Iridescent Part 11

Iridescent New Cover.jpg

“Sorry gue gak sengaja” ucap orang itu.

Dan saat gue dan Ve melihat ke arah orang itu ternyata dia adalah ….

“Chika ???” ucap gue dan Ve bersamaan.

Gue dan Ve kaget melihat Chika dan juga sebaliknya, ternyata dia yang bertabrakan dengan Ve barusan. Ve lalu menatap kearah gue, mungkin dia belum mengetahui kalau gue dan Chika sudah saling kenal sebelumnya.

“Eh, kamu kenal Chika sayang ?” tanya Ve kaget.

“Eh anu …”

Gue bingung harus jawab apaan, ini kenapa pakai acara ketemu Chika sih ? Bisa kacau nih kalau dia laporan sama Shani. Apalagi Gracia sama Chika masih saudaraan, berarti Ve juga saudaranya Chika …

“Emm dia yang tolong aku waktu terdampar di pinggir jalan Ve” jawab gue agak ragu.

“Willy ini pacar kamu Ve ? Kalian berdua …” tanya Chika sambil tangan nya memperagakan entah apa itu, gue juga bingung.

“Mending kita bicara tentang ini di Cafe aja deh, sekalian makan. Aku udah laper” ujar Ve.

“Oke … Yaudah gue ke kasir dulu, mau bayar buku ini” ucap Chika.

“Bareng aja Chika” ujar Ve.

Ve lalu menarik tangan gue untuk mengikutinya, gue Cuma bisa pasrah aja.

Akhirnya gue, Ve dan Chika menuju kasir untuk membayar buku yang mereka berdua beli, Ve juga akhirnya sembarang memilih buku resep makanan. Mungkin akan ada banyak pertanyaan dari Chika nanti. Gue jadi agak bingung harus bilang apa nanti, apalagi misalkan Chika lapor sama Shani.

Setelah selesai membayar kami bertiga pergi menuju ke salah satu Cafe di Mall ini, kami memilih meja di sudut Cafe yang menghadap ke arah jalan … Kami bertiga sudah memesan makanan juga barusan.

“Jadi gini loh Ve, kami berdua pernah ketemu di jalanan sebelumnya. Awalnya Willy aku kirain anak kecil hilang, ternyata bukan” ujar Chika.

“Oh gitu yah … Pantesan kok tadi dia tau nama kamu” ucap Ve sambil menunjuk gue.

“Btw pertanyaanku belum dijawab loh Ve, jangan lupa” celetuk Chika.

“Oh iya, pertanyaan soal dia pacarku atau bukan yah … Hihihi maaf deh, hampir lupa dikit” ujar Ve sambil nyengir.

“Willy ini pacar baru aku … Dah aku jawab kan pertanyaan kamu tadi?” ucap Ve.

“Iya iya udah kok, wah ini kayak nya pesanan gue Willy yang bayar deh. Itung-itung pajak jadian kalian …” ujar Chika.

“Iya deh … Chika mah ngerampok ini ceritanya” balas gue memasang muka segaris. -_-

Ve dan Chika ketawa dengar ucapan gue barusan, habis kenapa selalu gue yang dapet takdir ini. Kenapa giliran gak enak selalu gue terus, ah sudahlah … Biarkan mereka puas sekalian.

Ting

Ada notif Line di Hp gue yang tergeletak di meja gue, saat gue cek ternyata ada chat dari Gaby.

Gaby M Warouw : Wil, elo disuruh cepet pulang nih sama nyokap lo sama nyokap gue. Katanya besok kita mau ke Jogja, liburan gitu … Harus prepare dari sekarang

Gue lalu membalas chat Gaby itu.

Willy Debiean : Sebentar … Lagi tanggung nih, baru makan di Cafe

Gaby M Warouw : Yaudah cepetan deh, pacaran sama Kak Ve bisa kapan-kapan lagi

Willy Debiean : Iya bawel … Wekkk

Setelah itu gue menaruh hp gue di meja lagi, Ve dan Chika hanya mengobrol ringan saja. Lalu Ve menoleh ke arah gue.

