“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 4

Robby kini tengah berada di kantin kampusnya, setelah selesai kelas tadi ia langsung menuju ke kantin ingin mengisi perutnya. Dan disini lah ia sekarang, ia hanya sendiri karena teman-temannya belum selesai dengan mata kuliahnya.

“Boleh duduk disini?”

Robby menoleh, setelah itu ia pun mengangguk. Dan orang tersebut duduk di samping Robby.

“Sendiran aja? Teman-teman kamu mana?”

“Enggak tau Shan, paling bentar lagi ke sini kok.” Robby menyuapkan makanan miliknya ke dalam mulutnya.

Shani mengangguk menanggapi ucapan Robby. Baru kali ini ia bisa berduaan dengan Robby, dan itu membuatnya senang? Ia terus menatap Robby yang tengah asik makan itu.

“Kenapa Shan?” tanya Robby.

“E-eh apanya yang kenapa?”

“Itu, lo ngeliatin terus, kenapa?”

“E-enggak kok, geer banget sih.” Shani mencubit lengan Robby.

“A-aduh kok d-dicubit sih Shan,” ringis Robby.

Shani membuang arah tatapannya ke lain, mungkin wajahnya merah sekarang. Karena ketahuan sedang melihat Robby yang tengah asik makan itu..

“Shani?”

Shani masih enggan menanggapi Robby, ia masih berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dan degupan jantungnya yang berdebar kencang.

“Indira?”

Shani menoleh pada Robby dan memicingkan matanya menatap Robby, “Kamu tau darimana nama aku?”

“Kan lo kemarin ngeadd line gue Shani.” Robby menggelengkan kepalanya.

“Eh?” Shani merutuki perbuatannya, kenapa ia bisa sampai lupa dengan hal itu pikirnya.

“Makanya jangan pelupa dong kalau jadi orang.” Robby menaruh sendok makannya menjadi huruf ‘x’ “Kayak gue dong… sama pelupa juga hahaha.”

Shani memukul lengan Robby, “Becandanya enggak lucu.”

Shani kembali lagi memukul lengan Robby lebih keras dari sebelumnya tentunya.

“Ish. Sakit tau gak, hobi banget kayaknya mukul orang.”

“Ya kamu abisnya nyebelin,” ucap Shani sebal dan kembali memalingkan wajahnya.

“Yah yah, kok ngambek sih? Enggak lucu ah ngambek segala,” ucap Robby.

“Bodo.”

“Udah dong Shan, jangan ngambek gitu.”

“Bodo Robby. Bodo.”

“Yah yaudah deh kalau ngambek, gak jadi deh,” ucap Robby pelan.

“Gak jadi apa coba?” tanya Shani yang menatap Robby heran.

“Padahal mau ngajak jalan sih, tapi ngambek. Gak jadi deh.”

“Eh?! Enggak ngambek kok, beneran enggak ngambek.” Shani mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, sehingga seperti huruf ‘v’.

“Ayo jalan, mau kemana?” tanya Shani.

Robby tampak tengah berpikir, “Gak tau juga sih, tapi kemana aja deh ya? Yang penting jalan deh.”

“Yaudah yuk!” Shani bangkit dari duduknya dan Robby pun bangkit dari duduknya.

“Gue mau bayar dulu bentar, mending lo bilang sama Gre dulu deh biar enggak dicariin.” Robby pun berlalu membayar makanannya.

Shani mengangguk dan mengirimkan chat pada Gre bahwa ia akan jalan sebentar bersama Robby.

“Udah?” tanya Robby.

Shani mengangguk, “Udah kok. Yaudah yuk jalan.”

“Eh, lo gak ada kelas kan?”

Shani menggelengkan kepalanya, “Enggak ada kok, udah selesai tadi.”

“Yaudah deh, ayo.”

Mereka pun berjalan bersama ke parkiran kampus menuju mobil Robby, dan setelah itu mereka pun pergi entah kemana..

~

Kini Robby dan Shani tengah berjalan di taman bermain, setelah pusing memikirkan pergi kemana. Ke taman bermain bukanlah sebuah ide yang buruk. Dan kini sudah satu wahana permainan yang mereka naiki, mereka duduk di kursi taman bermain tersebut.

