dia hanya ingin orang orang tahu betapa berbakat nya Viny.

Semua berjalan dengan baik, bahkan Yudha meminta maaf sudah memukul Jeremy bukan karena diperintahkan Ve, tapi karena dia sadar jika Jeremy tak berniat buruk dan dia sudah salah paham.

Jeremy tahu itu hal yang benar untuk dilakukan karena sekarang dia sudah bisa lebih dekat dengan Yuri dan teman teman nya, dia tak lagi hanya memandangi mereka dari jauh sekarang dia sudah sering bergabung dengan obrolan mereka, meski dia tak terlalu banyak bicara karena lebih senang memandangi Yuri.

Sekarang Jeremy sedang berada di kamar nya, memikirkan wajah Yuri yang begitu dekat dengan nya. Dia merasa jarak yang selama ini terbentang antara dia  dan Yuri mulai menghilang, meski sedikit dia merasa lebih dekat dengan orang yang sudah disukai nya dari dulu.

Lalu masuklah Kak Naomi dengan wajah serius, Jeremy melirik jam yang ada dilayar komputer nya dan dia merasa aneh melihat Kak Naomi masuk ke kamar nya selarut ini.

“Ada apa Kak. ?” tanya Jeremy.

Kak Naomi lalu mendekatkan wajah lalu berbisik.

“Beliin pembalut,” bisik Kak Naomi.

“APA KAK BELI PEMBALUT,” ucap Jeremy yang terkejut mendengar ucapan Kak Naomi.

“Sttttt, jangan keras keras udah malam,”

“Tapi Kak, nggak biasa nya nyuruh aku beli pembalut untuk Kakak,”

“Tadi kakak sibuk jadi lupa, lagian ini udah malam kamu mau Kakak mu yang cantik ini kenapa kenapa. ?”

“Ya enggak lah ya udah aku beliin,”

Jeremy pun pergi menuju salah satu minimarket yang berada yang di dekat rumah nya, untung nya minimarket itu dalam keadaan sepi dia tak bisa membayangkan membayar sebungkus pembalut di kasir dan dilihat begitu banyak orang.

Dia juga mengambil beberapa cemilan dan sebotol besar cola untuk menemani nya bermain games dirumah, dibawa nya semua nya ke kasir untuk dibayar tapi yang berada di kasir adalah orang baru ditemui nya tadi siang.

“Ve. ?” tanya Jeremy yang bingung.

Ve juga nampak bingung melihat Jeremy, dia langsung melirik keadaan minimarket lalu keluar dari meja kasir menghampiri Jeremy.

“Tolong rahasiakan ini,” pinta Ve.

“Tunggu apakah kau kerja disini, bukankah kerja sampingan itu dilarang oleh sekolah,”

“Iya aku tahu, tapi aku harus bekerja demi biaya sekolah ku dan adik ku,” Ucap Ve.

“Apakah kedua orang tua mu…,”

Jeremy menghentikan ucapan nya dia sadar itu hal yang tak seharus nya diucapkan, dia melirik Ve dia takut dia sudah menyakiti perasaan Ve dengan mengungkit luka lama yang dimiliki nya.

“Nggak apa apa, aku sudah bisa terima kepergiaan mereka jadi nggak apa apa kok,” ucap Ve.

“Ve aku janji akan merahasiakan ini, jadi kamu nggak perlu khawatir,”

“Makasih ya, kalau gitu biar aku hitung belanjaan kamu,”

“Nggak gratis ya,”

“yee enak aja,”

Setelah membayar semua belanjaan nya Jeremy pulang, tapi sepanjang jalan dia terus memikirkan Ve yang ternyata bekerja untuk menghidupi dia dan adik nya. Hal lain yang menganggu pikiran Jeremy adalah bagaimana jika seseorang dari sekolah nya tahu dan melaporkan Ve, sekolah nya melarang siswa bekerja dengan alasan akan menganggu konsentrasi mereka dalam belajar.

Ve sendiri adalah seorang siswi berprestasi, Ve selalu mendapat nilai yang bagus, dia juga menjadi kebanggaan sekolah dengan menjadi wakil sekolah dalam berbagai perlombaan. Jeremy tak pernah membayangkan jika siswi berprestasi seperti Ve juga bekerja, tapi dia sudah berjanji akan merahasiakan ini semua.

Keesokan hari nya

Kelas hari ini masih sepi, hanya ada sedikit siswa saat Jeremy datang dan salah satu nya adalah Ve. Jeremy meletakan tas nya di bangku nya dan menghampiri Ve, Ve sedang membaca buku pelajaran saat Jeremy datang ke meja nya.

“Lagi belajar apa. ?” tanya Jeremy.

“Ini biologi, kamu udah belajar. ?”

“Bab reproduksi kan ? udah semalam habis main game aku belajar,” jawab Jeremy.