“Chat dari siapa sayang ?” tanya Ve penasaran.

“Dari Gaby itu Cuma bilang suruh pulang, katanya besok mau liburan ke Jogja sekeluarga. Padahal beberapa hari yang lalu anak-anak kelas pada ajakin liburan kesana” jawab gue.

“Yah … Berarti aku liburan sendiri dong di rumah” ujar Ve sambil cemberut.

Wajahnya kelihatan sedih banget kalau denger gue mau liburan sekeluarga ke Jogja, harus bilang apaan nih gue. Kasihan Ve sampai segini nya … Sekarang dia malah mengalihkan pandangan nya ke luar kaca dan menatap jalanan.

Ssstt ssstt … Gue menoleh ke arah Chika yang manggil-manggil kayak gitu, lalu Chika mendekatkan wajahnya ke telinga gue dan membisikan sesuatu.

“Mending habis dari Cafe jangan langsung pulang deh, lo ajak Ve jalan-jalan sebentar. Paling enggak biar dia agak tenang” bisik Chika.

“Oke” balas gue sambil mengacungkan jempol.

Pelayan datang membawa pesanan kami tadi dan meletakannya di meja, Ve masih tak bergeming.

“Kamu marah sama aku, gara-gara aku mau ke Jogja besok ?” tanya gue lirih.

“Itu kamu tau, aku ntar sama siapa disini ? Sama Gre … Udah bosen tau liburan bareng dia, aku mau nya sama kamu. Lagian kita juga baru aja jadian, tapi udah berantem gini” jawab Ve panjang lebar.

“Ve dengerin aku dulu, mungkin Cuma seminggu doang kok aku di Jogja. Biasanya sih gitu tiap tahun, kalau udah pulang aku pasti jalan sama kamu” ujar gue.

“Huhh yaudah deh, tapi kamu janji ya … Begitu balik kita jalan lagi” ucap Ve sambil tersenyum ke arah gue.

“ Damai nih … Kayaknya bisa di traktir ice cream nih buat penutup” celetuk Chika sambil pura-pura melihat ke arah lain.

Gue melihat Chika dengan malas, ternyata dia ngarep kalau ditraktir lagi. Dasar ini anak, bikin dompet kembang kempis aja.

“Kalau mau pesan, ya tinggal pesan aja … Tapi bayar sendiri” ujar gue.

“Hmmm sama aja dong” ucap Chika sambil manyun.

“Ini makanan kamu buruan dimakan, nanti keburu dingin loh” ucap gue ke Ve.

“Iya My Boss” balas Ve sambil nyengir.

Kami bertiga lalu hanya fokus menghabiskan makanan kami, setelah selesai acara makan-makan gue membayar semua pesanan tadi. Kemudian gue dan Ve berpisah dengan Chika di depan Cafe. Kami berdua menatap punggung Chika yang lama kelamaan mulai menjauh dan hilang dari pandangan kami. Gue menoleh ke arah Ve dan menatap matanya, dia juga menatap mata gue.

“Kita mau kemana nih ?” tanya gue.

“Aku tadi denger loh, apa yang di bisikin Chika ke kamu. Dia bilang kamu harus hibur aku dulu kan …” ujar Ve.

“Iya iya, tadi Chika bilang gitu sih …” jawab gue jujur.

“Mendingan kita pulang aja, lagian besok kamu harus ke Jogja kan … Nanti kecapean loh, ntar aku yang diomelin” ucap Kak Ve.

“Yaudah deh kalau gitu, makasih pengertiannya Ve” ujar gue.

Ve lalu menarik tangan gue menuju parkiran untuk mengambil mobil, sesampainya gue dan Ve masuk ke dalam mobil. Lalu gue melajukan mobil ini keluar dari area parkiran mall untuk mengantar Ve pulang. Di sepanjang perjalanan gue dan Ve cuma saling terdiam satu sama lain, tak ada yang mulai pembicaraan lebih dulu. Sampai akhirnya gue coba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan …

“Ve”

“Wil”

Gue dan Ve lalu tertawa karena bisa sama-sama ingin mulai pembicaraan.