“Pusing?” tanya Shani yang menatap Robby.

Robby mengangguk, ia tidak biasa dengan wahana permainan yang mereka naiki tadi. Dan ia juga phobia, mungkin itu juga yang membuatnya pusing bukan kepalang..

DEG!

Robby terdiam, ia kaget setelah tangan Shani mengurut pelipisnya dengan lembut.

“Masih pusing?”

Robby menatap wajah Shani yang terlihat sekali kekhawatirannya. Entah kenapa, ia suka sekali menatap mata Shani yang indah menurutnya.

Robby menggeleng pelan, “Enggak pusing banget lagi kok.”

Shani mengangguk dan melepaskan tangannya dari wajah Robby. Ia pun menyandarkan tubuhnya pada kursi taman bermain tersebut, kemudian ia tak sengaja melihat penjual arum manis. Robby yang melihat Shani sedang menatap sesuatu pun ikut juga mengarahkan pandangannya pada tatapan Shani.

“Mau?” tanya Robby.

“Boleh.” Shani menganggukkan kepalanya.

“Yaudah tunggu disini ya.” Robby bangkit dari duduknya dan berjalan menuju penjual arum manis.

Shani menatap punggung Robby yang berjalan itu, ia tak menyangka bahwa akan merasakan rasa suka, cinta atau apalah itu pada Robby. Ia merasa nyaman apabila bersama Robby, padahal mereka baru saja kenal. Tetapi ia sudah merasakannya, apakah ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Robby?

“Nih.” Robby memberikan arum manis pada Shani.

Shani mengangguk dan mengambil arum manis tersebut, “Makasih ya.”

“Sama-sama.” Robby tersenyum ketika melihat Shani dengan senangnya memakan arum manis tersebut.

Sambil menunggu Shani yang sedang memakan arum manis, mereka pun membicarakan banyak hal. Setelah selesai, mereka pun kembali melanjutkan mencoba wahana permainan-permainan yang ada di sana. Dan tentunya yang membuat Robby pusing..

Kini hari pun sudah menjadi sore, dan kini mereka baru saja menyelesaikan salah satu permainan lagi di taman bermain tersebut.

“Udah Shan, gue gak kuat lagi,” ucap Robby lesu.

“Kamu ini cowok apa cewek sih? Gitu aja gak kuat, cemen wuu,” ejek Shani.

“Ck, ya jelas cowok lah! Biarin.” Robby masih mengatur nafasnya setelah tadi ia merasakan pusing kembali.

“Terakhir deh ya?”

Robby menoleh pada Shani, “Apa lagi?”

“Itu.” Shani menunjuk sebuah bianglala.

Dahi Robby berkerut, “Naik bianglala?”

Shani mengangguk dengan antusias, “Iya naik bianglala, mau ya? Terakhir deh.”

Robby menghela nafasnya, naik bianglala? Tinggi dong? Gimana ini? Pikir Robby.

“Rob?”

Robby tersadar dari lamunannya, “Eh, apa?”

“Ayo naik bianglala,” ucap Shani memelas.

“Ngg, yaudah ayo naik.”

Shani tersenyum manis dan ia mengangguk, kemudian menarik tangan Robby menuju bianglala tersebut. Kini tiba giliran mereka untuk masuk, mereka duduk berhadapan. Dan keringat dingin mulai mengucur dari dahi Robby. Phobia ketinggian sih..

Ketika bianglala tersebut telah berputar, dan ketika sudah berada di atas. Bianglala tersebut pun berhenti sejenak. Robby terdiam menundukkan kepalanya, sedangkan Shani ia sedang melihat pemandangan kota dari dalam bianglala tersebut. Shani menoleh pada Robby, ia bingung melihat Robby yang sedari tadi diam. Ia juga sebenarnya takut dengan ketinggian, tetapi entah kenapa ia ingin sekali berduaan dengan Robby di dalam bianglala ini.

“Kenapa?” tanya Shani.

“E-enggakpapa kok.” Robby masih menundukkan kepalanya takut.

Entah keberanian darimana, Shani pun memegang tangan Robby lembut.

“Enggakpapa kok, gak usah takut gitu. Kan sama aku.” Shani mengelus lembut tangan Robby.

