Fiksi dan Fakta part 42

3 minggu kemudian, semuanya perlahan kembali berubah.

“Hei!” Jaka menepuk pundak Michelle yang sedang terdiam di ruang tamu.

“Ih, ngagetin aja nih..” Keluhnya.

“Udah H+1 nih, saatnya kumpul lagi.” Jaka mencubit pipi Michelle.

“Ih, sakit. Katanya janji mau beliin ice cream lagi.” Michelle memanyunkan bibirnya.

“Kamu sendiri? katanya janji bakal ada kejutan dalam waktu dekat. Tapi mana? Hhhhhh..” Jaka berlalu begitu saja.

Saat Jaka sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Fuuto.
“Ting-Tong!” Bel rumah dibunyikan

“Michelle! Tolong!” Teriak Jaka pada Michelle.

“Ga ah, buka sendiri!”

“Ayolah! Bibi kan pulang kampung!” Balas Jaka lagi.

“Ga! Sana buka sendiri!” Balas Michelle judes.

Jaka menyerah. Dengan kesalnya, Jaka turun dan membukakan pintu.

“Dasar kamu, gitu aja ngamb-“

“HAH?!” Mata Jaka membulat. Mulutnya tak bisa menutup.

“Hahaha..” Orang yang berdiri menghadapnya itu tertawa geli melihat ekspresi Jaka.

“Ka..kamu serius disini?”

“Iyalah, masa hologram. Wkwkwk..” Orang yang bernama lengkap Jessica Veranda itu masih menatap Jaka geli.

“Si-silahkan masuk..” Jaka membawakan sesuatu yang Ve bawa.

“Gausah repot-repot, Ve.” Ucap Jaka.

“Ah, cuma sedikit kok.”

“Ve!!” Teriak Michelle yang keluar dari dapur.

Mereka berpelukan.

“Berpelukan!!” Mereka bertiga berpelukan seperti teletubbies *abaikan

“Tuh, katanya nungguin Ve. Sana ajak
ngobrol!” Ucap Michelle menyenggol bahu Jaka.

“Eh? Apaan sih kamu?-_-” Jaka malas.

“Lah.. Katanya nyariin. Ve udah bela-belain kesini tuh.” Ucap Michelle lagi.

“Maaf nih, awalnya mau kesini 2 minggu yang lalu. Tapi gajadi.” Ve tidak enak.

“Iya Ve. Hampir tiap hari Razaqa nanyain Ve kapan ke Bandung. Hahaha..” Jaka terus menatap tajam kearah Michelle.

Tanpa Jaka sadari, ucapan-ucapan Michelle buat rona merah dikedua pipi Ve.

“Kamu nginep dimana, Ve?” Tanya Jaka.
“Kayanya di hotel aja ni-“

“Disini aja!!!” Potong Michelle.

“Ah, jangan. Sekarang aja udah ngerepotin kalian..” Tolak Ve halus.

“Engga ko, engga! Iya kan, Raz?” Michelle mencari dukungan.

Jaka terlihat berpikir.

“Entah, tapi banyak kamar kosong kok. Orangtuaku ke Bogor.” Jaka mengangkat kedua bahunya.

“Iya banyak! Kamu disni ya ya? please..!” Akhirnya, Ve menyetujui ajakan Michelle.

Jaka pun membantu membawakan tas Ve.

“Aku pamit ke rumah temen dulu ya..”
Jaka berpamitan.

“Ihh, masa kami ditinggal!” Keluh Michelle.

“Yaudah-_- aku anter ke mall nih, nanti aku jemput lagi deh..”

“Yeay! Ayo, Ve!” Michelle menarik tangan Ve.

“Kamu kaya anak kecil tau!” Ejek Jaka diikuti senyuman dari Ve.

“Sebut aja anak kecil sekali lagi. Aku gigit kamu!” Ancam Michelle membuat Jaka dan Ve tertawa.

*Skip

“Joey, gue udah deket nih.” Ucap Fuuto pada Joey.

“Sip Fuu. Semuanya udah balik lagi.
Tinggal Sagara yang masih di Jakarta.”

“Ah, coba barengan.”

“Dia bawa mobil, Fuu.”

“Mobil siapa?”

“Entah, mungkin punya keluarganya.” Pikir Joey.

“Kemarin liat berita di TV?” Tanya Fuuto.