“Kamu duluan deh, Ve” ucap gue yang masih tertawa.

“Mmm aku Cuma mau bilang kalau aku bahagia sama semua kejadian hari ini, rasanya senang bisa berdua sama kamu” ujar Ve sambil tersenyum.

“Aku tau ini semua salah dan seharusnya hubungan ini gak ada, tapi aku gak tau kenapa mau jalani ini semua” tambah Ve.

“Aku juga sama kayak kamu, semua itu juga aku bisa rasain” ujar gue.

“Gak tau kapan, Shani bakal tau sama hubungan kita berdua. Dia bakal marah besar sama kamu” ucap Ve.

“Ya … Aku tau itu pasti terjadi” balas gue.

Memang dari dalam hati, gue merasa gelisah dan takut kejadian itu benar-benar terjadi. Tapi itu sudah pasti terjadi, sama seperti ucapan Ve.

 

1 jam perjalanan sudah ditempuh, akhirnya kami berdua sampai di depan rumah Ve. Dan dia masih terdiam, beberapa detik kemudian Ve menoleh ke arah gue.

“Makasih ya sayang, udah mau antar aku pulang … Dan makasih juga buat malam ini” ujar Ve lalu tersenyum.

“Iya sama-sama Ve, aku juga mau minta maaf kalau beberapa hari nanti kita gak ketemu” ucap gue.

“Gapapa kok, kamu nikmati aja liburan kamu di Jogja” balas Ve.

“Aku sayang kamu … Aku pulang dulu yah” ujar Ve.

Kemudian dia mengecup pipi sebelah kiri gue dengan singkat. Lalu dia tersenyum ke arah gue, Ve kemudian keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumahnya.

“Dasar …” ucap gue sambil tertawa.

Gue pun melajukan mobil pulang menuju rumah. Masih banyak yang harus gue siapkan sebelum keberangkatan besok ke Jogja, liburan mendadak kali ini bikin repot aja.

 

_ _ _ _

 

Gue udah sampai di rumah dan baru aja memasukkan mobil ke garasi, lalu gue masuk ke dalam rumah. Ternyata ada Gaby yang sedang mondar-mandir di ruang tamu, dia kelihatan agak aneh. Setelah sadar dari tadi gue lihatin mulu, Gaby langsung menatap gue dengan garang. Wajahnya udah mirip sama Valak. *eh

“Elo dari tadi di tungguin gak pulang-pulang sih, kita semua harus siap-siap tau …” omel Gaby ke gue.

“Sorry deh Gab, perjalanan pulang kan juga butuh waktu. Jadinya agak lama gitu :v” ucap gue.

“Yaudah deh, lo buruan ke kamar sana. Shani baru packing juga tuh …” ujar Gaby.

“Eh ? Dia bangun lagi gitu …” ucap gue.

“Iya, kasian dia. Dah sana bantuin Shani!” perintah Gaby.

“Okay Bu Gaby” balas gue sambil bergegas menuju ke kamar.

 

Sesampainya di depan kamar gue sempat berhenti, ada suara orang nangis terdengar dari dalam kamar. Apa jangan-jangan itu yang nangis Shani yah ? Eh tapi nangis karna apa coba ?

Hiks hiks hiks

Suara tangisan itu makin terdengar jelas, gue lalu membuka pintu kamar. Ternyata benar itu suara tangisan dari Shani, dia kaget saat gue membuka pintu secara tiba-tiba.

“Kamu kenapa Shan, kok nangis sih ?” tanya gue khawatir.

“Ummm enggak kok, aku gapapa kok” jawab Shani sambil menunduk.

Gue menghampiri Shani yang duduk diatas kasur, dia memeluk bantal dan masih sesenggukan dan ada laptop gue didepan nya. Gue jadi sangat khawatir dengan keadaannya …

Gue duduk disamping nya, lalu gue memeluk Shani dari samping. Shani merebahkan kepalanya di pundak gue.

“Kamu kenapa sih Shan, kok nangis gitu … Besok kita liburan loh. Masa nangis gitu, jelek tau” ucap gue sambil mengelus kepalanya.