Robby terdiam, ada perasaan hangat ketika Shani berbicara seperti itu. Robby mendongakkan kepalanya, ia menatap Shani. Mata mereka bertemu, perasaan hangat itu semakin menjadi-jadi. Dan Robby pun membalas genggaman Shani.

“Makasih.” Robby tersenyum pada Shani.

“I-iya,” ucap Shani terbata karena dapat melihat senyuman Robby dari jarak sedekat ini.

Dan bianglala pun kembali bergerak, tangan mereka masih saling menggenggam tidak terlepas. Mereka turun dari bianglala tersebut, keadaan mereka menjadi canggung. Tidak ada salah satu dari mereka yang berbicara, tetapi tangan mereka masih menggenggam satu sama lain.

“Shan?”

“Rob?”

Mereka saling bertatapan, kemudian mereka saling tertawa pelan setelah kejadian memanggil nama berbarengan.

“Oke, ladies first. Ada apa?”

“Kamu laper gak? Makan dulu yuk, laper nih,” ucap Shani.

Robby mengangguk, “Boleh. Mau makan dimana?”

“Lagi pengen makan yang pedes sih, jadi dimana dong?” Shani menatap Robby seolah-olah meminta saran padanya.

Robby tampak berpikir, “Oke, gampang itu mah, yaudah yuk.”

Shani mengangguk, “Yaudah yuk.”

Mereka pun keluar dari taman bermain tersebut dengan tangan yang masih menggenggam satu sama lain, setibanya di parkiran Robby pun membukakan pintu mobil untuk Shani. Shani terkekeh geli karena setelah kejadian tadi ada hikmanya juga pikirnya. Ia pun masuk ke dalam mobil, dan Robby berjalan memutar menuju bagian kemudi. Dan mereka pun meninggalkan taman bermain tersebut menuju tempat makan untuk mengisi perut yang tengah lapar..

~

“Rob makannya pelan-pelan,” ucap Shani yang menegur Robby yang duduk di hadapannya.

Sedangkan Robby masih saja makan tanpa memperdulikan teguran Shani. Ya memang kalau Robby sudah makan makanan pedas, emang gak bisa diatur lagi..

“Uhuk! Uhuk!”

“Tuh kan, kamu sih enggak ngedengerin apa kata aku. Pelan-pelan makannya Robby.” Shani memberikan minum untuk Robby.

Robby pun langsung menegak minumannya.

“Maaf Shan hehe,” ucap Robby cengengesan.

“Pelan-pelan ya. Lagian ngapain cepet-cepet sih makannya.” Shani menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

“Iya-iya Shani.”

Mereka pun melanjutkan makannya dengan keadaan hening, tidak ada yang berbicara diantara mereka. Tiba-tiba handphone Shani berbunyi, Shani menghentikkan makannya dan menatap Robby seolah-olah ‘aku angkat dulu ya’. Robby pun mengangguk dan ia melanjutkan makannya.

“Halo?”

“Lo dimana?”

“Aku lagi makan sama Robby di luar, abis ini pulang kok. Kenapa gitu?”

“Ck, kok lo enggak bilang sih Shan?”

“Hah? Mending kamu buka line deh Gre, kan aku uda ngeline kamu tadi.”

“Oh udah ya? Gue enggak ngebuka line Shan hehe.”

“Astaga Gre, udah ah aku mau makan dulu.”

“Bungkusin dong Shan, laper nih.”

“Iya-iya, nanti aku bungkusin.”

“Nah gitu dong, emang lo sepupu yang baik deh. Yaudah have fun ya Shani sama Robbynya~.”

“Ap-.”

Telpon pun terputus, karena Gre memutuskan dengan sepihak. Shani mendengus kesal, ia pun meletakkan kembali handphone miliknya.

“Kenapa Shan?” tanya Robby.

“Tau tuh, si Gre nyebelin banget.”

“Udah ah, lanjut makan lagi aja. Belum abis tuh.”

Shani mengangguk, dan ia pun melanjutkan makannya. Sedangkan Robby, ia sudah selesai dengan makannya. Dan ia lebih memilih membuka handphonenya, tanpa sepengetahuan Shani Robby mengambil fotonya ketika ia sedang makan.