“Ofcourse, Fuu. Udah 95% nih..” Setelah itu, panggilan pun selesai.

Joey bergerak menuju taman yang tak jauh dari rumahnya.

“Oy!!!” Segerombolan anak SMA yang kira-kira 20an orang berteriak kepada Joey.
“F*CK!!!” Joey berlari melihat senjata-senjata yang mereka bawa.

Joey menelpon Dobby, namun tak ada jawaban. Ia beralih ke Zoski.

“KAMI KESANA!!” Teriak Zoski dari seberang.

Joey berhasil masuk ke kawasan rumahnya. Pagar rumahnya pun dilompati begitu saja.

“Oy! Dasar penjajah! Keluar lo!” Teriak salah satu dari mereka yang sepertinya mengetuai yang lainnya.

“Mereka dari Bina Karya!” Joey melihat seragam yang mereka kenakan.

Entah bagaimana, pasukan pun kembali bertambah. Halaman rumah Joey dipenuhi mereka semua.
Terlihat ada 5 orang yang hendak membuka garasi.
“Hey!” Joey membuka pintu depan.

“Gue punya ini!” Joey menunjukkan bom molotov yang ia miliki.

“Lu sentuh barang gue.. Lu semua mati!” Ancam Joey.

Mendengar nada bicara Joey, mereka tampak berpikir dua kali.

“Alah!! Ayo kita se-“

“Tit-tit!” Bunyi klakson dari luar hentikan ucapan sang provokator.

“Butuh tumpangan bro?” Tanya Zoski yang memegang stick golf.

“SERANG!!” Anak-anak dari sekolah swasta itu menyerang keluar.
Joey segera berlari dan mengalahkan nyaris 15 orang sekaligus.

Didepan, Zoski, Karel, Andy, Jerry, dan teman-teman mereka yang tiap orang kumpulkan selama 3 minggu yang totalnya sekitar 30 orang.

“Yaaaa!!” Pukulan telak dari Andy ke dagu seorang murid Bina Karya menandakan perlawanan SMA tersebut selesai.

Siswa-siswa tadi pun dapat dikalahkan dengan sangat mudah dan cepat.

“Oy, Lu! Sini!” Zoski menyeret sang provokator.

“Hey! Siapa yang nyuruh kalian?!” Joey memulai.

“K*ntol lu! Sok jagoan, dasar pen-”
‘BUGG!” Joey menonjoknya.

“Jawab! Siapa yang nyuruh kalian kesini!!” Desak Joey.

“Kalian yang nantang kami!!!” Tegasnya.

“Hah? Kalian siapa?” Semuanya kebingungan.

“Kemarin, ada surat dari Joello kalo gasalah. Isinya nantang-nantangin kami..”

“Joello itu gue. Gue gapernah nulis gituan.” Setelah itu, Joey menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kali ini.

Inti dari penyerangan SMA Bina Karya itu karena surat palsu yang mengatasnamakan Joey. Surat itu berisi tentang ajakan sparring dengan kalimat yang memprovokasi. Blok
Fuuto seolah-olah ingin melakukan persiapan terlebih dahulu.

Kau tau? Ini sialan!

*Skip

• Ratu Vienny’s POV

Pagi ini, Aku meminta Mike menemaniku ke salah satu toko buku langganan kami.

Setelah beberapa jam, Mike mengajakku makan siang terlebih dahulu.

“Yok, kita makan dulu.” Tiba-tiba, Mike meraih tanganku begitu saja.

Aku sangat terkejut karenanya.

“Udah, ayo?” Ajaknya lagi yang tentu saja membuat lamunan singkatku
pecah begitu saja.

Setelah meletakkan buku yang kubaca tadi, Mike langsung menarik tanganku begitu saja.

Perasaan yang kacau. Dalam hati, kuingin ucapkan kata-kata manis kepadanya. Namun, aku takut membuatnya terluka secara perlahan.

Perasaan yang kurasakan mungkin melebihi senang. Terutama saat dia berdiri membelakangiku. Tersenyum tulus dalam kebersamaan yang kurasa sulit untuk membuka obrolan dengan pasti. Kuharap kelak ada punggung seperti itu, agar kudapat bersandar dengan tenang dalam derasnya hujan di malam yang sama tenangnya.