“Sebenernya aku gapapa, tadi aku Cuma habis nonton Drama Korea di laptop kamu. Sedih tau lihatnya” ujar Shani.

“Aku kira apaan, ternyata gara-gara itu …” balas gue memasang muka segaris. -_-“

“Kan aku udah bilang kalau aku gapapa, Cuma karna lihat ini” ucap Shani sambil menunjuk laptop.

Gue terus ikutan nonton Drama Korea yang Shani lihat dari tadi, ternyata ceritanya emang sedih banget. Gue juga ikutan nangis tapi diam-diam biar gak ketahuan Shani, bisa jatuh harga diri gue. *yaelah *samaaja

“Ih kamu juga nangis ternyata, berarti aku benar kan. Ini emang sedih ceritanya” ujar Shani sambil ketawain gue.

“Iya deh … Habisnya siapa suruh lihat film ini, bikin sedih aja” ucap gue sambil marah sama laptop gue. *plak

Tolong abaikan kesedihan yang aneh barusan, itu bagian absurd ff ini. :v

 

“Oh ya sayang, kita nanti liburan ke Jogja satu minggu loh. Berarti kita tahun baru di sana” ucap Shani antusias.

“Kemungkinan gitu sih …” balas gue.

“Oh ya semua udah aku packing, baju-baju punya kamu sama punya aku juga. Udah aku jadiin satu koper, biar gak ribet” ujar Shani memberitau.

“Yaudah, makasih ya …” ucap gue sambil tersenyum.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, lalu munculah sesosok Gaby. Dia Cuma melongo lihatin gue sama Shani, gak tau kenapa. Jangan-jangan karna kita nangis ya …

“Kalian berdua habis nangis bareng ya? Ada apaan sih, kok sampai nangis berjamaah gitu …” tanya Gaby khawatir.

“Iya kita berdua habis nangis, tapi jangan salah paham dulu. Gue sama Shani nangis gara-gara Drama Korea” jawab gue.

“Ah elah gue kira nangis karna berantem, ternyata gara-gara Drama Korea” ucap Gaby sambil mendengus kesal.

“Makanya jangan di nilai dari luarnya aja, Gab” ujar gue.

“Sakarepmu” balas Gaby.

“Yaudah kalian tidur sana, besok kita berangkatnya pagi loh” ujar Gaby.

“Iya iya … Yaudah sana keluar” ucap gue.

Gaby lalu keluar dan menutup pintu kamar gue. Gue menoleh ke arah Shani, dia masih lanjut nonton Drama Korea itu.

“Kamu mau lanjutin nonton itu ?” tanya gue.

“Iya tanggung nih sayang, sebentar lagi selesai” jawab Shani.

“Yaudah deh kalau gitu, aku tidur duluan. Kamu jangan malam-malam nonton nya, ntar ada Valak nongol loh” ujar gue.

“Iya Iya, sssttt diam … Lagi seru nih” ucap Shani.

Gue Cuma senyum melihat tingkah Shani, kadang bisa dewasa tapi bisa jadi anak kecil juga. Gue lalu merogoh kantong dan mengambil hp gue, lalu meletakkan nya di meja dekat tempat tidur.

Gue merebahkan tubuh gue dan mulai memejamkan mata, perlahan gue mulai masuk ke dunia gue sendiri didalam mimpi.

 

_ _ _ _

 

POV SHANI

 

Aku baru aja selesai melihat Drama Korea di laptop, tenggorokan ku rasanya kering. Aku lalu menoleh ke arah jam di dinding, ternyata udah lewat tengah malam … Gak kerasa dari tadi udah nonton mulu, mending aku ke bawah ambil segelas air buat membasahi tenggorokan.

Perlahan aku berdiri dan jalan keluar kamar, turun melewati tangga menuju ke dapur. Sampai di dapur aku mengambil gelas dan mengisi air putih, lalu ku minum sampai habis …

“Ah … Lega” ucapku.