Robby terkekeh geli, melihat hasil foto yang ia ambil. Tetapi tiba-tiba ia terdiam, kenapa gue motoin Shani ya? Pikir Robby.

“Rob?” Shani memegang tangan Robby lembut.

“E-eh iya Shan?”

“Udah nih, pulang yuk.”

“E-eh bentar dulu Shan.” Robby menahan Shani, dan ia mengambil tisu yang ada di meja.

Sedangkan Shani ia hanya memperhatikan Robby, ia bingung apa yang akan dilakukan Robby. Robby malah mendekatkan wajahnya padanya.

DEG!

Shani terdiam, jantungnya kini berulah kembali. Lebih cepat daripada saat naik bianglala tadi, Robby dengan lembut membersihkan sisa makanan yang ada disamping bibirnya.

“Kalau ngebersihin itu yang bersih dong.”

Shani terdiam memperhatikan Robby yang masih membersihkan sisa makanan disampingnya.

Robby terkekeh geli, “Kayak anak kecil deh, belepotan gini.”

Shani pun mencubit lengan Robby,”Malah dikatain.”

“A-aduh duh, maaf-maaf, sakit ih dicubit terus.”

“Biarin, kamu juga ngatain terus,” ucap Shani sebal.

“Udah ah, yuk pulang.”

Shani mengangguk, dan ia pun berjalan bersama Robby menuju kasir. Kemudian mereka pun pulang, dengan Robby yang menggandeng tangan Shani..

~

Kini hari telah menjadi malam, dan mereka telah berada di depan rumah Shani. Robby keluar dari mobilnya dan berjalan memutar membukakan pintu mobil untuk Shani.

“Aku juga bisa kali ih. Gak usah repot-repot juga,” ucap Shani lesu.

“Biarin aja hehe.”

Setelah Shani keluar Robby pun menutup kembali pintu mobilnya.

“Makasih ya buat hari ini Rob, aku seneng banget deh.” Shani tersenyum senang karena Robby mengajaknya jalan-jalan hari ini. Tetapi bukan itu alasan sebenarnya ia senang, tetapi karena ia bisa berdua bersama Robby.

“Iya sama-sama. Masuk gih sana, udah malam juga ini,” ucap Robby yang mengelus puncak kepala Shani.

Shani mengangguk, “Hati-hati pulangnya ya? Nanti kalau udah sampai, kabarin aku.”

“Iya Indira, gue pulang dulu ya.” Robby berjalan masuk ke dalam mobilnya.

Shani melambaikan tangannya ketika mobil Robby perlahan jalan. Dan ketika sudah tidak terlihat lagi, ia pun masuk ke dalam rumahnya. Senyum terus terukir di wajahnya.

“Udah datang aja nih, gimana tadi?” tanya Gre yang berjalan turun dari atas.

“Haha, kepo deh kamu Gre.”

“Oh iya, pesenan gue mana?”

Shani terdiam, kemudian ia menepuk jidatnya pelan, “Astaga, aku lupa Gre. Aku lupa bungkusin.”

Gre mendengus kesal, “Ck, pasti deh kalau lagi berduaan. Pasti lupa sama yang lain.”

“Maaf Gre maaf, kan aku lupa. Aku ke kamar dulu ya.” Shani berjalan menuju kamarnya sedangkan Gre berjalan menuju dapur untuk memasak makanan untuk dirinya yang tengah kelaparan.

Shani mengunci pintu kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di kasur sambil mengingat-ngingat kejadian yang terjadi hari ini. Ia tersenyum mengingat bagaimana Robby yang sangat lembut padanya..

“Semoga aja kamu juga ngerasain Rob,” ucap Shani dalam hati.

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

8 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 4

  1. Woy! Arum manisnya belom bayar tuh! :v
    Btw, makanan pedesnya apaan tuh? Nasi padang?

    “Semoga aja kamu juga ngerasain Rob,” ucap Shani dalam hati.
    “Iya Shan, aku ngerasain kok. Tadi makanannya pedes banget”
    Wkwkwkw lanjut om! :v

    Suka

    1. Ah anjir, udah baya kali -__-
      Bisa lah, nasi padang. Yg murah aja kita mah wkwk.
      Anjir apaan ngerasain makanan pedes 😂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s