Aku mencin…

• Michael Oscar’s POV

Aku mengajak Viny ke salah satu restoran favoritku sejak dulu.

Kami tak banyak mengobrol. Lebih tepatnya, sulit mencari topik obrolan.

“Kok kamu keliatan beda?” Aku tersenyum kepadanya.

“Emm.. keliatan beda gimana? Aku gini-gini aja perasaan..” Viny mengalihkan pandangannya liar ke segala arah.

“Hei?” Aku melambaikan tanganku.

“Eh? Kenapa?” Tanyanya bingung.

“Kamu kenapa sih? Hahaha..” Perlahan, Viny malah tersenyum geli sendiri.

“Aku gapapa kok.. Hehe..” Viny tlah menyelesaikan sendok terakhir makan
siangnya itu.

“Vin..” Panggilku pelan.

“Iya?”

“Mungkin aku ga seharusnya tau, tapi aku berhak tau. Ada apa dengan semua ini?” Inilah saat yang tepat untuk menusuk langsung ke pokok persoalan yang membuatku penasaran sejak aku masuk rumah sakit beberapa minggu lalu.

“Maksud kamu?” Matanya tak menatap mataku.

“Tentang semuanya. Elaine, kamu, dan semuanya..”

Viny tertunduk lemas.

“Vin.. aku ga marah ko. Tapi, ini ga masuk akal tau..”

“Apanya yang ga masuk akal?” Tanya Viny dengan nada yang sedikit ditinggikan.

“Semuanya. Aku mungkin keliatan bodoh, tapi aku juga paham soal ginian!” Aku meninggikan nadaku.

Viny terisak.

“Ma-maaf, Vin..” Aku menyesal sudah meninggikan nada. Sial!

“Ga. Aku yang seharusnya minta maaf..” Tiba-tiba, Viny bangkit dan berlari begitu saja.

• Author’s POV

Mike menyusul Viny.

“Kenapa harus lari-lari mulu sih? kaya drama aja..” Ucap Mike menahan
tangan Viny.

Viny berbalik.

“Tapi..”

“Tapi apa?”

“Aku takut kamu marah..” Viny tertunduk.

“Engga. Ayo, kita duduk lagi?” Ajak Mike seraya menuntun tangan Viny dalam genggamannya.

“Jadi…”

“Ya?”

“Orang-orang liatin kita..” Bisik Viny.

Dengan kesalnya, Mike menoleh dan menatap balik mata yang menatap kearah mereka.

“Ini nih penyakit manusia. Ngurusin urusan orang mulu. Yok, jadi gimana tadi?”

“Elaine.. dia minta aku sama kamu..” Viny mengaku.

“Dia kemana?”

“Dia pindah.”

Mike mengangguk tanda mengerti.

“Nebus kesalahan di Bali ya?” Mike mengungkit masalah di Bali waktu itu.

Viny mengangguk pelan.

“Ayo kita pulang..” Mike bangkit.

“Mike..” Panggil Viny yang masih duduk tertunduk.
“Ayo, kita pulang.” Mike memberikan tangannya.

Mereka berjalan bergandengan menuju parkiran.

“Kamu ga marah?” Tanya Viny bergetar.

“Yang lalu biarlah berlalu. Iya ga?” Mike tersenyum konyol kearah Viny.

Ini memang waktu yang sulit untuk tertawa. Namun entah mengapa, Mike sukses membuat Viny tersenyum.

‘Sorry, gue lg ama Viny.. ntaran gue kesana..’ Tulis Mike dalam pesan balasan kepada Kelpo.

Sudah dimanakah kita? Entahlah. Sudah sampai mana perjuangan kita? Mungkin kita menunjuk kearah gerilya.
*Skip

“Ah, ada tamu dari Jakarta tadi..” Jaka mengambil posisi duduk disebelah Mike.

“Temen, Jak?”

Jaka hanya mengangguk.

Tak lama, Joey dan lainnya datang.

“Sekarang, saatnya kita mecah. Yakinkan ke sekolah yang berpotensi tentang script ini. Let’s go!” Tepat jam 14.30, semuanya berangkat.

Blok Jaka menggaet SMA 48 dari mereka sendiri, dan sisanya beberapa SMA Negeri yang mau bekerjasama, salah satunya seperti SMA 2, 46 dan 20.