“Shani …”

Aku kaget karena ada yang memegang pundak ku dan menyebut nama Shani. Aku menoleh ke belakang, ternyata Gaby yang barusan memanggilku.

“Ih Gaby apaan sih, bikin kaget mulu” ucapku sambil cemberut.

“Hihihi iya deh maaf kalau bikin kaget” balas Gaby.

“Ngapain malam-malam kesini ? Mau ngemil ya, ntar gendut loh” ejek Gaby.

“Apaan sih, orang aku Cuma mau minum air putih doang” ucapku.

“Yaudah deh, terserah Shani aja. Kalau Gaby mah mau ngemil, laper tau” ujar Gaby sambil nyengir.

“Itu sih terserah kamu, udah ah aku mau tidur …” ucapku.

Aku lalu meninggalkan dapur dan balik menuju ke kamar, sesampainya dikamar aku langsung naik ke atas kasur dan merebahkan diri. Tiba-tiba ada suara hp berbunyi dan aku melihat kearah hp Willy di meja samping tempat tidur, aku bangkit lalu mengambil hp nya perlahan. Ternyata ada chat Line … Dari Kak Ve ? Ngapain ya chat tengah malam gini. Kemudian aku buka isi chat nya.

Jessica Veranda : Sayang, kamu udah tidur ? Kalau belum temenin aku dong, aku gak bisa tidur nih

Apa ? Kak Ve kok panggil sayang ! Jangan-jangan mereka ? Apa iya Willy selingkuh sama Kak Ve … Karena udah terlanjur di read aku balas aja deh.

Willy Debiean : Maaf aku udah ngantuk banget nih, besok aja ya …

Semoga Willy gak curiga sama chat yang sengaja aku balas, jujur aku gak bisa menahan air mata ku keluar. Aku lalu meletakan hp Willy ke tempat semula, kemudian aku menatap Willy yang tertidur pulas. Ku usap pipi nya dengan lembut, kemudian aku merebahkan badanku disebelah nya dan kupeluk dengan erat tubuh Willy.

 

“Aku gak mau kehilangan kamu, kita kan udah tunangan. Udah jauh hubungan kita, tinggal selangkah lagi kita nikah. Cuma tinggal tunggu waktunya aja, aku mohon jangan pernah tinggalin aku sendiri” bisikku ke telinga kiri Willy.

Air mataku udah keluar dengan deras, semoga dia bisa dengar semua ucapanku barusan. Semoga …

“Aku sayang kamu” ucapku lalu mengecup pipi Willy.

Aku pun tidur sambil memeluknya …

 

POV SHANI END

 

_ _ _ _

 

“Hei … Bangun Wil”

“Dasar kebo, bangun dong! Yang lain udah pada siap nih”

“Shani !!!!! Bangunin tunangan lo nih”

Sayup-sayup gue mendengar suara Gaby, gue lalu membuka mata perlahan. Ternyata benar aja, si Gaby udah ada didepan gue sambil bawa ember. Eits gue mau disiram nih kayaknya. Gue langsung bangkit dari kasur dan menatap Gaby sambil nyengir.

“Sabar Gab, gue udah bangun kok. Gak perlu di siram air segala” ucap gue.

“Makanya kalau dibangunin jangan susah-susah ! Lagian elo tidurnya lebih dulu, tapi bangun paling terakhir” ujar Gaby sambil manyun.

“Shani mana ? Kok gak ada …” tanya gue coba mengalihkan topik pembicaraan.

“Shani baru sarapan sama nyokap lo dibawah” jawab Gaby.

“Yaudah deh kalau gitu gue mandi dulu terus siap-siap, mending elo sarapan aja sama yang lain” ujar gue.

“Oke deh, tapi elo buruan mandinya, ntar kita ketinggalan pesawat!” omel Gaby.

“Eh, kita ke Jogja naik pesawat ?” tanya gue dengan muka bloon.

“Ya iyalah, masa mau jalan kaki. Udah sana buruan !” ucap Gaby.

“Iya iya …” balas gue.