“Jangan banyak begadang nggak baik buat kesehatan,”

“Harus nya kan aku yang bilang begitu,”

Ve sadar jika Jeremy sedang menyindir nya, dia pun melirik Jeremy dan dia tak melihat jika Jeremy berniat membocorkan rahasia nya, dia hanya ingin bercanda dengan nya.

Lalu rombongan Yuri yang lain datang, Via sedang menceritakan sesuatu kepada Viny yang hanya didengarkan saja oleh Viny. Nat dan Yuri sedang mendiskusikan sesuatu yang berbeda sedangkan Yudha berjalan mengikuti seperti seekor anjing penjaga.

“Wah pagi pagi udah pacaran aja nih,” ucap Via.

“Yee enak aja, ini Cuma lagi bahas biologi nanti kan ujian,” jawab Ve.

“Nanti ujian. ?” tanya Yudha,

“Iya pasti kamu nggak belajar,” ucap Nat.

“Dia mana pernah belajar paling sibuk main PS,” sambung Via.

“Misi bro,” ucap Yudha saat menarik Jeremy agar dia bisa berdiri disebelah Ve.

“Ve nanti bantuin ujian biologi ya. ?” pinta Yudha memelas.

Bel pelajaran pun berbunyi, wajah Yudha berubah panik sementara Ve berpura pura tidak mendengar permintaan Yudha. Semua orang sudah duduk ditempat nya masing masing, sementara Yudha masih terus membujuk Ve.

“Semua nya duduk kita akan mulai ujian nya,” ucap Pak Guru yang baru datang.

Yudha tak mendengar ucapan Pak Guru, dia juga tak sadar jika Pak Guru sudah masuk kelas.

“Yud, duduk,” ucap Via sambil menarik tangan Yudha.

“Tunggu dulu, ve ayo lah satu soal aja,” ucap Yudha masih mencoba membujuk Ve.

Pak Guru yang menyadari jika Yudha belum duduk saat bel sudah berbunyi pun mendatangi nya, semua orang hanya dia saat Pak Guru berjalan dan akhir nya berdiri dibelakang Yudha.

“Yudha kenapa kamu tidak duduk ujian sudah mau dimulai,” ucap Pak Guru.

“Nanti dulu ini lagi usaha,” jawab Yudha yang mengira yang berbicara dibelakang nya adalah orang lain.

“Yudha duduk,” perintah Pak Guru.

“NANTI DULU…….”

Yudha tak sanggup menyelesaikan perkataan nya saat melihat Pak Guru lah yang berdiri dibelakang nya, dia hanya menunduk tak berani menatap wajah Pak Guru.

“Kenapa kamu belum duduk. ?” tanya Pak Guru.

“Itu Pak saya tadi…hmmm…tadi…,”

“Iya. ?”

“Maaf Pak saya akan segara duduk, maaf sudah menganggu pelajaran,” Ucap Yudha sambil menunduk meminta maaf.

“Baiklah kamu segera duduk karena ujian nya akan segera saya mulai,” ucap Pak Guru.

Yudha buru buru duduk dan menyiapkan alat tulis nya, sementara pak Guru sudah kembali ke meja nya.

“Ve bisa kamu bagikan lembar soal nya,” perintah Pak Guru.

“Baik pak,”

Setelah Ve selesai membagikan soal ujian pun dimulai, semua orang berusaha mengerjakan soal sementara Yudha nampak seperti sedang berperang dengan soal soal nya. Ujian berlangsung sampai istirahat, dan Yudha nampak nya cukup sukses mengerjakan ujian nya.

Banyak siswa yang pergi ke kantin untuk makan siang, sementara Jeremy dan yang lain makan siang bersama di kelas. Mereka menyatukan meja dan saling berbagi makan siang.

Natalia membawa banyak sekali makanan, sementara Yudha hanya membawa beberapa buah apel. Jeremy suka dengan ide ini, karena Yuri sekarang duduk di depan nya membuat nya bisa memandangi Yuri tanpa perlu memikirkan alasan apapun.

“Yudha duduk,” ucap Via menirukan ucapan Pak Guru.

“Maaf pak saya akan segera duduk,” sambung Nat dengan ekspresi wajah yang sengaja dibuat memelas.

“Udah dong, jangan dibahas lagi,” protes Yudha yang sadar mereka berdua sedang mengejek nya.

“Lagian disuruh duduk  nggak mau,” ucap Via sambil meminum jus milik nya.

“Liat nggak tadi muka nya jelek banget,” ucap Yuri ikut ikutan.

“Yah Yur jangan ikut ikutan lah, udah nih makan udang aja,” ucap Yudha seraya menyodorkan udang ke mulut Yuri.

“WEI, udang ku itu,” protes Nat.

“Biarin, lagian masih banyak juga yang lain,” Jawab Yudha.

“Tapi kan aku mau udang,” ucap Nat yang masih tak terima udang nya di ambil tiba tiba.

“Ini ambil punya aku aja,” ucap Jeremy sambil menaruh udang milik nya ke piring Nat.