Blok Fuuto menggaet keseluruhan
swasta dan SMK, seperti Suta Wijaya, Bina Karya, Harapan Bangsa.

Selain itu, Troy dan rombongannya berada di kubu netral. Dengan kata lain, menjanjikan keamanan kepada warga Bandung selama kerusuhan berlangsung.

“Dengan dibuatnya surat ini, kami tegaskan kepada seluruh siswa/i yang ikut berpartisipasi ataupun memicu terjadinya tawuran antar pelajar, dan sebagainya. Maka sanksi yang akan kami….” Surat dari pemerintah setempat melayang dengan cepat.

“Jika memang begitu. Maka otomatis dalam tahun ajaran ini, hampir seluruh murid laki-laki di kota ini tidak akan naik kelas. Bisa dikatakan ‘mustahil’.” Jelas Joey kepada semuanya. Tak perlu penjelasan lanjut, mereka sudah mengerti apa maksud Joey dengan
kalimatnya.

“Mulai hari ini, gaakan ada kontak dalam bentuk apapun. Dimohon kesadarannya agar tidak berlebihan karena kita disini cuma pura-pura.” Tutup Fuuto.

Semuanya membubarkan diri. Beberapa perwakilan sekolah menemui Jaka, Kelpo, Mike, dan Bobby.

“Yo, Razaqa..” Mereka bersalaman satu sama lain.

“Gila, udah kek drama aja nih..” Reno perwakilan dari SMA 2 tersenyum geli.

“Tapi, ini bener-bener serius loh. Gue juga kesel pas denger ceritanya dulu..” Kali ini, Indra perwakilan dari SMA 46 ikut bersuara.
Intinya, mereka semua bersuara sore itu. Dengan tujuan yang sama, ternyata mereka juga termotivasi untuk membantu menunjukkan keadilan.

“Hai semua!” Sapa seseorang yang baru saja datang bersama rombongannya.

“Ah! Bang Sony!!” Seru Mike, Kelpo, dan lainnya heboh. Beberapa siswa dari SMA lain juga menyapa orang yang lebih mereka kenal sebagai musisi itu.

“Sony?!” Ucap Fuuto kaget.

“Ah…!!!! Fuuto!” Mereka tos lalu berpelukan.

Sony bercerita panjang lebar dengan Joey, Falvi, Tara, Bobby, Mike, Fuuto, Zoski, dan lainnya.

“Bang, Lu ga ke bogor?” Tanya Jaka dengan nada berbisik.

“Hahaha engga. Kan udah ada om Vino juga..” Sony merangkul Jaka hangat.

“Trus, ko lu disini?”

“Ahah!! Oiya semuanya!! Perhatian!” Suasana pun hening.

“Jadi, gue udah ngumpulin seluruh alumni. Terutama Suta Wijaya, 2, 6, 3, 48, 46, 20, 24, 12, dan beberapa sekolah lagi yang gue lupa mana aja. Jadi, kali ini bener-bener harus berhasil. Hambatan kita ada di blok Gilang atau Iman yang kemungkinan besar bakal di handle Ya-Eh maksud gue si kembar itu..” Tutup Sony.

Semuanya mengerti dan tak sedikit dari mereka yang sudah tak sabar
menunggu drama yang akan mereka saksikan dalam beberapa hari kedepan.

Gilang sendiri tak terlihat sejak berminggu-minggu yang lalu.

Ini akan jadi catatan dalam sejarah.

*Skip

“Kamu mau kemana lagi, Raz?” Tanya Michelle juga mewakili Ve.

“Oh iya, nanti aku mau kerumah si Saurus, nih. Kita makan dulu ya? Aku traktir deh.” Jaka tersenyum.

“Yeay, asik!!” Seru Michelle diikuti senyuman lebar dari mereka masing-masing.

Ve tak banyak berkata-kata. Jaka sendiri menjadi canggung dan
penasaran.

“Kamu kenapa, Ve?” Tanya Jaka disela obrolan sambil menunggu pesanan.

“Iya nih, kaya ga semangat gitu kamunya..” Timpal Michelle.

“Hmm.. gapapa.. cuma lagi ga enak badan gitu, Raz, Chel..” Jawab Ve pelan.

“Gila, angin mah kalah-Eh..” Jaka buru-buru menutup mulutnya.

“Razaqa!!-_-” Michelle mencubit tangan Jaka.