 

Gue lalu mengambil handuk lalu bergegas mandi. Karna Cuma mandi bebek gue jadi cepet selesai mandinya, kemudian gue langsung memakai baju dan tak lupa celana juga, lalu dilanjut pakai sepatu, sisiran, pakai parfum. Udah siap … *plak *kagakusahdetailamat

Setelah selesai bersiap-siap gue lalu ke bawah menyusul yang lain umtuk sarapan.

Sampai di meja makan, ternyata udah pada kumpul dan baru sibuk dengan sarapan mereka. Ada Shani, Gaby, Kak Elaine, Mama gue, Tante Margareth, Papanya Gaby, dan juga Kelik. Eh Kelik alias Bambang pedal juga ikut ?

 

“Hey semua, pagi …” sapa gue.

“Pagi juga” balas mereka.

“Kelik lo ikut juga ternyata …” tanya gue.

“Jelas lah, kan tunangan Gaby harus ikut juga” jawab Kelik dengan pede.

“Iya deh, yang baru aja tunangan mah bebas” ujar gue. -_-

Gue pun menarik kursi di sebelah Shani dan duduk. Shani menatap gue dengan tatapan sendu nya, ini anak kenapa sih ? Kok kayaknya ada masalah gitu …

“Shan, kamu gapapa ? Kok sedih gitu …” tanya gue khawatir.

“Eh … Aku gapapa kok, mungkin perasaan kamu aja sayang” balas Shani.

“Ohh yaudah, aku kirain ada apa gitu” ucap gue.

 

Shani lalu mengambilkan gue sarapan, lalu gue pun menyantap makanan sampai habis. Setelah itu kami bersiap-siap menuju bandara. Semua sudah siap dan kami berangkat menuju bandara diantar oleh Papa nya Gaby menggunakan mobil, karena liburan kali ini Cuma kami para anak-anak saja dan ditemani oleh Mama gue dan Tante Margareth.

Setelah perjalanan ke bandara ditempuh, kami sampai di bandara melakukan boarding pass dan menunggu jadwal pesawat yang akan kami tumpangi. (Padahal aslinya gak pernah naik pesawat authornya, paling naik odong-odong aja muntah :v) *abaikan

Bila ada kesalahan harap maklumi author yang kampretos ini …

 

_ _ _ _

 

Kami sekarang udah ada di dalam pesawat maskapai Ciblek Air dan diperjalanan menuju Jogja. Gue duduk bersama Shani berdua, dia dari tadi Cuma terdiam dan melihat awan dari jendela. Hari ini Shani kelihatan aneh, gak biasanya dia Cuma diam aja …

Perasaan gue jadi gak enak entah kenapa.

 

“Shan … Kamu kok diam aja sih ? Kamu sakit ya …” tanya gue sambil membelai rambutnya.

“Perasaan kamu aja, kan tadi aku udah bilang” jawab Shani dingin.

“Kamu marah sama aku ? Kalau aku ada salah bilang aja Shan, jangan diam aja …” ucap gue.

“Kamu ada hubungan apa sama Kak Ve ? Tadi malam waktu kamu tidur, dia chat kamu pakai panggil sayang …” ucap Shani sambil menoleh ke wajah gue.

 

DEG

Gue benar-benar kaget, apa Shani udah tau semuanya ? Tentang hubungan gue dan Ve yang baru satu hari … Hubungan gelap yang seharusnya gak boleh ada.

Shani mulai menitikan air mata, perlahan tapi air mata nya terus mengalir. Jujur gue gak bisa apa-apa kali ini, haruskah ini semua berhenti sampai disini ?

 

“Kamu tau … Kita berdua ini udah tunangan, tinggal satu langkah lagi kita nikah! Cuma tinggal tunggu waktu aja, tapi kenapa kamu main sama perempuan lain dibelakang aku haaa ? Ayo jawab aku …” ucap Shani.

“Shan maaf, aku gak bermaksud gitu … Aku benar-benar terpaksa jalani ini semua” ucap gue sambil memegang tangan Shani.

“Terpaksa gimana ? Aku benci kamu ! Lebih baik aku gak pernah kenal sama kamu, aku menyesal tunangan sama kamu !” ujar Shani menangis tersedu-sedu.