Semua orang diam melihat apa yang dilakukan Jeremy, terlebih Nat karena sebenarnya dia tak terlalu ingin makan udang. Dia hanya berpura pura protes karena ingin bercanda dengan Yudha, semua orang kecuali Jeremy dimeja itu tahu itu.

“Makasih Jer,” ucap Nat memecah keheningan.

“Ayo lanjut makan,” ajak Jeremy yang bingung melihat semua orang yang diam.

Yuri mengambil sepotong apel yang tadi dipotong oleh Yudha, butuh waktu bagi orang orang di meja itu untuk menghilangkan kecangungan mereka. Nat berusaha memakan udang yang diberikan oleh Jeremy terakhir, meski begitu makan siang bersama mereka berakhir dengan baik.

Sepulang sekolah

Jeremy mendapat telpon dari Kak sinka untuk datang ke restoran nya, Jeremy memang kadang datang berkunjung untuk mendapat makan gratis. Jika Kak Sinka meminta nya datang biasa nya untuk mencoba menu baru, meski kadang rasa nya kacau tapi menurut Kak Sinka jika menu itu disukai oleh Jeremy pasti juga disukai para pengunjung.

Baka gaijin, itulah nama restoran bergaya Jepang milik Kak Sinka, biasa nya buka pada sore hingga malam jadi sekarang restoran masih sepi dan para pegawai sedang bersiap siap.

“Siang mz…,” sapa salah satu pegawai saat melihat Jeremy.

Rata rata pegawai sudah mengenal Jeremy, meski begitu Jeremy selalu berusaha ramah kepada mereka semua. Ini restoran Kak Sinka bukan restoran ku jadi aku tak berhak bertindak seperti pemilik restoran, itu yang selalu Jeremy ingat saat berada disini dia hanya lah tamu dari pemilik restoran.

“Makasih ya udah mau datang,” ucap Kak Sinka menyapa Jeremy.

“Nggak aku yang makasih, kan aku mau dapat makan gratis,”

“Ya udah kamu duduk dulu Kakak mau siapin menu baru Kakak cobain ya,”

Kak Sinka kembali ke dapur, sementara Jeremy hanya duduk menunggu. Beberapa menit kemudian datanglah Kak Sinka membawa sebuah mangkuk, saat mangkuk itu diletakan diatas meja Jeremy baru tahu kalau itu adalah mie.

“Ini menu baru Kakak, ramen green tea,” ucap Kak Sinka menjelaskan.

“Ramen green tea ? bukan nya green tea minuman. ?” tanya Jeremy yang bingung.

“Ini inovasi baru dari restoran Kakak jadi kamu coba dulu,”

“ok lah Kak demi makan gratis,”

Awal nya Jeremy ragu karena kuah mie yang berwarna hijau, tapi karena wajah Kak Sinka yang sudah penuh harap membuat Jeremy tak sanggup menolak. Disendok nya mie yang sudah berwarna hijau terendam kuah nya, lalu perlahan lahan coba dimakan nya mie itu.

Saat mie itu masuk ke mulut nya Jeremy sudah merasa ingin muntah, mie itu terasa pahit dan sangat sulit untuk menelan mie itu, kuah nya juga begitu kental dengan rasa pahit yang begitu kuat, membuat Jeremy mati matian mencoba menelan sesendok mie itu.

“Gimana. ?” tanya Kak Sinka.

Jeremy tak sanggup bicara mata nya terasa perih karena mie yang menganjal di tengorokan nya, diraih nya segelas air yang ada diatas meja dan dengan bantuan air akhir nya dia bisa menelan mie itu.

“Pahit banget,” jawab Jeremy.

“Ahhh gagal ya, maaf ya nyuruh kamu makan mie nggak enak,” ucap Kak Sinka kecewa.

“Mie nya enak, lembut Cuma kuah nya aja yang pahit kalo ganti kuah pasti enak,”

“Serius. ?”

“Iya,”

“Kalo kamu yang bilang sih udah pasti, ya udah makasih udah mau bantuin Kakak sebagai bayaran nya kalo boleh makan gratis,”

“Nah kalo itu pasti enak,”

“Ya udah Kakak mau ke dapur dulu,”

Kak Sinka membawa kembali mangkuk mie nya kembali ke dapur, dan Jeremy pun memesan menu favorite nya dari restoran ini sepiring dango. Meski dia bisa memesan apapun dari menu, tapi dia sangat menyukai dango karena Kak Sinka sendirilah yang membuat nya.

“Ini pesanan nya….,”

“Ve ? kamu kerja disini juga ?”

Jadi Ve juga bekerja direstoran Kak Sinka , bukankah dia sudah bekerja di minimarket ? apa yang sebenarnya terjadi dengan Ve, sampai selanjutnya dibagian lain dari potongan kisah ini, aku akan menunggu mu.

 

oleh:chris

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s