“Aduh sakit! Maaf maaf!” Jaka membungkuk.

Ve hanya tersenyum, sementara Michelle masih mengomeli Jaka karena celaannya tadi.

Tak lama, pesanan pun datang.

“Itadakimassu!” Seru Michelle heboh.

“Selamat makan semua!” Jaka meminum teh panasnya terlebih dahulu.

“Selamat makan!” Ve juga tak lupa mengucapkan.

Setelah makan malam mereka selesai, mereka masih memutuskan untuk mengobrol sejenak sebelum pulang.

“Jadi, kalian nanti rencananya mau kuliah dimana nih?” Tanya Michelle pada Ve dan Jaka.

“Aku kayanya di Jakarta aja deh.”

“Design ya?” Tanya Jaka.
Ve mengangguk.

“Kalo kamu, Raz?” Tanya Michelle lagi, kini kepada Jaka.

“Ah, aku rencananya mau ngambil HI aja deh. Tapi liat aja nanti dapetnya dimana, hehehe..” Jaka menggaruk belakang kepalanya.

“Kamu gasuka hukum, Raz?” Tanya Michelle.

Jaka menggeleng.

“Kalo ekonomi gimana?” Kini, Ve yang bertanya.

“Nah, itu boleh sih. Mungkin aku lebih tertarik ke Management.” Jawab Jaka.

“Kata papa, enak akuntansi sekalian. Gatau deh kenapa..” Michelle mengangkat kedua bahunya.

“Haha.. liat yang mana yang tembus nanti aja deh. :v” Setelah itu, mereka memutuskan untuk pulang.

*Skip

Pagi kembali menyapa dengan hangat.

“Jadi sebelum mos ini, kira-kira udah setengah jalan ga ya?” Jaka membuka obrolan di ruang keluarga lantai 2 rumah Mike.

“Ya, pastinya gitu Jak.”

“Pastinya gimana, Po. Hahaha..” Mike tertawa.

“Menurut gue sih, mungkin hari ini atau besok kita pasti udah tau gimana kelanjutannya.” Bobby menghirup teh panas yang sudah disajikan Mike.
“Eh, liat bro!” Mike menunjuk heboh kearah TV.

“Sanksi kepada pelajar yang tawuran? Bandung, Jawa Barat?!” Sambung Bobby.

“Sial! Dah nyampe pusat aja-_-” Jaka menyipitkan kedua matanya.

“Jiahh Jak. Lu kira pusat doang? itu mah dah keseluruh Indonesia..” Kelpo menepuk jidatnya.

“Gue ada janji nih, sekitar jam 10 mungkin. Mau nemenin temen gue dari Jakarta jalan-jalan.” Jaka melihat kearah arlojinya.

“Cieee.. Temen apa temen nih?” Sontak semua sahabatnya itu langsung menggoda Jaka.

“Etdah-_- temen njirr..”

“Siapa namanya? Kenalin ma kita-kita dong!!” Pinta Mike.

“Pffttt.. Gaada!” Tegas Jaka.

“Doi nih!!” Seru Kelpo.

“Yaelah Po..” Jaka mengejar Kelpo.

“Ampun Jak, hahaha..” Semuanya tertawa geli.

Tak lama, hampir seluruh perwakilan Fuuto keluar dan memberikan info penting.

“Oke, jadi jam 9 ampe 3 ini harus kita manfaatin semaksimal mungkin..” Jaka berjalan menuju kamar mandi.

“Yaudah, gue mau ngajak Andela pergi dulu..” Kelpo meraih ponselnya.
“Gue juga deh. Shania dah ngajak pergi dari kemaren.” Bobby juga fokus menatap ponselnya.

Tanpa mereka sadari, Mike hanya diam menatap kearah gelas bening di hadapannya.

“Hmm..” Denguh Mike pelan.

“Eh, ade ape, Car?” Tanya Bobby.

“Kaga.. lagi bingung aje nih..” Mike kembali ke kamarnya.

Kelpo dan Bobby hanya saling tatap penuh kebingungan.

*Skip

“Bob, aku mau boneka!” Pinta Shania manja.

“Iya iya, kita coba yaa..” Bobby mulai
mencoba peruntungannya.

“Yeayy!” Teriak Shania dan Bobby senang.

Setelah 4 kali mencoba, Bobby berhasil mendapatkan boneka yang Shania minta.