“Shan … Tolong jangan marah sama aku, biar aku jelasin ke kamu” ucap gue coba meyakinkan nya.

Shani langsung membenamkan wajahnya di dada gue, dia memukul dada gue … Tapi.gue sadar pantas mendapatkan lebih dari ini. Gue lalu memeluk Shani dengan erat, mencoba memberi nya ketenangan.

Beberapa orang melihat kearah gue dan Shani, untungnya mereka orang asing. Jadi gak akan begitu tau bahasa gue …

 

“Ssstt Maaf sayang … Aku benar-benar minta maaf sama kamu, aku bakal jelasin semuanya, tapi gak disini juga. Nanti kalau udah sampai di Jogja aja, yah …” ujar gue.

“Hiks hiks hiks … Janji kamu bakal jelasim semua ?” tanya Shani.

“Iya, nanti aku jelasin ke kamu … Semuanya” jawab gue.

Shani sudah mulai tenang dan berhenti menangis, dia terlelap di pelukan gue … Gue menyesal udah berani sakitin Shani, seharusnya gue bersyukur bisa dipertemukan dengan Shani. Semua ini ternyata diluar kendali, mungkin setelah liburan nanti gue akan ketemu dengan Ve membahas ini. Dan juga mengakhiri semua kesalahan ini !

 

Lalu tiba-tiba ada seseorang memegang pundak gue, ternyata dia Gaby. Dia terlihat khawatir, raut wajahnya bisa ditebak.

“Shani udah tau semuanya yah ?” tanya Gaby.

“Iya Gab, dia udah tau semuanya … Satu hari, Cuma satu hari aja dia udah tau segalanya. Gue emang bodoh udah sia-sia in kepercayaan Shani” jawab gue.

“Nanti gue bantu jelasin ke Shani soal masalah ini, elo yang sabar aja ya …” ucap Gaby.

“Iya Gab, Thanks yah … Maaf selalu bikin lo susah gini” ujar gue.

“Sama-sama, yaudah gue balik dulu … Capek nih dipesawat kok berdiri mulu” balas Gaby sambil nyengir.

 

Gue Cuma berusaha tersenyum, Gaby lalu kembali ke tempat duduknya. Gue memandangi wajah Shani, matanya sembab karena dari tadi menangis. Maaf Shani …

 

 

To Be Continued …

 

 

Created By : Willy Debiean

 

 

 

Note :

Akhirnya part 11 udah selesai juga, gempor nih nulis pakai hp. Belum terbiasa soalnya, jadi butuh adaptasi lagi, gimana part 11 ini ? Kalau baca jangan muntah ya … Sebenernya gue juga mau muntah waktu nulis Ciblek Air nya itu, sumpah ngakak gara-gara dapet saran dari temen gue yang pecinta burung. :v

 

Makasih buat yang mau sempatin baca ff buatan gue, next part bakal lebih baik lagi dan diusahakan semaksimal mungkin. Masukan dari kalian sangat berguna sekali …

Oh ya … Kalau ada yang mau tanya-tanya soal ff ini bisa kontakin gue langsung via Line atau Twitter.

 

Jangan lupa baca ff lainnya hanya di Blog tercinta KOG  … Thank you  ^,^

 

 

Kritik & Saran :

Twitter : @wi_debiean92

Id Line : wi_debiean92

E-mail : willydebiean@yahoo.com

 

 

 

 

Iklan

12 tanggapan untuk “Iridescent Part 11

  1. saat Shani terlelap dalam mimpinya. Hadir sosok Shanji diam memandang, hanya diam sambil tersenyum ke arahnya.

    sorry will gw kebawa suasana gegara bacanya sambil degerin OOK “Wherever You Are”. dimanapun engkau berada (shani) aku akan selalu menantimu datang padaku dengan senyum tulus ini, sebuah senyum dari pengagum mu *tsahhhh… lanjut will :v

    Suka

  2. anjayyy ciblek air gak sekalian perkutut air bang, wah menurut gw yg ini best part dari iridescent bang (y) lanjut terus yak .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s