Disela pelukan mereka, Shania berbisik kepada Bobby.

“Itu Razaqa kan?”

Bobby melihat kearah jari Shania menunjuk.

“Iya, itu Razaqa!” Seru Bobby hendak mendekat.

“Eh?” Shania menahan tangan Bobby.

“Gausah dideketin, Bob. Pulang yok?” Shania menarik tangan Bobby.

“Eh eh.. tunggu Shan..”

Selama perjalanan pulang, Shania tampak memikirkan sesuatu.

“Kamu kenapa, Shan?”

“Hehe gapapa ko..”

“Soal tadi ya?”

“Engga, aku kayanya kenal deh sama cewe yang main bareng Razaqa tadi..”

“Temen sekolah? ato gimana?”

“Emm… cuma pernah liat aja..”

“Hahaha.. gimana sih, emangnya kamu hafal ama orang yang pernah kamu liat..” Bobby geli.

“Ihh.. ga gitu! maksudnya, aku tuh-”
Shania terhenti.

“Kamu gimana?”

“Ga jadi..” Shania membuang tatapannya kearah luar jendela mobil.

“Lahh.. cerita aja kali. Gapa-“

“Please gausah bahas ini, Bob. Aku males.” Melihat tanggapan Shania, Bobby hanya bisa mengalah.

Tak mungkin Shania membahas saat dimana ia menguntit Jaka di Bali beberapa waktu silam.

*Skip

• Razaqa Nafan’s POV

Hari ini mungkin saatnya jadi lebih serius.
“Raz, udahan yuk mainnya.” Ajak Ve menarik tanganku.

“Oke, abis ini makan ya?” Ajakku.

Ve mengangguk.

“Tapi, temenin aku belanja juga ya abis ini?” Pintanya lagi.

“Deal!” Balasku tersenyum lebar.

Selama makan siang, kami hanya membahas pengalaman, rencana kedepan, dan tentu saja aku tak lupa menjelaskan tentang apa yang akan kulakukan mulai jam 3 ini.

“Yaudah, kamu hati-hati ya.. Kalo bisa dihindari, please hindari ya, Raz..” raut kecewa di wajah Ve sangatlah jelas.

“Siap, bidadariku! Razaqa bakal baik-baik aja kok..” Aku menggenggam
tangannya hangat.

Setelah makan siang, kami mulai bergerak menuju outlet-outlet dan tempat yang menjual oleh-oleh dan sebagainya.

Dengan DSLR Michelle yang ku pinjam, kami mengabadikan momen-momen singkat ini.

Senyumannya saat kami menikmati es krim durian bersama. Tawanya saat aku mencoba melompati genangan air dan gagal. Semua perasaan itu kembali menggunung dan mengerumuni kami.

Tepat jam 14.30, kami pulang.

Selama perjalanan, Ve terus menggenggam tanganku.

“Mau ganti gigi nih, hahaha..” Aku
tertawa dan genggaman itu kembali terlepas.

Hingga sampailah kami dirumah. Terlihat Michelle juga telah menunggu di teras.

• Author’s POV

“Razaqa..” Ve menahan tangan Jaka.

“Ya?”

“Makasih banyak..” Ve memeluk Jaka hangat.

“Sama-sama, Ve. Ini udah-“

“I love you..” Seketika, Jaka terkejut mendengar ucapan itu.

Disisi lain, ia bingung karena gadis sesempurna Ve bisa mengatakan hal demikian dengan begitu mudahnya.

“Me too..” Jaka mempererat pelukannya.

Tanpa menaruh rasa curiga, Michelle menyambut kedatangan kedua sahabatnya itu.

Dan setelah itu, Jaka berpamitan untuk pergi.

“Raz, ini ada surat buat kamu..” Michelle menyerahkan surat yang ia bawa.

“Dari siapa, Chel?”

“Gatau juga..”

Jaka pun membuka surat misterius itu.

Dibawah surat itu tertulis,

“Sudah bersenang-senangnya? Yuk,
saya sudah masuk dipermainan.”

Tertanda, Yanbo & Mabo yang malang.

“Ya! Kau memang menyedihkan!” Ucap Jaka dalam hati.

~~

“Kita semakin dekat! YanboMabo_TheKiller has joined the game!” – Strodick Zoskisor

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

2 tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s